Usaha bidang pertambangan dapat diklasifikasikan berdasarkan kepada hasil tambang dan lokasi penambangannya (Wahyu, 2003: 215). Berdasarkan hasil tambang terbagi atas 2 (dua) jenis yaitu pertama pertambangan minyak, gas dan panas bumi, dan kedua pertambangan bukan minyak, gas dan panas bumi yang mengeksploitasi bahan tambang logam (seperti bijih besi) dan bukan logam (seperti batubara, pasir). Sedangkan berdasarkan lokasi penambangan, usaha bidang pertambangan terdiri dari pertama, pertambangan lepas pantai (off shore) dan kedua pertambangan daratan (on shore).
Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, yang dimaksud dengan bahan galian adalah unsur-unsur kimia mineral-mineral, bijih-bijih dan segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam. Bahan-bahan galian ini terbagi atas 3 (tiga) jenis yaitu:
1. Bahan galian strategis dalam arti strategis bagi pertahanan dan keamanan serta perekonomian negara, antara lain seperti minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam, bitumen padat, aspal, batubara, uranium dan bahan radio aktif lainnya, nikel, timah.
2. Bahan galian vital dalam arti dapat menjamin hajat hidup orang banyak, antara lain seperti besi, mangaan, wolfram, tembaga, emas, perak, platina, yodium, belerang.
3. Bahan galian yang tidak termasuk jenis a atau b dalam arti karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional, antara lain seperti nitrat-nitrat, garam batu, asbes, batu permata, pasir kwarsa, batu apung, batu kapur, granit, andesit.
Sektor pertambangan adalah objek Pajak Bumi dan Bangunan yang meliputi areal usaha penambangan bahan-bahan galian dari semua jenis golongan yaitu bahan galian strategis, bahan galian vital dan bahan galian lainnya. Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan dapat diklasifikasikan ke dalam 3(tiga) jenis yaitu:
Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) Pertambangan Energi Panas Bumi
1. Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba)
Pengenaan PBB sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba) diatur di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012 tanggal 28 Desember 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batubara dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-64/PJ/2012 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012. Di
dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini yang dimaksud dengan PBB Mineral dan Batubara adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di kawasan yang digunakan untuk kegiatan pertambangan mineral dan batubara. Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba meliputi
luar wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba.
Objek pajak bumi dapat dibagi 2(dua) yaitu pertama, permukaan bumi yang meliputi tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore) dan/atau perairan lepas pantai (offshore) dan kedua adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Sedangkan objek bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada areal onshore dan/atau areal offshore. Permukaan bumi untuk areal onshore meliputi: areal produktif, areal belum produktif (areal cadangan produksi dan areal yang belum dimanfaatkan), areal tidak produktif, areal emplasemen, dan areal pengaman. Tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi terdiri dari tubuh bumi untuk kegiatan eksplorasi dan tubuh bumi untuk kegiatan operasi produksi.
Dasar pengenaan dari PBB sektor pertambangan Minerba adalah NJOP yang merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang kegiatan operasi produksi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bangunan.
Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut: 1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan
total luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing-masing areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum
dimanfaatkan dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis, dan areal cadangan produksi, areal tidak produktif, dan areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk areal belum dimanfaatkan.
2. Tubuh bumi operasi produksi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi untuk tubuh bumi operasi produksi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi untuk tubuh bumi operasi produksi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi dengan hasil bersih galian tambang dalam satu tahun sebelum Tahun Pajak. Hasil bersih ditentukan melalui pengurangan pendapatan kotor dengan biaya produksi galian tambang sedangkan besarnya Angka Kapitalisasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
3. Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore ditentukan dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal offshore di wilayah Indonesia.
