• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN

4.2 Rincian Perhitungan LHR dan MBT

4.2.3 Perhitungan Kelandaian

x =

× 100%

1. Daerah A – DI1

x = × 100% = - 1,34 % 2. Daerah DI1 – DI2

x =

× 100% = -0,22 % 3. Daerah DI2 – DI3

x = × 100% = - 4 % 4. Daerah DI3 – B

x = × 100% = 0,91 %

Jadi kelandaian maksimum didapat = 4 % 4.2.4 Mencari ITP (Indeks Tebal Perkerasan)

1. Berdasarkan grafik korelasi DDT dan CBR diperoleh nilai DDT = 4,1 2. Penentuan nilai Faktor Regional (FR)

 Kendaraan Berat ≥ 10 ton dan untuk 10 tahun kedepan Kendaraan Berat ≤ 20 ton.

 % kelandaian berat =

× 100%

= × 100%

= 2,486% 30%

 Curah hujan berkisar 100 - 400 mm / tahun

Sehingga dikategorikan < 900 mm/ tahun, termasuk pada iklim I

 Kelandaian = Kelandaian memanjang rata – rata

= 4% < 6%

 Sehingga dikategorikan kelandaian 1

Dengan mencocokan hasil perhitungan tersebut pada SKBI 2.3.26.1987 maka diperoleh nilai FR = 0,5

Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkarasan Lentur Jalan Raya DenganMetode Analisa Komponen SKBI 2.3.26.1987. Daftar IV FaktorRegional (FR) hal. 14

47

3. Indeks Permukaan Awal (IPO)

Direncanakan jenis HRA Mekanis dengan Roughness ≤ 2000 mm / tahun, Maka berdasarkan Buku Petunjuk Perencanaan Tebal perkerasan lentur jalan raya dengan Metode Analisa Komponen SKBI 2.3.26..1987. Daftar VI Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana (Ipo) maka diperoleh Ipo = 3,9 – 3,5

4. Indeks Permukaan Akhir (IPt).

Dari data klasifikasi manfaat jalan arteri dan hasil perhitunganLER yaitu didapat nilai LER

= 29,8maka berdasarkan Buku Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur jalan raya dengan Metode Analisa Komponen SKBI 2.3.26.1987.DaftarVIndeks Permukaan Pada Akhir Umur Rencana (IPt) maka diperoleh IPt = 1,5.

4.2.5. Mencari harga Indeks tebal pekerasan (ITP)

Ipo = 3,9 – 3,5 IPt = 1,5 LER = 29,8 DDT = 4,1 FR = 0,5

ITP = 5,9 (nomogram 6) ITP = 5,3 (nomogram 6)

Gambar 4.3 Gambar Nomogram 6

Sumber : Petunjuk Perencanaan Tebal Perkarasan Lentur Jalan Raya DenganMetode Analisa Komponen SKBI 2.3.26.1987. Gambar Nomogram Lampiran 1 (6).

48

Direncanakan susunan lapisan perkersan sebagai berikut :

- Lapisan Permukaan ( Surface Course ),D1 = 5cm, a1 = 0,30 ( HRA )

- Lapisan Pondasi Atas ( Base Course ),D2 = 30 cm, a2 = 0,13( Batu Pecah Kelas B CBR 80%) - Lapis Pondasi Bawah ( Sub Base Course ), D3 = ....; a3 = 0,12 ( Sirtu Kelas B CBR 50%)

Dimana :

a1, a2, a3 = Koefisien kekuatan relatif bahan perkerasan (SKBI 2.3.26.1987) D1, D2, D3 = Tebal masing-masing lapis permukaan

- ITP = (a1 x D1) + ( a2 x D2 ) + ( a3 x D3 ) - 5,3 = ( 0,30 x 5) + ( 0,13 x 20) + (0,12 x D3) - 5,3 = 1,5 + 0,26 + 0,12 D3

- D3 =

- D3 = 10 cm -

 Susunan Perkersan

Gambar 4.4 Susunan Perkerasan 3,5%

30 cm HRA

49

4.3 Perhitungan Trase Jalan

Trase perencanaan geometrik jalan dibuat sesuai trase tanah yang ada (tanah asli), dikarenakan belum ada perencanaan sebelumnya. Trase jalan dilakukan dengan perhitungan – perhitungan azimuth, sudut tikungan, dan jarak antar DI

.

4.3.1 Perhitungan Azimuth

A = ( 423796 ; 9216746 ) DI-1 = ( 427222 ; 9215539 ) DI-2 = ( 427317 ; 9215769 ) DI-3 = ( 427814 ; 9215629 ) DI-4 = ( 427927 ; 9215612 ) B = ( 429520 ; 9216466 )

α A -1 = ArcTg( ) + 180˚

= ArcTg(

) + 180˚

= 109˚41’16”

α 1 - 2 = ArcTg( ) + 180˚

= ArcTg(

) + 180˚

= 202˚44’27”

α 2 - 3 = ArcTg( ) + 180˚

= ArcTg(

) + 180˚

= 106˚13’20”

α 3 - 4 = ArcTg( ) + 180˚

= ArcTg(

) + 180˚

50

= 206˚22’14”

α 4- B = ArcTg( ) + 180˚

= ArcTg(

) + 180˚

= 111˚13’18”

4.3.2 Perhitungan Sudut PI

ΔDI1 = α A-1 – α 1-2

= 109˚41’16”- 202˚44’27”

= -93˚03’11”

ΔDI2 = α 1-2 – α 2-3

= 202˚44’27” - 106˚13’20”

= 96˚31’07”

ΔDI3 = α 2-3 – α 3-4

= 106˚13’20” - 206˚22’14”

= -100˚09’34”

ΔDI4 = α 3-4 – α 4-B

= 206˚22’14”- 111˚13’18”

= 95˚09’36”

4.3.3. Penghitungan jarak antar PI

- Menggunakan rumus Phytagoras d A-1 = √

= √( - ) -

` = 3632,399 m

51

d 1-2 = √

= √( - ) -

` = 248,847 m

d 2-3 = √

= √( - ) -

` = 516,342m

d 3-4 = √

= √( - ) -

` = 114,271m

d 4-B = √

= √( - ) -

` = 1807,475 m

Σd = d A-1 + d 1-2 + d 2-3 + d 3-4 + d 4-B

=3632,399 + 248,847 + 516,342+ 114,271 + 1807,475

= 6319,316m

4.3.4. Perhitungan Kelandaian Melintang

Untuk menentukan jenis medan dalam perencanaan jalan raya, perlu diketahui jenis kelandaian melintang pada medan dengan ketentuan :

