Identifikasi Sumber Risiko
Penelitian dilakukan pada Dede Anggrek yang melakukan kegiatan usaha budidaya anggrek jenis Dendrobium. Kegiatan produksi budidaya anggrek pada Dede Anggrek terdiri dari 3 fase kegiatan produksi yaitu, seedling, remaja, dan dewasa. Penelitian mengenai risiko produksi yang dilakukan pada Dede Anggrek ini, hanya meneliti risiko produksi yang terjadi pada fase seedling sampai remaja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa pemicu timbulnya sumber risiko pada fase produksi seedling sampai remaja dalam usaha budidaya anggrek Dendobrium pada Dede Anggrek adalah faktor alam. Beberapa hal dari alam yang dapat menjadi faktor pendukung timbulnya sumber risiko antara lain, menyangkut bencana alam (banjir, gempa bumi, angin ribut, dll), kondisi alam (lembab, panas, dingin, dll), dan makhluk alam (kuman, binatang, dll).
Identifikasi Sumber Risiko Produksi Anggrek Dendrobium
Risiko yang dihadapi oleh sebuah usaha perlu diidentifikasikan agar dapat ditangani dan diketahui statusnya. Risiko dapat mempengaruhi pendapatan yang diterima oleh pembudidaya, sehingga proses identifikasi penting dilakukan untuk mengetahui penanganan yang seharusnya dilakukan. Identifikasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu melalui pengamatan langsung dilokasi penelitian dan melalui kegiatan wawancara dengan responden. Serta melihat laporan yang telah ada sebelumnya. Identifikasi risiko produksi pada Anggrek Dendrobium di Dede Anggrek, yaitu dengan mengamati kegiatan pada fase seedling sampai remaja. Risiko produksi tersebut dapat dilihat dari adanya perbedaan jumlah anggrek waktu penanaman hingga output yang dihasilkan pada fasa tanaman sudah remaja. Perbedaan jumlah tersebut menunjukkan adanya tingkat kematian yang terjadi dan disebabkan oleh beberapa sumber risiko. Pada penelitian ini sumber risiko yang di identifikasi dan dimasukkan dalam sumber risiko produksi yang dihadapi Dede Anggrek merupakan sumber risiko yang berpengaruh langsung terhadap output yang dihasilkan pada masa tanaman Denrobium remaja.
Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat kematian pada Anggrek
Dendrobium, yaitu kualitas bibit, iklim, media tanam, adanya serangan hama dan penyakit, serta kesalahan SDM dalam penanganan dalam proses budidayanya. Berikut uraian mengenai sumber risiko yang terjadi pada Dede Anggrek:
A. Kesalahan SDM
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor produksi yang sangat menunjang dalam proses budidaya, karena semua kegiatan dilakukan dengan bantuan manusia sebagai SDM. SDM pada Dede Anggrek terdiri dari dua orang pekerja termasuk salah satu pemilik usaha Dede Anggrek. Selama usaha ini berlangsung tenaga kerja tidak pernah berubah, sehingga pengalaman yang dimiliki sangat terampil pada proses budidayanya. Selain itu pemilik sebagai tenaga kerja sering mengikuti pelatihan terkait dengan budidaya anggrek
Dendrobium agar menambah pengetahuan. Kemudian dirinya juga akan memberikan tambahan informasi kepada rekan tenaga kerjanya sehingga setiap penanganan yang dilakukan pada tanaman anggrek Dendrobium sudah sesuai. Walaupun demikian masih terdapat beberapa kesalahan dalam penanganan yang dilakukan SDM pada Dede Anggrek yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan anggrek dan tanaman yang rusak bahkan menyebabkan kematian pada tanaman anggrek. Dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 (a) Akar busuk akibat penyiraman berlebihan oleh SDM (b) Kecepatan tumbuh tanaman melambat akibat kekurangan dan kelebihan pemupukan
