IMPLIKATUR PERCAKAPAN GURU DAN SISWA DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
DI SD ISLAM ATHIRAH II MAKASSAR
(TEACHERS AND STUDENTS CONVERSATIONAL IMPLICATURES AT SD ISLAM ATHIRAH II MAKASSAR)
Tesis
Oleh:
ANDI FARIDA NUR KADIR
Nomor Induk Mahasiswa : 04.08.902.2013
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
IMPLIKATUR PERCAKAPAN GURU DAN SISWA DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
DI SD ISLAM ATHIRAH II MAKASSAR
(TEACHERS AND STUDENTS CONVERSATIONAL IMPLICATURES AT SD ISLAM ATHIRAH II MAKASSAR)
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Megister
PROGRAM STUDI
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Disusun dan Diajukan oleh
ANDI FARIDA NUR KADIR
Nomor Induk Mahasiswa : 04.08.902.2013
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama : Andi Farida Nur Kadir
Nim : 04.08.902.2013
Program studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar- benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, ... Mei 2015 Yang menyatakan,
Andi Farida Nur Kadir
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ke hadirat Allah Swt yang telah melimpahkan hidayah, taufik,dan rahmat-Nya, sehingga tesis yang berjudul “Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar di SD Islam Athirah II Makassar” dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan tesis ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerja sama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah Swt sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :
Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum. pembimbing I dan Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum. pembimbing II yang telah sabar, tekun, tulus, dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran memberikan bimbingan, motivasi, arahan, dan saran-saran yang sangat berharga kepada penulis selama penyusunan tesis.
Selanjutnya ucapan terima kasih pula penulis sampaikan kepada:
1. Rektor Universitas Muhammadiyah, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengikuti Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
2. Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd, Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan izin
kepada penulis untuk mengikuti program studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. H. Irman Yasin Limpo, S.H, selaku Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Provisi Sulawesi Selatan Kantor Departemen Pendidikan Nasional Kota Makassar Sulawesi Selatan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Islam Athirah II Makassar.
4. Drs. H. M. Zuhri Wail, selaku Kepala Sekolah SD Islam Athirah II Makassar, yang telah memberi dukungan, fasilitas dan pelayanan administrasi dengan baik, selama penelitian berlangsung.
5. Seluruh Civitas Akademik yang selama ini memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dan Wali kelas V SD Islam Athirah II Makassar yang telah banyak membantu kelancaran dalam penelitian. Begitu pula kepada Bapak, Ibu serta seluruh staf yang ada di SD Islam Athirah II Makassar yang membantu kelancaran selama penelitian.Kedua orang tua tercinta ayahanda Drs. H. Andi Abd. Kadir Mustafa dan ibunda tersayang Hj. Andi Asmawaty A. Malik yang sangat berjasa dalam kehidupan penulis yang telah memberikan dukungan moril dan tak henti-hentinya memanjatkan do’a agar tulisan ini dapat diselesaikan.
Suamiku tersayang Brigpol Andi Fadli, S.H, serta anakku tercinta Andi Muhammad Uwais Al-Qarni, A.Fadli, juga saudara-saudariku
tersayang Andi Wardha Nurjannah A.K, Brigpol Andi Muh. Imam
Al-Gazali A.Kadir, S.Sos, dan Andi Muhammad Al-Rizal A.K, yang telah banyak memberikan dorongan baik moril maupun materil dan senantiasa membantu dalam segala hal serta memanjatkan do’a agar tulisan tesis ini dapat terselesaikan. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penyelesaian tesis ini.
Semoga segala budi baik yang Bapak dan Ibu berikan kepada penulis mendapat limpahan rahmat dan berkah yang hakiki dari Allah Swt.
Sebagai ungkapan rasa maaf dari penulis. Penulis berharap kepada Bapak dan Ibu untuk memaafkan segala kekhilafan dan kealfaan selama mengikuti pendidikan maupun dalam bimbingan tesis ini.
Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua dan semoga tesis ini memiliki manfaat bagi pengembangan pendidikan di tanah air tercinta. Amin Yaa Mujibassailiin.
Makassar, 29 Mei 2015
Penulis
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Korpus Data ... 141 2. Surat Keterangan Pembimbing ... 148 3. SK Pengangkatan Dosen Pembimbing ...
4. Surat Izin Penelitian Dari UPT-PPT BKPMD Provinsi Sulawesi Selatan
5. Surat Keterangan Penelitian dari Kepala Sekolah SD Islam Athirah 2 Bukit Baruga
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PENERIMA PENGUJI ... iv
HALAMAN KEASLIAN TESIS ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian... 6
D. Manfaat Penelitian... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8
A. Tinjauan Hasil Penelitian ... 8
B. Tinjauan Teori dan Konsep ... 8
C. Kerangka Pikir ... 75
BAB III METODE PENELITIAN ... 77
A. Pendekatan Penelitian ... 77
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 77
C. Unit Analisis dan Penentuan Informan ... 78
D. Teknik Pengumpulan Data ... 79
E. Teknik Analisis Data ... 80
F. Pengecekan Keabsahan Temuan ... 81
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 82
A. Deskripsi Karakteristik Objek Penelitian ... 82
1. Deskripsi Geografis ... 82
2. Deskripsi Kelembagaan ... 83
B. Paparan Dimensi Penelitian ... 86
C. Pembahasan ... 99
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 104
A. Simpulan ... 104
B. Saran ... 105
DAFTAR PUSTAKA ... 107
RIWAYAT HIDUP ... 110
LAMPIRAN ... 111
1. KORPUS DATA ... 111
2. IZIN PENELITIAN ... 132
DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN
Pn : Penutur Mt : Mitra Tutur
PS : Prinsip Sopan Santun PK : Prinsip Kerja sama IP : Implikatur Percakapan
ABSTRAK
ANDI FARIDA NUR KADIR, 2015. Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar di SD Islam Athirah II Makassar, dibimbing oleh Abd.Rahman Rahim dan Andi Sukri Syamsuri.
Tujuan penelitian untuk mengetahui implikatur percakapan guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar di SD Islam Athirah II Makassar.
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan pendekatan kontekstual yang mengarah pada penelitian proses pembelajaran. Terkait informan dalam penelitian ini adalah dua orang guru bidang studi, wali kelas, dan peserta didik yang bertindak sebagai mitra tutur guru dalam proses belajar mengajar, yaitu berjumlah 3 orang.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud implikatur percakapan yang ditemukan dalam pembelajaran di kelas pada prinsip kerja sama yang lebih menekankan penggunaan ujaran sesuai dengan tujuan percakapan yang telah disepakati atau sesuai arah percakapan yang diikuti sering dilanggar untuk mematuhi prinsip sopan-santun, yaitu (1) penerapan maksim kuantitas, penggunaan bahasa yang seperlunya oleh guru memberi respon pada siswa. (2) penerpan maksim kualitas, hal ini merupakan dampak dari respon siswa pada maksim kuantitas. (3) penerapan maksim hubungan, kemampuan komunikasi yang dibangun oleh guru melalui bentuk pembelajaran dengan menggunakan media. (4) penerapan maksim cara, bentuk tuturan guru yang jelas dalam menyampaikan materi merupakan cara efektif dalam peningkatan kualitas belajar. Sedangkan, prinsip sopan-santun yang ada dalam penelitian ini diterapkan dalam beberapa, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, dan maksim kesepakatan.Hasil kesimpulan dari deskripsi peneltian ini menunjukkan bahawa interaksi belajar mengajar apabila guru yang selalu aktif memberi informasi kepada siswa, sedangkan siswa hanya pasif mendengarkan keterangan guru, yang tidak ada reaksi terhadap keterangan guru, maka hal demikian sebenarnya tidak terjadi interaksi proses belajar-mengajar.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ANDI FARIDA NUR KADIR, dilahirkan pada tanggal 22 November 1987 di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Anak ketiga dari empat bersaudara, Andi Wardha Nurjannah A.K, Brigpol Andi Muhammad Imam Al-Gazali A.K, S.Sos, dan Andi Muhammad Al-Rizal A.K.
Penulis mulai memasuki pendidikan dasar di SD Inpres Maccini 1/1 tahun 1992 dan tamat pada tahun 1999. Kemudian melanjutkan pendididkan ke SMP Negeri 13 Makassar dan tamat pada tahun 2002. Pada Tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 9 Makassar, di sekolah inilah penulis menamatkan pendidikan pada tahun 2005. Pada tahun ajaran 2005/2006 penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Bahasa dan Seni dan selesai pada tahun 2009. Kemudian, pada tahun 2013 penulis diterima di Universitas Muhammadiyah Makassar pada Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, saat ini sedang penyelesaian studi dan Insya Allah akan menamatkan pendidikan tahun 2015.
