1. Kinerja Bank Umum Syariah Berdasarkan Islamicity Performance Index.
a. Profit Sharing Ratio
Tabel 5. 1
Rata-rata perhitungan PSR BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata PSR
1 BCAS 55,4%
2 BSM 21,8%
3 BRIS 39,8%
4 BNIS 37%
5 BMI 53,4%
6 BPDS 68%
Sumber: Data diolah penulis
Melalui tabel 5.1 diatas dapat diketahui Bank Panin Dubai Syariah memiliki nilai paling tinggi pada PSR dengan nilai rata-rata 68%, hal tersebut memperlihatkan unggulnya Bank Panin Dubai Syariah dalam menjalankan prinsip yang terdapat pada Bank Syariah yaitu untuk menerapkan prinsip bagi hasil dalam kegiatan operasionalnya. Selama kurun waktu lima tahun nilai rata-rata PSR pada Bank Panin Dubai Syariah yaitu sebesar 77%, 88%, 89% dan 90%. Walaupun pada tahun
2016 masih sangat kecil dalam menerapkan prinsip bagi hasil yaitu dengan nilai profit sharing ratio yang tercatat sebesar 0.000788875 namun Bank Panin Dubai syariah mampu menunjukan performa yang cukup pesat pada pelaksanaan pembiayaan bagi hasil.
Dengan menempati posisi pertama pada indeks profit sharing ratio pada Bank Panin Dubai Syariah disebabkan karena total pembiayaan mudharabah dan musyarakah serta total pembiayaan yang dijalankan tidak terlalu tinggi dan gap kedua komponen tersebut rendah sehingga dapat menciptakan perhitungan yang memiliki nilai profit sharing ratio yang tinggi. Pada annual report tercatat selama kurun waktu lima tahun nilai total pembiayaan Bank Panin Dubai Syariah yakni sebesar Rp.36,705,925,000,000. Sedangkan pada total pembiayaan mudharabah dan musyarakah tercatat sebesar Rp.26,163,082,723,726.
Bank BCA Syariah tidak kalah dalam menerapkan prinsip bagi hasil dimana nilai rata-rata bagi hasil selama kurun waktu lima tahun tercatat sebesar 55,4%. Selama kurun waktu lima tahun nilai indeks profit sharing ratio pada Bank BCAS yaitu 47%, 49%,51%, 63% dan 67%. Prinsip bagi hasil yang dijalankan oleh Bank BCA Syariah lebih terfokus pada pembiayaan musyarakah dimana selama kurun waktu lima tahun total pembiayaan musyarakah yang disalurkan sebesar Rp.11,644,349,000,000 dan total pembiayaan pada mudharabah hanya sebesar Rp.1,798,526,000,000.
Selanjutnya pada Bank Syariah Muamalat Indonesia nilai rata-rata profit sharing ratio tercatat sebesar 53,4%, tidak jauh berbeda nilai rata-rata yang didapatkan oleh Bank BCAS (55,4%). Pada Bank Syariah Muamalat Indonesia juga menunjukan pembiayaan musyarakah lebih tinggi dibanding dengan pembiayaan mudharabah. Dimana selama lima tahun terakhir nilai profit sharing ratio pada Bank Syariah Muamalat Indonesia yakni 52%,48%,65%,50% dan 52%.
Bank BRI Syariah memunjukan hasil nilai rata-rata pada indeks profit sharing ratio yaitu sebesar 39,8% disusul dengan Bank BNI Syariah yakni memiliki nilai rata-rata profit sharing ratio sebesar 37%.
Dan yang menempati nilai profit sharing ratio terendah ialah Bank Syariah Mandiri yaitu mendapatkan nilai rata-rata sebesar 21,8%.
Rendahnya nilai indeks profit sharing ratio pada Bank Syariah Mandiri disebabkan oleh tingginya pembiayaan yang disalurkan pada pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Selain itu juga terdapat gap yang besar terhadap total pembiayaan yang disalurkan oleh Bank Syariah Mandiri. Dengan adanya hal tersebut menjadikan nilai profit sharing ratio yang didapat Bank Syariah Mandiri rendah.
