• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANTAUAN PELAKSANAAN PENGENAAN BEA METERAI

Dalam dokumen PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 99-109)

PENEGAKAN HUKUM BEA METERAI

Bea meterai merupakan pajak yang menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang memberikan kontribusi penerimaan yang cukup besar. Hal ini menuntut fiskus sebagai pejabat negara yang diberi tugas dan kewenangan untuk menatausahakan bea meterai harus dapat memasyarakatkan, memantau, dan mengawasi agar bea meterai dapat dilaksanakan secara benar oleh masyarakat. Untuk pengamanan dan kelancaran pelaksanaan ketentuan tentang bea meterai, fiskus perlu memerhatikan dan melakukan beberapa tindakan di antaranya :

A. PEMANTAUAN PELAKSANAAN PENGENAAN BEA METERAI.

Langkah-langkah pemantauan diperlukan dalam rangka menjamin keamanan penerimaan negara berkaitan dengan pelaksanaan pemenuhan kewajiban bea meterai oleh masyarakat. Pemantauan dapat berupa:

1. Melakukan pengamatan di tempat-tempat penjualan benda meterai untuk memantau kemungkinan beredarnya benda meterai palsu;

2. Secara cermat mengawasi penggunaan mesin teraan bea meterai;

3. Segera mengadakan penyuluhan terhadap pengusaha hotel, rumah

makan, pedagang (partai dan eceran), pabrikan, dan pengusaha lainnya yang membuat nota, faktur yang juga berfungsi sebagai tanda terima uang bahwa mereka harus membubuhkan meterai tempel pada nota / faktur tersebut sesuai dengan UU Bea Meterai; 4. Memantau pemeteraian cek, bilyet giro, surat yang menyatakan

pembukuan uang dan penyimpanan uang dalam rekening di bank, serta surat yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank, apakah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

B. PEMBENTUKAN TIM VERIFIKASI PENJUALAN BENDA METERAI

Untuk memastikan bahwa penjualan dan pelaporan penjualan benda meterai dilakukan secara benar, fiskus memiliki tugas untuk memantau pelaksanaan penjua1an benda meterai. Guna melaksanakan tugas ini, Direktur Jenderal Pajak membentuk tim verifikasi penjualan benda meterai dengan pertimbangan bahwa untuk ketertiban dan kelancaran pelaksanaan verifikasi penjualan benda meterai, perlu dibentuk tim yang bertugas melaksanakan penelitian, penatausahaan, dan pelaporan terhadap hasil penjualan benda meterai yang telah dilakukan oleh PT Pos Indonesia (Persero). Hal ini dituangkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep565/PJ.53/1998 tentang Pembentukan Tim Verifikasi Penjualan Benda Meterai yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 1998 dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Berdasarkan keputusan ini, Direktur Jenderal Pajak membentuk tim verifikasi penjualan benda meterai yang anggota-anggotanya terdiri dari unsur Direktorat Jenderal Pajak dan PT Pos Indonesia (Persero). Unsur Direktorat Jenderal Pajak beranggotakan Kepala Subdit PPN Jasa dan Pajak Tidak Langsung Lainnya (PTLL), Kepala Bagian Keuangan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kepala Seksi Pajak Tidak Langsung Lainnya, Kasubag Pembukuan dan Verifikasi, Kaur Pengadaan Bagian Perlengkapan, dan Pelaksana Subdit PPN Jasa dan ITLL. Unsur PT Pos Indonesia (Persero) terdiri dari Manajer Keagenan, Manajer Verifikasi, Manajer Prangko, Manajer Tarif & HI', Manajer Pandapos, dan Asman Pandapos.

Tim verifikasi penjualan benda meterai mempunyai tugas-tugas antara lain: 1. Melaksanakan penelitian, baik secara administrasi maupun fisik atas

hasil penjualan benda meterai dan persediaan benda meterai;

2. Melakukan pencatatan, penatausahaan, dan pelaporan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas pada huruf a; dan

3. Melaporkan hasil pelaksanaan verifikasi penjualan dan persediaan benda meterai kepada Direktur Jenderal Pajak.

C. PEMBERIAN IZIN DAN PENGAWASAN PENGGUNAAN MESIN

TERAAN BEA METERAI

Pemberian izin penggunaan mesin teraan bea meterai dilakukan atas dasar pertimbangan kemudahan dan pemberian pelayanan yang secepatya kepada para pemakai mesin teraan bea meterai. Dan memberikan jaminan keamanan yang memadai bagi penerimaan negara. Mesin teraan bea meterai merupakan mesin buatan manusia yang mungkin saja mengalami kerusakan dalam pemakaiannya. Apabila terjadi kerusakan salah satu implikasi yang perlu diperhatikan adalah status deposit pembayaran dimuka untuk mendapatkan izin pemakaian mesin tersebut, apakah masih dapat digunakan, dianggap hangus, atau dapat diminta kembali oleh pemilik / atau pemegang izin mengunakan mesin teraan bea meterai.

