BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Masjid Jogokariyan
2. Dampak Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendidikan Nonformal Menuju Masyarakat Belajar (Learning Society)
Terbentuknya masyarakat belajar (learning society) di lingkungan masjid Jogokariyan merupakan dampak dari pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal. Hal ini tercermin dari nampaknya ciri-ciri masyarakat belajar (learning society) pada jamaah dan lingkungan masjid Jogokariyan.
Beberapa harapan yang ingin dicapai melalui learning society, menurut Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani (1999) adalah sebagai berikut: (1) Terciptanya masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) Terciptanya masyarakat yang demokratis dan beradab yang menghargai adanya perbedaan pendapat; (3) Masyarakat yang mengakui hak-hak asasi manusia; (4) Masyarakat yang tertib dan sadar hukum, budaya malu apabila melanggar hukum yang melekat dalam semua lapisan kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan; (5) Masyarakat yang percaya pada diri sendiri, memiliki kemandirian dan kreatif terhadap pemecahan masalah yang dihadapi, masyarakat memiliki orientasi yang kuat pada penguasaan ilmu dan teknologi; (6) Sebagai bagian dari masyarakat global, yang memiliki semangat kompetitif dalam suasana kooperatif, penuh persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain dengan semangat kemanusiaan yang universal; (7) Terwujudnya tatanan masyarakat yang beradab yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan martabat manusia; (8) Mewujudkan
masyarakat belajar yang tumbuh dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. (Pudji Mulyono, Learning Society, Penyuluhan, Dan pembangunan).
Perwujudan (1) terciptanya masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat dilihat dari; meningkatnya partisipasi jumlah jamaah yang mengikuti jamaah shalat lima waktu di masjid Jogokariyan. (2) Terciptanya masyarakat yang demokratis dan beradab yang menghargai adanya perbedaan pendapat terlihat dari; proses terlaksananya Pemilihan Umum (PEMILU) Takmir masjid Jogokariyan dan susunan kepengurusan takmir. Meskipun jamaah masjid Jogokariyan berasal dari berbagai golongan faham keagamaan (Muhammadiyah, NU, dan sebagainya) namun proses PEMILU Takmir dapat berjalan dengan baik. Contoh adanya (3) Masyarakat yang mengakui hak-hak asasi manusia dan (4) Sebagai bagian dari masyarakat global, yang memiliki semangat kompetitif dalam suasana kooperatif, penuh persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain dengan semangat kemanusiaan yang universal; serta (5) Terwujudnya tatanan masyarakat yang beradab yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan martabat manusia; dapat dilihat dari; adanya peran aktif dan kepedulian jamaah masjid Jogokariyan pada isu-isu pelanggaran Hak Asasi Manusia seperti di Palestina. Contoh (6) Masyarakat yang tertib dan sadar hukum, budaya malu apabila melanggar hukum yang melekat dalam semua lapisan kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan dapat dilihat dari; minimnya angka hilangnya sandal di
masjid Jogokariyan sebagaimana yang sering terjadi dimasjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Kemudian contoh adanya (7) Masyarakat yang percaya pada diri sendiri, memiliki kemandirian dan kreatif terhadap pemecahan masalah yang dihadapi, masyarakat memiliki orientasi yang kuat pada penguasaan ilmu dan teknologi; dan (8) Mewujudkan masyarakat belajar yang tumbuh dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dapat dilihat dari terselenggaranya program ”Kampung Rhamadhan” setiap tahunnya. Dalam kegiatan ”Kampung Ramdhan” tersebut terdapat kegiatan-kegiatan seperti Pentas seni, Lomba-lomba, dan kegiatan kewirausahaan berupa pasar ”dadakan” di sepanjang jalan Jogokariyan.
Secara garis besar dapat kita simpulkan bahwa hal utama yang ingin dicapai dari adanya proses pemberdayaan melalui pendidikan nonformal di masjid Jogokariyan adalah timbulnya kemandirian masyarakat untuk terus belajar. Kemandirian tersebut dapat dicapai dengan mengembangkan dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik masyarakat yang kemudian akan menghasilkan kemandirian jamaah dalam berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan.
Kemandirian semacam itu berdampak pada berbagai macam aspek kehidupan manusia pada umumnya yang terdapat juga dalam lingkungan hidup jamaah masjid Jogokariyan seperti aspek pendidikan, politik, sosial, ekonomi, kesehatan dan kebudayaan. Secara lebih kongkret mengenai dampak yang dirasakan bagi jamaah masjid Jogokariyan dengan adanya
pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal menuju masyarakat belajar adalah:
a) Dari segi pendidikan : Setiap jenjang usia selalu memiliki jenis kegiatan yang khas, sehingga jamaah masjid Jogokariyan yang senantiasa makhluk dinamis dan selalu bertumbuh baik secara mental maupun fisik memiliki tempat yang sesuai dengan perkembangan mental dan fisiknya. Dengan demikian perwujudan pendidikan sepanjang hayat (longlife education) menjadi mungkin di masjid Jogokariyan.
b) Dari segi Ekonomi: untuk sebagian masyarakat terutama masyarakat kurang mampu mengalami peningkatan pendapatan dengan melakukan usaha produktif karena penambahan keterampilan melalui kegiatan pelatihan dan pembinaan di masjid Jogokariyan.
c) Dari segi Politik : Salah satu hal kecil yang berdampak besar yang dilakukan oleh masjid Jogokariyan adalah masyarakat Jogikariyan secara umum tidak terbatas hanya jamaah masjid memperoleh wahana wawasan dan pembelajaran politik yang begitu nyata dalam pemilihan ketua takmir yang selalu digelar 5 tahun
sekali di kampung Jogokariyan. Dampak yang dapat dirasakan dari program tersebut adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai hak pilihnya, serta memperoleh pemahaman bagaimana cara memilih pemimpin yang baik.
d) Dari segi Sosial : Dampak yang dirasakan bagi jamaah adalah adanya tingkat kepedulian jamaah yang tinggi terhadap masyarakat dan sesama umat muslim maupun bukan. Terciptanya masyarakat yang penuh toleransi dan bijaksana.
e) Dari segi kesehatan: para jamaah memperoleh akses kesehatan yang mudah dan timbul kesadaran akan bahaya berbagai macam penyakit menular sehingga masyarakat menjadi lebih sehat dan lebih khusyu dalm beribadah.
f) Segi budaya : Jamaah yang tadinya tidak suka ke masjid menjadi suka datang kemasjid dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di masjid. masyarakat berubah dari masyarakat yang tidak gemar belajar menjadi masyarakat yang gemar belajar.
Hasil utama yang dicapai melalui pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal menuju masyarakat belajar adalah terciptanya masyarakat yang tadinya tidak suka belajar menjadi suka belajar.
Pencapaian tersebut terkait dengan aspek budaya. Budaya belajar menjadi budaya jamaah masjid Jogokariyan baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Hal tersebut tampak dengan adanya kesadaran jamaah bahwa setiap individu harus belajar sepanjang rentang kehidupannya. Mengenai hal ini sendiri tercermin dengan program-program masjid Jogokariyan yang senantiasa mengikuti kebutuhan jamaahnya.
3. Faktor pendukung dan Penghambat Pemberdayaan Masyarakat Melalui