BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
3. Pelayanan Prima
Pelayanan prima adalah, pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan memberi layanan melampaui dari yang diharapkan pelanggan.
Dalam memberikan pelayanan yang baik, dibutuhkan adanya layanan dan dukungan kepada pelanggan agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Layanan dan dukungan kepada pelanggan dapat diartikan sebagai bentuk layanan memberikan kepuasan bagi pelanggan dan selalu diinginkan oleh para pelayanan untuk memberikan citra positif di mata pelanggannya. Pelayanan dengan biaya terkendali/terjangkau sehingga pada gilirannya pelanggan dapat bekerja sama/berperan aktif dalam pelayanan prima. Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan menguntungkan pihak pelanggan. Untuk mencapai hal itu,
diperlukan peningkatan kinerja pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Pengertian pelayanan dikemukan oleh Sanafiah (2000: 31) membagi dua pengertian pelayanan yaitu : Pelayanan dalam arti luas adalah, keseluruhan proses penyelenggaraan kepentingan umum/masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menciptakan efisiensi, efektifitas, keadilan sosial dari kesejahteraan. Sedangakan pengertia pelayanan dalam arti sempit adalah, proses pelayanan tatap muka yang dilakukan oleh instansi pemerintah kepada masyarakat berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat di simpulkan bahwa, pelayanan adalah instansi atau lembaga pemerintah khususnya yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa, maka sudah merupakan kewajiban setiap aparat atau karyawannya memberikan pelayanan yang terbaik. Suatu instansi atau lembaga dalam operasionalnya tidak terlepas dari penilaian atau respon masyarakat sebagai mitra dalam hal mewujudkan efektivitas pelayanan.
Menurut Davis (2003:22) dirumuskan bahwa kualitas pelayanan sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau bahkan mungkin melebihi harapan. Kualitas pelayanan juga diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan terpenuhinya harapan/kebutuhan pelanggan, dimana pelayana dikatan berkualitas apabila dapat menyediakan produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan para pelanggan.
Menurut Sedamayanti (2009:249) bahwa “pelayanan prima adalah pelayanan yang diberikan kepada pelanggan (masyarakat) minimal sesuai dengan standar pelayanan (cepat, tepat, akurat, murah, ramah)”.
Pengertian pelayanan menurut kotler (Nasution, 2003:6) adalah aktifitas atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.
Pelayanan prima ini merupakan bagian dari pelayanan publik yang memiliki arti bahwa pelayanan yang diberikan haruslah berkualitas dan implementasinya dilapangan tentunya harus berdasarkan teorinya. Didalam proses pencapaian hal tersebut dibutuhkan unsur-unsur pokok pelayanan.
Oleh karena itu, dalam memberikan pelayanan yang baik dibutuhkan adanya layanan dan dukungan kepada pelanggan akar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan menguntungkan pihak pelanggan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan peningkatan kinerja pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
4. Proses Manajemen Kinerja
Proses manajemen kinerja melakukan pendekatan holistik untuk mengelolah kinerja yang menjadi kepentianan setiap orang dalam organisasi. Namun tidak perlu manjadi praktek universal, manajemen kineja dibawakan dengan berbagai tingkat keberhasilandan komitmen pekerja. Manajmen kinerja bersangkutan dengan masalah pengelolaan dengan semua sumber daya dalam organisasi yang menjadi, masukan , proses pelaksanan kinerja, keluaran atau hasil kerja dan manfaat atau dampak dari suatu kerja (Wibowo 2010:22).
1. Masukan (input)
Manajemen kinerja memerlukan masukan dalam bentuk tersedianya kapabilitas sumber daya manusia baik sebagai individu, maupun sebagai tim, kapabilitas sumber daya manusia diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan kompotensi. Sementara kompotensi diperlukan agar sumber daya manusia mempunyai kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi sehingga dapat mempunyai kinerja terbaik. Disamping itu pencapaian tujuan organisasi memerlukan masukan sumber daya lainnya dalam bentuk modal, bahan-bahan, peralatan, dan teknologi serta metode dan mekanisme kerja.
