Kebiasaan pemberian makanan yang benar amat penting untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, perkembangan, kesehatan dan gizi dari bayi dan anak balita. Keadaan gizi ibu yang baik sebelum dan selama kehamilan secara permanen akan mempengaruhi kesehatan anak pada semua tingkat perkembangan dan kemampuan ibu untuk melahirkan dan menyusui bayi dengan lancar, demikian pula dengan kesehatan umum ibu. Manfaat kesehatan menyusui baik untuk ibu maupun anak sudah tidak diperdebatkan lagi dan dipengaruhi baik oleh lama maupun intensitas menyusui dan oleh umur pada waktu bayi mendapat cairan dan makanan pendamping.
Untuk menurunkan tingkat kesakitan dan kematian anak, the United Nation Childrens Fund (UNICEF) dan the World Health Organization (WHO) menganjurkan agar anak disusui selama paling sedikit enam bulan. Makanan padat hanya diberikan pada umur tujuh bulan atau lebih dan pemberian air susu ibu (ASI) harus dilanjutkan dengan baik sampai tahun ke dua kehidupan (Rutstein, 2000). Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia mengubah lama pemberian ASI eksklusif dari empat bulan menjadi enam bulan (Depkes RI, 2002c).
14.1. P
EMBERIANA
IRS
USUI
BUA
WALIbu dan anak mendapat manfaat dari menyusui yang dimulai seawal mungkin. Dari segi anak, kolostrum (ASI yang keluar pertama) penting karena kaya dengan antibodi yang dalam gilirannya mempunyai efek menurunkan risiko kematian. Menyusui yang dimulai seawal mungkin mempengaruhi kesehatan ibu baru melahirkan yaitu dengan menimbulkan retraksi uterus, yang membantu mengurangi kehilangan darah masa nifas. Untuk jangka yang lebih panjang, ibu yang menyusui cenderung memperpanjang lama selang kelahiran, karena efek supresi yang dimiliki oleh menyusui terhadap kembalinya haid setelah melahirkan. Efek menyusui terhadap kembalinya haid dipengaruhi baik oleh lama maupun intensitas menyusui. Selang kelahiran yang lebih panjang memberi kesempatan kepada tubuh ibu untuk pulih dari kekurangan fisik yang berkaitan dengan kehamilan.
Dalam SDKI 2002-2003, untuk semua anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei, ibunya ditanya tentang berapa lama setelah melahirkan bayinya diberi ASI. Mereka juga ditanya tentang apakah anak diberi sesuatu selain ASI selama tiga hari pertama kehidupan sebelum ibu mulai menyusui secara teratur. Data yang disajikan dalam tabel 14.1. meneguhkan bahwa menyusui di Indonesia adalah umum, dengan 96 persen anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei telah disusui untuk beberapa waktu. Hal ini terjadi pada semua kelompok anak.
Empat dari sepuluh bayi disusui dalam satu jam setelah dilahirkan sesua anjuran, sedang 62 persen mulai disusui dalam hari pertama kehidupan. Persentase anak yang mulai menyusu dalam hari pertama kehidupan naik dari tahun 1997 (masing-masing 53 dan 62 persen) (BPS, 1998).
Waktu dimulainya pengenalan makanan pendamping sebagai tambahan terhadap ASI mempunyai manfaat yang penting baik bagi kesehatan anak maupun ibu. Pengenalan dini makanan yang rendah energi dan gizi, dan yang disiapkan dalam kondisi tidak higienis dapat mengakibatkan gizi kurang,
infeksi organisme asing dan kekebalan yang lebih rendah terhadap penyakit pada bayi. Pada waktu yang sama, bayi yang mendapat makanan pendamping akan kurang menyusu, dengan demikian menurunkan frekuensi menghisap dan jumlah ASI yang diproduksi. Dalam gilirannya hal ini akan memperpendek masa tidak haid setelah melahirkan, yang bisa mengakibatkan kehamilan berikutnya yang lebih awal.
