BAB IV PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN
6.5 Pekerjaan Tanah
6.5.1.1 Umum (1) Uraian
(a) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan pembuangan, atau pembuatan stok dari tanah atau padas atau material lain dari badan jalan atau sekitarnya yang perlu untuk penyelesaian yang memuaskan dari pekerjaan dalam kontrak ini.
(b) Pekerjaan ini umumnya digunakan untuk pembuatan selokan dan saluran air, untuk pembuatan formasi dari galian atau pondasi pipa, gorong–gorong, saluran atau struktur lainnya, untuk pembuangan material tak terpakai atau humus, untuk pekerjaan stabilisasi atau pembersihan longsoran, untuk bahan galian konstruksi atau pembuangan material sisa dan untuk pembentukan secara umum dari tempat kerja sesuai dengan spesifikasi ini dan yang memenuhi garis, ketinggian dan penampang melintang yang ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
(c) Kecuali untuk kepentingan pembayaran, ketentuan dari sub bab ini berlaku untuk seluruh pekerjaan galain yang dilakukan sehubungan dengan kontrak, dan seluruh galian dapat merupakan salah satu dari :
Galian Biasa
Pandangan Direksi Teknik adalah tidak praktis menggali tanpa menggunakan alat bertekanan udara, atau pemboran, dan peledakan. Galian ini tidak termasuk bahan yang menurut Direksi Teknik dapat dilepaskan dengan penggaru yang ditarik oleh traktor dengan berat minimal 15 dan tenaga kuda netto sebesar 180 TK.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Kelandaian akhir, arah dan formasi sesudah galian tidak boleh bervariasi dari yang ditentukan lebih dari 2 cm dari setiap titik.
122
(b) Permukaan galian yang telah selesai yang terbuka terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan harus cukup memiliki kemiringan untuk menjamin drainase yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi genangan.
(3) Pelaporan dan Pencatatan
(a) Untuk setiap pekerjaan galian yang di bayar menurut sub bab ini, Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik, sebelum memulai pekerjaan, gambar perincian potongan melintang yang menunjukkan tanah asli sebelum operasi pembabatan dan penggaruan dilakukan.
(b) Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik gambar perincian dari seluruh struktur sementara yang diusulkannya atau yang diperintahkan untuk digunakan, seperti sekop, turap, dan tembok penahan dan harus memperoleh persetujuan dari Direksi Teknik dari gambar tersebut sebelum melaksanakan pekerjaan galian yang dimaksudkan akan dilindungi oleh struktur yang diusulkan tersebut.
(c) Setelah masing–masing galian untuk tanah dasar, formasi atau pondasi selesai, Kontraktor harus memberi tahu Direksi Teknik, dan bahan landasan atau material lain tidak boleh dipasang sebelum disetujui oleh Direksi Teknik untuk kedalaman dari galian, dan sifat, dan mutu dari material pondasi
(4) Jaminan Keselamatan Pekerjaan Galian
(a) Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab untuk menjamin keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian seta penduduk sekitar.
(b) Selama masa pekerjaan galian, suatu lereng yang stabil yang mampu menahan pekerjaan di sekitarnya, struktur atau mesin harus dipertahankan sepanjang waktu, dan skor serta turap yang memadai harus dipasang, jika permukaan tepi galian yang sewaktu–waktu tidak dilindungi akan berbahaya/tidak stabil. Kontraktor harus menahan atau menyangga struktur disekitarnya yang jika tidak dilakukan dapat menjadi tidak stabil atau rusak oleh pekerjaan galian itu.
(c) Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau keperluan lainnya tidak boleh didijinkan berada atau beroperasi lebih dekat dari 1,5 cm dari tepi galian terbuka
123
atau tepi galian pondasi, terkecuali bila pipa atau struktur lainnya telah dipasang dan ditutup demngan paling sedikit 60 cm urugan yang telah dipadatkan.
(d) Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainnya berada dalam galian yang mengharuskan kepala mereka berada di bawah permukaan tanah, Kontraktor harus menempatkan pengawas pengamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor kemajuan dan keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadangan (yang belum dipakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia pada tempat kerja galian.
