BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Pelaksanaan pembelajaran membaca Al-Qur’an di Sekolah Aluna sudah baik. Dalam proses pembelajarannya tidak menggunakan perangkat pembelajaran seperti silabus dan RPP. Di antara metode pembelajaran yang digunakan untuk anak tunarungu adalah bahasa isyarat, yaitu bahasa yang mengutamakan bahasa tubuh, gerak bibir, dan tidak mengutamakan suara.
Salah satu bahasa isyarat yang digunakan di Indonesia adalah SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Selain bahasaya isyarat, ada komunikasi total (komtal) yakni keseluruhan spektrum cara berbahasa yang lengkap, gesti anak, bahasa isyarat, baca ujaranm ejaan jari, membaca dan menulis, pengembangan sisa pendengaran guna mamajukan keterampilan bicara dan bahasa ujaran.105 Di sekolah Aluna peserta didik dilatih untuk bisa berkomunikasi verbal dan tidak diperkenankan untuk menggunakan bahasa isyarat .
Di bab 2 juga sudah dibahas terkait pembagian anak tunarungu dan klasifikisi menurut taraf pendengarannya. Tunarungu dibedakan menjadi dua,
105 Amirullah Syaputra, Metode Isyarat dalam Pembelajaran Al-Qur’an Bagi Siswa Tuna Rungu, (Jakarta: PTIQ Jakarta, 2017), h. 48-49.
yakni pertama tuli (deaf) yaitu ketika indra pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi, dan kedua adalah kurang dengar (low of hearing) yaitu indra pendengarannya mengalami kerusakan akan tetapi masih bisa berfungsi untuk mendengar baik dengan maupun melalui alat bantu dengar (hearing aid).
Berdasarkan pembagian tersebut, juga terdapat klasifikasi menurut taraf pendengaran, sebagai berikut:
g) 0-26 dB masih mempunyai pendengaran normal
h) 27-40 dB mempunyai kesulitan mendengar tingkat ringan, masih mampu mendengar bunyi-bunyian yang jauh. Individu tersebut membutuhkan terapi bicara.
i) 41-55 dB mempunyai kesulitan mendengar tingkat menengah, dapat mengerti percakapan. Individu tersebut membutuhkan alat bantu dengar.
j) 56-70 dB mempunyai kesulitan mendengar tingkat menengah berat.
Kurang mendengar dari jarak dekat, memerlukan alat bantu dengar dan membutuhkan latihan berbicara secara khusus.
k) 71-90 dB mempunyai kesulitan mendengar tingkat berat. Individu tersebut termasuk orang yang mengalami ketulian, hanya bisa mendengarkan suara keras yang berjarak kurang lebih satu meter.
Kesulitan membedakan suara yang berhubungan dengan bunyi secara tetap.
l) 91- seterusnya, termasuk individu mempunyai ketulian sangat berat.
Tidak dapat mendengarkan suara, sangat membutuhkan bantuan khusus secara intensif terutama dalam keterampilan percakapan atau berkomunikasi.106
106 Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi, (Bandung: Rafika Aditama, 2006). h. 102.
Berdasarkan pada pembagian dan klasifikasi anak tunarungu menurut taraf pendnegarannya, hal ini berimbas kepada terhambatnya kemampuan anak dalam berbicara. Semakin tinggi taraf kerusakan pendengaran pada anak, maka semakin sedikit kosakata yang mampu ia dengar. Selain itu, juga berpengaruh terhadap kejelasan pengucapan anak ketika berbicara. Begitupun dalam pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna, kejelasan mereka dalam melafalkan huruf hijaiyah tergantung pada taraf pendengarannya. Ada yang memang kurang jelas pelafalannya sampai sulit dibedakan antara huruf yang satu dengan yang lain terdengar sama, ada yang sudah cukup jelas pengucapannya, dan bahkan ada yang hampir seperti orang normal kejelasan dalam pengucapannya.
Bagi orang-orang yang memiliki gangguan dalam pendengaran, agar memudahkan mereka dalam berkomunikasi dengan sekitarnya maka membutuhkan alat bantu dengar. Alat bantu dengar pada umumnya tersedia dua jenis, yakni alat bantu dengar dan implan koklea. Jika anak terdeteksi mengalami gangguan pendengaran maka dokter akan memberi saran untuk menggunakan alat bantu dengar pada anaknya. Alat bantu dengar ini berfungsi membantu anak dalam mendengar seperti hampir menyerupai anak normal.
Sedangkan bagi gangguan pendengaran berat yang kurang terbantu jika menggunakan alat bantu dengar akan dialikan untuk memasang implan koklea.107 Koklea atau biasa disebut organ rumah siput yang berfungsi mengambil getaran suara dan mengirimnya ke otak melalui saraf pendengaran.
Ketika koklea rusak, suara tidak akan mampu mencapai saraf sehingga otak tidak bisa memproses sinyal tersebut sebagai suara.
Setiap peserta didik tunarungu di Sekolah Aluna menggunakan alat bantu dengar baik alat bantu dengar biasa maupun implan koklea. Untuk memastika
107 Atik Wahyuni dan Yulianti, Kemampuan Berbahasa Anak Tunarungu yang Menggunakan Cochlear Implants, Jurnal Pendidikan Khusus, 2017
bahwa alat yang terpasang berfungsi maka ketika pembelajaran membaca al-Qur’an berlangsung posisi guru berada di samping alat peserta didik. Hal ini dilakukan selain peserta didik tidak membaca gerak bibir, agar ketika peserta didik membaca iqro’ dan terdapat kesalahan dalam pengucapan huruf hijaiyah atau kesalahan bacaan panjang pendeknya, maka guru melafakannya disamping alat tersebut, guna melatih pendengaran peserta didik juga.108 Begitupun ketika berinteraksi dengan teman-teman yang normal, tidak diperkenankan menggunakan bahasa isyarat sehingga baik peserta didik tunarungu maupun peserta didik normal harus komunikasi secara verbal. Akan tetapi, dalam berinteraksi sesama anak tunarungu selain dengan menggunakan komunikasi verbal, disertai juga dengan bahasa isyarat.109
108 Hasil Observasi pada Kamis 12 Desember 2019
109 Ibid
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah dilakukannya semua tahap penelitian mengenai pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna, maka peneliti dapat menyimpulkan, sebagai berikut:
1. Pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna dilakukan setiap hari yakni hari Senin – Jum’at, pukul 07.30 – 08.00 WIB. Metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca al-Qur’an adalah metode iqro’ yang terdiri dari enam jilid. Metode iqro’ ini digunakan sebagai dasar sebelum nantinya lanjut kepada tahap membaca al-Qur’an. Materi yang diajarkan bersifat fleksibel yakni menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik dan dalam proses pembelajarannya tidak membutuhkan bermacam-macam alat hanya menggunakan buku iqro’ saja, karena yang ditekankan pada metode iqro’ ini adalah bacaannya (membaca huruf al-Qur’an dengan fasih dan benar). Adapun evaluasi yang digunakan sekolah Aluna dalam pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode iqro’ ini yakni dengan cara evaluasi harian. Pendidik menilai peserta didik dalam menentukan apakah bacaannya bisa dilanjutkan atau mengulang.
2. Sekolah Aluna adalah sekolah inklusi yang menggabungkan antara peserta didik normal dan peserta didik berkebutuhan khusus salah satunya yakni berkebutuhan khusus tunarungu belajar bersama dalam satu kelas. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda beda. Begitupun dalam membaca al-Qur’an. Rata-rata peserta didik tunarungu masih dalam tahapan iqro’
sedangkan peserta didik normal beberapa anak sudah masuk ke tahapan al-Qur’an. Ketika peserta didik maju satu persatu untuk membaca iqro’, posisi duduk pendidik berada di samping alat dengar peserta didik, hal ini untuk
72
memastikan alat bantu dengar baik ABD biasa maupun implan koklea yang digunakan peserta didik dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, di sekolah Aluna tidak diperbolehkan untuk menggunakan bahasa isyarat ataupun membaca gerak bibir. Bagi peserta didik tunarungu untuk melafalkan huruf-huruf hijaiyah masih cukup sulit sehingga terdengar pada huruf-huruf-huruf-huruf tertentu seperti sama pengucapannya. Akan tetapi, kejelasan dalam melafalkan tergantung pada teraf kemampuan mendengar peserta didik. Ada yang memang kurang jelas pelafalannya sampai sulit dibedakan antara huruf yang satu dengan yang lain terdengar sama, ada yang sudah cukup jelas pengucapannya, dan bahkan ada yang hampir seperti orang normal kejelasan dalam pengucapannya.
3. faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna adanya sikap saling menghargai dan menyemangati sesama peserta didik. Selanjutnya adalah peran serta orang tua yang mendukung pembelajaran membaca al-Qur’an dengan memberikan pembelajaran serupa di rumah. Dan terakhir adalah dukungan sesama pendidik yang membuat para pendidik menjadi lebih kuat dalam mengemban amanah yang tidak ringan ini.
4. Adapun faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna adalah keterbatasan fisik peserta didk tunarungu, focus dan mood belajar peserta didik yang tidak stabil, dan kurangnya tenaga pendidik di bidang PAI. Solusi yang ditawarkan pendidik yakni pendidik merangkul peserta didik secara perlahan-lahan dan satu persatu, serta tidak ada unsur memaksa. Solusi kedua adalah cara mendiamkan peserta didik terlebih dahulu setelah itu membujuknya kembali agar peserta didik mau membaca al-Qur’an. Dan solusi terakhir maka untuk sementara digantikan terlebih dahulu oleh wali kelas masing-masing dalam pengajaran membaca al-Qur’an.
B. Saran
1. Bagi Guru
➢ Memaksimalkan penggunaan metode, media dan sumber belajar serta menciptakan susasana yang menyenangkan dan membuat peserta didik lebih semangat lagi dalam belajar al-Qur’an.
➢ Perlunya dibuatkan catatan atau kartu lancaran al-Qur’an agar orang tua bisa lihat dan mengetahui sejauh mana perkembangan anak dalam membaca al-Qur’an.
2. Bagi Sekolah
➢ Mendukung dan meningkatkan pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an di sekolah serta menyediakan fasilitas-fasilitas pembelajaran dengan baik.
3. Bagi Lembaga Pendidikan
➢ Memberikan pembinaan kepada guru agar mempersiapkan fisik maupun mental dalam mengajar.
➢ Mendukung dan mengembangkan program pembelajaran al-Qur’an agar terciptanya pembelajaran yang efektif dan mampu mencetak generasi Qur’ani.
DAFTAR PUSTAKA
Agustyawati dan Solicha. Psikologi Pendidikan: Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta:
Lembaga Peneltian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2013.
Ainurrohmah, Cicik dan Ainna Amalia FN, Implementasi Metode Tilawati Dalam Menghafal Bacaan Sholat Di TPQ Miftahul Hidayah Gondang Nganjuk Jawa Timur. Jurnal Lentera. Vol.1 No.2, E-ISSN: 25407767. 2015.
Astuti, Rini. Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Quran Pada Anak Attention Deficit Disorder Melalui Metode Al-Barqy Berbasis Applied Behavior Analysis.
Jurnal Anak Pendidikan Usia Dini. Volume 7 Edisi 2. 2013.
Atmaja, Jati Rinakri, Pendidikan dan Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2017.
Delphie, Bandi. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi. Bandung: Rafika Aditama. 2006.
Gulo, W. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Gransindo. 2010.
Haenudin. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu. Jakarta: PT Lxima Metro Media. 2013.
Hamid, Abdul. Pengantar Studi Al-Qur’an. Jakarta: Prenamedia Group. 2016.
Hasan, Sholeh dan Tri Wahyuni. Kontribusi Penerapan Metode Qiro’ati dalam Pembelajaran Membaca al-Qur’an Secara Tartil. Jurnal Pendidikan Islam.
Vol.V No.1. 2018.
Hasuna , Umi dan Alik Roichatul Jannah. Implementasi Metode Ummi dalam Pembelajaran Alquran pada Santri di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mahfudz
75
Seblak Jombang. Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 1 No.2, E-ISSN: 2550-1038.
2017.
Hidayat, Bahril. 2017. Pembelajaran Alquran pada Anak Usia Dini Menurut Psikologi Agama dan Neurosain, The 2nd Annual Conference on Islamic Early Childhood Education Vol.2, (e-ISSN): 2548-4516, 2017
Hidayat, Yayan Heryana, dan Atang Setiawan. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus.
Bandung: UPI PRESS. 2006.
Ilahi, Muhammad Takdir. Pendidikan Inklusif (Konsep dan Aplikasi). Yogjakarta: Ar Ruzz Media. 2013.
Imani, Allamah Kamal Faqih. Tafsir Nurul Qur’an. Jilid 19. Jakarta: AlHuda. 2003.
Jamaludin. Pembelajaran Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2015.
Liza, Fitri. Analisis Metode Iqra dalam Pembacaan Fawatihussuwar Mahasiswa FAI UHAMKA. Jurnal Pendidikan Islam. Volume 10 Nomor 1, E-ISSN: 25497146.
2019
Ma’mun, Muhammad Aman. Kajian Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan Islam Vol.4 No.1. 2016.
Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia. 2011.
Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian KualitatifBandung: PT Remaja Rosdakarya. 2017.
Mualifah, Ilun. Perkembangan Peserta Didik (Edisi Pertama). Jakarta: Learning Assistance Program For Islamic Schools. 2008.
Mudlofir, Ali dan Evi Fatimatur Rusydiyah. Desain Pembelajaran Inovatif. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada. 2017.
Olivia, Stella. Pendidikan Inklusi untu Anak Berkebutuhan Khusus – Diintegrasikan Belajar di Sekolah Umum. Yogyakarta: Andi. 2017.
Poerwandari, E. Kristi. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: LPSP3 UI. 1998.
Pratiwi, Jamilah Candra. Sekolah Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus:
Tanggapan Terhadap Tantangan Kedepannya. Seminar Nasional Pendidikan UNS & ISPI Jawa Tengah. ISBN: 978-979-3456-52-2. 2015.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa
Al-Qaththan, Manna Khalil. Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa. 2004.
Al-Qaththan, Manna Khalil. Pengantar Studi Ilmu Qur’an. Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2006.
Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. Taisuru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir.
Jilid 4. Jakarta: Gema Insani. 2000.
Ash-Shabunniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al-Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia.
1998.
Sanjaya, Wina. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
2006.
Shihab. M. Quraish. Al-Lubab. Tangerang: Lentera Hati. 2012.
Al-Sijistani, Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ats. Sunan Abi Daud. Bairut: Maktabah Ashriyah
Smart, Aqila. Anak Cacat Bukan Kiamat. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012.
Srijatun. Implementasi Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an Dengan Metode Iqro Pada Anak Usia Dini Di RA Perwanida Slawi Kabupaten Tegal. Jurnal Pendidikan Islam. Vol.11 Nomor 1, ISSN 1979-1739. 2017.
Sugiyono. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta. 2016.
Suma, Muhammad Amin. Ulumul Qur’an. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2013.
Suprihatiningrum, Jamil. Strategi Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2016.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Press. 2006.
Syaifullah, Muhammad. Penerapan Metode An-Nahdliyah dengan Metode Iqro’ dalam Kemampuan Membaca al-Qur’an. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan. Vol.2 No.1, E-ISSN 2548-7892. 2017.
Syaputra, Amirullah. Metode Isyarat dalam Pembelajaran Al-Qur’an Bagi Siswa Tuna Rungu. Jakarta: PTIQ Jakarta. 2017.
Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa. Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz. 2011.
Tohirin. Psikologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: PT RajaGafindo Persada.
2006.
Undang–Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat I sesudah Amandemen I–IV, dilengkapi Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II Tahun 2009–2014 dan Butir–butir Pancasila, (Surakarta: ITA, tt),
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Wahyuni, Atik dan Yulianti. Kemampuan Berbahasa Anak Tunarungu yang Menggunakan Cochlear Implants. Jurnal Pendidikan Khusus, 2017.
Yusuf, A. Muri. Metode Penelitian. Jakarta: Prenadamedia Group. 2015.
LAMPIRAN
Pedoman Wawancara untuk Kepala Sekolah
NO PERTANYAAN JAWABAN
1. Sudah berapa lama ibu menjadi kepala Sekolah Aluna?
2. Sejak kapan didirikan Sekolah Aluna didirikan?
3. Apa visi dan misi Sekolah Aluna?
4. Apa yang melatarbelakangi Sekolah Aluna menjadi sekolah inklusi?
5. Apakah Sekolah Aluna menerima siswa tanpa membeda-bedakan?
8. Bagaimana upaya sekolah dalam membudayakan ramah terhadap ABK?
9. Apa latar belakang pendidikan sekolah para guru di sini linear dengan bidangnya? Jika tidak, maka upaya apa yang dilakukan oleh sekolah?
10. Kriteria seperti apa yang harus dipenuhi untuk menjadi guru di Sekolah Aluna ini (terutama guru agama)?
11. Seberapa pentingnya pembelajaran al-Qur’an menurut bapak/ibu sehingga perlu diadakan di Sekolah Aluna?
12. Kurikulum apa yang diterapkan di sekolah inklusi Aluna?
13. Apa tujuan mengadakan
pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
14. Apa saja yang dipersiapkan untuk menerapkan pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
15. Media dan metode apa yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an
16. Apakah sarana dan prasarana mendukung pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
17. Usaha apa yang dilakukan unuk meningkatkan kualitas pembelajaran al-Qur’an di sekolah Aluna?
18. Adakah bimbingan khusus bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu dalam pembelajaran al-Qur’an?
19. Bagaimana hubungan kerjasama antara sekolah dengan orang tua murid?
Jakarta, ………
Narasumber
Pedoman Wawancara untuk Guru Nama :
Jabatan : Tempat : Waktu :
NO PERTANYAAN JAWABAN
1. Sudah berapa lama ibu mengajar di Sekolah Aluna?
2. Apakah latar belakang pendidikan guru agama dalam pembelajaran al-Qur’an di kelas linear dengan bidangnya?
3. Suka duka apa yang dirasakan ketika mengajarkan al-Qur’an?
4. Bagaimana sistem komunikasi yang digunakan guru bagi anak berkebutuhan khusus terutama untuk siswa tunarungu dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
5. Adakah terapi khusus bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu untuk kemajuan dalam berkomunikasi? Jika ada, maka seperti apa bentuk terapinya?
6. Metode apa yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
7. Adakah buku yang menjadi rujukan dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
a. Jika ada, buku apa?
b. Jika tidak, mengapa tidak ada?
8. Bagaimana langkah-langkah dalam pembelajaran al-Qur’an?
9. Bagaimana strategi guru ketika menghadapi siswa normal dengan siswa berkebutuhan khusus dalam pembelajaran al-Qur’an di kelas?
10. Adakah bimbingan khusus bagi siswa tunarungu dalam pembelajaran al-Qur’an?
11. Media apa digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
12. Apakah sarana dan prasarana mendukung dalam pembelajaran al-Qur’an?
13. Adakah target pencapaian dalam pembelajaran al-Qur’an?
a. Jika ada, maka seperti apa target percapaian?
b. Jika tidak, mengapa tidak diadakan pencapaian?
14. Bagaimana cara mengevaluasi hasil pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
15. Bagaimana hasil belajar dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
16. Apa saja faktor penghambat dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
17. Apa solusi yang di tawarkan guru dalam atas faktor hambatan yang dihadapi?
18. Apa saja faktor pendukung dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
19. Bagaimana peran orang tua dalam mendukung pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna?
Jakarta, ………
Narasumber
Pedoman Observasi
Kriteria Penilaian Keterangan A B C D
2. Kesesuaian dengan tujuan pemebelajaran 10 Tata waktu dan
tempat pembelajaran
1. Jadwal
pembelajaran 2. Tata ruang kelas
LAMPIRAN FOTO DOKUMENTASI