• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIK

B. Pembelajaran Berbasis Tematik

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang menggunakan tema tertentu untuk mengaitkan beberapa isi materi pelajaran dengan benda-benda yang konkret, sehingga diharapkan dapat memberikan pengalaman bermakna pada anak. Tema adalah pokok pikiran yang menjadi pokok pembicaraan, tema yang digunakan akan sesuai dengan materi yang disampaikan (Al-Tabany, 2016).

Pembelajaran tematik menurut Kemendikbud Tahun 2018, tematik merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai dasar mengembangkan muatan dan materi pembelajran untuk mencapai Kopentensi Dasar (KD) (Kemendikbud, 2018).

Pembelajaran tematik dapat dapat diartikan sebagai pembelajaran yang berangkat dari sebuah tema tertentu sebagai pusat yang akan digunakan untuk memahami gejala-gejala, dan konsep. Pembelajaran tematik juga merupakan suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan anak dan keterampilan anak secara simultan, dan menghubungkan suatu konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda, sehingga dengan harapan anak bisa belajar lebih baik dan bermakna. Berdasarkan pemahaman tersebut maka pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu (Majid, 2014).

Pembelajaran tematik sebenarnya berfungsi untuk memberikan kemudahan kepada anak dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta menambah semangat belajar karena materi yang dipelajari merupakan materi yang nyata (kontekstual) dan bermakna bagi anak. Pembelajaran tematik digunakan untuk menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna, peran tema yang lain

adalah agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas serta menciptakan materi yang terintegrasi (Kemendikbud, 2018).

Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tema merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran tematik, karena dengan tema dapat menciptakan pembelajaran yang terintegrasi dan bermakna bagi anak. Sedangakan tujuan dari pembelajaran tematik yakni untuk memudahkan anak dalam memahami suatu materi ketika pembelajaran dan mengembangkan berbagai kemampuan anak dalam tema tertentu.

Berangkat dari teori teori Bandura dan teori Bruner, bahwa seseorang akan belajar melalui pengamatan secara efektif, mengingat juga mengamati tingkah laku orang lain. Hasil dari pengamatan tersebut akan dimantapkan dengan cara menghubungkan pengalaman baru dengan pengalanan yang sebelumnya., sehingga pembelajaran menggunakan tematik harus memberikan pengalaman yang baru bagi anak sesuai dengan pengertian pembelajaran tematik itu sendiri. Pembelajaran juga akan menjadi lebih bermakna bagi anak apabila anak memusatkan perhatiannya untuk memahami struktur materi yang dipelajari, dengan pemusatan perhatian tersebut pembelajaran tematik juga lebih memfokuskan untuk mempelajari suatu materi yang telah tersusun dalam pembelajaran tematik (Komariyah, 2012).

2. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik memiliki prinsip dasar yaitu pembelajaran yang memiliki satu tema actual, dekat dengan dunia anak dan ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga tema ini menjadi alat persatuan materi yang beragam dari beberapa materi pengajaran (Al-Tabany, 2016).

Karakteristik yang harus diketahui dalam pembelajaran tematik, antara lain:

a. Berpusat pada anak

Pembelajaran tematik sangat berpusat terhadap anak, hal ini sesuai dengan pendekatan belajar moderen yang lebih banyak menempatkan pada anak sebagai subjek belajar, sedangkan guru berperan sebagai

fasilitator, yaitu memberikan kemudahan kepada anak untuk melakukan aktivitas belajar.

b. Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik memberikan pengalaman langsung kepada anak. Dengan pengalaman yang diberikan secara langsung ini, anak dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.

c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan anak.

d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, anak mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh, hal ini diperlukan untuk membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

e. Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya,bahkan mengaitkannya dengan kehidupan anak dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan anak berada.

f. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan (Majid, 2014).

Tema dan sub tema disusun sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, dan tahap perkembangan anak, lingkup materi standar isi meliputi program pengembangan yang disajikan dalam untuk tema dan sub tema. Tema terbagi menjadi 8 bagian, yaitu diriku, binatang, lingkunganku, alam semesta, kendaraan, negaraku, budayaku, tumbuh-tumbuhan (Kemendikbud, 2015). Penelitian ini mengambil 3 tema yang terdiri dari 4 sub tema, pertama tema

tanaman yang mengambil 2 sub tema diantaranya buah-buahan dan sayuran, kedua tema diriku dengan sub tema makanan, ketiga tema alam semesta dengan sub tema ciptaan Allah.

3. Model Pembelajaran Tematik

Model pembelajaran merupakan istilah yang diambil dari kata model dan pembelajaran. Dari kedua kata tersebut sudah pasti memiliki makna yang berbeda, model menurut Good dan Trafes, yakni abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks dalam bentuk naratif, matematis, garfish, dan juga lambing-lambang lainnya. Sedangkan belajar diartikan sebagai suatu dari perubahan pada seorang individu yang terjadi karena melalui pengalaman dan bukan karena pertumbuhan ataupun perkembangan tubuhnya. Perubahan yang dimaksud adalah mengenai perilaku yang berupa pengetahuan, keterampilan, pemahaman, dan kebiasaan yang baru diperoleh (Sukmadinata, 2012).

