• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL

3.2 PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI

3.1. APBN TINGKAT D.I. YOGYAKARTA 2020

Alokasi belanja APBN tahun 2020 di wilayah D.I Yogyakarta sebesar Rp 21,04 triliun, terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat Rp10,80 Triliun dan Transfer Ke Daerah (TKD) sebesar Rp10,23 triliun. Alokasi ini turun sebesar 7,25 persen dibanding Tahun 2019 dikarenakan adanya penyesuaian pagu APBN sesuai PP 72/2020. Realisasi Belanja Negara mencapai Rp20,19 Triliun (95,96 persen). Sedangkan realisasi pendapatan negara mencapai Rp7,26 triliun (95,55 persen).

Tabel 3.1

APBN DIY (dalam miliar rupiah)

URAIAN 2019 2020

Pagu Realisasi Pagu Realisasi

PENDAPATAN NEGARA 8.009,68 7.593,91 7.600,42 7.262,55

Penerimaan Pajak 6.423,17 5.453,58 5.429,71 5.004,83

Penerimaan Negara Bukan Pajak 1.586,51 2.140,33 2.170,71 2.257,72

BELANJA NEGARA 22.685,48 21.615,39 21.041,06 20.191,99

Belanja Pemerintah Pusat 12.036,27 11.298,95 10.801,17 10.038,94

Transfer Ke Daerah 10.649,21 10.316,44 10.239,89 10.153,05

SURPLUS/DEFISIT ANGGARAN -14.675,80 -14.021,48 -13.440,63 -12.929,43

PEMBIAYAAN 0 0 0 0

Pembiayaan Dalam Negeri 0 0 0 0

Pembiayaan Luar Negeri 0 0 0 0

SiLPA/SiKPA -14.675,80 -14.021,48 -13.440,63 -12.929,43

Sumber: Data Laporan Goverment Financial Statistics (GFS) Triwulan IV Kanwil DJPb Provinsi. D.I Yogyakarta

data SPAN diakses tanggal 13-02-2021

3.2. PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI

Pendapatan pemerintah pusat terdiri dari penerimaan pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Realisasi pendapatan negara tahun 2020 mencapai Rp 7,26 triliun ( 95,55 persen) atau turun sebesar Rp 331,35 miliar dibandingkan tahun 2019. Walaupun demikian sektor perpajakan masih mendominasi struktur penerimaan negara atau sebesar 68,91 persen.

3.2.1. Penerimaan Perpajakan

a. Analisis Tax Ratio (Rasio Pajak)

Tax Ratio atau rasio pajak adalah perbandingan antara jumlah penerimaan pajak dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara. Penerimaan pajak DIY tahun 2020 sebesar Rp 5 triliun. PDRB DIY tahun 2020 sebesar Rp138,4 triliun sehingga rasio pajak DIY 2020 adalah 3,61 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan tax rasio tahun 2019 sebesar 3,85 persen.

Perkembangan Dan Analisis

Pelaksanaan APBN Tingkat Regional

Bab III

Alokasi belanja Negara di DIY Rp21,04 triliun terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat Rp10,80 triliun dan TKD Rp 10,23 miliar. Realisasi pendapatan negara Tahun 2020 mencapai Rp7,26 triliun (95,55 persen) atau turun Rp 331,35 miliar dibandingkan Tahun 2019

39

Kecenderungan penurunan tax ratio dari tahun ke tahun disebabkan oleh tiga faktor yang membebani tax ratio yaitu kondisi perekonomian, kebijakan perpajakan , dan kapasitas administrasi. Pandemi Covid-19 yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi DIY negatif di semua sektor dominan kecuali industri pengolahan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian regional, di sisi lain kebijakan perpajakan seperti Batasan PTKP senilai 54 juta, batas omzet pengusaha kena pajak senilai 4,8 miliar yang mengakibatkan semakin banyaknya wajib pajak yang tidak dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak serta skema PPh Final UMKM turun dari 1 persen menjadi 0,5 persen mengurangi potensi penerimaan PPh dalam jangka pendek. Pada administrasi terdapat tantangan sisi organisasi, SDM, proses bisnis dan regulasi.

Secara keseluruhan capaian penerimaan pajak DIY (92,11 persen) belum berhasil memenuhi target yang telah ditetapkan pada tahun 2020 walaupun capaian ini masih sedikit di atas capaian pajak nasional yang sebesar 89,3 persen1.

