BAB IV ANALISIS BIAYA PRODUKSI DAN PERSAINGAN USAHA
4.1. Karakteristik dan Struktur Pasar Perdagangan Ayam Broiler di Beberapa
4.1.2. Parameter Teknis dan Ekonomi Usaha Ternak Broiler
atau pedagang pengecer atau pedagang, ada juga RPA mendistribusikan ayamnya ke outlet-outlet retail modern seperti Lotte Mart, Macro, dan Superindo. Ukuran ayam yang didistribusikan ke ritel modern yaitu 0,9 – 1,2 kg/ekor (karkas) atau dalam bentuk hidup 1,4 – 1,6 kg/ekor.
Berdasarkan hasil diskusi dengan stakeholder, dilaporkan bahwa keluhan dari pola kemitraan adalah pada implementasinya dimana ada batasan dalam hal memasok pasokan khsusunya pada hari raya lebaran. Dalam hal ini perusahaan inti membatasi pasokan DOC sehingga jumlah ayam broiler di pasaran terbatas. Pemerintah juga harus mengetahui penditribusian DOC sehingga dapat mengontrol pasokan DOC.
Dari sisi persaingan usaha, perlu adanya penetapan harga yang transparan serta ketersediaan dan pasokan bibit. Pemerintah harus dapat mendorong agar perusahaan bisa lebih transparan dalam kemitraan usaha terutama dalam pengaturan hak dan kewajiban. Untuk itu pemerintah perlu membuat kebijakan dalam distribusi pasar produk ayam dalam bentuk parting (cutting) yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Selama ini penditribusian memiliki aturan 80% pasar basah/pasar tradisional dan 20% pasar bersih (pasar modern). Kedepan diharapkan agar proporsi tersebut bisa dirubah menjadi 50% pasar tradisional dan 50% pasar bersih (pasar modern).
4.1.2. Parameter Teknis dan Ekonomi Usaha Ternak Broiler
Beberapa parameter teknis untuk usahaternak ayam ras pedaging (broiler) yang dikaji berdasarkan pola usaha di lokasi penelitian meliputi rata-rata FCR (feed convertion ratio), tingkat kematian (mortality), rata-rata umur panen, dan rata-rata bobot badan saat panen. Rata-rata pencapaian FCR yang menggambarkan efisiensi teknis, yang menunjukkan konversi pakan menjadi bobot
Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 51
ayam hidup adalah 1,69 untuk usahaternak pola mandiri, 1,68 untuk pola kemitraan internal antara perusahaan pakan dengan peternak plasma, dan 1,68 untuk pola kemitraan eksternal antara pemodal dan peternak plasma. Tingkat pencapaian FCR pada pola kemitraan usaha internal dan eksternal sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan pencapaian FCR pada pola mandiri. Diduga kualitas DOC dan pakan yang lebih baik dan peran teknisi perusahaan yang yang diterjunkan kelapang memiliki peranan yang cukup baik dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pakan oleh peternak plasma.
Rata-rata tingkat kematian usahaternak ayam ras pedaging (broiler) untuk pola usahaternak mandiri 4.08% per siklus produksi, untuk pola usahaternak kemitraan internal 4.12% persiklus produksi, dan untuk kemitraan usaha eksternal 4.10%. Besaran tingkat mortalitas antar pola usahaternak relatif berimbang dan masih tergolong pada tingkat yang ditoleransi perusahaan inti (4-6 %). Tingkat kematian pada pola kemitraan baik internal maupun eksternal yang sedikit lebih tinggi dibandingkan pola usahaternak mandiri diduga disebabkan ada sebagian yang dipotong atau dijual ke luar dari perusahaan inti.
Secara umum rata-rata umur panen mengalami percepatan, yang pada awal pembangunan peternakan (1970-1990) umur panen 42-45 hari. Saat ini, sejalan dengan preferensi konsumen yang menghendaki ukuran ayam lebih kecil, maka rata-rata umur panen broiler berkisar antara 32-38 hari atau rata-rata 35 hari dengan bobot badan 1.90 Kg/ekor. Rata-rata umur panen untuk pola usahaternak ayam ras pedaging (broiler) pola kemitraan internal berkisar antara 30-36 hari atau rata-rata 33 hari dengan rata-rata bobot badang 1.88 kg/ekor. Sementara itu rata-rata umur panen pada pola usahaternak pola kemitraan eksternal berkisar antara 30-38 hari atau rata-rata umur panen 34 hari dengan berat bobot panen 1.89 Kg/ekor.
Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 52
Penentuan umur panen ayam sangat ditentukan dinamika permintaan pasar, tingkat harga yang terjadi dipasar, dan preferensi konsumen. Pada pola usahaternak mandiri peternak memiliki kebebasan kapan ayam mau dipanen dan dijual ke pasar, sedangkan pada pola kemitraan baik internal maupun eksternal sangat ditentukan oleh perusahaan inti yang menjadi mitra usahanya.
