• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Teori-teori yang Mendukung

a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran

Komalasari (2011:54) mendefinisikan pendekatan pembelajaran

merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang

sifatnya masih sangat umum. Proses pembelajaran mewadahi, menginspirasi,

menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.

Pernyataaan tersebut diperkuat dengan pernyataan menurut Danim (2008) bahwa

pendekatan pembelajaran adalah sebagai sudut pandang kita terhadap pandangan

tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Pemilihan

pendekatan dalam pembelajaran merupakan hal yang penting untuk mencapai

tujuan pembelajaran.

Galo dalam Siregar dan Nara (2011:75) menjelaskan pendekatan pembelajaran

yaitu suatu cara pandang dalam mengupayakan cara siswa berinteraksi dengan

lingkungannya. Jadi, pendekatan pembelajaran yaitu strategi terhadap proses

b. Keefektifan

Triatna (dalam Supardi, 2013:2) mendefinisikan efektivitas adalah ukuran

yang menyatakan sejauh mana sasaran/tujuan (kuantitas, kualitas dan waktu)

telah dicapai.

Keefektifan pembelajaran adalah hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan

proses belajar mengajar (Sardiman dalam Trianto, 2009:20). Suatu

pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan utama

keefektifan pengajaran, yaitu:

1. Presentase waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM.

2. Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi di antara siswa.

3. Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa

(orientasi keberhasilan belajar) diutamakan

4. Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, (Soemosasmito

dalam Trianto, 2009:20).

Mengajar yang efektif berarti guru dan siswa melakukan kegiatan-kegiatan

yang tepat dan mencapai tujuan mengajar. Kegiatan guru dan kegiatan siswa

harus direncanakan dan dilaksanakan secara efektif mencakup:

1. Guru dan siswa peka pada bahan ajar, kebutuhan siswa, serta tujuan yang

hendak dicapai.

2. Penggunaan metode mengajar dan teknik mengajar guru secara tepat.

3. Penggunaan tes awal dan tes akhir untuk mengetahui hasil yang dicapai

Jadi, keefektifan pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang

diusahakan sedemikian rupa baik dari penataan ruang kelas (fisik) sampai

metode yang digunakan (non fisik) untuk mencapai tujuan belajar.

c. Hasil Belajar

Masidjo (2010: 40) mendefinisikan hasil belajar adalah skor atau nilai

yang menunjukkan prestasi seseorang dalam suatu bidang sebagai hasil belajar

yang khas yang dilakukan secara sengaja dalam bentuk pengetahuan,

pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai. Hasil belajar siswa dipengaruhi

oleh kemampuan kognitif yang dimiliki siswa dan fakor lain di antaranya

situasi belajar yang diciptakan guru. Hasil belajar dapat diukur dengan tes atau

evaluasi. Evaluasi merupakan suatu kegiatan memperbandingkan hasil

pengukuran sifat suatu objek dengan acuan yang relevan sedemikian rupa

sehingga diperoleh suatu kualitas yang bersifat kuantitatif, menggunakan

simbol berupa angka atau huruf.

Winkel (2009: 45) mendefinisikan hasil belajar adalah perubahan yang

mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Rangkaian

proses belajar dilakukan dalam bentuk keterlibatannya dalam pendidikan

informal, formal, dan nonformal. Belajar menurut Gora dan Sunarto (2010:

15) adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh

penguasaan kompetensi baru secara permanen sebagai hasil dari pengalaman

individu iu sendiri dalam berineraksi dengan lingkungannya. Daryanto dan

Rahardjo (2012: 16) mengemukakan belajar adalah proses melihat,

perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Menunjuk pada

definisi-definisi belajar di atas yang dimaksud belajar adalah perubahan

tingkah laku yang relatif menetap dari usaha seseorang yang berinteraksi

dengan lingkungannya Kemampuan inilah yang membedakan manusia dengan

makhluk lain. Jadi, hasil belajar adalah skor yang diperoleh siswa setelah

mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

d. Keaktifan Siswa

Chaer (2011:260) menjelaskan keaktifan adalah kata yang memiliki kata

dasar aktif dan memiliki awalan ke- dan akhiran –an. Imbuhan ke-an dapat memiliki makna hal atau keadaan. Keadaan yang dimaksud yaitu keterlibatan

secara aktif.

Uno (2011:10) mengungkapkan bahwa pembelajaran yang aktif adalah

siswa sebagai peserta belajar yang harus aktif dalam pembelajaran sedangkan

peran guru sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang kondusif atau

sebagai fasilitator dalam belajar. Jika proses pembelajaran aktif maka siswa akan

saling berdialog secara interaktif antara siswa dan siswa, siswa dengan guru atau

siswa dengan sumber yang lainnya. Yamin (2007:77) mengungkapakan keaktifan

siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat

yang dimiliknya, berfikir kritis, dan dapat memecahkan

permasalaha-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Yamin (2007:77) juga menyebutkan ada 6 aspek terjadinya keaktifan

siswa. Aspek pertama adalah partisipasi siswa dalam menerapkan tujuan

belajar. Partispasi siswa dalam kegiatan pembelajaran terutama yang

berbentuk interaksi antar siswa merupakan aspek yang ketiga. Aspek yang

keempat yaitu kekompakan kelas sebagai kelompok belajar. Aspek kelima

adalah kebebasan belajar yang diberikan kepada siswa dan kesempatan untuk

berbuat serta mengambil keputusan penting dalam proses pembelajaran.

Aspek yang keenam adalah pemberian waktu untuk menanggulangi masalah

pribadi siswa. Jadi, keaktifan siswa adalah keterlibatan siswa secara aktif

untuk mencari, memperoleh, dan mengolah belajarnya sendiri.

e. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

Menurut Hadi (2005:7) pendekatan PMRI (Pendidikan Matematika

Realistik Indonesia) merupakan pendekatan pembelajaran matematika yang

diprakarsai oleh seorang profesor matematika dari ITB (Institut Teknik Bandung).

Pendekatan PMRI ini mengadaptasi pendekatan pembelajaran matematika di

Belanda yang dikembangkan di Institut Freudenthal sejak tahun 1971 yang diberi

nama RME (Realistic Mathematic Education) atau PMR (Pendidikan Matematika Realistik).

Hadi (2005:36) menyebutkan pendekatan PMR sejalan dengan teori

belajar konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual. Selain itu pendekatan

PMRI mengajarkan matematika yang dapat dibayangkan dan disenangi oleh

siswa. Suryanto (2010:37) menyatakan bahwa Pendidikan Matematika Realistik

Indonesia adalah pendidikan matematika sebagai adaptasi dari RME yang

diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat

Realistik, permasalahan realistik digunakan sebagai fondasi dalam membangun

konsep matematika atau sumber dalam pembelajaran (a source for learning).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia adalah pendekatan yang dirancang

khusus untuk pembelajaran matematika yang dekat dengan kehidupan

sehari-hari dan budaya di Indonesia.

Pendekatan PMRI memiliki beberapa prinsip yang merupakan dasar

teoritis PMRI yaitu:

1. Guided re-invention (Penemuan Kembali Secara Terbimbing)

Suryanto (2010:42) menyebutkan bahwa penggunaan masalah yang

kontekstual yang realistis yang mengandung topik matematis, siswa diberi

kesempatan untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan konsep

matematis.

2. Progressive Mathematization (Matematisasi Progresif)

Wijaya (2011:32) menyatakan matematisasi diartikan sebagai proses

mematematikakan suatu konteks, yaitu proses menerjemahkan suatu konteks

menjadi konsep matematika. Menurut Suryanto (2010:42) dikatakan progresif

karena terdiri atas dua langkah yang berurutan, yaitu matematisasi horisontal

(berawal dari masalah kontekstual yang diberikan dan berakhir pada matematika

formal) dan matematisasi vertikal (dari matematika formal ke matematika formal

yang lebih luas).

Suryanto (2010:42) menyatakan bahwa prisip ini menekankan fenomena

pembelajaran yang bersifat mendidik dan menekankan pentingnya masalah

kontekstual untuk memperkenalkan topik-topik matematika kepada siswa.

4. Self-developed Model (Membangun Sendiri Model).

Terdapat 2 model dalam pendekatan PMRI, yaitu model of dan model for.

Suryanto (2010:43) menyatakan Model of masih dapat disebut dengan

matematika informal. Model for adalah model yang sudah sangat erat dengan

matematika formal.

