NJOP Tanah seluruhnya = 4.035.000 x Rp5.000 = Rp20.175.000.000,- B. Nilai Bangunan :
a. Kantor : 500 x Rp700.000,- = Rp 350.000.000,-
b. Gudang : 1.000 x Rp505.000,- = Rp 505.000.000,-
c. Pabrik : 4.000 x Rp365.000,- = Rp 1.460.000.000,-
Nilai Bangunan seluruhnya = Rp 2.315.000.000,-
Nilai Bangunan/M2 = Rp2.315.000.000 / 5.500 = Rp420.909,09 Hasil konversi : Kelas 068 = Rp427.000,- /M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 5.500 x Rp427.000,- = Rp2.348.500.000,-
NJOP Tanah dan Bangunan seluruhnya = Rp22.523.500.000,-
NJOPTKP = Rp 10.000.000,-
NJOP untuk perhitungan PBB = Rp22.513.500.000,-
PBB = 0,5% x 40% x Rp22.513.500.000,- = Rp45.027.000,-
B. SEKTOR PERHUTANAN
Eksploitasi hutan di Indonesia pada umumnya menggunakan sistem konsesi yang terdiri dari beberapa tipe yaitu (Wahyu, 2003: 223):
a. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) b. Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH)
c. Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI)
Berdasarkan penguasaannya hutan di Indonesia dapat dibagi dalam 3(tiga) wilayah yaitu, wilayah hutan negara, wilayah pengusahaan hutan , dan wilayah budidaya hutan. Wilayah hutan Negara jelas belum dikenakan PBB karena merupakan milik Negara yang belum dibebani suatu hak diatasnya. Sedangkan wilayah pengusahaan hutan dan wilayah budidaya hutan sudah dikenakan PBB. Disamping itu berdasarkan kemanfaatannya, hutan dapat dibagi atas hutan produksi, hutan tanaman, dan hutan alam.
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan, sedangkan hutan tanaman adalah hutan produksi yang dibangun dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa penyiapan lahan, pembenihan atau pembibitan, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan atau penebangan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan. Hutan alam merupakan hutan produksi yang di dalamnya telah bertumbuhan pohon-pohon alami dan dimanfaatkan melalui serangkaian kegiatan berupa pemanenan atau penebangan, penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan.
Pengenaan PBB sektor perhutanan diatur melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-36/PJ/2011 tanggal 18 Nopember 2011 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perhutanan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-89/PJ/2011 tanggal 18 Nopember 2011. Berdasarkan peraturan tersebut di atas, objek pajak PBB perhutanan adalah bumi dan/atau bangunan yang digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan yang diberikan hak pengusahaan hutan. Objek pajak bumi di dalam sektor perhutanan terdiri dari areal produktif, areal belum produktif, areal emplasemen, dan areal lain.
Areal produktif adalah merupakan areal hutan yang telah ditanami pada hutan tanaman, atau areal blok tebangan pada hutan alam. Areal belum produktif merupakan areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami pada hutan tanaman, atau areal hutan yang dapat ditebang selain blok tebangan pada hutan alam. Areal emplasemen adalah areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan dan sarana pelengkap lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan yang diperkeras, sedangkan yang dimaksud areal lain adalah areal hutan selain dari areal produktif, areal belum produktif, dan areal emplasemen.
Sebagaimana halnya dengan sektor perkebunan, pendataan untuk sektor perhutanan juga menggunakan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) dan Lampiran SPOP (LSPOP) Sektor Perhutanan. SPOP dan LSPOP sektor Perhutanan ini dikirim ke wajib pajak yaitu perusahaan- perusahaan yang bergerak di bidang perhutanan. Setelah diisi secara jelas, benar, lengkap dan ditandatangani SPOP dan LSPOP tersebut kemudian dikirim ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama dengan dilampiri data pendukung yang dibutuhkan berupa fotokopi surat-surat yang berhubungan dengan masalah perhutanan dari
instansi terkait yaitu Dinas Kehutanan atau instansi lainnya yang mengeluarkan izin usaha di bidang kehutanan.
Penentuan NJOP masing-masing areal perhutanan ditentukan sebagai berikut: 1. Nilai tanah untuk hutan tanaman ditentukan sebesar nilai dasar tanah,
kecuali untuk areal produktif ditambah dengan Standar Investasi Tanaman (SIT). Nilai dasar tanah diperoleh melalui proses penilaian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak, sedangkan SIT adalah jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Nilai tanah per meter persegi dihitung dengan jalan membagi nilai tanah seluruh areal perhutanan dengan luas seluruh areal perhutanan, kemudian dikonversi ke dalam tabel klasifikasi sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor PER-150/PMK.03/2010 untuk memperoleh NJOP per meter persegi areal tanah perhutanan.
