KARAKTERISTIK INDIVIDU RESPONDEN
PARTISIPASI RESPONDEN
Tingkat Partisipasi
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan atau keaktifan seseorang dalam mengikuti sebuah kegiatan atau program. Indikator partisipasi masyarakat program ini dinilai berdasarkan peranan dan keikutsertaannya dalam tahapan partisipasi menurut Cohen dan Uphoff (1977), yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap menikmati hasil. Namun dalam penelitian ini, tingkat partisipasi responden hanya diukur pada tiga tahap saja, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap menikmati hasil. Hal ini disebabkan pengurus BSSR belum pernah mengadakan evaluasi terkait pelaksanaan BSSR. Secara umum tingkat partisipasi responden dalam BSSR masih terbilang rendah. Total responden sebanyak 40 orang, didapat 17 orang (42.5%) berpartisipasi rendah, 11 orang (27.5%) berpartisipasi sedang, sedangkan 12 orang lainnya (30%) berpartisipasi tinggi. Responden yang memiliki tingkat partisipasi rendah adalah responden dengan total skor di antara 21 hingga 32, responden yang memiliki partisipasi sedang adalah responden dengan total skor 33 dan 34, dan responden yang memiliki partisipasi tinggi adalah responden dengan total skor 34 hingga 42.
Tabel 14 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi
Tingkat Partisipasi Jumlah %
Rendah (21-32) Sedang (33-34) Tinggi (34-42) 17 11 12 42.5 27.5 30.0 Total 40 100.0
Menurut hasil wawancara kepada responden diketahui bahwa hanya mereka yang memiliki status dalam pemerintahan (seperti ketua RT, ketua RW, ketua PKK dll) dan tokoh masyarakat saja yang dilibatkan dalam rapat pembentukan bank sampah Si Rajawali. Sedangkan masyarakat biasa tidak dilibatkan. Selain itu pada tahap pelaksanaan beberapa responden juga mengakui kurang aktif dalam kegiatan pelatihan daur ulang. Tingkat partisipasi pada masing-masing tahap secara rinci akan dijelaskan sebagai berikut.
Tingkat Partisipasi pada Tahap Perencanaan
Tingkat partisipasi pada tahap perencanaan didefinisikan sebagai keterlibatan atau keaktifan responden dalam penyusunan dan pengambilan keputusan terkait program yang akan dilaksanakan. Secara rinci tingkat partisipasi responden pada tahap perencanaan dinilai dari kehadiran pada saat rapat pembentukan bank sampah, pemberian usulan/saran/tanggapan ketika rapat, penentuan rancangan biaya, struktur organisasi dan aturan, serta proses pengambilan keputusan.
Tingkat partisipasi pada tahap perencanaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Pembagian kategori ini didasarkan pada penjumlahan nilai jawaban responden sebanyak 7 pertanyaan, kemudian total nilai tersebut dibagi menjadi tiga interval nilai, yang selanjutnya dijadikan dasar dalam pembagian kategori. Tingkat partisipasi rendah apabila total nilai responden berada pada nilai 7 hingga 8, tingkat partisipasi sedang apabila total nilai responden berada pada nilai 9 hingga 10, tingkat partisipasi tinggi apabila total nilai responden berada pada nilai 10 hingga 14.
Tabel 15 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi pada tahap perencanaan
Tingkat Partisipasi pada Tahap Perencanaan Jumlah % Rendah (< 9) Sedang (9-10) Tinggi (> 10) 22 9 9 55.0 22.5 22.5 Total 40 100.0
Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa masyarakat masih memiliki tingkat partisipasi yang rendah pada tahap perencanaan. Sebanyak 22 orang (55%) memiliki partisipasi yang rendah pada tahap perencanaan. Sementara responden pada kategori sedang dan tinggi memiliki persentase yang sama yaitu 22.5 % atau masing-masing 9 orang.
