BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
4.3.1 Keterlaksanaan Pembelajaran PMRI
Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PMRI harus
dimulai sesuatu yang nyata atau mampu dibayangkan oleh siswa sehingga siswa
dapat terlibat dalam proses pembelajaran secara bermakna. Peran guru dalam
pembelajran yaitu sebagai fasilitator, membangun pengajaran yang interaktif, guru
harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang
pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menfsirkan
persoalan riil, serta guru tidak terpancang pada materi yang termasuk dalam
kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik
maupun sosial.
Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
mempunyai 5 karakteristik. Karakteristik itu diantaranya adalah karakteristik
penggunaan konteks, karakteristik pemanfaatan konstruksi siswa, karakteristik
interaktivitas, karakteristik penggunaan model, dan karakteristik keterkaitan.
Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PMRI harus
memunculkan kelima karakteristik PMRI.
19.35% 80.65% 0% 0%
Kelas Kontrol
Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang AktifPada penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran dilakukan oleh wali
kelas yang lebih mengenal karakteristik siswanya. Keterlaksanaan pendekatan
PMRI didalam pembelajaran diperoleh dua data penelitian yaitu berdasarkan
dokumentasi dan berdasarkan pengamatan untuk melihat kemunculan
karanteristik PMRI. Pada setiap pertemuan sebanyak 4 kali pertemuan
menunjukkan bahwa kelima karakteristik PMRI muncul pada setiap pembelajaran
sehingga keterlaksanaan pendekatan PMRI dalam proses pembelajaran sangat
terlaksana. Hal tersbut ditunjukkan dengan perhitungan skor rata-rata yang
diperoleh melalui pengamatan pada seluruh pertemuan diperoleh 36,25 yang
termasuk dalam kriteria sangat terlaksana.
4.3.2 Keefektifan PMRI
4.3.2.1 Keefektifan PMRI Berdasarkan Hasil Belajar
Hasil belajar adalah skor atau nilai yang menunjukkan perubahan anak
dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik, namun penelitian ini hanya melihat
dari segi kognitif saja untuk melihat hasil belajar. Hasil belajar dapat diukur
dengan tes atau evaluasi. Tes yang digunakan berupa soal cerita yang merupakan
soal cerita yang konteks dan sering dijumpai oleh siswa. Soal tes yang akan
digunakan menjadi soal pretest dan posttest telah diuji terlebih dahulu untuk melihat tingkat valid dan reliabelnya di SD yang berbeda.
Analisis data hasil belajar menggunakan 2 cara yaitu menggunakan SPSS
SPSS 20 for windows dan ditijau dari ketuntasan hasil belajar berdasarkan KKM. Hasil belajar dengan menggunakan program komputer SPSS 20 for windows
dilakukan dengan beberapa langkah yaitu uji normalitas, ujihomogenitas, uji
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolgomorov Smirnov Z.
Hasil analisis statistik menunjukkan, aspek pretest kelas kontrol dan posttest kelas kontrol memiliki distribusi data normal karena harga sig (2-tailed) pretest kelas kontrol berada di atas 0,05 yaitu sebesar 0,808 dan harga sig (2-tailed) postest
kelas kontrol 0,179. Pada kelas eksperimen jugaa memiliki distribusi data yang
normal pada pretest maupun posttest. Harga sig (2-tailed) pretest kelas eksperimen berada di atas 0,05 yaitu sebesar 0,185 dan harga sig (2-tailed) posttest kelas eksperimen yaitu 0,811.
Setelah melakukan uji normalitas maka dilakukan uji homogenitas
menggunakan Levene test. Hasil uji statistik untuk analisis data pretest
menunjukkan harga Sig. > 0,05 yaitu sebesar 0.996. Sedangkan untuk analisis data posttest menunjukkan harga sig. > 0,05 yaitu 0,617. Hal ini menunjukkan adanya homogenitas data pada data pretest maupun posttest.
Uji statistik selanjutya setelah data penelitian normal dan homogen yaitu
menggunakan statistic parametris. Statistik parametris yang digunakan adalah
Paired t-test untuk melihat perbedaan rata-rata pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari analisis data yang telah dilakukan,
menunjukkan bahwa hasil belajar pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
terdapat kenaikan yang signifikasn pada rata-rata pretest dan posttest. Hal itu ditunjukkan dengan harga sig. (2-tailed) <0,05, yaitu 0,000. Dengan kata lain ada kenaikan yang signifikan yang terjadi antara rata-rata pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Kelas eksperimen dan kelas kontrol sama-sama terdapat kenaikan pada
apakah penggunaan pendekatan PMRI berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil
analisis akan digunakan sebagai titik pijak untuk menarik kesimpulan apakah hasil
penelitian ini menerima atau menolak hipotesis penelitian. Kriteria yang
digunakan untuk menarik kesimpulan adalah jika nilai signifikansi kurang dari
0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan antara data posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Hasil uji statistik menggunakan Independent Sample t-test melihat dari
two-tailed dan one-tailed. Pada hasil sig.2-tailed > 0,05 yaitu 0,000. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada hasil one-tailed digunakan untuk melihat kelas yang lebih tinggi rata-rata skor posttestnya, diperlukan pembandingan t test dan t tabel. Jika t test > t tabel, maka µE > µK sehingga rata-rata posttest kelas eksperimen lebih tinggi dari rata-rata kelas kontrol. Jika t test ≤ t tabel, maka µE≤ µK sehingga rata-rata posttest kelas eksperimen lebih rendah dari rata-rata kelas kontrol.
Berdasarkan hasil uji statistik t-test pada rata-rata posttest yaitu 4,109. T tabel untuk distribusi frekuensi 60 yaitu 1,671. Maka dapat dikatakan bahwa t-test
> t tabel yaitu 4,109 > 1,671. Setelah melihat t-test dan t tabel, kemudian melihat
rata-rata posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil perbandingan rata-rata
posttest menunjukkan rata-rata posttest kelas eksperimen yaitu 8,02 dan kelas kontrol yaitu 6,91. Berdasarkan hasil perbandingan rata-rata posttest dapat
dikatakan bahwa rata-rata posttest kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas
kontrol yaitu 8,02 > 6,91.
Uj perbandingan posttest masih dilihat dari rata-rata skor kelas dan standar deviasi. Jika nilai rata-rata kelas mempunyai rata-rata skor tinggi namun standar
deviasi rendah, maka kelas tersebut lebih baik dari pada kelas yang mempunyai
rata-rata skor rendah namun standar deviasinya tinggi. Pada hasil statistik
menunjukkan pada kelas eksperimen mempunyai rata-rata skor 8,02 dan standar
deviasi 1.039, sedangkan pada kelas kontrol rata-rata skor 6,91 dan standar
deviasi 1,081. Perbandingan rata-rata dan standar deviasi antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol dapat dikatakan bahwa kelas eksperimen yang menggunakan
pendekatan PMRI lebih baik daripada kelas kontrol yang tidak menggunakan
pendekatan PMRI.
Analisis data hasil belajar selain menggunakan program SPSS, juga
menggunakan pedoman Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Batas Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) di SD Negeri Keputran A Yogyakarta yaitu ≥ 70. Setelah hasil belajar siswa dari data posttest di rata-rata kemudian dibandingkan dengan nilai KKM. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kelas eksperimen
lebih banyak siswa yang tuntas KKM dari pada kelas kontrol. Kelas eksperimen
memiliki persentase sebanyak 80,64% siswa yang tuntas KKM sedangkan kelas
kontrol hanya memiliki persentase sebanyak 61,19%. Berdasarkan hasil
penghitungan uji statistik dan KKM dapat dikatakan bahwa pendekatan PMRI
efektif terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Keputran A Yogyakarta
pada pembelajaran materi penjumlahan pecahan.
4.3.2.2 Keefektifan PMRI Berdasarkan Keaktifan
Keaktifan merupakan kegiatan belajar yang dilakukan dalam proses
pembelajaran (mencari informasi, mengolah informasi, dan menyimpulkannya
yang menyenangkan. Keaktifan belajar siswa ini sangat perlu dilakukan agar
belajar menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.
Penelitian yang telah dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
melalui pengamatan dan kuesioner keaktifan siswa. Hasil pengamatan keaktifan
menunjukkan di kelas eksperimen terdapat 21,77% siswa sangat aktif dan 50%
siswa aktif, sedangkan di kelas kontrol terdapat 14,51% siswa sangat aktif dan
40,32% siswa aktif. Hasil keaktifan didukung dengan hasil kuesioner keaktifan
yang menunjukkan bahwa di kelas eksperimen terdapat 54,83% siswa sangat aktif
dan 45,16% siswa aktif, sedangkan kelas kontrol terdapat 19,35% siswa sangat
aktif dan 80,64% siswa aktif. Hasil pengamatan dan kuesioner keaktifan siswa
menunjukkan pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Maka
dapat dikatakan bahwa pendekatan PMRI efektif terhadap keaktifan siswa kelas
IV SD Negeri Keputran A Yogyakarta pada pembelajaran materi penjumlahan
pecahan.