Contoh perhitungan PBB sektor Pertambangan Batubara:
PT. Equatorial Mining, sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur, menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan sebagai berikut :
A. Bumi (Tanah )
1. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp400,-/M2 2. Areal Belum Produktif :
a. Areal Cadangan Produksi : 500 Ha; Nilai = Rp300,-/M2 b. Areal Belum Dimanfaatkan : 100 Ha; Nilai = Rp300,-/M2 3. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp200,-/M2
4. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp150,-/M2 5. Areal Emplasemen :
a. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp1.200,-/M2 b. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp1.200,-/M2
d. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp10.000,-/M2 B. Bangunan 1. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp310.000,-/M2 2. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp310.000,-/M2 3. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2 4. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp429.000,-/M2
C. Hasil bersih penjualan bahan galian tambang setahun = Rp1 Milyar. Angka Kapitalisasi = 9,5
Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT.Equatorial Mining tersebut apabila NJOPTKP = Rp10 juta
Jawaban:
A. NJOP Bumi/Tanah :
1. Tubuh Bumi Operasi Prouduksi = 9,5 x Rp1milyar = Rp9.500.000.000,-
2. Areal Produktif = 200 x 10.000 x 400 = Rp 800.000.000,-
3. Areal Belum Produktif :
a. Areal Cadangan Produksi = 500 x 10.000 x 300 = Rp1.500.000.000,-
b. Areal Belum Dimanfaatkan = 100 x 10.000 x 300 =Rp 300.000.000,-
4. Areal tidak produktif : 100 x 10.000 x Rp200,- = Rp 200.000.000,-
5. Areal Emplasemen : a. Pabrik : 20 x 10.000 x Rp1.200,- = Rp 240.000.000,- b. Gudang : 2 x 10.000 x Rp1.200,- = Rp 24.000.000,- c. Kantor : 1 x 10.000 x Rp5.000,- = Rp 50.000.000,- d. Perumahan : 5 x 10.000 x Rp10.000,- = Rp 500.000.000,- Nilai Bumi/Tanah ( 1+2+3+4+5) : = Rp13.114.000.000,- Nilai Bumi/M2 = 13.114.000.000/9.280.000 = Rp1.413,15/M2 Hasil konversi: Klas 180 = Rp1.440,-/M2
NJOP Bumi seluruhnya = 9.280.000 x Rp1.440,- = Rp13.363.200.000,-
B. NJOP Bangunan
1. Pabrik : 50.000 x Rp310.000,- = Rp15.500.000.000,-
2. Gudang : 5.000 x Rp310.000,- = Rp 1.550.000.000,-
4. Perumahan : 10.000 x Rp429.000,- = Rp 4.290.000.000,-
Nilai Bangunan ( 1+2+3+4 ) : = Rp22.070.000.000,-
Nilai Bangunan/M2 = 22.070.000.000/67.000 = Rp329.402,98/M2 Hasil konversi: Klas 086 = Rp310.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x 310.000 = Rp20.770.000.000,-
NJOP Bumi + Bangunan : = Rp34.133.200.000,-
NJOPTKP : = Rp 10.000.000,-
NJOP untuk perhitungan PBB : = Rp34.123.200.000,-
PBB= 0,5% x 40% x Rp34.123.200.000,- = Rp68.246.400,- 2. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas)
Pengenaan PBB sektor pertambangan migas diatur di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012 tanggal 20 April 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-21/PJ/2012 tanggal 20 April 2012. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini Pajak Bumi dan Bangunan sektor Migas adalah Pajak Bumi dan Bangunan atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait dengan pertambangan Migas yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). KKKS ini merupakan badan usaha atau bentuk usaha tetap yang ditetapkan untuk melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan kontrak kerja sama.
Objek Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan meliputi bumi dan bangunan. Objek pajak bumi dapat dibagi 2(dua) yaitu pertama, permukaan bumi yang meliputi tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore) dan/atau perairan lepas pantai (offshore) dan kedua adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Sedangkan objek bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada areal onshore dan/atau areal offshore. Permukaan bumi untuk areal onshore meliputi: areal produktif, areal belum produktif, areal tidak produktif, areal emplasemen, dan areal pengaman. Tubuh
bumi yang berada di bawah permukaan bumi terdiri dari tubuh bumi untuk kegiatan eksplorasi dan tubuh bumi untuk kegiatan eksploitasi.
Dasar pengenaan dari PBB sektor Migas adalah NJOP yang merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang eksploitasi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bangunan.
Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut: 1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan
total luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing-masing areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis, dan areal produktif, tidak produktif, dan areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif.
2. Tubuh bumi eksploitasi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi dengan hasil penjualan Migas dalam satu tahun sebelum Tahun Pajak dimana Angka Kapitalisasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. 3. Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore
ditentukan dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal offshore di wilayah Indonesia.