Peneliti menemukan beberapa fakta yang mendukung hasil analisis data. Pertama, ide awal untuk membentuk sebuah bank sampah tidak berasal dari keinginan masyarakat secara keseluruhan, tetapi diawali oleh keinginan salah seorang warga yakni Pak Pri (yang saat ini menjadi ketua BSSR). Pada tahun 2013 Pak Pri mengikuti pelatihan pengolahan sampah di kantor Kelurahan dan disana beliau bertemu dengan Pak Banu. Pak Banu adalah salah satu mentor di pelatihan tersebut dan bekerja di Jakarta Green Monster (JGM), salah satu komunitas di bidang lingkungan. Pak Pri yang kemudian tertarik dengan pengolahan sampah berusaha menyampaikan keinginannya untuk membentuk sebuah bank sampah kepada Pak Banu. Keinginan baik itu ternyata direspon positif oleh Pak Banu. Pak Banu berjanji akan mencarikan pihak sponsor yang nantinya akan memfasilitasi bank sampah. Setelah melewati berbagai diskusi dan rapat akhirnya pada tanggal 10 Oktober 2013 berdirilah Bank Sampah Si Rajawali.
Kedua, rapat perencanaan hanya melibatkan sebagian warga. Ssebelum bank sampah berdiri, telah diadakan beberapa kali rapat terkait rencana pembentukan bank sampah ini. Dalam rapat tersebut tidak seluruh warga diundang. Hanya warga yang memiliki jabatan dalam pemerintahan (seperti ketua RT, ketua RW, ketua PKK dll) dan beberapa tokoh masyarakat saja yang diundang. Selain pihak pemerintahan, hadir pula pihak Jakarta Green Monster (JGM) yang juga mewakili Indofood. Berikut ini pernyataan ibu SGT, salah satu nasabah BSSR yang mengakui tidak diundang dalam rapat perencanaan BSSR :
“Saya mah waktu rapat perencanaan bank sampah ini gak ikut neng. Biasanya yang ikut rapat-rapat begituan cuma ketua RT, ketua RW, ketua PKK, sama beberapa perwakilan tiap RT. Pokoknya yang punya jabatan gitu lah. Kalo kayak saya mah yang warga biasa gak diundang dan kita ngikut aja” (SGT, IRT)
Dalam perjalanan awal berdirinya BSSR, JGM tidak hanya bertindak sebagai pencari sponsor saja, tetapi juga turut serta membantu segala persiapan pembentukan BSSR, termasuk kegiatan sosialisasi keberadaan BSSR. Sosialisasi sendiri dilakukan dengan tujuan untuk memperkenalkan dan mengajak seluruh warga bergabung dalam BSSR. Nasabah BSSR yang awalnya hanya berasal dari dua RT saja, dari hari ke hari semakin bertambah. Hal ini tidak terlepas dari sosialisasi yang gencar dilakukan oleh pengurus BSSR beserta pihak JGM. Sosialisasi ini biasa dilakukan ketika pengajian dan arisan RW.
Ketiga, kurangnya usulan, ide atau pendapat dari warga yang hadir pada saat rapat perencanaan. Beberapa responden mengakui meskipun mereka hadir rapat perencanaan, tetapi mereka tidak turut serta dalam memberikan usulan, ide atau saran pada rapat tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya menjadi pendengar dalam rapat. Selain itu keputusan saat rapat juga dipegang oleh ketua dengan kesepakatan bersama seluruh anggota yang hadir.
Tingkat Partisipasi pada Tahap Pelaksanaan
Tingkat partisipasi pada tahap perencanaaan dipandang sebagai keterlibatan responden dalam kegiatan pelaksanaan program. Secara rinci tingkat partisipasi responden pada tahap pelaksanaan dinilai dari keterlibatan menjadi pengurus BSSR, kepemilikan tabungan, keterlibatan dalam kegiatan pelatihan daur ulang, kehadiran mengikuti rapat, penyampaian kritik dan saran, serta proses pengambilan keputusan
Sama halnya pada tahap perencanaan, pembagian kategori tingkat partipasi pada tahap pelaksanaan juga dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai jawaban responden sebanyak 7 pertanyaan, kemudian total nilai tersebut dibagi ke dalam tiga interval nilai, dan dikelompokkan dalam kategori rendah, sedang dan tinggi. Jika total nilai responden kurang dari 9 maka akan dikategorikan rendah, jika total nilai responden berada pada nilai 9 hingga 10 maka dikategorikan sedang, dan jika nilai responden lebih besar dari 10 maka dikategorikan tinggi. Untuk melihat tingkat partisipasi dalam tahap ini dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi pada tahap pelaksanaan
Tingkat Partisipasi pada Tahap Pelaksanaan Jumlah % Rendah (<9) Sedang (9-10) Tinggi (>10) 8 19 13 20.0 47.5 32.5 Total 40 100.0
Tabel 16 menunjukkan bahwa secara keseluruhan partisipasi responden pada tahap pelaksanaan tergolong sedang. Mayoritas responden yakni 19 orang (47.5%) berada pada tingkat partisipasi kategori sedang. Sedangkan 32.5% atau 13 orang memiliki partisipasi yang tinggi dan sisanya berjumlah 8 orang (20%) memiliki partisipasi yang rendah.
Responden dengan partisipasi sedang biasanya hanya terlibat dalam beberapa kegiatan saja, seperti penyampaian ide atau saran kepada pengurus dan pengumpulan sampah di BSSR, sedangkan untuk mengikuti kegiatan pelatihan daur ulang sampah responden kurang terlibat. Pelatihan daur ulang sampah sendiri sebenarnya terbuka bagi siapapun dan bahkan terbuka bagi masyarakat non peserta program CSR. Tetapi hal ini tidak menjamin meningkatnya partisipasi masyarakat khususnya peserta program untuk dapat mengikuti kegiatan pelatihan daur ulang. Responden yang tidak rutin atau bahkan tidak pernah sama sekali mengikuti kegiatan pelatihan daur ulang sampah menyatakan bahwa mereka tidak dapat hadir karena ketidaktersediaan waktu dan banyaknya pekerjaan rumah tangga yang harus mereka jalani.
“Sebenarnya sih pengen mbak ikut pelatihan itu, Cuma susah diwaktunya. Kan kita masih harus beres-beres rumah, masaklah, ngurusin anak juga. Jadi gak sempat buat ikut gitu- gituan”(SAR, IRT)
Beda halnya dengan responden yang berada pada tingkat partisipasi kategori tinggi atau rendah. Mereka yang termasuk responden dengan kategori tinggi adalah mereka yang mengikuti seluruh kegiatan BSSR, termasuk rutin mengikuti pelatihan daur ulang sampah dan merupakan pengurus BSSR. Sedangkan responden yang berada pada kategori rendah adalah mereka yang sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan pelatihan daur ulang sampah dan tidak rutin menyetor sampah.
Tingkat Partisipasi pada Tahap Menikmati Hasil
Partisipasi responden pada tahap menikmati hasil adalah keikutsertaan responden dalam merasakan manfaat dari program Bank Sampah Si Rajawali, seperti memperoleh manfaat baik dari pengetahuan, keterampilan, kebersihan ataupun ekonomi.
Pembagian kategori menjadi rendah, sedang dan tinggi dilakukan dengan cara yang sama pada dua tahap sebelumnya. Seluruh nilai jawaban responden dari 7 pertanyaan dijumlahkan, kemudian total nilai tersebut dibagi ke dalam tiga interval nilai, dan dikelompokkan dalam kategori rendah, sedang dan tinggi. Jika total nilai responden kurang dari 9 maka akan dikategorikan rendah, jika total nilai responden berada pada nilai 9 hingga 10 maka dikategorikan sedang, dan jika nilai responden lebih besar dari 10 maka dikategorikan tinggi. Untuk melihat tingkat partisipasi dalam tahap ini dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat partisipasi pada tahap menikmati hasil
Tingkat Partisipasi pada Tahap Menikmati Hasil
Jumlah % Rendah (< 9) Sedang (9-10) Tinggi (> 10) 27 0 13 67.5 0 32.5 Total 40 100.0
Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 17 terlihat bahwa hanya terdapat dua kategori responden pada tahap ini, yaitu rendah dan sedang. Sebanyak 27 responden dari total 40 responden (67.5%) merasa belum memperoleh manfaat dari adanya BSSR, sedangkan sisanya yakni 13 orang (32.5%) justru mengakui telah memperoleh manfaat dari adanya BSSR.
Secara nyata, manfaat yang diperoleh oleh peserta program memang belum terlihat. Kebanyakan dari nasabah beranggapan bahwa manfaat selalu tentang ekonomi. Mereka tidak berpikiran bahwa pengetahuan dan keterampilan juga merupakan bentuk-bentuk manfaat yang diperoleh dari keberadaan bank sampah Si Rajawali. Tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan merupakan dua manfaat yang diterima oleh peserta program dari adanya bank sampah.
