• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Analisis

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis pertama yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,011, karena P value < 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak terdapat pengaruh penggunaan dengan model

pembelajaran kooperatif tipe TPS dan tipe TGT terhadap prestasi belajar kognitif

ditolak, Hal ini berarti H1 diterima, yaitu terdapat pengaruh penggunaan model

pembelajaran kooperatif tipe TPS dan TGT terhadap prestasi belajar siswa.

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang didasarkan pada teori

belajar konstruktif. Dimana untuk membangun suatu pengetahuan baru atau

pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan dan pengalaman yang

telah dmlikinya melalui berinteraksi sosial dengan peserta lain maupun dengan

gurunya. (Ella, 2004: 54 ).

Keunggulan dari model pembelajaran TPS adalah: Siswa tidak terlalu

menggantungkan guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan

berfikir sendiri, menemukan informasi dan belajar dari siswa lain.,

mengembangkan kemampuan dalam mengungkapkan ide atau gagasan kemudian

commit to user

dengan orang lain membantu siswa untuk lebih bertanggungjawab dalam

melaksanakan tugasnya, meningkatkan motivasi dan ransangan untuk berfikir,

meningkatkan prestasi akademik serta kemampuan sosialnya, optimaliasasi

partisipasi siswa lebih tinggi. Sedangkan kelemahan dari TPS (Think-Pair-Share) antara lain: Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas,

membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas, peralihan dari

seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran. Sedangkan

kelebihan metode TGT (Teams Games Tournament) : Melatih siswa untuk bekerjasama dalam kelompok diskusi, suasana belajar nyaman, menyenangkan dan

kondusif, tercipta suasana kompetisi antara kelompok diskusi. kelemahan metode

TGT (Teams Games Tournament): tidak efisien waktu, sering mengakibatkan terjadinya kegaduhan sehingga mengganggu kelas lain.

Berdasarkan tabel 4.1 (Deskripsi data prestasi belajar kognitif siswa) maka

dapat dilihat bahwa nilai rata –rata prestasi siswa ranah kognitif untuk siswa yang

dikenai model pembelajaran tipe TPS adalah 72,11 dan siswa yang dikenai model

pembelajaran tipe TGT adalah 77,88, dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa

terdapat perbedaan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan TGT

terhadap prestasi belajar siswa dan nilai rata-rata prestasi belajar ranah kognitif

untuk siswa yang dikenai TGT lebih tinggi dari pada siswa yang dikenai TPS. Hal

ini dikarenakan pada tipe TGT, suasana belajarnya nyaman, menyenangkan ,

tercipta suasana kompetisi antara kelompok diskusi. Disamping itu anggota

kelompok pada TGT lebih banyak dari TPS, sehingga semakin banyak anggota

dalam kelompok belajar maka bantuan dari teman sebaya dalam menyelesaikan

masalah akan semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan teori belajar vygotsky yaitu

commit to user

perkembangan proximal adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya

dengan tingkat perkembangan potensial.

Sedangkan untuk prestasi afektif tidak terdapat pengaruh penggunaan

dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan tipe TGT terhadap prestasi

belajar afektif. Suharsimi (2009:177) menyatakan bahwa pengukuran ranah

afektif tidaklah semudah mengukur ranah kognitif, tidak dapat dilakukan setiap

saat karena perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu-waktu atau

bisa dikatakan perubahan afektif terjadi dalam waktu yang lama. Model

pembelajaran kooperatif tipe TPS dan TGT adalah baru bagi siswa yang menjadi

sampel pada penelitian ini, karena model pembelajaran itu belum lama diberikan

maka tidak ada pengaruh antara model pembelajaran tipe TPS dan TGT terhadap

prestasi belajar ranah afektif.

2. Hipotesis Kedua

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis kedua yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,004, karena P value < 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak ada pengaruh aktivitas belajar tinggi dan rendah

terhadap prestasi belajar kognitif ditolak. Hal ini berarti H1 diterima yaitu ada

pengaruh aktivitas belajar tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar kognitif.

Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau

rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu

indikatornya adalah keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas belajar adalah

segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas secara sadar yang dilakukan seseorang

yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan pengetahuan atau

commit to user

Dari deskripsi data aktivitas belajar tinggi dan rendah pada tabel 4.6 dapat

diketahui bahwa dari 24 siswa yang mempunyai aktivitas belajar tinggi memiliki

nilai prestasi belajar ranah kognitif rata-rata 78, 00. Sedangkan 27 siswa yang

mempunyai aktivitas belajar rendah memiliki nilai prestasi belajar ranah kognitif

rata-rata 72,33. Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh

aktivitas belajar tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar dan nilai rata-rata

untuk siswa yang mempunyai aktivitas tinggi lebih tinggi dari pada siswa yang

mempunyai aktivitas rendah. Hal ini karena aktivitas belajar siswa akan

mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan pengetahuan.

Aktivitas belajar semakin tinggi maka perubahan pengetahuan akan semakin tinggi

sehingga prestasi belajar akan semakin tinggi. Jadi ada pengaruh aktivitas belajar

tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Sedangkan untuk prestasi afektif

tidak ada pengaruh aktivitas belajar tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar

afektif. Dalam Depdiknas ( 2008, 5) ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang

penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Karakter- karakter

tersebut tidak tergantung pada aktivitas. Jadi tidak ada pengaruh aktivitas tinggi

dan rendah terhadap prestasi belajar ranah afektif.

3. Hipotesis Ketiga

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis ketiga yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,001, karena P value < 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak ada pengaruh tingkat kemampuan memori tinggi dan

rendah terhadap prestasi belajar kognitif ditolak. Hal ini berarti H1 diterima yaitu

ada pengaruh tingkat kemampuan memori tinggi dan rendah terhadap prestasi

commit to user

maka ada tiga katagori, yaitu memori sensori., memori kerja atau memori jangka

pendek, memori jangka panjang Proses mengingat informasi oleh otak diawali dari

informasi yang mengenai pancaindra (input sensorik) disimpan dalam memori

sensori. Setelah itu melakukan attensi dan informasi disimpan dalam memori

pendek kemudian melakukan latihan akan disimpan dalam memori panjang.

(Yovan 2010 : 32 -33)

Dari deskripsi data kemampuan memori tinggi dan rendah pada tabel 4.9

dapat diketahui bahwa dari 26 siswa yang mempunyai kemampuan memori tinggi

memiliki nilai prestasi belajar ranah kognitif rata-rata 77,85. Sedangkan 25 siswa

yang mempunyai kemampuan memori rendah memiliki nilai prestasi belajar ranah

kognitif rata-rata 72,04. Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ada

pengaruh tingkat kemampuan memori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar

dan nilai rata-rata untuk siswa yang mempunyai kemampuan memori tinggi lebih

tinggi dari pada siswa yang mempunyai kemampuan memori rendah. Hal ini

karena semakin tinggi kemampuan memori seseorang berarti semakin tinggi pula

kemampuan untuk menyimpan informasi akibatnya prestasi belajarnya juga akan

tinggi. Sedangkan untuk prestasi afektif tidak ada pengaruh tingkat kemampuan

memori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar afektif. Hal ini karena karakter

dari afektif tidak tergantung pada kemampuan memori.

4. Hipotesis Keempat

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis keempat yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,014, karena P value < 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak ada interaksi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT) dengan aktivitas belajar

commit to user

siswa terhadap prestasi belajar kognitif ditolak. Hal ini berarti H1 diterima yaitu

ada interaksi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan

Teams Games Tournament (TGT) dengan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar kognitif. Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika

tidak ada aktivitas. Itulah mengapa aktivitas merupakan prinsip yang sangat

penting dalam interaksi belajar mengajar”(Sardiman, 2001:93). . Menurut Slavin

dalam agus sintak dari metode ini adalah: Thinking (Berpikir), Guru mengajukan pertanyaan untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada

mereka untuk memikirkan jawabannya secara perorangan. Pairing(Berpasangan), Guru meminta kepada siswa untuk berpasang-pasangan. Pasangan siswa itu diberi

kesempatan untuk berdiskusi. Sharing (berbagi), Hasil diskusi dari tiap-tiap pasangan tadi dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas.