Dalam manajmen kinerja berbagai ragam masukan tersebut harus dapat dikelolah secara sinergis.
2. Proses (Process)
Manajmen kinerja mencakup suatu proses pelaksanan kinerja tentang bagaiman kinerja dilakukan. Manejmen kinerja diawali dengan suatu perencanan tentang bagaimana merencanakan suatu tujuan yang diharapkan dimasa depan dan menyusun semua sumber daya dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengoreksi dan menentukan langkah-langkah yang diperlukan apabila terdapat deviasi terhadap rencana. Perencanan dilaksanakan dan dilakukan monitoring dan pengukuran atas proses atau kemajuan yang diperoleh untuk pencapaian tujuan. Penilaian dan peninjauan diproses manajemen kinerja dilakukan secara transparan terutama terhadap orang yang terpengaruh oleh keputusan yang diambil dan orang mendapatkan meneliti dasar dibuatnya suatu keputusan.
3. Keluaran (out put)
Manajemen kinerja sangat berkepentingan dengan keluaran yang merupakan hasil kerja organisasi. Hasil kerja yang dapat dicapai organisasi perlu dibandingkan dengan tujuan yang diharapkan organisasi untuk dicapai, apakah lebih besar atau lebih rendah dari tujuan yang ditetapkan. Apabila terdapat deviasi antara hasil kerja dengan tujuan yang diharapkan, dijadikan sebagai umpan balik untuk perencanan tujuan yang akan datang dan implementasi kinerja yang sudah dilakukan. Keluaran merupakan hasil langsung dari kinerja organisasi baik dalam bentuk barang maupun jasa.
4. Manfaat
Manajemen kinerja tidak hanya memfokuskan pada keluaran dan hasil kerja dari sumber daya manusia. Manajemen kinerja perlu memperhatikan manfaat atau dampak dari hasil kerja. Dampak hasil kerja dapat bersifat positif bagi organisasi, misalnya karena keberhasilan seseorang mewujudkan prestasinya berdampak meningkatkan motivasi sehinnga semakin meningkatkan kineja organisasi. Namun sebaliknya dapat pula dampak keberhasilan seseorang dapat bersifat negatif, misalnya karena bangga terhadap keberhasilan, berdampak pada perubahan perilaku yang mengakibatkan suasana kerja menjadi tidak kondusif.
5.Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis propesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang parmanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan dan berkesinambungan, diagnosis
serta pengobatan penyakit yang diderita ole pasien. American hospital associantion (Azwar, 1974 :82).
Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Wolper dan Pena (Azwar,1997: 82).
Rumah sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan manyarakat, pendididkan serta penelitian kedokteran diselenggarakan. Assosiation of hospital care (Azwar, 1947 : 82).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, rumah sakit adalah merupakan suatu badan usaha yang menyediakan pelayanan yang propesional serta sarana kedokteran yang menyelenggarakan asuhan keperawatan, dan juga merupakan tempat pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.
Mutu pelayanan ruamah sakit adalah derajat kesempurnaan rumah sakit untuk memenuhi konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan satandar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit dengan wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan norma, etika, hukum dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyrakat/konsumen.
Faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan rumah sakit yaitu :
1. Kehandalan yang mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja dan kemampuan untuk dipercaya.
2. Daya tanggap, yaitu sikap tanggakap para karyawan melayani saat dibutuhkan pasien.
3. Kemampuan, memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu.
4. Muda untuk dihubungi dan ditemui.
5. Sikap sopan santun, respek dan keramahan para pegawai.
6. Komunikasi, yaitu memberikan informasi para pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanngan.
7. Dapat dipercaya dan jujur 8. Jaminan keamanan
9. Usaha untuk mengerti dan memahami kebutuhan pelanngan.
10. Bukti langsung yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang digunakan, representasi fisik dan jasa.
6.Pelayanan Rawat Inap dan Rawat Jalan
Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit, yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.
Rawat inap adalah pelayanan pasien yang perlu menginap untuk keperluan observasi, diagnosa dan terapi bagi individu dengan keadaan medis, bedah, penyakit kronis atau rehabilitasi dan memerlukan perawatan dokter setiap hari.
