BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Masjid Jogokariyan
2. Dampak Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan Nonformal Menuju Masyarakat Belajar (Learning Society) di masjid Jogokariyan
Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh kesimpulan bahwa dampak pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal di masjid Jogokariyan menunjukan adanya perubahan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti aspek keagamaan, pendidikan, politik, sosial, ekonomi, kesehatan dan kebudayaan.
Masjid Jogokariyan, sebelum dikelola dengan manajemen yang lebih baik seperti sekarang ini bernasib sama dengan masjid-masjid kebanyakan di Indonesia, sepi dan kurang terurus. Namun semenjak dikeloala dengan lebih baik masjid menjadi lebih hidup, jamaah sholat lima waktu selalu penuh, dan kegiatan-kegiatan lain dapat berjalan lancar dengan animo masyarakat yang tinggi. Hal itu menunjukan adanya peningkatan kesadaran beragama umat Islam yang dalam ini selaku jamaah masjid Jogokariyan. Hal tersebut sesuai dengan penuturan Ibu “Sr” selaku jamaah masjid Jogokariyan sekaligus pengurus sebagai berikut:
“Dulunya jamaah masjid tidak sebanyak ini…apalagi kalau sholat subuh, kalau dulu paling yang jamaah hanya beberapa orang saja. Sekarang meskipun sholat subuh masjid selalu penuh, apalagi kalau sholat maghrib dan isya. Disisni agak sepinya malah kalau sholat
dzuhur. Karena jamaah kan banyak yang kerja dan punya kegiatan diluar”.
Pernyataan tersebut dikuatkan dengan penuturan Bapak “Tj” sebagai berikut: “…disini shalat jamaah selalu ramai, apalagi yang bagian putra, pasti penuh, keculai dzuhur, paling dua sampai tiga baris saja, karena kalo siang kan jamaah pada punya kegiatan diluar, entah kerja atau sekolah dan kuliah”.
Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dimasjid Jogokariyan merupakan kegiatan pendidikan nonformal, diantaranya berupa kegiatan pengajian, pelatihan, dan diskusi. Seperti tujuan kegiatan lainnya, kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di masjid Jogokariyan apada intinya dalah kegiatan yang dirancang untuk membentuk sifat religius pada jamaahnya. Hal tersebut sesuai dengan penuturan Bapak
“Tj” sebagai berikut; “Apapun bentuk kegiatannya,semua sebenarnya ditujukan untuk mendidik masyarakat maubentuknya adalah pelatihan, kursus, diskusi, talkshow, dan pengajian, atau mungkin jalan, jalan, pentas seni dan sebagainya, itu tujuannya cuma satu untuk membentuk religiuitas masyarakat”.
Contoh adanya dampak kemandirian politik dalam jamaah masjid Jogokariyan sebagai hasil dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal menuju masyarakat belajar di masjid Jogokariyan adalah adanya pemilihan takmir secara langsung oleh masyarakat Jogokariyan setiap 5 tahun sekali sesuai masa periode jabatan takmir yang ada. Dalam pemilihan tersebut setiap warga kampung Jogokariyan baik yang berstatus jamaah tetap maupun tidak tetap masjid dapat mengikuti pemilihan ketua takmir masjid Jogokariyan yang dilakukan secara terbuka
dan langsung. Hal tersebut menandakan adanya suatu kematangan berfikir dalam masyarakat mengenai hak nya sebagai anggota sebuah lembaga kemasyarakatan yang dalam hal ini dalam lingkup kecil yakni dalam kemasyarakatan organisasi masjid Jogokariyan. Kematangan tersebut membawa masyarakat untuk menentukan siapa calon yang akan mereka pilih kemudian melakukan aksi pemilihan. Relevansi adanya kematangan kognisi dan afeksi. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bapak “Dn” selaku salah satu takmir masjid Jogokariyan :
“Dengan adanya pemilihan langsung ketua takmir memang dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai hak pilihnya dalam Pemilu (Pemilihan Umum) presiden nanti Mbak. Lebih luasnya ini sebagai pendidikan politik. Dari sini masyarakat dilatih bagaimana mereka dapat mengetahui visi misi hidup yang ingin dicapai. Dari skala kecil di kalanagan masjid ini diharapkan jamaah nantinya paling gak bisa tau pemimpin negara yang seperti apa yang mereka inginkan. Jadi suara yang mereka berikan nantinya jadi lebih berarti. Gak asala coblos-coblos aja. Kadang-kadang para Ibu-ibu kan sukanya yang penting ganteng.….”