2. Nilai tanah untuk hutan alam ditentukan sebesar nilai dasar tanah, kecuali untuk areal produktif sebesar perkalian pendapatan bersih setahun dengan Angka Kapitalisasi. Pendapatan bersih setahun ditentukan sebesar pendapatan kotor (jumlah produksi kayu dan bukan kayu dikalikan harga satuan produksi) setahun dikurangi Biaya Produksi setahun, sebelum tahun pajak. Biaya produksi setahun ditentukan sebesar Rasio Biaya Produksi dikalikan pendapatan kotor setahun. Angka Kapitalisasi dan Rasio Biaya Produksi ditetapkan dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak.
Untuk menghitung SIT perlu diketahui beberapa istilah yang berhubungan dengan formula perhitungan SIT tersebut yaitu:
1. Satuan Biaya Tanaman (SBT) yaitu satuan biaya yang diinvestasikan tiap tahun berdasarkan umur dan jenis tanaman.
2. Standar Biaya Pembangunan Hutan Tanaman (SBPHT) yaitu satuan biaya tahunan per kegiatan yang meliputi kegiatan pembukaan lahan dan penanaman (P0), pemeliharaan tahun pertama (P1), dan seterusnya sampai pemeliharaan tahun terakhir (Pn) untuk setiap hektar
pembangunan hutan tanaman di suatu wilayah, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan, Kementerian Kehutanan.
Selanjutnya formula perhitungan SIT dapat digambarkan sebagai berikut.
SBTt = SBT t-1 x (1+i)
SBPHT SBPHT
Terendah - Tertinggi Median SBPHT x 72% x Indeks Wilayah x Indeks
Tanaman
Per Wilayah SBPHT x 72% x Indeks Tanaman
Per Jenis Tanaman SBPHT x 72% x Indeks Wilayah
SIT SIT P1 = SBT P0 + SBT P1
SIT P2 = SBT P0 + SBT P1 + SBT P2
Dalam hal SBPHTB pada tahun sebelum Tahun Pajak tidak diterbitkan, SBT ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT Tahun Pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10%, dengan formula sebagai berikut:
Dimana: SBTt = SBT Tahun Pajak
SBTt-1 = SBT Tahun Pajak sebelumnya i = tingkat diskonto (10%)
Indeks Wilayah terbagi atas:
Wilayah I (0,900) Wilayah II (0,970) Wilayah III (1,030) Wilayah IV (1,100) Banten Sulawesi Selatan Kalimantan Timur Papua Jawa Barat Sulawesi Tengah Riau Papua Barat Jawa Tengah Sulawesi Utara NAD Maluku DIY Gorontalo Kep. Riau
Jawa Timur Sulawesi Tenggara
Sumatera Utara Banten
Indeks Tanaman adalah sebagai berikut:
No. Jenis Tanaman Indeks Tanaman
1 2 3 4 5 6 7 Jelutung Pulai Rotan Sengon Jabon Akasia Jati Tanaman Lainnya 1,0000 0,8850 0,9380 0,9780 0,8780 1,0120 1,0000
Berikut akan ditampilkan konsep penilaian dan perhitungan PBB sektor Perhutanan, yaitu hutan tanaman dan hutan alam.