(Snook: 2009).
Pelayanan rawat jalan adalah (ambulatory services) adalah salah satu bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan oleh pasien tidak dalam bentuk rawat inap (hospitalization).dalam pengertian pelayanan rawat jalan ini termasuk tidak hanya yang diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim dikenal seperti rumah sakit atau klinik, tetapi juga diselenggarakan dirumah pasien ( home care) serta dirumah perawatan ( nursing homes).
(Azwar,1996:75).
Pelayanan kesehatan masyarakat ( Public Health Services ) adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah, untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat.
Azwar ( 1996: 115).
Keperawatan adalah, salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu di jelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu dalam rumah sakit.
Rumah sakit adalah suatu badan usaha yang menyediakan dan memberikan jasa pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri atas tindakan observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitative untuk orang-orang yang menderita sakit, terluka dan untuk yang melahirkan (World Health Organization).
Rumah sakit merupakan sarana upaya kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehetan dan penelitian (Permenkes No.159b/1988)
UU No. 44 tahun2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawatinap, rawat jalan dangawatdarurat.Pelayanan rumah sakit juga diatur dalam KODERSI/kode etik rumah sakit, dimana kewajiban rumah sakit terhadap karyawan, pasien dan masyarakat diatur.
Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) huruf f dalam UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Rumah Sakit sebenarnya memiliki fungsi sosial yaitu antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. Pelanggaran terhadap kewajiban tersebut bisa berakibat dijatuhkannya sanksi kepada Rumah Sakit tersebut, termasuk sanksi pencabutan izin. Selain itu, dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b UU 44/2009, pemerintah dan pemerintah daerah juga bertanggung jawab untuk menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, secara umum penyanderaan pasien oleh Rumah Sakit tidak bisa dikategorikan sebagai penahanan (perampasan kemerdekaan) ataupun pelanggaran HAM. Meski demikian, Anda dapat saja melaporkan kepada polisi jika ada indikasi penyanderaan tersebut telah merampas kemerdekaan si pasien.
Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, dinyatakan bahwa : “Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan”.
7.Efektifitas Pelayanan Publik
Efektifitas pelyanan publik dapat di denifisikan sebagai perbandingan terbaik antara input dan output. Input yang di maksutkan di sini berupa biaya, waktu, dan tenaga. Dari sisi input, pelayanan publik di katakana efisien apa bila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat dikatakan efisien apabila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat di katakana efisian maka prosedur layanan publik harus bersifat sederhana sehingga warga pengguna tidak mengeluarkan banyak energi dan biaya mengakses suatu layanan.
Sedangkan dari isi output, pelayanan publik dikatakan efisien apa bila penggunaan sumber daya yang murah dann tidak boros tapi tetap menghasilkan produk layanan yang sesuai dengan standar dan dapat memuaskan pengguna layanan (Dwiyanto, 2008;389)
Untuk mendorong tarwujutnya efektitas, kualitas pelayanan, dan daya tangkap yang lebih baik pada suatu birokrasi pemerintah yang memiliki tupoksi utama membuat kebijakan dan regulasi yang dapat dilakukan dengan menciptakan sistem intensif yang berbasis kinerja. Dalam hal ini birokrasi pemerintah dapat membuat atau mengembangkan indikator kinerja yang lebih jelas dan terukur sarta memberi insentif sacara variatif sesuai dengan kinerja yang dimiliki oleh para aparatur pelayan yang berjasa.
