• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAYANAN KESEHATAN

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN Kesehatan Aceh TH. 2011 (Halaman 33-57)

SITUASI UPAYA KESEHATAN

A. PELAYANAN KESEHATAN

Pelayanan kesehatan masyarakat dilakukan melalui beberapa kegiatan program yang dilakukan di fasilitas kesehatan, baik fasilitas kesehatan dasar (puskesmas dan jaringannya) maupun fasilitas rujukan

(RSUD/pemerintah dan swasta). Program prioritas yang masih menjadi primadona di sector kesehatan antara lain kesehatan ibu dan anak, gizi, imunisasi dan pemberantasan penyakit menular. Penetapan Prioritas ini berkaitan dengan kesepakatan dunia yang yang mengutamakan pada upaya percepata target pembangunan milinium di tahun 2015. Semua Negara konsen untuk akserasi pencapaian target tersebut dengan strategi dan komitment yang tinggi. Demikian juga halnya di Indonesia khususnya bidang kesehatan, melalui strategi yang disepakati secara nasional dan di tindak lanjuti oleh daerah dengan rencana aksi masing-masing sesuai kemampuan dan kondisi lokal. Di Aceh, strategi dan rencana aksi daerah untuk upaya percepatan pencapaian target milinium inijuga sudah secara terus menerus dilakukan. beberapa indikator proksi yang akan di sampaikan berikut ini adalah merupakan indikator output untuk menggambarkan sejauh mana upaya pelayanan kesehatan yang telah dicapai hungga saat ini sebagai proyeksi untuk pencapaian target millennium di tahun 2015 yang akan datang. Selain indikator untuk pencapaian target pembangunan millinium juga akan diuraikan indikator lain sebagaimanan tertuang dalam SPM Kesehatan sesuai Permenkes tahun 2008, serta indikator penting lainya sesuai dengan indikator kinerja program pemerintah dalam hal ini SKPA dinkes Aceh. Capaian kinerja bidang kesehatan di Aceh tahun 2011 dapat di uraiakan

1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K-1)

Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 adalah Cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar pada trimester pertama kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil pada masa kehamilan.

Indikator K1 menunjukkan akses pelayanan kesehatan ibu hamil kepada tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Standar minimal yang ditetapkan untuk pelayanan kehamilan adalah 1 kali

pada trimester I & 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester ke III. Standar ini terpenuhi dan bermakna terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K1) pada tahun 2011 meningkat (95,3), dibandingkan dari tahun 2009 dan tahun 2010.

Grafik 4.1

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K-1) Provinsi Aceh Tahun 2011

Dari grafik tersebut diatas kecenderungan peningkatan akses pelayanan kesehatan ibu hamil cukup baik, dan mencapai target SPM yang ditetapkan.

2. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil ( K-4 )

Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan pada trimester ke tiga sebanyak 2 kali.

Pelayanan minimal yang diberikan mencakup: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah, (3) Skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus Toksoid), (4) (ukur) tinggi fundus uteri, (5) Pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan), (6) temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling), (7) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC).

pada trimester I & 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester ke III. Standar ini terpenuhi dan bermakna terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K1) pada tahun 2011 meningkat (95,3), dibandingkan dari tahun 2009 dan tahun 2010.

Grafik 4.1

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K-1) Provinsi Aceh Tahun 2011

Dari grafik tersebut diatas kecenderungan peningkatan akses pelayanan kesehatan ibu hamil cukup baik, dan mencapai target SPM yang ditetapkan.

2. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil ( K-4 )

Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan pada trimester ke tiga sebanyak 2 kali.

Pelayanan minimal yang diberikan mencakup: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah, (3) Skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus Toksoid), (4) (ukur) tinggi fundus uteri, (5) Pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan), (6) temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling), (7) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC).

pada trimester I & 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester ke III. Standar ini terpenuhi dan bermakna terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K1) pada tahun 2011 meningkat (95,3), dibandingkan dari tahun 2009 dan tahun 2010.

