BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pembahasan ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang diangkut dalam penelitian. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan 2 Siklus yang setiap Siklusnya dilakukan dengan empat
47.12% 43.27% 37.50% 33.66% 40.39% 80.77% 76.93% 71.16% 62.50% 72.84% 95.19% 93.26% 91.53% 90.38% 92.59% 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00% Pra Siklus Siklus I Siklus II
67
kali pertemuan. Untuk dapat mengetahui hasil dari kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20) menggunakan beberapa teknik penilaian yaitu observasi dan portofolio. Teknik penilaian observasi dan portofolio digabung menjadi satu sehingga dapat mengetahui hasil dari penelitian.
Sebelum dilakukan tindakan pada kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20), hasilnya dapat dilihat dari tabel 6 yaitu anak yang dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 1-5 (47,12% dengan kriteria sedang), anak yang dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 6-10 (43,27% dengan kriteria sedang), anak yang dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 11-15 (37,5% dengan kriteria sedang), serta anak yang dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 16-20 (33,66% dengan kriteria sedang). Dari hasil ini maka diperoleh angka kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20) secara keseluruhan sebesar 40,39% dengan kriteria sedang. Berdasarkan hasil tersebut maka kemampuan anak dalam operasi bilangan penjumlahan (1-20) masih kurang, karena dalam pembelajaran pendidik hanya menjelaskan dengan menuliskan di papan tulis,sehingga pada saat menuliskan dipapan tulis anak berlari dan bermain sendiri dengan temanya. Kemudian hanya menggunakan LKA yang siap digunakan, dan tidak menggunakan media yang konkret dalam pembelajaran. Dengan begitu, anak kurang paham dalam pembelajaran operasi bilangan penjumlahan (1-20). Oleh karena itu perlu adanya tindakan untuk menanggulangi permasalahan tersebut.
68
Setelah dilakukan tindakan Siklus I pada kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20) terjadi peningkatan baik dari setiap indikator maupun dari keseluruhan. Persentase anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 1-5 sebesar 80,77% dengan kriteria sangat tinggi, anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 6-10 sebesar 76,93% dengan kriteria sangat tinggi, anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 11-15 sebesar 71,16% dengan kriteria tinggi, dan anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 16-20 sebesar 62,5% dengan kriteria tinggi. Dari hasil ini maka diperoleh angka kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20) sebesar 72,84% dengan kriteria tinggi. Pada Siklus ini sudah mengalami peningkatan dari pada Pra Siklus.
Peningkatan yang terlihat pada Siklus ini, sebagian anak sudah mulai fokus, tertarik, dan paham dengan operasi bilangan penjumlahan (1-20) yang dijelaskan dengan menggunakan benda konkret yang berupa media manik-manik. Penggunaan media manik-manik mempunyai peran yang sangat baik untuk peningkatan operasi bilangan penjumlahan sehingga kemampuan anak terstimulasi dengan baik.Hal ini sejalan dengan teori menurut Sudaryanti (2006: 19) bahwa penjumlahan dapat dilakukan dengan benda-benda konkret yang berada disekitar anak seperti manik-manik. Selain itu, dalam teori Piaget (Slamet Suyanto, 2005: 53) juga mengemukakan bahwa anak pada usia 2-7 tahun berada dalam tahap Praoperasional yang dimana pada tahap ini anak mulai menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas dibandingkan dengan tahap sebelumnya kemudian pada tahap ini anak masih menggunakan simbol
69
dalam menunjuk suatu hal dan belum dapat berfikir abstrak, selain itu pada tahap Praoperasional, anak akan belajar dengan baik apabila menggunakan benda konkret. Selain itu, ketika anak diberikan LKA yang dibuat oleh peneliti dengan pendidik dimana LKA yang berpola anak mulai bisa paham dan mengerti dengan operasi bilangan penjumlahan. Akan tetapi, ada juga anak yang tidak mau megerjakan LKA dikarenakan jumlah soal di LKA yang banyak sehingga anak banyak yang mengeluh kepada gurunya serta dengan LKA yang berpola banyak anak yang hanya menjawab dengan hafalan.
Pada Siklus I ini masih belum mencapai pada indikator keberhasilan, karena pada Siklus ini masih ada anak yang mulai tidak fokus. Ketidak fokusan anak ini terjadi karena bentuk media yang digunakan kurang bervariasi dimana dalam satu pertemuan hanya menggunakan bentuk manik-manik yang sama sehingga anak merasa bosan dan ramai dengan temanya, akan tetapi anak masih mau memperhatikan guru setelah diberi teguran dari guru. Ketika menjawab pertanyaan seputar operasi bilangan penjumlahan (1-20) anak bisa menjawab tetapi hanya ikut-ikutan dengan temanya saat pembelajaran.
Kesulitan yang dialami anak ketika mengoperasikan bilangan penjumlahan pada bilangan 11 sampai dengan 20. Sedangkan operasi bilangan penjumlahan ini dari bilangan 1 sampai dengan 20. Ketika menggunakan model pembelajaran yang digunakan secara klasikal secara bersama-sama dengan model klasikal banyak anak yang meminta untuk menghitungnya sendiri dan ada pula anak yang hanya diam saja tidak
70
menjawab dari pertayaan guru. Hal ini berpengaruh terhadap penilaian kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20).
Pada penelitian Siklus II hasil pengamatan kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20) juga mengalami peningkatan. Persentase anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 1-5 ada 95,19% dengan kriteria sangat tinggi, 93,26% dengan kriteria sangat tinggi anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 6-10, 91,53% dengan kriteria sangat tinggi anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 11-15, serta 90,38% dengan kriteria sangat tinggi anak dapat menghitung hasil penjumlahan bilangan 16-20. Dari hasil ini maka diperoleh angka kemampuan operasi bilangan penjumlahan (1-20) secara keseluruhan sebesar 92,59% dengan kriteria sangat tinggi.
Pada Siklus ini menunjukkan beberapa perubahan pada mengoperasikan bilangan penjumlahan (1-20) setelah dilakukan perbaikan-perbaikan dalam model pembelajaran, penambahan media manik-manik, pemberian reward, dan bentuk LKA. Pada saat anak bisa menjawab anak akan diberikan reward
yang berupa bintang sehingga antusias anak dalam megikuti pembelajaran akan meningkat dan lebih aktif. Pada LKA dibuat tidak berpola sehingga anak akan lebih tertantang dalam menjawab, pembuatan LKA yang tidak berpola atau acak mengantisipiasi agar anak tidak haya hafalan ketika menjawab sehingga mengerti betul akan operasi bilangan penjumlahan.
Pada Siklus I dengan model pembelajaran secara klasikal anak yang belum terlihat aktif hanya diam saja kemudian diubah menjadi model
71
pembelajaran individu pada Siklus II sehingga anak yang hanya diam bisa menjadi aktif menghitung melalui manik-manik dengan sendiri sehingga dengan mencoba sendiri anak akan lebih aktif dalam pembelajaran operasi bilangan penjumlahan. Hal ini sesuai dengan beberapa kelebihan dari manik menurut Sadiman (dalam Reni Rahayu, 2011: 10) yaitu media manik-manik dapat meningkatkan keaktifan anak. Sehingga dengan anak mencoba menghitung sendiri maka anak akan terihat aktif dan dengan aktif ini anak bisa paham dan bisa tahu dengan benar apa yang sedang di pelajari.
Pada saat bentuk manik-manik yang ditambah danjumlah manik-manik ditambah maka anak menjadi lebih tertarik sehingga menjadi fokus dan paham serta antusias anak dalam mengikuti pembelajaran operasi bilangan ini menjadi tambah, karena manik-manik merupakan benda konkret sehingga dengan bervasriasinya bentuk manik-manik anak akan lebih paham dengan operasi bilangan penjumlahan (1-20). Selain itu, dengan menggunakan media manik-manik juga mengedepankan proses berpikir anak dengan memecahkan masalah dengan bantuan manik-manik. Hal ini juga sesuai dengan pengertian kognitif menurut Slamet Suyanto (2005:53) yaitu penggambaran bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga dapat berpikir. Oleh karena itu, dengan media manik-manik pemahaman yang didapat anak tentang operasi bilangan penjumlahan (1-20) akan bertahan lama dan cenderung meningkat jika dibandingkan dengan pembelajaran tanpa bantuan media atau benda konkret.
72
Dilihat dari pencapaian pada setiap indikator, terlihat bahwa saling berhubungan antara keempatnya. Ketika anak mampu menghitung hasil penjumlahan bilangan 16-20 maka dalam penelitian ini anak bisa dan mampu menghitung hasil penjumlahan bilangan 1-5, menghitung hasil penjumlahan bilangan 6-10, dan menghitung hasil penjumlahan bilangan 11-15. Hal ini sesuai dengan tahap penjumlahan pada anak usia dini adalah menjumlah di bawah lima, menjumlah di bawah sepuluh, menjumlah di atas sepuluh (Sudaryanti, 2006: 18).
Secara keseluruhan penelitian ini dikatakan berhasil karena menunjukkan bahwa setiap indikator pada setiap Siklus mengalami peningkatan dan berhenti pada indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan yaitu 80% dengan kriteria sangat tinggi. Pada Pra Siklus hasil penjumlahan bilangan 1-20 sebesar 40,39% dengan kriteria sedang meningkat menjadi 72,84% pada Siklus I dengan kriteria tinggi. Angka ketuntasan pada Siklus I belum mencapai target keberhasilan, oleh karena itu dilanjutkan pada Siklus II. Pada Siklus II hasil penjumlahan bilangan 1-20 sebesar 92,59% dengan kriteria sangat tinggi.Angka ketuntasan pada Siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 80% dengan kriteria sangat tinggi. Dari hasil Siklus II maka anak memiliki kemampuan untuk mengoperasikan bilangan penjumlahan (1-20).
73