Perselisihan atau sengketa merupakan sesuatu yang tidak dikehendaki, pada kenyataannya sulit untuk dihindari meskipun derajat keseriusan berbeda-beda. Pada dasarnya perselisihan yang terjadi dalam masyarakat diselesaikan secara musyawarah mufakat. Pengadilan sebagai salah satu cara penyelesaian yang paling popular akan selalu berusaha untuk dihindari, karena selain proses dan jangka waktunya yang relatif lama dan berlarut-larut serta dengan berbagai kelemahan.
Rumusan Pasal 1 angka 10 dan alenia kesembilan dari Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999, dikatakan bahwa masyarakat dimungkinkan memakai alternatif lain dalam melakukan penyelesaian sengketa alternatif tersebut dapat dilakukan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli. Ketentuan ini diperkuat dengan Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 bahwa sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui APS yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.
APS adalah suatu pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau dengan cara menyampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. Artinya dapat dipahami bahwa dalam rangka menyelesaikan suatu perkara, ada 2
(dua) jalur yang bisa ditempuh oleh masyarakat. Pertama, melalui jalur pengadilan yang dikenal dengan penyelesaian secara litigasi. Kedua, melalui jalur APS diluar pengadilan yang dikenal dengan non litigasi.
Di tengah runtuhnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan, kiranya perlu diusahakan untuk melakukan perbaikan, baik pada aturan perundang- undangannya maupun sarana dan prasarananya, termasuk pula didalamnya moralitas (ini mungkin yang paling penting) sumber daya manusia yang terlibat secara langsung dalam peradilan. Meskipun lembaga peradilan sebetulnya merupakan suatu yang asing bagi bangsa Indonesia karena ia diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda, tapi faktanya dan keberadaannya sudah tidak dapat dihindari peradilan dijadikan sebagai the first and the last resort dalam penyelesaian sengketa. Seolah- olah manusia terpedaya, hanya badan peradilan yang dianggap mampu memberikan penyelesaian yang adil. Dari anggapan itu, dipandang dan diatur suatu sistem peradilan, sehingga peradilan satu-satunya lembaga yang sah dan resmi menyelesaikan segala sengketa yang timbul dalam masyarakat.
Setiap penyelesaian harus menurut tata cara yang formal yang diatur dalam hukum acara, serta memberikan hak kepada para pihak untuk mempergunakan upaya hukum secara inkonstitusional. Ternyata ide dan harapan itu telah menghanyutkan sistem litigasi kearah yang sangat formalistik, teknis dan biaya mahal. Sementara itu kehidupan dalam dunia bisnis misalnya semakin cemas, bahkan masyarakat banyakpun ikut merasakan kepahitan atas penampilan yang diperankan oleh lembaga peradilan. Citra peradilan sebagai the first and the last resort kelihatan semakin
merosot. Sehingga masyarakat mencoba mengalihkan pandangan dalam menyelesaikan sengketa melalui jalur non litigasi. Sebenarnya kegiatan penyelesaian sengketa yang terjadi dalam masyarakat melalui jalur non ligitasi, juga sudah dikenal dan dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia jauh sebelum adanya pengaturan oleh undang-undang. Hal ini dapat dilihat dari adat dan tradisi di berbagai tempat yang memfungsikan lembaga peradilan desa yang dilakukan oleh kepala desa, tokoh agama dan tokoh adat. Pada suku bangsa tertentu, juga mempunyai lembaga adat tersendiri untuk menyelesaikan sengketa atau perselisihan warga masyarakatnya.
Kemudian oleh pemerintah Indonesia, model APS ini secara umum dikukuhkan di dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999. Dengan demikian APS telah dilembaga dalam sistem hukum Indonesia. Penyelesaian sengketa tidak hanya dilakukan melalui pengadilan, ajudikasi atau litigasi saja, tetapi juga dapat diselesaikan melalui Arbitrase dan APS yang lainnya, sepanjang para pihak secara suka rela memilih penyelesaian sengketa di luar pengadilan, yakni melalui prosedur yang telah disepakati bersama para pihak, baik itu dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Bahwa berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku, penyelesaian sengketa perdata di samping dapat diajukan ke peradilan umum juga terbuka kemungkinan diajukan melalui arbitrase dan APS.
