• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melalui komik „Agar Semuanya Senang‟, Azer sebagai pihak encoder ingin mengingatkan kepada audiensnya bahwa tanpa benda-benda yang digambar Azer, semua manusia adalah sama sedangkan benda-benda tersebut hanyalah benda dan tidak akan dibawa sampai mati. Ide awal munculnya komik ini adalah karena Azer merasa bahwa orang selalu menilai seseorang berdasarkan apa yang dikenakan. Azer mengaku bahwa komik ini di-repost setelah sebelumnya mendapat teguran dari Instagram terkait kontennya yang terlalu vulgar. Azer dalam wawancara triangulasi memberi pandangan terhadap kritik informan tentang konten komiknya yang dianggap terlalu vulgar tersebut.

“Sebenarnya masih bertanggung jawab ya, karena nggak sexist. Sexist itu kayak misalnya menjadikan perempuan sebagai objek. Vulgar, memang agak sedikit vulgar. Soalnya nongolin itunya. Cuma ya menurut saya gak terlalu masalah lah ya? Daripada kita berbuat emang yang benar-benar gak ini ya. Jadi itu cuma kartun.”

“Dan itu juga sebagai kebebasan berkarya saya, dan itu cuma gambar dan juga gak kelihatan bentuk-bentuk cewek. Sementara yang lain pun banyak yang hmm, banyak banget ya apalagi di Instagram sekarang ya. Gambar perempuan diapain lah. Makanya saya nggak pernah bikin sesuatu yang melecehkan perempuan karena anak saya perempuan dua. Paling anti dengan segala sesuatu yang sexist, melecehkan perempuan. Kalau menurut

saya masih wajar lah selama itu nggak melecehkan. Ya bakal terus begitu sih.”

Informan 1 memaknai komik „Agar Semuanya Senang‟ sebagai bentuk sindiran @Komikazer terhadap orang-orang yang suka pamer barang di Instagram. Barang-barang yang dipamerkan biasanya adalah benda fashion seperti baju, sepatu dan aksesoris yang memiliki merek ternama. Istilah yang digunakan untuk pamer barang fashion bermerek di Instagram adalah Outfit Of The Day (OOTD). Azer sendiri dalam wawancara triangulasi menyampaikan bahwa kegiatan OOTD relevan untuk masuk ke dalam kategori Hasrat Kebendaan. Informan 1 merasa komik ini mampu membuatnya tergelitik karena mengandung sindiran yang tajam bagi orang-orang yang gemar pamer OOTD. Informan 1 yang tidak pernah melakukan pamer outfit menyetujui pesan yang disampaikan dalam komik ini, sehingga dirinya dapat digolongkan dalam posisi pemaknaan dominan.

Informan 1 menyampaikan penilaiannya terhadap orang yang gemar pamer OOTD. Informan 1 yang menyukai seni, berpendapat bahwa kegiatan pamer OOTD biasa dilakukan oleh orang-orang dengan paras dan postur yang menarik. Selain itu, orang-orang tersebut juga memiliki kemampuan finansial yang sangat baik sehingga dapat membeli benda-benda bermerek. Informan 1 menilai bahwa kegiatan pamer OOTD tidak berguna dan hanya akan menciptakan kesenjangan sosial sehingga dirinya menyetujui sindiran Azer pada komik „Agar Semuanya Senang‟.

Informan 2 memaknai komik „Agar Semuanya Senang‟ sebagai gambaran bahwa semua anggota tubuh mempunyai kebutuhan penunjang prestise-nya masing-masing. Kebutuhan tersebut dapat berupa benda-benda bermerek dan trendy. Meskipun mengakui bahwa dirinya memiliki benda-benda yang digambar

Azer dalam komik „Agar Semuanya Senang‟, Informan 2 menyetujui pesan dalam komik tersebut sehingga berada pada posisi pemaknaan dominan.

Informan 2 besar di Kota Medan, namun saat ini dirinya sering berpindah- pindah domisili bahkan ke daerah terpencil. Oleh karena itu, Informan 2 ingin menonjolkan diri pada lingkungannya. Dia mengaku bahwa dirinya berharap dapat menjadi trendsetter bagi orang-orang di sekitarnya. Meskipun begitu, dia tidak gemar melakukan pamer OOTD di Instagram. Informan 2 menilai bahwa pamer OOTD di Instagram adalah hal yang wajar dilakukan pada saat ini, namun hal tersebut dapat membuat orang-orang menginginkan benda-benda yang dipamerkan.

Informan 3 memaknai komik „Agar Semuanya Senang‟ sebagai bentuk sindiran bagi orang-orang yang selalu mengikuti trend hanya agar sesuai dengan selera orang banyak. Informan 3 menilai bahwa dirinya tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang selalu mengikuti trend, terutama trend fashion. Pria yang tertarik pada gawai ini menyetujui pesan yang disampaikan dalam komik „Agar Semuanya Senang‟ sehingga dirinya berada pada posisi pemaknaan dominan. Informan 3 menilai bahwa komik „Agar Semuanya Senang‟ tidak relevan dengan istilah pamer OOTD, namun dia akan kesal jika menemui orang yang sering melakukan hal tersebut. Informan 3 merasa bahwa tubuhnya yang bongsor membuat dia tidak tertarik menggunakan outfit yang aneh dan unik seperti yang dilakukan orang yang gemar pamer OOTD.