Parameter teknis indeks prestasi (IP) merupakan parameter teknis gabungan dari berbagai parameter teknis yang merupakan resultante dari berbagai pencapaian parameter teknis dalam usahaternak. Pada sebagian besar kemitraan usaha melalui sistem kontrak bagi hasil dan risiko, hal terpenting bagi peternak untuk mencapai pendapatan yang tinggi adalah melalui pencapaian indek prestasi (IP) yang tinggi, yaitu dengan FCR efisien, mortalitas rendah, pencapaian bobot badan sesuai umur panen. Indek Prestasi Peternak (IP) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Skala nilai IP adalah sebagai berikut : IP < 235 Kurang/Poor (loss/break-even) IP > 275 Baik (Good)
IP > 300 Sangat baik (Very Good) IP > 350 Luar Biasa (Excellent)
Hasil kajian empiris di lapang pada berbagai pola usahaternak broiler secara kualitatif diperoleh informasi besaran indeks prestasi (IP) yang dicapai. Pada pola usahaternak mandiri diperoleh nilai IP sebesar 313.5, pada kemitraan internal dicapai nilai IP sebesar 313.75, dan pada pola usahaternak kemitraan eksternal diperoleh nilai IP sebesar 313.63. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa
Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 53
pada ketiga pola yang diteliti peternak telah mencapai IP sangat baik atau di atas 300 yang merefleksikan secara teknis peternak telah menguasai teknologi dan manajemen usahaternak dengan sangat baik. Informasi secara lengkap dan rinci tentang parameter teknis usaha ternak broiler dilokasi penelitian pada berbagai pola usahaternak dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Kinerja Usahaternak Broiler berdasarkan Pola Usaha, Tahun 2016
Deskripsi Mandiri Kemitraan
Internal
Kemitraan Eksternal
Skala Usaha (ekor) 28,908 7,875 14,300
FCR 1.69 1.68 1.68
Mortalitas (%) 4.08 4.12 4.10
Umur panen (hari) 35 33 34
Rataan Bobot (Kg/ekor)
1.90 1.88 1.89
Indeks Prestasi (IP) 313.50 313.75 313.63
Harga Broiler (Rp/Kg) 17149.31 17147.59 17148.45
Profit (Rp/ekor) 1458.42 1012.32 880.78
Sumber: Data hasil survei, Diolah
Beberapa parameter ekonomi yang dikaji adalah skala usaha, tingkat harga yang diterima peternak, dan keuntungan peternak. Pada pola usahaternak mandiri rata-rata skala usaha berkisar antara 5.000-52.000 ekor atau rata-rata sebesar 28.908 ekor per peternak. Skala usaha pada kemitraan usaha internal berkisar antara 4.000-12.000 ekor atau rara-rata 7.875 ekor per peternak. Skala usaha pada pola kemitraan ekternal berkisar antara 1.200-26000 ekor atau rata-rata 14.300 ekor per peternak. Nampak bahwa rata-rata skala usaha peternak mandiri adalah yang paling besar, karena hanya peternak mandiri dalam skala sedang hingga skala besarlah yang mampu bertahan. Pada skala tersebut peternak mandiri dapat akses
Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 54
ke pabrikan pakan dan mampu meningkatkan efisiensi dalam pengengkutan sara produksi peternakan dan penjualan broiler hidup. Sementara itu pada pola kemitraan internal mensyaratkan skala minimal saat ini sebesar 4.000 ekor, sehingga masih ditemukan skala usaha 4.000 ekor. Perusahaan peternakan multinasional saat ini mensyaratkan skala usaha minimal 6.000 ekor per peternak. Pada pola kemitraan eksternal antara pemodal dan peternak plasma tidak ada syarat minimal, sehingga masih dijumpai skala 1.200 ekor per peternak.
Pada pola usahaternak mandiri tingkat harga jual yang diterima berkisar antara Rp. 16.000-18.000/Kg atau rata-rata sebesar Rp 17.149/kg bobot hidup. Tingkat harga jual peternak pada kemitraan usaha internal berkisar antara 16.000-18.000 ekor atau rara-rata Rp. 17.148/Kg bobot hidup. Tingkat harga jual peternak pada pola kemitraan ekternal berkisar antara 16.000-18.000 ekor atau rata-rata Rp 17.148/Kg bobot hidup. Nampak bahwa rata-rata tingkat harga jual antar pola usahaternak relatif sama. Hal ini terutama disebabkan sebagian besar harga jual peternak kemitraan ditentukan melalui kontrak dengan perusahaan inti dan harga penjualan oleh perusahaan inti ke pedagang pengumpul atau broker ditentukan melalui harga patokan melalui PINSAR.
Pada pola usahaternak mandiri tingkat keuntungan yang diterima peternak berkisar antara Rp 646-3.069/Kg atau rata-rata sebesar Rp 1458/Kg bobot hidup. Tingkat keuntungan peternak pada kemitraan usaha internal berkisar antara Rp. 801-1,333/Kg atau rara-rata Rp. 1.012/Kg bobot hidup. Tingkat keuntungan peternak pada pola kemitraan ekternal berkisar antara Rp 785-978/Kg atau rata-rata Rp 881/Kg bobot hidup. Nampak bahwa rata-rata tingkat keuntungan pada peternak mandiri lebih besar jika dibandingkan peternak kemitraan dan pada peternak kemitraan usaha internal lebih besar
Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 55
dibandingkan kemitraan usaha eksternal. Namun variasi keuntungan pada peternak mandiri lebih besar dibangingkan peternak pola kemitraan usaha. Hal ini merefleksikan bahwa pada peternak mandiri menghadapi resiko fluktuasi harga yang lebih tinggi dibandingkan peternak kemitraan usaha. Hal ini terutama disebabkan pada pola kemitraan usaha harga jual ditentukan melalui kontrak dengan perusahaan inti dan harga penjualan oleh perusahaan inti ke pedagang pengumpul atau broker ditentukan melalui harga patokan melalui PINSAR. Informasi secara lengkap dan rinci tentang beberapa parameter ekonomi pada usahaternak broiler di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1 di atas.