Berbeda dengan penyelesaian sengketa secara litigasi yang sudah jelas bentuk dan prosedur beracaranya, mekanisme penyelesaian sengketa non litigasi tidak memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi diantara mereka,
sesuai dengan kebudayaan, nilai-nilai, tujuan, paradigma, jenis dan obyek sengketa yang dihadapi.
Dalam Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 diperkenalkan beberapa pranata APS yang dapat digunakan untuk menyelesaikan sengketa tanah yaitu :
1. Negosiasi
Negosiasi adalah penyelesaian sengketa yang dilaksanakan sendiri oleh para pihak yang bersengketa tanpa melibatkan pihak ketiga (Pasal 6 ayat 2 Undang- Undang Nomor 30 Tahun 1999). Kesepakatan mengenai penyelesaian tersebut selanjutnya harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dalam negosiasi, penyelesaian sengketa tidak didasarkan pada peraturan yang ada melainkan pada aturan yang mereka buat sendiri.
Pada umumnya negosiasi merupakan suatu pranata APS yang boleh dikatakan selalu diambil oleh para pihak di awal-awal inisiatif penyelesaian sengketanya. Dengan kata lain, negosiasi merupakan pintu masuk kepada penggunaan pranata penyelesaian sengketa lainnya seperti mediasi atau pengadilan. Jika negosiasi tidak berhasil, para pihak dapat menentukan mekanisme penyelesaian lain, misalnya tetap menggunakan penyelesaian non litigasi atau langsung membawanya ke jalur hukum. Kedua belah pihak atau melalui wakil-wakilnya bertemu untuk membicarakan masalah yang dihadapi dan bagaimana menyelesaikannya secara baik-baik. Oleh karena itu, proses negosiasi biasanya berlangsung secara informal, meskipun seringkali dilakukan secara formal. Tidak ada suatu kewajiban bagi para pihak untuk melakukan pertemuan langsung saat negosiasi diadakan, pun tidak harus dihadiri oleh
para pihak sendiri. Namun demikian, asas saling menghormati dan kesetaraan masing-masing pihak sangat menentukan keberhasilan suatu negosiasi.
Melalui negosiasi para pihak yang bersengketa dapat melakukan penjajakan kembali akan hak dan kewajiban mereka untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) dengan melepaskan atau memberikan kelonggaran atas hak-hak tertentu berdasarkan asas timbal balik.72 Agar dapat dijadikan pegangan bagi para pihak, hasil negosiasi hendaknya dituangkan secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak untuk dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
2. Mediasi
Lembaga APS lain yang sering digunakan dalam berbagai penanganan jenis sengketa perdata adalah mediasi. Mediasi adalah negosiasi yang dihadiri oleh pihak ketiga yang netral yang tidak mempunyai kewenangan untuk memutuskan. Pihak ketiga yang disebut mediator berfungsi untuk membantu para pihak yang berselisih untuk menyediakan fasilitas bagi pihak-pihak di dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan.73
Dari defenisi di atas, bahwa hakekat mediasi adalah negosiasi atau perundingan untuk menemukan pemecahan atas masalah yang dihadapi dengan didampingi pihak ketiga (mediator) yang imparsial (tidak memihak) dan netral.
72
Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani, Hukum Arbitrase (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2001), hlm. 31.
73
Mas Ahmad Santoso dan Anton L.P. Hutapea, Mendayagunakan Mekanisme Alternatif
Kewenangan mediator terbatas pada pemberian saran. Pihak yang bersengketalah yang mempunyai otoritas untuk membuat keputusan.
Adapun bentuk-bentuk mediasi ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) bentuk. Pertama, ada yang bersifat sukarela yakni sebelum perkara masuk ke pengadilan. Kedua, ada yang bersifat wajib berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, disana dinyatakan bahwa semua perkara perdata yang diajukan di pengadilan tingkat pertama wajib untuk lebih dahulu diselesaikan melalui proses perdamaian dengan bantuan mediator. Mediator adalah pihak yang bersifat netral dan tidak memihak, yang berfungsi membantu para pihak dalam mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa. Sedangkan terkait dengan siapa mediatornya, juga ada 2 (dua) kemungkinan. Pertama, ada yang ditentukan oleh para pihak. Kedua, ada yang telah ditentukan siapa mediatornya. Dalam melaksanakan fungsinya mediator wajib menaati kode etika mediator.