Kesalahan yang biasanya dilakukan oleh SDM Dede Anggrek yaitu pada penyiraman dalam perawatan anggrek dan kelebihan serta kekurangan pemberian pupuk. Proses penyiraman yang berlebih akan menyebabkan media tanam terlalu lembab sehingga air yang berlimpah akan menyebabkan akar tanaman menjadi mudah busuk. Hal tersebut tersebut ditandai dengan daun layu menguning dan keluar air saat ditekan. Adapun data kematian seedling akibat kesalahan SDM yang ditunjukkan pada Tabel 6:
Tabel 6 kematian bibit akibat sumber risiko kesalahan SDM
Periode Waktu kematian anggrek (pot)
1 April – Desember 2011 12 2 Mei 2011 – Januari 2012 25 3 Juli 2011 – Maret 2012 32 4 September 2011 – Mei 2012 21 5 Oktober 2011 – Juni 2012 7 6 Februari 2012–Oktober 2012 18 7 Maret 2012–November 2012 22 8 April 2012 – Desember 2012 10 9 Mei 2012 – Januari 2013 12 10 Juli 2012 – Maret 2013 22 11 September 2012 – Mei 2013 24 12 Oktober 2012 – Juni 2013 21 B. Media tanam
Media tanam merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anggrek. Oleh karena itu diperlukan pemilihan dan perawatan pada media tanam. Sesuai pengamatan yang telah dilakukan dilapangan, media tanam yang digunakan disana ada beberapa macam seperti Caliandra, Sabut kelapa, arang, sterofoam dan moss. Media tersebut sudah cukup baik pada Dede Anggrek, seperti tidak mudah lapuk, mampu menyerap air dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman anggrek. Hal tersebut tersebut sesuai dengan pernyataan Iswanto (2010), media tanam dikatakan baik jika memenuhi beberapa persyaratan , yaitu tidak mudah lapuk, tidak mudah menjadi sumber penyakit, mempunyai daya aerasi atau daya serap yg baik, mampu mengikat air dan unsur hara dengan baik, mudah didapat dan harganya relatif murah. Apabila meningkatnya kelembapan karena air berlebih dapat menyebabkan mengundang penyakit dan akar menjadi kurang sehat atau busuk, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7 Media Tanam (a) keadaan baik (b) keadaan rusak dan lapuk
(a) (b)
Gambar 8 media tanam yang terkena lumut dan jamur (a) Media tanam yang terlalu lama (lapuk) (b)
Adapun data kematian seedling akibat media tanam yang ditunjukkan pada Tabel 7:
Tabel 7 kematian bibit akibat sumbe risko kesalahan media tanam
Periode Waktu kematian anggrek (pot)
1 April – Desember 2011 32 2 Mei 2011 – Januari 2012 27 3 Juli 2011 – Maret 2012 17 4 September 2011 – Mei 2012 8 5 Oktober 2011 – Juni 2012 7 6 Februari 2012–Oktober 2012 23 7 Maret 2012–November 2012 7 8 April 2012 – Desember 2012 19 9 Mei 2012 – Januari 2013 16 10 Juli 2012 – Maret 2013 12 11 September 2012 – Mei 2013 32 12 Oktober 2012 – Juni 2013 26
Tabel 7 menunjukkan adanya kematian anggrek yang disebabkan oleh sumber risiko produksi media tanam. Dilihat dari tabel 7 kematian yang disebabkan sumber risiko tersebut tertinggi ada pada periode 1 dan 11 yaitu pada bulan April – Desember 2011 dan september – Mei 2012. Kematian tersebut dikarenakan media tanam yang sudah tidak layak, seperti telah lapuk dan berlumut.