Tugas utama dari setiap instansi pemerintahan adalah memberikan pelayanan atau menyelenggarakan pelayanan publik (public service) agar terwujud kesejahteraan bagi rakyat (public welfare). Menurut Tampubolon (2001:139-141) pelayanan berarti, “Orang yang melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain. Karena itu, seorang pelayan yang baik ialah “melayani, bukan dilayani”. Sebagaimana telah dijelaskan pengertian pelayanan dan pengertian publik di atas, maka dalam prakteknya, pelayanan publik sangat variatif dan tergantung dari perkembangan dan kemampuan masyarakat. Istilah-istilah pelayanan dan publik itulah memberikan dasar pengertian terhadap pelayanan publik. Berkaitan dengan barang dan jasa dalam pelayanan. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu dalam bentuk barang, jasa kepada masyarakat baik
secara individu maupun kelompok atau organisasi. Keputusan MenPan Nomor 81/1993 yang disempurnakan dengan Keputusan Menpan Nomor 63/2003 mendefinsikan pelayanan umum sebagai : “Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh Instansi pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan BUMN/D dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Lembaga Administrasi Negara (1998) Pelayanan Umum diartikan sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemeirntahan di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebuuthan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dwiyanto, (2008;136) pelayanan publik merupakan produk birokrasi publik yang di terima oleh warga pengguna maupun masyarakat secara luas.
Karena itu, pelayanan publik dapat didefenisikan sebagai rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna.
Pengguna yang dimaksudkan disini adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik. Dasar teoritis pelayanan publik yang ideal menurut paradigma new public service yaitu pelayanan publik harus responsif terhadap berbagai kepentingan dan nilai-nilai publik.
Tugas pemerintah adalah melakukan negosiasi dan mengelaborasi berbagai kepentingan warga negara dan kelompok komunitas. Dengan demikian, karakter dan nilai yang terkandung di dalam pelayanan publik tersebut harus
berisi preferensi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Karena masyarakat bersifat dinamis, maka karakter pelayanan publik juga harus selalu berubah mengikuti perkembangan masyarakat (Dwiyanto,2008:140).
Sistem pelayanan publik yang baik akan menghasilkan kualitas pelayanan publik yang baik pula. Suatu sistem yang memiliki dan menerapkan prosedur pelayanan yang jelas dan pasti serta mekanisme kontrol di dalam dirinya (built in control )sehingga segala bentuk penyimpangan yang terjadi secara mudah dapat diketahui. Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM), dibutuhkan petugas pelayanan yang mampu memahami dan mengoperasikan sistem pelayanan yang baik. Sebagai contoh, sistem pelayanan pajak yang sudah menggunakan komputer tentu memerlukan petugas yang memiliki kompetensi menjalankan teknologi computer. Disamping itu, petugas pelayanan juga harus mampu memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selain itu, sistem pelayanan juga harus sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau pengguna.
Organisasi harus mampu merespon kebutuhan dan keinginan pengguna dengan menyediakan sistem pelayanan dan strategi yang tepat. Sifat dan jenis pelanggan yang bervariasi membutuhkan strategi pelayanan yang berbeda dan hal ini harus diketahui oleh petugas pelayanan. Karena itu, petugas pelayanan perlu mengenali pengguna dengan baik sebelum dia memberikan pelayanan.
Penyelenggaraan pelayanan publik, dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik, yaitu penyelenggara Negara/pemerintah, penyelenggara perekonomian dan pembangunan, lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah, badan usaha/badan hukum yang diberi wewenang melaksankan
sebagian tugas dan fungsi pelayanan publik, badan usaha/badan hukum yang bekerja sama atau dikontrak untuk melaksanakan sebagian tugas dan fungsi pelayanan publik.
Hardiyansyah, (2011:24-25) pelayanan publik dilakukan tiada lain untuk memberikan kepuasan bagi pengguna jasa, Karena itu penyelenggaraannya secara niscaya membutuhkan asas-asas pelayanan. Dengan kata lain, dalam memberikan pelayanan publik, instansi penyedia pelayanan publik harus memperhatikan asas-asas pelayanan publik.
Asas-asas pelayanan publik menurut keputusan Menpan Nomor 63/2003sebagai berikut:
A. Transparansi.
Bersifat terbuka, mudah dan dapat di akses oleh semua pihak yang membutuhkan dan di sediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
B. Kondisional.
Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
C. Partisipatif.
Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.
D. Kesamaan Hak.
Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender dan status ekonomi.
E. Keseimbangan Hak dan Kewajiban.
Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan Kewajiban masing-masing pihak.
8.Jenis dan Spekualifikasi Rumah Sakit
Rumah sakit terdiri atas rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Rumah Sakit Umum adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Sedangkan rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit.
