Kebijakan RKP 2015-
3.8 Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperas
3.8.1 Kebijakan
Kebijakan RPJMN 2015-2019
Pada periode RPJMN 2015-2019, kebijakan di bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Koperasi diarahkan untuk meningkatkan daya saing UMKM dan Koperasi sehingga mampu tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan dengan SPIPISE dan tracking system membawa manfaat
bagi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha. Dengan makin banyaknya daerah yang terhubung dengan SPIPISE dan tracking system, pelayanan perizinan invetasi menjadi semakin mudah dan transparan, karena proses perizinan dapat dipantau terus oleh pelaku usaha. Proses yang transparan ini merupakan salah satu wujud dari Nawacita.
Untuk menggerakkan ekonomi, pemerintah telah menerbitkan 14 paket kebijakan ekonomi, antara lain paket kebijakan kedua yaitu tentang kemudahan layanan investasi, tiga jam dengan persyaratan yang telah ditentukan, serta paket kebijakan ke 12 tentang Upaya Perbaikan Kemudahan Berusaha. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mendukung iklim investasi dan usaha yang kondusif memberikan hasil yang positif, yaitu peringkat Indonesia dalam Ease of Doing Business (EoDB) meningkat. Berdasarkan laporan Doing Business 2017: Equal Opportunity for All yang dilakukan Bank Dunia, dari 190 negara dan kawasan ekonomi di dunia, Indonesia berada pada urutan ke-91, naik 15 peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, harapan Presiden terhadap peringkat kemudahan usaha di Indonesia untuk dapat mencapai peringkat 40 belum terpenuhi, karena itu pemerintah terus berupaya keras mewujudkan hal tersebut.
3.7.3. Permasalahan Pelaksanaan
Beberapa tantangan yang kemungkinan akan dihadapi dalam upaya pencapaian sasaran pembangunan penguatan investasi, antara lain yaitu: (1) Masih banyaknya ketidaksinkronan dan ketidakharmonisan berbagai peraturan pada berbagai strata regulasi terkait investasi; (2) Belum memadainya ketersediaan energi dan infrastruktur; (3) Masih belum meratanya ketersediaan dan kehandalan dari jaringan koneksi internet untuk mendukung implementasi SPIPISE dan tracking system; serta (4) Belum semua kewenangan
skala yang lebih besar (naik kelas) dalam rangka mendukung kemandirian perekonomian nasional. Kebijakan tersebut dilaksanakan melalui lima strategi peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi sebagai berikut: (1) Meningkatkan kualitas SDM; (2) Meningkatkan akses pembiayaan dan perluasan skema pembiayaan; (3) Meningkatkan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran; (4) Menguatkan kelembagaan usaha; dan (5) Memberikan kemudahan, kepastian, dan perlindungan usaha.
Kebijakan RKP 2015 dan RKP 2016
Pada RKP 2015, kebijakan di bidang UMKM dan Koperasi diarahkan untuk meningkatkan daya saing UMKM dan Koperasi, terutama untuk mendorong peran UMKM dan Koperasi dalam memperkuat ketahanan perekonomian domestik dan membangun keunggulan global. Peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi juga dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan dari masing- masing skala usaha. Penanganan isu daya saing pada kelompok usaha mikro terutama ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk yang memberi kesempatan perbaikan pendapatan dan pertumbuhan usaha ke skala yang lebih besar. Bagi usaha kecil, penanganan isu daya saing berkaitan erat dengan kebutuhan usahanya yang sedang berkembang dan penguatan kapasitasnya untuk bersaing di pasar. Sementara itu, peningkatan daya saing usaha menengah diarahkan untuk mendorong perannya yang lebih besar dalam penguatan pasar domestik, ekspor dan investasi.
Kebijakan di bidang UMKM dan Koperasi pada tahun 2016 masih sejalan dengan arah kebijakan RPJMN 2015-2019 terutama dalam upaya meningkatkan kapasitas UMKM dan Koperasi dalam penyediaan produk barang dan jasa dengan ragam, jumlah dan kualitas yang memadai di dalam negeri, serta adaptasi pasar dan partisipasi di
UMKM dan Koperasi terutama diarahkan untuk upaya pencapaian sasaran Nawacita, seperti upaya pembentukan lembaga pembiayaan UMKM dan Koperasi, serta pembangunan 1.075 pasar tradisional yang dikelola koperasi (dari target nasional 5.000 pasar tradisional).