C. Bibit Anggrek
Bibit seedling merupakan input dalam usaha produksi anggrek remaja. Bibit
seedling pada Dede anggrek berasal dari Koperasi Puspa Anggrek Serpong. Memilih bibit yang tepat merupakan langkah awal kesuksesan dalam usaha budidaya yang dilakukan pada Dede Anggrek dan memilih bibit yang terjamin
kualitasnya. Bibit seedling yang akan dibesarkan oleh Dede Anggrek setelah pembelian akan diadaptasi terlebih dahulu. Proses tersebut dilakukan dengan didiamkan di udara terbuka selama 1 minggu agar dapat menyesuaikan dengan lingkungan baru. Adapun dalam proses penanaman bibit terdapat beberapa kesalahan yang dapat menyebabkan tanaman bibit tersebut stress bahkan mati, seperti cara penanaman yang salah dan bibit tidak berkualitas baik. Oleh karena itu faktor pemilihan bibit yang baik harus diperhatikan untuk menghindari risiko kematian dalam pemilihan bibit. Bibit yang berkualitas baik, yaitu bibit sehat dan mulus, memiliki umbi kekar, berdaun hijau cerah, dan tebal, seperti Gambar 9a.
Bibit yang mati dapat menyebabkan kerugian dan menjadi risiko bagi pengusaha. Risiko bibit seedling pada Dede Anggrek dapat ditunjukan setelah proses adaptasi dilakukan. Pada proses adaptasi yang dilakukan bibit seedling
Dede Anggrek apabila tidak memiliki kualitas baik akan mati, seperti yang ditunjukkan Gambar 9b. Adapun data bibit yang mati pada Tabel 8:
Tabel 8 kematian anggrek akibat sumber risiko kualitas bibit
Periode Waktu Kematian anggrek (pot)
1 April – Desember 2011 12 2 Mei 2011 – Januari 2012 14 3 Juli 2011 – Maret 2012 9 4 September 2011 – Mei 2012 7 5 Oktober 2011 – Juni 2012 6 6 Februari 2012–Oktober 2012 5 7 Maret 2012–November 2012 7 8 April 2012 – Desember 2012 5 9 Mei 2012 – Januari 2013 4 10 Juli 2012 – Maret 2013 14 11 September 2012 – Mei 2013 12 12 Oktober 2012 – Juni 2013 18 D. Iklim
Media tanam pada Dede Anggrek merupakan sumber risiko produksi yang dihadapi namun apabila intensitas curah hujan tinggi maka dapat membuat media
Gambar 9 bibit seedling (a) keadaan sehat (b) tidak tumbuh
tanam yang ada ditumbuhi oleh lumut yang dapat menyebabkan menghambat pertumbuhan anggrek. Selain itu akibat dari curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan busuk akar pada tanaman anggrek. Adapun ciri media tanam yang ditumbuhi lumut dapat dilihat pada gambar 10
Gambar 10 Sumber risiko curah hujan membuat media berlumut dan akar tanaman busuk
Dibandingkan dengan jenis tanaman lain, tanaman anggrek Dendrobium
membutuhkan kelembaban untuk menghindari proses respirasi atau penguapan yang berlebihan. Dan apabila saat musim kemarau tiba sangat diperlukan sekali penyiraman air yang terlalu sering agar dapat meningkatkan kelembapan, karena apabila anggrek dendrobium terkena panas yang berlebih akan menyebabkan warna tanaman jadi kekuningan dan akhirnya kecoklatan seperti terbakar. Selain itu, hujan yang tinggi serta berubah- ubah dapat mengakibatkan kelembaban yang terlalu tinggi dan berdampak pada media tanam dan tanaman anggrek itu sendiri. Dampak kelembaban yang terlalu tinggi pada media tanam dapat ditandai oleh tumbuhnya lumut sedangkan dampak yang ditimbulkan akibat kelembaban pada tanaman anggrek membuat akar busuk yang apabila tidak cepat ditangani akan mengakibatkan kematian pada tanaman tersebut. Berikut data kegagalan produksi akibat sumber risiko iklim.