NJOP BUMI Nilai Tanah/m2 Klasifikasi NJOP Bumi/m2 x Luas Tanah
a. Areal Produktif = Luas x (Nilai Dasar Tanah/m2 + SIT/m2)
b. Areal Belum Produktif = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2 c. Areal Emplasemen = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2 d. Areal Lainnya = Luas x Nlilai Dasar Tanah/m2
a. Pabrik/Kilang i. MCK
b. Perkantoran j. Jalan diperkeras c. Perumahan k. Landasan Pesawat d. Mess/Guest House l. Pelabuhan e. Gudang m.Jembatan f. Ruang WorkShop n. Gorong-gorong g. Sarana Olah Raga/Rekreasi o. Bangunan Lainnya h. Poliklinik
Nilai Tanah
NJOP BGN Nilai Bgn/m2 Klasifikasi NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn
NJOP NJKP NJOP TKP PBB Terhutang (X) (X) Tarif
KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN TANAMAN
Nilai Bangunan
Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah
NJOP BUMI Nilai Tanah/m2 Klasifikasi NJOP Bumi/m2 x Luas Tanah
a. Areal Produktif = Nilai Tanah Areal Produktif
b. Areal Belum Produktif = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
c. Areal Emplasemen = Luas x Nilai Dasar Tanah/m2
d. Areal Lainnya = Luas x Nlilai Dasar Tanah/m2
a. Pabrik/Kilang i. MCK
b. Perkantoran j. Jalan diperkeras c. Perumahan k. Landasan Pesawat d. Mess/Guest House l. Pelabuhan e. Gudang m.Jembatan f. Ruang WorkShop n. Gorong-gorong g. Sarana Olah Raga/Rekreasi o. Bangunan Lainnya h. Poliklinik
Nilai Tanah
NJOP BGN Nilai Bgn/m2 Klasifikasi NJOP Bgn/m2 X Luas Bgn
NJOP NJKP NJOP TKP PBB Terhutang (X) (X) Tarif
KONSEP PENILAIAN DAN PERHITUNGAN PBB SEKTOR PERHUTANAN
HUTAN ALAM
Nilai Bangunan
Total Nilai Tanah : Total Luas Tanah
Total Nilai Bangunan : Total Luas Bangunan
Contoh Perhitungan PBB Perhutanan (Hutan Tanaman)
PT. Wanasetra, sebuah perusahaan pengelola hutan tanaman industri memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sebagai berikut :
A. Bumi/Tanah
1. Areal produktif
a. Tanah yang ditanami komoditas hutan industri dan telah menghasilkan :
Tanaman sonokeling : 500 Ha, Nilai Dasar Tanah: Rp5.000,- / M2 ) Standar Investasi Tanaman (SIT) = Rp29.308.000,- / Ha.
b. Tanah yang belum menghasilkan :
Sonokeling tahun ke-4 : 100 Ha, NDT = Rp5.000,-/M2 SIT = Rp24.278.000,- / Ha
Sonokeling tahun ke-5 : 200 Ha, NDT = Rp5.000,-/M2 SIT = Rp27.698.000,- / Ha
2. Log Ponds (perairan) : 20 Ha, NDT = Rp140,- /M2 3. Areal lainnya (rawa, payau) : 50 Ha, NDT = Rp140,- / M2 4. Areal Emplasemen : a. Pabrik : 10.000 M2 , NDT = Rp1.200,- / M2 b. Gudang : 5.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2 c. Kantor : 1.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2 d. Perumahan : 10.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2 B. Bangunan : 1. Pabrik : 3.000 M2 ; Nilai = Rp225.000,- / M2 2. Gudang : 500 M2 ; Nilai = Rp225.000,-/M2 3. Kantor : 200M2 ; Nilai = Rp310.000,- / M2 4. Perumahan : 1.000 M2 ; Nilai = Rp225.000,-/M2
Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Wanasetra tersebut apabila NJOPTKP ditentukan sebesar Rp10.000.000,-
Jawaban
A. NJOP Bumi/Tanah 1. Areal Produktif
a. Tanah sudah menghasilkan tanaman sonokeling :
500 x 10.000 x Rp5.000,- = Rp25.000.000.000,-
SIT = 500 x Rp29.308.000,- = Rp14.654.000.000,-
b. Tanaman belum menghasilkan :
Sonokeling tahun ke-4 : 100x10.000xRp5.000,- = Rp 5.000.000.000,-
SIT = 100 x Rp24.278.000,- = Rp 2.427.800.000,-
Sonokeling tahun ke-5 : 200x10.000xRp5.000,- = Rp10.000.000.000,-
SIT = 200 x Rp27.698.000,- = Rp 5.539.600.000,-
2. Log Ponds = 20 x 10.000 x Rp140,- =Rp 28.000.000,-
3. Areal lainnya = 50 x 10.000 x Rp140,- =Rp 70.000.000,-
b. Gudang = 5.000 x Rp1.200,- = Rp 6.000.000,-
c. Kantor = 1.000 x Rp1.200,- = Rp 1.200.000,-
d. Perumahan = 10.000 x Rp1.200,- = Rp 12.000.000,-
Nilai Tanah ( 1 + 2 + 3 + 4 ) = Rp62.750.600.000,-
Nilai tanah/M2 = 62.750.600.000/8.726.000 = Rp7.191,22 Hasil konversi: Klas 154 = Rp7.150,-/M2
NJOP Bumi/Tanah seluruhnya = 8.726.000 x Rp7.150,- = Rp62.390.900.000,-
B. NJOP Bangunan : 1. Pabrik = 3.000 x Rp225.000,- = Rp 675.000.000,- 2. Gudang = 500 x Rp225.000,- = Rp 112.500.000,- 3. Kantor = 200 x Rp310.000,- = Rp 62.000.000,- 4. Perumahan = 1.000 x Rp225.000,- = Rp 225.000.000,- Nilai Bangunan = Rp 1.074.500.000,- Nilai Bangunan/M2 = 1.074.500.000/4.700 = Rp228.617,02 Hasil konversi: Klas 090 = Rp225.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 4.700 x Rp225.000,- = Rp1.057.500.000,-
NJOP Bumi dan Bangunan = Rp63.448.400.000,-
NJOPTKP = Rp 10.000.000,-
NJOP sebagai dasar perhitungan PBB = Rp63.438.400.000,-
PBB = 0,5% x 40% x Rp63.438.400.000,- = Rp126.876.800,-
Contoh perhitungan PBB Perhutanan (Hutan Alam):
PT. Wanalestari, suatu perusahaan bidang perhutanan (hutan alam) di Kalimantan Selatan memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari bumi dan bangunan sbb :
A. Bumi/Tanah
1. Areal produktif: tanah hutan blok tebangan : 200 Ha.
2. Areal belum/tidak produktif : Tanah hutan non blok tebangan : 4.000 Ha ; NDT = Rp200,-/M2
b. Log yards : 5 Ha; NDT = Rp200,-/M2
4. Areal lainnya (rawa, payau) : 100 Ha; NDT = Rp140,- / M2 5. Areal Emplasemen : a. Pabrik : 20.000 M2 ; NDT = Rp660,-/M2 b. Gudang : 2.000 M2 ; NDT = Rp660,-/M2 c. Kantor : 1.000 M2 ; NDT = Rp660.-/M2 d. Perumahan : 10.000 M2 ; NDT = Rp910,-/ M2 B. Bangunan 1. Pabrik : 1.000 M2; Nilai = Rp264.000,- / M2 2. Gudang : 500 M2; Nilai = Rp264.000,-/M2 3. Kantor : 200 M2 ; Nilai = Rp310.000,- / M2 4. Perumahan : 5.000 M2 ; Nilai = Rp310.000,-/M2 C. Angka kapitalisasi : 8,5
Hasil bersih sebelum tahun pajak berjalan : Rp1.000.000.000,-
Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Wanalestari tersebut bila NJOPTKP = Rp10.000.000,-!!
Jawaban:
A. NJOP Bumi/Tanah:
1. Areal produktif : 8,5 x Rp1.000.000.000,- = Rp 8.500.000.000,-
2. Areal belum produktif : 4.000 x 10.000 x Rp200,- = Rp 8.000.000.000,-
3. a. Log ponds : 10 x 10.000 x Rp140,- = Rp 14.000.000,- b. Log yards : 5 x 10.000 x Rp200,- = Rp 10.000.000,- 4. Areal lainnya : 100 x 10.000 x Rp140,- = Rp 140.000.000,- 5. Areal Emplasemen : 1. Pabrik : 20.000 x Rp660,- = Rp 13.200.000,- 2. Gudang : 2.000 x Rp660,- = Rp 1.320.000,- 3. Kantor : 1.000 x Rp660,- = Rp 660.000,- 4. Perumahan : 10.000 x Rp910,- = Rp 9.100.000,- Nilai Bumi (1+2+3+4+5) = Rp16.688.280.000,-
Hasil konversi: Klas 193 = Rp390,-/M2
NJOP Bumi seluruhnya = 43.183.000 x Rp390,- = Rp16.841.370.000,-
B. NJOP Bangunan : a.Pabrik : 1.000 x Rp264.000,- = Rp 264.000.000,- b.Gudang : 500 x Rp264.000,- = Rp 132.000.000,- c. Kantor : 200 x Rp310.000,- = Rp 62.000.000,- d. Perumahan : 5.000 x Rp310.000,- = Rp1.550.000.000,- Nilai Bangunan : = Rp2.008.000.000,- Nilai Bangunan/M2 = 2.008.000.000/6.700 = Rp299.701,49/M2 Hasil konversi: Klas 086 = Rp310.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 6.700 x Rp310.000,- = Rp2.077.000.000,-
NJOP Bumi dan Bangunan : = Rp18.918.370.000,-
NJOPTKP : = Rp 10.000.000,-
NJOP untuk perhitungan PBB = Rp18.908.370.000,-
PBB : 0,5% x 40% x Rp18.908.370.000,- = Rp37.816.740,-