PEMANFAATAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
B. PEMANFAATAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK BAGI
2. Pemanfaatan GEM di Bidang Kedokteran
Di bidang kedokteran, banyak tek-nik dan peralatan yang memanfaatkan
gelombang elektromagnetik sebagai sarana diagnosis dan pengobatan. Di antara teknik diagnosa adalah peme-riksaan Sinar-X, CTScan, USG, dan MRI, sedangkan penggunaan GEM untuk pengobatan adalah radioterapi, yakni penggunaan sinar radioaktif (sinar γ) untuk mematikan sel kanker. Kelima teknik di atas akan dibahas secara se-derhana agar dapat diketahui manfa-atnya serta bahaya-tidaknya teknik ter-sebut.
a) Röntgen
Foto Röntgen telah banyak dikenal masyarakat untuk mengetahui adanya kelainan atau kerusakan tulang. Tek-nik tersebut menggunakan Sinar-X (di-sebut juga sinar Röntgen), yakni GEM dengan panjang gelombang sangat pendek, berukuran Ångstrom (Å) yang setara dengan 10-10 m atau 10-8 m. Si-nar-X berenergi besar, dapat menem-bus benda padat seperti daging, tetapi tidak dapat menembus tulang. Oleh karena itu Sinar-X dapat digunakan un-tuk mengambil foto tulang yang retak, patah, atau bergeser dari posisi sebe-narnya. Dari gambar tersebut dokter dapat mengambil tindakan pengobat-an atau pembedahpengobat-an dengpengobat-an tepat.
Dengan foto Röntgen juga dokter be-dah dapat mengevaluasi hasil pembe-dahan, sudahkah tulang tersambung secara benar.
Kini beberapa ahli urut atau pijat tulang juga memerlukan foto Rönt-gen untuk membantu penataan tulang yang cedera. Foto Röntgen dapat pula digunakan untuk mengetahui kelain-an atau kerusakkelain-an gigi, demikikelain-an juga posisi pertumbuhan gigi yang salah sehingga mengganggu saraf yang me-nyebabkan pusing atau pingsan. De-ngan pemeriksaan X-ray, dokter dapat melakukan tindakan yang tepat, baik pengobatan atau pencabutan gigi. Pe-meriksaan Sinar-X juga amat penting dalam diagnosis keberadaan batu gin-jal. Tindakan yang tepat dapat mengu-rangi penderitaan pasien dan memulih-kan kembali fungsi ginjal yang amat penting dalam proses penyaringan da-rah dan kesetimbangan cairan dalam tubuh. Meski banyak manfaatnya, Si-nar-X amat berbahaya karena dapat merusak jaringan tubuh. Karena itu,
penggunaannya cukup terbatas. Ope-rator peralatan Sinar-X pun harus meng-gunakan detektor untuk menjaga agar paparan Sinar-X tidak melampaui batas maksimum.
b) CTScan (Computed Tomography Scan)
CTScan adalah peralatan canggih untuk mengetahui kelainan pada ja-ringan tubuh seperti otak akibat ben-turan kepala atau terkena stroke. Per-alatan CTScan menggunakan impuls-impuls Sinar-X yang dipancarkan ke arah organ sasaran, di mana pantulan sinar tersebut dapat ditangkap dan di-olah dalam bentuk gambar pada layar komputer.
Suatu contoh, seseorang yang ter-kena stroke dapat mengalami lumpuh, tremor, susah bicara, atau hilang inga-tan (koma). Stroke dapat disebabkan
Gambar 5.7
Foto Röntgen tulang kaki dan gigi.
(Sumber: archive.kaskus.co.id; rioprima.blogspot.com)
oleh pecahnya pembuluh darah ke otak akibat tekanan darah tinggi atau penyumbatan akibat endapan koleste-rol atau lainnya. Dengan CTScan ke-dua sebab dapat dibedakan dan pem-berian tindakan dapat dilakukan de-ngan cepat dan tepat. Sebagaimana Sinar-X, pemeriksaan dengan CTScan juga menggunakan Sinar-X sehingga mesti digunakan secara terbatas.
c) USG (Ultrasonography)
Teknik Ultrasonografi (USG) ban-yak digunakan untuk mengetahui
ke-lainan dalam tubuh karena adanya massa padat atau cairan. USG meng-gunakan gelombang ultrasonik, suatu radiasi gelombang yang berenergi ren-dah sehingga tidak membahayakan.
Pantulan gelombang ultrasonik yang dipancarkan pada organ sasaran sep-erti usus atau rahim dapat direkam dan diolah di komputer dalam bentuk gambar.
Pemeriksaan USG dapat diguna-kan untuk mengetahui adanya massa tumor, kanker, atau kelainan lain da-lam usus atau rahim. USG juga dapat
Gambar 5.8
Alat CTScan dan hasil foto pendarahan otak. (Sumber: bismacenter.ning.com; klikharry.com)
Gambar 5.9
Diagram USG dan fungsinya. (Sumber: rahmawatifattah.blogspot.com; globalfmlombok.com)
digunakan untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar prostat yang menganggu kelancaran kencing. Berda-sarkan pemeriksaan itu dapat diambil tindakan tepat, yakni pengobatan atau pembedahan. Kini USG banyak digu-nakan untuk memeriksa ada-tidaknya kehamilan pada ibu. Tidak hanya itu, dengan USG pula dapat diketahui apa-kah janin berkelamin laki-laki atau pe-rempuan. Lebih penting lagi, USG da-pat mengetahui posisi janin sebelum dilahirkan sehingga dapat memperki-rakan kelahiran normal atau harus me-lalui operasi sesar. Pemeriksaan USG tidak membahayakan karena menggu-nakan gelombang ultrasonik yang tidak berbahaya. Dengan demikian, pemerik-saan dapat dilakukan berulang-ulang, tidak seperti pemeriksaan Röntgen atau CTScan.
d) MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI termasuk teknologi canggih untuk mengetahui adanya kelainan ja-ringan tubuh yang lunak, seperti otak, saraf, atau liver. Teknik MRI hakikatnya adalah spektroskopi resonansi magne-tik (Nuclear magnetic resonance atau NMR). GEM yang digunakan adalah gelombang radio yang tidak berbaha-ya karena berenergi rendah (panjang gelombang berukuran meter sampai kilometer). Tetapi, masyarakat akan
takut bila melihat nama nuclear dalam nama di atas karena terasosiasi de-ngan radiasi nuklir. Karena itu, nama tersebut diganti menjadi Magnetic Re-sonance Imaging yang terdengar lebih bersahabat. Pasien yang menjalani pe-meriksaan MRI akan merasakan nya suara dentuman yang tak lain ada-lah GEM pada daerah gelombang ra-dio. GEM tersebut oleh organ sasaran akan dipantulkan dan ditangkap serta diolah oleh komputer dalam bentuk gambar yang maknanya hanya diketa-hui oleh dokter ahli.
Gambar 5.10
Pemeriksaan MRI dan pasein gangguan otak.
(Sumber: pamujiandri.wordpress.com; tams-ori.
blogspot.com)
Rumitnya interpretasi data me-mungkinkan adanya perbedaan dalam hasil diagnosis oleh dokter. Untuk itu diperlukan studi banding terhadap pe-meriksaan CTScan. Keduanya akan sa-ling melengkapi (komplementer) untuk memperoleh diagnosis yang benar dan pengambilan tindakan yang tepat. Pe-meriksaan MRI tidak berbahaya sehing-ga dapat dilakukan berulang-ulang. Ke-cuali biayanya yang mahal, MRI amat penting untuk mendiagnosis seseorang yang dikhawatirkan menderita ganggu-an otak dganggu-an saraf, yganggu-ang ditganggu-andai sering pusing atau pingsan.
e) Radioterapi
Pengobatan dengan radiasi seper-ti sinar disebut radiasi terapi karena memang menggunakan zat radioaktif.
Sinar-γ yang dipancarkan oleh zat ra-dioaktif tersebut berenergi amat besar karena mempunyai panjang gelom-bang yang lebih pendek daripada Si-nar-X (Lihat spektrum GEM).
Sel kanker yang ganas dapat dima-tikan dengan ditembak menggunakan sinar-γ tersebut, sehingga tidak ber-kembang biak atau menyebar kema-na-mana. Biasanya, radioterapi dikom-binasikan dengan kemotrapi untuk mengkedapi sel kanker ganas, apalagi bila telah sampai pada stadium memba-hayakan jiwa. Kemotrapi (Chemothera-phy) berbeda dengan radioterapi.
Ke-motrapi menggunakan bahan kimia dengan jenis dan dosis tertentu dan telah menunjukkan keberhasilannya dalam menaklukkan penyakit leukimia atau kanker darah ganas. Teknik mana atau kombinasi teknik yang digunakan bergantung pada jenis dan keberadaan kanker serta stadiumnya.
3. Pemanfaatan GEM