SUMBER CAHAYA
E. PETIR, KILAT, DAN HALILINTAR Fenomena alam yang lazim disebut
petir, kilat, atau halilintar adalah peris-tiwa yang sangat sering kita saksikan, terutama pada musim hujan. Kilauan cahaya yang menyertainya merupakan wujud dahsyat yang mampu membuat ciut hati orang yang menyaksikannya.
Beberapa detik kemudian biasanya terdengar suara guruh yang mengge-legar. Tidak jarang, baik anak kecil maupun orang dewasa, merasa takut dan cemas saat menghadapi hal ini.
Gambar 3.39
Ikan Dragonfish hitam Pachysyomias microdon.
(Sumber: biolum.tumblr.com)
h) Aposematisme dan Burglar Alarm
Aposematisme adalah perilaku pe-ngorbanan bagian tubuh untuk meng-alihkan perhatian pemangsa. Perilaku demikian misalnya dilakukan oleh cicak yang memutuskan ekornya untuk me-ngalihkan perhatian pemangsa hanya pada ekor lepas yang bergerak liar, melupakan cicak yang lari menjauh.
Hewan yang memiliki kemampuan luminesen juga melakukan hal serupa dengan mengorbankan organ berlumi-nesennya. Cahaya yang dihasilkannya dapat bertahan hingga beberapa jam.
Aposematisme ini secara tidak sengaja mengandung unsur balas dendam. Bila pemangsa adalah hewan bertubuh transparan (kebanyakan hewan laut dalam bertubuh transparan), cahaya dari organ mangsa akan tetap
me-Prof. Dr. Ir. Tarcicius Haryono, M.Sc dalam pidato pengukuhannya se-bagai Guru Besar Ilmu Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (2013) mengakui bahwa petir da-pat menimbulkan bencana langsung atau tidak langsung. Bencana-bencana tersebut dapat berupa cedera atau meninggalnya manusia secara menge-rikan, hancurnya bangunan, atau gang-guan sistem tenaga listrik. Ia bisa pula menimbulkan kerusakan perangkat alat-alat elektronika, bagian pesawat terbang; membakar tangki-tangki gas atau minyak, membakar hutan, dan lain-lain.
Memperhatikan sifat fisik yang di-milikinya, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa petir, kilat, atau halilintar ter-masuk sumber cahaya. Kekuatan daya listrik yang mampu dilepaskannya sa-ngat besar. Dari studi dan pengamatan terindikasi kekuatan daya yang dilepas oleh satu sambaran petir konon mam-pu menyalakan sebuah bola lammam-pu 100 watt selama lebih dari 3 bulan. Sebuah sambaran kilat berukuran rata-rata di-perkirakan mengandung kekuatan lis-trik mencapai 20.000 ampere. Di Indo-nesia, sebagai salah satu negara de-ngan frekuensi sambaran petir sangat tinggi, kekuatan daya listrik dari petir bisa mencapai 300 K ampere. Namun, hingga saat ini belum banyak peneli-tian tentang petir secara luas dan
men-dalam di daerah tropis, khususnya In-donesia.
Meski sudah banyak studi dan ka-jian tentang sumber cahaya ini, sampai saat ini belum ditemukan cara yang te-pat, aman, dan menguntungkan untuk memanfaatkannya. Adalah tantangan bagi sains dan teknologi untuk meng-ungkapnya. Sesungguhnya Allah telah mengisyaratkan kedahsyatan fenome-na alam ini dalam firman-Nya,
ﯮ ﯭ ﯬ ﯫ ﯪ ﯩ ﯨ ﯴ ﯳ ﯲ ﯱ ﯰ ﯯ ﯹ ﯸ ﯷ ﯶ ﯵ ﰁ ﰀ ﯿ ﯾ ﯽ ﯼ ﯻ ﯺ ﰅ ﰄ ﰃ ﰂ
Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung. Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakeras siksaan-Nya. (ar-Ra‘d/13:
12–13)
Ketakutan dan harapan adalah kata kunci yang perlu direnungkan se-cara mendalam atas alasan-Nya meng-hadirkan petir di tengah kehidupan manusia. Berbeda dari Matahari yang menghadirkan kehangatan dan caha-ya, petir justru membawa suasana
kurang bersahabat; gelap dan hujan.
Wujudnya yang berupa pita panjang bercahaya putih juga menandakan be-tapa besar kekuatan yang menyertai-nya. Demikian dahsyat kekuatannya hingga ketika ia menyambar, seketika langit yang gelap menjadi terang ben-derang.
positif atau proton. Menurut batasan ilmu fisika, petir merupakan lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Dalam ayat yang lain Allah berfirman,
ﯾ ﯽ ﯼ ﯻ ﯺ ﯹ ﯸ ﯷ ﯶ ﯵ ﯴ ﰆ ﰅ ﰄ ﰃ ﰂ ﰁ ﰀ ﯿ ﰌ ﰋ ﰊ ﰉ ﰈ ﰇ ﰑ ﰐ ﰏ ﰎ ﰍ ﰘ ﰗ ﰖ ﰕﰔ ﰓ ﰒ ﰛ ﰚ ﰙ
Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, ke-mudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya ber-tumpuk-tumpuk, lalu eng-kau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpa-kan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.
(an-Nūr/24: 43)
Apa yang diisyaratkan oleh ayat di atas sudah sering kita saksikan. Awan mendung berarak, bermula dari yang kecil kemudian menyatu menjadi kum-pulan yang besar, konon berisi unsur-unsur pembentuk butiran hujan yang kaya akan zat hara penyubur bumi.
Gambar 3.40
Petir, sumber energi cahaya.
(Sumber: www.xatakaciencia.com)
Adalah menarik bagaimana pele-pasan energi yang begitu besar terjadi melalui tahapan rentetan kejadian ala-mi; dimulai dari kilauan cahaya, diikuti terpaan panas, lalu bunyi yang meng-gelegar. Udara yang terbelah akibat sambaran kilat berkecepatan 150.000 km/detik ini menimbulkan suara gu-ruh yang menggelegar. Itulah peris-tiwa alami yang terjadi akibat proses perpindahan muatan listrik negatif atau elektron menuju ke muatan listrik
Disertai kilauan kilat, hujan turun me-nyirami Bumi, membuat tanaman di Bumi tumbuh subur dan menghasil-kan. Semua hasilnya diperuntukkan bagi kehidupan dan kesejahteran ma-nusia. Dengan demikian, dugaan bah-wa petir ikut andil dalam
menghasil-kan molekul nitrogen yang dibutuhmenghasil-kan oleh tumbuh-tumbuhan benar adanya.
Tidak mungkinkah peristiwa ini men-jadi bagian yang sangat diharapkan terjadi di balik rahasia kedahsyatan tu-runnya petir, kilat, atau halilintar yang menakutkan? []
Matahari adalah bin-tang terdekat dari Bumi. Matahari atau dalam bahasa Arab disebut asy-syams di-kenal juga sebagai sumber cahaya ala-mi yang mempunyai fungsi sangat vi-tal bagi kehidupan di Bumi. Bola api raksasa dengan energi pancaran cayanya telah membuat Bumi tetap ha-ngat, udara dan air di Bumi bersirku-lasi, tumbuhan berfotosintesis, dan manfaat lainnya sebagai sumber ener-gi. Energi yang terkandung dalam ba-tu bara dan minyak bumi bahkan se-benarnya juga berasal dari Matahari.
Tanpa Matahari, sulit dibayangkan ba-gaimana kondisi kehidupan di Bumi.
A. CAHAYA MATAHARI