Tahap pra mediasi menurut Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 tersebut adalah :
a. Pada hari sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak, hakim mewajibkan para pihak yang berperkara agar terlebih dahulu menempuh mediasi. Mediasi adalah penyelesaian sengketa melalui proses perundingan para pihak dengan dibantu oleh mediator. Hakim wajib menunda proses persidangan perkara itu untuk memberikan kesempatan kepada pihak menempuh proses mediasi. Hakim wajib memberikan penjelasan kepada para pihak tentang prosedur dan biaya
mediasi. Dalam hal para pihak memberikan kuasa kepada kuasa hukum, setiap keputusan yang diambil oleh kuasa hukum wajib memperoleh persetujuan tertulis dari para pihak (Pasal 3).
b. Dalam waktu paling lama satu hari kerja setelah sidang pertama, para pihak dan atau kuasa hukum mereka wajib berunding guna memilih mediator dari daftar mediator yang dimiliki oleh pengadilan atau mediator di luar daftar pengadilan. Daftar mediator adalah sebuah dokumen yang memuat nama-nama mediator di lingkungan sebuah pengadilan yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan. Jika dalam waktu satu hari kerja para pihak atau kuasa hukum mereka tidak dapat bersepakat tentang penggunaan mediator di dalam atau di luar daftar pengadilan, para pihak wajib memilih mediator dari daftar mediator yang disediakan oleh pengadilan tingkat pertama. Jika dalam satu hari kerja para pihak tidak dapat bersepakat dalam memilih seorang mediator dari daftar yang disediakan oleh pengadilan, ketua mejelis berwenang untuk menunjuk seorang mediator dari daftar mediator dengan penetapan. Hakim yang memeriksa suatu perkara, baik sebagai ketua majelis atau anggota majelis, dilarang bertindak sebagai mediator bagi perkara yang bersangkutan (Pasal 4).
c. Proses mediasi yang menggunakan mediator di luar daftar mediator yang dimiliki oleh pengadilan berlangsung paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. Setelah 30 (tiga puluh) hari kerja terpenuhi para pihak wajib menghadap kembali pada hakim pada sidang yang ditentukan. Jika para pihak mencapai kesepakatan, mereka
dapat meminta penetapan dengan suatu akta perdamaian, pihak penggugat wajib menyatakan pencabutan gugatannya (Pasal 5).
d. Mediator pada setiap pengadilan berasal dari kalangan hakim dan bukan hakim yang telah memiliki sertifikat sebagai mediator. Hakim adalah hakim tunggal atau majelis hakim yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan tingkat pertama untuk memeriksa dan mengadili perkara. Sertifikat mediator adalah dokumen yang menyatakan bahwa seseorang telah mengikuti pelatihan atau pendidikan mediasi yang dikeluarkan oleh lembaga yang telah diakreditasikan oleh MA. Setiap pengadilan memiliki sekurang-kurangnya dua orang mediator. Setiap pengadilan wajib memiliki daftar mediator beserta riwayat hidup dan pengalaman kerja mediator dan mengevaluasi daftar tersebut setiap tahun (Pasal 6).
e. Mediator dan para pihak wajib mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi yang diatur dalam peraturan Mahkamah Agung ini. Para pihak adalah dua atau lebih subjek hukum yang bersengketa dan membawa sengketa mereka ke pengadilan tingkat pertama untuk memperoleh penyelesaian (Pasal 7).