Lampiran Korpus Data
Hari : Rabu
Tanggal : 25 Maret 2015
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris Kelas : Kelas V ( Al Mughni)
Guru : Syahrianti, S.Pd.
Guru : I need two more pieces of papers oww two... tidak ada yang mau kasih mam? pelit sekali yah...(sambil tertawa)
Siswa 1 : (berdiri sambil membawa selembar kertas kepada guru)
Guru : Ok now, I will throw this ball. Look at mam please. I throw this ball and than you must take it. Membuat bola kertas. For example Zidane.take this ball yeah. I will throw this ball.
(melempar bola ke arah siswa, lalu memberikan pertanyaan).
And than I choose What must you do when you in hospital. Apa yang harus kamu lakukan di rumah sakit ketika kamu menjenguk seseorang?
Siswa 1 : ( tertawa ) kasi buah
Guru : (guru menghitung) five, four, three, two, one... ok. Bisa disebutkan?
Siswa 2 : Be quite.
Guru : Yeah.. you must be quite. Good.
Siswa : (menjawab bersama-sama)
Guru : Ok, throw the ball please. Lempar bolanya! Ok, yang lain siap-siap (guru melempar bola ke arah yang lain)
Siswa 2 : (tertawa melihat bola jatuh ke teman yang lain)
Guru : what mustn’t you do in the hospital if you visit your grandpa? Apa yang dilarang dilakukan ketika kamu .oh ya, you mustn’t be inquite.
Kamu…
Siswa 2 : Tidak boleh tidak suka
Guru : Ya, terlalu ribet ya kalimatnya. Impolite berarti tidak….sopan. Ok next, I will throw this ball. (melempar bola ke arah siswa lain). What must you do in the hospital?
Siswa 3 : (Masih berpikir.)
Guru : Apa? Ok, five, four, three, two, one… come on! Say your sand. What must you do in the hospital?
Siswa 3 : Hospital itu apa bu?
Guru : Astagfirullah, rumah sakit. Banyak ya?
Siswa : Banyak, banyak.
Guru : Apa? You must?
Siswa : Be quite.
Guru : Yang lain dong. Coba kalau tentanggamu yang sakit you must bring healty food. Oke, give me you ball. (melempar lagi ke arah siswa lainnya) ok. Kamu jangan menghindar.
Siswa 4 : Aduh (sambil mengambil bola yang dilemparkan ke arahnya) Guru : What musn’t you do in the hospital? Apa yang dilarang atau yang
tidak boleh dilakukan ? What musn’t? hah?
Siswa 4 : Ribut.
Guru : Any one knows whos ribut in English?
Siswa : Noice.
Guru : Complete your sentence please! Kasi lengkap kalimatnya dulu. You musn’t?
Siswa 4 : You musn’t make a noice.
Guru : Ok, give me your ball! (lalu melempar lagi bolanya ke siswa yang lain) What must you do when you visit your friend in the hospital? What must you do?
Siswa 5 : I give a….
Guru : Apakah kamu ketika menjenguk temanmu kamu mengatakan apa gitu? Atau kamu memberikan support?berdoa?
Siswa : hmm….(masih mencari jawaban) Guru : You must give?
Siswa 2 : Support.
Guru : Yaa, Apa? Ada yang tau bahasa inggrisnya pasien? You must give support to the phatient. Jadi menjenguk orang harus diberikan support.
Jangan malah ditakut-takuti. Ok? (kembali melempar bola ke arah siswa lainnya)
Guru : Next, what musn’t you do when you visit your friend?
Siswa 6 : Musn’t?
Guru : What must you do? Eh iya musn’t?
Siswa 6 : Apa bahasa inggrisnya berkeliaran bu?
Guru : Ya? You musn’t running everywhere. Coba kamu lempar bolamu ke teman lain!
Siswa 6 : (Melempar bola ke arah teman yang lain).
Guru : Ok, Siapa? Ok, kamu.
Siswa 7 : Tidak taukka bahasa Inggris.
Guru ; Astaga, dicoba-dicoba. Katakan dalam bahasa Indonesia kalau tidak bisa. Apa yang kamu lakukan ketika kamu menjenguk misalkan
temanmu di rumah sakit?
Siswa 7 : Memberi buah.
Guru : Ya? Give fruits. Ya! You must give fruits.
Siswa : Ok, berikutnya. (sambil melempar bola lagi ke arah siswa yang lain) Guru : Makanya jangan bertanya dulu sebelum mam bertanya. Ok, what
must you do in the hospital?
Siswa 8 : Pray
Guru : You must pray for the Phatient. Pray bisa berarti sholat bisa berarti berdo’a.(kembali melempar bola ke arah siswa yang lain).
Guru : What must you do in the hospital?
Siswa 9 : Berbicara lembut.
Guru : Oh, berbicara lembut katanya. You must speaking sofly. Bicaranya pelan-pelan, jangan teriak-teriak nanti pasiannya terganggu. Don’t speak hardly but speak softly. Next…(melempar kembali bola ke arah siswa lain)
Guru : What musn’t you do?
Siswa : Saya..saya…
Guru : Ok. Ada yang punya ide? Apa yang kamu lakukan? Raka, duduk kembali ke tempatnya. Yang di belakang tolong dirapikan! Ok, You must call the nurse or the doctor if the pathient is emergency condition.
Kamu harus harus memanggil perawat atau dokter jika pasien berada dalam kondisi gawat darurat. Kamu jangan melihat-lihat
saja.Bayangkan kalau kamu yang sakit (sambil menulis jawaban di papan tulis) Nah, sekarang mana kelompoknya? Sekarang silahkan kumpul dengan kelompoknya.
Lampiran Korpus Data
Hari : Jum’at
Tanggal : 27 Maret 2015
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas : V (Al Musawwir)
Guru : Udz. Mursalim Maksum, S.Ag.
Guru : Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Siswa : Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh
Guru : Sebelum pelajaran dimulai, mari kita membersihkan bangku! Semua posisi tangan di dalam laci cari sampah.
Siswa : (Semua siswa mencari sampah di laci dan membuang sampah pada tempatnya).
Guru :Oke, yang sudah kosong, bangkunya dirapikan!
Siswa : Banyakna! (sambil keluar masuk membuang sampah yang banyak ditemukan di dalam laci bangku).
Guru : Ya, kembali ke tempat lagi!
Siswa : (Masing-masing kembali ke bangku masing-masing).
Guru : Oke, pagi ini bapak mau menyapa dulu. Apa kabarnya?
Siswa : Alhamdulillah luar biasa, tetap semangat, Allahuakbar!
Guru : Athirah?
Siswa : Anggun, unggul, cerdas!
Guru : Baik, anak-anakku sekalian, hari ini sudah siap untuk belajar?
Siswa : Siap!
Guru : Sebelum memulai pembelajar, mari kita memohon kepada Allah supaya diberikan berkah ilmu tentunya dengan berdoa. Posisi berdoa!
Siswa : Tangan di angkat, kepala ditundukkan doa dimulai. (Berdoa)
Guru : Baik anak-anakku sekalian, siapa yang belum ulangan kemarin?
Sudah semua?
Siswa1 : Saya sudahmi.
Guru : Selain ulangan kemarin, sudah semua ya?
Siswa : Sudah
Guru :Baik. Dari jawaban yang anak-anakku yang berikan ke Pak guru, yaa..
Lumayan-lumayanlah. Satu orang bapak mau minta menjawab langsung.
Siswa : Ih, aduh…
Guru : Satu orang ya. Bapak minta, siapa yang paling tinggi ini? (sambil memriksa hasil ulangan siswa yang paling tinggi nilai ulangannya) Yang paling tinggi… Ya, Nabi Ibrahim AS memiliki sikap suri tauladan yang patut di contoh. Bisa disebutkan ke lima-limanya itu? Sebagai bahan perbaikan sedikit.
Siswa 1 : Lima ?
Guru : Lima. Satu, rajin mencari?
Siswa : Rajin mencari ilmu kebenaran.
Guru : Rajin mencari ilmu kebenaran. Yang kedua? Apalagi? Nabi Ibrahim itu sangat taat kepada Allah. Yang kedua?Yang ketiga? Nabi Ibrahim itu sangat patuh kepada Orang Tuanya. Yang keempat, Nabi Ibrahim itu sopan pada saat berdakwah. Yang kelima adalah, Nabi Ibrahim itu sangat pemberani. Kemudian siapa yang bias memberikan contoh kepada bapak sebelum ulangannya dibagikan?
Siswa 2 : Contoh apa pak?
Guru : Ujian yang diberikan kepada nabi Ibrahim?Apa saja? Nomor satu?
Siswa 3 : Menyembelih anaknya.
