HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
3. Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 october 2017 sampai dengan 23 November di MTS Al-Hikmah Bandar Lampung diskripsi proses pelaksanaan penelitian konseling kelompok dengan teknik positive reinforcement dilakukan dengan memaparkan hasil pengamatan selama proses penelitian setalah hasil pengamatan selama proses penelitian akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Pertemuan Pertama
Berdasarkan hasil penyebaran angket disiplin sekolah yang diberikan kepada 46 peserta didik terdapat 10 peserta didik yang memilik disiplin sekolah sangat tinggi 27 peserta didik yang memiliki disiplin sekolah tinggi 7
peserta didik yang memiliki disiplin sekolah rendah dan 1 peserta didik yang memiliki disiplin sekolah sangat rendah. Setelah peneliti mendapatkan data dari hasil pretest peneliti kemudian menentukan treatment yang akan diberikan kepada peserta didik yang tergolong memiliki disiplin sekolah yang rendah. peserta didik yang memiliki disiplin yang sangat rendah akan mempengaruhi dia dalam proses belajar maupun prestasi peserta didik di sekolah, untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti menggunakan konseling kelompok dengan teknik positive reinforcement.
b. Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua peneliti pertama kali mengadakan koseling kelompok dengan teknik positive reinforcement pada pelaksanaan konseling kelompok terdapat beberapa tahap. pada tahap pertama adalah tahap perkenalan dan penjelasan tentang konseling kelompok) konseling dilakukan pada tanggal 27 oktober 2017. dengan beranggotakan 8 peserta didik berinisial (D.A.P, M.Z.H, M.S.W, A.S, S.F.R, G.R.A, N.M, A.I.M). Proses konseling kelompok diawali dengan pembukaan seperti salam pembuka, menyambut peserta didik dengan baik, membicarakan dengan menanyakan kabar, dan memperkenalkan diri serta tidak lupa juga membina hubungan baik dengan peserta didik. Tujuanya agar peserta didik merasa, aman, nyama, dan percaya pada peneliti, sehingga peserta didik dapat hadir secara sukarela atau tidak terpaksa. sebelum peneliti mengucapkan terimakasih kepada peserta didik yang sudah berpartisipasi dan bergabung dalam konseling kelompok ini.
setelah suasana dinilai sudah kondusif, peneliti mulai menanyakan tentang kesiapan para anggota atau peserta kelompok, selanjutnya pemimpin kelompok mempersilahkan anggota untuk memngungkapkan permasalahanya masing-masing yaitu tentang perialku disiplin sekolah diantaranya sebagai berikut
1. D,A,P merasa bahwa dirinya sering tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan karena ajakan teman diluar sekolah karena tidak merasa enak hati dan diapun sering kali bangun kesiangan, hal ini membuat peserta didik sering terlambat masuk sekolah dan apabila dia terlambat dia merasa malas untuk masuk sekolah dikarnakan takut akan hukuman yang di berikan kepada karena terlambat masuk sekolah
2. M.Z.H sering kali berkelahi di kelas maupun lingkungan sekolah dikarnakan kurang bisa menahan emaosi dia apabiala ada hal yang dia tidak suka maka dia langsung marah dan meluapakan emosinya kepada orang dia tidak suka dia merasa perilaku ini tidak baik karena apabila perilaku ini berlanjut itu akan berakibat tidak baik pada dirinya 3. M.SW saya merasa sering kali bosan dan boring di kelas sehingga dia
seringkali melakukan hal hal yang membuat kelas gaduh atau berisik seperti memukul meja mengajak ngobrol teman sekelas akibatnya dia sering menjadi keluhan guru mata pelajaran.
