PEMBICARA UTAMA
MATERI DAN METODE Bahan dan Alat
3. Pemanggangan bakpia
Pemanggangan bakpia pada penelitian ini dilakukan dua macam yaitu dengan pemanggangan tertutup dengan oven gas api atas dan bawah sehingga pembalikan dilakukan pada plat setelah 20 menit pertama dan 10 menit setelah pembalikan dengan
suhu 150 OC dan pemanggangan terbuka dilakukan dengan pan dengan api sedang selama
15 menit pertama dan 10 menit setelah pembalikan dilakukan pembalikan secara manual.
Analisis Sampel
Sampel produk bakpia dianalisis dengan uji kesukaan produk bakpia secara
inderawi,tekstur dengan Hardness Tester, Warna dengan Lovibod Tintometer, dan Kadar air (AOAC, 1990).
57 HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisik Bakpia
Pengujian tekstur dilakukan pada produk bakpia matang, yaitu bakpia yang telah dipanggang dengan oven gas maupun dengan pemanggangan pan. Variasi optimasirasio labu kuning dan kacang hijau mempengaruhi tekstur dengan penggujian menggunakan Hardness Tester, produk bakpia yang dihasilkan memberikan nilai besarnya gaya untuk memecah bahan (kg) seperti yang tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Besarnya Gaya Untuk Memecah Bahan (kg) Jenis Penambahan Labu
kuning
Pemanggangan Tekstur (kg)
Kontrol kacang hijau Oven
Kontrol kacang hijau Pan
Labu kuning 100% Oven
Labu kuning 100% Pan
Labu kuning 80% Oven
Labu kuning 80% Pan
Labu kuning 60% Oven
Labu kuning 60% Pan
Labu kuning 40% Oven
Labu kuning 40% Pan
Labu kuning 20% Oven
Labu kuning 20% Pan
Keterangan : Notasi yang berbeda menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata P<0.05
Kontrol kacang hijau sebagai produk yang tidak ditambahkan dengan labu kuning, memiliki nilai gaya sebesar 4,75 untuk pemanggangan oven dan 6,5 untuk pemanggangan pan. Nilai ini dipengaruhi oleh kandungan protein yang terdapat pada kacang hijau sangat tinggi, sehingga terjadi proses denaturasi protein yang mempengaruhi tekstur produk. Nilai tekstur pada proses pemanggangan pan memiliki yang lebih tinggi dibandingkan pemanggangan oven karena oven menggunakan suhu tinggi 150 yang menyebabkan tingginya denaturasi protein sehingga tekstur bakpia menjadi lebih lunak. Hal yang sama juga terjadi pada optimasi penambahan labu kuning 100 % pemanggangan pan menghasilkan nilai tekstur tertinggi disebabkan denaturasi protein yang rendah sehingga menghasilkan nilai gaya untuk memecah bahan lebih tinggi sebesar 7,75 kg.
Setiap sampel yang digunakan diuji warna menggunakan alat Lovibond tintometer, secara visual umumnya bakpia berwarna kuning kecoklatan.Tingkat kecoklatan produk
58
tergantung pada banyaknya pada banyaknya labu kuning yang ditambahkan.Warna coklat pada produk dipengaruhi bahan dasar yang digunakan seperti padapenambahan labu kuning 100%, karena tingginya senyawa karoten pada labu kuning. Selain itu juga dipengaruhi oleh adanya reaksi Maillard pada produk selama proses perebusan dan pemanggangan terbuka/tertutup karena kandungan protein dan karbohidrat pada bahan. Hasil analisis warna pada produk bakpia yang dihasilkan ditunjukan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji Warna Produk Bakpia Jenis Penambahan Labu
kuning Pemanggangan Red Yellow Brightness
Kontrol kacang hijau Oven 1.9ab 5.57ab 0.1a
Kontrol kacang hijau Pan 2.7bc 6.7ab 0.1a
Labu kuning 100% Oven 4.1c 7.9ab 0.1a
Labu kuning 100% Pan 5d 8.2b 0.5ab
Labu kuning 80% Oven 2.6bc 6.2ab 0.1a
Labu kuning 80% Pan 4c 7.8ab 0.1a
Labu kuning 60% Oven 3.6bc 9.3b 0.8b
Labu kuning 60% Pan 3.2bc 7.3ab 0.1a
Labu kuning 40% Oven 3.4bc 6.6ab 0.1a
Labu kuning 40% Pan 2.6bc 5.5ab 0.1a
Labu kuning 20% Oven 2.1ab 5.6ab 0.1a
Labu kuning 20% Pan 1.3a 3.9b 0.5ab
Keterangan : Notasi yang berbeda menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata P<0.0.
Uji Kesukaan Produk Bakpia
Pada uji organoleptik terhadap produk bakpia yang dihasilkan, menggunakan skala penilaian 1 sampai 6, yaitu nilai 1 untuk “sangat amat suka”, nilai 2“sangat suka”, nilai 3“suka”, nilai 4“agak suka”, nilai 5“tidak suka”,nilai 6 “sangat tidak suka”. Data hasil uji kesukaan produk bakpia yang dihasilkan ditampilkan pada Tabel 3.
Nilai tertinggi tingkat kesukaan terhadap warna produk bakpia yang dihasilkan terdapat pada optimasi rasio labu kuning 100% pemanggangan oven dengan nilai sebesar 3.65, hal ini dikarenakan tingginya nilai warna kuning 7.9 (Tabel.2) yang disebabkan tingginya karoten pada labu kuning 100% tanpa penambahan kacang hijau. Pada parameter aroma yang paling terendah adalah control kacang hijau pemanggangan oven sebesa 2.82 yang menunjukkan bahwa control kacang hijau menggunakan suhu tinggi oven 150 menghasilkan flavor khas kacang hijau yang paling disukai.
59 Tabel 3. Hasil uji kesukaan produk bakpia
Jenis Penambahan
Labu kuning Pemanggangan Warna Aroma Rasa Tekstur Keseluruhan
Kontrol kacang hijau Oven 2.82a 3.20ab 3.00ab 3.10ab 3.10abc
Kontrol kacang hijau Pan 3.32abcd 3.27ab 3.10ab 3.30abcd 3.20abc
Labu kuning 100% Oven 3.65d 3.47b 3.90ef 4.40e 3.97e
Labu kuning 100% Pan 3.50cd 3.40b 4.10f 3.70d 3.90d
Labu kuning 80% Oven 3.10abc 3.37ab 3.70def 3.60cd 3.50cd
Labu kuning 80% Pan 3.52cd 3.30ab 3.60cde 4.20e 3.55cd
Labu kuning 60% Oven 3.30abcd 3.20ab 2.80a 3.10abc 2.90a
Labu kuning 60% Pan 3.40bcd 2.90a 3.20abc 3.50abcd 3.30abc
Labu kuning 40% Oven 2.85a 3.10ab 3.00ab 3.55bcd 3.10abc
Labu kuning 40% Pan 3.20abcd 3.20ab 3.30bcd 3.50abcd 3.40bc
Labu kuning 20% Oven 2.87a 3.30ab 2.90a 3.30abcd 3.00ab
Labu kuning 20% Pan 2.90bc 2.90a 3.10ab 3.00a 3.05ab
Keterangan : Notasi yang berbeda menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata P<0.05
Pada parameter rasa yang paling disukai adalah optimasi labu kuning 60% pemanggangan oven dengan nilai sebesar 2.80, hal ini dikarenakan labu kuning mengandung berbagi jenis vitamin teruma pro-vitamin A dalam bentuk beta-karoten dibantu dengan 40% kacang hijau yang mengandung protein tinggi. Hal yang sama juga ditunjukkan pada produk bakpia yang paling disukai oleh panelis secara keseluruhan yaitu optimasi labu kuning 60 : 40 kacang hijau dengan nilai sebesar 2.90 dan kadar air sebesar 29,3 %. Nilai tersebut berdasarkan hasil pertimabangan semua jenis parameter mutu yang ada meliputi warna, aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa produk bakpia dengan optimasi rasio
perbandingan labu kuning dan kacang hijau (0:100, 20:80, 40:60, 60:40, 80 20, 100:0) dari pemasakan kumbu dan pembentukan bakpia dengan kulit pelapis hingga dipanggang dengan oven gas (tertutup) dan pemanggangan pan (terbuka) menghasilkan produk bakpia yang dapat diterima panelis. Optimasi rasio labu kuning 60 : 40 kacang hijau merupakan produk bakpia bernilai gizi cukup tinggi yang paling disukai panelis dari segi rasa dan keseluruhan dengan menggunakan jenis perlakuan pemanggangan tertutup oven gas suhu tinggi 150 .
60
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1972, Daftar Komposisi Bahan Makanan, Penerbit Bhratara, Jakarta.
AOAC. 1990.Official Methods of Analysis.Association of Official. Analytical Chemist Inc. Virginia.
Hebdrasty, H.K. 2003.Tepung Labu Kuning Pembuatan dan Pemanfaatannya.Penerbit Kanisius.Yogyakarta.
Rahman, T dan Agustina, W, 2010.Pengaruh Konsentrasi Dan Jenis Gula Terhadap Sifat Fisik dan Kimia Susu Kental Manis Kacang Hijau. Makalah Seminar Teknik Kimia - UPB. Bandung.
Soedarya,M.P, A Prahasta, 2006. Agribisnis Labu kuning, CV Pustaka Grafika. Jawa Barat.
61 T I-7
KADAR β-KAROTEN DAN PROKSIMAT BAGIAN-BAGIAN RIMPANG KUNIR PUTIH (Curcuma mangga Val.) SEGAR
Ratih Fajarwati1)*, Dwiyati Pujimulyani2), Astuti Setyowati2)
1,2,3) Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, JL. Wates Km 10 Yogyakarta 55753
*E-mail : [email protected] ABSTRAK
Kunir putih (Curcuma mangga Val.) merupakan tanaman sumber antioksidan yang memiliki rimpang berbentuk bulat, mudah dipatahkan dan percabangan rimpangnya banyak.Zat yang terkandung di dalam kunir putih salah satunya adalah β-karoten dan proksimat. Kadar β-karoten pada kunir putih segar yang sudah diteliti sebelumnya adalah 33,31μg.Kunir putih dengan percabangan rimpang yang banyak diduga memiliki perbedaan zat yang terkandung di setiap bagian rimpang yaitu rimpang utama, rimpang cabang 1 dan rimpang cabang 2. Bagian rimpang tersebut belum pernah diteliti, sehinggatujuan dari penelitian adalah mengetahui kadar β-karoten dan proksimat kunir putih (Curcuma mangga Val.) segar variasi bagian-bagian rimpang. Pada penelitian ini digunakan kunir putih segar dengan variasi bagian rimpang yaitu rimpang utama, rimpang cabang 1 dan rimpang cabang 2. Kunir putih yang dihasilkan dianalisis kadarβ-karoten dan proksimat meliputi uji kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein dan kadar karbohidrat.Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar β-karoten kunir putih segar dari tertinggi yaitu rimpang cabang kedua 3,85 mg/g, rimpang cabang kesatu 2,88 mg/g dan rimpang utama 2,77 mg/g. Kadar air kunir putih segar yang telah dikeringkan variasi bagian-bagian rimpang dari tertinggi yaitu rimpang cabang kedua 7,79%, rimpang cabang kesatu 6,77%, dan rimpang utama 6.62%. Kadar abu kunir putih segar dari yang tertinggi yaitu rimpang cabang kedua 3,83%, rimpang cabang kesatu 2,43% dan rimpang utama 1,88%. Kadar protein kunir putih segar dari yang tertinggi yaitu rimpang cabang kedua 9,28%, rimpang cabang kesatu 8,14% dan rimpang utama 7,74%. Kadar lemak kunir putih segar dari yang tertinggi yaitu rimpang cabang kedua 7,40%, rimpang cabang kesatu 6,21% dan rimpang utama 4,90%. Kadar karbohidrat kunir putih segar dari yang tertinggi yaitu rimpang utama 85,60%, rimpang cabang kesatu 83,29% dan rimpang cabang kedua 79,41%.
Kata kunci: Kunir Putih Segar, Rimpang, β-Karoten, Analisis Proksimat. PENDAHULUAN
Kunir putih dengan nama latin Curcuma mangga Val. termasuk family Zingiberaceae merupakan tanaman yang mempunyai umbi batang (Backer dan
Backehuizen, 1968). Kunir putih merupakan salah satu bahan yang memiliki potensi besar
sebagai sumber antioksidan alami. Kunir putih sangat potensial untuk dikembangkan, karena kunir putih mengandung senyawa kurkuminoid dan senyawa polifenol yang
62
menyebabkan bahan tersebut mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi (Pujimulyani
dan Wazyka,2010).
Rimpang kunir putih dapat dimanfaatkan sebagai lalapan yang dapat dimakan bersama nasi dan dapat diolah menjadi makanan maupun minuman fungsional. Kunir putih selain sebagai makanan maupun minuman juga dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional seperti obat sakit perut, penguat lambung, penurun panas badan dan dapat mengobati penyakit kulit seperti bintik-bintik merah karena gatal. Tanaman ini juga dapat digunakan untuk mengobati luka memar dan keseleo (Darwis et al.,1991).
Rimpang kunir putih juga mengandung β-karoten dan kadar proksimat seperti kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar protein. Kadar β-karoten kunir putih dari penelitian yang dilakukan oleh Pujimulyani (2013) diketahui bahwa kadar β-karoten kunir putih segar rata-rata sebesar 33,31μg, sedangkan kadar β-β-karoten kunir yang diblanching selama 2,5 menit 29,29 μg, 5 menit sebesar 28,51 μg; 7,5 menit sebesar 23,90 μg; dan 10 menit sebesar 19,56 μg. Kadar proksimat kunir putih menurut Lukman (1984) untuk kadar air 13,10 g; kadar abu 1,3 g; kadar lemak 5,10 g; kadar karbohidrat 69,40 g dan kadar protein 6,30 g.
Rimpang kunir putih umumnya digunakan dengan cara direbus atau diseduh. Namun, cara ini kurang efektif dan efisien sehingga perlu pengembangan ke bentuk modern agar lebih praktis, seperti dibuat dalam bentuk bubuk dan dikemas dalam sediaan kapsul yang mengandung ekstrak rimpang kunir putih. Dalam penelitian selama ini juga digunakan rimpang kunir putih secara keseluruhan dengan tidak disortir sesuai bagian rimpangnya. Artinya antara bagian rimpang utama dengan anakan selama ini dicampur, baik dalam proses pengolahan menjadi produk pangan fungsional, sebagai obat dan bubuk kunir putih sebagai bahan penelitian. Berdasarkan hal tersebut dan kandungan yang terdapat pada kunir putih maka perlu diteliti kandungan β-karoten, kandungan proksimat dan hasil randemen bubuk kunir putih pada variasi bagian-bagian rimpang, khususnya pada kunir putih segar. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui kadar dan komponen-komponen rimpang kunir putih secara khusus pada kadar β-karoten, proksimat dan randemen bubuk kunir putih.