III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.5. Pelaksanaan Penelitian
3.5.1. Pembuatan Larutan Stok NAA dan BAP
Pembuatan larutan stok 50 ppm NAA dilakukan dengan cara melarutkan 50 mg NAA dengan NaOH1 N sebanyak 5-10 tetes kemudian dipenuhi volumenya dengan aquades hingga mencapai 1 liter.
Pembuatan larutan stok 50 ppm BAP dilakukan dengan cara melarutkan 50 mg BAP dengan NaOH 1 N sebanyak 5-10 tetes, kemudian dipenuhi volumenya dengan air aquades hingga mencapai 1 liter.
3.5.2.Persiapan Benih
Kebutuhan benih bawang merah asal biji (True Shallot Seed) adalah 7,5 kg/ha atau 0,75 gr/m² atau 0,75 g/plot. Dalam penelitian ini ada 48 plot, jadi benih yang dibutuhkan adalah 36 gram. Dalam 1 gram benih terdapat lebih kurang 350 biji TSS. Jadi dalam 36 gram terdapat 12.600 biji TSS.
Perendaman benih bawang merah dalam larutan 50 ppm NAA + 50 ppm BAP dilakukan dengan cara mencampurkan larutan 50 ppm NAA dengan 50 ppm BAP dalam tabung Erlenmeyer (1000 ml) dengan volume larutan sebanyak 25 ml/0.75 gram benih. Kemudian menyiapkan 12 cawan petridish untuk persemaian selama 6 minggu agar dapat dipindah tanam pada umur bibit 6 minggu setelah semai (T4). 12 cawan petridish yang digunakan meliputi 3 petridish untuk perendaman benih dalam air tanpa aplikasi ZPT, 3 petridish untuk perendaman dalam air karena akan dilakukan penyemprotan dengan larutan ZPT pada umur 1, 3 dan 5 MSS, 3 petridish untuk perendalam larutan ZPT dan 3 petridish lagi untuk perendalam dalam larutan ZPT dan penyemprotanan pada 1,3 dan 5 MSS.
Biji bawang merah (TSS) dimasukkan dalam masing-masing petridish sebanyak 0,75 gram. 6 petridish ditambahkan air masing-masing sebanyak 25 ml (sampai semua benih terendam) untuk perlakuan tanpa aplikasi ZPT (Z0) dan perlakuan penyemprotan saja pada umur 1, 3 dan 5 MSPT (Z2). Dan 6 petridish lagi ditambahkan larutan ZPT (50 ppm NAA + 50 ppm BAP). Masing-masing petridish diisi sebanyak 25 ml larutan kombinasi ZPT tersebut (Gambar 2).
Perendaman biji dilakukan selama 30 menit, baik dalam larutan ZPT atau dalam air. Setelah 30 menit kemudian, biji disaring selanjutnya dikeringanginkan selama 1 jam. Biji yang tidak basah lagi dimasukkan dalam petridish kering dan siap untuk disemai dalam masing-masing baki yang telah disiapkan.
3.5.3. Persiapan Media Persemaian
Sebelum melakukan persemaian terlebih dahulu menyiapkan media untuk persemaian. Media yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1. Media tersebut diaduk sampai rata kemudian dimasukkan dalam baki persemaian. Baki persemaian yang digunakan berukuran 28 cm x 36 cm dengan tinggi 7,5 cm. Dalam satu baki persemaian tersebut disemai benih sebanyak 0,75 gram sesuai dengan kebutuhan untuk 1 plot percobaan. Jadi baki yang dibutuhkan adalah sebanyak 48 baki untuk keperluan 48 plot percobaan.
Dari 48 baki persemaian, 12 baki untuk persemaian pertama untuk pindah tanam umur 6 MSS (T4) dengan teknik aplikasi ZPT sesuai perlakuan. Selang waktu seminggu dilanjutkan dengan persemaian kedua
untuk pindah tanam umur 5 MSS dan begitu juga dengan persemaian untuk pindah tanam umur bibit 4 dan 3 MSS, sehingga waktu pindah tanam bibit ke lapangan dapat dilakukan serentak pada hari yang sama dengan umur bibit yang berbeda.
3.5.4. Penyemaian
Biji TSS dari masing-masing petridish disemai dalam masing-masing baki persemaian yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang (1:1). Penyemaian dilakukan secara larikan dengan jarak larikan 7 cm dengan kedalaman ± 1 cm. Setelah melakukan persemaian kemudianbaki persemaian diletakkan dilahan pembibitan yang sebelumnya telah dibuat naungan berupa plastik transparan. Semua baki persemaian ditutup dengan plastik hitam dan dibuka setelah 3 hari kemudian setelah semua biji telah berkecambah (Gambar 3 dan 4).
