• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Masyarakat

Dalam dokumen Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2015 2019 (Halaman 85-89)

PEMBANGUNAN MANUSIA DAN

Boks 4.1. Tim Nusantara Sehat di Puskesmas Entikong

4.6 Pembangunan Masyarakat

4.6.1 Kebijakan

Pembangunan masyarakat diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Pembangunan masyarakat dilaksanakan melalui dua agenda besar.

Pertama, melakukan revolusi karakter bangsa, melalui: (1) Mengembangkan pendidikan kewargaan di sekolah untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan, memperkuat nilai-nilai toleransi, menumbuhkan penghargaan pada keragaman sosial-budaya, memperkuat pemahaman mengenai hak-hak sipil dan kewargaan, serta tanggung jawab sebagai warga negara yang baik (good citizen); (2) Meningkatkan kualitas pendidikan agama di sekolah untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan untuk membina akhlak mulia dan budi pekerti luhur; (3) Meningkatkan pemasyarakatan budaya produksi; dan (4) Meningkatkan iklim yang kondusif bagi inovasi.

Kedua, memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia, melalui (1) Memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga; (2) Membangun kembali modal sosial dalam rangka memperkukuh karakter dan jati diri bangsa; (3) Meningkatkan peran kelembagaan sosial; (4) Meningkatkan kepatuhan terhadap hukum dan penghormatan terhadap lembaga penegakan hukum; (5) Mengembangkan insentif khusus untuk memperkenalkan dan mengangkat kebudayaan lokal serta membentuk lembaga kebudayaan sebagai basis pembangunan budaya dan karakter bangsa Indonesia; (6) Meningkatkan promosi, diplomasi dan pertukaran budaya; (7) Meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengamalan dan pengembangan nilai-nilai keagamaan, sehingga

Tabel 4.6

Capaian Sasaran Pokok Pembangunan Masyarakat RPJMN 2015-2019 Uraian Satuan 2014 (baseline) 2015 2016 Target 2019 Perkiraan Capaian 2019

Target Realisasi Target Realisasi

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Metode Lama Nilai 73,80 74,80 - 75,30 - 76,30  Metode Baru 68,90 - 69,55 - 70,19 71,98

Indeks Pembangunan Masyarakat Nilai 0,55 Meningkat 0,55 Meningkat NA Meningkat Indeks gotong royong (mengukur

kepercayaan kepada lingkungan

tempat inggal, kemudahan

mendapatkan pertolongan,

aksi kolekif masyarakat dalam

membantu masyarakat yang

membutuhkan dan kegiatan baki

sosial, serta jejaring sosial)

Nilai 0,55

(2012)Meningkat

*) 0,49 Meningkat*) NA Meningkat

Indeks toleransi (mengukur nilai toleransi masyarakat dalam menerima kegiatan agama dan suku

lain di lingkungan tempat inggal)

Nilai 0,49

(2012)Meningkat

*) 0,48 Meningkat*) NA Meningkat

Indeks rasa aman (mengukur rasa aman yang dirasakan masyarakat di

lingkungan tempat inggal)

Nilai 0,61

(2012)Meningkat

*) 0,67 Meningkat*) NA Meningkat

Jumlah konlik sosial (per tahun) konlikKasus 164

(2013) Menurun

*) NA Menurun*) NA Menurun

Catatan: *) Data tahunan idak tersedia karena BPS menyelenggarakan survei Modul Sosial Budaya per iga tahun.

**) Merupakan angka perkiraan pada Kajian Prakarsa Strategis Pembangunan Indeks Pembangunan Masyarakat

***) IPM dihitung dengan metode baru, yaitu komponen melek huruf digani dengan harapan lama sekolah dan nilai Indeks IPM dihitung dengan rata-rata geometrik (IPM lama dihitung dengan rata-rata aritmaik)

Keterangan Noiikasi:  Sudah tercapai/on track  Perlu kerja keras  Sangat sulit tercapai  Belum dapat diberikan noiikasi

agama berfungsi dan berperan sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan; (8) Meningkatkan kerukunan umat beragama; (9) Meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan; (10) Menumbuhkan budaya olahraga dan prestasi; dan (11) Meningkatkan pembudayaan kesetiakawanan sosial dalam penyelenggaraan perlindungan sosial.