Contoh perhitungan PBB sektor Pertambangan Migas
PT. Mutiara Hitam, sebuah usaha tambang minyak bumi yang beroperasi di pedalaman Kalimantan menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sbb:
A. Bumi (Tanah )
1. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp300,-/M2
2. Areal Belum Produktif : 300 Ha; Nilai = Rp200,-/M2 3. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp150,-/M2 4. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp150,-/M2 5. Areal Emplasemen :
a. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp900,-/M2 b. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp900,-/M2 c. Kantor : 1 Ha; Nilai = Rp1.000,-/M2 d. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp1.100,-/M2
B Bangunan :
1. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2 2. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp429.000,-/M2 3. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp505.000,-/M2 4. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp595.000,-/M2
C.Hasil penjualan minyak bumi setahun sbb:
1. Triwulan pertama produksi sebesar: 25.000 barrel dengan harga US $45 per barrel
2. Triwulan kedua produksi sebesar: 30.000 barrel dengan harga US $46 per barrel
3. Triwulan ketiga produksi sebesar 33.000 barrel dengan harga US $45,5 per barrel
4. Triwulan keempat produksi sebesar 34.000 barrel dengan harga US $46 per barrel.
Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT.Mutiara Hitam tersebut apabila NJOPTKP ditentukan sebesar Rp12.000.000,00
Jawaban:
Hasil Penjualan minyak bumi setahun sebagai berikut:
Triwulan pertama: 25.000 x 45 x 9.150 = Rp10.293.750.000,-
Triwulan kedua: 30.000 x 46 x 9.150 = Rp12.627.000.000,-
Triwulan ketiga: 33.000 x 45,5 x 9.150 = Rp13.738.725.000,-
Triwulan keempat: 34.000 x 46 x 9.150 = Rp14.310.600.000,- +
Total hasil penjualan setahun = Rp50.970.075.000,-
A. NJOP Bumi:
a. Tubuh bumi eksploitasi = 9,5 x 50.970.075.000 = Rp484.215.713.000,-
b. Areal Produktif = 200 x 10.000 x 300,- = Rp 600.000.000,-
c. Areal Belum Produktif = 300 x 10.000 x 200 = Rp 600.000.000,-
d. Areal Tidak Produktif: 100 x 10.000 x 150 = Rp 150.000.000,-
e. Areal Pengaman = 1 x 10.000 x 150 = Rp 1.500.000,- f. Areal Emplasemen: 1. Pabrik: 20 x 10.000 x 900 = Rp 180.000.000,- 2. Gudang: 2 x 10.000 x 900 = Rp 18.000.000,- 3. Kantor: 10.000 x 1.000 = Rp 10.000.000,- 4. Perumahan: 5 x 10.000 x 1.100 = Rp 55.000.000,- +
Jumlah Nilai Bumi: = Rp485.830.213.000,-
Nilai Bumi/M2 = 485.830.213.000/6.290.000 = Rp77.238,51 Hasil konversi: Klas 105 = Rp78.000,-/M2
NJOP Bumi seluruhnya = 6.290.000 x Rp78.000 = Rp490.620.000.000,-
B. NJOP Bangunan:
1. Pabrik: 50.000 x 365.000 = Rp 18.250.000.000,-
2. Gudang: 5.000 x 429.000 = Rp 2.145.000.000,-
3. Kantor: 2.000 x 505.000 = Rp 1.010.000.000,-
4. Perumahan: 10.000 x 595.000 = Rp 5.950.000.000,- +
Jumlah Nilai Bangunan: = Rp 27.355.000.000,-
Hasil konversi: Klas 082 = Rp408.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x Rp408.000,- = Rp27.336.000.000,-
Jumlah total NJOP Bumi dan Bangunan: = Rp517.956.000.000,-
NJOPTKP: = Rp 12.000.000,- -
NJOP untuk perhitungan PBB: = Rp517.944.000.000,-
PBB= 0,5% x 40% x 517.944.000.000 = Rp1.035.888.000,-
3. Pertambangan Panas Bumi
Pengenaan PBB atas sektor pertambangan panas bumi diatur di dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2012 tanggal 20 April 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-21/PJ/2012 tanggal 20 April 2012. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan untuk pertambangan Panas Bumi adalah Pajak Bumi dan Bangunan atas bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait dengan pertambangan Panas Bumi yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh pengusaha Panas Bumi. Pengusaha Panas Bumi adalah Pertamina atau perusahaan penerusnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kontraktor kontrak operasi bersama (joint operation contract), dan pemegang izin pengusahaan sumber daya panas bumi.