Pada dasarnya apabila mesin teraan bea meterai rusak masih menyimpan deposit atau sisa deposit, maka sisa deposit tersebut dapat dipakai untuk pengisian deposit yang akan dilaksanakan kemudian, setelah mesin teraan bea meterai diperbaiki dan dapat dipergunakan dengan semestinya. Dengan demikian, tidak dilakukan pengembalian atas pembayaran bea meterai yang telah disetor.

Untuk setiap pembukaan dan pemasangan segel mesin teraan bea meterai baik untuk keperluan perbaikan mesin teraan bea meterai yang bersangkutan maupun untuk pengisian deposit, dibuat Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel dan dicatat pada buku register pengisian deposit mesin teraan bea meterai. Setiap pengisian deposit mesin teraan bea meterai dicatat juga dalam Kartu Pengawasan Pengisian Deposit Mesin Teraan bea meterai. Untuk pengawasan, terhadap pemakai mesin teraan bea meterai yang ada dilakukan pendataan sehingga dapat diketahui jumlah pemakai, jumlah mesin teraan bea meterai, merek mesin teraan, dan ketertiban pengiriman laporan pemakaian mesin teraan.

Terhadap para pemilik / pemegang izin mesin teraan bea meterai perlu dilakukan pengawasan agar mereka tidak menyalahgunakan izin yang diberikan kepadanya. Dalam rangka meningkatkan pengawasan terhadap para pemilik pemegang izin menggunakan mesin teraan bea meterai, fiskus

harus mengefektifkan sarana administrasi pengawasan yang sudah ada untuk menghindari penyimpangan yang mungkin terjadi dalam penggunaan mesin teraan bea meterai. Berkaitan dengan pengawasan tersebut ada beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh fiskus, sebagaimana di bawah ini :

1. Fiskus harus mengawasi kepatuhan para pemegang izin pemilik

mesin teraan bea meterai dalam memenuhi kewajiban

menyampaikan laporan bulanan. Dalam hal pemegang lzin tidak mematuhi kewajibannya, fiskus harus segera mengirim surat peringatan dan dilanjutkan dengan mengirim surat teguran sesuai dengan ketentuan yang belaku. Apabila peringatan dan teguran tidak diindahkan, fiskus segera melakukan penyegelan terhadap mesin teraan bea meterai milik pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai tersebut.

2. Izin penggunaan mesin teraan bea meterai diberikan untuk jangka waktu dua tahun untuk mesin teraan manual dan empat tahun utuk mesin teraan digital, sebagaimana ditentukan dalam surat keputusan pemberian izinnya, dan dapat diperpanjang lagi. Apabila batas waktu dua tahun/empat tahun hampir habis, atau angka depositnya sudah mendekati angka pembilang akhir, fiskus mengingatkan kepada yang bersangkutan untuk menyetor kembali dan mengajukan permohonan perpanjangan izinnya.

3. Apabila izin tidak akan diperpanjang, fiskus segera melakukan penyegelan dan pencabutan izin pemakaiannva.

4. Apabila deposit yang telah dibayarkan oleh pemegang Izin pemilik mesin teraan bea meterai hampir habis sebelum jangka waktu dua tahun berdasarkan laporan bulanannya, fiskus harus menganjurkan kepadanya untuk segera menyetor kembali dalam waktu tujuh hari sebelum depositnya habis dan selanjutnya dilakukan pembukaan segel dan pengisian deposit yang baru dengan dibuatkan Berita Acara Pembukaan Segel Mesin teraan bea meterai serta memperpanjang / memperbaharui izin pemakaiannya.

5. Terhadap pemegang izin pemilik mesin teraan bea meterai yang melaporkan bahwa mesin teraan bea meterainya rusak, fiskus harus

melakukan pemeriksaan untuk memastikan kebenaran laporan

tersebut. Pemeriksaan dilakukan dengan cara melakukan

pembukaan segel mesin teraan untuk mengetahui jumlah deposit yang masih tersedia, untuk selanjutnya dikompensasikan untuk pengisian deposit mesin teraan bea meterai yang baru, atau terus digunakan hingga habis setelah mesin yang rusak tersebut diperbaiki.