Berdasarkan perhitungan diatas tingginya nilai profit sharing ratio yang didapat disebabkan oleh seimbangnya antara pembiayaan mudharabah dan pembiayaan musyarakah yang disalurkan dengan total pembiayaan yang disalurkan pula. Jadi semakin rendahnya gap nilai
yang terjadi antara total pembiayaan mudharabah dan musyarakah serta total seluruh pembiayaan maka nilai profit sharing ratio yang tercipta akan semakin tinggi. Maka dengan adanya perhitungan tersebut tidak menjadikan bank yang memperoleh nilai profit sharing yang rendah memiliki nilai pembiayaan mudharabah dan musyarakah yang rendah pula. Berkenaan dengan pembiayaan mudharabah dan musyarakah tersebut supaya dalam pelaksanannya sesuai dengan prinsip dan kaidah syariah maka dibentuk FDSN MUI NO: 07/DSN-MUI/IV/2000 & NO:
08/DSN-MUI/IV/2000.
b. Zakat Performance Ratio
Tabel 5. 2
Rata-rata perhitungan ZPR BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata ZPR
1 BCAS 9%
2 BSM 4%
3 BRIS 4%
4 BNIS 4%
5 BMI 33%
6 BPDS 1%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan tabel diatas Bank Syariah Muamalat Indonesia menunjukan nilai rata-rata tertinggi yaitu sebesar 33%. Selama kurun waktu lima tahun yaitu dari tahun 2016-2020 nilai zakat performance ratio yakni sejumlah 11%, 25%, 23%, 42% dan 69%. Selanjutnya pada Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah memiliki
nilai rata-rata ZPR sebesar 4%. Namun hal tersebut masih perlu dilakukan pengukuran secara statistik apakah terdapat perbedaan yang signifikan atau tidak. Sedangkan pada Bank Panin Dubai Syariah menunjukan nilai rata-rata ZPR selama kurun waktu lima tahun yang tercatat sebesar 2% dimana pada tahun 2017 dan 2018 Bank Panin Dubai Syariah tidak melakukan pengeluaran zakat dibuktikan dengan tidak melakukan pencatatan pada annual report yang di publikasikan.
Dan yang menduduki nilai rata-rata indeks Zakat Performance Ratio terendah ialah Bank BCA Syariah dimana nilai rata-rata ZPR yang tercatat selama kurun waktu lima tahun mulai dari 2016-2020 ialah 0.000923116.
Melihat data yang disajikan diatas yang menjadikan Bank Syariah Muamalat Indonesia memperoleh nilai Zakat Performance Ratio tertinggi karena selama kurun waktu lima tahun total nilai zakat yang disalurkan pada annual report tercatat sebesar Rp.59.900.313.000,00. dan pendapatan laba bersih sebelum pajak selama kurun waktu lima tahun ialah sebesar Rp.263.000.000.000,00.
Melalui data tersebut dan sesuai dengan formula yang dilakukan perhitungan mengakibatkan nilai ZPR Bank Syariah Muamalat Indonesia menjadi tinggi.
Bank Panin Dubai Syariah dan Bank BCA Syariah masih sangat rendah dalam melakukan penyaluran zakat hal tersebut
tentunya sangat menjadi perhatian penting dimana masih belum mencapai minimal atau batas pembayaran zakat sebesar 2,5%. Dan pada Bank Panin Dubai Syariah tidak melakukan pembayaran zakat pada tahun 2017-2018 hat tersebut tercatat pada annual report yang telah di publikasikan. Sementara yang menjadi rendahnya nilai ZPR pada Bank BCA Syariah ialah berdasarkan annual report selama periode 2016-2020 total zakat yang disalurkan ialah Rp.329.645.649,00. dan laba sebelum pajak yang didapat selama periode 2016-2020 tercatat sebesar Rp.359.727.277.132,00. Tingginya perbedaan gap antara zakat yang disalurkan dan total laba sebelum zakat tersebut yang menjadikan nilai zakat performance ratio tersebut sangat kecil dibandingkan dengan bank yang lainnya.
Peran penting pada zakat selain dapat mensucikan harta bagi pemiliknya yang didalamya terdapat hak orang lain atas harta yang diperoleh, zakat juga sangat memberikan dampak yang besar bagi kaum dua’fa untuk dapat menyambung hidup (Dahlan, 2018). Hal tersebut tercermin sesuai dengan tujuan zakat dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah (9) ayat 103 yang artinya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S At-Taubah: 103).
Dijelaskan bahwasanya dalam kitab fiqh zakat mengenai tujuan dan dampak zakat bagi penerimanya (Qardhawi, 2000)
1. Jika mustahik menerima zakat maka dapat meringankan kebutuhan, sehingga dapat lebih khusuk beribadah kepada Allah tanpa memikirkan hal lain.
2. Zakat dapat menumbuhkan rasa kekeluargaan sesama muslim, sehingga sifat dengki dan benci tidak dapat tumbuh, karena dengan zakat dapat menciptakan sifat saling tolong menolong. Zakat dapat memecahkan gap antara yang berlebih harta dan orang yang kurang akan harta.
c. Equitable Distribution Ratio Tabel 5. 3
Rata-rata EDRQD BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata EDRQD
1 BCAS 9%
2 BSM 59%
3 BRIS 12%
4 BNIS 41%
5 BMI 18%
6 BPDS 0%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan tabel 5.3 diatas dapat menggambarkan hasil perhitungan yang telah dilangsungkan melalui indeks equitable distributin ratio pembiayaan (qardh) pada Bank Umum Syariah di
Indonesia hasil tersebut memperlihatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi selama kurun waktu 2016-2020 berturut-turut yakni Bank Syariah Mandiri dengan nilai rata-rata 59%, BNI Syariah 41%, Bank BRI Syariah 12%, Bank Syariah Muamalat Indonesia 18%, Bank BCA Syariah 9% dan Bank Panin Dubai Syariah 0%.
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut Bank Syariah Mandiri unggul dalam EDRQD dimana nilai qardh pada annual report selama kurun waktu 2016-2020 tercatat mencapai Rp.28.074.950.836,00. Dan total pendapatan dikurangi dengan zakat dan pajak mencapai Rp.2.389.285.034.484,00. Total pendapatan yang diperoleh menunjukan nilai yang tinggi serta di imbangi dengan total pembiayaan qardh yang didapat menjadikan nilai indeks EDRQD pada Bank Syariah Mandiri menjadi posisi pertama.
Sedangkan Bank Panin Dubai Syariah berada pada posisi terendah dalam penerapan EDRQD pada Bank Umum Syariah di Indonesia dimana hasilnya ialah 0.000638, hal ini jika kita tinjau berdasarkan annual report total qardh dan donasi yang dijalankan oleh BPDS selam kurun waktu 2016-2020 ialah Rp.2.196.813.000,00. Dan total pendapatan dikurangi zakat dan pajak yang dicapai ialah sebesar Rp.3.425.948.477.000,00 nilai pada indeks tersebut menjadi rendah disebabkan karena terdapat gap yang sangat jauh terhadap perhitungan yang dilakukan.
Tabel 5. 4
Rata-rata perhitungan EDRBG BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata EDRBG
1 BCAS 21%
2 BSM 25%
3 BRIS 18%
4 BNIS 18%
5 BMI 19%
6 BPDS 130%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan tabel 5.4 diatas dapat menggambarkan hasil perhitungan yang telah dilangsungkan berdasarkan dengan indeks equitable distribution ratio Beban Gaji pada Bank Umum Syariah di Indonesia hasil tersebut memperlihatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi selama kurun waktu 2016-2020 berturut-turut yakni Bank Panin Dubai Syariah 1.319586, Bank Syariah Mandiri 0.248398, Bank BCA Syariah 0.206866, Bank Syariah Muamalat Indonesia 0.190662, Bank BNI Syariah 0.183796 dan BRI Syariah 0.183136.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan Bank Panin Dubai Syariah unggul dalam EDRBG dimana total nilai beban tenaga kerja pada annual report selama kurun waktu 2016-2020 tercatat mencapai Rp.4.469.653.883.000,00. Dan nilai total pendapatan dikurangi zakat dan pajak yang dicapai ialah sebesar Rp.3.425.948.477.000,00. Tingginya nilai total pada beban gaji
dibandingkan dengan total pendapatan mengakibatkan Bank Panin Dubai Syariah unggul dalam indeks EDRBG.
Sedangkan Bank BRI Syariah memiliki nilai EDRBG yang paling rendah dibandingkan dengan bank yang lainnya yaitu memiliki nilai rata-rata sebesar 0.183136. Rendahnya nilai rata-rata yang didapat disebabkan tingginya pendapatan yang diperoleh dibandingkan dengan dana yang dialokasikan untuk gaji yang didistribusikan kepada para pegawainya. Tercatat dalam annual report selama kurun waktu 2016-2020 total nilai beban gaji yang diperoleh Bank BRI Syariah ialah Rp.
2.825.628.000.000,00. Sedangkan total nilai pendapatan yang di peroleh ialah Rp.15.708.910.000.000,00. Dengan adanya data tersebut mengakibatkan perhitungan EDRBG pada Bank BRI Syariah menjadi rendah.