Keterlambatan mulainya pemberian ASI yang segera adalah petunjuk bahwa semacam makanan pralaktasi diberikan dalam masa antara kelahiran dan pemberian ASI pertama kali. Tabel 14.1. memperlihatkan bahwa persentase anak yang mendapat cairan pralaktasi adalah sangat tinggi (45 persen). Seperti yang diperkirakan, anak lebih cenderung mendapat cairan daripada makanan setengah padat sebelum mereka mendapat ASI secara teratur (masing-masing 45 dan 18 persen).
Tabel 14.1 Pemberian ASI awal
Persentase anak yang dilahirkan dalam lima tahun sebelum survei yang pernah disusui, dan pada anak yang pernah disusui, persentase yang mulai mendapat ASI dalam satu jam dan dalam satu hari setelah dilahirkan, dan persentase yang mendapat makanan pralaktasi, menurut karakteristik latar belakang, Indonesia 2002-2003
Pada semua anak:
_________________________________
Pada anak yang pernah disusui, persentase mulai
mendapat ASI: __________________________________ Karakteristik latar belakang Persentase yang pernah
disusui Jumlah anak
Dalam 1 jam setelah dilahirkan Dalam 1 hari setelah dilahirkan1 Persentase anak yang mendapat cairan pralaktasi2 Persentase yang mendapat makanan pralaktasi setangah padat 2 Jumlah anak yang pernah disusui Jenis kelamin Laki-laki 95,8 7,787 38,4 61,1 46,0 18,6 7.459 Perempuan 96,1 7,301 39,1 63,2 44,7 16,6 7.015
Daerah tempat tinggal
Perkotaan 95,1 7,029 36,4 59,6 52,5 16,0 6.688 Perdesaan 96,6 8,059 40,7 64,2 39,2 19,0 7.786 Pendidikan ibu Tidak sekolah 98,6 709 42,3 63,2 34,1 20,9 699 Tidak tamat SD 96,5 2,238 40,5 61,6 36,9 22,1 2.161 Tamat SD 96,5 5,038 38,9 65,5 38,6 19,1 4.860 Tidak tamat SLTP 95,4 3,074 39,1 60,7 48,2 18,2 2.931 SLTP + 94,9 4,029 36,7 59,0 58,5 12,2 3.823 Penolong persalinan Tenaga kesehatan 3 95,3 9,994 38,2 61,4 53,1 14,0 9.522 Dukun 97,2 4,752 40,2 65,1 30,8 25,8 4.617 Lainnya 96,2 190 50,2 63,9 38,9 11,7 182 Tanpa penolong (100,0) (39) (46,9) (58,7) (42,7) (3,2) 39 Tempat persalinan Fasilitas kesehatan 94,3 6,002 39,3 62,2 58,0 9,2 5.658 Di rumah 97,0 8,906 38,7 62,8 37,6 23,4 8.636 Lainnya 98,6 60 52,0 66,9 40,2 10,2 59 Tidak terjawab 99,9 121 8,1 8,2 5,3 0,1 121 Jumlah 95,9 15,089 38,7 62,1 45,3 17,6 14.474 Catatan: Tabel berdasarkan pada semua kelahiran yang anaknya hidup atau mati pada saat wawancara.
Angka dalam kurung berdasarkan pada 25-49 kasus yang tidak dibobot
1 Termasuk anak yang mulai menyusu dalam satu jam setelah dilahirkan.
2 Anak diberikan sesuatu selain ASI selama tiga hari pertama kehidupan sebelum ibu mulai menyusui secara teratur
Anak perdesaan cenderung kurang mendapat makanan pralaktasi cair daripada anak perkotaan. Ada hubungan yang positif antara pendidikan ibu dan kemungkinan anak mendapat makanan pralaktasi cair. Anak dari ibu yang tidak sekolah cenderung kurang mendapat makanan pralaktasi cair daripada anak dari ibu yang tamat SLTP atau lebih. Demikian juga, anak yang dilahirkan di rumah cenderung kurang mendapat makanan pralaktasi cair dan lebih cenderung mendapat makanan pralaktasi setengah padat daripada anak yang dilahirkan di fasilitas kesehatan.