4.6.2 Capaian

Capaian terhadap sasaran pembangunan masyarakat dalam RPJMN 2015-2019 disajikan pada Tabel 4.6.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan ukuran keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia. Dalam RPJMN, target IPM dihitung dengan menggunakan metode lama dimana komponen penyusun IPM terdiri dari angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, dan pendapatan. Namun demikian, mulai tahun 2015, pengukuran IPM dilakukan dengan metode baru, dimana angka melek huruf digantikan dengan angka harapan lama sekolah dan indeks dihitung dengan rata-rata geometrik. Metode perhitungan ini dinilai lebih relevan dalam menggambarkan perubahan situasi pembangunan

manusia. Dengan demikian, diperlukan penyesuaian terhadap target IPM dalam RPJMN dan RKP.

Berdasarkan perhitungan dengan metode baru, IPM Indonesia meningkat dari 68,90 pada tahun 2014 menjadi 69,55 pada tahun 2015 dan 70,19 pada tahun 2016, yang merupakan sumbangan dari peningkatan seluruh komponen IPM. Pada tahun 2017, IPM ditargetkan mencapai mencapai 70,10 (metode baru). Target tersebut akan dicapai melalui peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, peningkatan akses dan kualitas pelayanan pendidikan, serta upaya di bidang ekonomi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Dalam mencapai sasaran dan target tersebut, beberapa kemajuan penting yang telah dicapai adalah sebagai berikut.

Pertama, meningkatnya upaya merawat kesadaran terhadap kebhinekaan dan keragaman budaya. Dalam merawat kebhinekaan dan keragaman budaya berbagai upaya telah dilakukan, antara lain: (1) Pendidikan karakter pada satuan pendidikan seperti belajar bersama maestro, seniman masuk sekolah, lawatan sejarah nasional, kemah budaya nasional, jejak tradisi nasional; (2) Pengembangan dan revitalisasi museum dan taman budaya; (3) Fasilitasi komunitas budaya dan revitalisasi desa adat; serta (4) Penyelenggaraan berbagai pameran, festival, pagelaran seni dan film.

Kedua, meningkatnya upaya untuk mewujudkan kerukunan hidup umat beragama dengan memperkuat peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di 34 provinsi, 416 kabupaten, dan 98 kota melalui: (1) Fasilitasi operasional pelayanan FKUB; (2) Pengembangan program/kegiatan FKUB; dan (3) Penugasan PNS Kemenag di sekretariat FKUB untuk membantu pelaksanaan program/ kegiatan FKUB. Perkuatan FKUB ini membawa dampak signifikan bagi penyelesaian permasalahan

lintas agama sebagai wadah komunikasi yang melibatkan para tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah daerah, cendekiawan, lembaga keagamaan, pemuda, dan perempuan.

Ketiga, meningkatnya kesadaran pemuda terhadap perilaku destruktif dan meningkatnya budaya olahraga masyarakat. Upaya pemerintah dalam rangka melindungi generasi muda dilakukan melalui penyadaran bahaya penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif), tindak kekerasan dan kriminalitas pemuda, serta perilaku seks beresiko bagi 3.960 pemuda. Adapun untuk meningkatkan budaya olahraga masyarakat, pemerintah menginisiasi gerakan Ayo Olahraga sebagai bagian dari gerakan nasional masyarakat sehat di 17 provinsi, dan penyelenggaraan TAFISA

World Sport for All Games tahun 2016 dengan melibatkan 81 negara sebagai peserta.

Keempat, terlaksananya pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penduduk miskin dan rentan. Pemerintah melakukan berbagai upaya pembangunan perlindungan dan kesejahteraan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan dan rehabilitasi sosial bagi individu, keluarga, rumah tangga, dan komunitas, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas serta PMKS lainnya. Khusus untuk isu penyandang disabilitas, disahkannya UU No. 6/2016 tentang Penyandang Disabilitas menjadi acuan bagi para pihak untuk mewujudkan dan menerapkan 3 prinsip pembangunan inklusif, yaitu partisipasi, nondiskriminasi, dan aksesibilitas. Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan peraturan turunan yang menjadi amanat UU tersebut, antara lain 7 Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang melibatkan lintas K/L terkait, 2 Peraturan Presiden dan 1 Peraturan Menteri Sosial. Untuk isu lansia, tahun 2016 sudah dimulai dilakukan penyusunan naskah akademis untuk revisi UU No. 13/1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia.