Menurunnya penerimaan perpajakan ini disebabkan oleh kebijakan pemberian insentif fiskal untuk membantu wajib pajak dalam menghadapi Pandemi Covid-19.

b. Analisis Pajak Secara Umum

1) Analisis Perkembangan Pajak Pusat

Pendapatan perpajakan meliputi semua penerimaan negara yang terdiri atas pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional.

Tabel 3.2

Perkembangan Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta 2018-2020(dalam miliar rupiah) Jenis Pendapatan Perpajakan

2018 2019 2020

Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi A Pajak Dalam Negeri 5.887,15 5.132,07 6.414,89 5.446,79 5.424,71 4.996.84

1 Pajak Penghasilan 3.555,30 2.861,71 3.546,09 3.299,73 3.075,50 2.833,55

a. PPh Migas - 3,17 - 1,31 - 0,03

b. PPh Non Migas 3.555,30 2.858,54 3.546,09 3.298,42 3.075,50 2.833,52

c. PPh ditanggung pemerintah - - - - - -

2 Pajak Pertambahan Nilai 1.822,63 1.869,99 2.456,60 1.742,41 1.827,66 1.645,60

a. PPN 1.815,91 1.865,98 2.453,67 1.740,46 1.826,11 1.641,59

b. PPnBM 6,72 4.01 2,93 1,95 1,55 4,01

3 Pajak Bumi dan Bangunan 0,11 0,12 0,12 0,02 0,10 0,13

4 Cukai 403,17 322,76 313,03 321,70 436,95 446,46

5 Pajak Lainnya 105,94 77,49 99,05 82,93 84,59 71,10

a. Pajak Lainnya 105,94 76.21 99,05 78,61 75,85 66,42

b. Bunga Penagihan Pajak - 1,28 - 4,32 8,74 4,68

B Pajak Perdagangan Internasional 5,73 14,15 8,27 6,78 5,00 7,99

1 Bea Masuk 5,73 14,15 8,27 6,78 5,00 7,99

JUMLAH 5.892,88 5.146,22 6.423,16 5.453,57 5.429,71 5.004,83

Sumber: Kanwil DJP DIY, KPBC Yogyakarta, data SPAN (diolah) diakses tanggal 13-02-2021

40

Penerimaan pajak DIY periode Januari-Februari 2020 masih mengalami pertumbuhan yang positif, namun secara konsisten menunjukkan kontraksi yang semakin dalam mulai bulan Maret 2020 seiring dengan kondisi pertumbuhan ekonomi regional dan pemberian insentif fiskal dalam rangka menangani dampak Pandemi Covid-19. Pertumbuhan penerimaan netto per jenis pajak secara umum mengalami pertumbuhan negatif terutama untuk jenis pajak yang dikenai kebijakan pemberian insentif pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bahkan untuk Pajak Pertambahan Nilai penurunan penerimaan sudah terjadi sejak tahun 2019 sejak diberlakukan kebijakan restitusi yang dipercepat.

Tujuan dari kebijakan insentif fiskal adalah untuk membantu menggerakkan roda perekonomian misalnya untuk PPh 21 agar pekerja di sektor indutri pengelolaan dapat mempertahankan daya beli, PPh 22 bertujuan memberikan stimulus bagi industri untuk tetap mempertahankan laju impornya, PPh 25 bertujuan menstabilkan perekonomian dalam negeri dan peningkatan ekspor serta restitusi PPN membantu wajib pajak lebih optimal dalam manajemen kas dan membantu cash flow yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli masyarakat, namun di sisi lain kebijakan ini juga menggerus penerimaan perpajakan.

Terkait dengan efek dari kebijakan insentif perpajakan, pemerintah perlu mempertimbangkan kembali jenis insentif, kriteria yang dapat memanfaatkan, durasi insentif, dampak dan efektifas serta administrasinya mengingat korporasi membutuhkan insentif yang berbeda di setiap fase pemulihan.