Grafik 4.1

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K-1) Provinsi Aceh Tahun 2011

Dari grafik tersebut diatas kecenderungan peningkatan akses pelayanan kesehatan ibu hamil cukup baik, dan mencapai target SPM yang ditetapkan.

2. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil ( K-4 )

Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan pada trimester ke tiga sebanyak 2 kali.

Pelayanan minimal yang diberikan mencakup: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan, (2) Ukur tekanan darah, (3) Skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus Toksoid), (4) (ukur) tinggi fundus uteri, (5) Pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan), (6) temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling), (7) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC).

Pada Grafik 4.2 dibawah ini menggambarkan bahwa cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K4) meningkat, dibandingkan dari tahun 2009 dan 2010. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa kelompok sasaran, mudah untuk mendapatkan pelayanan dengan ketersediaan sarana dan tenaga kesehan yang memadai, mulai dari pelayanan pada bidan di desa sampai ke pelayanan puskesmas dan jaringannya. Untuk kasus-kasus kehamilan resiko tinggi yang tidak dapat dilayani di puskesmas dan jaringannya akan dirujuk ke fasilitas yang lebih tinggi yaitu rumah sakit umum daerah.

Grafik 4.2

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil Provinsi Aceh Tahun 2011

Pada grafik diatas terlihat peningkatan capaian dari tahun 2009-2011 namun belum mencapai target SPM yang ditetapkan. Ke dua indikator tersebut diatas (K1-K4) memberi gambaran terdapat aksesibilitas pelayanan kesehatan ibu hamil tehadap fasilitas dan SDM kesehatan yang ada.

3. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Jumlah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai

70 75 80 85 90 Tahun 2009

Pada Grafik 4.2 dibawah ini menggambarkan bahwa cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K4) meningkat, dibandingkan dari tahun 2009 dan 2010. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa kelompok sasaran, mudah untuk mendapatkan pelayanan dengan ketersediaan sarana dan tenaga kesehan yang memadai, mulai dari pelayanan pada bidan di desa sampai ke pelayanan puskesmas dan jaringannya. Untuk kasus-kasus kehamilan resiko tinggi yang tidak dapat dilayani di puskesmas dan jaringannya akan dirujuk ke fasilitas yang lebih tinggi yaitu rumah sakit umum daerah.

Grafik 4.2

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil Provinsi Aceh Tahun 2011

Pada grafik diatas terlihat peningkatan capaian dari tahun 2009-2011 namun belum mencapai target SPM yang ditetapkan. Ke dua indikator tersebut diatas (K1-K4) memberi gambaran terdapat aksesibilitas pelayanan kesehatan ibu hamil tehadap fasilitas dan SDM kesehatan yang ada.

3. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Jumlah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai

Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011

78 83.1 85.6

Pada Grafik 4.2 dibawah ini menggambarkan bahwa cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil (K4) meningkat, dibandingkan dari tahun 2009 dan 2010. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa kelompok sasaran, mudah untuk mendapatkan pelayanan dengan ketersediaan sarana dan tenaga kesehan yang memadai, mulai dari pelayanan pada bidan di desa sampai ke pelayanan puskesmas dan jaringannya. Untuk kasus-kasus kehamilan resiko tinggi yang tidak dapat dilayani di puskesmas dan jaringannya akan dirujuk ke fasilitas yang lebih tinggi yaitu rumah sakit umum daerah.

Grafik 4.2

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil Provinsi Aceh Tahun 2011

Pada grafik diatas terlihat peningkatan capaian dari tahun 2009-2011 namun belum mencapai target SPM yang ditetapkan. Ke dua indikator tersebut diatas (K1-K4) memberi gambaran terdapat aksesibilitas pelayanan kesehatan ibu hamil tehadap fasilitas dan SDM kesehatan yang ada.

3. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Jumlah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai

kompetensi kebidanan (professional) dan persalinan bukan pada fasilitas kesehatan.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2009-2011 hampir sama (grafik 4.3) dibawah ini. Target SPM untuk indikator ini adalah 90% pada tahun 2015.

