BAB VII ANALISIS TEMATIK
7.3 PEMANFAATAN ANGGARAN HASIL REFOCUSING APBD DI DIY TAHUN
7.3.1. Penanganan Kesehatan
Alokasi anggaran untuk penanganan Kesehatan hasil refocusing APBD 2020 sebesar Rp151,33 miliar yang digunakan untuk membiayai 97 kegiatan. Dari alokasi tersebut, telah terealisasi sebesar Rp151,3 miliar (100 persen), dengan rata-rata capaian output sebesar 89,21 persen, sehingga nilai rata-rata tingkat efisiensi dari kegiatan Penanganan Kesehatan sebesar 0,9. Nilai Efisiensi dalam merupakan perbandingan antara output dengan input (sumber daya yang digunakan untuk meperoleh output).
Tabel 7.2
15 Kegiatan Belanja Penanganan Kesehatan Dengan Alokasi Anggaran Terbesar Tahun 2020
Uraian Kegiatan
BTT Capaian % Output Pagu Realisasi % Real
1 Penyediaan BMHP dan Peralatan / Perlengkapan
Skrining 37.805.186.769 37.805.186.769 100,00% 89,47%
2 Penyediaan BMHP dan Peralatan / Perlengkapan 35.234.006.545 35.234.006.545 100,00% 87,95%
3 Pemenuhan APD untuk RS Rujukan 21.519.375.000 21.519.375.000 100,00% 91,34%
4 Dukungan Petugas Dekontaminasi / Pengantaran
Jenazah 6.735.652.500 6.735.652.500 100,00% 90,20%
5 Operasi Pengawasan Keamanan, Ketentraman dan Ketertiban Umum dalam rangka Pencegahan Covid 19
6.420.109.800 6.420.109.800 100,00% 98,95%
6 Penanganan Pasien di RS Rujukan 5.642.915.800 5.642.915.800 100,00% 99,96%
7 Penyediaan Dukungan Manajemen Posko Terpadu 3.474.452.562 3.474.452.562 100,00% 95,47%
8 Penyediaan Alat Kesehatan 2.990.524.025 2.990.524.025 100,00% 89,27%
9 Penyediaan APD dan sarana Kebersihan Sekretariat
Posko Terpadu 2.650.235.500 2.650.235.500 100,00% 99,14%
10 Publikasi dan Diseminasi Informasi Publik Kegiatan
Gugus Tugas Penanganan Covid19 2.364.022.000 2.364.022.000 100,00% 95,97%
11 Pemeriksaan Pemudik di 3 wilayah perbatasan DIY -
Jateng 1.687.232.000 1.687.232.000 100,00% 85,77%
12 Logistik untuk PEMDA DIY beserta unit layanan 1.512.150.000 1.512.150.000 100,00% 89,86% 13 Dekontaminasi, Desinfektanisasi dan Ruang Karantina 1.406.817.200 1.406.817.200 100,00% 87,38% 14 Logistik untuk dukungan Operasional Gugus Tugas
Kabupaten/Kota dan satgas desa 1.311.500.000 1.311.500.000 100,00% 90,10%
15 Dukungan Protokol Kesehatan Bagi Sekolah 1.203.800.000 1.203.800.000 100,00% 72,37%
111
Berdasarkan grafik 7.2 diatas, terlihat bahwa hanya 1 output yang terealisasi secara efisien, yaitu kegiatan Penanganan Pasien di RS Rujukan (Tingkat efiensi sebesar 1). Output tersebut dikatakan efisien karena dengan penggunaan dana yang sebesar 100 persen dapat merealisasikan capaian output yang sebesar 99,96 persen. Terdapat 27 Rumah Sakit Rujukan penanganan pasien COVID-19 di DIY, 4 RS yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan berdasarkan SK Menteri Kesehatan yaitu RSUP dr. Sardjito, RSUD Panembahan Senopati Bantul, RSUD Kota Yogyakarta, dan RSUD Wates, dan 23 rumah sakit yang diproses dengan Surat Keputusan Gubernur DIY. Sedangkan output yang paling tidak efisien adalah Kegiatan Dukungan Protokol Kesehatan Bagi Sekolah, karena pada output kegiatan tersebut hanya tercapai sebesar 72,37 persen dengan penggunaan dana yang mencapai 100 persen. Termasuk dalam kegiatan ini adalah biaya untuk pemenuhan kebutuhan penanganan pasien, desinfeksi lingkungan dan promosi kesehatan untuk pelayanan penanganan wabah COVID-19.