2) Analisis Kebijakan Insentif Fiskal

Sebagai akibat terbatasnya aktivitas ekonomi di masa Pandemi Covid-1, hampir semua sektor usaha mengalami perlambatan usaha, yang berefek pada penerimaan pajak DIY, sehingga penerimaan pajak neto 2020 mengalami pertumbuhan negatif. Ketidakpastian kapan berakhirnya Pandemi Covid-19 mendorong pemerintah melakukan langkah antisipasi dengan mengeluarkan kebijakan insentif perpajakan, dan terakhir dengan memperpanjang pemberian insentif pajak hingga 30 Juni 2021 melalui PMK Nomor 110/PMK.03/2020 untuk membantu wajib pajak menghadapi dampak pandemi. Jumlah wajib pajak yang mendapatkan insentif perpajakan di DIY sebanyak 7.918 wajib pajak dengan total insentif Rp125,84 juta dengan sektor perdagangan mendominasi dalam jumlah penerima insentif yaitu 4.460 wajib pajak.

Tabel 3.3

Realisasi Insentif Perpajakan Wilayah D.I. YogyakartaTahun 2020 (dalam Rupiah)

No Jenis Fasilitas/Insentif/Sektor Jumlah Penerima

Insentif Jumlah Rupiah

1. PPh 21 Ditanggung Pemerintah 1.620 23.561.070.793 Realisasi penerimaan pajak DIY Tahun 2020 Rp4,99 triliun (92, 11 persen) lebih tinggi secara persentase dibanding 2019 karena penyesua ian target pajak sesuai PP 72/2020

41

No Jenis Fasilitas/Insentif/Sektor Jumlah Penerima

Insentif Jumlah Rupiah

1. Industri (213) 2. Jasa (671) 3. Perdagangan (736) 2. PPh 22 Impor Dibebaskan 51 8.295.634.477 1. Industri (22) 2. Jasa (1) 3. Perdagangan (28) 3. Pengurangan Angsuran PPh 25 977 59.943.325.436 1. Industri (125) 2. Jasa (289) 3. Perdagangan (563) 4. PPh Final PP 23 (UMKM) DTP 5.270 17.905.675.295 1. Industri (564) 2. Jasa (1.579) 3. Perdagangan (3.127) 5. Percepatan Restitusi PPN 21 16.140.974.623 1. Industri (6) 2. Jasa (9) 3. Perdagangan (6)

Sumber: Kanwil DJP DIY

Jika ditinjau dari jumlah (nominal) insentif yang diberikan, dari tabel 3.3. dapat dilihat bahwa insentif Pengurangan angsuran PPh 25 yang ditujukan untuk wajib pajak (WP) yang memiliki kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) dan perusahaan Kawasan Impor Tujuan Ekspor (KITE) atau perusahaan kawasan berikat menempati posisi teratas, yaitu sebesar Rp59,94 miliar. Pemanfaatan fasilitas ini membantu meringankan arus kas perusahaan karena beban pajak yang dibayar tiap bulan berkurang sebesar 50 persen sehingga pada akhirnya diharapkan dapat menggerakkan roda perekonomian.

Selanjutnya kebijakan penghapusan sementara PPh 21 bagi karyawan atau pekerja dengan pendapatan sampai dengan Rp 200 juta/tahun yang diberlakukan mulai April 2020 menempati peringkat kedua, diharapkan dapat mengantisipasi melemahnya daya beli pekerja dengan penghasilan tertentu. Insentif penghapusan PPh 21 ini menjadi angin segar bagi para pekerja di sektor perdagangan yang memiliki sebaran pekerja cukup luas di DIY.

Tabel 3.4

Realisasi Insentif Kepabeanan dan Cukai Wilayah D.I. YogyakartaTahun 2020 (dalam Rupiah)

No Jenis Fasilitas/Insentif Jumlah Perusahaan Penerima Fasilitas Devisa Ekspor ($ USD) Penangguhan Bea Masuk (IDR) Penangguhan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) 1. Kawasan Berikat 19 133.543.268,09 2.700.307.000 4.437.514.000

2. Kemudahan Impor Tujuan Ekspor

KITE) 14 6.173.474,78 1.236.000 4.352.000

Sumber: KPPBC Yogyakarta

Dalam rangka mendorong laju pemulihan ekonomi nasional (PEN), pemerintah mengeluarkan paket fasilitas kepabeanan yang mencakup pembebasan bea masuk, fasilitas tidak dipungut pajak pertambahan nilai hingga pengecualian pph

42

22 impor. Sebanyak 19 perusahaan di DIY telah mendapatkan fasilitas ijin kawasan berikat dan 12 perusahaan mendapatkan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor untuk Industri Kecil dan Menengah (KITE IKM) namun masih terdapat 5 perusahaan yang belum memanfaatkan fasilitas KITE tersebut dikarenakan belum adanya aktivitas ekspor.