Klasifikasi rumah sakit adalah pengelompokan kelas rumah sakit berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan. Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit dibagi menjadi : 1. Rumah Sakit Pemerintah
Rumah sakit yang dibiayai, dipelihara, dan diawasi oleh Departemen Kesehatan, Pemerintah Daerah, ABRI, dan departemen lain, termasuk BUMN. Misalnya Rumah Sakit Umum Pusat, Provinsi, Kabupaten dan lokal.
Usaha ini dijalankan berdasarkan usaha sosial.
2. Rumah Sakit Swasta Rumah Sakit adalah Sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitasi) secara paripurna. Menurut WHO (World Health).
9. Kebijakan Pengelolaan Rumah Sakit
Dalam buku Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat (2003:113-114) menjelaskan bahwa lingkungan rumah sakit terdiri dari semua yang ada di tempat itu: semua peralatan tetap, peralatan yang ada dapat dipindahkan, instrumen, pasien, dan petugas. Kita dapat membedakan dua keadaan-keadaan dimana risiko infeksi sangat tinggi dan diperlukan kewaspadaan ekstra (ruang operasi dan unit perawatan intensif), dan semua yang lain, dimana jelas ada bahaya tetapi dengan tingkatan yang lebih rendah. Dalam hal ini manajemen risiko dapat secara efektif dimasukkan ke dalam program yang dirancang untuk mengendalikan infeksi.
Manajemen risiko adalah suatu proses sistemik untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang dapat terjadi dalam suatu situasi, menentukan tindakan yang diperlukan dan mengevaluasi risiko potensial dan risiko sebenarnya, sehingga tercipta suatu mekanisme untuk mengurangi risiko dan menghindari kerugian ekonomi. Hal ini diperlukan karena meningkatnya kebutuhan untuk menyediakan layanan kesehatan yang aman dan efektif di dalam hubungan yang sedang berkembang antara Primary Care Groups/Trusts dan pemberi layanan kesehatan sekunder mereka, meningkatkan jumlah klaim yang diajukan terhadap penyedia layanan kesehatan, serta biaya pengadilan. Tujuannya adalah memperkecil jumlah risiko yang terjadi, meningkatkan kualitas perawatan dan menurunkan beban biaya bagi organisasi/pengelolah.
Berikut adalah perbedaan persyaratan penyelenggaraan Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta.
A. Pemerintah Rumah Sakit pemerintah dimiliki dan diselenggarakan oleh:
1. Departemen Kesehatan 2. Pemerintah Daerah 3. ABRI
4. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
B. Swasta
1. Rumah sakit swasta diselenggarakan berasaskan kemandirian dengan prinsip wirausaha dengan tetap melaksanakan fungsi sosial.
2. Kepemilikan rumah sakit berbentuk yayasan, Perseroan Terbatas (P.T), koperasi dan atau badan hukum lainnya.
3. Rumah sakit swasta harus memenuhi persyaratan standar bangunan, prasarana, dan peralatan sesuai dengan jenis dan klasifikasi rumah sakit, meliputi :
a. Lokasi atau letak bangunan prasrana harus sesuai dengan rencana umum tataruang dan terhindar dari pencemaran.
b. Bangunan, prasarana, peralatan, harus dalam kondisi terpelihara dan memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan kerja.
c. Memenuhi persyaratan teknis bengunan, prasarana, peralatan, dan dampak lingkungan internal dan eksternal.
d. Peralatan medik harus memenuhi persyaratan pengujian/kalibrasi.
4. Rumah sakit swasta dalam memberikan pelayanan harus menjamin hak-hak pasien.
5. Rumah sakit swasta wajib menyelenggarakan peningkatan mutu pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
6. Rumah sakit swasta wajib mempunyai komite medik dan komite keperawatan.
7. Rumah sakit swasta wajib merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih mampu pelayanannya apabila rumah sakit tersebut tidak mampu menangani pasien
7. Rumah sakit swasta wajib merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih mampu pelayanannya apabila rumah sakit tersebut tidak mampu menangani pasien