Sedangkan output yang paling tidak efisien adalah kegiatan Dukungan Protokol Kesehatan Bagi Sekolah (tingkat efisiensi = 0,72). Dengan penggunaan dana sebesar 100 persen, capaian output hanya sebesar 72,37 persen. Hal ini karena di wilayah DIY, sampai saat ini masih diberlakukan pembelajaran dengan sistem daring.
Jika dilihat dari capaian outputnya, terdapat beberapa kegiatan dalan belanja penanganan bidang kesehatan yang capaian outputnya tercatat masih nol, sementara anggaran dari kegiatan tersebut sudah terlanjur direalisasikan. Namun demikian, ketika hal tersebut dikonfirmasi ke DPPKA DIY, dana yang telah terlanjur ditarik tersebut telah disetorkan kembali ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) sebagai pengembalian belanja.
Adapun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut : 0,89 0,88 0,91 0,90 0,99 1,00 0,95 0,89 0,99 0,96 0,86 0,90 0,87 0,90 0,72 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Grafik 7. 2
112
Tabel 7.310 Kegiatan Belanja Penanganan Kesehatan Dengan Capaian Output Terendah Tahun 2020
Uraian Kegiatan
BTT
Pagu Realisasi % Real Capaian % Output
1 Cadangan Tempat Pemakaman Jenazah COVID-19 250.000.000 250.000.000 0,00%
2 Pengelolaan Limbah B3 Infeksius 21.120.000 21.120.000 100,00% 0,00%
3 Pengelolaan Limbah Medis PSC 119 DIY 1.300.000 1.300.000 100,00% 0,00%
4 Bahan Desinfektan & Pembersih 6.355.000 6.355.000 100,00% 0,00%
5 Perlengkapan shelter Isolasi ASN Pemda DIY 139.529.000 139.529.000 100,00% 0,00%
6 Perlengkapan Shelter Isolasi 4.083.000 4.083.000 100,00% 0,00%
7 Sosialisasi Shelter 2.850.000 2.850.000 100,00% 0,00%
8
Fasilitasi Peginapan bagi tenaga medis yang menangani Covid 19 di PPSDM Kemendagri Regional Yogya
1.103.400.800 1.103.400.800 100,00% 14,94% 9 Fasilitasi pengambilan logistik bantuan Pusat 145.880.000 145.880.000 100,00% 22,16% 10 Penggandaan Panduan DeskataVID (Desa/Kampung Tangguh COVID-19) 271.000.000 271.000.000 100,00% 46,13%
Sumber : DPPKA Pemda DIY
Terkait tidak adanya capaian output Kegiatan Cadangan Tempat Pemakaman Jenazah COVID-19, hal ini dimungkinkan karena sudah ada kesanggupan bagi masing-masing kabupaten dan kota untuk menyiapkan area pemakaman khusus terkait pasien virus Corona, misalnya Pemda Kabupaten Sleman telah menyiapkan beberapa hektare di daerah Prambanan, baik Sleman Barat maupun Sleman Timur, untuk Kabupaten Bantul telah disiapkan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tilaman, Wukirsari, Imogiri sebagai lokasi pemakaman pasien COVID-19, Kota Yogyakarta di TPU Madurejo, Kabupaten Kulonprogo di Makam Padukuhan Pantog Kulon, Kapanewon Kalibawang dan Kabupaten Gunungkidul di desa Karangrejek Wonosari.
7.3.1. Penanganan Dampak Ekonomi
Alokasi anggaran untuk penanganan Dampak Ekonomi hasil refocusing APBD 2020 sebesar Rp9,2 miliar yang digunakan untuk membiayai 51 kegiatan. Dari alokasi tersebut, telah terealisasi sebesar Rp9,2 miliar (100 persen), dengan rata-rata capaian output sebesar 85,46 persen.