Anak yang ibunya ditolong oleh tenaga kesehatan profesional pada waktu dilahirkan sangat cenderung mendapat cairan sebelum air susu ibu keluar dengan teratur daripada anak yang ditolong oleh dukun pada saat melahirkan. Di lain pihak, anak yang ditolong oleh dukun pada saat dilahirkan lebih cenderung diberikan makanan pralaktasi setengah padat daripada anak yang ditolong oleh tenaga kesehatan profesional (masing-masing 26 dan 14 persen).
Lampiran Tabel A.14.1 memperlihatkan bahwa anak di Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Tengah paling cenderung diberikan ASI dalam jam pertama setelah dilahirkan (masing-masing 66 dan 63 persen) daripada anak di propinsi lain, sedangkan anak di DI Yogyakarta paling cenderung tidak mendapat ASI dalam satu jam setelah dilahirkan (14 persen). Ibu di Nusa Tenggara Barat paling cenderung menyusui dalam satu hari pertama setelah melahirkan (86 persen)
Anak di DKI Jakarta dan Riau paling cenderung mendapat makanan pralaktasi cair (masing-masing 66 dan 62 persen), sedang anak di Gorontalo (43 persen), Bengkulu (36 persen) dan Sulawesi Tengah (36 persen) paling cenderung mendapat makanan pralaktasi setengah padat.
14.2. P
OLAU
MUR DALAMP
EMBERIANASI
Ibu yang masih menyusui ditanya tentang apakah mereka telah memberikan berbagai jenis cairan atau makanan padat kepada anak dalam 24 jam terakhir. Anak dikelompokkan mendapat ASI secara eksklusif jika mereka hanya mendapat ASI dalam 24 jam terakhir. Pemberian ASI adalah penuh bila anak hanya mendapat air putih selain ASI. Tabel 14.2 dan Gambar 14.1. memperlihatkan data status pemberian ASI pada anak sejak lahir hingga umur tiga tahun. Lima puluh lima persen anak kurang dari empat bulan diberikan ASI secara eksklusif, sedang proporsi pada anak di bawah enam bulan adalah 40 persen. Setelah melewati umur enam bulan, ASI saja tidak memberikan gizi yang cukup untuk bayi; dengan demikian anak di atas umur enam bulan tidak boleh hanya diberikan ASI. Di Indonesia, 5 persen bayi umur 6-9 bulan dilaporkan mendapat ASI saja. Persentase anak yang tidak lagi mendapat ASI mulai meningkat dari 13 persen pada umur 6-7 bulan menjadi 41 persen pada umur 20-23 bulan. Pada umur 28 bulan, 66 persen anak telah berhenti mendapat ASI.
Dengan m
embandingkan angka ini dengan SDKI 1997, tampak bahwa persentase anak dibawah 4 bulan yang mendapat ASI secara eksklusif telah mengalami sedikit peningkatan (52 persen tahun 1997 dibandingkan dengan 55 persen tahun 2002-2003).
Pengenalan dini makanan yang rendah energi dan gizi atau yang disiapkan dalam kondisi tidak higienis mungkin dapat mengakibatkan gizi kurang, infeksi organisme asing dan kekebalan yang lebih rendah terhadap penyakit pada bayi (Depkes RI, 2002a). Hal yang tidak menguntungkan di Indonesia, pemberian makanan tambahan dimulai terlalu dini, yang tidak sejalan dengan anjuran pemerintah. Pemberian ASI eksklusif tidak diterapkan secara meluas. Hanya 64 persen anak umur di bawah 2 bulan yang diberikan ASI eksklusif. Persentase ini menurun menjadi 46 persen untuk anak 2-3 bulan dan 14 persen untuk anak 4-5 bulan. Oleh karena itu, hanya satu dari tujuh bayi mendapat ASI eksklusif pada umur ketika semua bayi dianjurkan diberi ASI eksklusif.
