BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Pembelajaran Kooperatif
Menurut Anita Lie(2002:12),sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama mahasiswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau pembelajaran kooperatif dan dalam sistem ini dosen bertindak sebagai fasilitator.Sedangkan menurut Suprijono (2009:54), pembelajaran kooperatif model pembelajaran yang lebih luas meliputi semua
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru/ dosen atau diarahkan oleh guru/ dosen.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok,yang terdiridari dua orang atau lebih(http://www.informasiku.com/2010/ 09/cooperative-learning-teknik-jigsaw.html).
Roger dan David Johnson dalam Anita Lie (2002:31) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal,lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan (Anita Lie, 2002:31-35):
1. Saling ketergantungan positif
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu mnyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.Dalam metode jigsaw,Aronson menyarankan jumlah anggota kelompok dibatasi sampai dengan empat orang saja dan keempat anggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan.Selanjutnya,pengajar akan mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian.Dengan cara ini,mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang berlainan berhasil.
2. Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama.Jika tugas dan pola penelitian dibuat menurut prosedur model pembelajaran pembelajaran koopertatif,setiap siswa/ mahasiswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan dosen dalam penyusunan tugasnya.Dalam teknik jigsaw yang dikembangkan Aronson misalnya,bahan bacaan dibagi menjadi empat bagian dan masing-masing siswa/ mahasiswa mendapat dan membaca satu bagian. Dengan cara demikian, mahasiswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas dan mudah.
15
untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan,memanfaatkan kelebihan,dan mengisi kekurangan masing-masing.
4. Komunikasi antar anggota
Pembelajaran perlu diberitahu secara eksplisit mengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana caranya menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut.Tidak ada salahnya mengajar siswa/ mahasiswa beberapa ungkapan positif atau sanggahan dalam ungkapan yang lebih halus.
5. Evaluasi proses kelompok.
Waktu evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok,tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajaran terlibat dalam kegiatan pembelajaran pembelajaran kooperatif. Format evaluasi bisa bermacam-macam,bergantung pada tingkat pendidikan siswa/ mahasiswa.
Ada lima tipe pembelajaran kooperatif (Slavin, 2008:11) 1.Student Team-Achievement Division (STAD).
Dalam STAD, para siswa/ mahasiswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru/ dosen menyampaikan pelajaran,lalu siswa/ mahasiswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasi pelajaran. Selanjutnya, semua siswa/ mahasiswa mengerjakan kuis mengenai materi secara sendiri-sendiri,dimana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk saling bantu. Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa/ mahasiswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru/ dosen. Jika para siswa/ mahasiswa ingin agar timnya mendapatkan penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu timnya untuk mempelajari materinya.
2.Teams Games-Tournament (TGT).
Teams Games-Tournament,pada mulanya dikembangkan oleh David Devries dan Keith Edwards, ini merupakan metode pembelajaran permata dari Johns Hopkins. Metode ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan dosen dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan kuis dengan turnamen mingguan,dimana siswa/ mahasiswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. Siswa/ mahasiswa memainkan game ini bersama tiga orang pada “meja- turnamen”,dimana ketiga peserta dalam satu meja turnamen turnamen ini adalah pata siswa/ mahasiswa yang memiliki rekor terakhir yang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
sama. Peraih rekor tertinggi dalam tiap meja turnamen akan mendapatkan poin untuk timnya. Tim dengan tingkat kinerja tertinggi mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lainnya.
3.Jigsaw
Jigsaw adalah adaptasi dari teknik teka-teki Elliot Aronson (1978) dalam teknik ini, siswa/ mahasiswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama, yaitu empat orang dengan latar belakang yang berbeda seperti dalam STAD dan TGT. Para siswa/ mahasiswa ditugaskan untuk membaca bab,buku kecil,atau materi lain yang bersifat penjelasan terperinci lainnya. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi “ahli” dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut. Setelah membaca materinya, para ahli dari tim berbeda bertemu untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas,lalu mereka kembali kepada timnya untuk mengajarkan topik mereka itu kepada teman satu timnya. Akhirnya akan ada kuis atau bentuk penilaian lainnya untuk semua topik. Penghitungan skor dan rekognisi didasarkan pada kemajuan yang dicapai seperti dalam STAD.
4.Team Accelerated Instruction ( TAI ).
Team Accelerated Instruction (Slavin,Leavey & madden,1986). TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran yang individual. Dalam TAI, para siswa/ mahasiswa memasuki sekuen individual berdasarkan tes penempatan dan kemudian melanjutkannya dengan tingkat kemampuan mereka sendiri. Anggota kelompok bekerja pada unit pelajaran yang berbeda. Teman satu tim saling memeriksa hasil kerja masing-masing menggunakan lembar jawaban dan saling membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah.Unit tes yang terakhir akan dilakukan tanpa bantuan teman satu tim dan skornya dihitung dengan monitor siswa/ mahasiswa. Tiap minggu,dosen menjumlah angka dari tiap unit yang telah diselesaikan semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan tim lainnya untuk tim yang berhasil melampaui kriteria skor yang didasarkan pada angka tes terakhir yang telah dilakukan, dengan poin ekstra untuk lembar jawaban yang sempurna dan pekerjaan rumah yang telah diselesaikan.
5.Cooperatif Integrated reading and Composition (CIRC).
CIRC merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada pada kelas sekolah dasar pada tingkat yang lebih tinggi dan juga pada sekolah menengah (Madden, Slavin & Steven,
17
untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalam serangkaian kegitan yang bersifat kognitif,termasuk membacakan cerita satu sama lain,membuat prediksi mengenai bagaimana akhir dari sebuah cerita naratif, saling merangkum cerita satu sama lain,menulis tanggapan terhadap cerita, dan melatih pengucapan, penerimaan dan kosa kata. Para siswa/ mahasiswa juga belajar dalam timnya untuk menguasai gagasan utama dan kemampuan komprehensif lainnya. Dalam kebanyakan kegiatan CIRC, para siswa/ mahasiswa mengikuti serangkaian pengajaran guru/ dosen, praktik tim,pra-penilaian tim, dan kuis. Para murid tidak mengerjakan kuis sampai teman satu timnya menyatakan bahwa mereka sudah siap.Penghargaan untuk tim dan sertifikat akan diberikan kepada tim berdasarkan kinerja rata-rata dari semua anggota tim dalam semua kegiatan membaca dan menulis.