3.5.5. Pemeliharaan Persemaian
Pemeliharaan persemaian dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama, penyakit dan gulma. Penyiraman dilakukan pada hari keempat setelah persemaian karena media persemaian sudah mulai kering. Penyiraman dilakukan pada sore hari dengan menggunakan gembor.
Pupuk yang diberikan adalah pupuk NPK (15:15:15) sebanyak 0,2 gram per liter air dan disiram ke baki persemaian setiap seminggu sekali sampai bibit siap dipindahkan ke lapangan. Untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman di pembibitan dapat diberikan insektisida Azodrin
MSC dengan konsentrasi 2 cc/liter air dan fungisida Dithane M 45 dengan konsentrasi 2 g/liter air. Sedangkan pengendalian gulma dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh disekitar bibit dengan menggunakan tangan.
3.5.6. Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh
Pengaplikasian zat pengatur tumbuh dilakukan pada benih botani bawang merah (TSS) sesuai dengan perlakuan baik dengan perendaman benih seperti yang telah dijelaskan diatas maupun dengan teknik aplikasi dengan penyemprotan.
Penyemprotan dengan larutan zat pengatur tumbuh (NAA 50 ppm + BAP 50 ppm) dengan masing-masing volume sebanyak 1 liter dilakukan pada tanaman bawang merah umur 1, 3 dan 5 minggu setelah pindah tanam (MSPT). Penyemprotan dilakukan pada sore hari dengan menggunakan hand sprayer. Pada saat melakukan penyemprotan pada setiap perlakuan, pada setiapplot digunakan penutup plastik transparan sehingga tidak mempengaruhi plot yang lain (Gambar 11).
Volume penyemprotan dapat membasahi seluruh bagian daun dan seragam untuk setiapplot percobaan.Untuk setiap plot memerlukan dosis yang berbeda, hal ini disebabkan pemindahan tanaman dengan umur yang berbeda pertumbuhannya juga sangat berbeda. Perlakuan penyemprotanpada umur 1 MSPT (Minggu Setelah Pindah Tanam) memerlukan 25 ml ZPT per plot untuk setiap plot dengan umur bibit 3 MSS saat pindah tanam, 50 ml ZPT untuk plot 4 MSS, 75 ml ZPT untuk plot 5 MSS dan 100 ml ZPT untuk plot 6 MSS. Penyemprotan pada umur 3 MSPT memerlukan 50 ml ZPT per plot untuk plot 3 MSS, 75 ml untuk plot
4 MSS, 100 ml untuk plot 5 MSS dan 125 ml untuk plot 6 MSS. Pada perlakuan penyemprotan umur 5 MSPT memerlukan 50 ml untuk setiap plot umur 3 MSS saat pindah tanam, 125 ml untuk plot 4 MSS dan 150 ml untuk setiap plot 5 dan 6 MSS saat pindah tanam.
3.5.7. Naungan
Naungan diperlukan untuk melindungi bibit dari panas dan hujan, mengurangi evaporasi, serta menjaga kelembaban lingkungan mikro bibit TSS. Naungan yang digunakan berupa plastik fiber atau kasa plastik transparan dengan penyangga kayu. Dan naungan dibuka seminggu sebelum bibit dipindah tanam ke plot penanaman agar tanaman mendapatkan sinar matahari selama di pembibitan sehingga pada saat akan dipindahkan ke lapangan terbuka sudah dapat bertahan dan tanaman tidak langsung layu karena panas.
3.5.8. Pengolahan tanah dan Persiapan Lahan
Pengolahan tanah pada dasarnya dilakukan untuk menciptakan lapisan olah yang gembur dan cocok untuk budidaya bawang merah. Pengolahan tanah diperlukan untuk menggemburkan tanah, memperbaiki drainase dan aerase tanah, meratakan permukaan tanah dan mengendalikan gulma.
Lahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah lahan kering sehingga perlu diolah dengan baik. Pengolahan tanah dilakukan dua kali, pengolahan tanah pertama dilakukan sebulan sebelum penanaman, dua minggu kemudian diolah kembali sekaligus membuat bedengan atau plot.
Bedengan atau plot penanaman dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m dengan jarak antar plot 50 cm dan jarak antar ulangan 70 cm dengan jumlah keseluruhannya ada 48 plot.