Tabel 9 Jumlah Kegagalan Produksi yang disebabkan oleh iklim
Periode Waktu kematian anggrek (pot)
1 April – Desember 2011 42 2 Mei 2011 – Januari 2012 39 3 Juli 2011 – Maret 2012 46 4 September 2011 – Mei 2012 16 5 Oktober 2011 – Juni 2012 10 6 Februari 2012–Oktober 2012 14 7 Maret 2012–November 2012 8 8 April 2012 – Desember 2012 29 9 Mei 2012 – Januari 2013 5 10 Juli 2012 – Maret 2013 12 11 September 2012 – Mei 2013 10 12 Oktober 2012 – Juni 2013 40
Jumlah kegagalan produksi antara fase seedling sampai remaja yang diakibatkan oleh smber risiko iklim dapat dilihat dalam Tabel 6. Jumlah kegagalan produksi pada fase produksi seedling sampai remaja yang diakibatkan oleh iklim dihitung melalui pencatatan yang dilakukan setiap hari. Pencatatan tersebut dilakukan pada saat proses perawatan tanaman setiap hari.
E. Hama dan penyakit
Hama merupakan semua jenis organisme multisel (biasanya berasal dari golongan arthopoda bahkan mamalia) yang bersifat merugikan bagi tanaman inang, sedangkan penyakit ialah semua jenis mikroorganisme (umumnya dari golongan bakteri dan jamur ) yang bersifat merugikan tanaman inang. Hama merupakan salah satu sumber risiko yang terdapat pada usaha budidaya anggrek
Dendobrium pada Dede Anggrek. Hama yang menyerang tanaman anggrek pada fase produksi seedling sampai remaja adalah siput, belalang, kumbang gajah, tungau merah, semut, kutu daun, kaki seribu. Jumlah hama yang menyerang dapat meningkat sehabis terjadinya banjir. Lokasi usaha Dede Anggrek merupakan daerah salah satu daerah yang sering terkena banjir.
Berdasarkan hasil penelitian hama tungau merah menyerang bagian daun pada tanaman. Hama tungau merah menggerogoti bagian daun pada tanaman anggrek dan tempat hidupnya dibawah daun. Hal tersebut mengakibatkan daun menjadi rusak dan lama kelamaan menjadi kuning, sehingga tidak tumbuh mencapai fase remaja. Sedangkan, hama kumbang gajah menyerang bagian batang. Kumbang gajah ini paling parah merusak tanaman anggrek yaitu menggerogoti batang tanaman anggrek dan bertelur didalam batang, menyebabkan batang tanaman anggrek menjadi rusak dan habis digerogoti.. Hal tersebut kemudian menyebabkan batang tanaman menjadi membusuk. Berikut gejala hama yang biasa menyerang tanaman anggrek Dendrobium di Dede Anggrek:
1. Kumbang gajah
Kumbang ini berwarna hitam kotor/tidak mengkilap. Ukuran bervariasi 3,5 - 7 mm. Gejala serangan yaitu kumbang bertelur pada daun atau lubang batang tanaman. Dan menyebabkan terjadinya kerusakan/kematian bagian tanaman yang dirusak. Larva menggerek daun dan memakan jaringan di bagian dalam batang. 2. Tungau merah
Tunga berwarna merah, berukuran sangat kecil kira-kira 0,1 mm dan umumnya ditemukan dibawah permukaan daun. Gejala serangan yaitu bagian tanaman yang terserang biasanya adalag tangkai, daun dan bunga. Pada permukaan atas daun terdapat titik atau bercak berwarna kuning atau coklat kemudian meluas dan seluruh daun menjadi kuning, pada permukaan bawah berwarna putih perak. Hama ini dapat berjangkit baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Namun biasanya serangan meningkat pada musim kemarau. 3. Siput
Siput memiliki cangkang yang kecil dan sedikit menonjol. Berukuran panjang 5 cm.berwarna coklat kekuningan atau coklat keabuan. Pada siang hari siput bersembunyi ditempat yang teduh dan aktif mencari makan pada malam
hari. Gejala serangan yaitu siput memakan daun dan membuat lubang-lubang tidak beraturan. Seringkali ditandai adanya kotoran bekas lendir yang mengkilat. Akar dan tunas anakan juga diserang. Siput ini seringkali merusak persemaian atau tanaman yang baru saja tumbuh.