Guru : Menyembelih anaknya. Bagus! Yang kedua?
Siswa : Membangun ka’bah.
Guru : Membangun baitullah Ka’bah. Yang Ketiga, apalagi?
Siswa : Meninggalkan anak dan istrinya.
Guru : Ya, meninggalkan orang yang sangat dicintainya. Yang keempat adalah? Apa yang keempat?
Siswa : Disuruh berkhitan.
Guru : Iya disuruh berkhitan atau bersunat pada usia yang sangat tua.
Berapa?
Siswa 4 : Delapan puluh.
Guru : Delapan puluh…
Siswa : Tahun.
Guru : Oke. Inilah hasil ulangan anakku sekalian (sambil membagikan hasil ulangan ke semua siswa)
Guru : (setelah membagikan hasil ulangan, melanjutkan kembali pembelajaran) Sekarang naikkan buku Agamanya. Kita memburu waktu untuk menyelesaikan materi. Dibuka halaman 116. Oke, sekarang tidak ada suara lagi, kecuali bapak yang menjelaskan.
Siswa : 116 Pak?
Guru : Sekali lagi 116, apa yang kita mau pelajari hari ini? Bapak akan jelaskan bagaimana atau tata cara berzikir dan berdoa kepada Allah swt, yang pertama itu bagaimana caranya berdoa. Berzikir ya sekarang, adapun tata cara berzikir dan berdoa kepada Allah swt.
Satu, dimulai dengan membaca ta’auz. Apa itu ta’auz?
Siswa : A’udzubillahiminasysyaitoonirrojim.
Guru : Kemudian membaca bismillah.
Siswa : Bismillahirrohmanirrohim.
Guru : Kemudian membaca istigfar.
Siswa : Astagfirullahaladzim.
Guru : Kemudian dilanjutkan dengan tahmid. Tahmid ini….
Siswa : Subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahuAkbar, walahaula, walaquwwata illabillahil aliuladzim….
Guru Sekarang putrinya, a,ba,ta….
Siswa : Subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahuAkbar, walahaula, walaquwwata illabillahil aliuladzim….
Guru : Untuk dua orang ulangi, a,ba,ta…
Siswa 1 dan 2: Subhanallah, walhamdulillah, walailahaillallah, wallahuAkbar, walahaula, walaquwwata illabillahil aliuladzim….
Guru : Ya baik, terima kasih. Ya kembali konsentrasi. Yang kedua diiringi membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga beserta sahabat-sahabatnya. Siapa yang tau apa itu sholawat? Angat tangan dulu!
Siswa 3 : (Angkat tangan) Sholatullah salamullah…
Guru : Sholawat kepada Nabi Muhammad adalah Allahumma sholli ala Muhammad wa’alaa alisayyidina Muhammad, wa’ala alisayyidina Muhammad. Coba semua putranya.
Siswa : Allahumma sholli ala Muhammad wa’alaa alisayyidina Muhammad, wa’ala alisayyidina Muhammad.
Guru : Coba putrinya lagi….
Siswa : Allahumma sholli ala Muhammad wa’alaa alisayyidina Muhammad, wa’ala alisayyidina Muhammad.
Guru : Itu adalah pembatas antara tahiyad awal dengan tahiyat ? Siswa : Akhir.
Guru : Baik anak-anakku sekalian, timbul pertanyaan bagaimana caranya supaya doa kita diijabah? Langsung dijawab?langsung diterima?
Jawabannya di awal doa ataupun di akhir doa kita harus mengucapkan Sholawat kepada Nabi Muhammad saw, yang baru kita ucapkan tadi.
Siapa yang berdoa? Ya, tidak mengamali dengan sholawat atau tidak mengakhiri dengan sholawat , salah satunya di antara itu maka besar kemungkinan tidak diterima Allah. Jadi lebih cepat doanya kita diterima oleh Allah apabila mau diawal atau akhir kita bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. Jadi tolong disampaikan kepada teman-temannya, teman kalau mau berdoa itu harus bersholawat dulu. Kalau tidak tau apa itu sholawat, kita ajarkan dia. Apa itu sholawat? Diulang.
Semuanya, a,ba, ta….
Siswa : Allahumma sholli ala Muhammad wa’alaa alisayyidina Muhammad, wa’ala alisayyidina Muhammad.
Guru : Gitu ya! dan anak-anakku sekalian, pak guru menjelaskan bahwa siapa yang mau? Ini,ini mengenai kita semua. Siapa umat muslim yang mau pada hari kemudian nanti akan dibebaskan oleh Allah dan mendapatkan naungan atau syafaat akan melakukan 2 S. Apa itu 2S?
S pertama apa?
Siswa : Sholawat
Guru : Sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Apa itu S yang ke2 ? adalah mendirikan sholat 5 kali sehari semalam. Siapa yang sudah mendirikan sholat atau yang mengerjakan sholat 5 kali sehari semalam? Angkat tangan!
Siswa 1 : (mengangkat tangan) Siswa 2 : Balleko!
Siswa 3 : Iya, tapi kemarin tidak.
Guru : Yang 4 wajib?
Siswa : (mengangkat tangan) saya pak, saya pak.
Guru : (menunjuk salah satu siswa) Kamu, berapa kali kamu sholat sehari semalam?
Siswa 1 : Lima.
Guru : Bisa disebutkan sholat apa saja yang kamu kerjakan?
Siswa 1 : Sholat subuh, duhur, ashar, magrib, isya.
Guru : Nah sekarang kamu. Berapa jumlah rakaatnya? Jumlah rakaatnya!
Setiap gerakan sholat, berapa jumlahnya? Sebutkan.Yang keras suaranya!
Siswa 2 : Sholat subuh 2 rakaat.
Guru : Terus? Jumlahnya? Berapa?
Siswa 2 : Sholat duhur 4 rakaat, sholat ashar 4 rakaat, sholat magrib 3 rakaat, sholat isya 4 rakaat.
Guru : Semuanya berapa jumlahnya?
Siswa : (Sambil menghitung) 17
Guru : 17
Siswa : Oh iya di’.
Guru : Jadi anak-anakku sekalian, orang yang mau mendapatkan keselamatan dari Allah dan Rosul karena pada hari kemudian nanti anak-anakku sekalian, di padang mahsyar nanti itu tidak ada tempat berteduh. Tidak ada pepohonan. Kita akan berada pada suatu tempat yang sangat panas. Bayangkan panasnya, satu jengkal matahari dari kepala.
Siswa 1 : Deeeeh… seginiji. Deeeh!
Siswa 2 : Deeh, beginiji.
Guru : Jadi, nah anakku sekalian disitulah akan dilihat bagaimana tingkat upayanya manusia atau hasil yang dikerjakan manusia hidup di dunia.
Kalau amalnya bagus maka Alhamdulillah, Kalau perbuatan buruknya lebih banyak daripada kebaikannya, manusia itu akan mengalir keringatnya. Ada yang sampai mata kaki,keringatnya itu. Ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusat, ada yang sampai tenggorokan, leher, bahkan ada yang tenggelam. Air keringat ini yang membuat tenggelam. Oleh karena itu, siapa yang selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad saw maka akan mendapatkan naungan pada saat itu seperti payung.
Siswa : Payung?
Guru : Iya, seperti awan. Tidak panas. Yang mana nanti tidak ada pertolongan kecuali pertolongannya Rosulullah Muhammad saw dan Ridhonya Allah swt. Tidak ada lagi dibilang sms orang tuanya bilang bu tolong belikan payung dulu. Tidak ada!
Siswa : Huuuuuh.Beli AC.
Guru : Tolong Bapak belikan dulu AC! Tidak ada! Oke, apa yang ketiga?
Siswa : Mengucapkan aamiin.
Guru : Yaa, Jadi kalau ada orang yang mendoakan kita, kita harus mengucapkan?
Siswa : Aamiin.
Guru : Aamiin. Apa artinya aamiin?
Siswa : Kulupai pak.
Guru : Aamiin artinya kabulkanlah yaa Allah. Jadi setelah kita berdoa bahasa Indonesianya itu kabulkanlah yaa Allah. Bahasa arabnya adalah aamiin. Setiap berdoa selasai harus mengucapkan aamiin. Kemudian keempat ditutup dengan memohon keselamatan dengan membaca sholawat atau tazlim. Jadi doa itu ditutup dengan memohon kepada Allah diberikan keselamatan karena hanya Allah yang memberikan keselamatan pada setiap mahlukNya. Manusia hanya berusaha menghindar tapi Allah yang menentukan. Misalnya sudah berdoa Yaa Allah saya memohon keselamatan berangkat dari rumah menuju ke sekolah diselamatkan. Aamiin. Tapi caranya tidak berhati-hati, ngebut- ngebut di tengah jalan. Jadi, boleh jadi sesudah memohon kepada Allah keselamatan,jangan seenaknya saja mentang-mentang sudah berdoa kepada Allah pasti aman. Ya tidak begitulah.harus berufsaha bagaimana supaya kita jaga keselamatan.