4. A.S saya sering kali tidak masuk sekolah karena saya mulai jenuh dalam belajar, bada saat belajar saya sering kali merasa ngantuk dan malas di tambah lagi bayak peraturan di sekolah yang mebuat saya kurang suka pergi kesekolah
5. S.F.R saya sering kali kelupaan dalam mengerjakan PR karena bayak kesibukan diluar seperti Latihan boxing maen sama teman diluar di tambah lagi pap bila ada pelajaran yang saya tidak bisa itu membuat S.F.R malas mengerjakan PR
6. G.R.A sering kali membuat gaduh di kelas di karenakan tidak suka terhadap pelajaran yang sedang di ajarkan seperti matematika dan BHS inggris, pada saat mata pelajaran ini berlangsung G.R.A langsung membuat gaduh di kelas seperti menggangu teman sebangku dan melempar kertas kea rah teman sekelas
7. N.M peserta didik ini juga sering kali berkelahi di lingkungan sekoalah alasanya sama dengan M,Z.H kurang bisa menahan emosi, apa bila dia diejek ataupun di olok-olok teman sekelas dia langsung marah dan tidak sungkan untuk memukul teman sekelas dia juga sering kali mengolok olok teman sekelas dan menjaili teman sekelas seperti memegang kepala, mendorong teman dengan sengaja
8. A.I.M saya seringkali terlambat mengumpulkan dan mengerjakan PR karena malas dan pelajarany terlalu sulit di tambah lagi PR yang dia kerjakan seringkali tidak dikoreksi oleh guru mata pelajaran sehingga
peserta didik merasa kesal dan menganggap tidak penting untuk di kerjakan
Berdasarkan masalah yang diuraikan anggota kelompok diatas, dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi masalah yang mereka alami sesuai dengan jawaban yang mereka isi dalam penyebaran skala disiplin sekolah. Selain itu juga masalah yang dialami salah satu temannya pun tidak menutup kemungkinan pernah juga dan menjadi permasalahan yang dialami oleh temannya yang lain.
Oleh sebab itu mereka pun dapat belajar dari masalah yang dialami oleh temannya yang lain seperti melakukan perilaku membolos atau tidak masuk tanpa ada keterangan, membuat gaduh di kelas berkelahi di lingkungan sekolah dan tidak mengerjakan PR.
Dalam tahap ini seluruh peserta berperan aktif dan terbuka dalam mengemukakan permasalahan-permasalahan yang peserta didik dirasakan, difikirkan dan dialaminya. memilih masalah yang sering muncul atau yang sering dilakukan peserta didik dan masalah yang dibahas adalah peserta didik yang berinisial D.A.P dan A.S tentang permasalahan membolos yang sering kali di lakukan oleh peserta didik yang dan cara mengurangi perilaku membolos, Setelah itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pendapat, saran dan gagasan dari setiap anggota kelompok tentang permasalahan yang sedang dibahas. Setelah permasalahan permasalahan tersebut mendapat solusi dan saran maka kegiatan ini akan berakhir. pemimpin kelompok meminta anak
yang mengalami perilaku membolos untuk menyimpulkan hasil yang diperoleh dalam konseling kelompok dan juga mengungkapkan kesan-kesanya. mengingat waktu tidak memungkinkan lagi maka pemimpin kelompok menjelaskan untuk pertemuan selanjutnya dan mengakhiri pertemuan dengan membaca alhamdulilah dan mengucap salam. dan sebelum melanjutkan pada pertemuan berikutnya peneliti akan mengamati peserta didik yang suka membolos dan peniliti memantau perkembangan perilaku peseta didik tersebut.
c. Pertemuan Ketiga
Pada pertemuan ketiga ini merupakan pertemuan kedua untuk melaksanakan konseling kelompok dengan teknik positive reinforcement
konseling ini dilakukan pada hari jum,at tanggal 3 november 2017 dengan durasi waktu 45 menit, adapan inisal peserta didik yang mengikuti konseling kelompok pada pertemuan kedua (D.A.P, M.Z.H, M.S.W, A.S, S.F.R, G.R.A, N.M, A..I.M).. Seperti pertemuan sebelumnya proses konseling kelompok diawali dengan pembukaan seperti menyambut peserta didik dengan baik, mengucap salam, dengan membicarakan dengan menanyakan kabar dan memperkenalkan diri serta tidak lupa membina hubungan baik dengan peserta didik. tujuanya adalah agar peserta didik merasa aman dan nyaman. sebelum memulai proses konseling kelompok pemimpin kelompok mengevaluasi terlebih dahulu peroses konseling kelompok yang dilakukan pada pertemuan pertama apakah ada peningkatan tau malah sebaliknya yaitu menurun dengan
