• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAPORAN PAJAK

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 155-161)

Indikator Keberhasilan

 Merangkum fungsi SPT, jenis, bentuk, dan pengisianSPT

 Menjelaskan pengambilan, pengisian, penyampaian dan batas waktu

penyampaian SPT

 Menjelaskan ketentuan perpanjangan penyampaian SPT

 Merangkum pembetulan dan pengungkapan ketidakbenaran SPT

Uraian dan Contoh

Pembayaran pajak adalah tahap kedua dalam CircumNavigation UU KUP

sebagaimana dalam Gambar 5­1.

Gambar 5­1 Kedudukan Pelaporan Pajak dalam CircumNavigation UU KUP

Pelaporan pajak diatur dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 8 Undang­Undang KUP. Pasal 7 Undang­Undang KUP akan dibahas dalam

KEGIATAN BELAJAR 5

kegiatan belajar SKP, STP, dan Penagihan. Pelaporan pajak dapat dijelaskan sebagaimana Gambar 5­2.

KUP

Gambar 5­2 Bagan Pelaporan, Penyetoran, Pembetulan, dan Pengungkapanketidakbenaran SPT

SPT dan Fungsinya

Pasal 1 angka 11 Undang­Undang KUP mendefinisikan SPT adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan.

Pasal 1 angka 12 Undang­Undang KUP membagi jenis SPT terdiri dari dua yaitu SPT Masa dan SPT Tahunan. SPT Masa adalah SPT untuk suatu Masa Pajak.

Pasal 1 angka 13 Undang­Undang KUP mendefinisikan SPT Tahunan adalah SPT untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.

Batang tubuh Undang­Undang KUP tidak mengatur apa fungsi SPT, fungsi SPT terdapat dalam penjelasan Pasal 3 ayat (1) Undang­Undang KUP, sebagai berikut.

 Bagi Wajib Pajak Pajak Penghasilan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:

a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak;

b. penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak; c. harta dan kewajiban; dan/atau

d. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam satu Masa Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan.

 Bagi PKP, fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang:

a. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran; dan

b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh PKP dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan.

KUP

 Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.

Kewajiban Mengisi SPT

Pasal 3 ayat (1) Undang­Undang KUP mengatur bahwa setiap Wajib Pajak wajib

mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia

dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan

menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. Yang dimaksud dengan mengisi SPT adalah mengisi formulir SPT, dalam bentuk kertas dan/atau dalam bentuk elektronik, dengan benar, lengkap, dan jelas sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan. Sementara itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi SPT adalah:1

a. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya;

b. lengkap adalah memuat semua unsur­unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur­unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT; dan

c. jelas adalah melaporkan asal­usul atau sumber dari objek pajak dan unsur­ unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT.

SPT yang telah diisi dengan benar, lengkap, dan jelas tersebut wajib disampaikan ke kantor DJP tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. Kewajiban penyampaian SPT oleh pemotong atau pemungut pajak dilakukan untuk setiap Masa Pajak.

Pasal 3 ayat (1b) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Wajib Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah, wajib menyampaikan SPT dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan satuan mata uang selain

Rupiah yang diizinkan, yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan PMK.

Penandatanganan SPT

Pasal 3 ayat (1b) Undang­Undang KUP mengatur bahwa penandatanganan SPT dapat dilakukan secara biasa, dengan tanda tangan stempel, atau tanda tangan

elektronik atau digital, yang semuanya mempunyai kekuatan hukum yang sama, yang tata cara pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan PMK.2

Pasal 4 ayat (2) Undang­Undang KUP mengatur bahwa SPT Wajib Pajak badan

harus ditandatangani oleh pengurus atau direksi. SPT yang disampaikan wajib ditanda tangani oleh Wajib Pajak atau Kuasa Wajib Pajak.3 Hal ini untuk

mengimbangi ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang­Undang KUP yang hanya mengatur Wajib Pajak badan saja, padahal dalam kenyataan selain Wajib Pajak badan juga terdapatWajib Pajak orang pribadi atau bendahara pemerintah yang juga mempunyai kewajiban menyampaikan SPT masa.

Pasal 4 ayat (3) Undang­Undang KUP mengatur bahwa dalam hal Wajib Pajak

menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi dan menandatangani SPT, surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada SPT.

Pasal 3 ayat (7a) Undang­Undang KUP mengatur bahwa apabila SPT disampaikan tetapi tidak ditandatangani maka berdasarkan Pasal 4 ayat (3)

Undang­Undang KUP SPT dianggap tidak disampaikan. Terhadap SPT yang

dianggap tidak disampaikan tersebut, Dirjen Pajak wajib memberitahukan

kepada Wajib Pajak.

Wajib Pajak Yang Dikecualikan Menyampaikan SPT

Pasal 3 ayat (8) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT adalah Wajib Pajak Penghasilan tertentu yang diatur dengan atau berdasarkan PMK.4 Pada prinsipnya setiap Wajib Pajak Pajak

Penghasilan diwajibkan menyampaikan SPT, dengan pertimbangan efisiensi atau pertimbangan lainnya, Menteri Keuangan dapat menetapkan Wajib Pajak Pajak

2 PMK 181/PMK.03/2007 sebagaimana diubah PMK Nomor 152/PMK.03/2009 3 Pasal 6 PMK 181/PMK.03/2007

KUP

Penghasilan yang dikecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT, misalnya Wajib Pajak orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak, tetapi karena kepentingan tertentu diwajibkan memiliki NPWP.5

Wajib Pajak Pajak Penghasilan tertentu adalah Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:6

a. Wajib Pajak orang pribadi yang dalam satu Tahun Pajak menerima atau

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 155-161)