1. Kelandaian dihitung tiap 100 m.

2. Potongan melintang 100 m dihitung dari as jalan samping kanan dan kiri.

52

53

42 4+100 299.10 100 0 Datar

43 4+200 297.10 100 6 Datar

44 4+300 295.59 100 0 Datar

45 4+400 295.08 100 4 Datar

46 4+500 294.98 100 0 Datar

Sumber: Analisa Perhitungan 2107

Dari perhitungan kelandaian melintang, didapat:

Medan datar : 27 titik

Dari data diatas diketahui kelandaian rata – rata adalah :

=

= =3,6%

Menurut PPGJAK 1997 halaman 5 hasil perhitungan kelandaian rata – rata yang didapat adalah 1,2 %maka medan jalan tersebut diklasifikasikan termasuk jenis medan datar.

4.4 Desain Rincian Perhitungan Alinemen Horisontal

Data dan klasifikasi desain:

Vr = 60 km/jam fmax = - 0,00065 ×Vr + 0,192

emax = 10 % = - 0,00065 × 60 + 0,192

en = 2 % = 0,153

Lebar perkerasan = 4 × 3,75 m

(sumber buku TPGJAK tahun 1997)

4.4.1 Tikungan D1

Diketahui :

ΔDI1 = -93˚03’11”

Vr = 60 km/jam ( Berdasarkan TPJGK 1997, Tabel II.16) Direncanakan Rd = 200 m

fmax = -0,00065 × Vr + 0,192

54

2. Penghitungan lengkung peralihan (Ls)

a. Berdasarkan waktu tempuh maximum (3 detik) untuk melintasi lengkung peralihan, maka panjang lengkung:

Ls =

× T

= × 3

= 50 m.

b. Berdasarkan rumus modifikasi Shortt:

Ls = 0,022 × - 2,727 ×

= 0,022 ×

- 2,727×

= 18,50 m

c. Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian:

55

Ls = × Vr

dimana re = tingkat pencapaian perubahan kelandaian melintang jalan, untuk Vr = ≤ 70 km/jam, re max = 0,035 m/m/det

Ls = × 60

= 38,095 m

Dipakai nilai Ls yang memenuhi dan efisien yaitu 50 m

d) Penghitungan Өs, Δc, dan Lc ( Menggungkan S – C – S )

Өs = Δc = ΔDI1 – (2×θs)

= =93˚03’11”- (2×7˚16’56”)

= 7˚16’56” = 79˚10’28”

Lc =

=

= 275,98 m

Syarat tikungan jenis S-C-S

Δc =79˚10’28”……….(ok)

Lc > 20 m = 275,98m > 20 m………...……(ok)

Karena Lc > 20 sehingga dipakai jenis tikungan S– C - S.

e) Perhitungan tikungan DI1

Xs = Ls – ( ) Ys =

= 50 – ( ) =

= 49 m = 2,08 m

p = Ys – Rd(1-cosθs) K = Ls - - Rd×sinθs

= 2,08– 200(1-cos7˚16’56”) = 50 - -200×sin7˚16’56”

56

= 0,517 m = 24,97 m

Tt = (Rd + P)× tan ΔDI1 + K Et = (

) - Rd

= (200 + 0,517)× tan 93˚03’11”+ 24,97 = (

) - 200

= 236,385 m = 92,026 m

Ltotal = (2 ×Ls)

= (2 × 50)

= 100 m

Kontrol Perhitungan : (2Tt) > Ltot

2 × 236,385 = 473,7 > 100  OK Tikungan S-C-S dapat digunakan

f). Perhitungan pelebaran perkerasan pada tikungan DI1

Rumus:

ΔB= {n(b' + c)+ (n -1)Td +Z} - Bn Dengan:

- Td = Lebar melintang akibat tonjolan depan

- Z = Lebar tambahan akibat kelainan dalam mengemudi

Jalan rencana kelas 1 (Sekunder) dengan muatan sumbu terberat ≥10ton makakendaraan rencananya menggunakan kendaraan berat.

- b’ = Lebar lintasan kendaraan truck pada tikungan

- c = Kebebasan Samping

- n = Jumlah Lajur Lintasan.

-

- Perhitungan Secara Analisis Vr = 60 ⁄

57

R = 200 m

- A = 1,2 m (tonjolan depan sampai bumper) - Bn = 6 m Lebar perkerasan pada tikungan

- n = 4 Jumlah jalur Lintasan

- c = 0,5 m Kebebasan samping

- b = 2,60 m (lebar lintasan kendaraan truck pada jalur lurus) - p = 6,20 m (jarak as roda depan dan belakang)

Perhitungan :

 b’ = b + ( R - √ )

= 2,60 + ( 200 - √ )

= 2,69 m

 Td = √ - R Z = 0,105 ×

= √ = 0,105 ×

= 0,040 m = 0,445 m

ΔB ={ n(b’+c) + (n-1) Td + Z} - Bn

={ 2(2,69 + 0,5) + (2-1) 0,040 + 0,445} - 6

= 0,865 m

Karena ΔB= 1,0 m, maka jalan tersebut perlu dilakukan pelebaran jalan.

Jh minimum, menurut TPGJAK 1997 hal 27 = 75 m Jd menurut TPGJAK 1997 hal 28 = 350 m

- Penghitungan kebebasan samping pada DI 1

Data-data:

Vr = 60 km/jam Rd = 200 m

W = 2 x 4 m = 8 m Lc = 275,98m

58

Perhitungan :

R = Rd - W

= 200 - 8

= 196 m

Lt = Lc + (2 × Ls)

= 275,98 + (2 × 50)

= 375,98m

- Jarak pandang henti berdasarkan TPGJAK 1997:

Jh = 0,694 Vr + 0,004 * +

= 0,694. 60+ 0,004 * +

= 47,4 m ~ 48 m

- Kebebasan samping yang tersedia (Eo):

Eo = 0,5 (lebar daerah pengawasan – lebar perkerasan)

= 0,5 (40 – 8)

= 16 m

- Kebebasan samping yang diperlukan (E).