6. Untuk menjaga kerapihan dokumen pemegang izin mesin teraan meterai, fiskus perlu membuat berkas khusus bagi setiap pemilik / pemegang izin mesin teraan bea meterai, yang menampung dokumen-dokumen berupa: arsip Surat Keputusan Pemberian Izin, surat setoran deposit, laporan bulanan, arsip surat peringatan, arsip surat teguran, arsip Surat Keputusan Perpanjangan Izin, arsip Berita Acara Pemasangan Segel, arsip Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel, serta surat-surat lain yang berkenaan dengan pemilik mesin teraan

D. PEMANTAUAN PROSES PENUKARAN BENDA METERAI

Benda meterai yang dapat digunakan sebagai sarana perunasan bea meterai selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini dapat terjadi karena adanya perubahan tarif bea meterai terutang yang diatur dengan peraturan pemerintah, untuk menghindari upaya pemalsuan dari pihak yang tidak bertanggung jawab, maupun karena alasan teknis perubahan angka tahun dari abad ke-20 menjadi abad ke-21. Umumnya apabila dilakukan perubahan desain benda meterai tidak begitu saja membuat benda meterai desain yang lama (sebelumnya) menjadi tidak berlaku pada saat keputusan Menteri Keuangan tentang desain benda meterai yang baru dikeluarkan atau diberlakukan. Selalu ada jangka waktu pemberlakuan benda meterai yang lama agar tidak terjadi kekosongan benda meterai di masyarakat. Selanjutnya apabila masa ·berlaku benda meterai desain lama telah terlampaui benda meterai desain lama masih dapat ditukarkan dengan benda meterai desain yang baru dengan nilai tukar yang sarna sampai jangka waktu tertentu. Penukaran dapat dilakukan pada kantor-kantor pos di seluruh Indonesia.

Dalam praktik masih sering dijumpai Kantor pos melakukan penjualan benda meterai desain lama walaupun masa berlaku benda meterai tersebut telah berlalu. Hal ini tentunya tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, fiskus harus senantiasa memantau penjualan benda meterai dan meminta kantor pos untuk segera menghentikan penjualan tersebut Apabila benda meterai desain lama temyata masih ada di kantor-kantor pos, fiskus harus meminta IT Pos Indonesia (Persero) untuk segera menariknya ke gudang Kantor Pusat IT Pos Indonesia (Persero) di Bandung.

Penukaran benda meterai desain lama dengan benda meterai desain yang baru dapat dilakukan apabila masa berlaku benda meterai desain lama sebagai sarana pelunasan bea meterai telah dilampaui. Apabila jangka waktu tersebut masih belum dilampaui, benda meterai desain lama tidak dapat ditukarkan dengan desain yang baru karena pada dasamya dalam jangka waktu tersebut benda meterai desain lama masih dinyatakan sebagai sarana pelunasan bea meterai. Apabila sampai batas waktu terakhir penukaran benda meterai desain lama terlampaui dan temyata masyarakat masih memiliki benda meterai desain lama, orang atau badan yang memiliki benda meterai tersebut tidak dapat lagi melakukan penukaran dengan benda meterai desain baru. Hal ini perlu disampaikan kepada masyarakat umum agar memahami kapan saat penukaran benda meterai desain lama dapat dilakukan.

E. INTENSIFIKASI BEA METERAI

Sebagai instansi yang diberi kewenangan untuk mengelola pajak, Direktorat Jenderal Pajak harus selalu berusaha untuk meningkatkan penerimaan pajak. Hal ini juga dilakukan terhadap bea meterai. Sehubungan dengan pelaksanaan UUBea Meterai serta peraturan pelaksanaannya fiskus dapat melakukan upaya intensifikasi bea meterai atas dokumen yang menjadi objek bea meterai yang dibuat oleh institusi tertentu.

1. Menghimbau kepada penerbit dokumen untuk segera mengenakan bea meterai atas dokumen yang diterbitkan;

2. Memberitahukan kepada penerbit dokumen bahwa pemenuhan kewajiban bea meterai atas dokumen yang diterbitkan dapat

dilakukan dengan cara pembubuhan tanda bea meterai lunas dengan sistem kamputerisasi;

3. Bilamana dalam pemeriksaan pajak ditemukan dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya, atas dokumen tersebut wajib dikenakan bea meterai dengan ditambah denda administrasi sebesar 200 % dari bea meterai yang tidak atau kurang dibayar dengan cara pemeteraian kemudian.