Informan 4 memaknai komik „Agar Semuanya Senang‟ dengan cara yang sama seperti Informan 1. Menurutnya, komik tersebut menyindir orang-orang yang pamer OOTD dengan menggunakan barang-barang bermerek. Informan 4

mengetahui bahwa komik „Agar Semuanya Senang‟ pernah diunggah sebelumnya dengan menunjukkan alat vital tokoh dalam komik tersebut. Informan 4 mengaku dirinya termasuk pecinta barang bermerek, bahkan Informan 4 sangat anti terhadap barang-barang palsu. Meskipun merasa tersindir, namun Informan 4 justru menganggap komik ini lucu. Melalui pemaparan di atas dapat dilihat bahwa Informan 4 termasuk dalam posisi pemaknaan dominan.

Informan 4 sangat menyukai benda-benda asli dan bermerek. Dirinya akan memilih merek lokal tapi asli, daripada harus membeli benda-benda palsu (KW). Informan 4 memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap jersey bola. Informan 4 bahkan rela merogoh kocek yang lumayan besar demi memperoleh jersey bola favoritnya yang langsung dipesan dari luar negeri. Meskipun demikian, Informan 4 tidak pernah melakukan pamer outfit dalam akun Instagram miliknya. Baginya, semua orang bebas menggunakan barang bermerek dan pamer barang-barang tersebut di media sosial, namun dirinya sendiri tidak akan melakukan hal tersebut.

Menurut Informan 5, komik „Agar Semuanya Senang‟ digambarkan seperti bentuk fashion catalogue. Tokoh digambarkan tidak berbusana untuk menunjukkan bahwa tanpa benda-benda tersebut, semua manusia memiliki derajat yang sama. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa Informan 5 memaknai komik „Agar Semuanya Senang‟ tepat seperti yang dimaksud Azer. Komentar yang diberikan Informan 5 sebagai bentuk decoding pada komik tersebut adalah „Yang nempel di badan kurang lebih 27 juta rupiah‟. Informan 5 berkomentar demikian dengan maksud menerka harga benda-benda tersebut.

Informan 5 yang merupakan seorang seniman, berada pada posisi pemaknaan dominan. Dirinya meyetujui pesan yang disampaikan dalam komik

tersebut, terutama bagaimana Azer menggambarkan berapa konsumtifnya masyarakat zaman sekarang. Sebelum Informan 5 melihat ideologi Azer terhadap budaya konsumtif, dirinya mengaku telah sadar bahwa tindakan konsumtif merupakan hal negatif. Kesadaran akan buruknya tindakan konsumtif tersebut berasal dari Ibunya.

Senada dengan Informan 3, Informan 6 juga berpendapat bahwa komik „Agar Semuanya Senang‟ adalah gambaran bagi orang-orang yang mementingkan gaya agar mendapat perhatian dari orang lain. Menurut Informan 6, mereka melakukan hal tersebut supaya dianggap sebagai orang yang up to date. Informan 6 menyetujui pesan yang disampaikan dalam komik tersebut sehingga dirinya berada pada posisi pemaknaan dominan.

Infroman 6 dikelilingi oleh orang-orang yang sederhana sehingga dirinya tidak terlalu tertarik terhadap benda-benda fashion dan gawai seperti yang digambarkan dalam komik „Agar Semuanya Senang‟. Dalam memenuhi kebutuhannya, Informan 6 masih bergantung pada orang tua karena dirinya belum bekerja. Hal itu menjadikan Informan 6 tidak konsumtif kecuali untuk membeli benda-benda penunjang hobi mendaki. Informan 6 mengaku bahwa dirinya tidak akan membeli barang jika barang tersebut tidak dibutuhkan. Informan 6 juga gemar membeli barang palsu sebagai alternatif agar tidak konsumtif. Baginya, lebih baik membeli barang palsu daripada memaksakan diri membeli barang- barang bermerek yang harganya mahal.

Informan 7 tidak mengetahui bahwa komik „Agar Semuanya Senang‟ diunggah kembali setelah sebelumnya diblokir oleh Instagram. Oleh karena ittu, Informan 7 menilai komik ini sengaja menggunakan caption, „Agar Semuanya

Senang‟dan tokoh dibuat nude serta menjejerkan barang-barang di sebelahnya, supaya orang tidak iri terhadap barang yang dikenakan oleh tokoh tersebut. Selain itu, Informan 7 juga berpendapat bahwa barang-barang yang dijejerkan tersebut merupakan barang bermerek yang digunakan orang-orang agar terlihat up to date. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dilihat bahwa Informan 7 masuk dalam kategori posisi pemaknaan dominan terhadap komik „Agar Semuanya Senang‟.

Informan 7 menilai orang yang up to date bukan hanya dari benda yang mereka gunakan, namun juga melalui wawasan yang luas. Informan 7 tidak merasa tersindir karena dirinya tidak terlalu suka mengoleksi benda-benda bermerek. Meskipun senang berbelanja tas dan sepatu, Informan 7 lebih menyukai model yang unik dibandingkan merek tertentu.

Informan 8 memaknai komik „Agar Semuanya Senang‟ sebagai bentuk penggambaran terhadap orang yang terlalu sibuk menonjolkan identitas diri melalui barang-barang bermerek. Jadi ketika orang lain memiliki suatu benda, maka kita juga turut menginginkan benda tersebut. Meskipun berpendapat demikian, Informan 8 menilai dirinya bukan merupakan tipe orang yang selalu ingin menonjolkan dirinya lewat barang yang dia miliki. Sama seperti informan lainnya, pria pemalu ini juga berada pada posisi dominan.

Informan 8 jarang mengunggah foto pribadi di akun media sosial miliknya, namun sesekali dia muncul dengan tampilan sederhana yaitu dengan menggunakan kaos. Informan 8 juga mengakui bahwa dirinya tidak membutuhkan prestise. Bahkan Informan 8 mengatakan bahwa dirinya lebih membutuhkan uang dibandingkan prestise.

5.6 Pemaknaan Informan Penelitian Mengenai Komik yang Mengandung