Tahap mediasi menurut Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 tersebut adalah :
a. Dalam waktu lama tujuh hari kerja setelah pemilihan atau penunjukan mediator, para pihak wajib menyerahkan fotokopi dokumen yang memuat duduk perkara, fotokopi surat-surat yang diperlukan, dan hal-hal yang terkait dengan sengketa kepada mediator dan para pihak (Pasal 8).
b. Mediator wajib menentukan jadwal pertemuan untuk menyelesaikan proses mediasi. Dalam proses mediasi, para pihak dapat didampingi oleh kuasa hukumnya. Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus. Kaukus adalah pertemuan antara mediator dengan salah satu pihak tanpa dihadiri oleh pihak lainnya. Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak. Dengan hasil akhir tercapainya kesepakatan atau ketidak sepakatan, proses mediasi berlangsung paling lama dua puluh dua hari kerja sejak pemilihan atau penetapan penunjukan mediator (Pasal 9).
c. Atas persetujuan para pihak atau kuasa hukum, mediator dapat mengundang seorang atau lebih ahli dalam bidang tertentu untuk memberikan penjelasan atau pertimbangan yang dapat membantu para pihak dalam penyelesaian perbedaan. Semua biaya jasa seorang ahli atau lebih ditanggung oleh para pihak berdasarkan kesepakatan (Pasal 10).
d. Jika mediasi menghasilkan kesepakatan, para pihak dengan bantuan mediator wajib merumuskan secara tertulis kesepakatan yang dicapai dan ditandatangani oleh para pihak. Kesepakatan wajib memuat klausula pencabutan perkara atau pernyataan perkara telah selesai. Sebelum para pihak menandatangani kesepakatan, mediator wajib memeriksa materi kesepakatan untuk menghindari adanya kesepakatan yang bertentangan dengan hukum. Para pihak wajib menghadap kembali pada hakim pada hari sidang yang telah ditentukan untuk
memberitahukan telah tercapainya kesepakatan. Hakim dapat mengukuhkan kesepakatan sebagai suatu akta perdamaian (Pasal 11).
e. Jika dalam waktu dua puluh dua hari kerja sejak pemilihan atau penetapan penunjukan mediator, mediasi tidak dihasilkan kesepakatan, mediator wajib menyatakan secara tertulis bahwa proses mediasi telah gagal dan memberitahukan kegagalan kepada hakim. Segera setelah diterima pemberitahuan itu, hakim melanjutkan pemeriksaan perkara sesuai dengan ketentuan Hukum Acara yang berlaku (Pasal 12).
f. Jika para pihak gagal mencapai kesepakatan, pernyataan dan pengakuan para pihak dalam proses mediasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses persidangan perkara yang bersangkutan atau perkara lainnya. Fotokopi dokumen dan notulen atau catatan mediator wajib dimusnahkan. Mediator tidak dapat diminta menjadi saksi dalam proses persidangan perkara yang bersangkutan (Pasal 13).
g. Proses mediasi pada asasnya tidak bersifat terbuka untuk umum, kecuali para pihak menghendaki lain. Proses mediasi untuk sengketa publik terbuka untuk umum. Sengketa publik adalah sengketa-sengketa di bidang lingkungan hidup, hak asasi manusia, perlindungan konsumen, pertahanan dan perburuhan yang melibatkan kepentingan banyak buruh (Pasal 14).
Pasal 15 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2003 menyebutkan bahwa mediasi dapat diselenggarakan di salah satu ruang pengadilan tingkat pertama atau tempat lain yang disepakati oleh para pihak. Penyelenggaraan mediasi di salah
satu ruang pengadilan tingkat pertama tidak dikenakan biaya. Jika para pihak memilih penyelenggaraan mediasi di tempat lain, pembiayaan dibebankan kepada para pihak berdasarkan kesepakatan. Penggunaan mediator hakim tidak dipungut biaya. Biaya mediator bukan hakim ditanggung oleh para pihak berdasarkan kesepakatan kecuali terhadap para pihak yang tidak mampu. Apabila dipandang perlu, ketentuan- ketentuan dalam peraturan Mahkamah Agung ini, selain dipergunakan dalam lingkungan peradilan umum dapat juga diterapkan untuk lingkungan badan peradilan lainnya.
Dengan berlakunya Peraturan Mahkamah Agung ini, surat edaran Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama menerapkan Lembaga Damai (eks Pasal 130 HIR/154 RBg) dinyatakan tidak berlaku.
