9 Penghamparan dan pemadatan
9.3 Penghamparan
9.3.3 Pelaksanaan penghamparan
Dalam pelaksanaan penghamparan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu koordinasi antara lapangan dengan unit pencampur aspal (AMP), pengaturan sepatu (screed) serta pekerjaan perapihan secara manual. Pengawasan yang dilakukan meliputi pengawasan temperatur, pengawasan tampak permukaan, pengawasan geometri dan sambungan.
a) Koordinasi antara unit pencampur aspal (AMP) dengan Lapangan
Keseragaman dan kontinuitas penghamparan akan memberikan kualitas perkerasan yang baik. Untuk menjaga kontinuitas penghamparan maka diperlukan koordinasi antara lapangan dengan unit pencampur aspal (AMP). Misalnya selang waktu pengiriman yang terlalu lama akan menyebabkan sambungan dan tekstur kurang baik karena campuran beraspal yang dihampar sudah dingin. Sebaliknya jika truk yang dikirim terlalu cepat akan menyebabkan terjadi antrian truk di lapangan. Selama menunggu tersebut kemungkinan terjadi penurunan temperatur. Tidak ada keuntungan juga jika menjalankan alat penghampar (finisher) dengan kecepatan penuh melebihi kecepatan produksi dari unit pencampur aspal (AMP). Informasi-informasi yang diperlukan antara lain meliputi rencana produksi dan waktu penghentian sementara. Koordinasi yang baik selama pelaksanaan penghamparan dapat dilakukan jika di lapangan tersedia alat komunikasi. Dengan alat komunikasi tersebut, hal-hal penting lainnya juga dapat diinformasikan dengan segera seperti penyetopan produksi karena akan turun hujan, ada kemacetan lalu-lintas dan lain sebagainya.
b) Pengaturan ketebalan dan kemiringan melintang
Jika hasil penghamparan sudah menunjukkan hasil tekstur yang seragam, ketebalan dan kemiringan melintang yang sesuai maka tidak diperlukan pengaturan sepatu (screed), khususnya untuk alat penghampar dengan pengontrolan manual. Akan tetapi bila diperlukan pengaturan screed, maka harus dilakukan secara bertahap. Karena kondisi keseimbangan (equilibrium) baru dapat tercapai kurang lebih setelah alat penghampar (finisher) bergerak sejauh 5 kali panjang lengan screed. Pengaturan screed diusahakan sejarang mungkin, karena selama proses menuju keseimbangan (equilibrium) tersebut hasil yang diperoleh kurang sesuai baik ketebalan maupun teksturnya karena sudut gesek antara pelat screed dengan campuran beraspal berubah. Penyesuaian ketebalan secara manual yang terlalu sering akan menyulitkan penyambungan arah memanjang. Jika tekstur yang dihasilkan kurang baik maka lakukan pemeriksaan pada screed dengan petunjuk-petunjuk seperti telah di bahas sebelumnya pada Pasal 9.3.1. Tebal lapisan padat harus lebih besar dari dua kali ukuran agregat terbesar. Hal ini adalah untuk menjamin agar agregat berukuran maksimum dapat saling kunci secara rapat dengan agregat yang berukuran lebih kecil.
163 dari 197
c) Pengaturan lebar penghamparanLebar penghamparan harus disesuaikan sehingga untuk penghamparan lapis per lapis, maka sambungan tidak terletak pada satu garis vertikal untuk tiap lapisnya. Misalnya untuk penghamparan dua lajur. Pada lapis pertama penghamparan pada lajur ke-1 dilebihkan lebarnya sekitar 10 cm (lebar penghamparan 3,60 m) ke arah sambungan. Selanjutnya pada penghamparan lapis kedua maka penghamparan pada lajur ke-1 dikurangkan lebarnya sekitar 10 cm (lebar penghamparan 3,40 m) ke arah sambungan. Perbedaan posisi sambungan tersebut paling sedikit sejauh 15 cm. Jika diperlukan pengurangan lebar penghamparan maka pemotong sepatu (cut-off shoe) dapat dipasang pada satu sisi screed. Pada penambahan lebar penghamparan, maka pada bagian pelebaran tersebut harus terjangkau auger (ulir pembagi) untuk menghindari terjadinya segregasi
d) Sambungan
Sambungan pada pekerjaan campuran beraspal dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu sambungan melintang dan sambungan memanjang. Sambungan melintang adalah sambungan yang dibuat melintang perkerasan jalan dan sambungan memanjang adalah sambungan searah perkerasan jalan (searah lalu-lintas).