Pendekatan PMRI memiliki lima karakteristik PMRI (de Lange dalam

Zulkardi, 2005: 14), yaitu:

1. The use of context (penggunaan masalah kontekstual)

Masalah kontekstual berfungsi untuk memanfaatkan realitas sebagai sumber

aplikasi matematika. Selain itu juga untuk melatih kemampuan siswa khususnya

dalam menerapkan matematika pada situasi nyata. Bentuk konteks tidak harus

berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan, penggunaan

alat peraga, atau situasi lain selama hal tersebut bermakna dan dapat dibayangkan

oleh siswa.

2. The use of models (penggunaan berbagai model)

Istilah model berkaitan dengan model matematika yang merupakan jembatan

bagi siswa jembatan bagi siswa dari situasi informal ke formal. Model dapat

berupa model yang menggambarkan situasi konteks maupun model yang

dikembangkan siswa uang mengarah pada pencarian solusi secara sistematis.

Menggunakan kontribusi siswa dimana siswa diberi kesempatan untuk

mengembangkan strategi-strategi informal dalam menyelesaikan masalah yang

dapat mengarahkan mereka pada pengkontribusian prosedur pemecahan, dengan

bimbingan guru diharapkan siswa bisa menemukan. Hasil konstruksi siswa akan

digunakan sebagai landasan pengembangan konsep matematika.

4. Interactivity (interaktivitas)

Interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru serta siswa dengan

perangkat pembelajaran juga harus ada dalam pembelajaran. Bentuk-bentuk

interaksi misalnya diskusi, penjelasan, persetujuan, pertanyaan, dan sebagainya

digunakan untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari

bentuk-bentuk pengetahuan matematika informal yang ditentukan sendiri oleh siswa.

5. Intertwining (keterkaitan)

Struktur dan konsep matematika saling berkaitan, biasanya pembahasan suatu

topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses

pembelajaran yang lebih bermakna.

f. Pecahan

Heruman (2007:43) menyebutkan pecahan adalah suatu bilangan

rasional yang menyatakan bagian dari suatu benda yang utuh. Bagian dalam

gambar merupakan bagian yang ditandai dengan arsiran. Bagian yang diarsir

merupakan pembilang dan yang utuh merupakan penyebut. Pecahan

merupakan bagian dari bilangan rasional yang dapat ditulis dalam bentuk

dengan a dan b merupakan bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol

menggunakan obyek-obyek nyata. Peraga dapat berupa daerah-daerah bangun

datar beraturan misalnya persegi, persegi panjang, atau lingkaran yang akan

sangat membantu dalam memperagakan konsep pecahan.

Marsigit (2009:34) menjelaskan pecahan adalah bilangan yang

dinyatakan dalam bentuk , dengan a dan b adalah bilangan bulat, bilangan b

≠ 0, dan bilangan b bukan faktor dari bilangan a. Bilangan a disebut pembilang dan bilangan b disebut penyebut. Bilangan b tidak sama dengan 0

karena bilangan b merupakan unit dasar keutuhan, jika 0 berarti tidak ada unit

lengkap yang dapat digunakan untuk membandingkan bagian-bagian lain.

Jadi pecahan merupakan bilangan rasional yang dapat ditulis dalam

bentuk

dengan a dan b merupakan bilangan bulat, bilangan b tidak sama dengan

nol, dan bilangan b bukan faktor bilangan a.

Operasi penjumlahan pecahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu

penjumlahan pecahan berpenyebut sama dan penjumlahan pecahan

berpenyebut berbeda. Berikut penjelasan kedua penjumlahan tersebut.

a. Penjumlahan pecahan berpenyebut sama

Penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama dilakukan dengan menjumlahkan

pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebutnya tidak dijumlahkan

(Sukayati, 2003:20)

Contoh: 1

4 + 2

4 = 3

4

b. Penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda

Penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama dapat diselesaikan dengan cara

yang senilai), kemudian menjumlahkan pecahan baru seperti pada

penjumlahan pecahan berpenyebut sama (Sukaryati, 2003:12).

Contoh: 1

4 + 1

2 = 3

4

Dokumen terkait