BAB I SASARAN PEMBANGUNAN DAN TANTANGAN DAERAH
1.3 TANTANGAN DAERAH
Dalam setiap tahapan pembangunan, terdapat berbagai kondisi permasalahan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan daerah sekaligus juga menjadi isu strategis daerah mengingat dampak signifikan yang ditimbulkan.
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah
Seiring dengan pandemi Covid-19 yang terjadi pada semua negara, hal ini berdampak juga bagi perekonomian di D.I Yogyakarta. Perekonomian DIY selama tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,69 persen (c-to-c ), lebih tinggi dari level nasional (-2.07 persen). Kondisi ini berbeda arah pertumbuhan dibanding tahun 2019 yang mampu tumbuh sebesar 6,59 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DIY sebesar 4,57 persen pada Agustus 2020, meski lebih rendah dibanding level nasional (7,07 persen) , namun TPT Agustus 2020 naik 1,43 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2019. Indeks Gini di DIY periode September 2020 tercatat 0,437, berada diatas rata-rata Nasional yang sebesar 0,385 dan merupakan angka tertinggi ketimpangan sosial di Indonesia. Demikian juga dengan angka kemiskinan DIY per September 2020 masih di angka 12,28 persen, melebihi rata-rata Nasional 9,78 persen. Melihat kondisi ini, diperlukan extra effort dalam usaha menaikkan pertumbuhan perekonomian DIY serta menurunkan angka kemiskinan dan tentunya tidak mengabaikan protokol kesehatan dalam menghadapi penyebaran Covid-19. 1.3.2. Tantangan Sosial Kependudukan
6
Jumlah Penduduk DIY tahun 2020 sebanyak 3,88 juta jiwa dengan persentase penduduk usia produktif sebesar 68,75 persen sehingga DIY masih dalam masa bonus demografi. Dengan rasio jenis kelamin 51 : 49 dimana jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki.
Permasalahan alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman/real estate sedang marak di DIY beberapa tahun ini, terutama daerah perkotaan (Sleman dan Yogyakarta). Penyebabnya adalah peningkatan jumlah penduduk yang selain di pengaruhi oleh angka kelahiran juga sebagai akibat dari besarnya jumlah imigran , mengingat Yogyakarta merupakan kota pelajar, pariwisata,budaya dan perdagangan. Seiring dengan banyaknya perguruan tinggi yang ada, tingginya intensitas pembangunan rumah kos serta meluasnya kawasan permukiman mengakibatkan makin menurunnya kawasan pertanian dan kawasan terbuka hijau. Hal tersebut mengakibatkan ketimpangan kesejahteraan antar kelas di masyarakat dan antar kawasan perkotaan dan perdesaan di Yogyakarta semakin melebar.
Di sisi lain perkembangan teknologi juga memicu perubahan nilai, baik nilai lokal maupun nilai sosial, yaitu nilai-nilai keluarga dan kebudayaan di DIY. Gadget menyebabkan anak anak kurang berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan minimnya pemuda yang memiliki rasa ketertarikan dengan pengembangan budaya .Pemda DIY mendorong terciptanya keluarga tangguh yang mampu menjadi pilar kehidupan masyarakat yang berkarakter, berbudaya, maju, mandiri dan sejahtera, menyongsong peradaban baru sehingga jogja tidak kehilangan kejogjaannya.
1.3.3. Tantangan Geografis Wilayah
Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas wilayah mencapai 3.185,83 km2 dan memiliki letak geografis antara Gunung Merapi dan Samudera Hindia merupakah daerah yang subur yang menjadikannya daerah pertanian yang menghasilkan padi dan palawija sekaligus juga memiliki resiko terjadinya bencana alam berupa gempa bumi vulkanik dan tektonik.
Sebagian besar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta atau sebesar 65,65 persen wilayah terletak pada ketinggian antara 100-499 m dari permukaan laut, 28,84 persen wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 meter, 5,04 persen wilayah dengan ketinggian antara 500-999 m, dan 0,47 persen wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m.
Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang serta ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang baik.
7
Hal tersebut berbanding terbalik dengan wilayah pegunungan di kabupaten Gunungkidul. ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang relatif masih kurang memicu naiknya indeks ketimpangan antar wilayah. Dewasa ini kawasan pantai selatan kabupaten Gunungkidul memiiliki potensi pariwisata yang cerah dan ditunjang dengan dikucurkannya Dana Desa maka sedikit demi sedikit ketertinggalan infrastruktur jalan penunjang pariwisata dapat teratasi.