Model pembelajaran adalah sebuah kerangka yang dilukiskan secara sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar. Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat dipahami bahwa model pembelajaran merupakan pedoman untuk membuat suatu perencanaan dalam belajar yang sistematis, agar dapat tercapainya tujuan yang ingin dicapai (Trianto, 2011).

Menurut Fogarty apabila ditinjau dari sifat materi dan cara memadukan konsep keterampilan dan unit tematisnya memiliki 10 model pembelajaran tematik, namun dari kesepuluh model pembelajaran tematik hanya ada tiga model yang dianggap sesuai untuk dikembangkan dan mudah dilaksanakan pada lingkup pendidikan anak usia dini, antara lain: 1) Jaring laba-laba (webbed), 2) Keterpadun (integrated), dan 3) Keterhubungan (connected). Ketiga model pembelajaran tersebut yang paling mendasari dengan tematik adalah model pembelajaran jaring laba-laba . model pembelajaran jaring laba-laba menggunakan pendekatan tematik sehingga

tema digunakan sebagai sarana pemersatu beberapa materi pelajaran yang pertama kali dilakukan adalah menemukan tema yang akan digunankan, selanjutnya dengan memperhatikan keterkaitan mata pembelajaran yang dipadukan maka dikembangkanlah sub tema dari tema yang telah ditemukan (Halida, 2016).

4. Prinsip Pemilihan Media berbasis Tematik

Pemilihan media dalam pembelajaran tematik memiliki beberapa prinsip yang perlu diperhatikan selain prinsip yang ada diatas sebelumnya, dalam pemilihan media meskipun caranya berbeda namun perlu diperhatikan beberapa perhatian, yaitu: a) harus adanya kejelasan tentang bagaimana maksud dan tujuan ketika memilih media yang cocok dengan pembelajaran tematik, b) perlu adanya kedekatan dengan media, yakni media yang dipilih harus dikenal sifat dan cirinya, c) adanya sejumlah media yang dapat diperbandingkan, karena pemilihan media pada dasarnya adalah proses pemilihan keputusan dari adanya alternatif pemecahan yang dituntut oleh tujuan (Al-Tabany, 2016).

Faktor lain yang perlu untuk dipertimbangkan dalam pemilihan media, yakni apakah media yang digunakan merupakan media jadi atau media yang harus dipersiapkan dan dikembangkan sendiri. Ketika jenis media dengan rancangan terlebih dahulu maka diperlukan beberapa langkah yang dapat diajukan untuk memilih dan merancang media dalam pembelajaran tematik, maka perlu: a) menentukan apakah pesan yang nantinya akan disampaikan termasuk dalam tujuan pembelajaran atau hanya sekedar informasi/sebuah hiburan, b) menetapkan apakah media yang dirancang ini untuk memenuhi keperluan pembelajaran baik sebagai alat bantu dalam mengajr, c) menentukan apakah dalam usaha tersebut dapat mendorong ketika kegiatan belajar anak, d) menentukan media yang sesuai dan cocok untuk strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan kemampuan produksi dan penbiayaan, e) me-riviwe ulang media baik secara kelebihan maupun kekurangannya, dan f) Perencanana pengembangan yang dilakukan dalam produksi media (Al-Tabany, 2016).

5. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Tematik

Setiap sesuatu pasti akan memiliki kelebihan maupun kekurangan dalam suatu pembelajaran, seperti halnya pembelajaran tematik yang satu ini juga memiliki kelebihan dan kekurnagan dalam pemakaian. Pembelajaran tematik memiliki kelebihan yaitu menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan anak, memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna, mengembangkan keterampilan berpikir anak didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi, menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama, memiliki sikap toleransi komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain dan menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan anak (Trianto, 2011).

Selain pendapat diatas adapun pendapat mengenai kelebihan dalam pembelajaran tematik yaitu: a) pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak, b) kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak, c) semua aktivitas belajar lebih bermakna untuk anak sehingga hasil belajar yang diperoleh akan lebih tahan lama, d) pembelajaran tematik ini memberikan pertumbuhan dalam perkembangan keterampilan berpikir dan social anak, e) pembelajaran tematik juga menyediakan kegiatan yang benar-benar nyata/rill, dan f) pembelajaran tematik dirancang untuk meningkatkan kerja sama antara guru-guru, guru dengan anak, antar anak, sehingga belajar lebih menyenangkan dan dalam situasi nyata maupun konteks yang lebih bermakna (Majid, 2014).

Pembelajaran tematik juga mempunyai kelemahan, kelemahan tersebut bisa terjadi apabila guru kelas kurang menguasai mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembeljaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan materi pokok setiap mata pelajaran. Skenario tidak menggunakan metode yang yang inovatif dan beragam maka pencapaian standar kompetensi maka akan menyulitkan guru dalam pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Kekurangan

pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan terutama dalam pelaksanaannya, yakni pada perancangan dan pelaksanan evaluasi yang diman lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja.

C. Pembelajaran Matematika Permulaan Anak Usia Dini

Dokumen terkait