Tabel 5. 5
Rata-rata perhitungan EDRLB BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata EDRLB
1 BCAS 122%
2 BSM 11%
3 BRIS 4%
4 BNIS 12%
5 BMI 1%
6 BPDS 221%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan tabel 5.5 diatas dapat menggambarkan hasil perhitungan yang telah dilangsungkan dengan indeks equitable
distributin ratio Laba Bersih pada Bank Umum Syariah di Indonesia hasil tersebut memperlihatkan bahwa nilai rata-rata selama kurun waktu 2016-2020 yakni Bank Panin Dubai Syariah memiliki nilai rata-rata 2.215042, BNIS Syariah 0.122666, BCA Syariah 1.222114, Bank Syariah Mandiri 0.105436, BRI Syariah 0.044418 dan BMI 0.008826.
Berkenaan dengan pencatatan EDRLB kedua bank BPDS dan BCA Syariah sangat potensial dalam menciptkan laba bersih dibandingkan dengan BUS di Indonesia yang lainnya, dengan potensi yang dimiliki pada BPDS dan BCAS menjadikan kedua bank tersebut memilki nilai laba bersih yang dapat menggambarkan baiknya performa kegiatan industri yang dilaksanakan dalam bank tersebut sehingga dapat menciptakan pendapatan yang tinggi pula.
Keadilan distribusi dalam ekonomi islam menjadi prinsip yang utama, hal tersebut harus didasari pada aspek keadilan dan kebebasan (Qardhawi, 1997). Berkenaan dengan kedailan dalam distribusi hal tersebut senada dengan larangan yang terdapat pada Al-Qur’an Surah Al-Hasyr (59) ayat 7 yang artinya sebagai berikut.
“supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (Q.S Al-Hasyr ayat 7).
d. Directors Employees Welfare Ratio Tabel 5.6
Rata-rata Perhitungan DEWR BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata DEWR
1 BCAS 16%
2 BSM 2%
3 BRIS 2%
4 BNIS 2%
5 BMI 16%
6 BPDS 25%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan tabel 5.6 diatas dapat menggambarkan hasil perhitungan yang telah dilangsungkan berdasarkan indeks Director Employees Welfare Ratio pada Bank Umum Syariah di Indonesia hasil tersebut memperlihatkan bahwa nilai tertinggi rata-rata selama kurun waktu 2016-2020 berturut-turut ialah, Bank Panin Dubai Syariah dengan nilai rata-rata 25%, BCA Syariah 16%, Bank Muamalat Indonesia 16%, BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah menunjukan nilai 2%.
Bank Panin Dubai Syariah memiliki nilai tertinggi pada pengukuran DEWR nilai pada pengungkapan kesejahteraan yang digunakan untuk karyawan tidak memiliki perbedaan yang jauh sehingga kesenjangan dengan gaji yang diterima direktur yang tercipta tidak menunjukan gap yang jauh, Selanjutnya ialah BSM,BNIS dan BRIS menduduki posisi terendah dimana dalam hal ini nilai pada gaji
pejabat eksekutif yang diberikan cukup tinggi dibandingkan dengan dana yang disalurkan untuk kesejahteraan bagi pegawainya sehingga memiliki nilai rata-rata pada rasio DEWR rendah.
e. Islamic Investment vs Non-Islamic Invesment Tabel 5. 7
Perhitungan Rata-rata II vs NII BUS di Indonesia 2016-2020 No Bank Rata-Rata II vs NII
1 BCAS 100%
2 BSM 98%
3 BRIS 99%
4 BNIS 99%
5 BMI 99%
6 BPDS 99%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilangsungkan pada rasio Islamic Investment vs Non-Islamic Investment pada Bank Umum Syariah di Indonesia, yang menunjukan nilai rata-rata tertinggi hingga yang terendah ialah sebagai berikut, Bank Panin Dubai Syariah 0.99972, BCA Syariah 0.99851, BRI Syariah 0.99266, Bank Muamalat Indonesia 0.9918, BNI Syariah 0.98741 dan Bank Syariah Mandiri 0.98041. Secara keseluruhan nilai yang didapat menunjukan di angka hampir mendekati sempurna namun hal tersebut perlu di lakukan suatu pengujian statistik apakah terdapat perbedaan yang signifikan atau tidak antar bank.
Sebagai investor menurut pandangan islam harus menunjukan sikap yang profesional dalam mengatur modal yang dimiliki serta mampu untuk dapat memastikan investasi yang dijalankan halal dan memenuhi prinsip syariat islam, dimana dalam bank syariah terkait kegiatannya sudah diawasi oleh DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang dapat memberikan sanksi secara langsung jika tidak menerapkan prinsip dan ketentuan syariah yang sudah ditetapkan.
f. Islamic Income vs Non-Islamic Income Tabel 5. 8
Perhitungan Rata-rata IInc vs NIInc BUS di Indonesia 2016-2020 No Bank Rata-Rata IInc vs NIInc
1 BCAS 100%
2 BSM 100%
3 BRIS 100%
4 BNIS 100%
5 BMI 100%
6 BPDS 100%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan perhitungan Islamic Income vs Non-Islamic Income pada tabel 4.8 diatas, dapat disimpulkan bahwa seluruh Bank Umum Syariah di Indonesia mempunyai rata-rata Islamic Income vs Non-Islamic Income Ratio sebesar 0.9999439 pada BCA Syariah, 0.9999483 pada Bank Syariah Mandiri, 0.9997558 pada BRI Syariah, 0.9996354 pada BNI Syariah, 0.9997805 pada Bank Syariah Muamalat Indonesia, dan 0.9956186 pada Bank Panin Dubai Syariah.
Dapat disimpulkan bahwasanya kinerja yang dilaksanakan pada Bank Umum Syariah di Indonesia menunjukan kinerja yang baik dimana total pendapatan halal yang dicapai hampir mendekati sempurna yaitu 100%.
Pencatatan terhadap pendapatan halal dalam penelitian ini didapat melalui pendapatan bank berdasarkan pendapatan pengelolaan dana atau bank sebagai mudharib. Jika bank memiliki pendapatan yang sifatnya non halal maka bank wajib melakukan pencatatan terhadap hal tersebut supaya tidak tercampur antara yang halal dan non-halal.
2. Kinerja Bank Umum Syariah di Indonesia berdasarkan Profitability a. Return on Asset
Tabel 5. 9
Rata-rata perhitungan ROA BUS di Indonesia 2016-2020
No Bank Rata-Rata ROA
1 BCAS 1,16%
2 BSM 1,08%
3 BRIS 1,46%
4 BNIS 0,6%
5 BMI 1,16%
6 BPDS (-) 1,96%
Sumber: Data diolah penulis
Berdasarkan tabel diatas nilai rata-rata tertinggi return on asset didapat oleh BNI Syariah dengan nilai rata-rata 1,46% yang artinya
kinerja pada BNI Syariah dalam memperoleh laba dengan asset yang dimiliki menunjukan performa yang lebih baik dari pada BUS di Indonesia lainnya. Sedangkan pada Bank Panin Dubai Syariah menunjukan performa yang paling rendah dimana nilai rata-rata ROA yang diperoleh selama kurun waktu 2016-2020 yaitu memperoleh minus (-) 1,96%.
Nilai Return on Asset yang didapat oleh BNIS selama kurun waktu 2016-2020 ialah 1,44%, 1,31%, 1,42%, 1,82% dan 1,33% hal tersebut menunjukan nilai rata-rata yang diperoleh masih cenderung fluktuatif selama kurun waktu lima tahun. Nilai tersebut juga masih dibawah rata-rata sesuai dengan kriteria yang ditetapka oleh BI, dimana nilai standar yang harus diperolah ialah 1,5%. Hal tersebut berhasil diperoleh BNIS hanya pada tahun 2019 yaitu mencapai pada 1,82%.
Sementara pada bank panin dubai syariah selama kurun waktu 2016-2020 memperoleh nilai ROA yakni 0,37%, (-) 10,77%, 0,26%, 0,25%, 0,06% rendahanya perolehan nilai rata-rata yang didapat oleh bank panin dubai syariah selama kurun waktu lima tahun disebabkan pada tahun 2017 bank panin dubai syariah gagal dalam menciptakan ROA, nilai yang diperoleh ialah (-) 10,77%.
Dengan terjadinya nilai fluktusi yang cukup tinggi pada nilai profitabilitas yang terjadi pada bank umum syariah di Indonesia
khususnya yang terjadi pada bank panin dubai syariah yaitu pada tahun 2016 nilai return on asset yang dimiliki 0,37% sementara pada tahun 2017 menurun sangat jauh yaitu berada pada angka (-) 10,77%. Hal tersebut tidak menjadikan masyarakat atau nasabah menjadikan bahan pertimbangan untuk menitipkan dananya kepada bank syariah, akan tetapi masyarakat lebih mempertimbangkan nisbah yang diberikan oleh bank syariah semakin tinggi nisbah yang ditawarkan akan semakin mudah dan percaya masyarakat untuk dapat menitipkan dananya di sektor bank syariah, Tidak ada kaitanya antara profitabilitas dengan market share disebabkan bank memiliki unsur permodalan dari masyrakat yaitu dana pihak ketiga (DPK) yang memiliki nilai sumbangsih yang lebih tinggi sekitar 80% terhadap total asset yang dimiliki bank, sehingga masyarakat tidak terlalu mengutamakan ROA sebagai landasan untuk menitipkan dananya (Lasrin, 2021)
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN