• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

6. Pelayanan Rawat Inap dan Rawat Jalan

Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit, yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.

Rawat inap adalah pelayanan pasien yang perlu menginap untuk keperluan observasi, diagnosa dan terapi bagi individu dengan keadaan medis, bedah, penyakit kronis atau rehabilitasi dan memerlukan perawatan dokter setiap hari.

(Snook: 2009).

Pelayanan rawat jalan adalah (ambulatory services) adalah salah satu bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan oleh pasien tidak dalam bentuk rawat inap (hospitalization).dalam pengertian pelayanan rawat jalan ini termasuk tidak hanya yang diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim dikenal seperti rumah sakit atau klinik, tetapi juga diselenggarakan dirumah pasien ( home care) serta dirumah perawatan ( nursing homes).

(Azwar,1996:75).

Pelayanan kesehatan masyarakat ( Public Health Services ) adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah, untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat.

Azwar ( 1996: 115).

Keperawatan adalah, salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu di jelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu dalam rumah sakit.

Rumah sakit adalah suatu badan usaha yang menyediakan dan memberikan jasa pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri atas tindakan observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitative untuk orang-orang yang menderita sakit, terluka dan untuk yang melahirkan (World Health Organization).

Rumah sakit merupakan sarana upaya kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehetan dan penelitian (Permenkes No.159b/1988)

UU No. 44 tahun2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawatinap, rawat jalan dangawatdarurat.Pelayanan rumah sakit juga diatur dalam KODERSI/kode etik rumah sakit, dimana kewajiban rumah sakit terhadap karyawan, pasien dan masyarakat diatur.

Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) huruf f dalam UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Rumah Sakit sebenarnya memiliki fungsi sosial yaitu antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. Pelanggaran terhadap kewajiban tersebut bisa berakibat dijatuhkannya sanksi kepada Rumah Sakit tersebut, termasuk sanksi pencabutan izin. Selain itu, dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b UU 44/2009, pemerintah dan pemerintah daerah juga bertanggung jawab untuk menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, secara umum penyanderaan pasien oleh Rumah Sakit tidak bisa dikategorikan sebagai penahanan (perampasan kemerdekaan) ataupun pelanggaran HAM. Meski demikian, Anda dapat saja melaporkan kepada polisi jika ada indikasi penyanderaan tersebut telah merampas kemerdekaan si pasien.

Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, dinyatakan bahwa : “Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan”.

7.Efektifitas Pelayanan Publik

Efektifitas pelyanan publik dapat di denifisikan sebagai perbandingan terbaik antara input dan output. Input yang di maksutkan di sini berupa biaya, waktu, dan tenaga. Dari sisi input, pelayanan publik di katakana efisien apa bila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat dikatakan efisien apabila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat di katakana efisian maka prosedur layanan publik harus bersifat sederhana sehingga warga pengguna tidak mengeluarkan banyak energi dan biaya mengakses suatu layanan.

Sedangkan dari isi output, pelayanan publik dikatakan efisien apa bila penggunaan sumber daya yang murah dann tidak boros tapi tetap menghasilkan produk layanan yang sesuai dengan standar dan dapat memuaskan pengguna layanan (Dwiyanto, 2008;389)

Untuk mendorong tarwujutnya efektitas, kualitas pelayanan, dan daya tangkap yang lebih baik pada suatu birokrasi pemerintah yang memiliki tupoksi utama membuat kebijakan dan regulasi yang dapat dilakukan dengan menciptakan sistem intensif yang berbasis kinerja. Dalam hal ini birokrasi pemerintah dapat membuat atau mengembangkan indikator kinerja yang lebih jelas dan terukur sarta memberi insentif sacara variatif sesuai dengan kinerja yang dimiliki oleh para aparatur pelayan yang berjasa.

Tugas utama dari setiap instansi pemerintahan adalah memberikan pelayanan atau menyelenggarakan pelayanan publik (public service) agar terwujud kesejahteraan bagi rakyat (public welfare). Menurut Tampubolon (2001:139-141) pelayanan berarti, “Orang yang melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain. Karena itu, seorang pelayan yang baik ialah “melayani, bukan dilayani”. Sebagaimana telah dijelaskan pengertian pelayanan dan pengertian publik di atas, maka dalam prakteknya, pelayanan publik sangat variatif dan tergantung dari perkembangan dan kemampuan masyarakat. Istilah-istilah pelayanan dan publik itulah memberikan dasar pengertian terhadap pelayanan publik. Berkaitan dengan barang dan jasa dalam pelayanan. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu dalam bentuk barang, jasa kepada masyarakat baik

secara individu maupun kelompok atau organisasi. Keputusan MenPan Nomor 81/1993 yang disempurnakan dengan Keputusan Menpan Nomor 63/2003 mendefinsikan pelayanan umum sebagai : “Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh Instansi pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan BUMN/D dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Lembaga Administrasi Negara (1998) Pelayanan Umum diartikan sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemeirntahan di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebuuthan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dwiyanto, (2008;136) pelayanan publik merupakan produk birokrasi publik yang di terima oleh warga pengguna maupun masyarakat secara luas.

Karena itu, pelayanan publik dapat didefenisikan sebagai rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna.

Pengguna yang dimaksudkan disini adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik. Dasar teoritis pelayanan publik yang ideal menurut paradigma new public service yaitu pelayanan publik harus responsif terhadap berbagai kepentingan dan nilai-nilai publik.

Tugas pemerintah adalah melakukan negosiasi dan mengelaborasi berbagai kepentingan warga negara dan kelompok komunitas. Dengan demikian, karakter dan nilai yang terkandung di dalam pelayanan publik tersebut harus

berisi preferensi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Karena masyarakat bersifat dinamis, maka karakter pelayanan publik juga harus selalu berubah mengikuti perkembangan masyarakat (Dwiyanto,2008:140).

Sistem pelayanan publik yang baik akan menghasilkan kualitas pelayanan publik yang baik pula. Suatu sistem yang memiliki dan menerapkan prosedur pelayanan yang jelas dan pasti serta mekanisme kontrol di dalam dirinya (built in control )sehingga segala bentuk penyimpangan yang terjadi secara mudah dapat diketahui. Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM), dibutuhkan petugas pelayanan yang mampu memahami dan mengoperasikan sistem pelayanan yang baik. Sebagai contoh, sistem pelayanan pajak yang sudah menggunakan komputer tentu memerlukan petugas yang memiliki kompetensi menjalankan teknologi computer. Disamping itu, petugas pelayanan juga harus mampu memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selain itu, sistem pelayanan juga harus sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau pengguna.

Organisasi harus mampu merespon kebutuhan dan keinginan pengguna dengan menyediakan sistem pelayanan dan strategi yang tepat. Sifat dan jenis pelanggan yang bervariasi membutuhkan strategi pelayanan yang berbeda dan hal ini harus diketahui oleh petugas pelayanan. Karena itu, petugas pelayanan perlu mengenali pengguna dengan baik sebelum dia memberikan pelayanan.

Penyelenggaraan pelayanan publik, dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik, yaitu penyelenggara Negara/pemerintah, penyelenggara perekonomian dan pembangunan, lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah, badan usaha/badan hukum yang diberi wewenang melaksankan

sebagian tugas dan fungsi pelayanan publik, badan usaha/badan hukum yang bekerja sama atau dikontrak untuk melaksanakan sebagian tugas dan fungsi pelayanan publik.

Hardiyansyah, (2011:24-25) pelayanan publik dilakukan tiada lain untuk memberikan kepuasan bagi pengguna jasa, Karena itu penyelenggaraannya secara niscaya membutuhkan asas-asas pelayanan. Dengan kata lain, dalam memberikan pelayanan publik, instansi penyedia pelayanan publik harus memperhatikan asas-asas pelayanan publik.

Asas-asas pelayanan publik menurut keputusan Menpan Nomor 63/2003sebagai berikut:

A. Transparansi.

Bersifat terbuka, mudah dan dapat di akses oleh semua pihak yang membutuhkan dan di sediakan secara memadai serta mudah dimengerti.

B. Kondisional.

Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.

C. Partisipatif.

Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.

D. Kesamaan Hak.

Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender dan status ekonomi.

E. Keseimbangan Hak dan Kewajiban.

Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan Kewajiban masing-masing pihak.

8.Jenis dan Spekualifikasi Rumah Sakit

Rumah sakit terdiri atas rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Rumah Sakit Umum adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Sedangkan rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit.

Klasifikasi rumah sakit adalah pengelompokan kelas rumah sakit berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan. Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit dibagi menjadi : 1. Rumah Sakit Pemerintah

Rumah sakit yang dibiayai, dipelihara, dan diawasi oleh Departemen Kesehatan, Pemerintah Daerah, ABRI, dan departemen lain, termasuk BUMN. Misalnya Rumah Sakit Umum Pusat, Provinsi, Kabupaten dan lokal.

Usaha ini dijalankan berdasarkan usaha sosial.

2. Rumah Sakit Swasta Rumah Sakit adalah Sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitasi) secara paripurna. Menurut WHO (World Health).

9. Kebijakan Pengelolaan Rumah Sakit

Dalam buku Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat (2003:113-114) menjelaskan bahwa lingkungan rumah sakit terdiri dari semua yang ada di tempat itu: semua peralatan tetap, peralatan yang ada dapat dipindahkan, instrumen, pasien, dan petugas. Kita dapat membedakan dua keadaan-keadaan dimana risiko infeksi sangat tinggi dan diperlukan kewaspadaan ekstra (ruang operasi dan unit perawatan intensif), dan semua yang lain, dimana jelas ada bahaya tetapi dengan tingkatan yang lebih rendah. Dalam hal ini manajemen risiko dapat secara efektif dimasukkan ke dalam program yang dirancang untuk mengendalikan infeksi.

Manajemen risiko adalah suatu proses sistemik untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang dapat terjadi dalam suatu situasi, menentukan tindakan yang diperlukan dan mengevaluasi risiko potensial dan risiko sebenarnya, sehingga tercipta suatu mekanisme untuk mengurangi risiko dan menghindari kerugian ekonomi. Hal ini diperlukan karena meningkatnya kebutuhan untuk menyediakan layanan kesehatan yang aman dan efektif di dalam hubungan yang sedang berkembang antara Primary Care Groups/Trusts dan pemberi layanan kesehatan sekunder mereka, meningkatkan jumlah klaim yang diajukan terhadap penyedia layanan kesehatan, serta biaya pengadilan. Tujuannya adalah memperkecil jumlah risiko yang terjadi, meningkatkan kualitas perawatan dan menurunkan beban biaya bagi organisasi/pengelolah.

Berikut adalah perbedaan persyaratan penyelenggaraan Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta.

A. Pemerintah Rumah Sakit pemerintah dimiliki dan diselenggarakan oleh:

1. Departemen Kesehatan 2. Pemerintah Daerah 3. ABRI

4. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

B. Swasta

1. Rumah sakit swasta diselenggarakan berasaskan kemandirian dengan prinsip wirausaha dengan tetap melaksanakan fungsi sosial.

2. Kepemilikan rumah sakit berbentuk yayasan, Perseroan Terbatas (P.T), koperasi dan atau badan hukum lainnya.

3. Rumah sakit swasta harus memenuhi persyaratan standar bangunan, prasarana, dan peralatan sesuai dengan jenis dan klasifikasi rumah sakit, meliputi :

a. Lokasi atau letak bangunan prasrana harus sesuai dengan rencana umum tataruang dan terhindar dari pencemaran.

b. Bangunan, prasarana, peralatan, harus dalam kondisi terpelihara dan memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan kerja.

c. Memenuhi persyaratan teknis bengunan, prasarana, peralatan, dan dampak lingkungan internal dan eksternal.

d. Peralatan medik harus memenuhi persyaratan pengujian/kalibrasi.

4. Rumah sakit swasta dalam memberikan pelayanan harus menjamin hak-hak pasien.

5. Rumah sakit swasta wajib menyelenggarakan peningkatan mutu pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

6. Rumah sakit swasta wajib mempunyai komite medik dan komite keperawatan.

7. Rumah sakit swasta wajib merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih mampu pelayanannya apabila rumah sakit tersebut tidak mampu menangani pasien tersebut.

8. Bentuk pelayanan rumah sakit swasta adalah rumah sakit umum dan rumah sakit khusus.

9. Rumah sakit khusus swasta diklasifikasikan menjadi rumah sakit khusus swasta pratama dan madya.

10. Setiap rumah sakit swasta wajib melaksanakan fungsi sosial.

11. Rumah sakit swasta yang dimiliki yayasan, perhimpunan, perkumpulan sosial, dan rumah sakit BUMN yang melayani pasien umum minimal 25%, dan rumah sakit swasta yang dimiliki pemilik modal minimal 10 %.

10. Jenis dan Ketentuan Pelayanan Rumah Sakit

Rumah Sakit adalah organisasi terpadu dari bidang sosial dan medik yang berfungsi sebagai pusat pemberi pelayanan kesehatan, baik pencegahan penyembuhan dan pusat latihan dan penelitian biologi-sosial. Rumah Sakit adalah suatu fasilitas umum (public facility) yang berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan meliputi pencegahan dan penyembuhan penyakit, serta pemeliharaan, peningkatan dan pemulihan kesehatan secara paripurna.

a. Berdasarkan Kepemilikan dan Penyelenggaraan b. Persyaratan Penyelenggaraan Rumah Sakit

Berdasarkan kepemilikannya, rumah sakit dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta. Pada dasarnya, peraturan

yang dilakukan pada kedua jenis rumah sakit tersebut sama, namun ada beberapa peraturan yang membedakannya. Misalnya penyelenggaraan rumah sakit bertujuan untuk memberikan pelayanan penyembuhan penyakit, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pemulihan kesehatan individu yang bermutu, efisien, efektif, dan merata. Rumah sakit wajib mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan, rawat inap minimal 25 tempat tidur, rawat darurat, penunjang medik dan non-medik. Kelas pelayanan rumah sakit terdiri dari kelas VIP, kelas I, kelas II, kelas III.

Berdasarkan Undang-undang RI. No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, menjelaskan bahwa rumah sakit mempunyai fungsi sebagai berikut :

a) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

b) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

c) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

d) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan

Rumah sakit mempunyai beberapa fungsi, yaitu menyelenggarakan pelayananmedik, pelayanan penunjang medik dan non medik, pelayanan dan asuhan keperawatan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, pelayanan rujukan upayakesehatan, administrasi umum dan keuangan. Maksud

dasar keberadaan rumah sakit adalah mengobati dan perawatan penderitasakit dan terluka. Sehubungan dengan fungsi dasar ini, rumah sakit memberikan pendidikan bagi mahasiswa dan penelitian yang juga merupakan fungsi yang penting. Fungsi keempat yaitu pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan juga telah menjadi fungsi rumah sakit. Jadi empat fungsi dasar rumah sakit adalah pelayanan penderita, pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat.

Pengawasan rumah sakit sangat diperlukan karena rumah sakit merupakan tempat dengan risiko kontaminasi tinggi.Pengawasan di rumah sakit meliputi pengawasan infeksi, pengawasan penderita, pengawasan pekerja rumah sakit dan pengawasan lingkungan rumah sakit. Salah satu pengawasan yang dapat dilakukan adalah melalui pemantauan kualitas udara secara bakteriologis.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KEPMENKES) Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit menyatakan bahwa untuk mengurangi kadar kuman dalam ruang (indoor) satu kali dalam sebulan harus didesinfeksi dengan menggunakan aerosol (resorcinol, triethylen glikol) atau disaring dengan elektron presipitator atau menggunakan sinar ultraviolet. Untuk pemantauan kualitas udara ruang minimal dua kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman, debu dan gas).

B. Kerangka Pikir

Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan rumah sakit yang berkualitas merupakan salah satu syarat mutlak dalam rangka penciptaan keadaan sehat bagi masyarakat

yang tidak hanya mencakup wilayah kerja saja namun dalam tatanan pengguna pelayanan rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

Dalam melaksanakan peran dan fungsi rumah sakit, aspek kualitas menjadi tuntutan bagi setiap individu/masyarakat dalam rangka kebutuhan akan pelayanan yang lebih baik. Aspek kualitas tersebut berhubungan dengan proses pelayanan yang diselenggarakan di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

Penyelenggaraan pelayanan tingkat rumah sakit tersebut memiliki beberapa aspek yang tidak lepas dari rangkaian pelaksanaan pelayanan rumah sakit antara lain, registrasi, pelayanan UGD, pelayanan kamar yang terdiri dari pelayanan dokter, pelayanan perawat, pelayanan obat yang harus dilewati oleh masyarakat/pasien, apabila ingin mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Lasinrang Kabupaten Pinrang.

BAGAN KERANGKA PIKIR

C. Fokus penelitian

Fokus penelitian penulis yaitu, berfokus kepada mekanisme pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

D. Deskripsi Fokus Penelitian

Adapun deskripsi fokus penelitian yang penulis rancangkan antara lain sebagai berikut :

Mekanisme pelayanana

Registrasi

Indikator Pelayanan di Rumah Sakit Umum Lasinrang

Efektifitas Pelayanan Pelayanan

Kamar 1. Pelayanan

Dokter 2. Pelayanan

Perawat 3. Pelayanan

Obat Pelayanan UGD

1. Mekanisme pelayanan, merupakan cara kerja atau proses kerja dalam suatu rumah sakit dalam memberikan pelayanan terhadap pasien yang meliputi, masukan, proses dan keluaran.

2. Registrasi yang merupakan tempak kunjungan pertama para pasien untuk melakukan transaksi antara pasien/keluarga pasien dengan petugas di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

3. Ruang Unit Gawat Darurat (UGD), merupakan salah satu bagian ruangan pelayana awal di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang untuk diberikan pelayanan pasien yang menderita sakit atau cederah.

4. Pelayanan dokter merupakan proses kegiatan para dokter di rumah sakit umum Lasinrang kabupaten Pinrang untuk melakukan pengengecekan (pemeriksaan) pasien pada tiap paginya,dalam rangka memperhatikan akan perkembangan dan kebutuhan pasien.

5. Pelayanan perawat yaitu petugas rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang harus cepat dan tepat dalam menangani keluhan pasien, seperti cepat dalam pemasangan infus, dan cepat dalam mengganti cairan pasien apa bila telah habis.

6. Perawatan obat merupakan pemberian obat kepada pasien sesuai yang telah dianjurkan oleh dokter di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian yang di gunakan penulis dalam penelitian ini adalah, kurang lebih dua bulan. Yang berlokasi di rumah sakit umum Lasinrang kabupaten Pinrang. Alasan penulis ingin melakukan penelitian di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang ini khususnya di kelas VIP untuk mengetahui mekanisme pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada pasien yang dinilai masyarakat tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. dalam artian, masih banyak petugas yang lambat dalam memberikan pelayanan terhadap pasien selain kelas VIP.

B. Tipe dan Jenis Penelitian

Tipe penelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif, dimana hasilnya memberikan gambaran secara umum tentang masalah Mekanisme Pelayanan Pasien Kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

Jenis penelitian yang digunakan didalam penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana penelitian ini akan mendeskripsikan tentang Mekanisme Pelayanan Pasien Kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

35

C. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Data Primer adalah data yang diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian, sumber data utama dalam penilitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang di peroleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai, oleh karena itu penulis menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung dari sumber informasi yang terpilih.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data yang di dapat dari sumber bacaan dan

Data sekunder adalah data-data yang di dapat dari sumber bacaan dan

Dokumen terkait