(e) Seluruh galian terbuka harus diberi penghalang yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lainnya terjatuh kedalamnya, dan setiap galian terbuka pada badan jalan atau bahu jalan harus ditambah dengan rambu pada malam hari dengan drum dicat putih (atau yang serupa) dan merah atau lampu kuning sesuai dengan ketetapan Direksi Teknik.
(f) Pemeliharaan arus lalu lintas harus diterapkan pada seluruh galian dalam daerah milik jalan.
(5) Jadwal Kerja
(a) Luas suatu galian yang terbuat pada suatu operasi harus dibatasi sepadan pemeliharaan permukaan galian agar tetap dalam kondisi yang baik, dengan mempertimbangkan akibat dari pengeringan, pembasahan akibat hujan dan gangguan dari operasi pekerjaan berikutnya.
(b) Galian saluran atau galian lainnya yang melintang jalan harus dilakukan menggunakan konstruksi setengah badan jalan sehingga jalan tetap dapat terbuka bagi lalu lintas pada setiap saat.
(6) Kondisi Tempat Kerja
(a) Seluruh galian harus dijaga dan bebas dari air dan Kontraktor harus menyediakan seluruh material yang diperlukan, perlengkapan dan buruh untuk pengeringan (pompa) pengalihan saluran air dan pembangunan saluran sementara, tembok ujung dan cofferdam. Pompa agar siap di tempat kerja pada setiap saat untuk menjamin tidak ada gangguan dalam prosedur pengeringan dengan pompa.
(b) Bila pekerjaan sedang dilakukan pada saluran yamg ada atau tempat l ain dimana aliran bawah tanah mungkin tercemari, Kontraktor harus menyediakan pada tempat
124
kerja sejumlah air minum yang untuk digunakan para pekerja untuk mencuci, bersama dengan sejumlah sabun dan disinfektan.
(7) Perbaikan dari pekerjaan galian yang tidak memuaskan.
Pekerjaan Galian yang tidak memenuhi toleransi harus diperbaiki oleh Kontraktor sebagai berikut
(i) Material yang berlebih harus dibuang dengan penggalian lebih lanjut.
(ii) Daerah dimana telah tergali lebih dahulu, atau daerah retak atau lepas, harus diurug kembali dengan timbunan pilihan atau lapis pondasi agregat seperti diperintahkan Direksi Teknik.
(8) Penggunaan dan Pembuangan Material Galian
(a) Seluruh material yang dapat dipakai yang digali dalam batas–batas dan cakupan dimana memungkinkan harus digunakan secara efektif untuk formasi timbunan atau urugan kembali.
(b) Material galian yang mengandung tanah organis tinggi, sejumlah besar akar atau benda tetumbuhan lain dan tanah yang kompresif yang menurut pendapat Direksi Teknik akan menyulitkan pemadatan material pelapisan atau mengakibatkan terjadi kerusakan atau penurunan yang tidak dikehendaki, harus diklasifikasikan tidak memenuhi untuk digunakan sebagai timbunan dalam pekerjaan permanen.
(c) Setiap material galian yang berlebih untuk kebutuhan timbunan, atau tiap material yang tidak disetujui oleh Direksi Teknik sebagai bahan timbunan harus dibuang dan diratakan dalam lapis yang tipis oleh Kontraktor diluar daerah milik jalan seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik.
(d) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk seluruh pengaturan dan biaya untuk pembuangan material yang berlebih atau tidak memenuhi syarat, termasuk penggangkutan dan perolehan ijin dari pemilik tanah dimana pembuangan dilakukan.
6.5.1.2 Prosedur Penggalian (1) Prosedur Umum
(a) Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang ditentukan dalam gambar atau ditunjukkan oleh Direksi Teknik dan harus mencakup pembuatan seluruh material dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah, padas, batu bata, batu, beton, tembok dan pekerasan lama.
125
(b) Pekerjaan galian harus dilakukan dengan gangguan seminimal mungkin terhadap material dibawah dan diluar batas galian.
(c) Dimana material yang terbuka pada garis formasi atau permukaan lapis tanah dasar atau pondasi dalam keadaan lepas atau tanah gambut atau material lainnya yang tak memenuhi dalam pendapat Direksi Teknik, maka material tersebut harus dipadatkan dengan benar atau seluruhnya dibuang dan diganti dengan timbunan yang memenuhi syarat, sebagaimana diperintahkan Direksi Teknik.
(2) Penggalian untuk sumber material
(a) Sumber galian, apakah dalam daerah milik jalan atau ditempat lain, harus digali sesuai dengan ketentuan dalam spesifikasi ini.
(b) Persetujuan untuk membuka sumber galian baru atau mengoperasikan yang lama harus diperoleh dari Direksi Teknik secara tertulis sebelum operasi penggalian dimulai.
(c) Sumber galian tidak boleh diijinkan pada tanah yang mungkin diperlukan untuk rencana pelebaran jalan atau keperluan Pemerintah lainnya.
(d) Pembuatan lubang galian harus dilarang atau dibatasi jika ia dapat mengganggu drainase alam atau rancangan.
(e) Pada bagian atas jalan, pembuatan lubang galian harus dibentuk sedemikian rupa sehingga seluruh air permukaan ke gorong-gorong berikutnya tanpa genangan.
6.5.1.3 Pengukuran dan Pembayaran.
(1) Persiapan Tempat Kerja
Sebagian besar dari pekerjaan galian dalam kontrak tidak akan diukur atau dibayar menurut sub bab ini, pekerjaan dipandang dimasukkan kedalam harga penawaran untuk beberapa macam material yang akan dipasang pada galian akhir, seperti urugan porous, pekerjaan beton, pasangan batu, gorong–gorong pipa dan lain–lain. Tipe dari galian yang secara spesifik tidak dimasukkan dari pengukuran sub bab ini adalah.
(a) Galian diluar garis yang ditunjukkan dalam profil dan penampang melintang yang disetujui tidak akan dimasukkan dalam volume yang diukur pembayaran kecuali dimana :
(i) Penggalian berlebih diperlukan untuk membuang material yang lunak atau tidak memenuhi syarat.
126
(b) Pekerjaan galian untuk selokan drainase dan saluran air, tidak akan diukur untuk pembayaran menurut bab ini. Pengukuran dan Pembayaran harus dilaksanakan menurut spesifikasi ini.
(c) Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk pondasi struktur atau untuk pemasangan pipa, gorong–gorong atau saluran beton, drainase berpori tidak akan diukur untuk pembayaran, biaya dari pekerjaan ini dipandang telah dimasukkan kedalam harga satuan yang ditawar untuk masing– masing material tersebut.
(d) Galian untuk bahu jalan dan pekerjaan minor lainnya, tidak akan dibayar menurut sub bab ini.
(e) Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk memperoleh material untuk konstruksi dari sumber material atau sumber lainnya diluar daerah konstruksi tidak boleh diukur untuk pembayaran, biaya dari pekerjaan ini dipandang dimasukkan kedalam harga satuan yang ditawarkan ntuk timbunan atau material perkerasan.
(2) Pengukuran Galian untuk Pembayaran
(a) Pekerjaan galian yang tidak dikeluarkan seperti diatas harus diukur untuk pembayaran sebagai volume ditempat dalam meter kubik material yang dipindahkan. Dasar dari perhitungan ini haruslah gambar penampang melintang yang disetujui dari tanah yang digali. Dan garis yang dipersyaratkan dan diterima dari akhir galian. Metode perhitungan haruslah metode luas ujung rata–rata, menggunakan penampang melintang dari pekerjaan yang berselang jarak tidak lebih dari 25 m.
(b) Pekerjaan galian yang dapat dimasukkan untuk pengukuran dan pembayaran dalam pasal ini akan tetap dibayar sebagai galian meskipun galian material tersebut disetujui untuk digunakan sebagai material konstruksi dan diukur serta dibayar dalam sub bab lain dari spesifikasi ini.
(3) Dasar Pembayaran
Kuantitas dari galian, diukur menurut ketentuan di atas, akan di bayar persatuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam jadwal penawaran untuk mata pembayaran yang terdaftar dibawah, yang merupakan kompensasi untuk seluruh pekerjaan dan biaya yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan galian yang diperlukan sebagaimana diuraikan dalam sub bab ini. Satuan pengukuran untuk mata pembayaran galian biasa adalah dalam meter kubik.
