BAB I. PENDAHULUAN
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis ingin mengetahui mekanime pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.
D. Kegunan Penelitian
Kegiatan penilitian ini terdiri menjadi dua bagian yaitu kegunaan akademisi dan kegunaan praktis yaitu sebagai berikut :
a. Kegunaan Akademis
Kegunaan akademis dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk menambah wawasan penelitian maupun wawasan para pembaca tentang mekanisme pelayanan pasien di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.
2. Untuk menjadi referensi penelitian berikutnya dengan tema yang sama namun fokus yang berbeda.
b. Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis dari penelitian ini yaitu bisa menjadi masukan bagi pemerintah setempat maupun pihak rumah sakit yang bersangkutan tentang ciri pelayanan yang baik, melalui metode mekanisme pelayana di rumah sakit Lasinrang Pinrang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian, Konsep dan Teori 1. Pengertian Mekanisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1999:641), mekanisme adalah cara kerja suatu organisasi atau kelompok dan sebagainya dalam hal saling mempengaruhi untuk bekerja seperti mesin, kalau satu bergerak maka yang lain turut bergerak pula.
Menurut Prof. Padmo Wahyono (1989), Mekanisme adalah suatu ungkapan yang diambil dari ilmu gerak atau juga bidang tekhnik dengan mengibaratkan seperti putaran mesin berjalan dalam suatu pola sistem gerak yang berulang menurut suatu pola yang selalu sama seperti yang telah direncanakan menurut desainnya.
Sebuah organisasi memerlukan langkah-langkah yang sistematis untuk mempermudah pencapaian suatu tujuan dan meminimalkan tingkat kegagalan, hal ini sering disebut dengan mekanisme yang merupakan suatu proses cara kerja atau tata cara pelaksanaan suatu program atau rangkaian aktivitas yang dilaksanakan oleh sebuah organisasi untuk mendapatkan hasil dari apa yang telah direncanakan oleh badan organisasi tersebut. Secara umum mekanisme adalah mengetahui bagimana cara menggunakan suatu alat sehingga kita tahu sampai dimana kemampuan suatu alat tersebut bekerja. atau cara kerja suatu badan atau organisasi atau perkumpulan hal saling bekerja.”
7
Poerwadarmita (2003:757) mendefinisikan “Mekanisme adalah seluk beluk atau cara kerja suatu alat (perkakas) dan sebagainya
Moenir (2001:53) menjelaskan bahwa ”Mekanisme merupakan suatu rangkaian kerja sebuah alat untuk menyelesaikan sebuah masalah yang berhubungan dengan proses kerja untuk mengurangi kegagalan sehingga menghasilkan hasil yang maksimal.”
Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa mekanisme adalah cara kerja suatu alat dalam sebuah badan atau organisasi yang saling berhubungan untuk menghasilkan yang maksimal sehinga tercapai sebuah tujuan yang telah di tetapkan oleh suatu organisasi.
2. Konsep Pelayanan Publik
Pelayanan publik diartikan, pemberi layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan Kepmenpan No. 63/KEP/M.PAN/7/2003, publik adalah segala kegiatan upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pelayanan itu adalah proses dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia sesuai dengan haknya. kata “umum” dalam “pelayanan” menunjukkan masyarakat, orang banyak, yang punya kepentingan, terjemahan dalam bahasa inggris “publik” kalau dihubungkan dengan kata pelayanan maka terjadi pelayanan umum (public service) atau pelayanan publik. Istilah dan konsep pelayanan banyak ditemui dalam berbagai aspek kehidupan manusia dewasa ini.
Keragaman istilah dan konsep pelayanan menandakan keterkaitan pada ahli untuk memberikan konstribusi terhadap perkembangan konsep pelayanan itu sendiri.
Dengan demikian, pelayanan publik adalah pemenuhan keinginan dan kebutuhan masyarakat oleh penyelenggara negara. Negara didirikan oleh publik (masyarakat) tentu saja dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakikatnya negara dalam hal ini pemerintah (birokrat) haruslah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan dalam hal ini bukanlah kebutuhan secara individual akan tetapi berbagai kebutuhan yang sesungguhnya diharapkan oleh masyarakat, misalnya kebutuhan akan kesehatan, pendidikan dan lain-lain ( Sinambela 2010:115).