4. Kutu daun
Hama ini mirip dengan kutu perisai, berwarna cokelat gelap dan berukuran 2,5-3 mm. Kutu muda berwarna hijau hingga kuning, bekerja dengan menghisap cairan pucuk daun, tangkai bunga, dan bagian tanaman yang menyipan bahan makanan. Setelah menghisap cairan maka ia akan menempel pada daun.
Penyakit yang sering kali timbul pada daun anggrek Dendrobium adalah berupa jamur. Tanaman yang terjakutu ini menyerang hebat pada saat musim kemarau, bersifat mudah berpindah tempat sehingga berpotensi menjadi vektor virus. Kutu juga mengeluarkan cairan manis seperi madu yang mengundang semut. Gejala serangan yaitu daun melengkung, muncul belang kekuningan, dan akhirnya rontok, serangan lebih parah dapat menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak bisa bebunga
Penyakit dapat diidentifikasi melalui daun-daun pada tanaman tersebut. Warna daun yang terjangkit akan berubah warna menjadi putih keabu-abuan. Selain itu, pada permukaan daun juga akan bermunculan serbuk halus yang menyebabkan perubahan warna sehingga terlihat menjadi putih keabu-abuan. Serbuk halus tersebut merupakan penyakit berupa jamur yang menyerang tanaman anggrek. Jamur juga dapat bermunculan disekitar media tanam tanaman anggrek yang menyebabkan tanaman menjadi sangat lembab yang lama kelamaan menyebabkan daun pada tanaman anggrek menjadi kekuningan.
Jamur tersebut sering kali muncul akibat keadaan cuaca yang terlalu lembab. Jamur sering kali bermunculan ketika curah hujan cukup tinggi. Identifikasi terhadap jamur pada tanaman dapat dilakukan dengan mudah karena dapat dilihat oleh mata langsung. Tanaman yang terjangkit jamur kemudian dipisahkan dari tempat budidaya. Dengan demikian proses produksi untuk tanaman-tanaman yang terjangkit tersebut pun tidak dilanjutkan. Berikut penyakit yang sering menyerang tanaman anggrek pada Dede Anggrek :
1. Bercak kelabu
Gejala serangannya yaitu, bercak dengan tepi gelap tengah bercak berwarna keperak abu-abu. Penularan dapat disebabkan oleh percikan air. Dan faktor yang mempengaruhi adalah kelembapan yang tinggi.
2. Bercak Kuning
Gejala serangan yang ditimbulkan adalah daun yang terserang timbul bercak-bercak klorotik dan nekrotik berwarna kuning sampai coklat. Serangan berat menyebabkan daun-aun gugur sehingga batang menjadi gundul.patogen yang menyebabkan daun-daun gugur sehingga menyebabkan penurunan nilai tanaman karena penampilannya yang kurang baik. Penularan dapat disebabkan oleh percikan air dan angin. Faktor yang mempengaruhinya adalah cuaca yang lembab, gelap, panas dengan curah hujan tinggi.
Tabel 10 Jumlah Kegagalan Produksi yang disebabkan oleh hama dan penyakit
Periode Waktu kematian anggrek (pot)
1 April – Desember 2011 56 2 Mei 2011 – Januari 2012 67 3 Juli 2011 – Maret 2012 45 4 September 2011 – Mei 2012 37 5 Oktober 2011 – Juni 2012 28 6 Februari 2012–Oktober 2012 53 7 Maret 2012–November 2012 32 8 April 2012 – Desember 2012 62 9 Mei 2012 – Januari 2013 24 10 Juli 2012 – Maret 2013 32 11 September 2012 – Mei 2013 42 12 Oktober 2012 – Juni 2013 73
Jumlah kegagalan produksi antara fase seedling sampai remaja yang diakibatkan oleh adanya hama dan penyakit dapat dilihat dalam Tabel 10. Jumlah kegagalan produksi pada fase produksi seedling sampai remaja yang diakibatkan oleh hama dan penyakit dapat diketahui melalui pencatatan yang dilakukan setiap hari. Pencatatan tersebut dilakukan pada saat proses perawatan tanaman setiap hari.