Selanjutnya seperti yang terjadi pada ibu “Em”. Ibu “Em” merupakan masyarakat yang tergolong tidak mampu secara ekonomi. Ia adalah seorang tukang jahit. Sebelumnya kemampuannya menjahit tidak dapat menutup kebutuhan rumah tangganya. Karena suaminya hanya seorang satpam dengan gaji pas-pasan. Sedangkan anak-anaknya sudah mulai masuk ke jenjang menengah sekolah. Kemudian Ibu “Em” mengikuti salah satu program pendidikan keterampilan menjahit yang diprakarsai oleh biro pemberdayaan perempuan masjid Jogokariyan. Setelah mengikuti program tersebut Ibu “Em” memiliki kemampuan
tambahan. Dengan kemampuan mengembangkan jaringan tersebut Ibu “Em” kini sering mendapat pesanan. Mengenai hal tersebut, berikut penuturan Ibu “Em”:
“…dulu saya paling dapet order cuma 3 atau 5 baju sebulan
Mbak. Itu aja gak tentu. Kadang gak ada sama sekali. Soalnya waktu itu paling yang minta jasa saya cuma tetangga-tenagga aja. Setelah saya kursus njahit, saya jadi punya banyak kenalan sesama penjahit. Sekarang kita sistemnya borongan Mbak. Kalo teman saya ada borongan saya dikasih jatah bagian mereka dan kayak gitu juga sebaliknya”, “…. waktu itu tempat kursusnya di balai pertemuan balai Desa tapi yang buat para pengurus masjid Jogokariyan”.
Kemandirian jamaah dalam ranah ekonomi diantaranya tercermin dengan kemampuan jamaah yang telah dapat mengembangkan usahanya seperti ibu “Em”, atau dapat membuat usaha produktif seperti yang dilakukan ibu “Tk” yakni dengan uang hasil pinjaman di Yayasan Baitul Maal masjid Jogokariyan yang digunakannya untuk membuka usaha berjualan gudeg. Seperti yang di sampaikan oleh ibu “Tk”:
“saya dulu pinjam modal di baitu maal masjid Jogokariyan terus saya pakai untuk modal berjualan gudek ini. Alhamdulillah bisa untuk tambahan anak-anak sekolah. “
Secara ekonomi, bukan hanya jamaah yang kini telah mandiri secara finansial, masjid Jogokariyan sendiri dengan adanya gerakan infak mandiri dan wakaf pendanaan masjid menjadi aman dan mandiri. Sehingga pembangunan masjid menjadi Islamic Centre menjadi lancar.
Kemudian dalam ranah kesehatan, fasilitas kesehatan d klinik masjid Jogokariyan sudah sangat memadai. Sehingga masjid Jogokariyan dapat secara mandiri memberikan fasilitas kesehatan pada jamaah. Fasilitas kesehatan bagi jamaah masjid Jogokariyan diberikan secara gratis,
sehingga masyarakat tidak segan untuk memeriksakan diri begitu merasa sakit. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ibu “Tk” selaku pengurus masjid Jogokariyan:
“Alhamdulillah sekarang bisa berobat gratis di klinik masjid. Jadi kalo ada anggota keluarga yang sakit kita langsung saja berobat. Terus dari klinik juga sering mengadakan penyuluhan KB dan penyakit-penyakit menular lainnya. Jadi kami lebih waspada.” Mengenai pelayanan kesehatan dari klinik masjid Jogokariyan Ibu “Jk” selaku jamaah masjid Jogokariyan juga turut berkomentar positif dan sangat merasakan dampaknya:
“Selain pengecekan rutin seluruh kesehatan bagi lansia seperti saya. Ada juga program periksa mata gratis. Tadinya saya suka burem kalau ngeliat Mbak, tapi setelah klinik masjid bikin pemeriksaan mata gratis saya dibelikan kacamata sama pengeuusnya, saya jadi bisa baca qur’an lebih jelas.”
