ISL Beras Uwi Ungu
VALIDASI METODE ANALISIS DAN PENENTUAN KADAR FORMALIN PADA DAGING AYAM DI SLEMAN D.I.YOGYAKARTA DENGAN
SPEKTROFOTOMETER UV-Vis
Mey Catur Alfiani1)*, Dwiyati Pujimulyani2), Agus Slamet3)
1,2,3) Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Jl Wates Km 10 Yogyakarta 55753
*E-mail : [email protected] ABSTRAK
Formalin merupakan larutan tidak berwarna yang memiliki bau sangat menusuk dan berkarakter sebagai stabilisator atau desinfektan. Keamanan pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pangan yang aman serta bergizi penting peranannya bagi kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode analisis formalin dalam daging ayam dengan alat spektrofotometer UV-Vis . Selain itu bertujuan untuk mengetahui kadar formalin dalam daging ayam yang beredar di pasar tradisional maupun supermarket di Sleman D.I.Yogyakarta. Validasi metode analisis dilakukan dengan menentukan linieritas, batas deteksi dan batas kuantifikasi, presisi, dan akurasi. Sampel dilakukan preparasi dengan asam ortho fosfat dan destilat ditangkap menggunakan akuadest. Larutan sampel hasil destilasi direaksikan dengan pereaksi Nash yang kemudiandideteksi denganspektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 410 nm. Hasil validasi metode menunjukkan kurva kalibrasi linier pada konsentrasi 0,5-16
µg/ml dengan nilai koefisien determinasi (R2) 0,999490; batas deteksi 0,0399 µg/g ; batas
kuantifikasi 0,1196 µg/g ; nilai RSD presisi keterulangan 1,10% ; nilai RSD presisi antara 1,24% ; dan perolehan kembali 94,82%. Hasil penetapan kadar formalin dalam daging ayam berkisar antara 0,0753 – 0,1486 µg/g.
Kata kunci : Validasi, Formalin, Desinfektan, Spektrofotometer.
PENDAHULUAN
Formaldehida merupakan suatu senyawa organik berupa gas yang masuk ke dalam gugus fungsionalaldehida. Dalam wujud gas,formaldehi da memilikititik leleh-92°C dan titik didih-19°C(Windholz,1976).Formalin merupakan larutan formaldehida sebagai stabilisator dengan kadar tidak kurang dari 36% dan tidak lebih dari 38% (Anonim,1979). Berdasarkan standar Eropa, kandungan formaldehida yang masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1ppm setara1mg/l).Sementara itu,berdasarkan hasil uji klinis, dosistoleransi tubuh manusia pada pemakaian secara terus-menerus (Recommended Dietary DailyAllowances/RDDA) untuk formalin sebesar 0,2mg/kgBB.
Keamanan pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pangan yang aman serta bergizi penting peranannya bagi kesehatan masyarakat. Daging
170
ayam adalah sumber protein yang baik dan murah dibandingkan dengan sumber protein daging lainnya. Konsumsi daging ayam lebih tinggi dibandingkan daging yang lainnya, namun demikian daging ayam tidak tahan lama atau umur simpannya pendek. Seringkali pedagang menambahkan pengawet yang dilarang untuk memperpanjang umur simpan daging ayam. Dari uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi uji metode formalin dalam daging ayam sehingga metode yang digunakan memiliki jaminan keakuratan hasil dan melakukan aplikasi pengukuran formalin dalam daging ayam yang beredar di daerah kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta.
METODE PENELITIAN Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam (berasal dari berbagai pasar dan supermarket di sekitar Yogyakarta), senyawa standar formaldehyde solution 37% (Merck, Jerman),asam ortho fosfat (Merck, Jerman), amonium asetat (Merck, Jerman), asam asetat 100% (Merck, Jerman), asetil aseton (Merck, Jerman), dan akuades.Reagen yang digunakan merupakan reagen pro analisis grade.
Alat
Alat yang digunakan adalah Spektrofotometri UV-Vis (Shimadzu, Jepang), neraca analitik (Mettler, USA) dengan kepekaan 0,1 mg, heating mantle (Favorit,USA), satu set alat destilasi, delivery pippette, dan alat-alat gelas yang lazim digunakan dalam analisis kimia.