(a) (b)
Gambar 11 Sumber risiko hama dan penyakit tanaman remaja akibat (a) terserang tungau merah (b) terserang jamur
Analisis Probabilitas Sumber Risiko Produksi
Setelah identifikasi sumber risiko dilakukan, selanjutnya dilakukan analisis probabilitas untuk setiap sumber risiko yang ada. Analisis sumber risiko ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan terjadinya risiko oleh setiap sumber risiko produksi yang dalam usaha budidaya anggrek
probabilitas terjadinya risiko produksi yang diakibatkan oleh setiap sumber risiko dilakukan dengan menggunakan data pencatatan kegagalan setiap periode penanaman seedling hingga tanaman remaja. Adapun hasil perhitungan nilai probabilitas dari masing-masing sumber risiko produksi Dede Anggrek pada Tabel 11:
Tabel 11 Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko produksi Dede Anggrek
Sumber risiko Probabilitas (%)
Kualitas bibit 55,17
Hama dan penyakit 59,09
Media tanam 49,6
Iklim 46,41
SDM 54,3
Sumber risiko yang memiliki nilai probabilitas tertinggi, yaitu sumber risiko Hama dan Penyakit. Selanjutnya yang kedua sumber risiko kualitas bibit, ketiga SDM, keempat media tanam, dan terakhir iklim. Adapun penjelasan mengenai masing-masing sumber risiko, yaitu:
A. Kualitas Bibit
Bibit merupakan sumber risiko yang memiliki nilai kemungkinan terjadi terbesar kedua. Batas kematian anggrek akibat bibit yang dianggap normal oleh Dede Anggrek diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas anggrek akibat sumber risiko bibit dikalikan dengan rata-rata jumlah pot anggrek yang mati pada Dede Anggrek. Kematian anggrek akibat bibit yang dapat dianggap masih normal adalah 10 pot per setiap siklus produksi. Probabilitas terjadinya kematian anggrek yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa nilai probabilitas untuk sumber risiko produksi berupa kualitas bibit adalah sebesar yaitu 55.17 persen, seperti yang ditujukkan pada Tabel 12. Nilai tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan tejadinya risiko produksi akibat kualitas bibit adalah sebesar 55.17 persen diatas batas normal kegagalan sebanyak 10 pot.
Tabel 12 Hasil perhitungan probabilitas risiko kualitas bibit pada 12 periode
Keterangan Nilai
Total (pot) 113
Rata – rata (pot) 9
Standar deviasi (pot) 4
X (batas normal) (pot) 10
Z 0,13
Nilai pada tabel z 0,5517
Probabilitas risiko (%) 55,17
B. Hama dan Penyakit
Hama dan Penyakit merupakan sumber risiko yang memiliki nilai kemungkinan terjadi tertinggi. Batas kematian anggrek akibat hama dan penyakit
yang dianggap normal oleh Dede Anggrek diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas anggrek akibat sumber risiko hama dan penyakit dikalikan dengan rata- rata jumlah pot anggrek yang mati pada Dede Anggrek. Kematian anggrek akibat hama dan penyakit yang dapat dianggap masih normal adalah 50 pot per setiap siklus produksi. Probabilitas terjadinya kematian anggrek yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa nilai probabilitas untuk sumber risiko produksi berupa hama dan penyakit adalah sebesar yaitu 59.09 persen, seperti pada Tabel 13. Nilai tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan tejadinya risiko produksi akibat hama dan penyakit adalah sebesar 59.09 persen diatas batas normal kegagalan sebanyak 50 pot.
Tabel 13 Hasil perhitungan probabilitas risiko hama dan penyakit pada 12 periode
Keterangan Nilai
Total (pot) 551
Rata – rata (pot) 46
Standar deviasi (pot) 16
X (batas normal) (pot) 49,561
Z 0,23
Nilai pada tabel z 0,5909
Probabilitas risiko (%) 59,09
C. Media Tanam
Media tanam merupakan sumber risiko yang memiliki nilai kemungkinan terjadi urutan ke empat. Batas kematian anggrek akibat media tanam yang dianggap normal oleh Dede Anggrek diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas anggrek akibat sumber risiko media tanam dikalikan dengan rata-rata jumlah pot anggrek yang mati pada Dede Anggrek. Kematian anggrek akibat hama dan penyakit yang dapat dianggap masih normal adalah 19 pot per setiap siklus produksi. Probabilitas terjadinya kematian anggrek yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa nilai probabilitas untuk sumber risiko produksi berupa media tanam adalah sebesar yaitu 49.6 persen, seperti pada Tabel 14. Nilai tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan tejadinya risiko produksi akibat media tanam adalah sebesar 49.6 persen diatas batas normal kegagalan sebanyak 19 pot.
Tabel 14 Hasil perhitungan probabilitas risiko media tanam pada 12 periode
Keterangan Nilai
Total (pot) 226
Rata – rata (pot) 19
Standar deviasi (pot) 9,2
X (batas normal) (pot) 18,77
Z -0,01
Nilai pada tabel z 0,496
D. Iklim
Iklim merupakan sumber risiko yang memiliki nilai kemungkinan terjadi urutan terakhir yaitu ke lima dari seluruh sumber risiko produksi yang ada pada Dede Anggrek. Batas kematian anggrek akibat iklim yang dianggap normal oleh Dede Anggrek diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas anggrek akibat sumber risiko iklim dikalikan dengan rata-rata jumlah pot anggrek yang mati pada Dede Anggrek. Kematian anggrek akibat sumber risiko iklim yang dapat dianggap masih normal adalah 23 pot per setiap siklus produksi. Probabilitas terjadinya kematian anggrek yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa nilai probabilitas untuk sumber risiko produksi berupa iklim adalah sebesar yaitu 46.41 persen, seperti pada Tabel 15. Nilai tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan tejadinya risiko produksi akibat iklim adalah sebesar 46.41 persen diatas batas normal kegagalan sebanyak 23 pot.
Tabel 15 Hasil perhitungan probabilitas risiko iklim pada 12 periode
Keterangan Nilai
Total (pot) 271
Rata – rata (pot) 23
Standar deviasi (pot) 15
X (batas normal) (pot) 21
Z -0,09
Nilai pada tabel z 0,4641
Probabilitas risiko (%) 46,41
E. SDM
Sumber daya manusia merupakan sumber risiko yang memiliki nilai kemungkinan terjadi urutan ke Tiga. Batas kematian anggrek akibat media tanam yang dianggap normal oleh Dede Anggrek diperoleh dari nilai rata-rata persentase mortalitas anggrek akibat sumber risiko sumber daya manusia dikalikan dengan rata-rata jumlah pot anggrek yang mati pada Dede Anggrek. Kematian anggrek akibat sumber daya manusia yang dapat dianggap masih normal adalah 19 pot per setiap siklus produksi. Probabilitas terjadinya kematian anggrek yang melebihi atau kurang dari batas normal dapat dihitung dengan metode nilai Z. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa nilai probabilitas untuk sumber risiko produksi berupa sumber daya manusia adalah sebesar yaitu 54.3 persen, seperti pada Tabel 16. Nilai tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan tejadinya risiko produksi akibat sumber daya manusia adalah sebesar 54.3 persen diatas batas normal kegagalan sebanyak 19 pot.
Tabel 16 Hasil perhitungan probabilitas risiko SDM pada 12 periode
Keterangan Nilai
Total (pot) 226