Selain pemeriksaan seluruh badan atau general check up gratis bagi lansia klinik masjid Jogokariyan secara berkala membuka layanan pemeriksaan mata gratis untuk lansia. Hal itu dilakukan bukan sekedar demi peningkatan kesehatan jamaah semata namun dimaksudkan agar jamaah memperoleh kenyamanan dalam beribadah sehingga jamaah juga bisa lebih produktif. Dampak yang dirasakan bagi jamaah selain nyaman untuk berobat ketika sakit juga timbul kewaspadaan terhadap bahaya penyakit-penyakit menular karena danya penyuluhan kesehatan dari para pengelola klinik dan takmir masjid Jogokariyan.
Kemudian dari segi sosial, jamaah masjid Jogokariyan sangat berjiwa sosial tinggi. Dalam beberapa kesempatan masjid Jogokariyan turut membantu korban bencana alam. Seperti korban bencana alam tsunami aceh pada tahun 2005, bencana gempa Jogjakarta 2006, bencana
erupsi lahar gunung merapi, dan lain sebagainya. Selain tanggap bencana alam masjid jamaah Jogokariyan juga peduli terhadap sesama umat muslim. Dalam insiden penyerangan Israel terhadap Palestina beberapa jamaah masjid Jogokariyan ada yang turut di terjunkan sebagai sukarelawan ke Palestina. Tidak hanya demikian, di dalam lingkup masjid sendiri jamaah sangat peka terhadap nasib sesama jamaah yang kurang mampu. Hal tersebut terbukti dengna adanya kegiatan “Operasi pasar”. Kegiatan “Operasi pasar” merupakan kegiatan mensubsidi barang-barang yang mahal dipasaran oleh pihak masjid. Penjelasan mengenai bentuk kegiatan “Operasi pasar” dapat dijelaskan oleh komentar Bapak “Tj” berikut ini:
“Operasi pasar” adalah kegiatan mensubsidi barang-barang yang sedang mahal di pasaran kepada jamaah masjid Jogokariyan. Jadi kalau pas lagi ada harga barang yang mahal, maka masjid menalangin untuk membelikan barang tersebut terus kemudian dijual ke jamaah dengan harga murah. “
Dalam aspek Ibadah, kenyamanan dan kemanan dalam beribadah pencapaian utama masjid Jogokariyan yang ingin di upayakan. Kini dengan kemandirian yang telah dicapai oleh jamaah dalam berbagai aspek lainnya seperti aspek kesehatan, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, bahkan budaya makan dengan sendirinya kemandiran dalam beribadah akan tercapai.
Hasil lain yang dicapai melalui pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal menuju masyarakat belajar adalah terciptanya masyarakat yang tadinya tidak suka belajar menjadi suka belajar.
Pencapaian tersebut terkait dengan aspek budaya. Budaya belajar menjadi budaya jamaah masjid Jogokariyan baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Hal tersebut tampak dengan adanya kesadaran jamaah bahwa setiap individu harus belajar sepanjang rentang kehidupannya. Mengenai hal ini sendiri tercermin dengan program-program masjid Jogokariyan yang senantiasa mengikuti kebutuhan jamaahnya. Hal ini sejalan dengan komentar yang diungkapkan Bapak “Zlkf”, bahwa:
”untuk bisa survive, kita harus ngumpul dengan orang-orang yang sepadan. Kalau gak sepadan ilmunya ya minimal umurnya. Biar gak canggung, dangak malu-malu waktu belajar atau ngaji.” “…kalo misalnya kita anak kecil dicampurnya sama orang-orang dewasa kan bosen Mbak, apalagi kalo remaja di gabungnya sam aibu-ibu dan bapak-bapak, mesti mereka ogah-ogahan karna nanti takut ketularan tua juga.”
Setiap jenjang usia selalu memiliki jenis kegiatan yang khas, sehingga jamaah masjid Jogokariyan yang senantiasa makhluk dinamis dan selalu bertumbuh baik secara mental maupun fisik memiliki tempat yang sesuai dengan perkembangan mental dan fisiknya.
3. Faktor Pendukung dan Penghambat Pemberdayaan Masyarakat Melalui