• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan dengan hasil tes tertulis dan wawancara bersama subjek yang di pilih berdasarkan miskonsepsinya serta dengan melakukan perbandingan antara analisis tes tertulis dan wawancara dengan tujuan mendapatkan data yang valid maka terbuktilah bahwa subjek yang terpilih tersebut memang benar mengalami miskonsepsi baik penjumlahan terhadap pecahan biasa, pengurangan terhadap pecahan biasa, perkalian terhadap pecahan biasa serta pembagian terhadap pecahan biasa.

Dua-duanya subjek terpilih yang mengalami miskonsepsi pada penjumlahan pecahan biasa. Secara keseluruhan kedua siswa terpilih tersebut mengalami miskonsepsi pada bagian menggunakan cara dalam menyelesaikan penjumlahan bilangan pecahan biasa. Cara penyelesaian yang digunakan siswa bervariasi, ada yang tidak menyamakan penyebut dan ada

langsung melakukan penjumlahan tidak dijabarkan dengan caranya dulu.

Kemudian Dua-duanya subjek terpilih yang mengalami miskonsepsi pada pengurangan pecahan biasa. Dua-duanya subjek terpilih tersebut juga mengalami miskonsepsi pada cara penyelesaiannya. Cara yang digunakan ada yang langsung melakukan pengurangan tanpa dijabarkan dengan menggunakan cara, ada yang penyebutnya tidak disamakan serta ada yang mencari hasil pembilang dengan melakukan perkalian antara pembilang dan penyebut.

Pada konsep menghitung perkalian pecahan biasa, Dua-duanya subjek terpilih yang mengalami miskonsepsi. Dua-duanya subjek yang mengalami miskonsepsi tersebut setelah dianalisis hasil pekerjaannya dalam menjawab soal, ternyata salah dalam cara melakukan perkalian pecahan biasa. Cara yang digunakan dalam menyelesaikan perkalian pecahan biasa ada yang melakukan perkalian silang antara pembilang dan penyebut serta ada yang menyamakan penyebut. Ada juga dengan cara untuk mencari hasil pembilang yaitu pembilang dengan pembilang dan pembilang dengan penyebut

Selanjutnya Dua-duanya subjek mengalami miskonsepsi pada pembagian pecahan biasa. Kedua siswa yang mengalami miskonsepsi secara keseluruhan salah dalam cara yang digunakan untuk menyelesaikan pembagian pecahan biasa. Cara yang digunakan ada yang menyamakan penyebut, ada yang tidak mengubah bentuk operasinya, ada juga yang salah penempatan bagian pecahan yang dibalik.

73 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data miskonsepsi siswa SMP Muhammadiyah 12 Makassar kelas VIII pada pembahasan sebelumnya, maka didapat kesimpulan dengan menggunakan triangulasi yaitu sebagai berikut:

1. Miskonsepsi siswa yang bergaya kognitif field independent

Siswa dengan gaya kognitif field independent hanya miskonsepsi paling utamanya yaitu terhadap pemahaman konsep penyelesaian.

Dimana siswa dengan gaya kognitif field independentmengalami miskonsepsi pada bagian mengoperasikan penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian bentuk pecahan biasa. Berikut penjelasan miskosepsi yang di alami siswa gaya kognitif field independent:

a) Miskonsepsi pada penjumlahan pecahan biasa

Dari hasil perbandingan antara analisis hasil jawaban tes tertulis dengan hasil wawancara subjek, bahwa subjek mengalami miskonsepsi dalam melakukan penjumlahan pecahan biasa karna cara yang digunakan yakni pembilang dengan pembilang dijumlahkan serta penyebut dengan penyebut dijumlahkan. Lalu penyebut tidak di samakan.

b) Miskonsepsi pada pengurangan pecahan biasa

berdasarkan hasil tesnya dan wawancaranya subjek, maka di simpulkan kalau subjek telah miskonsepsi dalam melakukan pengurangan pada pecahan biasa karna subjek tersebut melakukan pengurangan pada pecahan biasa dengan cara penyebut tidak disamakan, pembilangnya pertamanya hasil perkalian penyebut dengan penyebut, pembilang keduanyan hasil perkalian pembilang dengan pembilang. Kemudian hasil akhir pembilang dikurang pembilang, penyebut dikurang penyebut.

c) Miskonsepsi pada perkalian pecahan biasa

Berdasarkan hasil yaitu tes dan wawancaranya subjek maka dapat di deskripsikan kalau subjek telah miskonsepsi dalam mengoperasikan perkalian pada pecahan biasa, subjek dalam melakukan operasi pada pembagian pecahan biasa yaitu dengan cara perkalian silang antara penyebut dan pembilang. Lalu penyebut di samakan.

d) Miskonsepsi pada pembagian pecahan biasa

Berdasarkan dari tesnya dan wawancaranya subjek maka bisa di deskripsikan kalau subjek telah miskonsepsi dalam mengoperasikan pembagian pada pecahan biasa, cara subjek melakukan pembagian pada pecahan biasa yaitu membalik pecahan depan pembilang menjadi penyebut, hampir saja benar tetapi yang benar di balik adalah bagian belakang di balik.

2. Miskonsepsi siswa yang bergaya kognitif field dependent

Subjek dengan gaya kognitif field dependent telah miskonsepsi terhadap pemahaman konsep penyelesaian yang tidak sesuai dengan konsep yang sebenarnya. Dimana subjek bergaya kognitif field dependent ini telah miskonsepsi terhadap bagian mengoperasikan penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian bentuk pecahan biasa. Berikut penjelasan miskosepsi yang di alami siswa gaya kognitif field dependent:

a) Miskonsepsi pada penjumlahan pecahan biasa

Berdasarkan analisis tesnya dan wawancaranya terus bisa disimpulakan kalau subjek telah miskonsepsi karna cara yang dilakukan subjekuntuk melakukan penjumlahan pada pecahan biasa yakni penyebut tidak disamakan dengan cara mencari KPK tetapi di jumlahkan langsung penyebut dengan penyebut.

b) Miskonsepsi pada pengurangan pecahan biasa

Berdasarkan analisis tesnya dan wawancaranya terus bisa disimpulakan kalau subjek telah miskonsepsi karna cara yang dilakukan subjekuntuk melakukan pengurangan pada pecahan biasa yaitu tidak menyamakan penyebut dengan mencari KPK, tidak mencari hasil pembilang dari hasil KPK. Tetapi cara yang subjek lakukan yaitu pembilang dikurang pembilang dan penyebut dikurang penyebut.

c) Miskonsepsi pada perkalian pecahan biasa

Berdasarkan analisis tesnya dan wawancaranya terus bisa disimpulakan kalau subjek telah miskonsepsi pada perkalian pecahan biasa karna cara yang dilakukan Subjekmencari hasil pembilang dengan cara pembilang dikali pembilang serta pembilang dikali penyebut. Kemudian mencari hasil penyebut dengan cara penyebut dikali penyebut dan penyebut dikali pembilang. melakukan perkalian silang antara pembilang dengan penyebut.

d) Miskonsepsi pada pembagian pecahan biasa

Berdasarkan analisis tesnya dan wawancaranya terus bisa disimpulakan kalau subjek telah miskonsepsi pada pembagian pada pecahan biasakarna cara yang digunakan subjekyakni menyamakan penyebut dengan cara menjumlahkan penyebut dengan penyebut.

kemudian, tidak mengubah dalam bentuk perkalian lalu cara dalam menemukan hasil akhir dengan melakukan pembagian antara pembilang dengan pembilang, penyebut dengan penyebut.

B. Saran

Sesuai dengan hasil penelitian dan hasil kesimpulan diatas maka peneliti menuliskan beberapa saran yang semoga kedepannya bermanfaat yaitu sebagai berikut:

1. Sesuai dengan hasil penelitian diatas dimana siswa telah mengalami miskonsepsi maka peneliti berharap agar kedepannya guru lebih bisa

memberikan pemahaman yang mendalam terhadap konsep pada pecahan biasa.

2. Untuk peneliti selanjutnya yang berminat melakukan penelitian yang sama yaitu tentang miskonsepsi peneliti berharap agar dapat meningkatkan hal-hal mengenai miskonsepsinya siswa.

3. Untuk siswa peneliti berharap agar lebih memperhatikan atau memahami lagi konsep-konse1yang di jelaskan atau di ajarkan oleh ibu guru serta bertanya kepada guru jika ada yang kurang atau tidak di pahami.

78

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Susanto. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Al- Darmono. 2012. Identifikasi Gaya Kognitif (Cognitive Style) Peserta Didik Dalam Belajar. Jurnal Riset Dan Pendidikan. Ngawi: STAI.

Almolhodaei. 2002. Cognitive Style and Mathematical Word Problem Sovling, Jurnal Off the Korea Society Off Mathematical Education Series.

Mathematical Education.

Altun, Arif. 2006. Undergraduate Students’ Academic Achievement, Field Dependent/Independent Cognitive Style and Attitude toward Computers.

Educational Technology and Societ, volume 9 (1).

Atma, Suganda. 2013. “Upaya untuk Mengubah Miskonsepsi Siswa salam pokok Bahasan suhu dan Kalor Lewat Konflik Kognitif”. Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma.

Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta.

Azizan, Ibrahim. 2012. Misconceptions in Comparing Fraction among Primary School Pupils in Malaysia. International Journal of Social Science Tomorrow. Vol 1, No 2, ISSN 2277-6168

Bunnett Jr, Albert. Burton, Laurie J and Neslon, L Ted, 2012.Mathematics for Elementary Teachers: A Conceptual Approach, 9th ed, New York: Mc Graw-Hill.

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:

Erlangga.

Darsono. 2000. Belajar dan pembelajaran. Semarang: IKIP Press.

Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, Jakarta:

Gava Media.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jakarta: Depdiknas.

Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Dwi Asih, Chatarina. 2008. “Pemahaman dan Miskonsepsi Siswa Kelas XI IPA Stella Duce Bantul Tentang Kalor”. Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma.

Ghufron, Nur., Risnawati Rini. 2012. Gaya Belajar Kajian Teoretik. Yogyakarta:

Pustaka Belajar.

Herdiyana, Wana. 2019. Analisis Kesalahan Menyelesaikan Soal Pola Bilangan pada Siswa Kelas VIII SMP Pasantren GUPPI Samata Kabupaten Gowa.Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: Unismuh Makassar.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar. Bandung Remaja Rosdakarya.

Imam, Kholidazia Wilatikta. 2018. Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Prosedur Newman. Skripsi.

Universitas Muhammadiyah Malang.

Jeanne Ellis Ormrod. 2009. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang.Jakarta: Erlangga.

Johar, R. 2012. Domain soal PISA untuk Literasi Matematika. Jurnal Peluang, 1 (1), 2302-5158.

Komaruddin. 2007. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.

KBBI. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online] Available at:

http//kbbi.id/pusat, [Diakses 21 Juni 2016].

Mahardika Ria. 2014. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Certainty Off Respone Index (CRI) dan Wawancara Diagnosis pada Konsep Sel. Skripsi.

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Maria Endah Savitri, dkk. 2016. Analisis Miskonsepsi pada Materi Pecahan dalam bentuk Aljabar Ditinjau dari Gaya Kognitif Siwa Kelas VIII SMP Negeri 2 Adimulyo kabupaten KebumenTahun Ajaran 2013/2014. Jurnal Eletronik Pembelajaran Matematika, Vol. 4, No. 4 hal 401-413.

Mindrianti Muksin. 2015. Identifikasi Miskonsepsi Siswa pada Materi Asam Basa Menggunakan Certainty Off Respone Index (CRI) pada kelas XI IPA 2 di SMA Negeri 1 Bonepantai. Jurnal Pendidikan Kimia.

Musser, G.L., Burger, W.F., & Peterson, B.E. 2011.Mathematics for elementary teachers, a contemporary approach (9thed.). Hoboken: john & willey, Inc.

Natalia T, Kalorin dkk. 2016. Miskonsepsi Pada Penyelesaian Soal Aljabar Siswa Kelas VIII Berdasarkan Proses Berpikir Mason.Jurnal Pendidikan, Vol. 1, No. 10. 1917-1925. (Diakses 29 Mei 2019).

Pesman H. & Eryilmaz, A. 2010. “Devolepment of a Three-Tier Test to Assess Misconceptions About Simple Electric Circuits”. The Journal off Educational Research, 103, 208-222.

Purnomo, Y, W. 2015. Pembelajaran Matematika Untuk PGSD: Bagaimana Guru Mengembangkan Penalaran Proporsional Siswa. Jakarta Erlangga.

Setiawati, Gusti Ayu Dewi., Ida Bagus Ari Sanjaya dan Ni Wayan Ekayanti.

2014. Identifikasi Miskonsepsi dalam Materi Fotosintesis dan Respirasi Tumbuhan pada Siswa Kelas IX SMP di Kota Dempasar.Dempasar: Jurnal Saraswati.

Siregar, E. & Nara, H. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Slameto. 2003. Belajarr dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sugiono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Sukmadinata, N.S. 2011. Metode Peneitian Pendidikan. Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia & Rosda.

Suparno, Paul. 2013. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Soviawati, Evi. 2011. Pendekatan Matematika Realistik (PMR) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa Di Tingkat Sekolah Dasar.

Jakarta: Depdiknas.

Suwarto.2013. Pengenbangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran.Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Syahrial. 2014. Tesis: “Profil Strategi Estimasi Siswa SD Dalam Pemecahan Masalah Berhitung Ditinjau dari Perbedaan Gaya Field Dependent dan Field Independent”. Surabaya: UNESA.

Syaiful Sagala. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Tania Norika, Martina. 2014. “Pemahaman dan Miskonsepsi Konsep Gaya Pada Siswa di Empat Sekolah Menengah Atas Swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma.

Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Titis Vidianti, Chiristiana. 2011. “Pemmahaman dan Miskonsepsi Siswa Kelas XII IPA SMA Pengudi Luhur Sedayu Bantul Tentang Hukum II Termodinamika”. Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma.

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Inovatif-Progresif Konsep, Landasan, dan Implementasi Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Jakarta: Kencana.

Witkim, A.H. et al. 1971. Group Embedded Figure. California Mind Garden, Inc.

Woolfolk, A & Nicolich. 2004. Mendidik Anak-Anak Bermasalah.Jakarta: Inisiasi Press.

LAMPIRAN

INSTRUMEN ANGKET Petunjuk:

Dalam rangka mengidentifikasi gaya kognitif siswa, anda diharapkan untuk memberi jawaban yang jujur sesuai dengan keadaan diri anda yang sebenarnya atas setiap peryataan dibawah dengan memberi tanda centang (√) pada kolom YA atau TIDAK.

NO PERYATAAN YA TIDAK

1

Saya memisahkan objek dari lingkungan sekitarnya sehingga persepsi saya tidak terpengaruh apabila lingkungannya berubah.

2 Saya mampu mengatur objek-objek yang belum tertata.

3 Saya cenderung menerima tatanan/aturan yang sudah ada.

4 Saya memiliki orientasi sosial yaitu perhatian terhadap orang lain.

5 Saya cenderung memiliki tujuan yang saya buat sendiri.

6 Saya mempelajari materi sosial dengan baik.

7 Saya cenderung bekerja dengan motivas iintrinsik (dari diri sendiri).

8 Saya dapat mengidentifikasi informasi khusus secara cepat dan tepat.

9 Saya dapat menyimpulkan garis-garis besar informasi secara cepat dan tepat.

10 Saya cenderung mandiri dalam tindakan saya.

11 Saya memandang tubuh saya sebagai satu kesatuan.

12 Saya mempertahankan harga diri saya dengan cara menunjukkan kemampuan intelektual saya.

13 Saya mementingkan hubungan social dengan orang lain.

14

Saya cocok dengan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus seperti dalam bidang matematika, atau teknik.

15 Saya cocok untuk bekerja dalam bidang bimbingan dan konseling, Pendidikan atau sosial.

16 Saya memetakanperbedaan antara konsep secara spesifîk.

17

Saya cenderung menerima suatu objek-objek yang sudah tertata karena tidak memiliki kemampuan dalam merestrukturisasi.

18 Saya memberi perhatian lebih pada hal-hal yang berkaitan dengan apa yang saya alami.

19 Saya cenderung memikirkan sesuatu tanpa pembuktian dalam mencapai suatu konsep berpikir.

20 Saya cenderung melakukan pengamatan untuk mencapai suatu konsep berpikir.

21 S a y a lebih menyukai suasana pembelajaran yang menyediakan proses interaksi dengan sesama siswa.

22 Saya lebih menyukai aktifitas pembelajaran yang lebih melibatkan siswa.

23 Saya lebih menyukai guru yang mampu mengelola dan pembelajaran membimbing.

24 Saya lebih menyukai guru yang mampu membuat lingkungan belajar yang hangat dan personal.

25 Saya lebih termotivasi apabila prestasi saya di beri nilai.

26 Saya lebih termotivasi apabila diberikan pujian lisan.

27 Saya lebih termotivasi melakukan suatu tugas dengan berkompetisi.

28 Saya lebih termotivasi melakukan suatu tugas untuk membantu g u r u .

29 Saya lebih termotivasi jika melakukan sesuatu untuk kebutuhan sendiri.

30 Saya lebih termotivasi jika melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

INSTRUMEN SOAL TEST 1. Tentukan hasil dari penjumlahan pecahan berikut ini:

2. Tentukan hasil dari pengurangan pecahan berikut ini:

3. Tentukan hasil dari perkalian pecahan berikut ini:

4. Tentukan hasil dari pembagian pecahan berikut ini:

INSTRUMEN PEDOMAN WAWANCARA

No Aspek yang ditanyakan

HasilJawaban dari pertanyaan

yangdiajukan 1.

Apakah adik telah menyelesaikan penjumlahan pada pecahan biasa sudah benar?

2.

Bagaimana cara adik menyelesaikan penjumlahan pada pecahan biasa?

3. Apakah adik telah menyelesaikan pengurangan pada pecahan biasa sudah benar?

4. Bagaimana cara adik menyelesaikan pengurangan pada pecahan biasa?

5. Apakah adik telah menyelesaikan perkalian pada pecahan biasa sudah benar?

6. Bagaimana cara adik menyelesaikanperkalian pada pecahanbiasa?

7. Apakah adik telah menyelesaikan pembagian pada pecahan biasa sudah benar?

8. Bagaimana cara adik menyelesaikan pembagian pada pecahan biasa?

9. Apakah adik yakin cara melakukan penjumlahan pada pecahan biasa dengan cara seperti itu?

10. Apakah adik yakin cara melakukan pengurangan pada pecahan biasa dengan cara seperti itu?

11. Apakah adik yakin cara melakukan perkalian pada pecahan biasa dengan cara seperti itu?

12. Apakah adik yakin cara melakukan pembagian pada pecahan biasa dengan cara seperti itu?

13. Bagaimana caranya adik menyamakan penyebutnya terhadap penjumlahan pada pecahan biasa?

14. Bagaimana caranya adik menyamakan penyebutnya terhadap pengurangan pada pecahan biasa?

15. Didalam perkalian terhadap pecahan biasa jika penyebutnya beda harus disamakan?

16. Didalam pembagian terhadap pecahan biasa jika penyebutnya beda harus disamakan?

17. Kalau didalam penjumlahan pecahan biasa jika penyebutnyaharuskan dijumlahkan juga?

18. Kalau didalam pengurangan pecahan biasa jika penyebutnyaharuskan dijumlahkan juga?

LEMBAR KERJA ANGKET SFI Petunjuk:

Dalam rangka mengidentifikasi gaya kognitif siswa, anda diharapkan untuk memberi jawaban yang jujur sesuai dengan keadaan diri anda yang sebenarnya atas setiap peryataan dibawah dengan memberi tanda centang (√) pada kolom YA atau TIDAK.

NO PERYATAAN YA TIDAK

1

Saya memisahkan objek dari lingkungan sekitarnya sehingga persepsi saya tidak terpengaruh apabila lingkungannya berubah.

√ 2 Saya mampu mengatur objek-objek yang belum tertata. √ 3 Saya cenderung menerima tatanan/aturan yang sudah

ada. √

4 Saya memiliki orientasi sosial yaitu perhatian terhadap

orang lain. √

5 Saya cenderung memiliki tujuan yang saya buat sendiri. √

6 Saya mempelajari materi sosial dengan baik. √ 7 Saya cenderung bekerja dengan motivas iintrinsik (dari

diri sendiri). √

8 Saya dapat mengidentifikasi informasi khusus secara

cepat dan tepat. √

9 Saya dapat menyimpulkan garis-garis besar informasi

secara cepat dan tepat. √

10 Saya cenderung mandiri dalam tindakan saya. √ 11 Saya memandang tubuh saya sebagai satu kesatuan. √ 12 Saya mempertahankan harga diri saya dengan cara

menunjukkan kemampuan intelektual saya. √

13 Saya mementingkan hubungan social dengan orang lain. √ 14

Saya cocok dengan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus seperti dalam bidang matematika, atau teknik.

√ 15 Saya cocok untuk bekerja dalam bidang bimbingan

dan konseling, Pendidikan atau sosial. √

16 Saya memetakanperbedaan antara konsep secara spesifîk. √ 17

Saya cenderung menerima suatu objek-objek yang sudah tertata karena tidak memiliki kemampuan dalam merestrukturisasi.

√ 18 Saya memberi perhatian lebih pada hal-hal yang

berkaitan dengan apa yang saya alami. √ 19 Saya cenderung memikirkan sesuatu tanpa pembuktian

dalam mencapai suatu konsep berpikir. √ 20 Saya cenderung melakukan pengamatan untuk mencapai

suatu konsep berpikir. √

21 S a y a lebih menyukai suasana pembelajaran yang

menyediakan proses interaksi dengan sesama siswa. √ 22 Saya lebih menyukai aktifitas pembelajaran yang lebih

melibatkan siswa. √

23 Saya lebih menyukai guru yang mampu mengelola

dan pembelajaran membimbing. √

24 Saya lebih menyukai guru yang mampu membuat lingkungan belajar yang hangat dan personal. √ 25 Saya lebih termotivasi apabila prestasi saya di beri

nilai. √

26 Saya lebih termotivasi apabila diberikan pujian lisan. √ 27 Saya lebih termotivasi melakukan suatu tugas dengan

berkompetisi. √

28 Saya lebih termotivasi melakukan suatu tugas untuk

membantu g u r u . √

29 Saya lebih termotivasi jika melakukan sesuatu untuk

kebutuhan sendiri. √

30 Saya lebih termotivasi jika melakukan sesuatu yang

bermanfaat untuk orang lain. √

LEMBAR KERJA ANGKET SFD Petunjuk:

Dalam rangka mengidentifikasi gaya kognitif siswa, anda diharapkan untuk memberi jawaban yang jujur sesuai dengan keadaan diri anda yang sebenarnya atas setiap peryataan dibawah dengan memberi tanda centang (√) pada kolom YA atau TIDAK.

NO PERYATAAN YA TIDAK

1

Saya memisahkan objek dari lingkungan sekitarnya sehingga persepsi saya tidak terpengaruh apabila lingkungannya berubah.

√ 2 Saya mampu mengatur objek-objek yang belum tertata. √ 3 Saya cenderung menerima tatanan/aturan yang sudah

ada. √

4 Saya memiliki orientasi sosial yaitu perhatian terhadap

orang lain. √

5 Saya cenderung memiliki tujuan yang saya buat sendiri. √ 6 Saya mempelajari materi sosial dengan baik. √ 7 Saya cenderung bekerja dengan motivas iintrinsik (dari

diri sendiri). √

8 Saya dapat mengidentifikasi informasi khusus secara

cepat dan tepat. √

9 Saya dapat menyimpulkan garis-garis besar informasi

secara cepat dan tepat. √

10 Saya cenderung mandiri dalam tindakan saya. √ 11 Saya memandang tubuh saya sebagai satu kesatuan. √ 12 Saya mempertahankan harga diri saya dengan cara

menunjukkan kemampuan intelektual saya. √

13 Saya mementingkan hubungan social dengan orang lain. √ 14

Saya cocok dengan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus seperti dalam bidang matematika, atau teknik.

√ 15 Saya cocok untuk bekerja dalam bidang bimbingan

dan konseling, Pendidikan atau sosial. √ 16 Saya memetakanperbedaan antara konsep secara spesifîk. √ 17

Saya cenderung menerima suatu objek-objek yang sudah tertata karena tidak memiliki kemampuan dalam merestrukturisasi.

√ 18 Saya memberi perhatian lebih pada hal-hal yang

berkaitan dengan apa yang saya alami. √

19 Saya cenderung memikirkan sesuatu tanpa pembuktian dalam mencapai suatu konsep berpikir. √ 20 Saya cenderung melakukan pengamatan untuk mencapai

suatu konsep berpikir. √

21 S a y a lebih menyukai suasana pembelajaran yang menyediakan proses interaksi dengan sesama siswa. √ 22 Saya lebih menyukai aktifitas pembelajaran yang lebih

melibatkan siswa. √

23 Saya lebih menyukai guru yang mampu mengelola √

dan pembelajaran membimbing.

24 Saya lebih menyukai guru yang mampu membuat lingkungan belajar yang hangat dan personal. √ 25 Saya lebih termotivasi apabila prestasi saya di beri

nilai. √

26 Saya lebih termotivasi apabila diberikan pujian lisan. √ 27 Saya lebih termotivasi melakukan suatu tugas dengan

berkompetisi. √

28 Saya lebih termotivasi melakukan suatu tugas untuk

membantu g u r u . √

29 Saya lebih termotivasi jika melakukan sesuatu untuk

kebutuhan sendiri. √

30 Saya lebih termotivasi jika melakukan sesuatu yang

bermanfaat untuk orang lain. √

LEMBAR KERJA TES SUBJEK SFI

LEMBAR KERJA TES SUBJEK SFD

HASIL WAWANCARA SUBJEK A. SUBJEK FIELD INDEPENDENT

1. Penjumlahan Pada Pecahan

P1.001 : Apakah adik telah menyelesaikan penjumlahan

pecahan biasa sudah benar?

SFI1.001 : Iya kak …

P1.002 : Lalu bagaimana caranya adik menyelesaikan

penjumlahan pada pecahan biasa?

SFI1.002 : Pembilangnya dengan pembilangnya di jumlahkan dan penyebut dengan penyebut di jumlahkan…

P1.003 : terus bagaimana caranya adik menyamakan

penyebutnya terhadap penjumlahan pecahan biasa?

SFI1.003 : Tidak tau kak…

P1.004 : Kalau didalam penjumlahan pecahan biasa jika

penyebutnya sama haruskah di jumlahkan juga ?

SFI1.004 : Iya kak…

2. Pengurangan Pada Pecahan

P2.001 : Bagaimana caranya adik menyelesaikan pengurangan

pada pecahan biasa?

SFI2.001 : Disamakan pembilangnya, penyebutnya di kali

penyebut dan pembilangnya di kali pembilang lalu masing-masing di kurangkan…

P2.002 : Apakah adik yakin cara melakukan pengurangan pada

P2.002 : Apakah adik yakin cara melakukan pengurangan pada

Dokumen terkait