- Sambungan melintang
Bentuk sambungan melintang yang dibuat sangat tergantung dari apakah perkerasan tersebut dilewati lalu-lintas atau tidak. Jika perkerasan tersebut tidak dilewati lalu-lintas maka pada akhir penghamparan sambungan dapat dibuat tegak, sementara jika akan dilewati lalu-lintas maka sambungan tersebut harus dibuat membentuk taper (miring) sebagai peralihan ketebalan. Sambungan tegak dapat dibuat dengan memasang balok kayu atau baja siku. Pemasangan ini untuk menjamin pemadatan pada lokasi penyambungan memenuhi persyaratan. Jika dibuat sambungan yang membentuk taper atau miring, maka pada saat akan dimulai penghamparan baru, bagian miring tersebut harus dibuang dan sisinya dibuat tegak dengan alat pemotong (cutter atau jack hammer). Panjang dari taper tersebut umumnya mempunyai perbandingan 12 : 1 terhadap tebal hamparan. Untuk tebal penghamparan 25 mm maka panjang taper sekurang-kurangnya 300 mm. Sebelum penghamparan sisi tegak pada sambungan dilapis dengan lapis perekat (tack coats).
Metoda lain untuk membuat sisi tegak pada sambungan tersebut adalah dengan meletakkan kertas pada sambungan tersebut. Panjang kertas tersebut umumnya antara 1 m sampai 1,5 m dengan lebar sesuai dengan lebar penghamparan. Sebelum penghamparan baru dimulai maka kertas tersebut diambil dan campuran beraspal di atasnya dibuang sehingga diperoleh sambungan dengan sisi tegak. Metoda lain dapat dikembangkan dengan prinsip sambungan harus mempunyai sisi tegak. Metoda pembuatan sambungan melintang yang tegak diperlihatkan pada Gambar 87.
Pada tempat-tempat tertentu yang tidak terjangkau alat penghampar, misalnya sambungan dengan struktur seperti dek jembatan, maka campuran beraspal dihampar secara manual. Pekerjaan secara manual ini memerlukan keahlian agar tidak terjadi segregasi.
Tebal penghamparan sekitar 9 mm lebih tinggi dari elevasi target untuk tiap 25 mm tebal padat. Misalkan target penghamparan 50 mm maka tebal gembur sekitar 68 mm, tentunya angka tersebut dapat berubah bergantung dari karakteristik campuran beraspal.
164 dari 197
Gambar 87 Metoda pembuatan sambungan melintang
- Sambungan memanjang
Sambungan memanjang diperlukan jika penghamparan dilakukan dalam beberapa lajur. Sambungan ini dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu sambungan panas dan sambungan dingin. Sambungan panas dapat dilakukan jika alat penghampar (finisher) menghampar berbarengan pada dua sisi. Sementara pada sambungan dingin, salah satu telah selesai dipadatkan (dingin) dan baru kemudian dilakukan penghamparan pada sisi sebelahnya.
Gambar 88 Pemotongan sambungan memanjang (US Army, 2000)
Belum dipadatkan Sudah dipadatkan
(b) Sambungan melintang dengan dipotong tegak (a) Sambungan melintang dengan balok
balok
Bidang potong
Taper sementara untuk kenyamanan lalu-lintas
165 dari 197
Pada sambungan panas, finisher yang lebih belakang membuat penghamparan yang overlap dengan penghamparan finisher di depannya sekitar 25 mm sampai 50 mm. Keuntungan dari metoda ini adalah sambungan memanjang akan terbentuk otomatis dengan ketebalan yang sama dan pemadatan dapat dilakukan berbarengan. Kondisi ini dapat dilakukan jika kondisi lalu-lintas memungkinkan. Seperti halnya pada sambungan melintang maka pada sambungan dingin, prinsip yang dipegang adalah sisi sambungan harus tegak. Untuk itu dapat dilakukan pemasangan balok kayu atau baja siku secara memanjang dengan tinggi sesuai dengan tebal padat rencana. Pada umumnya lebih disukai pemakaian baja siku dibanding balok kayu, karena balok kayu cepat melenting dan cepat rusak. Alternatif lain adalah dengan pemotongan memanjang sekitar 50 mm sampai 150 mm dari tepi dengan alat pemotong seperti diperlihatkan pada Gambar 88. Pada sisi tegak tersebut dilapis dengan lapis perekat (tack coats) dan penghamparan yang baru dilebihkan sekitar 25 mm sampai 50 mm ke penghamparan sebelumnya (overlap).