(1) Adanya kecenderungan pengalihan ruang publik ke ruang privat yang mengakibatkan terbatasnya ruang/wadah penyaluran aspirasi masyarakat dan ekspresi karya budaya; (2) Masih adanya konflik bernuansa agama seperti kasus penyerangan jamaah sholat Idul Fitri di Tolikara (2015), pembakaran gereja di Aceh Singkil (2015), pembakaran vihara dan kelenteng di Tanjung Balai (2016); (3) Belum optimalnya koordinasi lintas sektor pembangunan pemuda dengan melibatkan 21 kementerian dan 4 lembaga pemerintah; (4) Belum optimalnya koordinasi penyelenggaraan Asian Games dan Asian Paragames 2018 sesuai dengan Keppres No. 12/2015, Keppres No. 2/2016, dan Inpres No. 2/2016; (5) Belum optimalnya operasi penindakan, operasi intelejen, dan penyiapan satuan dalam mencegah konflik sosial dan tindakan terorisme; (6) Rendahnya jumlah paten dan publikasi ilmiah, serta rendahnya sumber daya iptek yang mencakup pendanaan, SDM/peneliti; dan (7) Peran dan kapasitas pendampingan dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial masih belum optimal.

4.6.4 Rekomendasi

Untuk menyelesaikan permasalahan dan kendala tersebut di atas, rekomendasi yang dapat dilakukan, antara lain: (1) Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya Kelima, menurunnya konflik sosial dan

meningkatnya rasa aman. Pemerintah menggalang kerja sama dengan ormas keagamaan, organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, dan organisasi pelajar dalam mencegah konflik sosial, tindak kekerasan, dan terorisme. Untuk kegiatan pencegahan terorisme telah dilaksanakan di beberapa daerah rawan dengan melibatkan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT).

Keenam, meningkatnya budaya inovasi dan pemanfaatan hasil produk inovasi di kalangan masyarakat, lembaga Iptek, industri pemula, pusat entitas riset dan perguruan tinggi, antara lain melalui: (1) Pembangunan science technopark (STP) sebagai pusat penyemaian budaya kreatif dan inovasi, serta hilirisasi hasil Litbang; (2) Penetapan 10.660 SNI yang disusun berdasarkan kebutuhan stakeholder; (3) Pendaftaran 1.521 hak kekayaan intelektual; dan (4) Penetapan varietas tanaman pangan hasil litbangyasa meliputi varietas unggul padi (21 varietas), varietas unggul kedelai (10 varietas), varietas unggul kacang hijau (2 varietas), varietas unggul sorgum (3 varietas), dan varietas unggul gandum (1 varietas).

4.6.3 Permasalahan Pelaksanaan

Pembangunan masyarakat masih dihadapkan pada permasalahan dan tantangan sebagai berikut:

Tabel 4.7

Capaian Sasaran Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Jiwa) RPJMN 2015-2019 Uraian 2014 (baseline) 2015 2016 Target 2019 Perkiraan Capaian 2019 (Noiikasi) Target** Realisasi Target Realisasi*

Rehabilitasi dan Perlindungan Sosial Anak 144.671 152.872 152.872 142.850 142.850 145.190

Pelayanan Sosial Lanjut Usia 46.141 56.384 56.384 54.335 54.335 60.720

Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas 49.991 52.333 52.333 54.034 54.034 61.550  Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan

Napza 10.000 15.505 15.505 20.392 20.392 40.970 

Sumber: Kementerian Sosial, (2016)

Catatan: *) Perkiraan capaian 2016 **) Terjadi penambahan target karena memperoleh APBN-P 2015

karakter dan jati diri bangsa dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap keragaman; (2) Meningkatan peran pemerintah daerah dalam upaya pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan FKUB dan pendirian rumah ibadat; (3) Meningkatkan peran aparat penegak hukum dalam mengantisipasi lebih dini potensi intoleransi di berbagai pelosok tanah air, terutama terhadap kelompok kelompok minoritas agama dan suku tertentu yang masih rawan mendapatkan ancaman kekerasan; (4) Meningkatkan pelayanan kepemudaan yang berkualitas untuk mendukung partisipasi dan peran aktif pemuda di berbagai bidang pembangunan, khususnya dalam rangka pemanfaatan peluang bonus demografi; (5) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga dan prestasi olahraga di tingkat regional dan internasional; (6) Meningkatkan penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan Iptek berbasis budaya dengan senantiasa mengedepankan akal budi, nalar kemanusiaan, dan merawat nilai-nilai luhur budaya bangsa; serta (7) Menguatkan pelaksanaan kelembagaan sosial bagi kelompok PMKS, dengan: (a) Mengembangkan standardisasi pelayanan dan rehabilitasi sosial; (b) Meningkatkan ketersediaan, kualitas dan kompetensi SDM kesejahteraan sosial.

Dalam dokumen Evaluasi Paruh Waktu RPJMN 2015 2019 (Halaman 85-89)