• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

4.1 Persentase Daya Kecambah (%)

Data pengamatan terhadap persentase daya kecambah benih disajikan pada Lampiran 4, 6, 8 dan 10. Hasil uji T (Lampiran 5, 7, 9 dan 11)menunjukkan bahwa perendaman benih TSS dalam larutan ZPT (kombinasi 50 ppm NAA dan 50 ppm BAP) dan dalam air berbeda nyata. Hal ini diduga karena benih TSS yang digunakan adalah benih yang bermutu dengan daya kecambah 83%. Sesuai dengan keterangan yang ada pada label benih dan sesuai dengan diskripsi benih TSS varietas TUK TUK yang dikeluarkan oleh Departemen Kementerian Pertanian (Lampiran 3). Daya berkecambah benih TSS yang dihasilkan pada perlakuan BAP 50–100 ppm di atas standar sertifikasi mutu benih (75%) yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Perbenihan (2007), yaitu mencapai 85,04-86,75%. Data ini menunjukkan bahwa aplikasi ZPT pada konsentrasi tersebut memberikan mutu benih yang baik.

Rata-rata persentase daya kecambah dengan perlakuan perendaman dalam air (Z0) dan perendaman dalam larutan ZPT (kombinasi 50 ppm NAA dan 50 ppm BAP) (Z1) tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata persentase daya kecambah (%) dengan perlakuan perendaman dalam air (Z0) dan perendaman dalam larutan ZPT (Z1)

Perlakuan

% Daya Kecambah

Minggu

Z0 (Perendaman dalam air) 85.83 84.83 84.17 85.33 Z1(Perendaman dalam larutan ZPT) 86.67* 86.83* 86.67* 86.83*

Keterangan : * : Daya kecambah benihnya lebih tinggi

Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa rata-rata persentase daya kecambah biji bawang merah akibat pengaruh perlakuan perendaman dalam larutan ZPT (NAA 50 ppm + BAP 50 ppm) (Z1) lebih tinggi dibandingkan dengan perendaman dalam air (Z0). Hal ini disebabkan karena zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin dapat meningkatkan daya kecambah benih. Sesuai dengan pendapat Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa fungsi lain dari sitokinin dan auksin adalah mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar; mendorong pembelahan sel dan pertumbuhan secara umum, mendorong perkecambahan; dan menunda penuaan. Wattimena (1998) menambahkan bahwa auksin secara eksogen akan mempengaruhi kadar auksin endogen, pemberian ZPT pada konsentrasi tertentu akanmenstimulasi pertumbuhan, karena merubah level hormon endogen. 2,4D dapat mempengaruhi hormon-hormon yang berperan dalam perkecambahan benih seperti auksin, giberralin dan sitokinin yang akan mempengaruhi aktivitas enzim sehingga membantu perkecambahan biji. Menurut Hassani et al., (2009), Subbiah dan Reddy (2010), sitokinin (BAP, BA, dan kinetin) juga berperan dalam merangsang perkecambahan benih tanaman yang diaplikasikan langsung pada benih (seed treatment).

Kemampuan biji berkecambah dipengaruhi oleh aktivitas metabolisme yang terjadi di dalam benih setelah imbibisi dan sangat ditentukan juga oleh peranan enzim.Biji tetap dapat tumbuh meskipun tanpa penambahan ZPT, hal

tersebut karena didalam biji tersebut sudah memiliki hormon endogen, namun dalam konsentrasi yang kecil sehingga persentase pertumbuhan dan perkembangan biji terbatas (Lestariet al., 2013). Menurut Cambell et al., (2000) perkecambahan benih bergantung pada proses penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan memicu perubahan metabolik pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Auksin dan sitokinin, akan meningkatkan aktivitas hormon geberellin, enzim α dan β amilase yang ada dalam embrio benih, kemudian terjadi hidrolisis pati yang nantinya akan dikonsumsi selama pertumbuhan embrio menjadi kecambah dan bibit.

4.2. Tinggi Tanaman

Data pengamatan rata-rata tinggi tanaman bawang merah pada saat tanam, umur 15, 30 dan 45 HSPT (Hari Setelah Pindah Tanam) disajikan pada Lampiran 12, 14, 16 dan 18. Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 13,15, 17 dan 19) menunjukkan bahwa teknik aplikasi ZPT berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman pada saat tanam, umur 15, 30 dan 45 HSPT sedangkan umur bibit saat pindah tanam berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman saat tanam, umur 15, 30 dan 45 HSPT dan tidak terdapat interaksi yang nyata.

Rata-rata tinggi tanaman bawang merah asal biji pada saat tanam, umur 15, 30 dan 45 HSPT akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT (Z) dan umur bibit saatpindah tanam(T) tertera pada Tabel 3.

