BAB III DAMPAK KEHADIRAN PT AR MARTABE DI BATANG
3.3. Faktor Penyebab Terjadinya Konflik
4.1.1 Pembakaran Pipa PT AR Martabe
Demonstrasi yang besar terjadi karena aksi pembuangan limbah yang akan dibuang kesungai batang toru. Demonstrasi dilakukan masyarakat untuk pertama kali dilakukan masyarakat pada bulan juni 2012. Demonstrasi yang dilakukan masyarakat karena penolakan pembuangan limbah yang dilakukan PT AR Martabe ke Sungai Batang Toru. Pembuangan limbah mendapat penolakan keras dari masyarakat. Awal konflik bermula ketika masyarakat melihat pengerukan galian paret untuk pemasangan saluran pipa untuk pembuangan limbah dari PT AR Martabe dari Tor Sipal-pal Batang Toru sepanjang 2,7 Km melewati areal perkebunan sait PTPN-3 menuju ke hulu sungai Bt Toru, tepatnya di Pulo Godang 1 Km ke hilir dari Jembatan Batang Toru perbatasan antara Kecamatan Batang Toru dan Kecamatan Muara Batang Toru.
Pembuangan Limbah menjadi penyebab utama terjadinya konflik antara masyarakat dengan PT AR Martabe. Perjanjian awal yang diketahui masyarakat pada tahun 2007 adalah pembuangan limbah ke Laut oleh PT AR Martabe semasa Bupati Lama, Ongku Siregar menjabat, tapi setelah ganti bupati menjasi H.Syahrul Pasaribu limbah dibuang ke Sungai Batang Toru. Masyarakat menuntut agar penanaman pipa diberhentikan dan tidak dilanjutkan kembali. Bagaimanapun masyarakat menolak pembuangan limbah ke sungai Batang Toru. Penanaman pipa yang dilakukan PT AR Martabe harus diberhentikan karena banyak melanggar perjanjian.
Masyarakat mulai melakukan Demo pada bulan juni 2012. Masyarakat yang melakukan aksi demo untuk melakukan penolakan kepada PT AR Martabe terkait pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru. Masyarakat yang melakukan aksi demo terdiri dari beberapa desa yang mempunyai kepentingan di Sungai Batang Toru.
Pembuangan limbah yang akan dibuang ke Sungai Batang Toru mendapat penolakan keras oleh masyarakat yang berada di Kecamatan Batang Toru dan Masyarakat yang berada dialiran Sungai Batang Toru. Penolakan yang dilakukan masyarakat karena masyarakat takut Sungai Batang Toru akan tercemar oleh limbah dari PT AR Martabe.
Penolakan yang dilakukan masyarakat dengan berdemo kepada PT AR Martabe.
demo pertama yang dilakukan pada bulan juli 2012 tersebut terdiri dari sekitar 400 orang yang terdiri dari masyarakat Kecamatan Muara Hutaraja. Demonstrasi yang terjadi pada hari selasa saat itu menuntut agar penanaman pipa dari PT AR Martabe diberhentikan karena masyarakat menolak pembuangan limbah ke sungai Batang Toru. Informan saya seorang pemuda dari Kelurahan Hutaraja mengatakan kalau mereka melakukan aksi demo tersebut karena geram PT AR Martabe tidak melakukan pemberitahuan terlebih dahulu kepada masyarakat mengenai pembuangan limbah yang akan dibuang ke Sungai Batang Toru. Selain Sosialisasi yang diakui masyarakat tidak terbuka hanya orang-orang tertentu saja yang diajak sosialisasi bukan orang-orang yang ditunjuk masyarakat sebagai perwakilan masyarakat memang sangat tidak setuju pembuangan limbah PT AR Martabe ke Sungai Batang Toru. Masyarakat yang paling menolak pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru adalah Masyarakat dari kecamatan Muara Hutaraja.
Masyarakat yang menuntut agar pembuangan limbah tidak dilanjutkan dan untuk sementara penanaman pipa yang dilakukan PT AR Martabe harus diberhentikan. Karena permintaan masyarakat yang tidak dihiraukan oleh PT AR Martabe masyarakat marah dan bersifat anarkis. Sebelumnya tanggal 11 Juni PT AR Martabe mengadakan sosialisasi mengenai pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru. sosialisasi yang diadakan di Aula Mapolres Tapanuli Selatan dihadiri oleh unsure Muspida Plus. Dalam sosialisasi tersebut masyarakat tidak merasa puas dengan hasil rapat hingga tanggal 12 Juni 2012 Masyarakat dari beberapa desa di Kecamatan Muara Batang Toru melakukan aksi pembakaran alat inventaris PT AR Martabe di Pulo Godang.