3.5.9. Pemupukan
Setelah plot siap dibuat maka pemupukan dengan menggunakan pupuk organik (PIM Organik) sebagai pupuk dasar disebarkan diatas bedengan sebanyak 500 kg/ha (5 gr/m²). Perlakuan pemupukan ini dilakukan 2 minggu sebelum penanaman.
Sedangkan aplikasi pupuk anorganik dilakukan sebelum pemasangan mulsa plastik hitam perak dengan dosis masing-masing sebagai berikut : Urea 400 kg/ha, TSP 125 kg/ha dan pupuk KCl 150 kg/ha.TSP diberikan sekaligus dengan setengah bagian Urea dan KCl dengan cara disebar dan diratakan kemudian baru dipasang mulsa plastik. Sisa Urea dan KCl diberikan pada saat tanaman berumur 2 MSPT dengan cara disiram ke tanaman dengan dosis yang sama untuk setiap rumpun tanaman
3.5.10.Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak
Pemasangan mulsa plastik hitam perak (MPHP) dilakukan sehari sebelum tanam dan setelah pemberian pupuk anorganik sebagai pupuk dasar. Pemasangan mulsa plastik dilakukan pada pukul 10. 00 – 14.00 WIB pada saat matahari bersinar cerah agar bahan mulsa memuai maksimal dan menutup tanah serapat mungkin sehingga permukaan plastik akan rata dan melekat sempurna pada permukaan tanah.
3.5.11.Penanaman
Sehari sebelum melakukan penanaman, pada mulsa plastik hitam perak dibuat lobang dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm sesuai dengan jarak tanam bawang merah asal biji (TSS). Bibit dipindahkan ke lapangan untuk ditanam sesuai dengan perlakuan yang sebelumnya telah ditancapkan papan nama perlakuan sesuai dengan bagan percobaan (Lampiran 2).Penanaman dilakukan pada hari yang sama sesuai dengan umur bibit yang telah disemai.
3.5.12.Penyulaman
Penyulaman dilakukan 1 sampai 3 hari setelah pindah tanam. Penyulaman ini dilakukan karena ada tanaman yang mati saat pemindahan ke bedengan, terutama pada plot dengan umur bibit 3 minggu setelah semai (MSS). Bibit yang digunakan untuk penyulaman adalah sisa bibit yang ada pada masing-masing baki persemaian yang sesuai dengan masing-masing-masing-masing plot.
3.5.13.Pemeliharan Tanaman Setelah Pindah Tanam Bibit ke Lapangan
Sama halnya pada saat pemeliharaan persemaian, pemeliharaan tanaman dilapangan meliputi penyiraman, pengairan, pemupukan, dan pengendalian hama, penyakit dan gulma. Pengairan dalam saluran drainase dilakukan seminggu sekali apabila tidak ada hujan yang kegunaannya untuk menjaga tanah tetap lembab. Penyiraman dilakukan hanya satu kali sehari yaitu pada sore hari.
Pemupukan dilakukan sesuai dengan aplikasi pupuk seperti yang dijelaskan diatas. Penyiangan dilakukan apabila ada gulma yang dapat menembus mulsa plastik hitam perak dan gulma yang tumbuh disekitar lubang tanam. Pengendalian terhadap hama dan penyakit tanaman dilakukan secara terpadu. Apabila terjadi serangan berat boleh menggunakan pestisida. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida Dithane M.45 dengan konsentrasi 2 gr/l air. Sedangkan pengendalian hama dapat menggunakan insektisida Azodrin 15 MSC dengan konsentrasi 2 cc/l air. Insektisida tidak diberikan pada saat tanaman berumur 50 hari setelah tanam.
3.5.14.Panen dan Pasca Panen
Umur panen bawang merah asal biji varietas TUK TUK menurut deskripsi varietas tersebut adalah 85 HST apabila ditanam di dataran rendah. Namun jika dilihat sekitar 75% daun sudah mulai rebah atau kuning dan mengering dan batang leher umbi terkulai (Gambar 12).
Panen sudah dapat dilakukan mulai pada umur 75 HSPT pada bibit umur 4, 5 dan 6 MSS. Namun pada bibit umur 3 MSS, panen baru dapat dilakukan pada umur 82 HSPT. Panen dilakukan dengan mencabut umbi beserta akarnya kemudian ditimbang berat berangkasan basah dengan timbangan analitik. Satu minggu sebelum melakukan pemanenan terjadi hujan terus-menerus sehingga beberapa umbi bawang merah ada yang membusuk.
Teknik pasca panen dilakukan dengan cara menjemur umbi beserta daun dan akarnya atau dikeringanginkan selama satu minggu kemudian ditimbang sebagai berat berangkasan kering.
3.6. Pengamatan
Pengamatan terhadap perlakuan benih dilakukan setiap hari sejak benih direndam kemudian dikecambahkan dan siap disemaikan dalam baki-baki persemaian. Pengamatan dan pengumpulan data dimulai pada saat keluarnya akar (radikula) dan daun (plumula) hingga akhir penelitian.
3.6.1. Persentase (%) Daya Kecambah
Persentase perkecambahan menunjukan jumlah kecambah normal yang dapat dihasilkan oleh benih murni pada kondisi lingkungan tertentu dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Persentase daya kecambah biji botani (TSS) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Perkecambahan = Jumlah Kecambah yang tumbuh x 100% Total Jumlah Benih yang Diuji
Total jumlah benih yang diuji adalah 100 benih.
3.6.2. Tinggi tanaman (cm)
Pengamatan terhadap tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur pangkal batang (false stem) sampai daun tertinggi dengan menggunakan meteran. Tinggi tanaman diukur pada saat tanam, umur 15 , 30 dan 45 HSPT.
Jumlah daun per tanaman diperoleh dengan menghitung jumlah daun pada setiap tanaman sampel.Jumlah daun dihitung pada saat tanam, umur 15, 30 dan 45 HSPT.
3.6.4. Jumlah akar (buah)
Jumlah akar dihitung pada saatbibit dicabut dari baki persemaian pada saat hendak dipindah tanam ke plot dan pada waktu panen.
3.6.5. Jumlah Khlorofil Daun (unit)
Jumlah khlorofil daun bawang merah diukur dengan menggunakan alat Khlorofil meter.Klorofil meter SPAD adalah alat untuk mengukur khlorofil daun secara relatif yang dinyatakan dalam satuan unit.Cara menggunakan alat tersebut adalah dengan meletakkan alat khlorofil meter pada daun yang ke tiga dari daun yang baru muncul (dari daun paling atas) pada 3 tanaman sampel. Menggunakan garis pusat di kepala pengukur untuk meluruskan jendela kepala pengukur dan menempatkannya di atas daun untuk diukur. Kalau kepala ditutup di atas daun, meteran akan berbunyi, pengukuran digital akan muncul di layar, dan pembacaan akan disimpan dalam alat (Gambar 12). Pengamatan dilakukan saat tanaman berumur 50 hari setelah pindah tanam (HSPT).
3.6.6. Berat Brangkasan Basah (gram)
Berat brangkasan basah diukur dengan menimbang seluruh bagian tanaman termasuk daun, akar dan umbinya. Setelah panen, semua umbi bawang merah beserta daun dan akarnya dibawa ke laboratorium untuk ditimbang
berat brangkasan basah.Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan analitik. Berat brangkasan basah yang diukur adalah berat berangkasah basah per tanaman sampel dan berat berangkasan basah per plot (keseluruhan tanaman yang ada dalam masing-masing plot).
3.6.7. Berat Brangkasan Kering (gram)
Berat Brangkasan Kering diukur dengan menimbang seluruh bagian tanaman (berat total umbi, daun dan akar) setelah dikeringkan selama satu minggu setelah panen. Pengeringan dilakukan dengan cara dikeringanginkan diluar ruangan dan tidak terkena sinar matahari langsung. Berat brangkasan kering yang diukur adalah berat brangkasah kering per tanaman sampel dan berat berangkasan kering per plot (keseluruhan tanaman yang ada dalam masing-masing plot).
3.6.8. Diameter Umbi (cm)
Diameter umbi diukur pada saat panen dengan menggunakan jangka sorong dengan cara jangka sorong diletakkan pada bagian umbi yang terbesar atau bagian tengah.
3.6.9. Jumlah umbi (umbi)
Jumlah umbi dihitung pada saat panen dengan menghitung jumlah umbi pada setiap tanaman sampel.
3.6.10.Umur Panen (hari)
Umur panen bawang merah dihitung sejak persemaian sampai panen dengan satuan hari setelah semai (HSS) dan setelah pindah tanam bibit dengan satuan hari setelah pindah tanam (HSPT)dengan melihat kriteria
panennya yaitu jika 70-75% daun sudah mulai rebah, kuning dan mengering. Panen pertama dilakukan pada umur 75 HSPT dan panen kedua pada umur 82 HSPT.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN