• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME PELAYANAN PASIEN KELAS VIP DI RUMAH SAKIT UMUM LASINRANG KABUPATEN PINRANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEKANISME PELAYANAN PASIEN KELAS VIP DI RUMAH SAKIT UMUM LASINRANG KABUPATEN PINRANG"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

i Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara

Disusun dan Diajukan Oleh SUHENI

Nomor Stambuk : 10561 03779 10

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2015

(2)
(3)
(4)

iv Nama Mahasiswa : Suheni

Nomor Stambuk : 10561 03779 10

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, 24 Januari 2015

Yang Menyatakan,

SUHENI

(5)

v

Halaman Persetujuan... ii

Halaman Penerimaan Tim ………... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Imiah……….. iv

Abstrak……….. v

Kata Pengantar... vi

Daftar Isi……… vii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Rumusan Masalah………. 5

C. Tujuan Penelitian………... 5

D. Kegunaan Penelitian……….. 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Konsep dan Teori………... 7

1. Pengertian Mekanisme……… 7

2. Konsep Pelayanan Publik………... 8

3. Pelayanan Prima………. 12

4. Konsep Manajemen Kinerja………... 14

5. Rumah Sakit………... 16

6. Pelayanan Rawat Inap dan Rawat Jalan……… 18

7. Efektititas Pelayanan Publik……….. 21

8. Jenis dan Spekualifikasi Rumah Sakit………... 26

9. Kebijakan Pengelolaan Rumah Sakit………. 27

10. Jenis dan Ketentuan Pelayanan Rumah Sakit……… 29

B. Kerangka Pikir……… 31

C. Fokus Penelitian………. 33

D. Deskripsi Fokus Penelitian……… 33

BAB III. METODE PENELITIAN A. Waktu Lokasi Penelitian……… 35

B. Tipe dan Jenis Penelitian... 35

C. Sumber Data……..……….………... 36

D. Informan Penelitian ……… 36

E. Teknik Pengumpulan ... 37

F. Teknik Analisis Data... 38

G. Pengabsahan Data ………..………. 38

(6)

vi BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan………. 67

B. Saran………... 68

DAFTAR PUSTAKA... 70

(7)

vii Rahim ).

Kesehatan merupankan hal yang paling utama dalam kehidupan manusia.

Dengan kesehatan yang prima, maka seorang akan dapat menjalankan aktifitasnya dengan baik. Melalui kesehatan yang baik dalam masyarakat maka di harapkan dapat tercapai suatu derajat kehidupan yang optimal. Pada UU Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 menjelaskan tentang kesehatan merupakan hak asasi manusia dan unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai cita-cita bangsa.

Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang mekanisme pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif . Lokasi penelitian ini adalah ruang pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi wawancara dan dokumentasi, dengan informan sebanyak 6 orang dimana terdiri dari 1 orang dari Kepala Rumah Sakit, 1 orang dokter, 1 orang perawat, serta 3 orang pasien/

keluarga pasien yang dipilih sebagai informan karena dianggap kridibel sesuai dengan bidang tugas tanggung jawabnya dalam memberikan data dan informasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan mekanisme pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang sangat memuaskan pasien yang rawat inap di Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang Karena ruangannya yang bersih, sejuk serta dilengkapi dengan sarana dan prasarana layaknya rumah peribadi. Tidak hanya itu, kamar VIP juga ditangani oleh dokter – dokter ahli serta perawat yang telah berpengalaman sehingga memberikan rasa nyaman serta menunjang kesembuhan pasien. Hanya saja terdapat perbedaan yang cukup jauh dengan pelayan pasien selain kelas VIP.

Kata Kunci : Mekanisme, Pelayanan, dan Kelas VIP

(8)

viii

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu”

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Mekanisme Pelayanan Pasien Kelas VIP Di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang“.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh Gelar Studi Strata Satu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih ke pada yang terhormat :

1. Kedua orang tuaku tercinta ayahanda Barisi dan ibunda Sati atas do’a, cinta dan kasih sayang yang tak pernah terputus. Berkat semua ini penulis mampu mengarungi hidup dengan penuh semangat dan harapan untuk menyongsong masa depan.

2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si selaku dosen pembimbing I dan Bapak Samsir Rahim, S.Sos., M.Si. selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktunya serta memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan

(9)

ix

Madani, M.Si selaku Dekan fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak Dr. Burhanuddin, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. Serta para Dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjadi Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Tidak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada seluruh informan yang berada di Rumah sakit Umum Lasinrang kabupaten Pinrang atas kesediannya memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengambil data dalam rangka merampungkan tugas penelitiannya.

5. Terima kasih buat saudara-saudaraku tersayang, segenap keluarga yang selalu memberikan semangat serta dukungan moril dan material.

6. Serta Sahabat-sahabat seperjuanganku Jumiati, Efrianti, Mahdayana fitridayna S.Sos, Nurmiati Rahman S.Sos. Serta berbagai pihak yang turut membantu dan menyediakan waktunya demi terselesaikannya skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

7. Tak lupa juga ucapan terima kasih buat Rizal hanz Siri Pesona, atas dukungan, nasehat serta motifasi yang talah dibarikan kepada penulis dalam rangka menyelesaikan studi di universitas muhammadiyah Makassar.

(10)

x

skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada kita semua, Amin.

Billahi Fisabililhaq Fastabikul Khairat Assalamu Alaikum Wr. Wb

Makassar, 24 Januari 2015

Suheni

(11)

xi SUHENI

Nomor Stambuk : 10561 03779 10

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2015

(12)

1 A. Latar Belakang Masalah

Kesehatan merupankan hal yang paling utama dalam kehidupan manusia.

Dengan kesehatan yang prima, maka seorang akan dapat menjalankan aktifitasnya dengan baik. Melalui kesehatan yang baik dalam masyarakat maka di harapkan dapat tercapai suatu derajat kehidupan yang optimal. Pada UU Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 menjelaskan tentang kesehatan merupakan hak asasi manusia dan unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai cita-cita bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksud pancasila dan Undang- undang Negara Republik Indonesia 1945. Terwujudnya suatu kondisi sehat merupakan harapan semua orang sehingga dalam upaya mewujudkan suatu kondisi sehat tersebut, maka harus dilakukan suatu wujud pencapaian kesehatan yang baik yaitu, menyelenggarakan kesehatan bagi mansyarakat yang baik.

Pelayanan kesehatan adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah, maupun swasta untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, baik yang bersifat medis, maupun non medis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Azwar, 1996).

Pemerintah Kabupaten Pinrang terus melakukan berbagai upaya memberikan tingkat pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada warganya, salah satu yakni adanya ruangan VIP yang memiliki fasilitas serta pelayanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya serta penambahan berbagai jenis pelayanan kesehatan di rumah sakit, seperti melakukan pengembangan

(13)

aspek sarana dan prasarana yang memadai. Biaya pelayanan merupakan, pungutan daerah sebagai pembayaran atas pelayanan atau jasa yang disediakan atau diberikan oleh rumah sakit untuk kepentingan pribadi. Jasa sarana adalah imbalan yang diterima oleh rumah sakit atas pemakaian sarana, fasilitas rumah sakit bahan obat-obatan dan lain-lain. Alat kesehatan yang habis digunakan langsung dalam langkah Observasi, diagnosa, Pengobatan, Konsultasi, Visit, Rehabilitasi, Medik dan atau pelayanan kesehatan lain.

Mengingat kesehatan merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, maka pemerintah harus menciptakan suatu pembangunan kesehatan yang memadai sebagai upaya perbaikan terhadap buruknya tingkat kesehatan masyarakat, karena setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat Indonesia, akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara, dan setiap peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga merupakan investasi bagi pembangunan negara.

Upaya pembangunan harus dilandasi dengan wawasan kesehatan dalam arti, pembangunan nasional harus memperhatikan kesehatan masyarakat.

Dimana tingkat kesehatan masyarakat merupakan tanggungjawab atas semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

Dalam mewujudkan hak hidup sehat masyarakat atau penduduk tersebut, pemerintah harus menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang merata, adil, dan bertanggungjawab bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk terwujudnya hal tersebut, perlu mengadakan upaya-upaya menjamin akses data pelayanan masyarakat, di karenakan derajat kesehatan masyarakat pada saat ini masih

(14)

tergolong rendah, kondisi tersebut di akibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini di pengaruhi oleh berbagai factor, seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi karena biaya kesehatan mahal.

Rumah sakit sebagai sarana kesehatan, merupakan salah satu sumber daya kesehatan, perlu senantiasa meningkatkan mutu layanannya, apabila ingin tetap meningkatkan kualitasnya sebagai rumah sakit yang unggul. Dibutuhkan kinerja yang baik dari sumberdaya manusia yang bekerja di dalamnya.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan pelayanan publik. Seperti, diterbitkannya berbagai kebijakan, baik berupa pedoman umum penyelenggaraan pelayanan publik, maupun petunjuk teknis yang berkaitan dengan aspek-aspek lainnya. yaitu penyusutan standar pelayanan minimal bagi instansi pemerintahan. Namun demikian kebijakan-kebijakan tersebut belum mampu mengatasi berbagai permasalahan diberbagai bidang pelayanan publik, serta prosedur pelayanan kepada masyarakat yang masih berbelit-belit, merupakan fenomena yang masih sering dijumpai dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat.

Masyarakat yang merupakan pelanggan, dari pelayanan publik juga memiliki kebutuhan dan harapan pada kinerja penyelenggaraan pelayanan publik yang propesional. Sehingga yang sekarang menjadi tugas pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah adalah pembagian memberikan pelayanan publik yang mampu memuaskan masyarakat.

(15)

Di Kabupaten Pinrang terdapat sebuah rumah sakit yang bertipe C, yaitu Rumah Sakit Umum Lasinrang, dan merupakan pusat rujukan oleh mayoritas masyarakat wilayah kabupaten Pinrang. Tentunya masayarakat, atau pasien yang berobat di rumah sakit tersebut, mengharapkan perwujudan dari instruksi menteri kesehatan RI. No. 828/MENKES/VII 1999. tentang pelaksanaan pelayanan prima di bidang kesehatan, yaitu menjelaskan bahwa salah satu aspek yang penting dalam mempengaruhi pelayanan kesehatan yang prima, adalah aspek kehandalan petugas. Terutama pada perilaku Petugas.

Dalam hal pelayanan rujukan kesehatan, Rumah Sakit Umum Lasinrang kabupaten Pinrang melayani rujukan dari 14 Puskesmas. Dan 2 rumah sakit swasta yang ada di wilayah kabupaten Pinrang. serta RSU Lasinrang, juga menerima rujukan dari luar wilayah kabupaten Pinrang.

Rumah Sakit Umum Lasinrang, kabupaten Pinrang, adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten Pinrang. Yang secara teknis fungsional, bertanggung jawab kepada kepala dinas kesehatan. Dan teknis operasional bertanggung jawab kepada kepala Daerah. Yang mempunyai tugas pokok melaksanakan upaya pelayanan kesehatan, secara berdaya guna dan berhasil guna. Dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan, yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dalam rangka pelaksanaan peningkatan pelayanan kesehatan, serta pencegahan penyakit dan melakukan upaya rujukan di wilayah kabupaten Pinrang.

Penelitian ini dilakukan di ruangan VIP dikaranakan adanya perbedaan yang jauh dalam hal memberikan layanan yang dianggap kurang wajar, antara

(16)

kelas VIP dengan Kelas lainnya. Serta dalam hal registrasi petugas rumah sakit masih menggunakan sistem manual sehingga proses regitrasi membutuhkan waktu yang lama untuk mandata identitas pasien. Hal ini para petugas belum bisa dikatakan handal dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada masyarakat.

Mengenai fasilitas di kamar inap tentunya bisa dimaklumi akan tetapi mengenai tugas dan tanggung jawab pihak rumah sakit yaitu memberikan kesembuhan bagi siapa saja yang berobat tentunya menjadi kewajiban yang mutlak harus diberikan kepada seluruh pasien yang berobat. Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan mengungkapkannya dalam bentuk proposal skripsi dengan judul. “ mekanisme pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan didalam penelitian ini, adalah bagaimana mekanisme pelayana pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis ingin mengetahui mekanime pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

(17)

D. Kegunan Penelitian

Kegiatan penilitian ini terdiri menjadi dua bagian yaitu kegunaan akademisi dan kegunaan praktis yaitu sebagai berikut :

a. Kegunaan Akademis

Kegunaan akademis dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Untuk menambah wawasan penelitian maupun wawasan para pembaca tentang mekanisme pelayanan pasien di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

2. Untuk menjadi referensi penelitian berikutnya dengan tema yang sama namun fokus yang berbeda.

b. Kegunaan Praktis

Kegunaan praktis dari penelitian ini yaitu bisa menjadi masukan bagi pemerintah setempat maupun pihak rumah sakit yang bersangkutan tentang ciri pelayanan yang baik, melalui metode mekanisme pelayana di rumah sakit Lasinrang Pinrang.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian, Konsep dan Teori 1. Pengertian Mekanisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1999:641), mekanisme adalah cara kerja suatu organisasi atau kelompok dan sebagainya dalam hal saling mempengaruhi untuk bekerja seperti mesin, kalau satu bergerak maka yang lain turut bergerak pula.

Menurut Prof. Padmo Wahyono (1989), Mekanisme adalah suatu ungkapan yang diambil dari ilmu gerak atau juga bidang tekhnik dengan mengibaratkan seperti putaran mesin berjalan dalam suatu pola sistem gerak yang berulang menurut suatu pola yang selalu sama seperti yang telah direncanakan menurut desainnya.

Sebuah organisasi memerlukan langkah-langkah yang sistematis untuk mempermudah pencapaian suatu tujuan dan meminimalkan tingkat kegagalan, hal ini sering disebut dengan mekanisme yang merupakan suatu proses cara kerja atau tata cara pelaksanaan suatu program atau rangkaian aktivitas yang dilaksanakan oleh sebuah organisasi untuk mendapatkan hasil dari apa yang telah direncanakan oleh badan organisasi tersebut. Secara umum mekanisme adalah mengetahui bagimana cara menggunakan suatu alat sehingga kita tahu sampai dimana kemampuan suatu alat tersebut bekerja. atau cara kerja suatu badan atau organisasi atau perkumpulan hal saling bekerja.”

7

(19)

Poerwadarmita (2003:757) mendefinisikan “Mekanisme adalah seluk beluk atau cara kerja suatu alat (perkakas) dan sebagainya

Moenir (2001:53) menjelaskan bahwa ”Mekanisme merupakan suatu rangkaian kerja sebuah alat untuk menyelesaikan sebuah masalah yang berhubungan dengan proses kerja untuk mengurangi kegagalan sehingga menghasilkan hasil yang maksimal.”

Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa mekanisme adalah cara kerja suatu alat dalam sebuah badan atau organisasi yang saling berhubungan untuk menghasilkan yang maksimal sehinga tercapai sebuah tujuan yang telah di tetapkan oleh suatu organisasi.

2. Konsep Pelayanan Publik

Pelayanan publik diartikan, pemberi layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan Kepmenpan No. 63/KEP/M.PAN/7/2003, publik adalah segala kegiatan upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pelayanan itu adalah proses dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia sesuai dengan haknya. kata “umum” dalam “pelayanan” menunjukkan masyarakat, orang banyak, yang punya kepentingan, terjemahan dalam bahasa inggris “publik” kalau dihubungkan dengan kata pelayanan maka terjadi pelayanan umum (public service) atau pelayanan publik. Istilah dan konsep pelayanan banyak ditemui dalam berbagai aspek kehidupan manusia dewasa ini.

(20)

Keragaman istilah dan konsep pelayanan menandakan keterkaitan pada ahli untuk memberikan konstribusi terhadap perkembangan konsep pelayanan itu sendiri.

Dengan demikian, pelayanan publik adalah pemenuhan keinginan dan kebutuhan masyarakat oleh penyelenggara negara. Negara didirikan oleh publik (masyarakat) tentu saja dengan tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakikatnya negara dalam hal ini pemerintah (birokrat) haruslah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan dalam hal ini bukanlah kebutuhan secara individual akan tetapi berbagai kebutuhan yang sesungguhnya diharapkan oleh masyarakat, misalnya kebutuhan akan kesehatan, pendidikan dan lain-lain ( Sinambela 2010:115).

Ada beberapa konsep definisi pelayanan publik antara lain sebagai berikut :

Menurut Moenir (1995:16) pelayanan adalah “suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung”.

Rahmat (2009:107) Pelayanan merupakan, suatu konsep yang senantiasa dikaitkan dengan proses pemerintah kebutuhan manusia, yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dari pemberi layanan, yaitu aparat pemerintah. Tuntutan publik terhadap kualitas pelayanan aparatur pemerintah semakin tinggi mengingat keinginan dan kesadaran masyarakat, dalam memenuhi harapannya akan pelayanan yang berkualitas semakin berkembang.

Konsep pelayanan yang berkualitas, lebih banyak mengacu pada upaya untuk memberikan pelayanan yang bermutu, berdaya guna, dan berhasil guna.

Kualitas sering dianggap sebagai ukuran relative kebaikan suatu produk atau jasa.

(21)

Tjiptono (Rahmat 2008:108) mengatakan bahwa kualitas merupakan, suatu kondisi dinamika yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi akan melebihi harapan.

Suatu pelayanan publik yang ideal paling tidak memiliki beberapa prinsip dasar kristiadi (Rahmat 2009:106) yaitu :

1. Pelayanan yang diberikan harus memperhatikan kebutuhan masyarakat dan sistem pelayanan yang dilakukan oleh pihak lain yang memiliki aspek kepuasan layanan kepada masyarakat.

2. Pelayanan yang semakin lama semakin meningkat sementara pemerintah masyarakat tidak boleh di tinggalkan. Apabila birokrasi telah memacunya untuk meningkatkan pemerintahanya maka pelayanan yang di tetapkan tidak boleh mundur.

3. Pelayanan harus di evaluasi, tidak saja keberhasilannya tetapi juga kegagalan dari pelaksanaan sistem pelayanan yang ditetapkan.

4. Pelayanan yang memiliki karakteristik tidak berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat agar ditetapkan ditengah-tengah suatu sistem pelayanan, dan bukan justru di barisan paling depan.

5. Pelayanan yang kurang memperhatikan hirarki nilai kepuasan masyarakat sebenarnya memiliki hirarki nilai kepuasan tertentu.

Dalam mewujudkan pelayanan yang mampu memuaskan masyarakat pelanggan, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Visi dan Misi pelayanan b. Pelanggan

(22)

c. Tujuan dan Sasaran

d. Standar pelayanan dan ukuran keberhasilan pelayanan.

Salah satu fungsi pokok pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintah adalah pelayanan. Definisi pelayanan menurut beberapa ahli antara lain :

1. Menurut Rasyid (Rahmat 2009:105) mengartikan, pelayan publik sebagai pemberian pelayanan atau melayani keperluan masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sendiri, sesuai dengan aturan dan cara yang telah ditetapkan.

2. Thoha (Rahmat 2009:105 ) mengatakan bahwa, pelayanan publik sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, atau instansi tertentu untuk memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat, dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

3. Kotler (2008:132) pelayanan adalah, setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.

4. Menurut Barata (2004:175) “ pelayanan adalah, suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dan orang lain, atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan’’. Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan, bahwa pelayanan usaha yaitu melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang. Kepuasan Mentri Pendaya gunaan Aparatur No. 81 Tahun 1993 menyatakan bahwa pelayanan umum adalah segala bentuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah

(23)

pusat/daerah, BUMN/BUMD, dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat dan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Menurut Lukman (2000:18) pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum, yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah pusat, di daerah dan lingkungan badan usaha milik negara atau daerah dalam dan melayani keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi tersebut, sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapakan.

3. Pelayanan Prima

Pelayanan prima adalah, pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan memberi layanan melampaui dari yang diharapkan pelanggan.

Dalam memberikan pelayanan yang baik, dibutuhkan adanya layanan dan dukungan kepada pelanggan agar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Layanan dan dukungan kepada pelanggan dapat diartikan sebagai bentuk layanan memberikan kepuasan bagi pelanggan dan selalu diinginkan oleh para pelayanan untuk memberikan citra positif di mata pelanggannya. Pelayanan dengan biaya terkendali/terjangkau sehingga pada gilirannya pelanggan dapat bekerja sama/berperan aktif dalam pelayanan prima. Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan menguntungkan pihak pelanggan. Untuk mencapai hal itu,

(24)

diperlukan peningkatan kinerja pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

Pengertian pelayanan dikemukan oleh Sanafiah (2000: 31) membagi dua pengertian pelayanan yaitu : Pelayanan dalam arti luas adalah, keseluruhan proses penyelenggaraan kepentingan umum/masyarakat yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk menciptakan efisiensi, efektifitas, keadilan sosial dari kesejahteraan. Sedangakan pengertia pelayanan dalam arti sempit adalah, proses pelayanan tatap muka yang dilakukan oleh instansi pemerintah kepada masyarakat berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat di simpulkan bahwa, pelayanan adalah instansi atau lembaga pemerintah khususnya yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa, maka sudah merupakan kewajiban setiap aparat atau karyawannya memberikan pelayanan yang terbaik. Suatu instansi atau lembaga dalam operasionalnya tidak terlepas dari penilaian atau respon masyarakat sebagai mitra dalam hal mewujudkan efektivitas pelayanan.

Menurut Davis (2003:22) dirumuskan bahwa kualitas pelayanan sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau bahkan mungkin melebihi harapan. Kualitas pelayanan juga diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan terpenuhinya harapan/kebutuhan pelanggan, dimana pelayana dikatan berkualitas apabila dapat menyediakan produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan para pelanggan.

(25)

Menurut Sedamayanti (2009:249) bahwa “pelayanan prima adalah pelayanan yang diberikan kepada pelanggan (masyarakat) minimal sesuai dengan standar pelayanan (cepat, tepat, akurat, murah, ramah)”.

Pengertian pelayanan menurut kotler (Nasution, 2003:6) adalah aktifitas atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.

Pelayanan prima ini merupakan bagian dari pelayanan publik yang memiliki arti bahwa pelayanan yang diberikan haruslah berkualitas dan implementasinya dilapangan tentunya harus berdasarkan teorinya. Didalam proses pencapaian hal tersebut dibutuhkan unsur-unsur pokok pelayanan.

Oleh karena itu, dalam memberikan pelayanan yang baik dibutuhkan adanya layanan dan dukungan kepada pelanggan akar kepuasan pelanggan dapat terpenuhi. Tujuan dari pelayanan prima adalah memuaskan dan menguntungkan pihak pelanggan. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan peningkatan kinerja pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

4. Proses Manajemen Kinerja

Proses manajemen kinerja melakukan pendekatan holistik untuk mengelolah kinerja yang menjadi kepentianan setiap orang dalam organisasi. Namun tidak perlu manjadi praktek universal, manajemen kineja dibawakan dengan berbagai tingkat keberhasilandan komitmen pekerja. Manajmen kinerja bersangkutan dengan masalah pengelolaan dengan semua sumber daya dalam organisasi yang menjadi, masukan , proses pelaksanan kinerja, keluaran atau hasil kerja dan manfaat atau dampak dari suatu kerja (Wibowo 2010:22).

(26)

1. Masukan (input)

Manajemen kinerja memerlukan masukan dalam bentuk tersedianya kapabilitas sumber daya manusia baik sebagai individu, maupun sebagai tim, kapabilitas sumber daya manusia diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan kompotensi. Sementara kompotensi diperlukan agar sumber daya manusia mempunyai kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi sehingga dapat mempunyai kinerja terbaik. Disamping itu pencapaian tujuan organisasi memerlukan masukan sumber daya lainnya dalam bentuk modal, bahan-bahan, peralatan, dan teknologi serta metode dan mekanisme kerja.

Dalam manajmen kinerja berbagai ragam masukan tersebut harus dapat dikelolah secara sinergis.

2. Proses (Process)

Manajmen kinerja mencakup suatu proses pelaksanan kinerja tentang bagaiman kinerja dilakukan. Manejmen kinerja diawali dengan suatu perencanan tentang bagaimana merencanakan suatu tujuan yang diharapkan dimasa depan dan menyusun semua sumber daya dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengoreksi dan menentukan langkah- langkah yang diperlukan apabila terdapat deviasi terhadap rencana. Perencanan dilaksanakan dan dilakukan monitoring dan pengukuran atas proses atau kemajuan yang diperoleh untuk pencapaian tujuan. Penilaian dan peninjauan diproses manajemen kinerja dilakukan secara transparan terutama terhadap orang yang terpengaruh oleh keputusan yang diambil dan orang mendapatkan meneliti dasar dibuatnya suatu keputusan.

(27)

3. Keluaran (out put)

Manajemen kinerja sangat berkepentingan dengan keluaran yang merupakan hasil kerja organisasi. Hasil kerja yang dapat dicapai organisasi perlu dibandingkan dengan tujuan yang diharapkan organisasi untuk dicapai, apakah lebih besar atau lebih rendah dari tujuan yang ditetapkan. Apabila terdapat deviasi antara hasil kerja dengan tujuan yang diharapkan, dijadikan sebagai umpan balik untuk perencanan tujuan yang akan datang dan implementasi kinerja yang sudah dilakukan. Keluaran merupakan hasil langsung dari kinerja organisasi baik dalam bentuk barang maupun jasa.

4. Manfaat

Manajemen kinerja tidak hanya memfokuskan pada keluaran dan hasil kerja dari sumber daya manusia. Manajemen kinerja perlu memperhatikan manfaat atau dampak dari hasil kerja. Dampak hasil kerja dapat bersifat positif bagi organisasi, misalnya karena keberhasilan seseorang mewujudkan prestasinya berdampak meningkatkan motivasi sehinnga semakin meningkatkan kineja organisasi. Namun sebaliknya dapat pula dampak keberhasilan seseorang dapat bersifat negatif, misalnya karena bangga terhadap keberhasilan, berdampak pada perubahan perilaku yang mengakibatkan suasana kerja menjadi tidak kondusif.

5.Rumah Sakit

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis propesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang parmanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan dan berkesinambungan, diagnosis

(28)

serta pengobatan penyakit yang diderita ole pasien. American hospital associantion (Azwar, 1974 :82).

Rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Wolper dan Pena (Azwar,1997: 82).

Rumah sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan manyarakat, pendididkan serta penelitian kedokteran diselenggarakan. Assosiation of hospital care (Azwar, 1947 : 82).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, rumah sakit adalah merupakan suatu badan usaha yang menyediakan pelayanan yang propesional serta sarana kedokteran yang menyelenggarakan asuhan keperawatan, dan juga merupakan tempat pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien.

Mutu pelayanan ruamah sakit adalah derajat kesempurnaan rumah sakit untuk memenuhi konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan satandar pelayanan dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit dengan wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan sesuai dengan norma, etika, hukum dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyrakat/konsumen.

Faktor-faktor yang menentukan mutu pelayanan rumah sakit yaitu :

1. Kehandalan yang mencakup dua hal pokok, yaitu konsistensi kerja dan kemampuan untuk dipercaya.

(29)

2. Daya tanggap, yaitu sikap tanggakap para karyawan melayani saat dibutuhkan pasien.

3. Kemampuan, memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tertentu.

4. Muda untuk dihubungi dan ditemui.

5. Sikap sopan santun, respek dan keramahan para pegawai.

6. Komunikasi, yaitu memberikan informasi para pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami, serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanngan.

7. Dapat dipercaya dan jujur 8. Jaminan keamanan

9. Usaha untuk mengerti dan memahami kebutuhan pelanngan.

10. Bukti langsung yaitu bukti fisik dari jasa, bisa berupa fasilitas fisik, peralatan yang digunakan, representasi fisik dan jasa.

6.Pelayanan Rawat Inap dan Rawat Jalan

Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit, yang merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.

Rawat inap adalah pelayanan pasien yang perlu menginap untuk keperluan observasi, diagnosa dan terapi bagi individu dengan keadaan medis, bedah, penyakit kronis atau rehabilitasi dan memerlukan perawatan dokter setiap hari.

(Snook: 2009).

(30)

Pelayanan rawat jalan adalah (ambulatory services) adalah salah satu bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan oleh pasien tidak dalam bentuk rawat inap (hospitalization).dalam pengertian pelayanan rawat jalan ini termasuk tidak hanya yang diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim dikenal seperti rumah sakit atau klinik, tetapi juga diselenggarakan dirumah pasien ( home care) serta dirumah perawatan ( nursing homes).

(Azwar,1996:75).

Pelayanan kesehatan masyarakat ( Public Health Services ) adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah, untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat.

Azwar ( 1996: 115).

Keperawatan adalah, salah satu profesi di rumah sakit yang berperan penting dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Pada standar tentang evaluasi dan pengendalian mutu di jelaskan bahwa pelayanan keperawatan menjamin adanya asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dengan terus-menerus melibatkan diri dalam program pengendalian mutu dalam rumah sakit.

Rumah sakit adalah suatu badan usaha yang menyediakan dan memberikan jasa pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri atas tindakan observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitative untuk orang-orang yang menderita sakit, terluka dan untuk yang melahirkan (World Health Organization).

(31)

Rumah sakit merupakan sarana upaya kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehetan dan penelitian (Permenkes No.159b/1988)

UU No. 44 tahun2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawatinap, rawat jalan dangawatdarurat.Pelayanan rumah sakit juga diatur dalam KODERSI/kode etik rumah sakit, dimana kewajiban rumah sakit terhadap karyawan, pasien dan masyarakat diatur.

Berdasarkan Pasal 29 ayat (1) huruf f dalam UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Rumah Sakit sebenarnya memiliki fungsi sosial yaitu antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan. Pelanggaran terhadap kewajiban tersebut bisa berakibat dijatuhkannya sanksi kepada Rumah Sakit tersebut, termasuk sanksi pencabutan izin. Selain itu, dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b UU 44/2009, pemerintah dan pemerintah daerah juga bertanggung jawab untuk menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi, secara umum penyanderaan pasien oleh Rumah Sakit tidak bisa dikategorikan sebagai penahanan (perampasan kemerdekaan) ataupun pelanggaran HAM. Meski demikian, Anda dapat saja melaporkan kepada polisi jika ada indikasi penyanderaan tersebut telah merampas kemerdekaan si pasien.

(32)

Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, dinyatakan bahwa : “Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan”.

7.Efektifitas Pelayanan Publik

Efektifitas pelyanan publik dapat di denifisikan sebagai perbandingan terbaik antara input dan output. Input yang di maksutkan di sini berupa biaya, waktu, dan tenaga. Dari sisi input, pelayanan publik di katakana efisien apa bila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat dikatakan efisien apabila pelayanan tersebut menggunakan sumber daya yang murah dan tidak boros. Dari sisi proses agar dapat di katakana efisian maka prosedur layanan publik harus bersifat sederhana sehingga warga pengguna tidak mengeluarkan banyak energi dan biaya mengakses suatu layanan.

(33)

Sedangkan dari isi output, pelayanan publik dikatakan efisien apa bila penggunaan sumber daya yang murah dann tidak boros tapi tetap menghasilkan produk layanan yang sesuai dengan standar dan dapat memuaskan pengguna layanan (Dwiyanto, 2008;389)

Untuk mendorong tarwujutnya efektitas, kualitas pelayanan, dan daya tangkap yang lebih baik pada suatu birokrasi pemerintah yang memiliki tupoksi utama membuat kebijakan dan regulasi yang dapat dilakukan dengan menciptakan sistem intensif yang berbasis kinerja. Dalam hal ini birokrasi pemerintah dapat membuat atau mengembangkan indikator kinerja yang lebih jelas dan terukur sarta memberi insentif sacara variatif sesuai dengan kinerja yang dimiliki oleh para aparatur pelayan yang berjasa.

Tugas utama dari setiap instansi pemerintahan adalah memberikan pelayanan atau menyelenggarakan pelayanan publik (public service) agar terwujud kesejahteraan bagi rakyat (public welfare). Menurut Tampubolon (2001:139-141) pelayanan berarti, “Orang yang melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain. Karena itu, seorang pelayan yang baik ialah “melayani, bukan dilayani”. Sebagaimana telah dijelaskan pengertian pelayanan dan pengertian publik di atas, maka dalam prakteknya, pelayanan publik sangat variatif dan tergantung dari perkembangan dan kemampuan masyarakat. Istilah-istilah pelayanan dan publik itulah memberikan dasar pengertian terhadap pelayanan publik. Berkaitan dengan barang dan jasa dalam pelayanan. Pelayanan publik yang dimaksud adalah segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau individu dalam bentuk barang, jasa kepada masyarakat baik

(34)

secara individu maupun kelompok atau organisasi. Keputusan MenPan Nomor 81/1993 yang disempurnakan dengan Keputusan Menpan Nomor 63/2003 mendefinsikan pelayanan umum sebagai : “Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh Instansi pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan BUMN/D dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Lembaga Administrasi Negara (1998) Pelayanan Umum diartikan sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemeirntahan di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebuuthan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dwiyanto, (2008;136) pelayanan publik merupakan produk birokrasi publik yang di terima oleh warga pengguna maupun masyarakat secara luas.

Karena itu, pelayanan publik dapat didefenisikan sebagai rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna.

Pengguna yang dimaksudkan disini adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik. Dasar teoritis pelayanan publik yang ideal menurut paradigma new public service yaitu pelayanan publik harus responsif terhadap berbagai kepentingan dan nilai-nilai publik.

Tugas pemerintah adalah melakukan negosiasi dan mengelaborasi berbagai kepentingan warga negara dan kelompok komunitas. Dengan demikian, karakter dan nilai yang terkandung di dalam pelayanan publik tersebut harus

(35)

berisi preferensi nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Karena masyarakat bersifat dinamis, maka karakter pelayanan publik juga harus selalu berubah mengikuti perkembangan masyarakat (Dwiyanto,2008:140).

Sistem pelayanan publik yang baik akan menghasilkan kualitas pelayanan publik yang baik pula. Suatu sistem yang memiliki dan menerapkan prosedur pelayanan yang jelas dan pasti serta mekanisme kontrol di dalam dirinya (built in control )sehingga segala bentuk penyimpangan yang terjadi secara mudah dapat diketahui. Dalam kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM), dibutuhkan petugas pelayanan yang mampu memahami dan mengoperasikan sistem pelayanan yang baik. Sebagai contoh, sistem pelayanan pajak yang sudah menggunakan komputer tentu memerlukan petugas yang memiliki kompetensi menjalankan teknologi computer. Disamping itu, petugas pelayanan juga harus mampu memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selain itu, sistem pelayanan juga harus sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau pengguna.

Organisasi harus mampu merespon kebutuhan dan keinginan pengguna dengan menyediakan sistem pelayanan dan strategi yang tepat. Sifat dan jenis pelanggan yang bervariasi membutuhkan strategi pelayanan yang berbeda dan hal ini harus diketahui oleh petugas pelayanan. Karena itu, petugas pelayanan perlu mengenali pengguna dengan baik sebelum dia memberikan pelayanan.

Penyelenggaraan pelayanan publik, dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik, yaitu penyelenggara Negara/pemerintah, penyelenggara perekonomian dan pembangunan, lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah, badan usaha/badan hukum yang diberi wewenang melaksankan

(36)

sebagian tugas dan fungsi pelayanan publik, badan usaha/badan hukum yang bekerja sama atau dikontrak untuk melaksanakan sebagian tugas dan fungsi pelayanan publik.

Hardiyansyah, (2011:24-25) pelayanan publik dilakukan tiada lain untuk memberikan kepuasan bagi pengguna jasa, Karena itu penyelenggaraannya secara niscaya membutuhkan asas-asas pelayanan. Dengan kata lain, dalam memberikan pelayanan publik, instansi penyedia pelayanan publik harus memperhatikan asas- asas pelayanan publik.

Asas-asas pelayanan publik menurut keputusan Menpan Nomor 63/2003sebagai berikut:

A. Transparansi.

Bersifat terbuka, mudah dan dapat di akses oleh semua pihak yang membutuhkan dan di sediakan secara memadai serta mudah dimengerti.

B. Kondisional.

Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.

C. Partisipatif.

Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan dan harapan masyarakat.

D. Kesamaan Hak.

Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender dan status ekonomi.

E. Keseimbangan Hak dan Kewajiban.

(37)

Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan Kewajiban masing-masing pihak.

8.Jenis dan Spekualifikasi Rumah Sakit

Rumah sakit terdiri atas rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. Rumah Sakit Umum adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Sedangkan rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ atau jenis penyakit.

Klasifikasi rumah sakit adalah pengelompokan kelas rumah sakit berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan. Berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit dibagi menjadi : 1. Rumah Sakit Pemerintah

Rumah sakit yang dibiayai, dipelihara, dan diawasi oleh Departemen Kesehatan, Pemerintah Daerah, ABRI, dan departemen lain, termasuk BUMN. Misalnya Rumah Sakit Umum Pusat, Provinsi, Kabupaten dan lokal.

Usaha ini dijalankan berdasarkan usaha sosial.

2. Rumah Sakit Swasta Rumah Sakit adalah Sarana kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitasi) secara paripurna. Menurut WHO (World Health).

(38)

9. Kebijakan Pengelolaan Rumah Sakit

Dalam buku Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat (2003:113-114) menjelaskan bahwa lingkungan rumah sakit terdiri dari semua yang ada di tempat itu: semua peralatan tetap, peralatan yang ada dapat dipindahkan, instrumen, pasien, dan petugas. Kita dapat membedakan dua keadaan-keadaan dimana risiko infeksi sangat tinggi dan diperlukan kewaspadaan ekstra (ruang operasi dan unit perawatan intensif), dan semua yang lain, dimana jelas ada bahaya tetapi dengan tingkatan yang lebih rendah. Dalam hal ini manajemen risiko dapat secara efektif dimasukkan ke dalam program yang dirancang untuk mengendalikan infeksi.

Manajemen risiko adalah suatu proses sistemik untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang dapat terjadi dalam suatu situasi, menentukan tindakan yang diperlukan dan mengevaluasi risiko potensial dan risiko sebenarnya, sehingga tercipta suatu mekanisme untuk mengurangi risiko dan menghindari kerugian ekonomi. Hal ini diperlukan karena meningkatnya kebutuhan untuk menyediakan layanan kesehatan yang aman dan efektif di dalam hubungan yang sedang berkembang antara Primary Care Groups/Trusts dan pemberi layanan kesehatan sekunder mereka, meningkatkan jumlah klaim yang diajukan terhadap penyedia layanan kesehatan, serta biaya pengadilan. Tujuannya adalah memperkecil jumlah risiko yang terjadi, meningkatkan kualitas perawatan dan menurunkan beban biaya bagi organisasi/pengelolah.

Berikut adalah perbedaan persyaratan penyelenggaraan Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta.

A. Pemerintah Rumah Sakit pemerintah dimiliki dan diselenggarakan oleh:

(39)

1. Departemen Kesehatan 2. Pemerintah Daerah 3. ABRI

4. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

B. Swasta

1. Rumah sakit swasta diselenggarakan berasaskan kemandirian dengan prinsip wirausaha dengan tetap melaksanakan fungsi sosial.

2. Kepemilikan rumah sakit berbentuk yayasan, Perseroan Terbatas (P.T), koperasi dan atau badan hukum lainnya.

3. Rumah sakit swasta harus memenuhi persyaratan standar bangunan, prasarana, dan peralatan sesuai dengan jenis dan klasifikasi rumah sakit, meliputi :

a. Lokasi atau letak bangunan prasrana harus sesuai dengan rencana umum tataruang dan terhindar dari pencemaran.

b. Bangunan, prasarana, peralatan, harus dalam kondisi terpelihara dan memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan kerja.

c. Memenuhi persyaratan teknis bengunan, prasarana, peralatan, dan dampak lingkungan internal dan eksternal.

d. Peralatan medik harus memenuhi persyaratan pengujian/kalibrasi.

4. Rumah sakit swasta dalam memberikan pelayanan harus menjamin hak-hak pasien.

5. Rumah sakit swasta wajib menyelenggarakan peningkatan mutu pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

(40)

6. Rumah sakit swasta wajib mempunyai komite medik dan komite keperawatan.

7. Rumah sakit swasta wajib merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih mampu pelayanannya apabila rumah sakit tersebut tidak mampu menangani pasien tersebut.

8. Bentuk pelayanan rumah sakit swasta adalah rumah sakit umum dan rumah sakit khusus.

9. Rumah sakit khusus swasta diklasifikasikan menjadi rumah sakit khusus swasta pratama dan madya.

10. Setiap rumah sakit swasta wajib melaksanakan fungsi sosial.

11. Rumah sakit swasta yang dimiliki yayasan, perhimpunan, perkumpulan sosial, dan rumah sakit BUMN yang melayani pasien umum minimal 25%, dan rumah sakit swasta yang dimiliki pemilik modal minimal 10 %.

10. Jenis dan Ketentuan Pelayanan Rumah Sakit

Rumah Sakit adalah organisasi terpadu dari bidang sosial dan medik yang berfungsi sebagai pusat pemberi pelayanan kesehatan, baik pencegahan penyembuhan dan pusat latihan dan penelitian biologi-sosial. Rumah Sakit adalah suatu fasilitas umum (public facility) yang berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan meliputi pencegahan dan penyembuhan penyakit, serta pemeliharaan, peningkatan dan pemulihan kesehatan secara paripurna.

a. Berdasarkan Kepemilikan dan Penyelenggaraan b. Persyaratan Penyelenggaraan Rumah Sakit

Berdasarkan kepemilikannya, rumah sakit dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu Rumah Sakit Pemerintah dan Rumah Sakit Swasta. Pada dasarnya, peraturan

(41)

yang dilakukan pada kedua jenis rumah sakit tersebut sama, namun ada beberapa peraturan yang membedakannya. Misalnya penyelenggaraan rumah sakit bertujuan untuk memberikan pelayanan penyembuhan penyakit, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pemulihan kesehatan individu yang bermutu, efisien, efektif, dan merata. Rumah sakit wajib mempunyai ruangan untuk penyelenggaraan rawat jalan, rawat inap minimal 25 tempat tidur, rawat darurat, penunjang medik dan non-medik. Kelas pelayanan rumah sakit terdiri dari kelas VIP, kelas I, kelas II, kelas III.

Berdasarkan Undang-undang RI. No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, menjelaskan bahwa rumah sakit mempunyai fungsi sebagai berikut :

a) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

b) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.

c) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

d) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan

Rumah sakit mempunyai beberapa fungsi, yaitu menyelenggarakan pelayananmedik, pelayanan penunjang medik dan non medik, pelayanan dan asuhan keperawatan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, pelayanan rujukan upayakesehatan, administrasi umum dan keuangan. Maksud

(42)

dasar keberadaan rumah sakit adalah mengobati dan perawatan penderitasakit dan terluka. Sehubungan dengan fungsi dasar ini, rumah sakit memberikan pendidikan bagi mahasiswa dan penelitian yang juga merupakan fungsi yang penting. Fungsi keempat yaitu pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan juga telah menjadi fungsi rumah sakit. Jadi empat fungsi dasar rumah sakit adalah pelayanan penderita, pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat.

Pengawasan rumah sakit sangat diperlukan karena rumah sakit merupakan tempat dengan risiko kontaminasi tinggi.Pengawasan di rumah sakit meliputi pengawasan infeksi, pengawasan penderita, pengawasan pekerja rumah sakit dan pengawasan lingkungan rumah sakit. Salah satu pengawasan yang dapat dilakukan adalah melalui pemantauan kualitas udara secara bakteriologis.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KEPMENKES) Republik Indonesia Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit menyatakan bahwa untuk mengurangi kadar kuman dalam ruang (indoor) satu kali dalam sebulan harus didesinfeksi dengan menggunakan aerosol (resorcinol, triethylen glikol) atau disaring dengan elektron presipitator atau menggunakan sinar ultraviolet. Untuk pemantauan kualitas udara ruang minimal dua kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman, debu dan gas).

B. Kerangka Pikir

Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan rumah sakit yang berkualitas merupakan salah satu syarat mutlak dalam rangka penciptaan keadaan sehat bagi masyarakat

(43)

yang tidak hanya mencakup wilayah kerja saja namun dalam tatanan pengguna pelayanan rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

Dalam melaksanakan peran dan fungsi rumah sakit, aspek kualitas menjadi tuntutan bagi setiap individu/masyarakat dalam rangka kebutuhan akan pelayanan yang lebih baik. Aspek kualitas tersebut berhubungan dengan proses pelayanan yang diselenggarakan di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

Penyelenggaraan pelayanan tingkat rumah sakit tersebut memiliki beberapa aspek yang tidak lepas dari rangkaian pelaksanaan pelayanan rumah sakit antara lain, registrasi, pelayanan UGD, pelayanan kamar yang terdiri dari pelayanan dokter, pelayanan perawat, pelayanan obat yang harus dilewati oleh masyarakat/pasien, apabila ingin mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Lasinrang Kabupaten Pinrang.

(44)

BAGAN KERANGKA PIKIR

C. Fokus penelitian

Fokus penelitian penulis yaitu, berfokus kepada mekanisme pelayanan pasien kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

D. Deskripsi Fokus Penelitian

Adapun deskripsi fokus penelitian yang penulis rancangkan antara lain sebagai berikut :

Mekanisme pelayanana

Registrasi

Indikator Pelayanan di Rumah Sakit Umum Lasinrang

Efektifitas Pelayanan Pelayanan

Kamar 1. Pelayanan

Dokter 2. Pelayanan

Perawat 3. Pelayanan

Obat Pelayanan UGD

(45)

1. Mekanisme pelayanan, merupakan cara kerja atau proses kerja dalam suatu rumah sakit dalam memberikan pelayanan terhadap pasien yang meliputi, masukan, proses dan keluaran.

2. Registrasi yang merupakan tempak kunjungan pertama para pasien untuk melakukan transaksi antara pasien/keluarga pasien dengan petugas di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

3. Ruang Unit Gawat Darurat (UGD), merupakan salah satu bagian ruangan pelayana awal di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang untuk diberikan pelayanan pasien yang menderita sakit atau cederah.

4. Pelayanan dokter merupakan proses kegiatan para dokter di rumah sakit umum Lasinrang kabupaten Pinrang untuk melakukan pengengecekan (pemeriksaan) pasien pada tiap paginya,dalam rangka memperhatikan akan perkembangan dan kebutuhan pasien.

5. Pelayanan perawat yaitu petugas rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang harus cepat dan tepat dalam menangani keluhan pasien, seperti cepat dalam pemasangan infus, dan cepat dalam mengganti cairan pasien apa bila telah habis.

6. Perawatan obat merupakan pemberian obat kepada pasien sesuai yang telah dianjurkan oleh dokter di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang.

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian yang di gunakan penulis dalam penelitian ini adalah, kurang lebih dua bulan. Yang berlokasi di rumah sakit umum Lasinrang kabupaten Pinrang. Alasan penulis ingin melakukan penelitian di rumah sakit Lasinrang kabupaten Pinrang ini khususnya di kelas VIP untuk mengetahui mekanisme pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada pasien yang dinilai masyarakat tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. dalam artian, masih banyak petugas yang lambat dalam memberikan pelayanan terhadap pasien selain kelas VIP.

B. Tipe dan Jenis Penelitian

Tipe penelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif, dimana hasilnya memberikan gambaran secara umum tentang masalah Mekanisme Pelayanan Pasien Kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

Jenis penelitian yang digunakan didalam penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana penelitian ini akan mendeskripsikan tentang Mekanisme Pelayanan Pasien Kelas VIP di Rumah Sakit Umum Lasinrang Kabupaten Pinrang.

35

(47)

C. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Data Primer adalah data yang diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian, sumber data utama dalam penilitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang di peroleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai, oleh karena itu penulis menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung dari sumber informasi yang terpilih.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data yang di dapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya, berupa dokumen, laporan-laporan tertulis dan lain-lainnya. Penulis menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang ada hubungannya dengan mekanisme pelayanan pasien kelas VIP di rumah sakit umum Lasinrang kabupaten Pinrang.

D. Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang suatu situasi dan kondisi lokasi penelitian. Untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan penilitian, penulis menetapkan siapa saja yang menjadi infomannya dan kemudian Penulis memilih 7 orang sebagai informan yang memiliki kapasitas untuk memberikan informasi sesuai dengan masalah yang diteliti yakni di antaranya :

(48)

1. Kepala Ruangan VIP : 1 Orang

2. Dokter : 1 Orang

3. Staf Administrasi : 1 Orang

4. Perawat Rumah Sakit : 1 Orang

5. Pasien/keluarga pasien : 3 Oarang

Jumlah Informan : 7 Orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penilitian ini dilakukan dengan cara melalui:

1. Observasi (pengamatan).

Observasi, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan. Observasi dilakukan hanya menggunakan alat indra tanpa pertolongan alat lain, kecuali alat tulis dan catatan.

2. Interview (Wawancara).

Interview, yaitu melakukan wawancara mendalam kepada informan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai suatu kejadian yang terkait dengan masalah yang diteliti. Wawancara di sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, dengan memperhatikan, agama, usia, norma, bahasa yang di pahami, tingkat pendidikan dan karakteristik sosial budaya lainnya. Walaupun dalam penelitian ini wawancara tidak berstruktur, namun di buat lebih dahulu kisi-kisi wawancara yang berisi pertanyaan untuk memudahkan peneliti pada saat melakukan wawancara.

(49)

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu pegumpulan data dengan cara mencatat data- data yang sudah ada, yakni mengenai hal-hal yang berupa catatan buku, surat, transkip, majalah, notulen, arsip-arsip dan peraturan-peraturan. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan dokumen yang ada pada lembaga atau instansi yang terkait atau bahan-bahan yang tertulis yang bertalian dengan situasi latar belakang obyek penelitian dan ini sebagai pelengkap.

F. Teknik Analisis Data

Penulis pada penilitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif, dengan menggunakan analisis data model Milles dan Huberman yakni, (a) mengumpulkan data sesuai dengan fakta yang ada di lapangan, (b) data reduksi adalah data yang di peroleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu di catat secara teliti dan rinci, artinya mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, (c) data display atau menyajikan data, maka data terorganisasikan tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakain muda dipahami, (d) data kesimpulan langkah ke tiga dalam analisis data yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi. Sugiyono (2013:92)

G. Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik trigulasi.

Trigulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding

(50)

terhadap data itu. Menurut Densin ( Maleong, 2005:330) ada empat macam trigulasi antara lain :

1. Trigulasi Sumber

Trigulasi sumber yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.

2. Trigulasi dengan metode

Trigulasi dengan metode menurut Patton (Maleong, 2005:331) terdapat dua strategi yaitu: (1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data. (2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

3. Trigulasi dengan penyidikan

Trigulasi dengan penyidikan adalah denagan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data.

4. Trigulasi dengan teori

Trigulasi dengan teori menurut Lincoln dan Guba (Maleong, 2005:331) berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori.

(51)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang

Rumah sakit umum Lasinrang merupakan pelayanan kesehatan yang dibangun pada awal tahun 1960 yang terletak di Jalan Lasinrang No. 26 Pinrang.

Perubahan status kelas C berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI Nomor:

543/Menkes/SK/VI/1996 sejalan dengan meningkatnya permintaan pelayanan kesehatan sedangkan sarana dan prasarana sudah tidak memungkinkan untuk dikembangkan maka pada tanggal 1 Agustus 1996 mulai dilaksanakan pembangunan di lokasi baru dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Pinrang H.A. Firdaus Amirullah

Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang yang mulanya menempati luas tanah 3 ha. terletak di Jalan Macan No. 22 di Kelurahan Macorawalie Kecamatan Watang Sawitto, pembangunan rumah sakit dilaksanakan secara bertahap. Pada tahun 2001 – sekarang rumah sakit berkembang sangat pesat berkat dukungan Pemerintah Daerah dalam hal ini Drs. H. A. Nawir MP, selaku Bupati Pinrang yang mempunyai perhatian besar terhadap pelayanan kesehatan khususnya di RSU Lasinrang Pinrang. Peresmian secara simbolis bersama Kantor Bupati Pinrang oleh Bapak Gubernur H.Z.B. Palaguna yang operasionalnya dimulai tanggal 1 Agustus 2002

Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang menempati bangunan 7.463.125 M2dengan fasilitas peralatan yang memadai.

40

(52)

Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang telah mendapat pengakuan ( Terakreditasi ) dari pusat dengan 5 Pokja yaitu Pelayanan, Administrasi, Perawatan, Unit Gawat Darurat dan Rekam Medis dengan memperoleh nilai sangat memuaskan.

Dalam hal pelayanan rujukan kesehatan, Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang melayani rujukan dari 14 Puskesmas dan 2 rumah sakit swasta yang ada wilayah Kabupaten Pinrang, serta RSU Lasinrang juga menerima rujukan dari luar wilayah Kabupaten Pinrang.

Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang yang secara Teknis Fungsional bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Teknis Operasional bertanggung jawab kepada Kepala Daerah yang mempunyai tugas pokok melaksanakan upaya Pelayanan Kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilaksanakan secara serasi terpadu dalam rangka pelaksanaan peningkatan Pelayanan Kesehatan serta pencegahan penyakit dan melakukan upaya rujukan di wilayah Kabupaten Pinrang.

Kepemimpinan Direktur RSU Lasinrang sejak tahun 1961 dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Periode tahun 1961 – 1965 : P.S. TARUK ALLO 2. Periode tahun 1965 – 1971 : Dr. SUTANTYO 3. Periode tahun 1971 – 1975 : Dr. HABAR GARU

4. Periode tahun 1975 – 1979 : Dr. NASARUDDIN RITONGA

(53)

5. Periode tahun 1979 – 1984 : Dr. MURSAD ABDI 6. Periode tahun 1984 – 1989 : Dr. F.C.S. SOPACUA

7. Periode tahun 1989 – 1993 : Dr. DWI DJOKO PURNOMO, MPH.

8. Periode tahun 1993 – 1999 : Dr. ABDUL RAUF BAJA 9. Periode tahun 1999 – 2001 : Dr. DALLE MAKKARAKA 10.Periode tahun 2001 – 2008 : Dr. H. MAKBUL TAPA, MARS

11.Periode tahun 2008 – : Drg. Hj. SITI HASNAH SYAM, MARS

a. Struktur Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI RSU LASINRANG PINRANG

DIREKTUR

Drg. Hj. SITI HASNAH SYAM, MARS

SEKRETARIS H. SALAMAN, SKM

KEPALA SUB BAGIAN KEPEGAWAIAAN

Haerul, Sos.

KEPALA SUB BAGIAN KEUANGAN HARUNA, S.Kep, M.Kes KEPALA SUB BAGIAN

PERLENGKAPAN ANDARIAS TASARANE, Sos

Ka. SUB BID.PENGEMBANGAN SDM DAN REMUNERASI MUH. ASSIDIQ, SKM, M.Kes Ka.SUB. BID. PROGRAM DAN

INFORMASI MAHYUDDIN, SKM.

KEPALA BIDANG PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN DR. SYAMSIR USMAN , MARS

Ka. SUB BID.LOGISTI DAN SDM KEPERAWATAN

SAHIDAH, S.ST Ka.SUB. BID. BIMBINGAN ASUHAN KEPERAWATAN

ANDI SARIDAH ,SKM KEPALA BIDANG KEPERAWATAN

SUNASRSIH , MARS

Ka. SUB BID.PENGEMBANGAN SDM DAN REMUNERASI MUH. ASSIDIQ, SKM, M.Kes Ka.SUB. BID. PROGRAM DAN

INFORMASI MAHYUDDIN, SKM. KEPALA BIDANG PERENCANAAN

DAN PENGEMBANGAN DR. SYAMSIR USMAN , MARS

Ka. SUB BID.PELAYANAN MEDIS Hj. ZAM ZAM , SKM Ka.SUB. BID. PROGRAM DAN

INFORMASI MAHYUDDIN, SKM.

KEPALA BIDANG PELAYANAN MEDIS

DRH. RIPAL , MARS

(54)

Uraian struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Lasinrang Pinrang Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor. 41 Tahun 2007 adalah sebagai berikut:

1. Direktur RSU Lasinrang : Drg. Hj. Siti Hasnah Syam, MARS

2. Sekretaris : H. Salman, SKM

a) Ka. Sub. Bag. Kepegawaian : Hairul, S.Sos

b) Ka. Sub. Bag. Perlengkapan : Andarias Tasarane, S.Sos c) Ka. Sub. Bag. Keuangan : Haruna, S.kep, M.Kes

d) Ka. Bid. Perencanaan & Pengembangan : Dr. Syamsir Usman, MARS e) Sub. Bidang Program & Informasi : Mahyuddin, SKM

f) Sub. Bid. Pengembangan SDM & Remunerasi: Muh. Assidiq, SKM, M.Kes

4. Ka. Bid. Pelayanan Medis : Dr. H. Rifai Umar, MARS a) Sub. Bid. Pelayanan Medis : Hj. Zam zam, SKM

b) Sub. Bid. Penunjang Medik & : Sukarta, SKM, M.Kes Non Medik

5. Ka. Bid. Keperawatan : Sunarsih, S.Kep. NS

a) Sub. Bid. Bimbingan Asuhan : Andi, Saridah, Amd Keperawatan b) Sub. Bid. Logistik & SDM : Sahidah, SKM Keperawatan b. Organisasi Rumah Sakit Umum Kelas C terdiri dari :

a. Direktur

b. Bagian Sekretariat.

(55)

1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

2. Sub Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga 3. Sub Bagian Keuangan

c. Bidang Perencanaan dan SDM

1. Sub Bidang Program dan Informasi

2. Sub Bidang Pengembangan SDM Remunerasi d. Bidang Pelayanan

1. Sub Bidang Pelayanan Medis

2. Sub Bidang Penunjang Medis dan Non Medis e. Bidang Keperawatan.

1. Sub Bidang Bimbingan Asuhan Keperawatan.

2. Sub Bidang Logistik dan SDM Keperawatan.

f. Kelompok Jabatan Fungsional yang terdiri dari : 1. Instalasi;

2. Komite;

3. Staf Medis Fungsional;

4. Satuan Pengawas Intern;

c. Visi dan Misi

Mekanisme penyusunan visi dan misi dimulai dengan penyerapan nilai, harapan dan cita-cita Stakeholder. Pengumpulan dan penjaringan aspirasi dilakukan dengan metode fokus grup diskusion baik secara internal rumah sakit maupun dengan pihak eksternal RS. Sehingga hasil rumusan menjadi suatu perumusan yang berlandaskan ilmiah dan terukur

Referensi

Dokumen terkait

Prosedur penanganan pasien BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Umum Kabanjahe, yaitu : dalam pelayanan rawat jalan, pasien BPJS Kesehatan tiba di rumah sakit, pasien/ keluarga

Analisis kedua adalah analisis prioritas urutan kepentingan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sanggau yang diminta memberikan urutan dari atribut pelayanan

Analisis kedua adalah analisis prioritas urutan kepentingan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sanggau yang diminta memberikan urutan dari atribut pelayanan

pasien yang berkunjung di Rumah Sakit Umum Kabupaten Sragen untuk mengetahui seberapa tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan khususnya pasien yang rawat inap di

Terjadi masalah pada status kelas RSUD Simeulue dari Kelas (C) menurun menjadi Kelas (D).Berdasarkan survei pendahuluan yang penulis lakukan di rumah sakit umum daerah

78 III Di Rumah Sakit Umum Mokopido Kabupaten Tolitoli Berdasarkan hasil analisis bifariat terdapat 91 responden di Rumah Sakit Mokopido sebagai responden tentang pelayanan

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 47 Ayat (1) Peraturan Bupati Bandung Nomor 6 Tahun 2014 tentang Tata Kelola Rumah Sakit Umum Daerah Cicalengka Kabupaten

6. Bagi pasien rujukan dari praktek dokter/rumah sakit/balai pengobatan swasta yang memerlukan pemeriksaan penunjang medis, pemeriksaan khusus dan rehabilitasi medik