Bila di telusuri cakupan di masing-masing kabupaten maka beberapa kabupaten menunjukan peningkatan cakupan. Peningkatan ini erat kaitannya dengan semakin dekatnya akses ke fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga profesional yang memadai diikuti dengan sistem informasi yang lebih baik. Sedangkan untuk kabupaten yang belum mencapai target, kendala tentang ketersediaan sumber daya yang masih kurang serta partisipasi masyarakat terhadap pentingnya persalinan di tenaga kesehatan menjadi isu utama yang perlu dicermati.

Strategi utama yang harus dilakukan adalah mendorong semua persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan yang tersedia termasuk penyediaan pembiayaan untuk persalinan.

Grafik 4.3

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2011

4. Cakupan Pelayanan Nifas.

Pelayanan nifas sesuai standar adalah Pelayanan kepada ibu nifas minimal 3 kali, yaitu 1 kali pada 6 jam pasca persalinan sampai dengan 3 hari; 1 kali pada minggu ke II, dan 1 kali pada minggu ke VI termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta persiapan dan atau pemasangan KB pasca persalinan.

0% 50% 100%

kompetensi kebidanan (professional) dan persalinan bukan pada fasilitas kesehatan.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2009-2011 hampir sama (grafik 4.3) dibawah ini. Target SPM untuk indikator ini adalah 90% pada tahun 2015.

Bila di telusuri cakupan di masing-masing kabupaten maka beberapa kabupaten menunjukan peningkatan cakupan. Peningkatan ini erat kaitannya dengan semakin dekatnya akses ke fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga profesional yang memadai diikuti dengan sistem informasi yang lebih baik. Sedangkan untuk kabupaten yang belum mencapai target, kendala tentang ketersediaan sumber daya yang masih kurang serta partisipasi masyarakat terhadap pentingnya persalinan di tenaga kesehatan menjadi isu utama yang perlu dicermati.

Strategi utama yang harus dilakukan adalah mendorong semua persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan yang tersedia termasuk penyediaan pembiayaan untuk persalinan.

Grafik 4.3

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2011

4. Cakupan Pelayanan Nifas.

Pelayanan nifas sesuai standar adalah Pelayanan kepada ibu nifas minimal 3 kali, yaitu 1 kali pada 6 jam pasca persalinan sampai dengan 3 hari; 1 kali pada minggu ke II, dan 1 kali pada minggu ke VI termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta persiapan dan atau pemasangan KB pasca persalinan. 0% 50% 100% Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 83.7 82.9 86.3

kompetensi kebidanan (professional) dan persalinan bukan pada fasilitas kesehatan.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2009-2011 hampir sama (grafik 4.3) dibawah ini. Target SPM untuk indikator ini adalah 90% pada tahun 2015.

Bila di telusuri cakupan di masing-masing kabupaten maka beberapa kabupaten menunjukan peningkatan cakupan. Peningkatan ini erat kaitannya dengan semakin dekatnya akses ke fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga profesional yang memadai diikuti dengan sistem informasi yang lebih baik. Sedangkan untuk kabupaten yang belum mencapai target, kendala tentang ketersediaan sumber daya yang masih kurang serta partisipasi masyarakat terhadap pentingnya persalinan di tenaga kesehatan menjadi isu utama yang perlu dicermati.

Strategi utama yang harus dilakukan adalah mendorong semua persalinan ke tenaga kesehatan dan di fasilitas kesehatan yang tersedia termasuk penyediaan pembiayaan untuk persalinan.

Grafik 4.3

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2011

4. Cakupan Pelayanan Nifas.

Pelayanan nifas sesuai standar adalah Pelayanan kepada ibu nifas minimal 3 kali, yaitu 1 kali pada 6 jam pasca persalinan sampai dengan 3 hari; 1 kali pada minggu ke II, dan 1 kali pada minggu ke VI termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta persiapan dan atau pemasangan KB pasca persalinan.