Ada beberapa konsep definisi pelayanan publik antara lain sebagai berikut :
Menurut Moenir (1995:16) pelayanan adalah “suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung”.
Rahmat (2009:107) Pelayanan merupakan, suatu konsep yang senantiasa dikaitkan dengan proses pemerintah kebutuhan manusia, yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dari pemberi layanan, yaitu aparat pemerintah. Tuntutan publik terhadap kualitas pelayanan aparatur pemerintah semakin tinggi mengingat keinginan dan kesadaran masyarakat, dalam memenuhi harapannya akan pelayanan yang berkualitas semakin berkembang.
Konsep pelayanan yang berkualitas, lebih banyak mengacu pada upaya untuk memberikan pelayanan yang bermutu, berdaya guna, dan berhasil guna.
Kualitas sering dianggap sebagai ukuran relative kebaikan suatu produk atau jasa.
Tjiptono (Rahmat 2008:108) mengatakan bahwa kualitas merupakan, suatu kondisi dinamika yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi akan melebihi harapan.
Suatu pelayanan publik yang ideal paling tidak memiliki beberapa prinsip dasar kristiadi (Rahmat 2009:106) yaitu :
1. Pelayanan yang diberikan harus memperhatikan kebutuhan masyarakat dan sistem pelayanan yang dilakukan oleh pihak lain yang memiliki aspek kepuasan layanan kepada masyarakat.
2. Pelayanan yang semakin lama semakin meningkat sementara pemerintah masyarakat tidak boleh di tinggalkan. Apabila birokrasi telah memacunya untuk meningkatkan pemerintahanya maka pelayanan yang di tetapkan tidak boleh mundur.
3. Pelayanan harus di evaluasi, tidak saja keberhasilannya tetapi juga kegagalan dari pelaksanaan sistem pelayanan yang ditetapkan.
4. Pelayanan yang memiliki karakteristik tidak berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat agar ditetapkan ditengah-tengah suatu sistem pelayanan, dan bukan justru di barisan paling depan.
5. Pelayanan yang kurang memperhatikan hirarki nilai kepuasan masyarakat sebenarnya memiliki hirarki nilai kepuasan tertentu.
Dalam mewujudkan pelayanan yang mampu memuaskan masyarakat pelanggan, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Visi dan Misi pelayanan b. Pelanggan
c. Tujuan dan Sasaran
d. Standar pelayanan dan ukuran keberhasilan pelayanan.
Salah satu fungsi pokok pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintah adalah pelayanan. Definisi pelayanan menurut beberapa ahli antara lain :
1. Menurut Rasyid (Rahmat 2009:105) mengartikan, pelayan publik sebagai pemberian pelayanan atau melayani keperluan masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sendiri, sesuai dengan aturan dan cara yang telah ditetapkan.
2. Thoha (Rahmat 2009:105 ) mengatakan bahwa, pelayanan publik sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, atau instansi tertentu untuk memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat, dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
3. Kotler (2008:132) pelayanan adalah, setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
4. Menurut Barata (2004:175) “ pelayanan adalah, suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dan orang lain, atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan’’. Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan, bahwa pelayanan usaha yaitu melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang. Kepuasan Mentri Pendaya gunaan Aparatur No. 81 Tahun 1993 menyatakan bahwa pelayanan umum adalah segala bentuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah
pusat/daerah, BUMN/BUMD, dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Menurut Lukman (2000:18) pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum, yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, di daerah dan lingkungan badan usaha milik negara atau daerah dalam dan melayani keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi tersebut, sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapakan.
3. Pelayanan Prima
Pelayanan prima adalah, pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan memberi layanan melampaui dari yang diharapkan pelanggan.
Dalam memberikan pelayanan yang baik, dibutuhkan adanya layanan dan dukungan kepada pelanggan agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Layanan dan dukungan kepada pelanggan dapat diartikan sebagai bentuk layanan memberikan kepuasan bagi pelanggan dan selalu diinginkan oleh para pelayanan untuk memberikan citra positif di mata pelanggannya. Pelayanan dengan biaya terkendali/terjangkau sehingga pada gilirannya pelanggan dapat bekerja sama/berperan aktif dalam pelayanan prima. Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan menguntungkan pihak pelanggan. Untuk mencapai hal itu,
diperlukan peningkatan kinerja pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Pengertian pelayanan dikemukan oleh Sanafiah (2000: 31) membagi dua pengertian pelayanan yaitu : Pelayanan dalam arti luas adalah, keseluruhan proses penyelenggaraan kepentingan umum/masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menciptakan efisiensi, efektifitas, keadilan sosial dari kesejahteraan. Sedangakan pengertia pelayanan dalam arti sempit adalah, proses pelayanan tatap muka yang dilakukan oleh instansi pemerintah kepada masyarakat berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berdasarkan pengertian diatas maka dapat di simpulkan bahwa, pelayanan adalah instansi atau lembaga pemerintah khususnya yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa, maka sudah merupakan kewajiban setiap aparat atau karyawannya memberikan pelayanan yang terbaik. Suatu instansi atau lembaga dalam operasionalnya tidak terlepas dari penilaian atau respon masyarakat sebagai mitra dalam hal mewujudkan efektivitas pelayanan.
Menurut Davis (2003:22) dirumuskan bahwa kualitas pelayanan sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau bahkan mungkin melebihi harapan. Kualitas pelayanan juga diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan terpenuhinya harapan/kebutuhan pelanggan, dimana pelayana dikatan berkualitas apabila dapat menyediakan produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan para pelanggan.
Menurut Sedamayanti (2009:249) bahwa “pelayanan prima adalah pelayanan yang diberikan kepada pelanggan (masyarakat) minimal sesuai dengan standar pelayanan (cepat, tepat, akurat, murah, ramah)”.
Pengertian pelayanan menurut kotler (Nasution, 2003:6) adalah aktifitas atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.
Pelayanan prima ini merupakan bagian dari pelayanan publik yang memiliki arti bahwa pelayanan yang diberikan haruslah berkualitas dan implementasinya dilapangan tentunya harus berdasarkan teorinya. Didalam proses pencapaian hal tersebut dibutuhkan unsur-unsur pokok pelayanan.
Oleh karena itu, dalam memberikan pelayanan yang baik dibutuhkan adanya layanan dan dukungan kepada pelanggan akar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan menguntungkan pihak pelanggan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan peningkatan kinerja pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
4. Proses Manajemen Kinerja
Proses manajemen kinerja melakukan pendekatan holistik untuk mengelolah kinerja yang menjadi kepentianan setiap orang dalam organisasi. Namun tidak perlu manjadi praktek universal, manajemen kineja dibawakan dengan berbagai tingkat keberhasilandan komitmen pekerja. Manajmen kinerja bersangkutan dengan masalah pengelolaan dengan semua sumber daya dalam organisasi yang menjadi, masukan , proses pelaksanan kinerja, keluaran atau hasil kerja dan manfaat atau dampak dari suatu kerja (Wibowo 2010:22).
1. Masukan (input)
Manajemen kinerja memerlukan masukan dalam bentuk tersedianya kapabilitas sumber daya manusia baik sebagai individu, maupun sebagai tim, kapabilitas sumber daya manusia diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan kompotensi. Sementara kompotensi diperlukan agar sumber daya manusia mempunyai kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi sehingga dapat mempunyai kinerja terbaik. Disamping itu pencapaian tujuan organisasi memerlukan masukan sumber daya lainnya dalam bentuk modal, bahan-bahan, peralatan, dan teknologi serta metode dan mekanisme kerja.
Dalam manajmen kinerja berbagai ragam masukan tersebut harus dapat dikelolah secara sinergis.