Menurut slavin ada lima komponen utama dalam TGT,yaitu: Penyajian

kelas, pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi. Team (kelompok), kelompok biasanya terdiri atas empat sampai dengan lima orang siswa.Fungsi

kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya.

Game, game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji

pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.

Turnamen, setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikan tugas-tugasnya. Penghargaan kelompok (team recognise), Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan

mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang

commit to user

Pada kedua tipe model pembelajaran diatas melibatkan aktivitas –aktivitas

siswa karena aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara

jasmani atau rohani. Dari deskripsi data aktivitas belajar pada tiap-tiap model

pembelajaran yang terdapat pada tabel 4.4 dan 4,5 terlihat bahwa nilai rata-rata

prestasi belajar siswa dengan Aktivitas belajar tinggi berturut-turut adalah 77, 25

untuk TPS; 78,75 untuk TGT; sedangkan nilai rata-rata prestasi belajar siswa

dengan aktivitas belajar rendah berturut-turut adalah 68,40 untuk TPS; 77,25

untuk TGT. Siswa yang diberi pembelajaran dengan pembelajaran TGT akan

selalu mempunyai prestasi yang lebih baik walaupun aktivitas belajarnya rendah.

Siswa yang diberi pembelajaran dengan tipe TPS akan mempunyai prestasi yang

lebih baik jika aktivitas belajar tinggi, tetapi jika aktivitas belajarnya rendah akan

mempunyai prestasi yang kurang baik. Hal ini karena pada pembelajaran TPS ada

tahap think dimana tahap ini siswa dituntut mandiri.

Jadi bagi siswa yang mempunyai aktivitas rendah prestasi belajarnya juga

akan rendah. Tetapi untuk siswa yang dikenai TGT walaupun dia mempunyai

aktivitas rendah prestasinya tetap akan baik, karena siswa akan langsung

terbantukan dalam memahami materi pelajaran oleh teman-temannya ketika

masuk pada tahap team. Jadi bisa disimpulkan bahwa ada interaksi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT) dengan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar kognitif. Sedangkan untuk prestasi afektif tidak ada interaksi model pembelajaran

kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT) dengan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar afektif. Hal ini karena tidak

commit to user

ada pengaruh model pembelajaran maupun aktivitas dengan prestasi belajar ranah

afektif.

5. Hipotesis Kelima

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis kelima yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,623, karena P value > 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak ada interaksi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT) dengan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar kognitif diterima. Hal ini berarti H1 ditolak.

Dari tabel 4.7 (Deskripsi data kemampuan memori tinggi dan rendah pada TPS)

dan 4.8 (Deskripsi data kemampuan memori tinggi dan rendah pada TGT ) dapat

dilihat bahwa nilai rata-rata prestasi belajar siswa dengan kemampuan memori

tinggi berturut-turut adalah 75,31 untuk TPS; 80,38 untuk TGT; sedangkan nilai

rata-rata prestasi belajar siswa dengan kemampuan memori rendah berturut-turut

adalah 69,57 untuk TPS; 75,18 untuk TGT.

Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa apapun model pembelajaran

yang dipakai, siswa yang mempunyai kemampuan memori tinggi tetap akan

mempunyai prestasi yang tinggi. Sedangkan apapun modelnya yang dipakai untuk

kemampuan memori rendah akan menghasilkan prestasi rendah bila dibanding

dengan prestasi pada siswa berkemampuan memori tinggi. Dari data tabel 4,7 dan

4,8 juga bisa dikatakan bahwa kemampuan memori untuk segala katagori baik

tinggi atau rendah yang dikenai model pembelajaran TGT relatif mempunyai nilai

prestasi yang lebih tinggi dibanding bila dikenai model pembelajaran TPS. Hal ini

karena model pembelajaran TGT anggotanya kelompoknya lebih banyak dari

commit to user

memahami materi pelajaran. Dari data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa

tidak ada interaksi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan

Teams Games Tournament (TGT) dengan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar. Hal yang sama juga terjadi pada prestasi belajar afektif atau bisa

dikatakan tidak ada interaksi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share

(TPS) dan Teams Games Tournament (TGT) dengan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar afektif. Hal ini karena tidak ada pengaruh model

pembelajaran maupun kemampuan memori. dengan prestasi belajar ranah afektif.

6. Hipotesis Keenam

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis keenam yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,226, karena P value > 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak ada interaksi antara aktivitas belajar dan kemampuan

memori terhadap prestasi belajar kognitif siswa diterima. Hal ini berarti H1 ditolak.

Dari tabel 4.10 (Deskripsi data kemampuan memori tinggi dan rendah pada

aktivitas belajar tinggi) dan 4.11 (Deskripsi data kemampuan memori tinggi dan

rendah pada aktivitas belajar rendah) didapatkan bahwa nilai rata-rata prestasi

belajar siswa dengan kemampuan memori tinggi berturut-turut adalah 82,00 untuk

aktivitas belajar tinggi; 74,29 untuk aktivitas rendah; sedangkan nilai rata-rata

prestasi belajar siswa dengan kemampuan memori rendah berturut-turut adalah

74,00 untuk aktivitas belajar tinggi; 70,23 untuk aktivitas rendah. Berdasarkan

hasil tersebut dapat dilihat bahwa untuk segala katagori aktivitas belajar baik

tinggi maupun rendah yang terjadi pada siswa dengan kemampuan memori tinggi

akan mempunyai nilai prestasi yang baik dibandingkan dengan siswa yang

commit to user

disimpulkan bahwa tidak ada interaksi antara aktivitas belajar dan kemampuan

memori terhadap prestasi belajar kognitf siswa. Hal yang sama juga terjadi pada

prestasi afektif atau bisa dikatakan tidak ada interaksi antara aktivitas belajar dan

kemampuan memori terhadap prestasi belajar afektif. Hal ini karena tidak ada

pengaruh aktivitas belajar maupun kemampuan memori. dengan prestasi belajar

ranah afektif.

7. Hipotesis Ketujuh

Hasil analisis General Linier Model (GLM) untuk hipótesis keenam yang

ditunjukkan pada tabel 4.34 adalah P value = 0,327, karena P value > 0,05 maka

H0 yang menyatakan tidak ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe

Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT), aktivitas belajar dan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar kognitif diterima. Hal ini

berarti H1 ditolak. Ini dapat dijelaskan dengan melihat tabel 4.12 (Deskripsi data

kemampuan memori tinggi dan rendah pada TPS danAktivitas belajar tinggi),

tabel 4.13 (Deskripsi data kemampuan memori tinggi dan rendah pada TPS dan

aktivitas belajar rendah), tabel 4.14 (Deskripsi data kemampuan memori tinggi

dan rendah pada TGT dan aktivitas belajar tinggi) tabel 4.15 (Deskripsi data

kemampuan memori tinggi dan rendah pada TGT dan aktivitas belajar rendah).

Dari data tersebut bisa diketahui bahwa apapun model pembelajaran yang dipakai

dan berapapun tingkat aktivitasnya, maka siswa yang mempunyai kemampuan

memori tinggi akan memiliki prestasi yang tinggi. Dan siswa yang mempunyai

kemampuan memori rendah akan memiliki prestasi rendah. Sehingga dapat

commit to user

Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT), aktivitas belajar dan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar kognitif. Untuk prestasi

afektif juga demikian atau bisa dikatakan tidak ada interaksi antara model

pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Teams Games Tournament (TGT), aktivitas belajar dan kemampuan memori siswa terhadap prestasi belajar afektif. Hal ini karena tidak ada pengaruh model pembelajaran,

aktivitas belajar maupun kemampuan memori. dengan prestasi belajar ranah

afektif.

Dokumen terkait