Situasi sengketa seringkali menimbulkan perasaan tidak enak bagi para pihak. Atmosfernya selalu merasa benar dan menang di satu pihak dan pihak lain dianggap salah dan kalah. kesejajaran posisi bagi para pihak nyaris tidak ada. Oleh karena itu, jangankan untuk berunding, bertemu atau berpapasan pun kadang sangat dihindari oleh kedua belah pihak. Dalam mediasi, hambatan psikologis kedua belah pihak dikurangi dan diduduk-sejajarkan untuk mendapatkan solusi sama-sama untung.
Keberadaan mediator sangat penting dalam proses mediasi. Ia harus netral dan tidak berkepentingan dengan hasil yang dicapai. Mediator bertugas mengendalikan proses perundingan dan bukan hasil akhir.74 Dalam praktek, keberhasilan penggunaan mediasi untuk penyelesaian sengketa sangat tergantung pada kemampuan,
74
pengetahuan dan pengalaman mediator dalam menangani berbeda. Oleh karena itu, pemilihan siapa yang akan menjadi mediator juga sangat penting untuk mendorong tercapainya kesepakatan.
Ada 3 (tiga) kategori tipologi mediator yaitu :75
a. Mediator jaringan sosial yaitu mediator yang dipilih karena adanya jaringan atau hubungan sosial. Jika terjadi sengketa tanah antar tetangga, para pihak akan memilih seseorang yang dikenal baik oleh keduanya untuk menengahi sengketa dan memberikan saran pemecahannya. Para pihak percaya bahwa jika yang memediasi adalah orang yang dikenal keduanya akan menjamin proses perundingan berjalan lancar. Dengan kata lain, mediator hubungan sosial berasal dari orang yang dikenal dan dipercaya oleh para pihak.
b. Mediator otoritatif adalah mediator yang dipilih karena yang bersangkutan memiliki otoritas atau kewenangan. Kewenangan itu dapat dibaca sebagai pihak yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memerintah, seperti mediator dari pejabat, anggota legislatif dan sejenisnya. Pemilihan mediator yang berwenang ini biasanya dijadikan sebagai strategi untuk mengikat pihak-pihak yang bersengketa agar tidak main-main dan melaksanakan hasil-hasil perundingan. Selain itu, para pihak juga berharap adanya tindak lanjut dari pemerintah apabila memang obyek yang disengketakan berupa kebijakan dari pihak yang berwenang.
c. Mediator independen yaitu mediator yang dipilih karena professional. Para pihak memilihnya bukan karena hubungan sosial, atau karena memiliki otoritas tetapi
75
semata-mata karena yang bersangkutan memiliki keahlian, integritas, berpengalaman dan professional. Mediator independen ini biasanya berkumpul pada asosiasi-asosiasi, lembaga perguruan tinggi, atau lembaga-lembaga non- government yang memang berprofesi sebagai mediator mandiri.
3. Konsiliasi
Istilah konsiliasi sebagai salah satu pranata APS ditemukan dalam Pasal 1 ayat 10 dan penjelasan umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999. Tidak ada rumusan yang jelas mengenai pengertian atau defenisi konsiliasi dalam undang-undang tersebut. Namun, jika dilihat dari asal kata dan makna bahasanya, konsiliasi berarti tindakan mendamaikan. Secara istilah, konsiliasi tidak berbeda jauh dengan mediasi, bahkan keduanya cenderung saling dipertukarkan.
Konsiliasi merupakan upaya penyelesaian sengketa melalui perundingan dengan melibatkan pihak ketiga netral untuk membantu para pihak menemukan bentuk-bentuk penyelesaian yang dapat disepakati bersama.76 Kehadiran pihak ketiga ini menjadi titik persamaan antara konsiliasi dengan mediasi. Perbedaannya, konsiliasi seringkali lebih formal dari pada mediasi. Perbedaan yang lain adalah kedudukan konsiliator lebih pasif sedangkan mediator memainkan peran aktif dalam proses penyelesaian sengketa. Ada 3 (tiga) jenis konsiliasi, yaitu :77
a. Konsiliasi prahukum adalah konsiliasi yang digunakan apabila tidak terdapat aturan-aturan hukum bersama yang mengikat kedua belah pihak secara efektif. Misalnya, pertikaian-pertikaian yang terjadi antar anggota pada
76
Adi Sulistiyono, Op. Cit., hlm. 153. 77
masyarakat suku primitive. Pada masyarakat modern, konsiliasi prahukum bisa saja terjadi pada pertikaian internasional atau pertikaian buruh kolektif. b. Konsiliasi otoriter atau didaktis adalah konsiliasi yang digunakan untuk
konflik-konflik yang timbul di dalam komunitas di mana harmoni sosial dan consensus moral atau consensus ideology merupakan nilai yang sangat penting. Tipe konsiliasi ini selain dapat berlaku di masyarakat tradisional, juga berlaku pada masyarakat totaliter modern. Pada masyarakat yang terakhir, konsiliator merasa berkewajiban untuk mendidik pihak-pihak yang bersengketa di dalam ideologi resmi yang tidak mengizinkan adanya perbedaan-perbedaan dan untuk membuat mereka menyelesaikan perbedaan- perbedaannya.