E = R ×( )

= 200 ×( )

= 1,155 m

Nilai E < Eo (1,155 m < 16 m) Kesimpulan :

Karena nilai E < Eo maka daerah kebebasan samping yang tersedia mencukupi.

- Berdasarkan jarak pandang menyiap Dengan rumusan :

Jd = d1 + d2 + d3 + d4

d1 = 0,278 × T1 × ( ) d2 = 0,278 × Vr × T2

d3 = antara 30-100 m

59

d4 = ⁄ × d2

Dimana : T1 = Waktu dalam (detik)

T2 = Waktu kendaraan berada dijalur lawan, (detik) a = Percepatan rata-rata km/jm/dtk, (km/jm/dtk)

m = perbedaan kecepatan dari kendaraan yang menyiap dan kendaraan yang disiap, (biasanya diambil 10-15 km/jam)

T1 = 2.12 + 0,026 × Vr

= 2.12 + 0,026 × 60 = 3,68dtk

T2 = 6,56 + 0,048 × Vr

= 6,56 + 0,048 × 60 = 9,44dtk

a = 2,052 + 0,0036 × Vr

= 2,052 + 0,0036 × 60 = 2,268km/jam/dtk

d1 = 0,278 × T1×( )

= 0,278 × 3,68×(

)

= 50,3 m

d2 = 0,278 × Vr × T2

= 0,278 × 60 × 9,44

= 157,46 m d3 = 30 m d4 = ⁄ × d2

= ⁄ × 157,46

= 104,97 m

60

Jd = d1 + d2 + d3 + d4

= 50,3 + 157,46 + 30 + 104,97

= 342,73 m

- Hasil perhitungan

Tikungan PI1 menggunakan tipe Spiral– Spiral dengan hasilpenghitungan sebagaiberikut:

Δ1 = -93˚03’11” Vr = 60 km/jam

= 10% = 2%

= 8% Rmin = 112 m

Rd = 200 m Ls = 50 m

θs = 7˚16’56” Δc = 79˚10’28”

Lc =275,98m Xs = 49 m

Ys = 2,08 m P = 0,517m

K = 24,97m Tt = 236,85 m

Et = 92,026 m

Gambar 4.5. Gambar tikungan Spiral - Circle – Spiral 4.4.2. Tikungan D2

Diketahui :

ΔDI2 = 96˚31’07”

61

Vr = 60 km/jam Direncanakan Rd = 200 m

fmax = -0,00065 × Vr + 0,192

2. Penghitungan lengkung peralihan (Ls)

a. Berdasarkan waktu tempuh maximum (3 detik) untuk melintasi lengkung peralihan, maka panjang lengkung:

Ls = × T

=

× 3

= 50 m.

b. Berdasarkan rumus modifikasi Shortt:

Ls = 0,022 ×

- 2,727 ×

= 0,022 × - 2,727×

= 18,50 m

c. Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian:

62

Ls = × Vr

dimana re = tingkat pencapaian perubahan kelandaian melintang jalan, untuk Vr = ≤ 70 km/jam, re max = 0,035 m/m/det

Ls = × 60

= 38,095 m

Dipakai nilai Ls yang memenuhi dan efisien yaitu 50 m d) Penghitungan Өs, Δc, dan Lc ( Menggungkan S – C – S )

Өs = Δc = ΔDI2 – (2×θs)

= =96˚31’07”- (2×7˚16’56”)

= 7˚16’56” = 82˚38’35”

Lc =

=

= 287,426 m Syarat tikungan jenis S-C-S

Δc =82˚38’35”……….(ok)

Lc > 20 m = 287,426m > 20 m………...……(ok)

Karena Lc > 20 sehingga dipakai jenis tikungan S– C - S.

e) Perhitungan tikungan DI2

Xs = Ls – ( ) Ys =

= 50 – ( ) =

= 49 m = 2,08 m

p = Ys – Rd(1-cosθs) K = Ls - - Rd×sinθs

= 2,08– 200(1-cos7˚16’56”) = 50 - -200×sin7˚16’56”

= 0,517 m = 24,97 m

Tt = (Rd + P)× tan ΔDI2+ K Et = (

) - Rd

63

= (200 + 0,517)× tan 96˚31’07”+ 24,97 = (

) - 200

= 248,884 m = 101,238 m

Ltotal = (2 ×Ls)

= (2 × 50)

= 100 m

Kontrol Perhitungan : (2Tt) > Ltot

2 × 248,884 = 497,768 > 100  OK Tikungan S-C-S dapat digunakan

f). Perhitungan pelebaran perkerasan pada tikungan DI2

Rumus:

ΔB= {n(b' + c)+ (n -1)Td +Z} - Bn Dengan:

- Td = Lebar melintang akibat tonjolan depan

- Z = Lebar tambahan akibat kelainan dalam mengemudi

Jalan rencana kelas 2B (Sekunder) dengan muatan sumbu terberat

≥10ton makakendaraan rencananya menggunakan kendaraan berat.

- b’ = Lebar lintasan kendaraan truck pada tikungan

- c = Kebebasan Samping

- n = Jumlah Lajur Lintasan.

- Perhitungan Secara Analisis Vr = 60 ⁄

R = 200 m

- A = 1,2 m (tonjolan depan sampai bumper) - Bn = 6 m Lebar perkerasan pada tikungan

- n = 2 Jumlah jalur Lintasan

64

- c = 0,5 m Kebebasan samping

- b = 2,60 m (lebar lintasan kendaraan truck pada jalur lurus) - p = 6,20 m (jarak as roda depan dan belakang)

Perhitungan :

 b’ = b + ( R - √ )

= 2,60 + ( 200 - √ )

= 2,69 m

 Td = √ - R Z = 0,105 ×

= √ = 0,105 ×

= 0,040 m = 0,445 m

ΔB ={ n(b’+c) + (n-1) Td + Z} - Bn

={ 2(2,69 + 0,5) + (2-1) 0,040 + 0,445} - 6

= 0,865 m

Karena ΔB= 1,0 m, maka jalan tersebut perlu dilakukan pelebaran jalan.