Objek PBB Panas Bumi adalah bumi dan/atau bangunan yang berada di dalam Wilayah Kerja atau sejenisnya terkait dengan pertambangan Panas Bumi yang diperoleh haknya, dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh Pengusaha Panas Bumi. Objek pajak bumi dapat dibagi 2(dua) yaitu pertama, permukaan bumi yang meliputi tanah dan/atau perairan pedalaman (onshore) dan/atau perairan lepas pantai (offshore) dan kedua adalah tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi. Sedangkan objek bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada areal onshore dan/atau areal offshore. Permukaan bumi untuk areal onshore meliputi: areal produktif, areal
belum produktif, areal tidak produktif, areal emplasemen, dan areal pengaman. Tubuh bumi yang berada di bawah permukaan bumi terdiri dari tubuh bumi untuk kegiatan eksplorasi dan tubuh bumi untuk kegiatan eksploitasi.
Dasar pengenaan dari PBB Panas Bumi adalah NJOP yang merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik yang eksplorasi atau yang eksploitasi merupakan hasil perkalian antara luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang klasifikasi NJOP Bangunan.
Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut: 1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan
total luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing-masing areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis, dan areal produktif, tidak produktif, dan areal pengaman ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk areal belum produktif.
2. Tubuh bumi eksploitasi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi untuk tubuh bumi eksploitasi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi dengan hasil produksi dan harga produksi uap dan/atau harga produksi listrik, untuk PBB Panas Bumi yang pembangkit listriknya dikelola sendiri oleh Pengusaha Panas Bumi atau Angka Kapitalisasi dengan hasil produksi dan harga produksi uap untuk PBB Panas Bumi yang pembangkit
listriknya tidak dikelola sendiri oleh Pengusaha Panas Bumi. Besarnya Angka Kapitalisasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. 3. Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore ditentukan dengan mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal offshore di wilayah Indonesia.
Contoh Perhitungan PBB Panas Bumi:
PT.Saptapertala, sebuah perusahaan di bidang sumber energi panas bumi di daerah Jawa Timur, menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian sebagai berikut:
A. Bumi (Tanah )
a. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp400,-/M2
b. Areal Belum Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp350,-/M2 c. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp300,-/M2 d. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp200,-/M2 e. Areal Emplasemen :
1. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp3.500,-/M2 2. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp5.000,-/M2 3. Kantor : 1 Ha; Nilai = Rp5.000,-/M2 4. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp10.000,-/M2
B Bangunan :
a. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2 b. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2 c. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp505.000,-/M2 d. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp595.000,-/M2
C.Hasil penjualan uap panas bumi setahun sbb:
1. Triwulan pertama produksi sebesar: 150 Kwh dengan harga US $20 per Kwh
2. Triwulan kedua produksi sebesar: 135 Kwh dengan harga US $25 per Kwh
4. Triwulan keempat produksi sebesar 165 Kwh dengan harga US $30 per Kwh
Angka Kapitalisasi = 9,5
Kurs yang berlaku: 1 US $ = Rp9.150,00
Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Sapta Pertala tersebut apabila NJOPTKP ditentukan sebesar Rp12.000.000,00
Jawaban:
Hasil penjualan uap panas bumi setahun sebagai berikut:
1.Triwulan pertama: 150 x US $20 x Rp9.150,- = Rp 27.450.000,-
2.Triwulan kedua: 135 x US $25 x Rp9.150,- = Rp 30.881.250,-
3.Triwulan ketiga: 160 x US $26 x Rp9.150,- = Rp 38.064.000,-