Lampiran Korpus Data
Hari : Senin
Tanggal : 6 April 2015
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas : Kelas V ( Al Musawwir)
Guru : Renny Mulyani, S.Pd.
Guru : Rapikan tempat sepatunya. Kembalimi yang lain. Dua orang saja!
Siswa 1 : Hey dua orangji, bukan kau yang disuruh!
Guru : Dua orang saja, yang lainnya kembali ke tempatnya. Naikkan buku tulisnya! Siapa suruh patah itu rak?
Siswa 2 : (Masih sibuk bolak balik merapikan sepatu di raknya). Bukan saya!
Tadi barusan saya taro!
Guru : Itu rak sepatuh sudah rapuh sudah tua. Kalau tidak dirawat atau tidak di jaga tambah rusak itu. Mau lagi beli yang baru?
Siswa : Mau.
Guru : Kalau mau beli yang baru, kumpul lagi uang infak. Salah-salah beli yang baru, sisa dua minggu sekolah, maumi penaikan kelas. Oke, Istaid!
Siswa : Siap!
Guru : Mana itu bukuta? Buku tulista mana?
Siswa ; ini Mam.
Guru : Coba tadi sudah ke perpustakaan, cari arti kata. Sudah dapat semua?
Siswa : Sudah.
Guru : Saya suruh cari karena ada yang tidak ada di kamus. Contohnya lingkungan bersih ya, lingkungan bersih itu ada di buku cetak halaman 70 yang dibaca kembali buku cetaknya.
Siswa 1 : Hah? Sudahmi kau?
Siswa 2 : Sudahmi kita.
Guru : Tunggu dulu ini kelompok 1 Kenapa ini terlalu dekat jaraknya dengan kelompok 2? (sambil mendorong bangku ke belakang)
Siswa 1 : Fanski itu bu.
Siswa 2 : Iya fanski itu bu!
Guru : Coba yang di sana? Maju skali ini bangkunya! (kembali mendorong dan mengatur bangku) Ini juga kelompok 3 dekat skali bangkunya dengan kelompok 2. (kembali mengatur bangku) Oke, kembali ke lingkungan sehat! Ada yang tau apa itu lingkungan sehat?
Siswa 3 : Saya bu! Lingkungan sehat adalah lingkungan yang bebas dari polusi.
Guru : Selain polusi juga bebas dari sampah dan bibit penyakit! Cari itu artinya!
Siswa 4 : Sudah, sudah, sudah.
Guru : Nanti kalau sudah buat kalimatnya artinya juga harus dijelaskan.
supaya mudah membuat artinya.
Siswa 5 : Mam, tulismi kalimatnya?
Guru : Sebentar, sampingnya dulu dirampungkan. Sudah dapat makanan sehat?
Siswa : Sudah.
Guru : Coba yang dari perpustakaan, sudah dapat makanan sehat?
Siswa 1 : Belum.
Siswa : Sudah.
Siswa 2 : Makanan yang mengandung…
Guru : Angkat tangan. Satu orang yang bacakan.
Siswa 4 : Makanan yang mengandung gizi seimbang.
Guru : Nah, tulis. Makanan yang mengandung gizi seimbang.
Siswa : (menyalin apa yang dibacakan oleh guru) Guru : Makanan yang mengandung gizi seimbang.
Siswa : Jammi menyontek!
Guru : Lanjut, yang kedua. Bergizi.
Siswa 2 : Sari makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan.
Siswa 3 : Salai. Oe..oe..sotta.
Guru : Coba kamu ulangi, apa arti bergizi?
Siswa 4 : Sari makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan kesehatan.
Siswa 5 : Pertumbuhanji.
Guru : Ada yang dapat lain? Coba kamu apa?
Siswa 6 : Makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan dan kesehatan.
Guru : Oke, semua betul ya.
Siswa 7 : Mam, sari makanan apa?
Guru : Sari makanan apa tadi coba kamu ulang?
Siswa 8 : Sari makanan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan…
Guru : Yang penting bagi pertumbuhan, itu saja. Lanjut ada lagi yang sudah dapat?
Siswa : Saya, saya.
Guru : Makanan yang mengandung zat tenaga boleh.
Siswa 2 : Ih.(dengan wajah heran)
Guru : Makanan yang mengandung zat tepung boleh.
Siswa 2 : Ih.
Guru : Makanan pokok juga boleh.
Siswa 2 : Ih, mam kalo kelompok senyawa kimia yang….
Siswa 3 : iya boleh.
Guru : Iya bisa juga. Banyak ya. Protein sudah dapat?
Siswa : Belum.
Siswa : Sudah.
Guru : Yang sudah dapat apa?
Siswa 2 : Unsur kimia.
Guru : Unsur kimia apa?
Siswa 2 : Itu ji saja mam.
Siswa 3 : Apa? (Heran)
Siswa 4 : Unsur protein terdapat pada zat telur.
Guru : Yang betul itu bukan hanya zat telur. Zat protein itu apakah termasuk zat pengatur atau zat pembangun.
Siswa 3 : Pembangun.
Guru : Hah? Zat apa proten kah? (menunjuk ke salah satu arah siswa) Siswa 5 : Pembangun.
Siswa 6 : Di kamus zat senyawa organin pembangun ada di protein telur bu.
Guru : Bisa juga karena berdasarkan kamus. Oke lanjut vitamin.
Siswa 2 : Saya,saya!
Guru : Coba kamu apa?
Siswa 3 : Zat yang sangat penting bagi tubuh manusia.
Siswa 2 : saya lain.
Guru : Zat yang sangat penting bagi…
Siswa 2 : saya lain mam. Saya!
Guru : Coba kamu!
Siswa 5 : Zat yang penting dalam jumlah tubuh manusia.
Guru : Ya, betul juga.
Siswa : Mam, di kasi betulkah? Tidak toh.
Guru : Nda usah, cocokkan saja. Sebentar yang lain mam periksakan. Oke, kita ganti. Kuman.
Siswa 2 : Saya. Binatang kecil yang menimbulkan penyakit.
Guru : Yang lain, ada jawaban yang lain?
Siswa 3 : Tidak ada.
Guru : Oke, kamu.
Siswa 4 : Binatang yang sangat kecil.
Guru : Ya, binatang kecil atau mikrorganisme kecil yang mengandung bibit penyakit. Perbaiki tulisannya Kamu. Jangan keluar dari garis. Tulisan yang mam tidak bisa baca biar benar mam kasi salah. Apalagi pelajaran Bahasa Indonesia itu harus cantik tulisan. Lanjut apalagi?
Siswa 1 : Hidup sehat.
Guru : Siapa yang bisa?
Siswa 2 : Saya. Pola hidup yang teratur.
Guru : Pola hidup yang teratur, mulai dari makan, olahraga dan istrirahat.
Siswa : (Mencatat apa yang disampaikan guru).
Guru : (Mengulangi lagi) Pola hidup yang teratur, mulai dari makanan, olahraga dan istrirahat.
Siswa : Olahraga.
Guru : Siapa lagi tulis-tulisi ini papan?
Siswa : Wee, mulai dari? Mulai dari?
Guru : Mulai dari makanan, olahraga dan istirahat.
Siswa 2 : Olahraga.
Guru : Apalagi?
Sisw 2 : Saya.
Guru : Yang lain.
Siswa 2 : Latihan gerak tubuh badan agar otot tubuh sehat dan kuat.
Siswa 8 : Saya tidak pernah.
Guru : Latihan gerak badan agar tubuh sehat dan kuat.
Siswa 2 : Yee.
Guru : (Mengulangi lagi) Latihan gerak badan agar tubuh sehat dan kuat.
Siswa 3 : Penyakit.
Guru : Ya, kamu penyakit.
Siswa 5 : Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kuman.
Guru : Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kuman dan virus.
Siswa 2 : Kuman dan virus.
Siswa 3 : Apa tadi?
Guru : Yang disebabkan oleh kuman. Sekarang masih ada waktu 20 menit, kamu buat kalimat berdasarkan kosakata yang sudah ada. Misalnya makanan sehat, siapa yang bisa buat kalimat?
Siswa 4 : Saya. Makanan bergizi dan sehat.
Guru : Kamu selalu makan makanan bergizi dan sehat. Ada dibuku kamu tinggal buat kalimat dari kosakatanya. Kosakatanya ya? Misalnya.