Pada proyek jalan tol telah umum dilakukan pembuatan sambungan memanjang dengan alat bantu baja siku untuk memperoleh sisi sambungan yang tegak. e) Pekerjaan perapihan
Pekerjaan perapihan dengan penebaran campuran beraspal secara manual, hanya boleh dilakukan jika penghamparan dengan alat finisher tidak bisa dilakukan dengan baik. Penebaran dengan tangan harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari terjadinya segregasi/pemisahan antara butiran kasar dan halus. Bagaimanapun akan ada perbedaan tekstur permukaan antara penebaran secara manual dibanding dengan menggunakan alat penghampar. Kadang-kadang dilakukan penebaran agregat setelah campuran keluar dari alat penghampar (finisher) karena hasilnya terlihat bertekstur kurang baik. Hal tersebut harus dicegah dan segera lakukan pemeriksaan terhadap alat penghampar (finisher) untuk mencari penyebab dari hamparan yang kurang baik tersebut. Pekerjaan perapihan kadang-kadang diperlukan khususnya pada pekerjaan sambungan.
f) Pemeriksaan penghamparan - Temperatur
Temperatur campuran beraspal harus diperiksa pertama kali di atas truk. Berikutnya diadakan pemeriksaan temperatur setelah campuran beraspal dihampar dengan selang jarak tertentu.
- Tekstur permukaan
Tekstur yang terbuka dapat disebabkan oleh campuran beraspal terlalu dingin, jika terjadi pada awal penghamparan kemungkinan pelat screed tidak dipanaskan. Jika tekstur terbuka tersebut terjadi pada perpanjangan screed, maka alinyemen perpanjangan pada auger dan pemadat tumbuk atau getar harus diperiksa. Tekstur yang terbuka dan ada jejak-jejak (scuff) menunjukkan kemungkinan campuran beraspal telah dingin atau kekeliruan dalam pengaturan posisi penumbuk (tamping bar). Secara lebih detil hal ini dibahas pada Pasal 9.3.1 alat penghampar (finisher).
- Kerataan permukaan
Penghamparan yang tidak kontinyu dapat menyebabkan permukaan tidak rata terutama pada sambungan melintang. Gradasi yang tidak sesuai, perubahan kecepatan penghamparan, dan dorongan dari truk juga dapat menyebabkan permukaan tidak rata. Kerataan permukaan dapat diukur dengan alat mistar datar (straight edge) 3 m atau secara visual, dan segera lakukan perbaikan.
166 dari 197
- KetebalanKetebalan hamparan campuran beraspal dalam kondisi gembur dapat diukur dengan batang penyolok yang telah diberi tanda ketebalan. Seperti halnya perubahan tekstur, maka perubahan ketebalan juga dapat disebabkan oleh terganggunya keseimbangan (equilibrium) pelat screed. Gangguan tersebut dapat berupa perubahan kecepatan, perubahan kuantitas campuran yang masuk ke pelat screed, perubahan temperatur campuran, dan penghentian alat penghampar. Secara lebih detil hal tersebut dibahas pada Pasal 9.3.1.
- Kemiringan melintang dan memanjang
Kemiringan melintang dan memanjang harus diperhatikan terlebih pada daerah tikungan. Penyebaran campuran beraspal pada tepi dan tengah harus merata, sehingga saat pemadatan akan diperoleh penurunan yang seragam.
- Sambungan melintang dan memanjang
Pada prinsipnya sambungan harus dibuat tegak dan tidak ada perbedaan tinggi. Secara lebih detil mengenai penyambungan telah dibahas sebelumnya.