Tiga belas persen bayi di bawah 2 bulan diberi susu lain dan 15 persen diberi makanan pendamping ASI. Pada umur 2-3 bulan, satu dari tiga anak diberikan makanan pendamping. Proporsi ini meningkat menjadi 71 persen pada umur 6-7 bulan.
Pemberian susu botol bisa tidak memenuhi persyaratan sanitasi dan tidak dianjurkan untuk semua umur. Akan tetapi, kebiasaan ini menjadi makin umum di Indonesia. Tabel 14.2 memperlihatkan persentase anak umur 2-3 bulan yang diberikan susu botol meningkat dari 12 persen pada 1997 menjadi 17 persen pada 2002-2003. Persentase ini meningkat menjadi 35 persen pada bayi umur 8-9 bulan.
Tabel 14.2 Status pemberian ASI menurut umur anak
Distribusi persentase anak terkecil di bawah tiga tahun yang tinggal bersama ibu menurut status pemberian ASI dan persentase anak di bawah tiga tahun yang menggunakan botol dot, menurut umur dalam bulan, Indonesia 2002-2003 –––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Mendapat ASI dan mengkonsumsi :
–––––––––––––––––––––––––––––––– Jumlah
Meng- anak
Tidak Diberi Air Makanan gunakan yang diberi ASI putih Cairan/ Susu pendam- Jumlah botol tinggal Umur dalam bulan ASI Ekslusif saja jus lain ping Total anak dot1 bersama
––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––– <2 3,9 64,0 4,1 0,1 13,2 14,6 100,0 431 13,8 438 2-3 4,8 45,5 7,2 0,6 9,7 32,2 100,0 570 16,5 577 4-5 7,4 13,9 6,2 0,3 3,1 69,0 100,0 546 19,0 555 6-7 13,0 7,8 2,7 1,2 3,9 71,3 100,0 470 30,1 473 8-9 15,9 1,7 0,9 1,9 0,6 79,1 100,0 426 34,9 431 10-11 17,5 1,2 2,0 0,6 0,3 78,4 100,0 457 30,0 469 12-15 15,4 1,0 1,1 1,0 0,6 80,8 100,0 1.021 22,1 1,.45 16-19 24,1 1,3 0,2 0,2 0,6 73,5 100,0 945 31,6 976 20-23 41,3 0,3 0,2 0,2 0,0 58,0 100,0 755 29,8 797 24-27 58,8 0,9 0,1 0,0 0,1 40,1 100,0 901 27,9 999 28-31 65,6 0,3 0,2 0,3 0,0 33,7 100,0 867 24,7 1,004 32-35 72,8 0,2 0,6 0,0 0,2 26,2 100,0 873 23,3 1.023 <4 4,2 55,1 7,6 0,5 12,8 19,8 100,0 1.001 16,1 1.015 <6 5,5 39,5 6,0 0,4 8,4 40,3 100,0 1.547 16,7 1.570 6-9 14,4 4,9 1,8 1,5 2,3 75,0 100,0 897 32,4 904 ––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––– Catatan: Status pemberian ASI merujuk pada kurun waktu 24 jam (kemarin atau malam lalu). Pengelompokan anak sebagai kelompok tidak diberi ASI, diberi ASI eksklusif, diberi ASI dan air putih saja, cairan/ jus, susu lain dan makanan pendamping (padat dan setengah padat) bersifat bertingkat dan saling eksklusif, sehingga persentasenya berjumlah 100 persen. Jadi, anak yang mendapat ASI dan cairan, yang tidak mendapat makanan pendamping, dikelompokkan dalam kelompok cairan, meskipun mereka juga mungkin mendapat air putih. Demikian pula anak yang mendapat makanan pendamping dimasukkan dalam kelompok tersebut selama mereka juga mendapat ASI.
0% 20% 40% 60% 80% 100% 0 2 4 6 8 10 12 16 20 24 28 32
Umur dalam bulan
ASI eksklusif ASI+air ASI+pendamping Bukan ASI