3.8.2 Capaian
Capaian sasaran peningkatan daya saing UMKM dan koperasi pada RPJMN 2015-2019 sebagian besar cukup baik. Indikator, target, serta perkiraan capaian untuk masing-masing sasaran terdapat pada Tabel 3.9.
Peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi pada RPJMN 2015-2019 dilaksanakan melalui lima strategi utama. Hingga akhir 2016, capaian berbagai kegiatannya adalah sebagai berikut. Pertama, peningkatan kapasitas SDM telah dilakukan melalui berbagai pelatihan dan bimbingan teknis, pengembangan kewirausahaan (termasuk penyusunan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria/NSPK Pengembangan Kewirausahaan), serta pembangunan 7 Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM baru dan optimalisasi 42 PLUT yang telah dibangun. Kedua, peningkatan akses pembiayaan dan perluasan skema pembiayaan telah dilakukan melalui fasilitasi pendampingan UMKM untuk mengakses KUR, fasilitasi dan pendampingan untuk sertifikasi tanah, dana bergulir melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM, serta peningkatan kapasitas koperasi sebagai pengelola sistem resi gudang (SRG). Ketiga, peningkatan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran telah dilakukan melalui fasilitasi penerapan standardisasi dan sertifikasi produk, revitalisasi pasar rakyat, serta fasilitasi penataan lokasi usaha, pameran di dalam dan luar negeri. Keempat, penguatan kelembagaan usaha telah dilakukan melalui penguatan sistem bisnis koperasi/sentra usaha mikro, perekrutan
Tabel 3.9
Capaian Sasaran Peningkatan Daya Saing UMKM dan Koperasi RPJMN 2015-2019 Uraian Satuan 2014 (baseline) 2015 2016 Target 2019 Perkiraan Capaian 2019 Target Realisasi Target Realisasi
Pertumbuhan kontribusi UMKM dan koperasi dalam pembentukan PDB
Persen 7,71 6,50-7,50 7,32a) 6,50-7,50 b) Rata-rata
6,50-7,50
Pertumbuhan jumlah
tenaga kerja UMKM Persen 7,96 4,00-5,50 7,39
a) 4,00-5,50 b) Rata-rata
4,00-5,50
Pertumbuhan kontribusi UMKM dan koperasi dalam ekspor nonmigas
Persen 2,12 5,00-7,00 3,49 a) 5,00-7,00 b) Rata-rata
5,00-7,00
Pertumbuhan kontribusi UMKM dan koperasi dalam investasi
Persen 5,77 8,50-10,50 7,97 a) 8,50-10,50 b) Rata-rata
8,50-10,50
Pertumbuhan
produkivitas UMKM Persen 5,22 5,00-7,00 4,78 a) 5,00-7,00 b)
Rata-rata 5,00-7,00 Proporsi UMKM yang mengakses pembiayaan formal Persen 21,64 21,00 22,60 a) 22,00 b) 25,00 Jumlah UMKM dan koperasi yang menerapkan standardisasi mutu dan
seriikasi produk
Unit - 2.000 3.654 a) 2.000 2.052 a) 10.000
Pertambahan jumlah wirausaha baru melalui program pusat dan daerah Wirausaha Baru - 200 ribu c) 200 ribu c) 1 juta Parisipasi anggota koperasi dalam permodalan Persen 52,73 53,00 58,84 53,50 b) 55,00 Pertumbuhan jumlah
anggota koperasi Persen 3,36 7,50-10,00 3,67 7,50-10,00
b) Rata-rata
7,50-10,00
Pertumbuhan volume
usaha koperasi Persen 51,18 15,50-18,00 40,18 15,50-18,00
b) Rata-rata
15,50-18,00
Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM (2016), Bank Indonesia (2016)
a) Data sangat sementara b) Data belum tersedia
c) Data masih dalam tahap konirmasi dari K/L terkait
Keterangan Noiikasi: Sudah tercapai/on track Perlu kerja keras Sangat sulit tercapai Belum dapat diberikan noiikasi
penyuluh koperasi lapangan, serta pendampingan kelompok usaha bersama untuk membentuk koperasi. Kelima, pemberian kemudahan, kepastian, dan perlindungan usaha dilakukan melalui registrasi usaha secara online dan advokasi perizinan, penyusunan rancangan undang-undang perkoperasian, serta peningkatan sinergi dan kerja
sama pemangku kepentingan. Hasil dari berbagai strategi peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi dapat dilihat salah satunya dari indikator proporsi UMKM yang mengakses pembiayaan formal. Capaian pada tahun 2015 adalah sebesar 22,60 persen atau meningkat dari 21,64 persen (2014). Kemudian, kinerja kelembagaan dan usaha
koperasi juga membaik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya proporsi modal yang berasal dari anggota koperasi dalam permodalan dari semula 52,73 persen (2014) menjadi 58,84 persen (2015), serta pertumbuhan volume usaha koperasi yang mencapai 40,18 persen.