2. Proses (Process)
Manajmen kinerja mencakup suatu proses pelaksanan kinerja tentang bagaiman kinerja dilakukan. Manejmen kinerja diawali dengan suatu perencanan tentang bagaimana merencanakan suatu tujuan yang diharapkan dimasa depan dan menyusun semua sumber daya dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengoreksi dan menentukan langkah-langkah yang diperlukan apabila terdapat deviasi terhadap rencana. Perencanan dilaksanakan dan dilakukan monitoring dan pengukuran atas proses atau kemajuan yang diperoleh untuk pencapaian tujuan. Penilaian dan peninjauan diproses manajemen kinerja dilakukan secara transparan terutama terhadap orang yang terpengaruh oleh keputusan yang diambil dan orang mendapatkan meneliti dasar dibuatnya suatu keputusan.
3. Keluaran (out put)
Manajemen kinerja sangat berkepentingan dengan keluaran yang merupakan hasil kerja organisasi. Hasil kerja yang dapat dicapai organisasi perlu dibandingkan dengan tujuan yang diharapkan organisasi untuk dicapai, apakah lebih besar atau lebih rendah dari tujuan yang ditetapkan. Apabila terdapat deviasi antara hasil kerja dengan tujuan yang diharapkan, dijadikan sebagai umpan balik untuk perencanan tujuan yang akan datang dan implementasi kinerja yang sudah dilakukan. Keluaran merupakan hasil langsung dari kinerja organisasi baik dalam bentuk barang maupun jasa.
4. Manfaat
Manajemen kinerja tidak hanya memfokuskan pada keluaran dan hasil kerja dari sumber daya manusia. Manajemen kinerja perlu memperhatikan manfaat atau dampak dari hasil kerja. Dampak hasil kerja dapat bersifat positif bagi organisasi, misalnya karena keberhasilan seseorang mewujudkan prestasinya berdampak meningkatkan motivasi sehinnga semakin meningkatkan kineja organisasi. Namun sebaliknya dapat pula dampak keberhasilan seseorang dapat bersifat negatif, misalnya karena bangga terhadap keberhasilan, berdampak pada perubahan perilaku yang mengakibatkan suasana kerja menjadi tidak kondusif.
5.Rumah Sakit
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis propesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang parmanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan dan berkesinambungan, diagnosis
serta pengobatan penyakit yang diderita ole pasien. American hospital associantion (Azwar, 1974 :82).
Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Wolper dan Pena (Azwar,1997: 82).
Rumah sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan manyarakat, pendididkan serta penelitian kedokteran diselenggarakan. Assosiation of hospital care (Azwar, 1947 : 82).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, rumah sakit adalah merupakan suatu badan usaha yang menyediakan pelayanan yang propesional serta sarana kedokteran yang menyelenggarakan asuhan keperawatan, dan juga merupakan tempat pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.
Mutu pelayanan ruamah sakit adalah derajat kesempurnaan rumah sakit untuk memenuhi konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan satandar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit dengan wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan norma, etika, hukum dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyrakat/konsumen.
Faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan rumah sakit yaitu :
1. Kehandalan yang mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja dan kemampuan untuk dipercaya.
2. Daya tanggap, yaitu sikap tanggakap para karyawan melayani saat dibutuhkan pasien.
3. Kemampuan, memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu.
4. Muda untuk dihubungi dan ditemui.
5. Sikap sopan santun, respek dan keramahan para pegawai.
6. Komunikasi, yaitu memberikan informasi para pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanngan.
7. Dapat dipercaya dan jujur 8. Jaminan keamanan
9. Usaha untuk mengerti dan memahami kebutuhan pelanngan.
10. Bukti langsung yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang digunakan, representasi fisik dan jasa.
6.Pelayanan Rawat Inap dan Rawat Jalan
Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit, yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.
Rawat inap adalah pelayanan pasien yang perlu menginap untuk keperluan observasi, diagnosa dan terapi bagi individu dengan keadaan medis, bedah, penyakit kronis atau rehabilitasi dan memerlukan perawatan dokter setiap hari.
(Snook: 2009).
Pelayanan rawat jalan adalah (ambulatory services) adalah salah satu bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan oleh pasien tidak dalam bentuk rawat inap (hospitalization).dalam pengertian pelayanan rawat jalan ini termasuk tidak hanya yang diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim dikenal seperti rumah sakit atau klinik, tetapi juga diselenggarakan dirumah pasien ( home care) serta dirumah perawatan ( nursing homes).
(Azwar,1996:75).
Pelayanan kesehatan masyarakat ( Public Health Services ) adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah, untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat.
Azwar ( 1996: 115).
Keperawatan adalah, salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu di jelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu dalam rumah sakit.
Rumah sakit adalah suatu badan usaha yang menyediakan dan memberikan jasa pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri atas tindakan observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitative untuk orang-orang yang menderita sakit, terluka dan untuk yang melahirkan (World Health Organization).
Rumah sakit merupakan sarana upaya kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehetan dan penelitian (Permenkes No.159b/1988)
UU No. 44 tahun2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawatinap, rawat jalan dangawatdarurat.Pelayanan rumah sakit juga diatur dalam KODERSI/kode etik rumah sakit, dimana kewajiban rumah sakit terhadap karyawan, pasien dan masyarakat diatur.
Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) huruf f dalam UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Rumah Sakit sebenarnya memiliki fungsi sosial yaitu antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. Pelanggaran terhadap kewajiban tersebut bisa berakibat dijatuhkannya sanksi kepada Rumah Sakit tersebut, termasuk sanksi pencabutan izin. Selain itu, dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b UU 44/2009, pemerintah dan pemerintah daerah juga bertanggung jawab untuk menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, secara umum penyanderaan pasien oleh Rumah Sakit tidak bisa dikategorikan sebagai penahanan (perampasan kemerdekaan) ataupun pelanggaran HAM. Meski demikian, Anda dapat saja melaporkan kepada polisi jika ada indikasi penyanderaan tersebut telah merampas kemerdekaan si pasien.
Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, dinyatakan bahwa : “Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan”.
7.Efektifitas Pelayanan Publik
Efektifitas pelyanan publik dapat di denifisikan sebagai perbandingan terbaik antara input dan output. Input yang di maksutkan di sini berupa biaya, waktu, dan tenaga. Dari sisi input, pelayanan publik di katakana efisien apa bila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat dikatakan efisien apabila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat di katakana efisian maka prosedur layanan publik harus bersifat sederhana sehingga warga pengguna tidak mengeluarkan banyak energi dan biaya mengakses suatu layanan.
Sedangkan dari isi output, pelayanan publik dikatakan efisien apa bila penggunaan sumber daya yang murah dann tidak boros tapi tetap menghasilkan produk layanan yang sesuai dengan standar dan dapat memuaskan pengguna layanan (Dwiyanto, 2008;389)
Untuk mendorong tarwujutnya efektitas, kualitas pelayanan, dan daya tangkap yang lebih baik pada suatu birokrasi pemerintah yang memiliki tupoksi utama membuat kebijakan dan regulasi yang dapat dilakukan dengan menciptakan sistem intensif yang berbasis kinerja. Dalam hal ini birokrasi pemerintah dapat membuat atau mengembangkan indikator kinerja yang lebih jelas dan terukur sarta memberi insentif sacara variatif sesuai dengan kinerja yang dimiliki oleh para aparatur pelayan yang berjasa.
Tugas utama dari setiap instansi pemerintahan adalah memberikan pelayanan atau menyelenggarakan pelayanan publik (public service) agar terwujud kesejahteraan bagi rakyat (public welfare). Menurut Tampubolon (2001:139-141) pelayanan berarti, “Orang yang melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain. Karena itu, seorang pelayan yang baik ialah “melayani, bukan dilayani”. Sebagaimana telah dijelaskan pengertian pelayanan dan pengertian publik di atas, maka dalam prakteknya, pelayanan publik sangat variatif dan tergantung dari perkembangan dan kemampuan masyarakat. Istilah-istilah pelayanan dan publik itulah memberikan dasar pengertian terhadap pelayanan publik. Berkaitan dengan barang dan jasa dalam pelayanan. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu dalam bentuk barang, jasa kepada masyarakat baik
secara individu maupun kelompok atau organisasi. Keputusan MenPan Nomor 81/1993 yang disempurnakan dengan Keputusan Menpan Nomor 63/2003
secara individu maupun kelompok atau organisasi. Keputusan MenPan Nomor 81/1993 yang disempurnakan dengan Keputusan Menpan Nomor 63/2003