Tabel 3 menunjukkan bahwa teknik aplikasi zat pengatur tumbuh tidak berpengaruh terhadap peningkatan tinggi tanaman bawang merah asal biji baik pada saat tanam, umur 15, 30 dan 45 hari setelah pindah tanam. Rata-rata tinggi

tanaman bawang merah pada saat tanam adalah 22,76 cm dengan perendaman benih dalam air biasa (Z0) dan 25,31 cm dengan perendaman dalam larutan ZPT (Z1), 22,82 cm dengan perlakuan penyemprotan tanaman dengan larutan ZPT pada umur 1, 3 dan 5 minggu setelah pindah tanam (MSPT), dan 23,77 cm dengan perlakuan perendaman benih dalam larutan ZPT dan penyemprotan tanaman dengan larutan ZPT pada umur 1, 3 dan 5 MSPT. Demikian juga halnya dengan tinggi tanaman umur 15, 30 dan 45 HSPT.

Tabel 3. Rata-rata tinggi tanaman bawang merah pada saat tanam, 15, 30 dan 45 HSPT akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT (Z) dan umur bibit saat pindah tanam (T) Teknik Aplikasi ZPT Tinggi Tanaman (cm) Saat Tanam 15 HSPT 30 HSPT 45 HSPT Z0 22.76 22.75 26.26 30.24 Z1 25.31 24.44 31.27 33.84 Z2 22.82 22.09 23.66 32.67 Z3 23.77 23.86 24.83 30.56 Umur Bibit Saat Pindah Tanam Tinggi Tanaman (cm) Saat Tanam 15 HSPT 30 HSPT 45 HSPT T1 13.392 c 15.052 d 24.497 c 36.200 b T2 22.939 b 22.602 c 37.142 b 48.657 a T3 26.504 b 25.667 b 42.380ab 54.032 a T4 31.829 a 29.815 a 46.298 a 52.163 a

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf P≤0,05 (Uji Tukey)

Hasil tersebut mengindikasikan bahwa semua perlakuan teknik aplikasi ZPT tidak dapat meningkatkan tinggi tanaman. Hal ini mungkin disebabkan karena konsentrasi kombinasi 50 ppm NAA + 50 ppm BAP dengan masing-masing volume sebanyak 1 liter konsentrasinya masih sangat rendah sehingga belum dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman atau diduga karena pengaruh perlakuan teknik aplikasi zat pengatur tumbuh baik dengan teknik perendaman benih atau penyemprotan pada tanaman belum dapat mempengaruhi pertumbuhan

tanaman.Menurut Rosliani et al., (2005) bahwa penyemprotan zat pengatur tumbuh pada tanaman bawang merah kurang efektif dibandingkan dengan cara perendaman, hal ini diduga karena morfologi dari tanaman bawang merah yang berdaun tegak dan licin mengandung lapisan kutikula yang tebal sehingga larutan ZPT yang disemprot tidak masuk dalam jaringan tanaman.

Tabel 3 juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruhyang sangat nyata akibat perlakuan umur bibit saat pindah tanam (T) terhadap tinggi tanaman. Tinggi tanaman bawang merah tertinggi pada saat tanam, umur 15 dan 30 HSPT dijumpai pada perlakuan umur bibit 6 MSS saat pindah tanam (T4) dan diikuti oleh T3 (umur bibit 5 MSS) dan T2 (umur bibit 4 MSS) dan tinggi tanaman terendah dijumpai pada T1 (umur bibit 3 MSS). Namun pada umur 45 HSPT tanaman tertinggi dijumpai pada T3 (umur bibit 5 MSS) dan terendah tetap pada T1 (umur bibit 3 MSS). Hal ini diduga bibit yang berumur 6 MSS (T4) pada umur 45 HSPT masa pertumbuhan vegetatifnya sudah terhenti atau sudah memasuki tahap pertumbuhan generatif atau pertumbuhan reproduktif yaitu dengan menampakkan umbinya yang sudah mulai membelah dari satu anakan menjadi 2, 3, 4, 5, 6 sampai 10 anakan/umbi (Gambar 18 s/d 24). Sesuai degan pendapat Gardner et al., (1985) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif pada tanaman semusim umumnya diakhiri oleh pertumbuhan generatif (pertumbuhan reproduksi). Daun, batang dan bagian-bagian vegetatif lainnya tidak hanya gagal untuk bersaing dalam hal hasil asimilasi yang diproduksi selama memasuki pertumbuhan generatif (reproduksi), tetapi sampai batas tertentu mungkin menyumbangkan karbon dan mineral yang telah ditimbun sebelumnya melalui proses mobilisasi dan redistribusi.

Dokumen terkait