4.Triwulan keempat: 165 x US $30 x Rp9.150,- = Rp 45.292.500,-
Jumlah total hasil penjualan uap panas bumi = Rp141.687.750,-
A. NJOP Bumi:
a. Tubuh Bumi eksploitasi = 9,5 x 141.687.750,- = Rp1.346.033.630,-
b. Areal Produktif:= 200 x 10.000 x 400 = Rp 800.000.000,-
c. Areal Belum Produktif = 200 x 10.000 x 350 = Rp 700.000.000,-
d. Areal Tidak Produktif: 100 x 10.000 x 300 = Rp 300.000.000,-
e. Areal Pengaman = 1 x 10.000 x 200 = Rp 2.000.000,- f. Areal Emplasemen: 1. Pabrik: 20 x 10.000 x 3.500 = Rp 700.000.000,- 2. Gudang: 2 x 10.000 x 5.000 = Rp 100.000.000,- 3. Kantor: 1 x 10.000 x 5.000 = Rp 50.000.000,- 4. Perumahan: 5 x 10.000 x 10.000 = Rp 500.000.000,- +
Jumlah Nilai Bumi: = Rp4.498.033.630,-
Nilai Bumi/M2 = 4.498.033.630/5.290.000 = Rp850,29/M2 Hasil konversi: Klas 186 = Rp820,-/M2
NJOP Bumi seluruhnya = 5.290.000 x Rp820,- = Rp4.337.800.000,- B. NJOP Bangunan:
1. Pabrik: 50.000 x 365.000 = Rp18.250.000.000,-
3. Kantor: 2.000 x 505.000 = Rp 1.010.000.000,-
4. Perumahan: 10.000 x 595.000 = Rp 5.950.000.000,- +
Jumlah Nilai Bangunan: = Rp27.035.000.000,-
Nilai Bangunan/M2 = 27.035.000.000/67.000 = Rp403.507,46/M2 Hasil konversi: Klas 082 = Rp408.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x Rp408.000,- = Rp27.336.000.000,-
Jumlah NJOP Bumi dan Bangunan: = Rp31.673.800.000,-
NJOPTKP: = Rp 12.000.000,- -
NJOP untuk perhitungan PBB: = Rp31.661.800.000,-
REFERENSI
1. Undang-undang Nomor 12/1985 jo. Undang-undang Nomor 12/1994. 2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.03/2010
3. Peraturan direktur Jenderal Pajak Nomor 64/PJ/2010 4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 36/PJ/2011 5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 32/PJ/2012 6. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 45/PJ/2013
PENDAHULUAN
Pajak sebagai salah satu sumber penerimaan negara yang paling besar sudah sepatutnya dikelola dengan sebaik-baiknya agar penerimaan negara dapat terjaga kesinambungannya guna mendukung kegiatan pemerintahan umum dan pembiayaan pembangunan yang dijalankan Pemerintah. Jumlah penerimaan pajak pada APBN 2008 sebesar Rp.601,476 trilyun, dimana Rp 3,341 trilyun lebih berasal dari penerimaan pajak lainnya termasuk bea meterai. Bila kita amati dari kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, pengelolaan bea meterai oleh Pemerintah dirasa belum optimal, ini dapat dilihat dari masih banyak praktik-praktik melawan hukum yang sulit dicegah maupun diambil tindakan oleh penegak hukukm, seperti pemalsuan bea meterai, ketidaklancaran distribusi, sampai pada pembuatan dokumen yang tidak dipenuhi kewajiban bea meterainya.
Adalah tugas Direktorat Jenderal Pajak agar Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Meterai dan peraturan perundang-undangan terkait terlaksana dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dan handal di bidang bea meterai, mengingat permasalahan bea meterai yang tidak boleh dibilang sederhana karena kompleksitas kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat, jumlah penduduk, serta wilayah peredaran yang luas di seluruh nusantara. Untuk memberikan pemahaman yang utuh terhadap bea meterai, sampai saat ini masih dirasa sulit, karena masih sedikit tersedianya literatur tentang bea meterai, baik dalam bentuk kompilasi peraturan perundang-undangan maupun dalam bentuk buku. Dengan tersusunnya bahan ajar ini diharapkan dapat menambah alternatif bahan bacaan tentang bea meterai guna memperluas khasanah pengetahuan para pembacanya.
Bahan ajar ini disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan ajar di lingkungan Pusdiklat Pajak Jakarta. Mengingat batasan waktu yang tersedia untuk penyajian materi dalam diklat, maka kedalaman isi bahan ajar ini disesuaikan dengan jumlah pelatihan yang tersedia serta diselaraskan dengan tujuan Diklat Teknis Substantif Dasar II Pajak..
Tujuan umum pembelajaran Bea Meterai ini adalah agar peserta diklat memahami ketentuan-ketentuan perundang-undangan tentang bea meterai dan tugas-tugas DJP dalam pengelolaan bea meterai.