F. PENGALIHAN BEA METERAI LUNAS ATAS BLANKO CEK CLAN

BILYET GIRO KARENA PERUSAHAAN MENGGANTI LOGO

PERUSAHAAN

Dalam kegiatan bisnis dimungkinkan suatu perusahaan mengganti logo perusahaan karena alasan tertentu. Salah satu dampak dari perubahan logo ini adalah terkait dengan penggunaan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain, apakah tetap dapat dipergunakan atau tidak, mengingat salah satu identitas perusahaan tersebut, yaitu logo perusahaan telah mengalami perubahan.

Demi tertib administrasi pemberian izin pelunasan bea meterai dengan cara lain, perusahaan dapat meminta kepada Direktur Jenderal Pajak untuk diberikan izin yang baru dengan. logo perusahaan yang baru. Dalam hal ini akan diberikan izin yang baru, di mana pembayaran di muka yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut untuk memperoleh izin sebelumnya dapat dialihkan untuk pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan izin yang baru sehubungan dengan perubahan logo perusahaan.

Untuk maksud ini, pihak perusahaan hams mengadakan stock opname bersama-sama dengan pejabat Direktorat Jenderal Pajak sehingga diperoleh kepastian mengenai jumlah blanko cek dan bilyet giro yang telah dipergunakan dan jumlah yang masih dalam persediaan. Sisa blanko cek dan bilyet giro harus dimusnahkan dengan disaksikan oleh pejabat Direktorat Jenderal Pajak dengan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan Blanko Cek dan Bilyet Giro tersebut. Hari, tanggal, dan jam pemusnahan

Jenderal Pajak, melalui Kantor Pelayanan Pajak setempat. Segala biaya yang timbul dari pemusnahan blanko cek dan bilyet giro menjadi beban perusahaan tersebut.

G. PENGALIHAN BEA METERAI LUNAS ATAS BLANKO CEK DAN

BILYET GIRO KARENA PERUSAHAAN MENGUBAH NAMA

PERUSAHAAN

Selain pengalihan karena adanya perubahan logo perusahaan, pengalihan pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan izin pelunasan bea meterai, dengan cara lain juga dapat dilakukan oleh perusahaan yang mengubah nama perusahaan. Karena alasan tertentu dimungkinkan perusahaan melakukan perubahan nama perusahaan. Dengan mengubah nama perusahaan salah satu implikasi yang terjadi adalah dalam hal penggunaan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain oleh perusahaan sebelum nama perusahaan diubah tidak otomatis dapat digunakan oleh perusahaan setelah melakukan perubahan nama. Izin yang telah diberikan sebelumnya otomatis dibatalkan, tetapi perusahaan tersebut dapat mengajukan permohonan baru untuk mendapatkan izin kembali pelunasan bea meterai dengan cara lain. Karena pada dasarnya perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang sama hanya melakukan perubahan nama, Direktur Jenderal Pajak akan memberikan izin kepada perusahaan tersebut

Pada saat perusahaan melakukan perubahan nama, dimungkinkan masih terdapat deposit pembayaran di muka bea meterai apabila jumlah dokumen yang dimeteraikan kurang dari pembayaran di muka yang telah dilakukan perusahaan tersebut. Dalam hal demikian, kelebihan pembayaran tersebut tidak hilang, tetapi juga tidak dapat diminta kembali atau direstitusi oleh perusahaan dengan nama lama. Hal yang mungkin dilakukan adalah perusahaan dengan nama yang baru mengajukan permohonan pemakaian pengalihan pembayaran di muka bea meterai atas cek dan bilyet giro guna mendapatkan izin pelunasan bea meterai dengan cara lain sehubungan dengan adanya perubahan nama perusahaan. Tata cara pengajuan dan pengalihan pembayaran di muka dimaksud sama dengan pengalihan

pernbayaran di muka karena perusahaan melakukan perubahan logo perusahaan.

H. PENGALIHAN BEA METERAI LUNAS ATAS SURAT KOLEKTIF

SAHAM

Saham sebagai tanda kepemilikan seseorang atau suatu badan.pada suatu perusahaan dapat dibuat dalam bentuk surat kolektif saham. Sesuai dengan ketentuan dalam UndangUndang Bea Meterai, surat kolektif saham, yang merupakan salah satu contoh efek, merupakan bentuk dokumen yang dikenakan bea meterai. Pelunasan bea .meterai terutang dapat dilakukan dengan pembubuhan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan bea meterai atau teknologi percetakan sesuai dengan izin yang diberikan oleh Direktur Jenderal Pajak.