Keberadaan bank sampah telah mampu meningkatkan pengetahuan peserta program tentang sampah. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti, setidaknya ditemukan dua faktor yang mendukung hal ini. Pertama, tingkat pengetahuan peserta dipengaruhi oleh intensitas kehadiran mereka dalam beberapa kegiatan BSSR, seperti sosialisasi dan penyuluhan. Intensitas kehadiran peserta dalam kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh BSSR juga menjadi salah satu variabel pengukur tingkat partisipasi pada tahap pelaksanaan. Biasanya dalam kegiatan penyuluhan, peserta program akan diberikan pengetahuan terkait sampah, seperti jenis-jenis sampah organik dan non organik, bahaya sampah, cara mengelola sampah. Maka ketika peserta berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan, tingkat pengetahuannya pun akan meningkat. Selanjutnya, hal kedua yang menjadi salah satu faktor meningkatnya pengetahuan peserta terkait sampah adalah informasi yang diberikan oleh pengurus dan tetangga mereka. Beberapa dari responden mengetahui hal-hal terkait pengolahan sampah justru dari melihat tetangga. Mereka mulai memisahkan sampah organik dan non organik ketika melihat tetangga menaruh dua tempat sampah yang berbeda depan rumah. Begitupun halnya dengan pengetahuan tentang larangan membakar sampah. Beberapa dari responden mengetahui bahwa sampah tidak boleh dibakar ketika ditegur oleh pengurus bank sampah saat membakar sampah. Selain itu, pengetahuan yang berasal dari media televisi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan peserta. Pengetahuan seperti perbedaan sampah organik dan non organik didapatkan peserta dari media televisi.
Manfaat kedua yang diterima oleh peserta program adalah tingkat keterampilan. Keterampilan mengolah atau mendaur ulang sampah didapat dari pelatihan yang dilakukan seminggu sekali yakni setiap hari Sabtu oleh BSSR. Selain karena pelatihan, keterampilan mengolah sampah juga didapat dari faktor lain (bukan partisipasi dalam program), seperti keterampilan saat di sekolah,
belajar dari teman, dan media televisi. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, sebagian besar peserta program memang belum cukup mahir dalam mendaur ulang sampah menjadi barang lain. Hal ini disebabkan oleh intensitas pelatihan yang hanya dilaksanakan seminggu sekali sehingga peserta program tidak mendapat keterampilan yang cukup. Selain itu, Keikutsertaan responden pada pelatihan daur ulang juga dipengaruhi oleh ketersediaan waktu yang dimiliki. Sebagian besar responden menjelaskan alasan tidak mengikuti pelatihan daur ulang karena sibuk mengurusi rumah dan keluarga.
Ikhtisar
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan atau keaktifan seseorang dalam mengikuti sebuah kegiatan atau program. Tingkat partisipasi pada penelitian ini dinilai berdasarkan tahapan partisipasi menurut Cohen dan Uphoff (1977), yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap menikmati hasil. Namun dalam penelitian ini, tingkat partisipasi responden hanya diukur pada tiga tahap saja. Tahap evaluasi tidak ikut diteliti. Hal ini disebabkan pengurus BSSR belum pernah mengadakan evaluasi terkait pelaksanaan BSSR.
Secara umum tingkat partisipasi responden dalam BSSR masih terbilang rendah. Hal ini disebabkan oleh kurang dilibatkannya masyarakat biasa dalam rapat perencanaan pembentukan bank sampah. Rapat perencanaan BSSR hanya melibatkan mereka yang memiliki status pemerintahan (ketua RW, ketua RT, ketua PKK dll) dan tokoh masyarakat. Masyarakat biasa terkesan hanya sekedar menjual limbah sampah mereka ke BSSR.
Bila dilihat tingkat partisipasi dalam setiap tahapan, diketahui bahwa tidak ada satupun tahapan yang masuk dalam kategori tinggi. Tahap perencanaan berada pada kategori tingkat partisipasi rendah. Tahap pelaksanaan berada pada kategori tingkat partisipasi sedang. Tahap menikmati hasil berada pada kategori tingkat partisipasi rendah.