cara hasil pengamatan minggu sebelumnya, setelah itu proses konseling kelompok kedua dimulai. dan hasil yang diperoleh dari pengamatan peneliti peserta didik mengalami penurunan perilaku membolos disini peneliti memberikan penguata verbal seperti kata kata membangun “ bagus nak
sekarang kamu sudah bisa mengurangi perilaku membolos bapak bangga sama kamu nak. peserta didik yang diberikan positive reinforcement akan merasa dihargai dan semangat untuk merubah perilakunya selain itu agar perilaku peserta didik tersebut menetap atau tidak berubah
pada tahap ini pemimpin menanyakan kepada anggota kelompok tentang permasalahan apa yang akan dibahas dan diselesaikan, setelah permasalan yang akan diselesaikan sudah disepakati yaitu tentang perilaku suka membuat gaduh di kelas yang sering kali di lakukan oleh M.S.W dan G,R.A setelah itu pemimpin kelompok memberikan kesempatan kepada M.S.W dan G.R.A untuk menceritakan kembali permasalahannya. setelah itu para anggota kelompok yang lain mengungkapkan gagasan ide atau saranny. dan untuk mengakhiri konseling kelompok yang kedua ini tidak lupa konseling menanyakan kepada M.S.W dan G.R.A pemahaman apa yang sudah diperoleh dari konseling kelompok kedua ini, perasaan yang dialami selama kegiatan konseling berlangsung, kesan yang diperoleh selama kegiatan kepada peserta didik mengingat waktu tidak memungkinkan lagi maka pemimpin kelompok menjelaskan untuk pertemuan selanjutnya dan mengakhiri pertemuan dengan membaca alhamdulilah dan mengucap salam. sebelum
melanjutkan pada pertemuan berikutnya peneliti akan mengamati peserta didik yang suka membuat gaduh di kelas dan peniliti memantau perkembangan perilaku peseta didik tersebut.
d. Pertemuan Keempat
Pada pertemuan keempat melakukan konseling kelompok yang dilaksanakan pada hari kamis 9 november 2017. dengan anggota kelompok yang berinisial (D.A.P, M.Z.H, M.S.W, A.S, S.F.R, G.R.A, N.M, A..I.M). pada konselng kelompok ini seperti biyasanya proses konseling diawali dengan menyambut peserta didik dengan baik dan hangat, memberi salam, menyapa, menanyakan kabar dan perkembangan peserta didik, serta menggunakan kalimat yang membuat konseli nyaman dan tidak tegang saat melaksanakan proses konseling untuk memasuku pembahasan inti. seperti yang dilakukan pada pertemuan ketiga pemimpin kelompok mengevaluasi terlebih dahulu peroses konseling kelompok yang dilakukan pada pertemuan sebelumnya apakah ada peningkatan atau malah sebaliknya yaitu menurun dengan cara hasil pengamatan minggu sebelumnya, setelah itu proses konseling kelompok kedua dimulai. dan hasil yang diperoleh dari pengamatan peneliti peserta didik mulai bisa mengikuti pelajaran dengan tertib dan sebagai apresiasi peserta didik yang telah bisa mengikuti pelajaran dengan tertib konseli memberikan reinforcement verbal dan hadiah yaitu alat tulis kepada peserta didik dikarenakan adanya penaikan angka disiplin peserta didik
pada kegiatan konseling kelompok yang ketiga ini anggota kelompok melimilih untuk membahas permasalahan berkelahi di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh M.Z.H, dan N,M setelah topic permasalahan sudah diplih lalu setelah itu pemimpin kelompok memberikan kesempatan kepada M.Z.H, dan N,M untuk menceritakan permasalahannya, setelah itu pemimpin kelompok meminta angota atau peserta kelompok untuk mengungkapkan gagasan, ide, pendapat saranya terhadap permasalahan yang sedang dibahas atau yang sedang didiskusikan dan untuk mengakhiri konseling kelompok yang kedua ini tidak lupa konseling menanyakan kepada M.Z.H, dan N,M pemahaman apa yang sudah diperoleh dari konseling kelompok kedua ini, perasaan yang dialami selama kegiatan konseling berlangsung, kesan yang diperoleh selama kegiatan kepada peserta didik mengingat waktu tidak memungkinkan lagi maka pemimpin kelompok menjelaskan untuk pertemuan selanjutnya dan mengakhiri pertemuan dengan membaca alhamdulilah dan mengucap salam. sebelum melanjutkan pada pertemuan berikutnya peneliti akan mengamati peserta didik yang berkelahi dilingkungan sekolah dan peniliti memantau perkembangan perilaku peseta didik tersebut.
e. Pertemuan Kelima
Pada pertemuan kelima adalah pelaksanaan konseling kelompok yang keemapat. di lakukan pada tanggal 16 November 2017, pada pertemuan ini seperti biyasa proses konseling dengan diawali peneliti melakukan opening dengan menyambut peserta ddik dengan baik memberi salam, menyapa,
menanyakan kabar dan perkembangan peserta didik, serta menggunakan kalimat yang membuat konseli nyaman dan tidak tegang dalam melaksanakan proses konseling dan untuk memmasuki pembahasan inti. pemimpin kelompok dan angota kelompok bersepakat untuk mengulas pembahasan yang telah dilakukan pada proses konseling berikutnya. yaitu tentang tidak mengerjakan atau pun mengumpulkan PR yang di berikan oleh guru mata pelajaran yang di lakukan oleh S.F.R dan A.I.M karena secara garis besar permasalahan yang sedang dibahas adalah disiplin peserta didik terhadap sekolah. setelah itu pemimpin kelompok memberikan kesempatan kepada S.F.R dan A.I.M untuk menceritakan permasalahannya, setelah itu pemimpin kelompok meminta angota atau peserta kelompok untuk mengungkapkan gagasan, ide, pendapat saranya terhadap permasalahan yang sedang dibahas atau yang sedang didiskusikan dan untuk mengakhiri konseling kelompok yang kedua ini tidak lupa konseling menanyakan kepada S.F.R dan A.I.M pemahaman apa yang sudah diperoleh dari konseling kelompok ini, tak lupa juga pemimpin kelompok memberikan positive reinforcement berupa snack
yaitu beng-beng dan reinforcement verbal yaitu dengan kata kata membangun seperti bapak bangga dengan kamu nak, agar perilaku disiplin peserta didik dapat meningkat
f. Pertemuan Keenam
Pada pertemuan keenam atau konseling yang terakhir ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 23 November 2017 peneliti memberikan angket
disiplin sekolah (Posttest). posttest diberikan kembali untuk mengetahui seberapa meningkatnya perubahan perilaku peserta didik setelah diberikanya
treatment pada konseling kelompok yang terakhir ini pemimpin kelompok mengevaluasi seluruh
Dalam pertemuan ini sudah terlihat adanya perubahan perilaku peserta didik, peserta didik sudah mulai menampakan atau menampilkan perilaku barunya, kemudian pemimpin kelompok memberikan reinforcement positif dengan cara memberikan pujian kepada peserta didik tersebut pujian terus dilakukan agar perilaku peserta didik tersebut menetap, akan tetapi pemberian pujian tidak boleh berlebihan. setelah itu peneliti mengevaluasi kegitan konseling kelompok yang telah dilaksanakan pada pertemuan yang pertama dan terakhir. Peneliti juga memberikan kesempatan kepada para anggota kelompok untuk mengevaluasi hal apa yang sudah dilakukan oleh peserta didik setelah diberikanya treatment dan menanyakan hal-hal yang sudah dilakukan oleh peserta didik serta hambatan apa saja yang dihadapi. pemimpin kelompok menyimpulkan semua yang dilakukan dan diungkapkan oleh para anggota kelompok selama mengikuti kegitan ini sebelum kegiatan ini berakhir pemimpin kelompok meminta maaf kepada anggota kelompok dari pertemuan yang pertama sampai yang terakhir terdapat kesalahan, tidak lupa juga mengucapkan terimakasih kepada anggota kelompok yang sudah berkenan dan berpartisipasi hadir dalam pelaksanaan koseling kelompok dari awal pertemuan sampai akhir pertemuan, peneliti juaga menanyakan kembali
pemahaman apa yang sudah di peroleh dari kegiatan konseling kelompok, perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung, kesan yang diperoleh selama kegiatan kepada anggota kelompok. dari penjelasan proses konseling kelompok sebanyak empat kali rata-rata pelaksanaan konseling kelompok sudah dilaksanakan dengan baik dan sesuai prosedur konseling kelompok, setelah itu pemimpin kelompok mengakhiri proses konseling dan mengucap salam, lalu mengajak peserta didik untuk mengucap alhamdulilah.