Jh minimum, menurut TPGJAK 1997 hal 27 = 75 m Jd menurut TPGJAK 1997 hal 28 = 350 m

- Penghitungan kebebasan samping pada DI 2

Data-data:

Vr = 60 km/jam Rd = 200 m

W = 2 x 4 m = 8 m Lc = 287,426m Perhitungan :

R = Rd - W

65

= 200 - 8 = 196 m Lt = Lc + (2 × Ls)

= 287,426 + (2 × 50) = 387,426 m

- Jarak pandang henti berdasarkan TPGJAK 1997:

Jh = 0,694 Vr + 0,004 * +

= 0,694. 60+ 0,004 * +

= 47,4 m ~ 48 m

- Kebebasan samping yang tersedia (Eo):

Eo = 0,5 (lebar daerah pengawasan – lebar perkerasan)

= 0,5 (40 – 8)

= 16 m

- Kebebasan samping yang diperlukan (E).

E = R ×( )

= 200 ×( )

= 1,155 m Nilai E < Eo (1,155 m < 16 m) Kesimpulan :

Karena nilai E < Eo maka daerah kebebasan samping yang tersedia mencukupi.

- Berdasarkan jarak pandang menyiap Dengan rumusan :

Jd = d1 + d2 + d3 + d4

d1 = 0,278 × T1 × ( ) d2 = 0,278 × Vr × T2

d3 = antara 30-100 m d4 = ⁄ × d2

Dimana : T1 = Waktu dalam (detik)

66

T2 = Waktu kendaraan berada dijalur lawan, (detik) a = Percepatan rata-rata km/jm/dtk, (km/jm/dtk)

m = perbedaan kecepatan dari kendaraan yang menyiap dan kendaraan yang disiap, (biasanya diambil 10-15 km/jam)

T1 = 2.12 + 0,026 × Vr

= 2.12 + 0,026 × 60 = 3,68dtk

T2 = 6,56 + 0,048 × Vr

= 6,56 + 0,048 × 60 = 9,44dtk

a = 2,052 + 0,0036 × Vr

= 2,052 + 0,0036 × 60 = 2,268km/jam/dtk

d1 = 0,278 × T1×( )

= 0,278 × 3,68×(

)

= 50,3 m

d2 = 0,278 × Vr × T2

= 0,278 × 60 × 9,44

= 157,46 m

d3 = 30 m d4 = ⁄ × d2

= ⁄ × 157,46

= 104,97 m

Jd = d1 + d2 + d3 + d4

67

= 50,3 + 157,46 + 30 + 104,97

= 342,73 m

- Hasil perhitungan

Tikungan PI2 menggunakan tipe Spiral– Spiral dengan hasilpenghitungan sebagaiberikut:

Δ2 = 96˚31’07” Vr = 60 km/jam

= 10% = 2%

= 8% Rmin = 112 m

Rd = 200 m Ls = 50 m

θs = 7˚16’56” Δc = 82˚38’35”

Lc =287,426m Xs = 49 m

Ys = 2,08 m P = 0,517m

K = 24,97m Tt = 248,884 m

Et = 101,238 m

68

Gambar 4.6. Gambar tikungan Spiral - Circle – Spiral

4.4.3. Perhitungan Stationing Data – data :

dA-1 = 3632,399m d1-2 = 248,847 m d2-3 = 516,342 m d3-4 = 114,271 m d4-B = 1807,475 m + Σd = 6319,316 m Perhitungan :

1. Sta A = 0+000 m 2. Sta DI1 = Sta A + dA-1

69

= (0+000) + 3632,399 m

= 3+632,399 m 3. Sta Ts DI1 = Sta DI1 – Tt DI1

= (3+632,399 m) – 142,2 m

= 3+490,199 m 4. Sta Sc DI1 = Sta TS DI1 + Ls DI1

= (3+490,199 m) + 50 m

= 3+540,199 m 5. Sta Cs DI1 = Sta Sc DI1 + Lc DI1

= (3+540,199 m) + 129 m

= 3+669,199 m 6. Sta St DI1 = Sta Cs DI1 + Ls DI1

= (3+669,199 m) + 50 m

= 3+719,199 m

7. Sta DI2 = Sta St DI1 + d1-2 – Tt DI1

= (3+719,199 m) + 248,847 m – 142,2 m

= 3+825,846 m 8. Sta Ts DI2 = Sta DI2 – Tt DI2

= (3+825,846 m) – 149,1 m

= 3+676,746 m 9. Sta Sc DI2 = Sta TS DI2 + Ls DI2

= (3+676,746 m) + 50 m

= 3+726,746 m 10. Sta Cs DI2 = Sta Sc DI2 + Lc DI2

= (3+726,746 m) + 134,8 m

= 3+861,546 m 11. Sta St DI2 = Sta Cs DI2 + Ls DI2

= (3+861,546 m) + 50 m

= 3+911,546 m

12. Sta DI3 = Sta St DI2 + d2-3 – Tt DI2

= (3+911,546 m) + 516,342 m – 149,1 m

70

= 4+278,788 m 13. Sta Ts DI3 = Sta DI3 – Tt DI3

= (4+278,788 m) – 157,6 m

= 4+121,188 m 14 Sta Sc DI3 = Sta TS DI3 + Ls DI3

= (4+121,188 m) + 50 m

= 4+171,188 m 15. Sta Cs DI3 = Sta Sc DI3 + Lc DI3

= (4+171,188 m) + 142m

= 4+313,188 m 16. Sta St DI3 = Sta Cs DI3 + Ls DI3

= (4+313,188 m) + 50 m

= 4+363,188 m

12. Sta DI4 = Sta St DI3 + d3-4 – Tt DI3

= (4+363,188 m) + 114,271 m – 157,6 m

= 4+519,859 m 13. Sta Ts DI4 = Sta DI4 – Tt DI4

= (4+519,859 m) – 146,5 m

= 4+373,359 m 14 Sta Sc DI4 = Sta TS DI4 + Ls DI4

= (4+373,359 m) + 50 m

= 4+423,359 m 15. Sta Cs DI4 = Sta Sc DI4 + Lc DI4

= (4+423,359 m) + 132,5 m

= 4+555,859 m 16. Sta St DI4 = Sta Cs DI4 + Ls DI4

= (4+555,859 m) + 50 m

= 4+655,859 m

17. Sta B = Sta St DI4 + d4-B - Tt DI4

= (4+655,859 m) + 1807,475 m – 146,5m

= 6+316,359 m

71

Kontrol : Sta B < Σd

Sta B = 6+316,359 m <6319,316m “OK”

4.4.4. Kontrol Overlapping Diketahui :

Vren = 60 km/jam

=

= 16,67m/det

Syarat Overlapping a = 3Vren

= 3 × 16,67

= 50 m

d > a1. Kontrol Overlapping A - DI1

d1 = d1 - Tt1

=3632,399m – 142,2m

= 3490,199 m  d > a = 50 m . . .OK!