Pemberian fasilitas kawasan berikat ini membantu perusahaan dalam mengatur

cash flow karena adanya penangguhan bea masuk dan Pajak Dalam Rangka

Impor (PDRI), menjadikan lebih efisien karena tidak dilakukan pemeriksaan fisik di TPS, menghemat biaya clearance, mengembangkan program keterkaitan antara perusahaan besar,menengah,kecil melalui kegiatan sub kontrak, membantu berkembangnya industri dan meningkatkan perekonomian daerah serta membuka lapangan pekerjaan baru sehingga menurunkan tingkat pengangguran.

Sedangkan untuk pemberian fasilitas KITE IKM akan memotong rantai pasok bahan baku IKM karena langsung didatangkan oleh pelaku industri di samping bea masuk dan pajak dalam rangka impor dalam hal ini PPN impor yang turut dibebaskan sehingga harga produk IKM semakin kompetitif karena terjadi penghematan ongkos bahan baku. Selain itu melalui fasilitas KITE, IKM juga diberikan kemudahan operasional berupa penyediaan modul sistem pencatatan barang secara gratis, pembebasan jaminan dan pemberian akses kepabeanan kepada IKM yang mendaftar.

Implementasi fasilitas kawasan berikat dan KITE ini bukannya tanpa kendala. Adanya peraturan dari Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya terkadang tidak sejalan dengan fasilitas kawasan berikat, selain itu belum semua perusahaan penerima fasilitas KITE memiliki IT Inventory sesuai dengan ketentuan Peraturan Dirjen Bea Cukai Nomor 09/BC/2014. IT Inventory dimaksudkan untuk menjaga akuntabilitas perusahaan terhadap fasilitas yang diberikan disamping agar perusahaan dapat memanfaatkan perkembangan teknologi IT dalam membangun bisnis perusahaan.

Berkaitan dengan kendala dalam implementasi insentif kepabeanan, perlu adanya sinkronisasi peraturan antara Bea Cukai dengan K/L lainnya sehingga berbagai fasilitas kawasan berikat dapat berjalan dengan optimal, sedangkan untuk penggunaan IT Inventory yang masih rendah pada perusahaan penerima KITE, asistensi pembinaan IT Inventory dapat dilaksanakan secara terus menerus untuk memastikan tidak adanya kendala mengingat IT Inventory membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

43

3.2.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi

Selain sektor perpajakan, pendapatan negara yang bersumber dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP) saat ini mulai diperhitungkan untuk dijadikan andalan untuk memaksimalkan penerimaan negara. Realisasi PNBP DIY tahun 2020 sebesar Rp2,25 triliun (111,39 persen). Dari sisi capaian penerimaan, persentase di tahun 2020 mengalami kenaikan 5,49 persen dibandingkan dengan realisasi penerimaan tahun 2019. Hal tersebut menunjukkan PNBP bisa dijadikan andalan penerimaan negara setelah penerimaan pajak.

a. Perkembangan PNBP menurut Jenis

Penyumbang PNBP terbesar berasal dari pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) yaitu sebesar 81,24 persen sedangkan PNBP lainnya sebesar 18,76 persen.

Tabel 3.5

Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat per Jenis PNBP Tingkat DIY Tahun 2019-2020 (dalam miliar rupiah)

Penerimaan PNBP Target Tahun 2019 Realisasi Tahun

2019 Target Tahun 2020 Realisasi Tahun 2020 PNBP Lainnya 387,27 543,33 265,41 423,53 BLU 1.199,25 1.596,99 1.761,47 1.834,30 Total 1.586,52 2.140,32 2.026,88 2.257,83

Sumber :Data SPAN diakses tanggal 13-02-2021

b. Perkembangan PNBP Fungsional

PNBP fungsional adalah penerimaan yang berasal dari hasil pungutan kementerian negara/lembaga atas jasa yang diberikan sehubungan dengan tugas pokok dan fungsinya. Tabel berikut ini menunjukkan perkembangan 10 besar penerimaan PNBP lainnya selama 2020 :

Tabel 3.6

Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat per Fungsional Kementerian Negara/ Lembaga Tingkat DIY, Tahun 2019-2020 (dalam miliar rupiah)

Penerimaan PNBP Target Tahun 2019 Realisasi Tahun 2019 Target Tahun 2020 Realisasi Tahun 2020

1 Pendapatan Uang Pendidikan 285,55 180,99 206,89 175,26

2 Pendapatan yang berasal dari BPJS Kesehatan pada fasilitas Kesehatan tingkat lanjutan

0 0 0 0

3 Pendapatan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) 0 60,41 0 51,86

4 Pendapatan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) 0 48,98 0 37,40

5 Pendapatan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB)) 0 32,51 0 28,64

6 Pendapatan Jasa Tenaga, Pekerjaan, Informasi, Pelatihan Dan Teknologi Sesuai Dengan Tugas Dan Fungsi Masing-Masing Kementerian Dan Pendapatan DJBC

0,69 0,30 0,51 0,32

7 Pendapatan Rumah Sakit dan Instansi Kesehatan Lainnya 0,42 0,59 1,42 0,06

8 Pendapatan Perpanjangan Surat Ijin Mengemudi 0 18,69 0 16,87

9 Pendapatan Surat Izin Mengemudi (SIM) 0 12,95 0 8,59

10 Pendapatan Sensor/Karantina, Pengawasan/Pemeriksaan 0 0 0 0

Sumber : Data SPAN diakses tanggal 13-02-2021

0 1 2 3 2018 2019 2020 1,46 1,58 2,02 1,75 2,14 2,25

Sumber:Data SPAN diakses 13/02/2021

Grafik III.1.

Perbandingan Target dan Realisasi PNBP di DIY, Tahun 2018-2020 (Triliun Rupiah)

44

Analisis Penerimaan PNBP

Untuk melihat kualitas perencanaan anggaran masing-masing K/L, dapat dilakukan dengan melihat deviasi antara target dan realisasi penerimaan PNBP per fungsional K/L. Terdapat 7 dari 10 jenis penerimaan PNBP fungsional terbesar memiliki nilai deviasi mencapai 100 persen, hal ini karena K/L tidak mencantumkan target penerimaan PNBP. Perubahan kodefikasi segmen akun pada bagan akun standar di bulan Januari 2018 menyebabkan 1 jenis penerimaan PNBP (pendapatan sensor/karantina) tidak memiliki penerimaan dikarenakan akun tersebut dibagi menjadi beberapa akun sesuai tugas dang fungsi masing-masing K/L.

Penerimaan PNBP yang paling signifikan di DIY pada tahun 2020, didominasi pendapatan uang pendidikan sebesar Rp175,26 miliar dengan sumbangan penerimaan terbesar berasal dari satker UPN Veteran Yogyakarta yaitu sebesar Rp129,35 (73,80 persen). .

Analisis Penerimaan Perpajakan dan PNBP

a. Analisis Kontribusi Pendapatan Pemerintah Terhadap Ekonomi Regional

Analisis ini untuk mengetahui kontribusi kemampuan fiskal pemerintah melalui penerimaan pusat/daerah terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Dari tabel 3.7 terlihat bahwa proporsi pendapatan pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di DIY terbesar berasal dari perpajakan (pusat) dengan tax rasio sebesar 3,54 persen dan tax rasio terbesar ada di Kota Yogyakarta (5,98 persen), walaupun semua daerah/kabupaten di wilayah DIY mengalami penurunan tax ratio karena efek kebijakan insentif fiskal, namun penerimaan pajak masih mendominasi dalam memberikan sumbangan terhadap pendapatan pemerintah. Mayoritas kabupaten/kota di DIY memiliki proporsi terbesar di sektor pajak, namun untuk Kabupaten Sleman, penerimaan PNBP memiliki proporsi sedikit di atas sektor pajak dikarenakan sumbangan yang relatif stabil untuk penerimaan PNBP khususnya biaya pendidikan. Hal ini dikarenakan untuk biaya pendidikan (SPP) di masa Pandemi Covid-19 tidak terlalu terpengaruh walaupun terdapat kebijakan penundaan pembayaran ataupun keringanan besaran SPP. Selain itu untuk Kabupaten Gunungkidul memiliki kontribusi PAD lebih besar daripada penerimaan perpajakan.

Tabel 3.7

Rasio Pendapatan Pemerintah terhadap PDRB Menurut Prov/ Kab/ Kota di DIY, Tahun 2020 (persen)

Daerah Perpajakan/PDRB PNBP/PDRB PAD/PDRB

D.I. Yogyakarta* 3,54 1,60 1,33

Kab. Bantul 2,58 0,24 1,82

Kab. Sleman 3,59 3,99 1,66

Kab. Gunungkidul 0,83 0,09 1,21

Deviasi tertinggi antara target dan realisasi penerimaan PNBP berasal dari pendapatan STNK Sedangkan penerimaan PNBP yang nilainya cukup signifikan di DIY berasal dari penerimaan pendidikan.

45

Daerah Perpajakan/PDRB PNBP/PDRB PAD/PDRB

Kab. Kulon Progo 2,27 0,14 2,12

Kota Yogyakarta 5,98 0,71 1,54

*Ket: Angka pendapatan perpajakan/PNBP/PAD yang dihitung adalah akumulasi pendapatan dalam APBD Provinsi dan seluruh APBD Kab/Kota;

Sumber : Data SPAN diakses tanggal 13-02-2021 , Provinsi DIY dalam angka tahun 2020

b. Analisis Kontribusi Populasi Terhadap Pendapatan Pemerintah

Analisis ini untuk mengetahui kontribusi penduduk terhadap pendapatan pusat dan daerah. Berdasarkan Tabel 2.7 dapat disimpulkan kontribusi terbesar penduduk DIY berupa pembayaran pajak (pusat) yaitu rata-rata Rp1,28 juta per penduduk. Penduduk Kota Yogyakarta memberikan kontribusi terbesar dalam membayar pajak yaitu Rp 5,01 juta dan PAD sebesar Rp 1,59 juta, namun untuk Kabupaten Sleman kontribusi pembayaran PNBP lebih besar dibandingkan pembayaran pajak. Efek kebijakan insentif fiskal yang menyebabkan penerimaan pajak menurun, di sisi lain kontribusi PNBP yang berasal dari penerimaan pendidikan yang berasal dari satker BLU Universitas Negeri Yogyakarta dan satker UPN Veteran, dimana kenaikan tersebut dikarenakan pada tahun 2020 ini satker BLU UNY ditunjuk menjadi pengelola dana penerimaan mahasiswa baru (SBMPTN) lingkup PTN satker BLU seluruh Indonesia.

Tabel 3.8

Rasio Pendapatan Pemerintah terhadap Populasi menurut Prov/ Kab/ Kota di DIY, Tahun 2020 (ribu rupiah)

Daerah Perpajakan/Populasi PNBP/Populasi PAD/Populasi

D.I. Yogyakarta* 1.289.146,67 581.572,61 483,39

Kab. Bantul 659.222,46 61.307,04 465,63

Kab. Sleman 1.386.316,64 1.541.710,89 639,5

Kab. Gunungkidul 208.540,62 23.131,35 304,52

Kab. Kulon Progo 628.277,02 38.257,33 585,44

Kota Yogyakarta 5.018.719,81 597.387,37 1.291.87

*Ket: Angka pendapatan perpajakan/PNBP/PAD yang dihitung adalah akumulasi pendapatan dalam APBD Provinisi dan seluruh APBD Kab/Kota

Sumber : Data SPAN diakses tanggal 13-02-2021 , Data Kependudukan dan Sosial BPS 3.2.3 Penerimaan Hibah

Hibah pemerintah yang selanjutnya disingkat Hibah adalah setiap penerimaan negara dalam bentuk devisa, devisa yang dirupiahkan, rupiah, barang, jasa dan/atau surat berharga yang diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali, yang berasal dari dalam negeri atau luar negeri. Penerimaan hibah uang dalam negeri tahun 2020 yang seluruhnya berasal dari Pemerintah Daerah wilayah DIY sebesar Rp 102,31 miliar sedangkan untuk realisasinya sebesar Rp 90 miliar untuk 107 satker (terlampir). Mayoritas penerima hibah di wilayah DIY adalah satker di bawah Kementerian Agama yaitu madrasah berupa hibah untuk kegiatan BOS, Kantor Kemenag untuk bidang yang membawahi kegiatan pondok pesantren serta satker Korem, KPU dan Bawaslu untuk kegiatan pemilihan Kepala Daerah.

46

Dokumen terkait