Mengingat kondisi geografisnya merupakan daerah dengan potensi terdampak bencana yang besar,maka dalam merencanakan pembangunan wilayah DIY harus tetap memperhatikan risiko bencana serta dilakukan mitigasi bencana.
Kawasan rawan bencana di DIY dilihat dari besarnya bencana diantaranya adalah:
1. Kawasan rawan bencana dan terdampak gunung berapi di lereng Gunung Merapi.
Kawasan ini mencakup hampir seluruh wilayah DIY terutama Kabupaten Sleman bagian utara dan wilayah sekitar sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Status Gunung Merapi telah naik dari waspada (level II) menjadi siaga (level III) pada 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Peningkatan status tersebut didasarkan pada aktivitas vulkanik saat ini, yang dapat berlanjut ke erupsi dan baru di
awal tahun 2021 telah terjadi beberapa kali guguran lava dari puncak Merapi namun tidak sampai mengakibatkan kerusakan yang cukup besar dibandingkan letusan tahun 2010 yang lalu. 1
2. Kawasan rawan gempa bumi tektonik, Jawa Tengah bagian selatan, termasuk kota Yogyakarta dan sekitarnya, merupakan salah satu wilayah rawan gempa bumi. Dan di DIY merupakan wilayah yang dilewati oleh sesar Opak merupakan patahan aktif sehingga kerap kali menjadi penyebab terjadinya gempa yang mengguncang Jogja.seperti yang terjadi di tahun 2006 dengan kekuatan gempa 6,3 SR yang mengakibatkan sekitar 6000 korban jiwa.
1 (https://www.kompas.com/tren/read/2020/11/08/200200865/status-gunung-merapi-level-iii-siapkan-tas-siaga-bencana-seperti-ini-?page=all)
8
3. Kawasan rawan bencana TsunamiKawasan rawaan bencana tsunami di DIY adalah wilayah pantai dari Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul dengan ketinggian kurang dari 30 meter dari permukaan laut.
1.3.4. Tantangan Pandemi bagi Daerah
Memasuki awal tahun 2020, Pemerintah dan masyarakat global harus menghadapi tantangan baru berupa pandemi Covid-19 yang meluas hingga ke tanah air dan seluruh pelosok daerah. Penyebaran Covid-19 yang sangat cepat dan luas menyebabkan sebagian besar daerah harus melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar/MIkro (PSBB/M). Dampak pandemi Covid-19 tidak saja membahayakan kesehatan , namun juga berpotensi membahayakan kondisi sosial masyarakat, perekonomian nasional dan daerah dan stabilitas sistem keuangan. Terjadinya pelemahan di berbagai sektor perekonomian karena adanya PSBB/M akan berdampak terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, menjadikan hal ini sebagai kondisi yang extraordinary sehingga memerlukan penanganan dan langkah kebijakan yang extraordinary namun tetap akuntabel.
Sebaran Covid-19 di DIY pada 2020 secara nasional berada pada posisi 10 besar dengan menyumbang 2 persen kasus aktif sampai dengan 31 Desember 2020. Dengan semakin meningkatnya kasus penyebaran Covid-19, 3 daerah masuk dalam zona merah (Kabupaten Sleman, Kab Kulon Progo dan Kota Yogyakarta) dan 2 daerah masuk dalam zona oranye
(Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul). 2
Berbagai upaya telah dilakukan dalam usaha menekan laju penambahan kasus Covid-19 di DIY. Pada Provinsi DIY tidak sampai diberlakukan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
mengingat banyak UMKM yang menggantungkan usaha di sektor pariwisata dan jasa. Namun tentunya hal tersebut harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan di masing-masing wilayah.
2 (https://jogja.tribunnews.com/2021/01/30/peta-zonasi-risiko-covid-19-di-daerah-istimewa-yogyakarta-tiga-kabupaten-berstatus-zona-merah?page=1 ) 23 95 236 313 674 1425 26433835 5963 12155 0 3000 6000 9000 12000 15000
Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
O R A N G Sumber : Https://Corona.Jogjaprov.Go.Id Grafik 1.1