2. Kontrol Overlapping DI1 - DI2

d2 = Sta TS DI2 - Sta ST DI1

= 3+676,746 m – 3+490,199 m

= 186,547 m d > a = 50 m . . .OK!

3. Kontrol Overlapping DI2 – DI3 d3 = Sta TS DI3 - Sta ST DI2

= 4+278,788 m – 3+676,746 m

=602,042 m d > a = 50 m . . .OK!

4. Kontrol Overlapping DI3 – DI4

72

d4 = Sta TS DI4 - Sta ST DI3

= 4+373,359 m – 4+278,788 m

= 94,571 m  d > a = 50 m . . .OK!

4.5. Perhitungan Alinemen Vertikal

Untuk merencanakan alinemen vertikal pada perencanaan ini trace jalan digunakan sesuai dengan elevasi tanah asli.

73

4.5.1. Perhitungan Kelandaian Memanjang Contoh perhitungan Kelandaian g(A-PVI1) Elevasi A = 219,82 m STA A = 0+000

Tabel 4.5. Tabel kelandaian memanjang

No. Titik STA Elevasi (m) Jarak Datar

74

6 B 1+807,475m 316

4.5.2. Penghitungan lengkung vertikal a) Lengkung Vertikal DVI 1

Gambar 4.7. Lengkung DVI1

Data – data :

Stationing DVI 1 = 3+632,399m Elevasi DVI 1 = 290 m

Vr = 60 km/jam g 1 = 0,009 % g 2 =-0,007 %

A = [g2 – g1]

= [-0,007 %- 0,009 %]

= -0,016 %(Lv cembung) Jh = 0,694 Vr + 0,004 * +

= 0,694. 60+ 0,004 * +

= 47,4 m ~ 48 m

g1=0,009%

g2=-0,007%

DDV 1

DTV 1 DLV 1

75

a. Mencari panjang lengkung vertical 1.) Berdasarkan syarat kenyamanan pengemudi

Lv = V × t

= 60 km/jam × 3 detik

= 50 m

2.) Berdasarkan syarat drainase Lv = 40 × A

= 40 × (-0,016 %)

= -0,64 m

3.) Berdasarkan syarat keluwesan bentuk Lv = 0,6 × Vr

= 0,6 × 60 km/jam

= 36 m

4.) Berdasarkan pengurangan goncangan Lv = Vr2 ×

= 60² ×

= -0,16 m Diambil nilai Lv : 50 m

b. Perhitungan Ev Ev =

=

= -0,001 m Y = × x²

= × 3²

= -0,000014 m c. Perhitungan Stationing

STA a = STA DI1 – ½ Lv

76

= (3+632,399) – (½ x 50)

= 3+607,399 STA b = STA DI1 – ¼ Lv

= (3+632,399) – (¼ x 50)

= 3+619,899 STA c = STA DI1

= 3+632,399 STA d = STA DI1 + ¼ Lv

= (3+632,399) + (¼ x 50)

= 3+644,899 STA e = STA DI1 + ½ Lv

= (3+632,399) + (½ x 50)

= 3+657,399

d. Perhitungan Elevasi

Elevasi A = Elevasi DI1 + ( ½Lv x g1 )

= 290 + (½ 50 x 0,009 %)

= 290,225 m

Elevasi B = Elevasi DI1 + ( ¼ Lv x g1) + y

= 290 + ( ¼ 50 x 0,009 % ) + (-0,000014)

= 290,224 m Elevasi C = Elevasi DI1+ Ev

77

= 290 + (-0,001)

= 289,999 m

Elevasi D = Elevasi DI1 + ( ¼ Lv x g2) + y

= 290 + ( ¼ 50 x -0,007 %) + (-0,000014)

= 289,912 m

Elevasi E = Elevasi DI1 + ( ½Lv x g2)

= 290 + ( ½ 50 x -0,007 % )

= 289,825 m 2.) Lengkung Vertikal DVI2

Gambar 4.9. Lengkung PVI2

Data – data :

Stationing DVI 2 = 0+248,847m Elevasi DVI 2 = 314m

Vr = 60 km/jam g 2 = -0,007%

g 3 = 0,056%

A = [g3 – g2]

= [0,056%- 0,007%)]

= 0,049 % (Lv cekung)

DDV 2 DLV 2

1

g2 = -0,007%

g3 =-0,056%

DDV 2

78

Jh = 0,694 Vr + 0,004 * +

= 0,694. 60+ 0,004 * +

= 47,4 m ~ 48 m

a. Mencari panjang lengkung vertikal

1.) Berdasarkan syarat kenyamanan pengemudi Lv = V × t

= 60 km/jam × 3 detik

= 50 m

2.) Berdasarkan syarat drainase Lv = 40 × A

= 40 × (0,049)

= 1,96 m

3.) Berdasarkan syarat keluwesan bentuk Lv = 0,6 × Vr

= 0,6 × 60 km/jam

= 36 m

4.) Berdasarkan pengurangan goncangan Lv = Vr2 ×

= 60² ×

= 0,49 m Diambil nilai Lv : 50 m

b. Perhitungan Ev Ev =

=

= 0,003 m

Y =

× x²

= × 3²

= 0,000044 m c. Perhitungan Stationing

79

STA a = STA DI2 – ½ Lv

= (0+248,847) – (½ x 50)

= 0+223,847 STA b = STA DI2 – ¼ Lv

= (0+248,847) – (¼ x 50)

= 0+236,347 STA c = STA DI2

= 0+248,847 STA d = STA DI2 + ¼ Lv

= (0+248,847) + (¼ x 50)

= 0+261,347 STA e = STA DI2 + ½ Lv

= (0+248,847) + (½ x 50)

= 0+273,847 d. Perhitungan Elevasi

Elevasi A = Elevasi DI2 + ( ½Lv x g2 )

= 314 + (½ 50 x -0,007%)

= 313,825 m

Elevasi B = Elevasi DI2 + ( ¼ Lv x g2) + y

= 314+ ( ¼ 50 x -0,007%) + 0,000044

= 313,913 m Elevasi C = Elevasi DI2+ Ev

= 314 + 0,003

= 314,003 m

Elevasi D = Elevasi DI2 + ( ¼ Lv x g3) + y

= 314 + ( ¼ 50 x 0,056% )+ 0,000044

= 314,7 m

Elevasi E = Elevasi DI2 + ( ½Lv x g3)

= 314 + ( ½ 50 x 0,056%)

= 315,4 m 3). Lengkung Vertikal DVI3

80

Gambar 4.10. Lengkung PVI3 Data – data :

Stationing DVI 3 = 0+516,342m Elevasi PVI 3 = 329 m

Vr = 60 km/jam g3 = 0,056%

g4 = 0,017 % A = [g4 – g3]

= [0,017 %- 0,056%

= -0,039 % (Lv cembung) Jh = 0,694 Vr + 0,004 * +

= 0,694. 60+ 0,004 * +

= 47,4 m ~ 48 m

a. Mencari panjang lengkung vertikal

1.) Berdasarkan syarat kenyamanan pengemudi Lv = V × t

= 60 km/jam × 3 detik

= 50 m

2.) Berdasarkan syarat drainase Lv = 40 × A

= 40 × - 0,039 %

= -1,56 m DLV3

DDV3

DTV3 g3 = 0,056%

g4 = 0,0017%

81

3.) Berdasarkan syarat keluwesan bentuk Lv = 0,6 × Vr

= 0,6 × 60 km/jam

= 36 m

4.) Berdasarkan pengurangan goncangan Lv = Vr2 ×

= 60² ×

= -0,39 m Diambil nilai Lv : 50 m

b. Perhitungan Ev Ev =

=

= -0,0024 m Y = × x²

=

× 3²

= -0,000035 m

c. Perhitungan Stationing

STA a = STA DI3 – ½ Lv

= (0+516,342) – (½ x 50)

= 0+491,34 STA b = STA DI3– ¼ Lv

= (0+516,342) – (¼ x 50)

= 0+503,842 STA c = STA DI3

= 0+516,342 STA d = STA DI3 + ¼ Lv

82

=(0+516,342)+ (¼ x 50)

= 0+528,842 STA e = STA DI3 + ½ Lv

= (0+516,342)+ (½ x 50)

= 0+541,342 d. Perhitungan Elevasi

Elevasi A = Elevasi DI3 + ( ½Lv x g3 )

= 329 + (½ 50 x 0,056%)

= 330,4 m

Elevasi B = Elevasi DI3 + ( ¼ Lv x g3) + y

= 329 + ( ¼ 50 x 0,056%) + (-0,000035)

= 329,7 m

Elevasi C = Elevasi DI3+ Ev

= 329 + (-0,0024)

= 328,997 m

Elevasi D = Elevasi DI3 + ( ¼ Lv x g4) + y

= 329 + ( ¼ 50 x 0,017 %) + (-0,000035)

= 329,212 m

Elevasi E = Elevasi DI3 + ( ½Lv x g4)

= 329 + ( ½ 50 x 0,017 %)

= 329,425 m

4) Lengkung Vertikal DLI 4

g1=0,017%

g5=-0,004%

DDV 4

DTV 4 DLV 4

83

Gambar 4.10. Lengkung DVI4 Data – data :

Stationing DVI 4 = 0+114,271m Elevasi DVI 4 = 322 m

Vr = 60 km/jam g 4 = 0,017 % g 5 =-0,004 % A = [g5– g4]

= [-0,004 %- 0,017 %]

= -0,021 % (Lv cembung) Jh = 0,694 Vr + 0,004 * +

= 0,694. 60+ 0,004 * +

= 47,4 m ~ 48 m

a. Mencari panjang lengkung vertikal

1.) Berdasarkan syarat kenyamanan pengemudi Lv = V × t

= 60 km/jam × 3 detik

= 50 m

2.) Berdasarkan syarat drainase Lv = 40 × A

= 40 × (-0,021 %)

= -0,84 m

3.) Berdasarkan syarat keluwesan bentuk Lv = 0,6 × Vr

= 0,6 × 60 km/jam

= 36 m

4.) Berdasarkan pengurangan goncangan Lv = Vr2 ×

84

= 60² ×

= -0,21 m Diambil nilai Lv : 50 m b. Perhitungan Ev

Ev =

=

= -0,0013 m Y = × x²

= × 3²

= -0,000019 m c. Perhitungan Stationing

STA a = STA DI4 – ½ Lv

= (0+114,271) – (½ x 50)

= 0+089,271 STA b = STA DI4 – ¼ Lv

= (0+114,271) – (¼ x 50)

= 0+101,771

STA c = STA DI4

= 0+114,271 STA d = STA DI4 + ¼ Lv

= (0+114,271) + (¼ x 50)

= 0+126,771 STA e = STA DI4 + ½ Lv

= (0+114,271) + (½ x 50)

= 0+139,271

85

Tabel 4.6. Hasil Perhitungan Alinemen Vertikal

DVI1 DVI2 DVI3 DVI4

86

Elevasi (m) a b c d e

290,225 290,224 289,999 289,912

289,825

313,825 313,913 314,003 314,700 315,400

330,400 329,700 328,997 329,212

329,425

322,425 322,212 321,999 321,950

321,900

87

RENCANA ANGGARAN BIAYA

5.1 Rencana Anggaran Biaya

Rencana Anggaran Perencanaan Jalan Jenderal A.H Nasution (Ringroad Lintas Timur) .

RENCANA ANGGARAN PELAKSANAAN

JALAN JENDERAL A.H NASUTION (RINGROAD LINTAS TIMUR)

No. Uraian Satuan Volume

Harga Satuan Jumlah Harga

(Rp.) (Rp.)

2.1 Pembersihan Lapangan (Striping) 11.235,00 14.948,07 167.941.565,01

2.2 Galian tanah 46.800,000 4.545,00 212.706.000,00

88 BAB VI

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

6.1.Syarat-syarat Umum

Pasal 1 Persyaratan Umum

a. Peserta lelang adalah mereka yang telah diundang oleh Panitia Lelang Proyek / Bagian Proyek Inpres Jalan dan Jembatan.

b. Peserta lelang yang berminat mengikuti pelelangan diharuskan mengambil Dokomen Lelang, terdiri dari :

Buku I:

1. Instruksi Kepada Peserta Lelang 2. Syarat Persyaratan

3. Syarat-syarat Umum 4. Syarat-syarat Teknis Buku II :

1. Gambar Desain

2. Risalah rapat penjalasan dapat diambil sebelum pemasukan penawaran. Peserta pelelangan hadir pada waktunya ,di tempat yang telah ditentukan dalam undangan.

c. Dalam acara penjelasan pekerjaan/ Aanwijzing kepada peserta lelang akan diberian penjelasan-penjelasan oleh Panitia Lelang mengenai :

1. Ketentuan-ketentuan pelelangan 2. Prosedur pelelangan

3. Penjelasan di lapangan

Pasal 2 Syarat Penawaran

a. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. 16/1994, kepada para penawar yang ikut dalam pelelangan/tender apabila besarnya lebih dari Rp 50.000.000,00 diwajibkan meyerahkan surat jaminan yang dikeluarkan oleh lembaga penjamin yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

89

b. Besarnya jaminan penawaran berkisar antara 1-3 % dari harga penawaran, untuk kesegaraman besarnya akan ditentukan pada waktunya Aanwijzing.

c. Jaminan penawaran tersebut akan dikembalikan apabila yang bersangkutan tidak menjadi pemenang dalam pelelangan.

d. Jaminan penawaran menjadi milik negara apabila mengundurkan diri setelah memasukan surat penawaran ke dalam kotak pelelangan, peserta yang menang berhak menerima surat penunjukkan.

e. Penawaran yang telah ditunjuk sebelum menandatangani kontrak diwajibkan memberi jaminan pelaksanaan yang dikeluarkan oleh lembaga penjamin yang besarnya ditentukan 5% dari nilai kontrak (bagi penawar yang besarnya Rp. 50 juta), yang berlalu sampai dengan selesainya masa pemeliharaan.

f. Pada saat jaminan pelaksanaan diterima oleh Pemimpin Proyek, maka jaminan penawaran yang bersangkutan dikembalikan.

g. Bila pelelangan dinyatakan batal maka jaminan penawaran dikembalikan.

Pasal 3

Pelaksanaan Penawaran

a. Penawaran dilaksanakan dengan sistem satu sampul yang disediakan oleh pemborong.

b. Sampul tersebut berisi :

1. Surat penawaran rangkap 5, dibuat pada kertas yang berkop perusahaan masing-masing. Surat penawaran tersebut diisi lengkap diberi tanggal, diberi nama jelas, diberi materai 6000 rupiah dan pada materai tersebut nama jelas penawar, ditandatangani dan disetempel perusahaan.

2. Daftar Perincian Biaya Pekerjaan (Daftar Kuantitas dan Harga) rangkap 5 dibuat sesuai formulir yang telah disediakan oleh panitia. Daftar Perincian Biaya Pekerjaan termasuk diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel perusahaan.

3. Daftar upah dan harga bahan rangkap 5 dibuat sesuai dengan format dengan disediakan panitia. Daftar upah dan harga bahan tersebut diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel perusahan.

90

4. Daftar harga satuan rangkap 5 dibuat sesuai dengan formulir yamg disediakan oleh panitia. Daftar harga satuan pekerjan tersebut diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel perusahaan.

5. Rencana kerja rangkap 5 dibuat sesuai formulir yang disediakan panitia, diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel perusahaan.

6. Daftar personel dan peralatan yang akan ditempatkan di proyek rangkap 5 dibuat sesuai formulir yang disediakan panitia, diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setampel perusahaan.

7. Surat jaminan asli bagi penawar yang besarnya Rp. 50 juta keatas rangkap 5.

8. Salinan surat keterangan NPWP yang masih berlaku pada saat pelelangan dan dapat dibuktikan kebenarannya pada waktu pembukaan surat penawaran.

9. Surat keterangan bank dan 4 lembar salinannya yang masih berlaku pada saat pelelangan.

10. Surat pernyataan bukan pegawai negeri sipil/ ABRI diatas materai 6000 rupiah dan 4 lembar salinannya, dibuat pada formulir yang disediakan panitia.

11. Salinan surat keterangan Pra kualifikasi rangkap 5.

12. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP).

13. Kesanggupan Astek.

14. Kesanggupan membayar jaminan pelelangan.

15. Kesanggupan membayar retribusi bahan galian golongan C.

16. Surat undangan.

17. Akte pendirian.

18. Pernyatan ikut tender.

19. Neraca perusahaan.

20. Pemilihan modal.

21. Referensi pekerjaan.

22. Susunan pengurus.

c. Sampul yang telah diisi pada ayat b, angka 1 s/d 22 diatas dan dilem. Sampulan penawaran kemudian dimasukan ke dalam kotak pelelangan yang tertutup, terkunci dan disegel yang disediakan oleh panitia.

91

d. Pembukaan surat penawaran

1. Pada waktu yang telah ditentukan oleh panitia menyatakan di hadapan para penawar bahwa saat penyampaian surat penawaran sudah ditutup.

2. Setelah penyampaian surat penawaran telah tutup tidak dapat lagi diterima surat penawaran, surat keterangan, dan sebagainya dari para penawar.

3. Panitia membuka kotak dan sampul surat penawaran dihadapan para penawar.

Semua surat penawaran dan surat keterangan dibaca dengan jelas hingga terdengar oleh semua penawar.

4. Semua penawaran yang disampaikan, lalu panitia menyampaikan mana yang sah dan mana yang tidak sah serta mencantumkan dalam berita acara.

5. Kelalaian dan kekurangan yang dijumpai dalam surat penawaran dinyatakan pula dalam berita acara.

6. Para penawar yang hadir diberi kesempatan melihat surat-surat penawaran yang disampaikan oleh panitia.

7. Setelah pembacaan dan penetapan sahnya surat penawaran, panitia membuat berita acara pembukaan surat penawaran.

8. Berita acara setelah dibaca dengan jelas ditandatangani oleh panitia dan sekurang-kurangnya dua orang wakil dari penawar.

e. Penawaran yang tidak sah

1. Penawar yang tidak diundang ikut menawar.

2. Terdapat nama penawar, harga penawaran atau data lainnya yang dapat dianggap sebagai identitas penawar pada sampulnya.

3. Tidak melengkapi syarat-syarat penawaran yang sesuai dengan ketentuan di atas.

4. Tidak jelas besarnya penawaran baik dengan angka maupun dengan huruf.

5. Harga penawaran yang tercantum dalam angka tidak sesuai dengan huruf.

6. Surat penawaran dikirimkan kepada anggota panitia pelelangan/ pejabat.

f. Apabila diperlukan panitia dapat memanggil penawar untuk diminta penjelasannya lebih lanjut mengenai penawarannya.

92

6.2.Syarat-syarat Administrasi

Pasal 1 Istilah Yang dimaksud dengan:

1. Pemilik adalah Pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga Sumatra Utara

2. Pemimpin Proyek adalah pejabat yang ditunjuk oleh pemilik dan bertindak untuk dan atas nama pemilik, memberi dan mengatur penyelenggaraan pekerjaan.

3. Direksi/ Pengawas adalah instansi atau badan hukum yang diberi kekuasan penuh oleh Pemimpin Proyek untuk mengawasi dan mengarahkan pelaksanaan pekerjaan agar dapat tercapai hasil kerja sesuai dalam kontrak dan atau berdasarkan petunjuk-petunjuknya.

4. Pemborong/ Kontraktor pada pekerjaan ini adalah perorangan, badan usaha atau instansi yang menang dalam pelelangan pekerjaan ini.

5. Pemeriksaan (opname) adalah kegiatan memeriksa, menilai hasil/ kemajuan dan atau keadaan mutu bahan di lapangan.

6. Pengujian (testing) adalah kegiatan memeriksa, meneliti hasil dan atau menguji mutu hasil pekerjaan/ bahan.

7. Pematokan (uizet, stake out) adalah penjabaran gambar-gambar berupa tanda-tanda duga yang menggambarkan arah dan jarak ketinggian lapangan.

8. Pengukuran (measurement) adalah kegiatan mengukur panjang, lebar, tinggi, luas atau hasil pekerjaan.

9. Spesifikasi adalah spesifikasi yang dimaksud di dalam dokumen rencana kerja dan syarat-syarat dan setiap perubahan/ modifikasi dan atau tambahan yang harus terlebih dahulu disetujui secara tertulis oleh Direksi/ Pengawas.

10. Gambar rencana adalah gambar-gambar yang dimaksud dalam spesifikasi dan tiap perubahan atau tambahan gambar dan gambar-gambar lain yang disetujui secara tertulis oleh Direksi/ Pengawas.

11. Persetujuan atau disetujui adalah pernyataan tertulis dari Direksi (Pengawas Lapangan) atau Pemimpin Proyek meliputi tulisan atau catatan dalam Buku Direksi atau dalam bentuk surat khusus.

93

Pasal 2

Kontrak dan Dokumen Kontrak

Kontrak meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, penyelesaian pekerjaan dan kecuali apabila disebutkan lain dalam kontrak meliputi juga pengarahan segala sesuatu hal yang untuk pelaksanaan pekerjaan sebagai mana yang tercantum dalam kontrak.

Pasal 3

Gambar-gambar dan Ukuran

Gambar-gambar yang digunakan dalam peleksanaan pekerjaan adalah:

1. Gambar yang termasuk dalam dokumen lelang.

2. Gambar perubahan yang disetujui Direksi/ Pengawas.

3. Gambar lain yang disediakan dan disetujui Direksi/ Pengawas.

Pasal 4

Pengalihan Tugas dan Subkontraktor

Setiap penyerahan sebagaian pekerjaan kepada Sub Kontraktor harus mendapat persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Pemimpin Proyek.

Pasal 5

Tugas dan Wewenang Pemimpin Proyek

Tugas dan wewenang pemimpin Proyek diatur sesuai dengan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 16 Tahun 1994 dan apabila masih diperlukan pengaturan lebih lanjut akan ditetapkan di dalam dokumen kontrak.

Pasal 6

Tugas Umum Direksi/ Pengawas

1. Tugas Direksi/ Pengawas adalah mengawasi pekerjaan menguji setiap bahan yang akan dipergunakan dan atau setiap cara kerja yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

2. Direksi/ Pengawas tidak berwenang membebaskan kontraktor dari tugas-tugas yang mengakibatkan keterlambatan pekerjaan atau tambahan pekerjaan oleh pemilik, kecuali diperintah oleh pemimpin Proyek.

94

Pasal 7

Kewajiban Umum Kontraktor

Kontraktor berkewajiban melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dalam dokumen kontrak secara sungguh-sungguh dengan penuh perhatian dan ketelitian.

Pasal 8

Pembuatan Kontrak

Sebagai tindak lanjut dari pembukaan penilaian dari Direksi/ Pemimpin Proyek akan menerbitkan dan mengirimkan surat penunjukan pemenang kepada kontraktor yang menang ke alamat yang terdaftar secara langsung, untuk selanjutnya mengadakan suatu kontrak guna melaksanakan pekerjaan menurut dokumen lelang berikut perubahan-perubahannya.

Pasal 9

Jaminan Pelaksanaan

1. Kontraktor wajib menyerahkan surat jaminan pelaksanaan dalam waktu paling lambat 10 hari setelah menerima surat penunjukan pemenang/ sebelum kontrak ditandatangani.

2. Besar jaminan pelaksanaan 5% dari nilai kontrak dan harus dikeluarkan oleh Bank Pemerintah atau Lembaga Keuangan lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Pasal 10

Persyaratan Pelaksanaan Pekerjaan

Kontrak harus melaksanakan, menyelesaikan, dan memelihara pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam dokumen kontrak sehingga memuaskan dan disetujui oleh Direksi/ Pengawas dan harus melaksanakan perintah-perintah tertulis dari Direksi/ Pengawas Lapangan tentang segala sesuatu yang langsung berhubungan dengan pelaksanakan pekerjaan.

Pasal 11 Program Kerja

1. Dalam jangka waktu 3 hari setelah menandatangani kontrak, kontraktor harus mengirimkan rencana kerja secara terperinci dalam bentuk kurva S yang menunjukkan urutan pelaksanaan bagian-bagian pekerjaan untuk mendapatkan

1. Dalam jangka waktu 3 hari setelah menandatangani kontrak, kontraktor harus mengirimkan rencana kerja secara terperinci dalam bentuk kurva S yang menunjukkan urutan pelaksanaan bagian-bagian pekerjaan untuk mendapatkan