3.8.3 Permasalahan Pelaksanaan
Secara umum, permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan berbagai upaya peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi, yaitu: (1) Kurangnya efektivitas pelaksanaan kegiatan yang utamanya disebabkan belum optimalnya sinkronisasi dan sinergi pelaksanaan antarpemangku kepentingan, terutama mengingat keragaman sektor dan lokasi UMKM dan koperasi; (2) Keterbatasan akses UMKM kepada sumber daya produktif dalam hal akses pembiayaan, pemasaran, produksi, dan SDM; (3) Kurangnya kompetensi dari sisi kewirausahaan maupun manajemen; (4) Keterbatasan jangkauan dan kualitas layanan sistem pendukung, berupa layanan informasi, inovasi dan teknologi; serta (5) Masih belum kondusifnya iklim usaha, utamanya terkait regulasi dan kemudahan dalam pendirian usaha.
Terkait pengukuran sasaran peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi, masalah yang dihadapi adalah masih belum baiknya sistem pendataan UMKM dan Koperasi, baik secara makro maupun mikro. Pengukuran capaian sasaran satu juta wirausaha baru masih sulit dilakukan karena berbagai pihak, baik publik maupun swasta, memiliki definisi, standar, prosedur, dan kriteria sendiri dalam melaksanakan kegiatan pengembangan kewirausahaan. Upaya pengembangan kewirausahaan belum memiliki panduan yang dapat dijadikan acuan untuk melaksanakan program dan kegiatan pengembangan kewirausahaan oleh seluruh pemangku kepentingan.
3.8.4 Rekomendasi
Kebijakan serta fasilitasi pemerintah dalam upaya peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi akan terus ditingkatkan kualitas dan keefektifannya. Upaya yang perlu dilakukan adalah: (1) Menetapkan landasan hukum berupa kebijakan Presiden terkait percepatan peningkatan keterpaduan program dan kegiatan peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi antarpemangku kepentingan. Selanjutnya, salah satu fokus perbaikan aturan perundangan adalah perlu dilakukan penyesuaian UU No.23/2014 tentang Pemerintahan Daerah yang membagi penanganan UMKM berdasarkan strata pemerintahan, sebagaimana tercantum pada lampiran UU No.23/2014 halaman 79 (penanganan usaha menengah oleh Pemerintah Pusat, usaha kecil oleh Pemerintah Provinsi, dan usaha mikro oleh Pemerintah Kabupaten/Kota). Implikasinya adalah ketika kabupaten/kota bertanggung jawab membina usaha mikro (populasinya terbanyak yaitu 58,52 juta unit usaha), hal ini akan sangat berkaitan dengan kemampuan fiskal kabupaten/kota tersebut dalam melakukan pembinaan, sehingga akan berakibat pada terhambatnya upaya percepatan peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi; (2) Menetapkan berbagai SOP, salah satunya adalah NSPK Pengembangan Kewirausahaan, yang esensinya untuk menjadi acuan dalam pemenuhan sasaran satu juta wirausaha baru, meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan, serta meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan; dan (3) Mengembangkan data UMKM dan Koperasi dalam skala nasional dengan ragam skala dan sektor usaha ke dalam sistem informasi yang terintegrasi, sehingga upaya peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi dapat lebih optimal dan tepat sasaran.