127
6.5.2 Urugan (timbunan) 6.5.2.1 Umum
(1) Uraian
(a) Pekerjaan ini mencakup pengambilan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk konstruksi urugan, untuk urugan kembali galian atau galian pipa atau struktur dan untuk urugan umum yang diperlukan untuk membuat dimensi timbunan antara lain ketinggian yang sesuai persyaratan atau penampang melintangnya.
(b) Urugan yang dicakup oleh ketentuan dalam bab ini harus dibagi menjadi dua jenis, yairu urugan biasa dan urugan pilihan. Urugan pilihan akan digunakan di daerah berawa, saluran air dan lokasi serupa dimana material sulit untuk dipadatkan dengan baik. Urugan pilihan dapat juga digunakan untuk stabilisasi lereng atau pekerjaan pelebaran jika diperlukan lereng yang curam karena keterbatasan ruangan, dan untuk pekerjaan urugan lainnya dimana kekuatan urugan adalah faktor yang kritis.
(c) Pekerjaan yang tidak termasuk bahan urugan yaitu material yang dipasang sebagai landasan untuk pipa atau saluran beton, juga tidak termasuk material drainase berpori yang dipakai untuk maksud drainase bawah permukan atau untuk mencegah hanyutnya butir halus karena filtrasi.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Permukaan dan ketinggian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih tinggi atau lebih rendah 2 cm dari yang ditentukan atau disetujui.
(b) Seluruh permukaan akhir yang terbuka harus cukup rata dan harus memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran yang bebas dari air permukaan.
(c) Permukaan akhir lereng timbunan harus tidak bervariasi lebih dari 10 cm dari profil yang ditentukan.
(d) Urugan tidak boleh dipasang dalam lapisan yang lebih dari 20 cm tebal padat juga tidak dalam lapis yang kurang dari 10 cm tebal padat.
(3) Jadwal Kerja
(a) Bagian yang baru dari timbunan badan jalan harus dibangun dengan menggunakan setengah konstruksi lebar jalan sehingga setiap saat jalan tetap terbuka untuk lalu lintas.
128
(b) Untuk mencegah gangguan pada konstruksi tembok kepala, Kontraktor diharuskan, pada titik–titik yang ditetapkan oleh Direksi Teknik, menunda sebagian pekerjaan urugan untuk pembentukan jalan pendekat (oprit) ke struktur tersebut hingga penanganan struktur lancar tanpa adanya gangguan atau resiko sebagai akibat pelaksanaan dari opritan.
(4) Kondisi Tempat Kerja
(a) Kontraktor harus menjamin pekerjaan tetap kering sebelum dan selama pekerjaan pemasangan dan pemadatan berlangsung, untuk itu bahan urugan selama konstruksi harus memiliki kemiringan yang cukup untuk membantu drainase dari air hujan dan harus menjamin bahwa pekerjaan akhir mempunyai drainase yang baik. Bilamana mungkin, air dari tempat kerja harus dibuang kedalam sistem drainase permanen.
(b) Kontraktor harus menjamin di tempat kerja tersedia air yang cukup untuk pengendalian kelembaban timbunan selama operasi pemasangan dan pemadatan.
(5) Perbaikan dari Pekerjaan Galian
(a) Urugan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui atau toleransi permukaan harus diperbaiki atau menggaru permukaan dan membuang atau menambah material sebagaimana diperlukan dan dilanjutkan dengan pembentukan dan pemadatan kembali.
(b) Urugan yang terlalu kering untuk pemadatan, dalam hal kadar airnya tidak memenuhi persyaratan seperti yang diperintahkan Direksi Teknik, maka harus diperbaiki dengan menggaru material, disusul dengan penyraman air secukupnya dan dicampur dengan menggunakan motor grader atau peralatan lain yang disetujui.
(c) Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan dimana kadar airnya melampaui, harus diperbaiki ulang dengan menggaru material, disusul dengan penggunaan motor grader berulang–ulang atau alat lainnya dengan selang waktu istirahat ketika penanganan, dalam cuaca yang kering. Cara lain, atau jika pengeringan tak dapat dicapai dengan cara mengaduk atau membiarkan bahan gembur tersebut, Direksi Teknik dapat memerintahkan untuk mengeluarkan bahan tersebut dari pekerjaan dan menggantikannya dengan bahan kering yang lebih cocok.
129
(d) Urugan yang menjadi penuh akibat air hujan atau banjir atau hal lain setelah dipadatkan dalam batasan persyaratan ini biasanya tidak memerlukan pekerjaan perbaikan asal sifat material dan kerataan permukaan masih memenuhi persyaratan spesifikasi ini.
(e) Pekerjaan dari urugan yang tidak memenuhi kepadatan atau persyaratan material dari spesifikasi ini harus seperti yang diperintahkan Direksi Teknik dan dapat meliputi tambahan pemadatan, penggaruan yang disusul dengan penambahan kadar air dan pemadatan kembali, atau pembuangan dan penggantian material.
(6) Pengembalian Bentuk Pekerjaan Menyusul Pengujian
Seluruh lubang pada pekerjaan akhir yang dibuat dengan pengujian kepadatan atau yang lainnya harus diurug kembali oleh Kontraktor secepatnya dan dipadatkan hingga mencapai kepadatan dan toleransi permukaan yang disyaratkan oleh spesifikasi ini.
6.5.2.2 Material
(1) Sumber Material
Bahan urugan harus dipilih dari sumber yang disetujui Bahan dan Penyimpananya.
(2) Urugan Biasa
(a) Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan biasa harus terdiri dari galian tanah atau padas yang disetujui oleh Direksi Teknik yang memenuhi syarat untuk dikerjakan pada pekerjaan permanen.
(3) Urugan Pilihan
(a) Urugan hanya boleh diklasifikasikan sebagai urugan pilihan bila digunakan pada lokasi atau untuk maksud dimana urugan pilihan telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Direksi Teknik. Seluruh urugan lain yang digunakan harus dipandang sebagai urugan biasa.
(b) Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan harus terdiri dari bahan tanah atau padas yang memenuhi persyaratan untuk urugan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat tertentu tergantung dari maksud penggunaannya seperti yang diperintahkan atau disetujui oleh Direksi Teknik. Dalam segala hal urugan pilihan harus, bila diuji harus sesuai dengan AASHTO T–193 memiliki CBR paling sedikit 10% selama 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai kepadatan 100% kepadatan kering maksimum sesuai dengan AASHTO T-99.
130
6.5.2.3 Pemasangan dan Pemadatan Urugan (1) Penyiapan Tempat Kerja
(a) Sebelum pemasangan urugan pada suatu tempat, seluruh bahan yang tidak memenuhi harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.
(b) Bila tinggi dari urugan 1 m atau kurang, dasar pondasi dari urugan harus dipadatkan benar–benar (termasuk penggaruan dan pengeringa atau pembasahan bila diperlukan) sehingga 15 cm bagian atas memenuhi persyaratan kepadatan yang ditentukan untuk urugan diatasnya.
(2) Pemasangan Urugan
(a) Urugan harus dibawa kepermukaan yang telah disiapkan dan disebar merata dalam lapis yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan. Bila lebih dari satu lapis akan dipasang lapis–lapis tersebut sedapat mungkin harus sama tebalnya.
(b)Urugan tanah umumnya harus diangkut langsung dari lokasi sumber material ketempat permukaan yang telah dipersiapkan waktu cuaca kering dan disebar. Penimbunan stok tanah biasanya tidak diperbolehkan, terutama selam musim hujan.
(c) Dalam penempatan urugan diatas terhadap selimut pasir atau dengan drainase porous, harus diperhatikan agar tidak terjadi pencampuran dua bahan tersebut. Dalam hal pembentukan drainase vertikal, pemisahan yang jelas harus diberikan kepada kedua bahan dapat dijamin oleh pengguna acuan sementara dari pelat baja tipis yang sedikit demi sedikit ditarik sewaktu pengisian urugan dan drainase porous dilaksanakan.
(3) Pemadatan dari urugan
(a) Langsung setelah pemasangan dan penghamparan urugan, masing–masing lapis harus dipadati benar–benar dengan alat pemadat yang memadai yang disetujui Direksi Teknik hingga mencapai kepadatan yang ditentukan.
(b) Pemadatan dari urugan tanah harus dilaksanakan hanya bila kadar air dari material berada dalam rentang kurang dari 3% sampai lebih dari 1% dari kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum bila tanah dipadatkan sesuai dengan AASHTO T–99.
(c) Seluruh urugan padas harus ditutup dengan satu atau lebih lapisan setebal 20 cm dari bahan bergradasi baik yang mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm dan sanggup
131
mengisi rongga–rongga pada bagian atas urugan. Lapis penutup ini akan dibanguan sampai kepadatan yang disyaratkan untuk urugan tanah.
(d) Masing–masing lapis dari urugan yang dipasang harus dipadatkan seperti yang ditentukan, diuji untuk kepadatan dan diterima Direksi Teknik sebelum lapis berikutnya dipasang.
(e) Timbunan harus dipadatkan mulai tepi luar dan berlanjut kearah sumbu jalan sedemikian sehingga masing–masing bagian menerima jumlah usaha pemadatan yang sama.
Bilamana mungkin, lalu lintas alat konstruksi dilewatkan diatas urugan dan arahnya terus berubah–ubah untuk menyebarkan usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut.
(f) Bila bahan urugan akan dipasang pada kedua sisi dari pipa atau saluran beton atau struktur, maka operasi harus dilakukan agar urugan kira–kira sama tingginya pada kedua sisi struktur.
(g) Bila bahan urugan dapat ditimbun pada satu sisi dari tembok kepala atau tembok penahan atau tembok kepala gorong–gorong, harus diperhatikan agar tempat bersebelahan dengan struktur jangan dipadatkan sedemikian sehingga menyebabkan pergeseran struktur atau timbul tekanan yang berlebih pada struktur.
(h) Urugan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan mesin pemadat mesin gilas konstruksi, harus dipasang pada lapisan horisontal tidak lebih dari 15 cm tebal gembur dan secara menyeluruh dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbres (tamper) minimum seberat 10 kg. Harus diperhatikan secara khusus untuk menjamin pemadatan yang memuaskan dibawah dan tepi pipa untuk mencegah rongga dan menjamin pipa betul–betul terdukung.
6.5.2.4 Jaminan Mutu
(1) Pengendalian Mutu Bahan
(a) Jumlah dari data pendukung hasil uji yang diperlukan untuk persetujuan awal dari mutu bahan akan ditetapkan oleh Direksi Teknik, tetapi akan mencakup seluruh pengujian paling sedikit tiga contoh yang mewakili dari sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih mewakili rentangan mutu yang cenderung dijumpai dari sumber.
(b) Menyusul persetujuan dari mutu bahan yang diusulkan, pengujian mutu bahan selanjutnya akan diulangi atas dasar pertimbangan Direksi Teknik, dalam hal diamati perubahan dalam bahan atau dalam sumbernya.
132
(c) Program untuk pengendalian pengujian bahan secara rutin akan dilakukan untuk mengendalikan perubahan yang ada dalam bahan yang dibawa ke tempat kerja. Cakupan dari pengujian harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Teknik tetapi untuk setiap 1000 meter kubik bahan urugan dari setiap sumber paling sedikit harus dilakukan satu penentuan dari aktivitas.
(2) Persyaratan Kepadatan untuk Urugan Tanah
(a) Lapis yang lebih dalam dari 30 cm dibawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai 95% dari kepadatan kering maksimum yang mengandung sesuai dengan AASHTO T–99.
Untuk tanah yang mengandung 10% bahan yang tertahan pada saringan ¾ inci, kapadatan kering maksimum yang diperoleh harus diadakan penyesuaian untuk bahan yang terlalu besar tersebut sebagaimana yang diperintahkan Direksi Teknik.
(b) Lapis pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus dipadatkan
(b) Lapis pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus dipadatkan