113
Tabel 7.4
10 Kegiatan Belanja Penanganan Dampak Ekonomi Dengan Alokasi Anggaran Terbesar Tahun 2020
Uraian Kegiatan
BTT
Pagu Realisasi % Real Capaian % Output
1 Pemberian kerja darurat istimewa (PKDI) 1.022.400.000 1.022.400.000 100,00% 99,79% 2 Kemitraan UKM, Marketplace dan Jasa Pengiriman
dalam distribusi produk KUMKM 750.928.000 750.928.000 100,00% 61,30%
3 Pemberdayaan Pelaku wisata di Destinasi Wisata
dan Desa/Kampung Wisata 637.902.000 637.902.000 100,00% 98,47%
4 Pemberdayaan Lulusan BLKPP untuk Pembuatan
Baju APD sebanyak 6.000 buah 520.200.000 520.200.000 100,00% 99,07%
5 Pemberdayaan Lulusan BLKPP untuk Pembuatan
Faceshield APD sebanyak 5.000 buah 375.000.000 375.000.000 100,00% 65,51% 6 Kampanye Penguatan Citra Destinasi Pariwisata
DIY (Brand Awarness) Masa Pemulihan 339.215.000 339.215.000 100,00% 57,48% 7 Pemberdayaan UMKM untuk pembuatan masker 316.368.000 316.368.000 100,00% 62,41%
8 Pemberdayaan peternak sapi perah. 310.090.600 310.090.600 100,00% 93,10%
9 Pemberdayaan Lulusan BLKPP untuk Pembuatan
Sepatu APD sebanyak 6.000 buah 298.200.000 298.200.000 100,00% 63,46%
10 Pemeliharaan Aset Daerah Terdampak 265.414.219 265.414.219 100,00% 49,08%
Sumber : DPPKA Pemda DIY
Terdapat satu output yang efisien yaitu output Pemberian kerja darurat istimewa (PKDI) dengan tingkat efiensi sebesar 1, yang berarti bahwa untuk merealisasikan capaian output 100 persen, output tersebut juga menyerap 100 persen dari total pagu yang sebesar Rp1,02 miliar. Salah satu kegiatan PKDI di wilayah DIY merupakan kegiatan Padat Karya Infrastruktur yang berlokasi di Gunungkidul dan Kulon Progo. Jenis pekerjaan yang dilakukan berupa pekerjaan Conblock Jalan. Dinas terkait yang bertanggungjawab pada kegiatan ini adalah Disnakertrans DIY. Bentuk pekerjaan PKDI lainnya adalah padat karya pembersihan pasar, dimana tenaga kerjanya berasal adalah pekerja pasar tradisional seperti buruh gendong, juru parkir. Kegiatan tersebut terealisasi di bulan Mei dan Juni masing-masing dengan menyerap tenaga kerja masing-masing 600 orang per kegiatan. Sedangkan dalam rangka mendorong kebangkitan UMKM, Dinas Koperasi dan UKM
1,00 0,61 0,98 0,99 0,66 0,57 0,62 0,93 0,63 0,49 0,00 0,50 1,00 1,50 0 2 4 6 8 10 12 Grafik 7. 3
Tingkat Efisiensi Belanja Penanganan Dampak Ekonomi (10 Kegiatan Dengan Pagu Terbesar) 2020
114
menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan padat karya diservifikasi usaha pembuatan APD (Masker dan coverall) UKM Jahit.
Sedangkan output yang paling tidak efisien adalah kegiatan Pemeliharaan Aset daerah terdampak (tingkat efisiensi = 0,49). Dengan penggunaan dana sebesar 100 persen, capaian output hanya sebesar 49,08 persen.
Tabel 7.5
10 Kegiatan Belanja Penanganan Dampak Ekonomi Dengan Capaian Output Terkecil Tahun 2020
Uraian Kegiatan
BTT
Pagu Realisasi % Real Capaian % Output
1 Pemulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari
Debarkasi ke DIY 69.000.000 69.000.000 100,00% 10,58%
2 Identifikasi dan invetarisasi kredit macet dan
pembiayaan UMKM 76.325.000 76.325.000 100,00% 31,55%
3 Pengawasan Peredaran Barang dan Harga
Kebutuhan Pokok 106.000.000 106.000.000 100,00% 43,38%
4 Pemeliharaan Aset Daerah Terdampak 265.414.219 265.414.219 100,00% 49,08%
5 Kampanye Penguatan Citra Destinasi Pariwisata DIY
(Brand Awarness) Masa Pemulihan 339.215.000 339.215.000 100,00% 57,48%
6 Kemitraan UKM, Marketplace dan Jasa Pengiriman
dalam distribusi produk KUMKM 750.928.000 750.928.000 100,00% 61,30%
7 Pemberdayaan UMKM untuk pembuatan masker 316.368.000 316.368.000 100,00% 62,41% 8 Pemberdayaan Lulusan BLKPP untuk Pembuatan