Tabel 12
Perbandingan Skor Hasil Pretest Dan Posttest Prilaku Disiplin Sekolah
No subyek penelitian
pretest 1 posstest 1 Penaikan % Skor Kriteria skor kriteria
1 N.M 75 Rendah 82 Tinggi 7
2 G.R.A 70 Rendah 91 Tinggi 21
3 M.S.W 75 Rendah 82 Tinggi 7
4 A.I.M 53
Sangat
rendah 84 Tinggi 31
5 D.A.P 69 Rendah 81 Tinggi 12
6 M.Z.H 70 Rendah 80 Tinggi 10
7 A.S 66 Rendah 85 Tinggi 19
8 S.F.R 71 Rendah 85 Tinggi 14
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil pretest dan posttest
perilaku disiplin peserta didik di sekolah. Hasil pretest atau sebelum diberikan perlakuan konseling kelompok diperoleh nilai rata-rata skor sebesar 68,63 masuk dalam kategori rendah dan setelah dilakukan perlakuan konseling kelompok, hasil posttest menjadi 83,75 masuk dalam kategori tinggi Maka ini menunjukan adanya peningkatan perilaku disiplin peserta didik di sekolah setelah diberikannya layanan konseling kelompok dengan teknik positive reinforcement Berikut ini adalah grafik peningkatan perilaku disiplin peserta didik di sekolah
Grafik Peningkatan perilaku disiplin sekolah Peserta didik
Gambar 4 perbandingan skor pretest dan posttest perilaku disiplin sekolah
Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari setiap pertemuan layanan konseling kelompok dengan teknik Positive reinforcement dari pertemuan
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
N.M G.R.A M.S.W A.I.M D.A.P M.Z.H A.S S.F.R
1 2 3 4 5 6 7 8
Pretest Posttest
pertama sampai pertemuan keenam dapat dianalisis bahwa setiap anggota kelompok telah memahami tentang perilaku disiplin sekolah dan mengubah pola pikir irasional mereka tentang perilaku disiplin yang selama ini mereka lakukan menjadi lebih rasional.
Deskripsi pelaksanaan layanan konseling kelompok pada setiap pertemuan untuk setiap siswa dapat dijabarkan sebagai berikut
a. D,A,P
D.A.P merasa bahwa dirinya sering tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan karena ajakan teman diluar sekolah karena tidak merasa enak hati dan diapun sering kali bangun kesiangan, hal ini membuat peserta didik sering terlambat masuk sekolah dan apabila dia terlambat dia merasa malas untuk masuk sekolah dikarnakan takut akan hukuman yang di berikan kepada karena terlambat masuk sekolah
1. Pertemuan pertama
Pada pertemuan pertama, seperti biasa D,A,P dan anggota kelompok yang lain masih merasa tegang dalam mengikuti konseling kelompok karena pada dasarnya ini merupakan pengalaman pertama mereka dalam mengikuti kegiatan konseling kelompok. Oleh sebab itu, pemimpin kelompok memilih permainan yang membuat mereka tertarik sehingga dapat sedikit membuat mereka rileks. Setiap anggota kelompok mengungkapkan semua permasalahn mereka pada pertemuan pertama.
Permasalahan yang dialami DAP adalah terkait perilaku membolos tersebut. Anggota lain banyak yang memberikan saran kepada DAP dan pemimpin kelompok juga membantu mengarahkannya, meskipun anggota kelompok lain juga pernah atau bahkan memiliki masalah yang sama, tetapi saran yang mereka berikan juga untuk diri mereka sendiri. Pada pertemuan pertama pemimpin kelompok memberikan saran kepada setiap anggota kelompok khususnya kepada DAP untuk mengurangi perilaku membolos dengan cara merenungkan akan akibat dari perilaku membolos dan mencoba untuk tidak mengikuti hal yang bisa merugikan diri sendiri, Serta meminta anggota kelompok untuk saling mengingatkan ketika salah satu anggota kelompoknya lupa atau masih saja melakukan tindakan membolos
2. Pertemuan Kedua
pada pertemuan kedua DAP dan semua anggota melaporkan hasil dari yang di berikan oleh pemimpin kelompok namun DAP masih belum ada perubahan dalam perilaku mebolos dia masih belum bisa menolak ajakan teman bermainya dan masih sering terlambat masuk sekolah akan tetapi DAP sudah mulai mengerti dan tahu bahwa tindakan atau perilaku dia itu tidak baik disini pemimpin dan para anggota lainya memberikan pendapatnya lagi kepada DAP
terhadap perilaku tersebut agar DAP mengerti akan resiko atas tindakan dia
3. pertemuan ketiga
Pada pertemuan ketiga, D.A.P mulai sedikit ada perubahan pada minggu kemarin seperti datang tepat waktu saat masuk sekolah dan mulai bisa menolak ajakan teman untuk membolos disini peneliti memberi reiforcement verbal berupa bapak bangga pada kamu sekarang kamu sudah mulai ada perubahan pertahankan ya nak. dan pemimpin kelompok juga memberi hadiah berupa alat tulis agar perilaku disiplin DAP diharapkan menetap atau pun bertambah 4. Pertemuan keempat
Pada pertemuan keempat, DAP menunjukan perkembangan yang sangat baik jika dilihat dari pengamatan setiap harinya,
menunjukan penaikan perilaku disiplin terutama terhadap penurunan perilaku membolos yang cukup baik. Oleh sebab itu, pada pertemuan ini, pemimpin kelompok memberikan positive reniforcement berupa snack yaitu beng-beng dan reinforcemet verbal yaitu dengan kata kata membangun seperti bapak bangga dengan kamu nak, agar perilaku tersebut dapat di ulang atau menetap pada peserta didik
5. pertemuan kelima
Pada pertemuan kelima, DAP mengungkapkan rasa senangnya karena dirinya kini sudah bisa menolak ajakan teman dan mulai mengerti akan resiko apabila perilaku membolosnya masih seringkali dia lakukan, bahkan dirinya merasa sangat malu ketika dia sering kali di panggil oleh guru BK dikarnakan perilaku membolosny, DAP semakin paham bahwa perilaku tersebut sangat tidak baik dan akan sangat sulit dikendalikan ketika sudah menjadi kebiasaan, oleh sebab itu tugas DAP berikutnya adalah untuk membantu temannya yang berperilaku tersebut sesuai dengan pengalamannya.
Tabel 13 Perubahan Perilaku Disiplin DAP Setelah Melakukan Konseling Kelompok Dengan Teknik Positive Reinforcement
Subyek penelitian
Pretest Posttest
DAP 69 81
Pada tabel diatas tersebut, menunjukan skor perilaku disiplin DAP sebelum mengikuti treatment konseling kelompok adalah 69 masuk dalam kategori perilaku disiplin rendah, kemudian setelah mengikuti treatment konseling kelompok, berangsur-angsur perilaku disiplinya mulai menaik hingga menginjak skor 81 pada hasil psottest dan masuk dalam kategori perilaku disiplin yang tinggi.
Perubahan perilaku disiplin DAP juga dapat digambarkan pada grafik sebagai berikut;
Gambar 5 Grafik Perubahan prilaku disiplin DAP
Pada grafik tersebut menggambarkan kenaikan perilaku disipli sekolah DAP setelah mengikuti kegiatan konseling kelompok. Skor yang diperoleh sebelum diberikan perlakuan berada pada skor kategori perilaku disiplin yang rendah, pada posttest pertama samapai dengan Posttest ketiga skor perilaku disiplin DAP meningkat hingga masuk pada kategori perilaku disiplin yang tinggi. b. M.Z.H dan N.M sering kali berkelahi di kelas maupun lingkungan sekolah dikarnakan kurang bisa menahan emaosi dia apa bila ada hal yang dia tidak suka maka dia langsung marah dan meluapakan emosinya kepada orang dia tidak suka dia juga sering melakukan kejailan kepada temannya seperti meolok olok dan dia merasa ringan tanggan yaitu suka memukul teman dengan sengaja dia merasa perilaku ini tidak baik karena apabila perilaku ini berlanjut itu akan berakibat tidak baik pada dirinya
60 65 70 75 80 85 Pretest Posttest Series1 Series2
1. pertemuan pertama
Pada pertemuan pertama, MZH dan N.M cukup aktif dan antusias. MZH dan N.M sama sekali tidak merasa takut meskipun dirinya belum pernah mengikuti kegiatan konseling kelompok maupun berurusan dengan guru BK. MZH dan N.M pada pertemuan pertama langsung mengungkapkan masalahnya mengenai perilaku disiplin dia yang rendah terutama dia seringkali berkelahi di lingkungan sekolah . MZH dan NM berada pada skor disiplin rendah.
Permasalahan MZH adalah kurang bisa menahan emosi dia suka marah-marah dan juga dia merasa ringan tangan yaitu suka memukul teman sekelas walau pun menurut dia Cuma bercanda hal tersebut membuat teman temanya bayak yang menjauhinya sedangkan NM kurang bisa menahan emosi, apa bila dia diejek