Ayah setiap pagi makan makanan yang sehat. Misalnya begitu, silahkan buat. Tidak boleh sama ya kalimatnya,beda-beda ya. Nda ada yang kerja sama. Kamu!
Siswa 8 : Tidak, saya mau liat ini kosakatanya. Apa ini? Apa arti katanya nah?
Siswa 2 : Gangguan kesehatan disebabkan oleh kuman, virus, bakteri. Sudah?
Guru : Buat kalimatnya sesuai dengan kosakata.
Siswa 9 : Harus ada kosakatanya?
Guru : Iye.
Guru : (memperhatikan salah satu siswa yang mondar mandir jalan), Kamu di mana tempat dudukmu? Kembali ke tempatnya, tidak ada yang kerja sama. Yang arti katakana sudah mam kasih. Sekarang buat sendiri!
Jangan kumpul cerita!
Siswa : (mengerjakan tugas yang diberikan guru)
Guru : Silahkan dibuat! Yang banyak ceritanya ini mau dilapor semua ini.
Siswa 2 : Finish!
Guru : Inilah penentuannya nanti apakah kamu layak naik ke kelas 5, atau harus bertahan di kelas 4 belajar sikap? Siapa yang punya ini?
Siswa 4 : Saya.
Guru : Siapa yang belum buat yang seperti ini?
Siswa 1 : Sudah.
Siswa 2 & 3 : Saya.
Guru : Ndak ada nilaita itu. Kapan kamu mau stor di mam?
Siswa 4 : PRkah itu mam?
Guru : Bukan PR, pekerjaan di sekolah itu. Kamu bawa kartonnya, karton warna putih. Kalo nda ada karton putih bawa kertas gambar.
Lampiran Korpus Data
Hari : Selasa
Tanggal : 7 April 2015
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas : Kelas V ( Al Mu’min)
Guru : Nurusia, S.Pd.
Guru : Siapa yang sudah sampai sepuluh ? Siswa : (angkat tangan)
Guru : Dua orang, 4, 5, 6, 7, 8. Yang sampai 9 orang Siswa : Sembilan orang !
Guru : 1, 2, 3,4, 5….8 orang,1,7 orang, 6, 5 orang, 4 orang.3 orang. Yang hasilnya sampai 7 orang wawancarai lagi 3 orang temannya nak. Ok kamu, berapa orang ?
Siswa : Tujuh
Guru : yang sudah sampai 10 orang, tentukan jumlah siswa yang berat badannya kurus, kemudian yang berat badanya ideal dan yang berat badanya gemuk Siswa : Di mana bu ?
Guru : Di kolom warna orange.
Guru : Yang sudah sampai 10 orang, tentukan siswa yang berat badanya kurus, yang berat badanya ideal, kemudian yang berat badanya gemuk di kolom warna orange.
Siswa 2 : (datang menghampiri guru yang sedang memberi penjelsan pada siswa 1) ini hasilnya dilihat dari berat badannya atau tinggi badannya.
Guru : Pembulatan berat badan yang ideal. Itu yang dilihat.
Makanya diperhatikan cakarannya nak..Begini, berat badan awalnya 30 trus ini(sambil terus memberikan penjelasan kepada siswa)
Siswa 2 : Ahhh...dipa’boteki ka’...( sambil berjalan ) Siswa 3 : Kenapa ko.. kaya apa mi saja’ !
Siswa 2 : Cocokmi tadi....
Siswa 4 : Berat badanku 32 Siswa 5 : Saya 52
Guru : Ok, lihat semua dulu ke sini. Perhatikan semua. Perhatikan dulu nak... ! yang kedua kita gambar kemarin, batas apa..yang pertama?
Siswa : Batas berat badan ideal (secara bersamaan) Guru : Batas apa...?
Siswa 1 dan 2 : Batas berat badan ideal
Guru : Yahh... Bagaimana lagi rumusnya nak?
Siswa : Dalam kurung…
Guru : Bukan! Sepuluh per?
Siswa : 10 per 100 kali berat badan ideal
Guru : Iya 10 per 100 kali berat badan ideal atau kita singkat BBI, lalu yang kedua?
Siswa : Batas Berat Badan Siswa 1: BBI
Guru : Bagaimana rumusnya? Berat badan ideal dikurang? Nah kita langsung masukkan di sini saja. Berat badannya Aan berapa yang pertama?Yang sudah selesai diproses yang sudah masukkan di rumus? (Berjalan ke arah salah satu siswa dan bertanya) Mana berat badan ta? Mana Aan? Oke, 36 ya. Oke, jadi kita masukkan berat badannya Aan di sini. (Berjalan kembali menuju papan tulis) Ini berat badannya Aan 36 kg, jadi langsung. Dikurang
apalagi di sini kemarin? Berapa? 3,6. Sadit, bagaimana caranya diproses seperti ini?
Siswa 3 : Begitu 36 Guru : Berapa?
Siswa 3 : Dikasi koma nol
Guru : Dikasi bilangan nol. Oke, skarang nol kurang enam. Ann jelaskan bagaimana caranya ini.
Siswa 2 : Pinjam satu
Guru : Pinjam satu di angka enam. Oke.
Lampiran Korpus Data
Hari : Kamis
Tanggal : 9 April 2015
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas : Kelas V ( Al Musawwir)
Guru : Febrina Paramitha Isminarti, S.Pd.
Siswa : Doa sebelum pelajaran dimulai… Rabbi sidenni ilman warzukni fahman..
artinya ya Allah tambahkanlah ilmuku dan berilah aku pemahaman yang benar. Aamiin
Guru : Alhamdulillah….
Siswa : Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Guru : Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh
Guru : Nanti ulangannya jam 9. Nah, sekarang naikkan dulu bukunya kita belajar tentang simbiosis
Siswa : (mengeluarkan buku pelajaran)
Guru : Oke, coba buka bukunya halaman 54. Ini sebentar saya bagi
dalam 5 kelompok. (Sambil menunjuk siswa) ini kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3, kelompok 4, kelompok 5.
Siswa 1: Kelompok 4 ini bu Guru : Iya
Siswa 2: Hancur na kelompokna Siswa : bagusna nasibna..
Guru : sudah lihat halaman 54…
Siswa : bu.. bukunya siapa ini..?
Guru : Oke, jadi simbiosis itu yang ke dua ada namanya simbiosis mutualisme, nah itu adalah hubungan antar makhluk hidup yang saling menguntungkan, jadi yang satu diuntungkan yang lain juga diuntungkan. Jadi dua-duanya
menguntungkan. Nah contohnya disitu antara bunga dan kupu-kupu. Dimana kita tau kupu-kupu mengisap sari madu pada bunga dan bunga disitu dibantu
penyerbukannya oleh kupu-kupu. Yah, jadi saling menguntungkan antara satu dengan yang lain. Yang ketiga ada namanya simbiosis parasitisme. Nah ini adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu diuntungkan tapi yang lain dirugikan. Nah contohnya itu benalu dan pohon inangnya. Pernah liat benalu?
Siswa : Iya bu
Guru : ada itu benalu yang selalu lengket dipohon.
Siswa 1: Menempel.
Guru : Benalunya itu, dia mendapatkan makanan dari pohon yang ia lekati, tapi walaupun iya mengambil makanan dari pohon inang.
Lampiran Korpus Data
Hari : Senin
Tanggal : 13 April 2015
Mata Pelajaran : IPS
Kelas : Kelas V ( Al Mughni)
Guru : Syamsiar, S.Pd.
Guru : Kemarin membahasa tentang fungsi lembaga ekonomi,
pengertiannya dan strukturnya. Kemudian apa saja yang termasuk di dalam, kegiatan apa saja yang termasuk di lembaga ekonomi ada tiga yaitu produksi, konsumsi dan….
Siswa : Distribusi
Guru : Ya, sekarang perhatikan halaman 84, di situ ada gambar-gambar yang berkaitan dengan lembaga-lembaga ekonomi yang ada ya. Coba liat bagian A.
gambar A itu kegiatan ekonomi, lembaga ekonomi tentang apa?
Siswa 1 : Konsumsi
Guru : Konsumsi, kalo B?
Siswa 2 : Produksi
Guru : Produksi. Yang C?
Siswa 3 : Distribusi
Guru : Distribusi. Nah kegiatan apa yang pernah kamu lakukan? Kegiatan ekonomi apa yang pernah kamu lakukan?
Siswa 1 dan 2: Konsumsi
Guru : Selain konsumsi? (sambil sesekali memberi gambaran kegiatantersebut agar lebih jelas)
Siswa 2 : ee…produksi Siswa 3 : Distribusi
Guru : Ya, distribusi. Kemarin kan itu pembagian sembakokan salah satu paket distribusi toh?
Siswa : (Tersenyum)
Guru : Nah sekarang perhatikan halaman 85. Berkaitan dengan kegiatan lembaga ekonomi, di dalam kegiatan lembaga ekonomi ada kegiatan distribusi. Untuk mendistribusikan suatu barang, diperlukan sebuah wadah. Wadahnya itu bisa berbentuk kubus, bisa berbentuk balok. Nah perhatikan halaman 85, untuk mendistribusikan suatu barang dapat dikemas dalam kardus. Kardus ada yang berbentuk kubus dan balok.
Perhatikan gambar kardus berikut! Berdasarkan gambar di atas kardus manakah yang mempunyai ruang lebih besar atau kecil? Yang mana?
Yang berbentuk apa?
Siswa 2 : Kubus
Guru : Hmm? Mana yang lebih besar ruangnya? Kubus atau balok?
Siswa 3 : Balok
Guru : Ya jelas balok! Masa lebih besar kubus daripada balok? Bagaimana kamu mengetahui ruang kardus mana yang lebih besar atau yang lebih kecil? Bagaimana caranya? Bagaimana caranya diketahui kardus yang berbentuk balok itu lebih besar wadahnya dibandingkan dengan kardus yang berbentuk kubus? Bagaimana caranya? Coba dipikirkan itu bagaiama caranya bisa diketahui bahwa kardus yang berbentuk balok lebih besar wadahnya dari pada kardus yang berbentuk kubus?
Bagaimana caranya? Dengan cara apa? Dengan cara bagaimana?
Siapa yang bisa jawab? Angkat tangan saja, ndak usah malu-malu.
Dengan cara apa bisa diketahui bahwa kardus yang berbentuk balok itu lebih besar dibandingkan dengan kardus yang berbentuk kubus?
Dengan cara apa? Masa’ tidak ditahu caranya?
Siswa 4 : Dilihat sisiya.
Guru : Apa? Dilihat sisinya. Ada yang lain?
Siswa 5 : Bu?
Guru : Kenapa?
Siswa 5 : Mengukur panjang lebar dan tingginya.
Guru : Mengukur panjang lebar dan tingginya. Ada lagi yang lain? Ada lagi yang lain? Dengan cara bagaimana kita bisa mengetahui bahwa kardus yang berbentuk balok itu lebih besar wadahnya dibandingkan dengan kardus yang berbentuk kubus? Bagaimana caranya? Coba dipikirkan dulu! (menunggu jawaban dari siswa) Dengan cara?
Perhatikan baik-baik gambarnya. Kan sudah belajar kubus satuan?
Masa tidak bisa kaitkan dengan itu?
Siswa : (Masih berpikir)
Guru : Bagaimana caranya? Dengan apa?
Siswa : Dengan menghitung jumlah kubus satuannya.
Guru : Yang mana kubus satuannya? Yang mana?
Siswa 1 : Yang dalam isi.
Guru : Sedikit lagi, jawabannya sudah mau mendekati.
Siswa : (Berbisik-bisik)
Guru : Tadi sudah ada temannya yang menjawab...
Siswa : Menghitung jumlah satuannya bu.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Linguistik yang disebut bidang studi pemakaian bahasa merupakan bagian terbesar dari pembahasan dalam bidang studi antardisiplin yang disebut sosiolinguistik. Sosiolinguistik itu merupakan bidang garapan antardua disiplin ilmu, yaitu linguistik yang berkutat dengan masalah kebahasaan di satu sisi dan disiplin sosiologi yang menaruh perhatian pada masalah sosial atau masyarakat di sisi yang lain. Subbidang kajian sosiolinguistik salah satunya adalah pragmatik yang mengkaji pemakaian bahasa berhubungan dengan upaya membedakan varietas-varietas bahasa.
Ilmu bahasa merupakan ilmu yang spesifik. Bahasa memiliki beragam ciri dan fungsi yang disesuaikan dengan penggunaannya dalam masyarakat. Suparno (2002: 1) memaparkan bahwa bahasa adalah suatu sistem tanda ujaran arbitrer (manasuka) yang konvensional dan bersifat sistemik (terdiri dari subsistem-subsistem) sekaligus sistematik (memiliki kaidah yang teratur). Empat dimensi sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa antara lain jarak sosial, status sosial, tingkat keresmian dan fungsinya Holmes (dalam Sarwiji Suwandi, 2008: 98), sehingga dapat diketahui bahwa pemakaian bahasa sangat dipengaruhi faktor sosial penutur dan mitra tutur saat berkomunikasi.
2
Belajar bahasa diawali dengan memahami bahasa, mencoba menggunakannya, dan mempelajari bahasa itu saat bahasa itu digunakan.
Bahasa adalah rangkaian sistem bunyi atau simbol yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, yang memiliki makna dan secara konvensional digunakan oleh sekelompok manusia (penutur) untuk berkomunikasi (melahirkan pikiran dan perasaan) kepada orang lain (Suyanto, 2009: 15).
Bahasa dapat diwujudkan dalam bentuk lisan dan tulisan. Salah satu perwujudan bahasa lisan adalah percakapan.
Percakapan adalah pembicaraan yang terjadi antara orang yang berbicara (penutur) dengan orang yang diajak bicara (mitra tutur ) untuk membahas suatu hal dalam suatu waktu. Jika sesorang ingin terlibat dalam sebuah percakapan maka perlu memahami tata cara percakapan, sehingga dapat terlaksana dengan lancar dan baik. Percakapan dalam komunikasi dapat bermakna langsung dan tidak langsung. Makna yang disampaikan secara langsung itu mudah dipahami, tetapi makna yang tidak disampaikan secara langsung itu menjadi sulit dipahami. Bentuk percakapan yang tersembunyi atau memiliki makna lain disebut implikatur percakapan.
Rusminto (2009: 70) menyatakan bahwa implikatur percakapan adalah sesuatu yang disembunyikan dalam sebuah percakapan, yakni sesuatu yang secara implisit terdapat dalam penggunaan bahasa secara aktual. Memahami suatu percakapan yang bermakna tidak langsung diperlukan adanya suatu konteks. Konteks menurut Grice (dalam
3
Rusminto, 2009: 57) adalah latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur yang memungkinkan mitra tutur untuk memperhitungkan implikasi tuturan dan memaknai arti tuturan dari si penutur. Dengan demikian, implikatur percakapan dapat dipahami dengan mudah jika memperhatikan konteks yang melatari percakapan tersebut.
Implikatur percakapan dapat terjadi dalam percakapan pada saat proses pembelajaran di kelas.
Pembelajaran adalah gabungan dari dua kegiatan, yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan belajar. Kegiatan mengajar menyangkut peran guru dalam konteks mengupayakan terciptanya komunikasi yang harmonis antara guru dengan siswa pada saat proses membangun pemahaman terhadap suatu informasi. Guru merupakan sosok menjadi panutan di masyarakat, terutama di sekolah. Segala sesuatu dilakukan dan dituturkan guru saat menyampaikan sesuatu hal akan ditiru oleh siswa. Siswa mempelajari bahasa orang lain dengan meniru cara pengungkapan pemikiran yang didengarnya, terutama apa yang didengar gurunya di sekolah.
Kegiatan belajar menyangkut peran siswa dalam memahami informasi yang disampaikan oleh guru. Kegiatan belajar-mengajar di kelas tentunya tidak terlepas dari interaksi guru dan siswa. Interaksi yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar tersebut adalah percakapan, baik yang bermakna langsung maupun tidak langsung. Misalnya pada percakapan berikut ini.
4
Guru : Rambutmu rapi sekali nak.
Siswa : Iya Pak.
Percakapan tersebut memiliki beberapa alternatif maksud. Antara lain, (1) guru hanya menyatakan rambut siswa itu rapih untuk mencairkan suasana kelas; (2) guru ingin menyanjung siswanya itu bahwa dalam kenyataannya rambut siswa itu lebih rapih dibandingkan dengan teman laki-lakinya yang lain; (3) guru ingin menyuruh siswa untuk merapihkan dengan cara memotong rambut siswa itu karena sudah terlalu panjang yang terkesan tidak rapih. Penggunaan implikatur dalam peristiwa komunikasi didorong oleh kenyataan adanya dua tujuan komunikasi sekaligus yang ingin dicapai oleh penutur, yaitu tujuan pribadi, yakni untuk memperoleh sesuatu dari mitra tutur melalui tuturan yang disampaikannya dan tujuan sosial, yakni berusaha menjaga hubungan baik antara penutur dengan mitra tuturnya sehingga komunikasi tetap berjalan dengan baik dan lancar (Rusminto, 2009: 71).
Fenomena yang menjadi dasar bagi peneliti untuk mengkaji tentang implikatur dalam penelitian ini adalah adanya peristiwa dalam proses belajar mengajar, dimana guru menyampaikan materi dan siswa tiba-tiba gaduh. Suasana kelas yang demikian memberikan ketidaknyamanan dalam proses pembelajaran, agar terkesan halus dan tidak menyinggung perasaan siswanya, guru dalam menyampaikan perintahnya menggunakan tuturan tidak langsung dengan menggunakan kalimat yang lebih halus. Dengan demikian, implikatur percakapan di atas adalah guru
5
ingin menyuruh siswanya untuk tidak berisik dan menggangu siswa di kelas lain.
Fenomena lain, yaitu adanya kebiasaan guru yang dalam berkomunikasi masih menggunakan bahasa daerah dan bahasa sehari- hari sebagai bahasa pengatar pembelajaran, sehingga secara tidak langsung didengar dan menimbulkan berbagai penafsiran tentang kesantunan berbahasa di kalangan siswa. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar-mengajar diperlukan adanya percakapan yang mengandung implikatur.
Percakapan yang mengandung implikatur tidak digunakan pada saat guru memberikan pelajaran, karena pada saat memberikan pelajaran, guru harus menyampaikannya dengan jelas sehingga apa yang disampaikan guru dapat dipahami dengan baik oleh siswanya. Tetapi implikatur dapat digunakan dalam percakapan yang bukan untuk menjelaskan pelajaran. Hal ini dilakukan agar interaksi dan komunikasi yang terjalin antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa dapat berjalan dengan baik. Pernyataan ini sejalan dengan adanya asumsi bahwa baik seorang guru maupun siswa harus berlaku sopan dalam bertutur kata. Kesopanan dalam tuturan dapat diwujudkan melalui implikatur percakapan. Sehingga hubungan antara guru dengan siswa dapat terjaga dengan baik dan menciptakan suasana kegiatan belajar- mengajar yang kondusif.
6
Berdasarkan pemaparan tersebut, mendorong ketertarikan peneliti untuk meneliti implikatur dalam interaksi belajar mengajar di SD Islam Athirah II Makassar. Hasil penelitian tentang implikatur percakapan guru dan siswa di SD Islam Athirah II Makassar diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang sikap siswa dan guru dalam berinteraksi, khususnya interaksi kelas. Sikap pembicara yang dimaksud berkaitan dengan psikologisnya, yaitu tidak melebih-lebihkan, merendahkan dan menjelek- jelekkan yang lain, serta kesantunannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini, adalah bagaimanakah wujud implikatur percakapan guru dengan siswa dalam interaksi belajar mengajar SD Islam Athirah II Makassar ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud implikatur percakapan guru dengan siswa dalam interaksi belajar mengajar di SD Islam Athirah II Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi yang utuh mengenai implikatur percakapan guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar di SD Islam Athirah II Makassar. Oleh karena itu, diharapkan hasil penelitian ini memberikan manfaat secara teoretis dan praktis.
7
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, manfaat hasil penelitian ini dapat memberi kontribusi empiris terhadap teori implikatur percakapan dan dapat dijadikan bukti verifikasi terhadap teori yang sudah berlaku atau dapat memberikan informasi yang baru terhadap teori implikatur dalam pembelajaran, khususnya dalam interaksi belajar mengajar di SD Islam Athirah II Makassar.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru, siswa, dan peneliti lanjut.
Bagi siswa, hasil penelitian ini bermanfaat untuk dijadikan bahan refleksi dan acuan dalam berkomunikasi agar menggunakan bahasa yang santun tanpa mengutamakan bahasa yang memiliki makna yang tersirat.
Bagi guru, hasil penelitian bermanfaat untuk member pemahaman terhadap aspek-aspek pengguna bahasa dalam proses belajar mengajar.
Peranannya terutama dapat menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya kegagalan berkomunikasi ketika berinteraksi dengan siswa.
Bagi peneliti lanjut, hasil penelitian ini bermanfaat sebagai acuan jika ingin meneliti topik yang relevan dengan penelitian ini.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Hasil Penelitian
Penelitian tentang implikatur percakapan guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat interaksi antara guru dan siswa ataupun sebaliknya, serta siswa dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wahab (2007), yaitu implikatur tindak verbal pujian guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar di kelas XI SMA 5 Makassar. Namun, Wahab (2007) mengkaji implikatur tindak verbal pujian pada satu tingkatan kelas XI. Dengan kata lain, belum mengkaji secara menyeluruh yang dapat mewakili wujud implikatur percakapan guru dan siswa dalam interaksi belajar mengajar.
B. Tinjauan Teori dan Konsep 1. Implikatur
a. Hakikat Implikatur
Kata implikatur (implicature) diturunkan dari kata to imply (mengimplikasikan), sebagaimana dalam kognasinya implikasi (implication). Secara etimologis, to imply berarti melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lain (dari bahasa Latin kata kerja plicare yang berarti melipat). Oleh karena itu, yang terimplikasikan adalah terlipat dan harus
9
dibuka (lipatannya) agar dapat dipahami. Implikatur konversasional adalah sesuatu yang terimplikasi dalam percakapan, yaitu, sesuatu yang tetap implisit dalam penggunaan bahasa aktual. Hal ini merupakan alasan mengapa pragmatik sangat menarik dalam sebuah fenomena tuturan tidak langsung. Oleh karena itu, masalah implikatur berurusan dengan tipe tertentu dan regularitas, dan tipe yang tidak dapat ditangkap dalam sebuah aturan sintaksis atau semantik sederhana, tetapi mungkin dipertimbangkan oleh beberapa prinsip konversasional (Mey, 1996).
Implikatur adalah makna yang tersirat melalui ujaran sebuah kalimat dalam sebuah konteks, meskipun makna itu bukan merupakan suatu bagian atau pemenuhan dari apa yang dituturkan. Implikatur dapat pula diartikan sebagai implikasi makna berupa satuan pragmatis dari suatu tuturan, baik lisan maupun tulisan. Implikatur merupakan kegiatan menganalisis makna terselubung dari sebuah tuturan yang disampaikan oleh Penutur. Grice menyatakan bahwa ada dua jenis implikatur, yaitu impikatur konvensional dan konversasional, atau performatif langsung dan performatif tidak langsung dalam tindak tutur dan menamakannya dengan sebutan ceremonial dan vercular.
Konsep implikatur yang pertama kali dikemukakan oleh Grice pada ceramah Wiliam James di Universitas Harvard pada tahun 1967 sebagai solusi untuk menanggulangi persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan dengan teori semantik. Lebih lanjut, Grice (1975) mengemukakan bahwa pada dasarnya implikatur berkaitan dengan prinsip
10
umum dalam pragmatik. Prinsip-prinsip umum tersebut adalah adanya kerja sama yang konstributif antara penutur dengan Mitra tutur dalam suatu percakapan. Kerjasama yang dimaksud adalah bahwa antara Penutur dan Mitra tutur mengharapkan sumbangan sesuai yang diperlukan dan tingkat penerimaan yang sesuai dengan makna yang dapat diterima dan disepakati sehingga sejumlah implikasi makna tuturan dapat dipahami oleh Mitra tutur.
Implikatur yang dikemukakan oleh Grice dimaksudkan sebagai tuturan yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan atau tindak tutur tidak langsung. Implikatur dapat memberikan penjelasan secara fungsional mengenai sejumlah fakta kebahasaan yang berkaitan dengan konteks tuturan yang mengikatnya, ditambah prinsip-prinsip bertutur seperti Prinsip Kerjasama (PK) dan Prinsip Sopan Santun (PS).
Implikatur mampu menghadirkan sejumlah makna tuturan selain yang terungkap secara lingual (berwujud tanda/lambang) atau secara struktural.
Implikatur sangat penting dalam suatu tindak tutur karena implikatur mampu memberikan beberapa konstribusi, yakni: (1) menawarkan sejumlah penjelasan fungsional fakta-fakta linguistik yang signifikan, (2) implikatur memberi sejumlah pertimbangan eksplisit mengenai seberapa besar kebermaknaannya, lebih dari apa yang sebenarnya ‘dikatakan’, (3) cenderung mempengaruhi simplikasi pokok, baik pada struktur maupun isi uraian semantik, (4) sekurang-kurangnya sejumlah konsep yang berkaitan erat agaknya cukup penting jika berbagai macam fakta pokok mengenai
11
bahasa dipertimbangkan secara tepat, (5) prinsip-prinsip yang melahirkan implikatur memiliki suatu daya penjelasan yang sangat umum, beberapa prinsip dasar memberikan penjelasan panjang lebar tentang fakta-fakta nyata (Levinson, 1983: 97-100).