Sepatu APD sebanyak 6.000 buah 298.200.000 298.200.000 100,00% 63,46%
9 Pemberdayaan Lulusan BLKPP untuk Pembuatan Faceshield APD sebanyak 5.000 buah 375.000.000 375.000.000 100,00% 65,51% 10 Pengadaan Sarana Prasana untuk Penyimpanan
Produk Pertanian 7.191.000 7.191.000 100,00% 68,14%
Sumber : DPPKA Pemda DIY
Sementara itu, jika dilihat dari capaian outputnya, capaian output terkecil ada pada kegiatan Pemulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Debarkasi ke DIY yang hanya sebesar 10,58 persen. Termasuk dalam kegiatan ini penyiapan protokol kesehatan di titik debarkasi, pendataan pemulangan, fasilitas rujukan, fasilitas pemulangan PMI, dan pendampingan kepulangan ke daerah asal. Selama tahun 2020, UPT BP2MI Yogyakarta telah memfasilitasi pemulangan 3 Orang PMI Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Pesiar Norwegian Encore dari Miami Florida, Amerika Serikat, 2 orang berasal dari Magelang Jawa Tengah dan 1 orang dari Kabupaten Kulon Progo DIY, kemudian memfasilitasi kepulangan 70 PMI ABK Carnival Splendor (54 orang berasal dari Jawa Tengah dan 16 orang berasal dari DIY). Selain itu UPT BP2MI Yogyakarta juga telah memfasilitasi pemulangan 2 jenazah PMI, 1
115
orang berasal dari Bantul, DIY yang dulunya bekerja di Brunei Darussalam dan 1 orang dari Cilacap (Jateng) yang dulunya bekerja di Malaysia. 1
7.3.2. Penanganan Penyediaan Social Safety Net / Jaring Pengaman Sosial
Arahan Menteri Dalam Negeri terkait perlunya keseriusan pemerintah daerah dalam melakukan jaring pengaman sosial agar tak menimbulkan permasalahan baru di masyarakat yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Implementasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di daerah yang dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri, Menkopolhukam, Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Menteri Sosial, BNPB dan seluruh Gubernur, Bupati Walikota se-Indonesia melalui saluran video conference pada bulan April 2020 lalu2, direspon Pemda DIY dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp182,09 miliar untuk penanganan Penyediaan Social Safety Net / Jaring Pengaman Sosial di DIY. Keseriusan Pemda DIY dalam hal ini ditunjukkan dengan besarnya alokasi tersebut yang mencapai 53 persen dari total pagu hasil Refocusing APBD DIY.
Sampai dengan 31 Desember 2020, realisasi sebesar Rp182,09 miliar (100 persen), dengan rata-rata capaian output sebesar 89,39 persen.
Mayoritas kegiatan Penanganan Penyediaan Social Safety Net / Jaring Pengaman Sosial atau 96 persen berupa pekerjaan Pemberian bantuan sosial untuk masyarakat dalam rangka Perlindungan dan Jaminan Sosial terdampak Covid 19. Dengan realisasi mencapai 100 persen, capaian output kegiatan Pemberian bantuan sosial untuk masyarakat dalam rangka Perlindungan dan Jaminan Sosial terdampak Covid 19 telah mencapai 91,59 persen.
Tabel 7.6
10 Kegiatan Penanganan Penyediaan Social Safety Net / Jaring Pengaman Sosial Dengan Alokasi Anggaran Terbesar Tahun 2020
Uraian Kegiatan
BTT
Pagu Realisasi % Real Capaian % Output
1
Pemberian bantuan sosial untuk masyarakat dalam rangka Perlindungan dan Jaminan
Sosial terdampak Covid 19 174.378.000.000 174.378.000.000
100,00% 91,56%
2 Penyelenggaraan Dapur Umum 3.292.002.000 3.292.002.000 100,00% 9,95%
3 Pengerahan anggota Tagana 1.849.820.000 1.849.820.000 100,00% 45,34%
4 Layanan Dukungan Psikososial 466.910.000 466.910.000 100,00% 82,51%
1http://www.bp3tkiyogya.info/news/category/1/kegiatan-bp3tki diakses tanggal 26 Februari 2021.