c. Konsiliasi sukarela yaitu suatu alternatif bagi pemberian putusan formal. Bentuk ini terdapat dalam masyarakat dengan sistem hukum yang telah berkembang. Para pihak bebas memanfaatkan pranata konsiliasi atau litigasi dalam menuntut hak-haknya.
Dalam kasus sengketa tanah, terutama yang melibatkan petani dengan pengusaha dan atau Negara (sengketa tanah vertikal), dalam rangka untuk menyelesaikan masalahnya atau memaksa pihak Negara/pengusaha untuk duduk berunding, para petani menggunakan strategi perlawanan yang beragam. Apa yang dimaksud perlawanan merupakan masalah yang pelik. Perlawanan adalah tiap tindakan yang diambil oleh kelas tertentu dengan maksud untuk melunakkan atau menolak tuntutan dari kelas atas tau untuk mengajukan tuntutan-tuntutan sendiri (misalnya lahan) terhadap kelas atas ini.78 Dengan kata lain, boleh dikatakan bahwa perlawanan merupakan salah satu strategi menuju penyelesaian secara alternatif para pihak yang bersengketa.
Dalam literatur hukum, proses menuju penyelesaian secara damai sering tidak ditampilkan secara utuh dan hanya menyebutkan bentuk-bentuk perundingan yang
78
Mustain, Petani vs Negara : Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara (Yogyakarta : Ar-ruzz Media, 2007), hlm. 25.
sudah jadi. Padahal proses menuju terjadinya perundingan bagi para pihak yang bersengketa merupakan proses hukum yang sangat penting. Bentuk-bentuk perlawanan para petani berhadapan dengan para pengusaha dan atau Negara (untuk kasus tanah hutan dan perkebunan), yaitu :79
a. Perlawanan di lembaga peradilan. Dalam bentuk ini, banyak petani biasanya memberi kuasa kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidangnya. Para petani biasanya tidak mengandalkan penyelesaian sengketa tanahnya lewat pengadilan. Selain faktor ketidakpercayaan kepada lembaga tersebut yang cenderung berpihak pada pemilik modal, ketidakpunyaan bukti-bukti kepemilikan atas hak tanahnya menjadi kendala untuk beracara di pengadilan. Bukti-bukti sejarah, monumen arkeologis dan bukti tidak tertulis lainnya tidak diakui oleh Negara.
b. Aksi lokal meliputi sejumlah aksi di lokasi sengketa dalam rangka mempertahankan tanah yang menjadi haknya. Bentuknya beragam dari mulai pencabutan tanda-tanda larangan sampai aksi-aksi dan pilihan tindakan untuk tetap bekerja atau tinggal dan hidup di tengah-tengah tanah yang disengketakan.
c. Aksi unjuk rasa dan penyampaian masalah. Modus ini dilakukan dengan cara berdemontrasi dan mengadukan masalah ke wakil rakyat maupun ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Dua bentuk perlawanan ini paling sering digunakan para petani untuk memaksa pihak lawan duduk berunding dan menyelesaikan masalahnya.
Perlawanan salah satu pihak untuk mendorong pihak lawan agar mau duduk bersama dapat pula dilihat dari dua bentuk perlawanan secara umum yaitu perlawanan harian dan perlawanan sungguh-sungguh. Perlawanan harian ini