Pembakaran yang dilakukan masyarakat merupakan suatu bentuk ancaman dan peringatan kepada PT AR Martabe untuk tidak melanjutkan pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru. Pembakaran yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk perlawanan atas penolakan dibuangnya limbah ke Sungai Batang Toru. Masyarakat membakar pipa yang diletakkan di pinggir jalan disekitar kebun Sawit di Pulo Godang. Selain pipa yang dibakar masyarakat juga membakar Mobil milik Satpam PT AR Martabe di Sipisang.
Saat itu mobil yang melintas di Sipisang menjadi sasaran masyarakat yang marah.
Masyarakat mengakui bahwa pembakaran yang dilakukan masyarakat merupakan awal dari kekerasan yang akan mereka lakukan jika pembuangan limbah masih tetap dilakukan ke Sungai Batang Toru.
Kejadian bermula ketika ratusan warga asal Desa Hutaraja, Muara Hutaraja, Bandar Hapinis, Mabang Pasir yang terdiri dari Kecamatan Muara Batang Toru, datang
ke lokasi dengan mengendarai sejumlah kendaraan. Masyarakat yang berjumlah ratusan tersebut berusaha menghentikan proses penanaman pipa pembuangan limbah yang sedang berlangsung. Satuan pengamanan perusahaan yang mengendarai mobil Ford Ranger berusaha untuk menghadang masyarakat yang marah, tapi karena tidak terima dengan penghadangan itu, masyarakat kemudian membakar kendaraan pihak keamanan PT AR Martabe tersebut. Pembakaran terjadi sekitar jam 13.30 pada hari selasa. Aparat langsung mengamankan kejadian tersebut dan langsung membawa mobil yang dibakar masyarakat tersebut. Tidak ada yang ditangkap dalam kejadian tersebut tapi PT AR Martabe menghentikan sementara kegiatan penanaman pipa untuk mengaliri limbah PT AR Martabe.
Gambar6 : bekas pembakaran pipa yang dilakukan masyarakat tanggal 11/06/2012 Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah pembakaran yang dilakukan masyarakat dari Kecamatan Muara Batang Toru, penanaman pipa yang dilakukan diberhentikan kembali. Sosialisasi yang telah dilakukan PT AR Martabe kepada Masyarakat tidak semua mengetahui mengenai
sosialisasi yang telah dilakukan PT AR Martabe. Setelah melakukan pembakaran pipa dan mobil inventaris PT AR Martabe keadaan sudah mulai kondusif. Tanggal 13 juni 2012 masyarakat mengirimkan surat ke DPRD Tapanuli Selatan mengenai pembuangan limbah tersebut. Surat yang dikirimkan masyarakat Muara Hutaraja mendapat balasan dari DPRD Tapanuli Selatan. Pada tanggal 16 Juni 2012 beberapa orang anggota DPRD Tapanuli Selatan Mengunjungi masyarakat tepatnya di Desa Muara Hutaraja untuk melakukan pertemuan dengan Masyarakat mengenai pembuangan limbah tersebut.
Anggota DPRD yang hadir pada saat itu berjumlah 13 orang dan yang datang pada pertemuan saat itu merupakan perwakilan dari orang-orang yang berada di Kecamatan Muara Batang Toru. Anggota DPRD Tapanuli Selatan yang hadir pada saat itu adalah H.Tongku Makbul, H.Darwis Sitompul SE, Borkat Hrp MM, Drs.Fajaruddin Tanjung, Armansyah Nst,MH, Iqbal Halid Srg, Baginda Pulungan, Husin Sogot Simatupang, Masrawati,Khoiruddin Lc, Ali Imran Hsb,Sawal Pane dan Robinton Simajuntak, anggota DPRD yang datang tersebut merupakan anggota DPRD yang mendukung masyarakat. Pembakaran yang dilakukan masyarakat karena tuntutan mereka yang dari awal bahwa pembuangan limbah tidak ke Sungai Batang Toru tidak dihiraukan oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Masyarakat yang menuntut pembuangan limbah ini tidak dibuang kesungai batang toru mengancam akan berbuat sesuka mereka jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Setelah melakukan pertemuan dengan beberapa orang anggota DPRD Tapanuli Selatan masyarakat menunggu kepastian dari PT AR Martabe dan Pemerintah mengenai realisasi pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru. Tidak ada
aksi dari masyarakat setelah masyarakat melakukan aksi pembakaran yang dilakukan masyarakat Kecamatan Muara Huta Raja tersebut.