2https://m.ayobogor.com/read/2020/04/10/6618/mendagri-minta-pemda-serius-terapkan-jaring-pengaman-sosial diakses tanggal 26
116
Uraian Kegiatan
BTT
Pagu Realisasi % Real Capaian % Output
5
Pemberian bantuan sosial bagi Lanjut Usia Terlantar berupa sembako,tambahan gizi dalam rangka percepatan penanganan dampak covid 19
450.000.000 450.000.000 100,00% 98,82%
6 Bantuan Sosial untuk mahasiswa 280.556.500 280.556.500 100,00% 93,77%
7 Bantuan Sosial Tunai untuk Lansia terlantar
tinggal sendiri dan Penyandang disabilitas 230.700.000 230.700.000 100,00% 98,78% 8 Bantuan Sosial Tunai untuk Lansia terlantar tinggal sendiri 225.000.000 225.000.000 100,00% 49,16% 9 Pemberian bantuan sosial untuk penyandang disabilitas terdampak Covid 19 112.500.000 112.500.000 100,00% 0,00%
10 Jaminan Hidup ODP 107.530.000 107.530.000 100,00% 0,00%
Sumber : DPPKA Pemda DIY
Dari 10 kegiatan Penanganan Penyediaan Social Safety Net / Jaring Pengaman Sosial dengan pagu terbesar, terdapat dua output yang tingkat efisiensi mendekati angka 1, yaitu yaitu output Pemberian bantuan sosial bagi Lanjut Usia Terlantar berupa sembako,tambahan gizi dalam rangka percepatan penanganan dampak COVID-19 dan Bantuan Sosial Tunai untuk Lansia terlantar tinggal sendiri dan Penyandang disabilitas. Sementara itu capaian output kegiatan Pemberian bantuan sosial untuk penyandang disabilitas terdampak COVID-19 tercatat masih nol persen. Hal ini disinyalir jenis pekerjaan tersebut mempunyai kesamaan sasaran dengan kegiatan Bantuan Sosial Tunai untuk Lansia terlantar tinggal sendiri dan Penyandang disabilitas, sehingga untuk menghindari duplikasi penerima bantuan, pekerjaan tersebut tidak dilaksanakan.
Jika dilihat dari capaian outputnya, pada kegiatan Penanganan Penyediaan Social Safety
Net / Jaring Pengaman Sosial juga terdapat beberapa kegiatan dalan belanja penanganan
bidang kesehatan yang capaian outputnya tercatat masih nol, sementara anggaran dari kegiatan tersebut sudah terlanjur direalisasikan. Namun demikian, dana yang telah terlanjur
0,92 0,10 0,45 0,83 0,99 0,94 0,99 0,49 0,00 0,00 0,00 0,50 1,00 1,50 0 2 4 6 8 10 12 Grafik 7. 4
117
ditarik tersebut telah disetorkan kembali ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) sebagai pengembalian belanja.
Adapun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 7.7
10 Kegiatan Penanganan Penyediaan Social Safety Net / Jaring Pengaman Sosial Dengan Capaian Output Terkecil Tahun 2020
Uraian Kegiatan
BTT
Pagu Realisasi % Real Capaian % Output
1 Pemberian bantuan sosial untuk penyandang
disabilitas terdampak Covid 19 112.500.000 112.500.000 100,00% 0,00%
2 Jaminan Hidup ODP 107.530.000 107.530.000 100,00% 0,00%
3 Penyelenggaraan Dapur Umum untuk Isolasi ASN
Pemda DIY 48.804.000 48.804.000 100,00% 0,00%
4 Penyelenggaraan Dapur Umum 3.292.002.000 3.292.002.000 100,00% 9,95%
5 Pendampingan Penyaluran Bantuan 26.460.000 26.460.000 100,00% 10,57%
6 Biaya Pengiriman Bantuan 24.509.800 24.509.800 100,00% 16,47%
7 Monev Tim 53.000.000 53.000.000 100,00% 20,38%
8 Pengerahan anggota Tagana 1.849.820.000 1.849.820.000 100,00% 45,34%
9 Bantuan Sosial Tunai untuk Lansia terlantar tinggal
sendiri 225.000.000 225.000.000 100,00% 49,16%
10 Fasilitasi Distribusi dan Bongkar Muat Logistik 3.000.000 3.000.000 100,00% 50,00%
Sumber : DPPKA Pemda DIY
Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan anggaran hasil refocusing APBD di DIY Tahun 2020 pada tiga klaster penanganan dampak Pandemi COVID-19, Pemda DIY cukup efisien dalam memanfaatkan anggaran hasil refocusing APBD 2020. Hal ini terkonfirmasi dengan cukup tingginya capaian output beberapa pos kegiatan strategis yang mempunyai pagu tertinggi per jenis penanganan. Namun demikian, terdapat juga beberapa pos kegiatan yang sampai dengan tahun anggaran 2020 berakhir capaian outputnya masih tergolong sangat rendah. Hal ini dapat dipahami karena penyebaran Pandemi COVID-19 yang tidak terduga dan sangat masif penyebarannya mendorong pemerintah baik pusat maupun daerah untuk melakukan langkah cepat dan extraordinary. Terkait hal tersebut diperlukan koordinasi lebih lanjut untuk mengevaluasi dan mengkaji program yang diusulkan agar tidak terjadi