Bentuk surat kolektif saham adalah sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat diterbitkannya saham tersebut. Pada penerbitan tersebut bea meterai harus dilunasi oleh pemegang saham. Dalam praktik bisnis dimungkinkan adanya perubahan bentuk sura kolektif saham, antara lain disebabkan oleh adanya perubahan peraturan yang ditetapkan oleh bursa efek dan adanya perubahan modal dasar dari daftar pemegang saham perseroan. Hal ini berakibat surat kolektif saham yang telah diterbitkan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku/tidak dapat dipakai lagi. Salah satu konsekuensi dari hal ini terkait dengan pelunasan bea meterai yang telah dilakukan atas surat kolektif saham yang lama.

Perusahaan menerbitkan surat kolektif saham dalam jumlah tertentu, sesuai dengan kebutuhan,dana yang diinginkan dari pihak luar perusahaan.Pada saat diterbitkan perusahaan telah melunasi bea meterai terutang atas seluruh saham yang diterbitkan. Saham tersebut dapat ditawarkan secara terbatas ataupun secara terbuka melalui bursa efek.

Dalam praktik dimungkinkan saham yang telah dicetak tidak laku seluruhnya dibeli oleh pihak luar perusahaan. Apabila karena suatu hal terjadi perubahan bentuk surat kolektif saham, surat kolektif saham yang lama yang belum laku tidak berlaku lagi. Dalam kondisi demikian, bea meterai yang

belum dibeli oleh pihak luar perusahaan dapat dialihkan pada pencetakan bilyet giro yang baru milik perusahaan yang menerbitkan saham dimaksud. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan tersebut tidak dirugikan karena adanya perubahan bentuk surat saham kolektif yang lama.

Untuk maksud pengalihan, ini perusahaan dimaksud dapat mengajukan permohonan mengalihkan bea meterai lunas atas saham kolektif sejumlah surat kolektif lama yang belum digunakan. Atas permohonan ini, petugas pajak akan melakukan pemeriksaan, dan berdasarkan hasil pemeriksaan Direktur Jenderal Pajak (atau pejabat yang berwenang) akan memberikan izin pengalihan dimaksud. Pengalihan dilakukan sesuai dengan jumlah bea meterai yang telah dilunasi atas surat saham yang belum digunakan dan pengalihan dilakukan untuk pencetakan blanko bilyet giro yang baru atau pelunasan bea meterai atas dokumen dengan menggunakan mesin teraan bea meterai. Pengalihan dilakukan sesuai dengan tarif bea meterai yang berlaku pada saat pengalihan. Surat kolektif saham lama yang belum digunakan dimusnahkan oleh petugas pajak dengan disaksikan oleh wajib pajak dan untuk itu dibuatkan berita acara pemusnahannya.

I. BEA METERAI ATAS KARTU KREDIT

Salah satu dokumen yang menjadi objek bea meterai adalah tanda terima pembayaran tagihan (billing statement) kartu kredit. Tanda terima ini selain berfungsi sebagai bukti penerimaan uang juga berfungsi sebagai dokumen yang berbentuk surat yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan. Ketentuan tentang batas nilai nominal uang yang menentukan terutang atau tidaknya dan berapa tarif bea meterai yang terutang atas dokumen tersebut disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku pada saat dibuatnya dokumen dimaksud. Pelunasan bea meterai atas dokumen tersebut dapat dilakukan dengan sistem komputerisasi ataupun dengan menggunakan meterai temple.

Nilai dalam tagihan kartu kredit yang dipergunakan sebagai harga nominal yang dikenakan bea meterai adalah nilai pembayaran yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit dalam satu periode tagihan karena jumlah tersebut menunjukkan suatu pengakuan dari penerbit kartu kredit atas pelunasan

sebagian atau seluruh utang pemegang kartu kredit. Sebagai contoh, pada bulan Juli 2001 pemegang kartu kredit melakukan pembayaran sebanyak tiga kali dengan jumlah sebesar Rp1.500.000,00. Maka, bea meterai yang dikenakan atas tagihan kartu kredit yang memuat pembayaran tersebut adalah sebesar Rp. 6.000,00.

Dalam dokumen PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 99-109)

Dokumen terkait