Grafik 4.4

Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Provinsi Aceh Tahun 2011

Pada grafik diatas bila dibandingkan pada tahun 2009 terjadi penurunan pelayanan 0.8 % pada tahun 2010. Penurunan ini disebabkan karena ada kelompok ibu nifas akan di kunjungi pada bulan Januari tahun 2011. Dan Pada tahun 2011 terjadi peningkatan pelayanan kembali sekitar 3.4%

5. Persentase Cakupan Imunisasi TT Ibu Hamil.

Imunisasi TT Ibu Hamil adalah Pemberian vaksin TT pada ibu hamil sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) dengan tujuan memberikan kekebalan seumur hidup. Pemberian TT2 adalah Selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun. Pemberian TT3 adalah Selang waktu pemberian minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun. Pemberian TT4 adalah Selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun. Pemberian TT5 adalah Selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun. Pemberian TT2+ adalah Imunisasi tetanus yang diberikan minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan).

Imunisasi Toksoid Tetanus (TT) perlu dilakukan oleh wanita sebelum menikah dan pada ibu hamil, karena Imunisasi TT dapat memberikan kekebalan tubuh pada ibu hamil agar janin terhindar dari Tetanus

Neonatarum (TN). 70 75 80 85 Tahun 2009 Grafik 4.4

Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Provinsi Aceh Tahun 2011

Pada grafik diatas bila dibandingkan pada tahun 2009 terjadi penurunan pelayanan 0.8 % pada tahun 2010. Penurunan ini disebabkan karena ada kelompok ibu nifas akan di kunjungi pada bulan Januari tahun 2011. Dan Pada tahun 2011 terjadi peningkatan pelayanan kembali sekitar 3.4%

5. Persentase Cakupan Imunisasi TT Ibu Hamil.

Imunisasi TT Ibu Hamil adalah Pemberian vaksin TT pada ibu hamil sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) dengan tujuan memberikan kekebalan seumur hidup. Pemberian TT2 adalah Selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun. Pemberian TT3 adalah Selang waktu pemberian minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun. Pemberian TT4 adalah Selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun. Pemberian TT5 adalah Selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun. Pemberian TT2+ adalah Imunisasi tetanus yang diberikan minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan).

Imunisasi Toksoid Tetanus (TT) perlu dilakukan oleh wanita sebelum menikah dan pada ibu hamil, karena Imunisasi TT dapat memberikan kekebalan tubuh pada ibu hamil agar janin terhindar dari Tetanus

Neonatarum (TN). Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 78 77.2 84.1 Grafik 4.4

Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Provinsi Aceh Tahun 2011

Pada grafik diatas bila dibandingkan pada tahun 2009 terjadi penurunan pelayanan 0.8 % pada tahun 2010. Penurunan ini disebabkan karena ada kelompok ibu nifas akan di kunjungi pada bulan Januari tahun 2011. Dan Pada tahun 2011 terjadi peningkatan pelayanan kembali sekitar 3.4%

5. Persentase Cakupan Imunisasi TT Ibu Hamil.

Imunisasi TT Ibu Hamil adalah Pemberian vaksin TT pada ibu hamil sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) dengan tujuan memberikan kekebalan seumur hidup. Pemberian TT2 adalah Selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun. Pemberian TT3 adalah Selang waktu pemberian minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun. Pemberian TT4 adalah Selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun. Pemberian TT5 adalah Selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun. Pemberian TT2+ adalah Imunisasi tetanus yang diberikan minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan).

Imunisasi Toksoid Tetanus (TT) perlu dilakukan oleh wanita sebelum menikah dan pada ibu hamil, karena Imunisasi TT dapat memberikan kekebalan tubuh pada ibu hamil agar janin terhindar dari Tetanus

TN merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di sebagian besar negara berkembang dimana cakupan pelayanan kesehatan

antenatal dan imunisasai TT kepada ibu hamil masih rendah. Namun

selama 5 tahun terakhir insiden TN ini menurun drastis karena pemberian imunisasi TT ibu hamil.

Sebagian besar bayi yang terkena tetanus biasanya lahir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT dan persalinan yang dilakukan tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) misalnya kurang steril. Penyakit ini muncul biasanya disebabkan oleh masuknya

spora tetanus melalui tali pusat yang dipotong dengan alat yang tidak steril

maupun tali pusat yang dibalut dengan pembalut yang tidak steril atau karena diberi ramuan-ramuan yang terkontaminasi oleh spora tetanus. Grafik 4.5 berikut memberi informasi cakupan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil di Aceh tahun 2011.

Grafik 4.5

Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Provinsi Aceh Tahun 2011

6. Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Besi (Tablet Fe).

Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan jaringan TN merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di sebagian besar negara berkembang dimana cakupan pelayanan kesehatan

antenatal dan imunisasai TT kepada ibu hamil masih rendah. Namun

selama 5 tahun terakhir insiden TN ini menurun drastis karena pemberian imunisasi TT ibu hamil.

Sebagian besar bayi yang terkena tetanus biasanya lahir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT dan persalinan yang dilakukan tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) misalnya kurang steril. Penyakit ini muncul biasanya disebabkan oleh masuknya

spora tetanus melalui tali pusat yang dipotong dengan alat yang tidak steril

maupun tali pusat yang dibalut dengan pembalut yang tidak steril atau karena diberi ramuan-ramuan yang terkontaminasi oleh spora tetanus. Grafik 4.5 berikut memberi informasi cakupan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil di Aceh tahun 2011.

Grafik 4.5

Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Provinsi Aceh Tahun 2011

6. Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Besi (Tablet Fe).

Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan jaringan TN merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di sebagian besar negara berkembang dimana cakupan pelayanan kesehatan

antenatal dan imunisasai TT kepada ibu hamil masih rendah. Namun

selama 5 tahun terakhir insiden TN ini menurun drastis karena pemberian imunisasi TT ibu hamil.

Sebagian besar bayi yang terkena tetanus biasanya lahir dari ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT dan persalinan yang dilakukan tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) misalnya kurang steril. Penyakit ini muncul biasanya disebabkan oleh masuknya

spora tetanus melalui tali pusat yang dipotong dengan alat yang tidak steril

maupun tali pusat yang dibalut dengan pembalut yang tidak steril atau karena diberi ramuan-ramuan yang terkontaminasi oleh spora tetanus. Grafik 4.5 berikut memberi informasi cakupan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil di Aceh tahun 2011.

Grafik 4.5

Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Provinsi Aceh Tahun 2011

6. Cakupan Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Besi (Tablet Fe).

Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan jaringan

penyambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh. Saat hamil, kebutuhan zat besi sangat meningkat dua kali lipat dari kebutuhan sebelum hamil. Hal ini terjadi karena selama hamil, volume darah meningkat sampai 50%, sehingga perlu lebih banyak zat besi untuk membentuk hemoglobin. Selain itu, pertumbuhan janin dan plasenta yang sangat pesat juga memerlukan banyak zat besi.

Dalam keadaan tidak hamil, kebutuhan zat besi biasanya dapat dipenuhi dari menu makanan sehat dan seimbang. Tetapi dalam keadaan hamil, suplai zat besi dari makanan masih belum mencukupi sehingga dibutuhkan suplemen berupa tablet besi.

Sumber makanan yang banyak mengandung zat besi antara lain daging, unggas, ikan, kerang, telur, sereal, bayam. Vitamin C dianggap dapat membantu penyerapan zat besi di usus, terutama zat besi yang berasal dari tumbuhan. Sebaliknya, teh, kopi, dan kalsium dianggap dapat mengurangi penyerapan zat besi jika dikonsumsi dalam dua jam setelah makan makanan kaya zat besi.

Kekurangan zat besi (anemia defisiensi besi) selama hamil dapat berdampak tidak baik bagi ibu maupun janin. Perdarahan yang banyak sewaktu melahirkan, beresiko lebih besar pada ibu hamil yang anemia. Kekurangan zat besi juga mempengaruhi pertumbuhan janin sehingga saat

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN Kesehatan Aceh TH. 2011 (Halaman 33-57)

Dokumen terkait