Implikatur (implicature) pada awalnya diajukan oleh Grice pada tahun 1967 untuk menyelesaikan persoalan makna bahasa yang tidak dapat dikaji oleh teori semantik. Konsep implikatur menjelaskan perbedaan yang sering terdapat antara “apa yang dikatakan” dan “apa yang diimplikasikan”
(Nababan, 1987: 28). Implikatur tidak mungkin dapat dibentuk tanpa memperhatikan atau merujuk kepada sesuatu yang dikatakan. Sesuatu yang diaktakan merujuk kepada ujaran yang tersurat atau ujaran yang eksplisit. Dikatakannya pula bahwa implikatur selalu disampaikan secara langsung dan sangat tergantung pada konteks (Carston, 1988).
Konsep implikatur berkaitan dengan konsep tindak ilokusi tak langsung. Dalam tindak ilokusi tak langsung, pembicara menyampaikan maksudnya kepada pendengar lebih dari yang diujarkan dengan menghubungkannya dengan informasi latar belakang bersama kedua belah pihak, baik yang bersifat kebahasaan maupun yang bersifat nonkebahasaan. Dalam implikatur, baik dalam bentuk implikatur konvensional maupun dalam bentuk implikatur percakapan pembicara sering menyampaikan maksud lebih dari yang diucapkan (Kempson, 1977). Hal ini sejalan dengan pendapat Brown dan Yule (1983) yang menyatakan bahwa implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang
12
disarankan atau apa yang dinyatakan oleh pembicara berbeda dari sesuatu yang dinyatakan secara harfiah”(Sugira Wahid, 1996: 47).
Sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan yang bersangkutan, tetapi terimplikasi dalam proposisi. Proposisi yang diimplikasikan itu disebut implikatur (implicature) (Grice, 1975). Jadi, implikatur sebenarnya bukan merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan kedua proposisi itu bukan merupakan konsekuensi mutlak (necessary consequence).
Implikatur percakapan bukan merupakan hubungan makna, melainkan merupakan inferensi pragmatik yang dibangun oleh penutur dalam pengungkapan bahasa secara khusus pada situasi (konteks) tertentu yang didasarkan pada kerja sama konvensional (Keith, 1986). Lubis (1993b: 38) juga menyebutkan bahwa “implikatur sebagai salah satu komponen yang akan menentukan makna sebuah tuturan atau kalimat adalah yang menyebabkan seorang pendengar dapat mengartikan atau memahami sesuatu yang berbeda dan yang diutarakan oleh pembicara secara harfiah.”
Bila dua orang yang bercakap-cakap, maka percakapan itu dapat berlangsung dengan lancar berkat adanya “kesepakatan bersama”.
Kesepakatan itu berupa kontrak tak tertulis bahwa ihwal yang dibicarakan itu harus berhubungan. Hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak terdapat pada setiap kalimat (yang dipersambungkan itu) secara lepas.
13
Artinya, makna keterkaitan itu tidak terungkap secara literal pada kalimat itu sendiri (Purwo, 1990).
Implikatur merupakan gagasan yang amat penting karena dengan implikatur sebuah tuturan dapat ditarik ke luar dari struktur formal organisasi bahasa ke dalam struktur fungsional. Artinya, bahwa kesimpulan makna tuturan dapat dipahami secara kontekstual. Selain itu, implikatur dapat memberikan penjelasan secara fungsional mengenai sejumlah fakta kebahasaan yang terkait dengan konteks tuturan yang mengikatnya. Hal tersebut ditambah dengan prinsip-prinsip bertutur seperti Prinsip Kerja sama (PK) dan Prinsip Sopan Santun (PS). Implikatur mampu menghadirkan sejumlah makna tuturan selain yang terungkap secara lingual (berwujud tanda) atau yang struktural (Mey, 1996).
Semua implikatur bersifat probabilistis (kemungkinan) karena yang dimaksud si penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat diketahui dengan pasti. Faktor yang menentukan maksud penutur dengan tuturannya yaitu:
1. kondisi-kondisi yang dapat diamati;
2. tuturan;
3. konteks.
Berdasarkan ketiga faktor tersebut (Mitra tutur) bertugas menyimpulkan kemungkinan suatu interpretasi. Lahirnya implikatur dalam subkajian pragmatik sebagai penganalisis makna terselubung dari suatu tutran yang disampaikan penutur baik secara lisan maupun tulisan.
14
Penginterpretasian dalam suatu percakapan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari ujaran. I Dewa Putu Wijaya dan Muhammad Rohmadi (2009:
37) mengungkapkan bahwa implikatur merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan antar preposisi tersebut bukan merupakan konsekuensi mutlak. Dengan kata lain, implikatur adalah maksu, keinginan, atau ungkapan-ungkapan hati penutur yang tersembunyi.
b. Konsep Implikatur dan Implikatur Percakapan
Implikatur adalah implikasi makna berupa satuan pragmatis dari suatu tuturan baik lisan ataupun tulisan, sedangkan implikatur percakapan adalah implikasi pragmatik yang terkandung dalam bentuk ligual yang dituturkan oleh Pn kepada Mt dalam percakapan. Dalam implikatur maupun implikatur percakapan dapat saja bermuatan implikasi pragmatik atau implikasi sosiokultural, artinya bahwa dalam satu tuturan dalam percakapan bisa saja memiliki kedua implikasi pragmatik dan implikasi sosiokultural. Realita yang kita lihat bahwa ternyata pengungkapan bahasa tidak dapat dilepaskan dari konteks sosiokultural pemakaian bahasa itu sendiri. Implikatur konversasional (percakapan) merupakan salah satu gagasan terpenting dalam pragmatik. Sifat menonjol dalam konsep tersebut dalam karya mutakhir pragmatik disebabkan oleh beberapa hal.
15
Pertama, implikatur berdiri sebagai sebuah contoh paradigmatik fenomena liguistik. Sumber-sumber rumpun kesimpulan pragmatis dapat diperlihatkan berada di luar pengorganisasian bahasa, pada sejumlah prinsip umum untuk interaksi kooperatif, dan sekalipun terhadap struktur bahasa.
Kedua, kontribusi penting yang diberikan oleh implikatur adalah bahwa gagasan tersebut memberikan sejumlah pertimbangan implisit mengenai seberapa mungkin ia bermakna (dalam pengertian umum) lebih dari sekadar apa yang sebenarnya dikatakan (konvensional liguistik).
Ketiga, gagasan implikatur agaknya cenderung mempengaruhi simplikasi pokok baik dalam struktur dan isi uraian semantik.
Keempat, implikatur atau sekurang-kurangnya sejumlah konsep yang berkaitan erat, agaknya cukup penting jika berbagai macam fakta pokok mengenai bahasa dipertimbangkan secara tepat.
Kelima, prinsip-prinsip yang melahirkan implikatur memiliki daya penjelas yang sangat umum (Levinson, 1983).
Implikatur percakapan (conversationally implicatures) ialah implikasi pragmatik yang diperoleh secara tidak langsung dari makna kata. Makna yang terkandung dalam tuturan penutur lebih banyak dari pada yang diungkapkan. Hal tersebut dapat diartikan bahwa implikatur percakapan merupakan implikasi pragmatis yang terkandung dalam wujud lingual yang dituturkan oleh penutur (Penutur) kepada mitra tutur (Mitra tutur) dalam suatu interaksi. Sebuah ujaran dapat memiliki implikasi yang berupa
16
proposisi (P) yang sebenarnya bukan bagian dan bukan merupakan konsekuensi yang harus ada dalam ujaran itu. Grice menanamkan P atau
‘pernyataan’ implikatif tersebut sebagai implikatur atau lengkapenuturya IP. P bukan bagian dari ujaran dan P juga tidak diucapkan. IP bukan akibat logis atau “implikasi logis dari ujaran yang semantik disebut entailment. Sebuah ujaran dapat memiliki lebih dari satu implikatur (Wiryotinoyo, 1986).
Di dalam penuturan sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancar berkomunikasi karena mereka memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dibicarakan itu. Di antara penutur dan mitra tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa hal yang sedang dipercakapkan itu dapat saling dimengerti.
Grice (Wijana, 1996:37) mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan dapat mengimplikasikan preposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur percakapan. Tuturan yang berbunyi “Pak guru datang, jangan ribut!”
Di dalam implikatur, hubungan antara tuturan yang sesungguhnya dengan maksud yang tidak dituturkan bersifat tidak mutlak. Maksud tuturan harus di dasarkan pada konteks situasi tutur yang mewadahi munculnya tuturan tersebut. Sejalan dengan hal di atas bahwa bertutur adalah kegiatan yang berdimensi sosial. Kegiatan bertutur dapat berlangsung dengan baik apabila para peserta tutur terlibat aktif di dalam