Cara Penelitian
Pembuatan Larutan Standar
Larutan induk formalin 1000 μg/ml dibuat dengan mengambil 0,2703 g larutan formalin 37%, dimasukkan ke labu takar 100 ml lalu ditambahkan akuadest hingga tanda tera.Larutan kerja formalin dengan konsentrasi masing-masing 0 ; 0,5 ; 1 ; 2 ; 4 ; 6 ; 8 ; 10 ; dan 16 μg/ml ditambah 4 ml reagen Nash lalu ditambahkan akuadest hingga tanda tera
(volume 10ml). Inkubasi 37oC selama 20 menit.
Destilasi Sampel
Sampel daging ayam yang telah dilumatkan terlebih dahulu ditimbang seksama kurang lebih 10 g.Sampel dimasukkan ke dalam Labu Godog 500 ml ditambah dengan 10 ml asam ortho fosfat dan 250 ml akuadest. Campuran selanjutnya dilakukan destilasi hingga volume
171
distilat kurang dari 100 ml dengan penangkap distilat 25 ml akuadest. Distilat yang dihasilkan ditepatkan hingga 100 ml dengan akuadest.
Pengukuran Formalin dengan Spektrofotometer UV-Vis Pembuatan pereaksi Nash
Pereaksi Nash dibuat dengan melarutkan 150 g serbuk amonium asetat dalam 800 ml akuades menggunakan labu ukur 1000 ml. Kemudian tambahkan 3 ml asam asetat 100% dan 2 ml asetyl aseton, kocok dan tambahkan akuadest sampai tanda batas. Diamkan larutan selama 12 jam dan disimpan dalam botol coklat.
Pengukuran dengan spektrofotometer UV-Vis
Sebanyak 5,0 ml larutan sampel dimasukkan dalam labu ukur 10 ml kemudian ditambah dengan 4 ml Reagen Nash. Larutan ditambahkan akuadest hingga volume tepat
10 ml.Selanjutnya dilakukan inkubasi selama 20 menit pada suhu 37oC. Kemudian
larutansampel tersebut dilakukan pembacaan dengan instrumen spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 410 nm.
Validasi Metode Analisis
Validasi metode dilakukan dengan menetapkan parameter-parameter validitas meliputi: linieritas dan rentang linier, batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ), presisi dan akurasi sesuai International Conference on Harmonization (1994).
Linieritas dan rentang linier
Larutan kerja dengan berbagai kadar yang telah disiapkan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV-Vis. Masing-masing pengukuran direplikasi tiga kali. Nilai absorbansi yang diperoleh dihitung reratanya dan diregresikan terhadap konsentrasi larutan untuk memperoleh persamaan kurva kalibrasi y = a + bx dan nilai koefisien korelasi (r) serta nilai koefisien determinasi (R²).
Sensitivitas (Penentuan LOD dan LOQ)
Sebanyak 10 sampel blanko diukur absorbansinya dengan Spektrofotometer UV Vispada λ 410 nm. Data absorbansi yang diperoleh kemudian dihitung nilai simpangan bakunya.
Ketelitian (precision)
Penetapan keterulangan (repeatability) metode analisis dilakukan dengan menyiapkan 10 matriks, kemudian di-spiking dengan senyawa standar formalin dengan kadar masing-masing 3,0μg/g. Sampel ini kemudian diberi perlakuan sesuai prosedur kerja yang telah dijelaskan sebelumnya dan diukur responnya dengan Spektrofotometer UV-Vis. Kadar
172
terukur dihitung menggunakan persamaan kurva kalibrasi, kemudian dihitung rerata dan simpangan bakunya. Prosedur ini dilakukan sebanyak 3 kali pada 3 hari yang berbeda untuk menentukan presisi antara (intermediate precision).
Ketepatan (accuracy)
Sebanyak 12 matriks sampel disiapkan dengan ketentuan berikut:
a) Tiga matriks sampel di-spiking dengan formalin 2 μg/ml,
b) Tiga matriks sampel di-spiking dengan formalin 4 μg/ml,
c) Tiga matriks sampel di-spiking dengan formalin 6 μg/ml, dan
d) Tiga matriks sampel tanpa spiking.
HASIL DAN PEMBAHASAN