• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Partisipasi Sekolah

Dalam dokumen Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan (Halaman 41-47)

DAN PERUMAHAN

2.4.1 Tingkat Partisipasi Sekolah

SDKI 2002-2003 mengumpulkan informasi partipasi sekolah di antara penduduk yang disajikan dalam Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK). APM untuk tingkat sekolah dasar (SD) adalah persentase dari penduduk usia SD (7-12 tahun) yang bersekolah di SD. APM untuk tingkat sekolah lanjutan (SL) adalah persentase dari penduduk usia SL (13-18 tahun) yang bersekolah di SL. Secara definisi, APM tidak lebih dari 100 persen. APK untuk SD adalah persentase jumlah siswa pada SD, tanpa memandang umur, terhadap penduduk usia resmi SD. APK untuk SL adalah persentase jumlah siswa pada SL sampai usia 24 tahun, terhadap penduduk usia SL. APK hampir selalu lebih tinggi dari APM karena APK mencakup partisipasi orang-orang yang lebih tua atau muda dari usia resmi pada tingkat pendidikan yang bersangkutan. APK dapat melebihi 100 persen ika banyak pelajar yang terlalu tua atau terlalu muda pada tingkat pendidikan tertentu.

Rasio APK adalah rasio dari APK untuk wanita terhadap APK untuk pria. APK disajikan untuk tingkat dasar dan lanjutan dan merupakan ringkasan untuk melihat perbedaan jender dalam tingkat partisipasi dalam pendidikan.

Tabel 2.5.1 dan 2.5.2 menunjukkan bahwa di tingkat SD maupun lanjutan terdapat perbedaaan yang nyata dalam tingkat partisipasi sekolah menurut karakteristik latar belakang. Tabel 2.5.1 menunjukkan bahwa di sekolah dasar, APM dan APK di daerah perdesaan sedikit lebih tingi dari perkotaan (88 persen dibanding 87 persen, dan 105 persen dibanding 104 persen). Tidak ada perbedaan yang berarti antar jenis kelamin dalam APM dan APK menurut daerah tempat tinggal. Secara keseluruhan, APM dan APK untuk sekolah dasar di semua propinsi sedikit lebih tinggi dari APM dan APK untuk sekolah lanjutan. Di tingkat sekolah dasar, APM dan APK yang paling rendah adalah di Gorontalo (81,4 untuk APM dan 97,4 untuk APK), sedang APM tertingi adalah di Nusa Tenggara Barat (90,7) dan APK tertinggi di Kalimantan Timur (110,8).

Tabel 2.5.2 menunjukkan bahwa tingkat patisipasi di sekolah lanjutan lebih rendah dan sangat beragam menurut karakteristik latar belakang. Secara keseluruhan, APM dan APK untuk sekolah lanjutan adalah 54 dan 64 persen. Partisipasi di sekolah lanjutan di daerah perkotaan lebih tinggi (64 persen) daripada di perdesaan (44 persen). Tidak ada perbedaan yang nyata dalam APM dan APK antara pria dan wanita. Rasio APK adalah 1,05 di perdesaan dan 0,98 di perkotaan. Rasio APK beragam antar propinsi antara 0,68 di Nusa Tenggara Barat dan 1,21 di Bengkulu. Ini berarti partisipasi perempuan di sekolah lanjutan lebih rendah dibanding pria di Nusa Tenggara Barat, sementara di Bengkulu partisipasi perempuan lebih tinggi dari pria. APM dan APK yang paling rendah adalah di Nusa Tenggara Timur (36 dan 43 persen) dan tertinggi di DI Yogyakarta (70 dan 83 persen).

Tabel 2.5.1 Tingkat partisipasi sekolah: sekolah dasar

Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk ‘de jure’ tingkat sekolah dasar menurut jenis kelamin, daerah tempat tinggal, dan propinsi, Indonesia 2002-2003

Angka Partisipasi Murni1 Angka Partisipasi Kasar2

Daerah tempat tinggal/ Propinsi

Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio APK3

Daerah tempat tinggal

Perkotaan 88,4 84,9 86,7 104,8 103,3 104,1 0,99 Perdesaan 87,3 88,5 87,9 103,3 106,5 104,8 1,03 Sumatera Sumatera Utara 84,2 82,7 83,5 101,3 100,9 101,1 1,00 Sumatera Barat 87,7 89,8 88,8 105,1 104,3 104,7 0,99 Riau 88,8 86,6 87,8 104,0 103,2 103,7 0,99 Jambi 82,6 84,7 83,6 108,7 109,7 109,2 1,01 Sumatera Selatan 85,0 86,8 85,8 100,6 102,9 101,7 1,02 Bengkulu 89,7 83,0 86,4 112,7 104,1 108,5 0,92 Lampung 91,3 89,5 90,5 109,2 108,7 108,9 1,00 Bangka Belitung 85,5 90,8 88,2 112,5 112,8 112,6 1,00 Jawa DKI Jakarta 86,1 87,8 87,0 111,4 105,5 108,3 0,95 Jawa Barat 87,0 88,0 87,5 99,9 104,7 102,2 1,05 Jawa Tengah 89,9 90,0 90,0 106,1 108,4 107,2 1,02 DI Yogyakarta 91,0 85,2 88,0 106,6 98,1 102,2 0,92 Jawa Timur 91,7 84,7 88,3 108,2 105,2 106,8 0,97 Banten 88,1 85,2 86,8 100,5 103,4 101,8 1,03

Bali and Nusa Tenggara

Bali 84,4 84,5 84,5 104,1 105,4 104,7 1,01 Nusa Tenggara Barat 88,2 93,2 90,7 99,7 102,5 101,2 1,03

Nusa Tenggara Timur 85,7 90,3 88,1 106,9 111,2 109,1 1,04 Kalimantan Kalimantan Barat 82,8 86,2 84,4 106,9 109,1 108,0 1,02 Kalimantan Tengah 89,1 89,9 89,5 107,0 112,9 109,8 1,05 Kalimantan Selatan 83,4 85,0 84,2 100,2 99,9 100,0 1,00 Kalimantan Timur 84,1 84,3 84,2 113,2 108,7 110,8 0,96 Sulawesi Sulawesi Utara 84,2 82,5 83,3 106,5 99,5 103,0 0,93 Sulawesi Tengah 85,1 89,9 87,2 105,4 114,7 109,3 1,09 Sulawesi Selatan 88,5 81,1 85,0 100,9 98,4 99,7 0,97 Sulawesi Tenggara 82,5 90,1 86,2 104,9 111,3 108,0 1,06 Gorontalo 81,1 81,8 81,4 95,0 100,3 97,4 1,06 Jumlah 87,8 86,9 87,3 103,9 105,1 104,5 1,01 1 APM untuk sekolah dasar adalah persentase penduduk usia sekolah dasar (7-12 tahun) yang bersekolah di sekolah dasar. Menurut definisi APM tidak dapat melebihi 100 persen.

2 APK untuk sekolah dasar adalah banyaknya murid sekolah dasar, ditunjukkan sebagai persentase terhadap penduduk usia sekolah dasar. Jika terdapat banyak murid yang terlalu tua atau terlalu muda pada tingkat sekolah tertentu, APK dapat lebih dari 100 persen.

Tabel 2.5.2 Tingkat partisipasi sekolah: sekolah lanjutan

Angka Partisipasi Murni (APM) and Angka Partisipasi Kasar (APK)penduduk ‘de jure’ menurut tingkat sekolah lanjutanmenurut jenis kelamin, daerah tempat tinggal, dan propinsi, Indonesia 2002-2003

Tingkat Partisipasi Neto Tingkat Partisipasi Bruto Daerah tempat

tinggal/Propinsi

Laki-laki Perempuan Jumlah Laki-laki Perempuan Jumlah APK Rasio 3

Daerah tempat tinggal

Perkotaan 64,8 62,7 63,7 77,5 76,0 76,7 0,98 Perdesaan 41,8 45,7 43,7 51,2 53,5 52,3 1,05 Sumatera Sumatera Utara 61,8 63,5 62,6 75,9 77,3 76,6 1,02 Sumatera Barat 60,0 69,8 65,1 70,8 78,2 74,7 1,11 Riau 58,2 61,6 59,9 68,9 73,3 71,0 1,06 Jambi 48,5 45,5 46,9 66,2 56,5 61,1 0,85 Sumatera Selatan 45,2 54,0 49,6 56,6 61,8 59,2 1,09 Bengkulu 57,1 64,8 60,8 65,2 79,0 71,8 1,21 Lampung 48,6 55,0 51,4 55,7 63,1 59,0 1,13 Bangka Belitung 43,5 49,9 46,5 56,2 60,1 58,0 1,07 Jawa DKI Jakarta 68,7 59,9 64,0 82,2 70,5 75,9 0,86 Jawa Barat 48,7 50,6 49,6 60,8 62,4 61,6 1,03 Jawa Tengah 54,4 56,1 55,2 66,1 66,9 66,5 1,01 DI Yogyakarta 71,0 69,4 70,2 81,7 84,0 82,9 1,03 Jawa Timur 53,8 57,9 55,7 62,9 68,5 65,6 1,09 Banten 52,2 48,6 50,3 60,7 56,6 58,6 0,93

Bali and Nusa Tenggara

Bali 64,9 60,4 62,9 80,8 70,2 76,1 0,87 Nusa Tenggara Barat 55,5 40,2 47,4 63,4 42,9 52,6 0,68 Nusa Tenggara Timur 35,4 36,4 35,9 44,4 41,3 43,0 0,93 Kalimantan Kalimantan Barat 46,0 41,0 43,3 59,8 47,4 53,2 0,79 Kalimantan Tengah 46,2 45,4 45,8 55,2 58,7 56,9 1,06 Kalimantan Selatan 42,9 41,2 42,1 50,2 49,7 49,9 0,99 Kalimantan Timur 60,8 60,7 60,8 74,1 74,3 74,2 1,00 Sulawesi Sulawesi Utara 51,0 59,9 55,5 67,4 71,3 69,4 1,06 Sulawesi Tengah 46,5 52,4 49,2 58,8 61,2 59,9 1,04 Sulawesi Selatan 47,4 43,0 45,3 55,2 55,7 55,5 1,01 Sulawesi Tenggara 47,9 52,5 50,1 62,8 59,8 61,4 0,95 Gorontalo 25,9 37,1 31,9 29,5 42,6 36,6 1,44 Total 52,9 54,2 53,5 63,9 64,8 64,3 1,01 1 APM untuk sekolah lanjutan adalah persentase penduduk usia sekolah menengah (13-18 tahun) yang bersekolah di sekolah lanjutan. Menurut

definisi APM tidak dapat melebihi 100 persen.

2 APK untuk sekolah lanjutan adalah banyaknya murid sekolah lanjutan, ditunjukkan sebagai persentase terhadap penduduk usia sekolah lanjutan. Jika banyak murid yang terlalu tua atau terlalu muda pada tingkat sekolah tertentu , APK dapat lebih dari 100 persen.

2.5 K

ARAKTERISTIK

P

ERUMAHAN DAN

K

EPEMILIKAN

B

ARANG

Dalam SDKI 2002-2003, dikumpulkan beberapa informasi tentang karakteristik rumah tangga, termasuk akses listrik, sumber air minum, waktu ke sumber air, jenis fasilitas sanitasi, bahan-bahan bangunan rumah, kepemilikan barang-barang tahan lama, dan jarak antara sumur dan tempat penampungan tinja (tangki septik) terdekat. Hal ini penting karena berpengaruh terhadap status kesehatan anggota rumah tangga, khususnya anak-anak. Selain itu juga, informasi itu juga dapat digunakan sebagai indikator status sosial-ekonomi rumah tangga. Praktek kesehatan dan sanitasi yang baik dapat membantu mencegah beberapa penyakit anak, seperti diare. Informasi karakteristik perumahan disajikan dalam Tabel 2.6 dan 2.7.

Tabel 2.6 menunjukkan bahwa 91 persen dari rumah tangga yang dicakup dalam SDKI 2002-2003 mempunyai listrik, meningkat pesat dari hanya 80 persen pada SDKI 1997 (BPS dll., 1998:17). Daerah perkotaan sangat berbed dengan daerah perdesaan dalam hal akses terhadap listrik (98 persen dibanding 85 persen)(lihat Gambar 2.2).

Tabel 2.6 juga menunjukkan bahwa sumur terlindung, baik dalam rumah, di halaman, atau di tempat umum, merupakan sumber utama air minum (42 persen). Tujuh belas persen rumah tangga menggunakan air yang dialirkan melalui pipa ke dalam rumah atau ke halaman atau didapat dari keran air milik umum. Proporsi ini sangat berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan (masing-masing 29 persen dan 7 persen). Sumber air minum lain adalah mata air (12 persen), sumber air tak terlindung lain seperti sungai dan kolam (3 persen), air kemasan (3 persen). Rumah tangga di perdesaan lebih banyak yang menggunakan mata air dari pada rumah tangga perkotaan (19 persen dibanding dengan 3 persen). Sebaliknya, air kemasan lebih umum digunakan di daerah perkotaan ( 6 persen) daripada di perdesaan (1 persen)

Perbedaan kota-desa juga dicerminkan dalam waktu untuk mengambil air. Hampir semua rumah tangga di perkotaan (97 persen) dapat menjangkau sumber air minum dalam waktu kurang dari 15 menit dibanding dengan 86 persen rumah tangga di perdesaan.

Rumah tangga yang tidak mempunyai kakus yang baik lebih mudah terkena penyakit seperti disentri, diare, dan tipus. Lebih dari separo rumah tangga dalam sampel (54 persen) mempunyai kakus sendiri. Angka ini lebih tinggi sedikit dari 50 persen di SDKI 1997 (BPS dll.,1998:19). Delapan persen rumah tangga menggunakan fasilitas bersama, dan sisanya (28 persen) tidak mempunyai toilet. Angka ini lebih rendah dari 40 persen hasil SDKI 1997 (BPS dll., 1998:19). Perbedaan kota-desa sangat nyata; 74 persen rumah tangga di perkotaan mempunyai toilet sendiri, dibandingkan dengan 37 persen di perdesaan.

Tabel 2.6 juga menunjukkan distribusi rumah tangga dengan jarak dari sumur ke tangki septik terdekat. Empat puluh satu persen rumah tangga tidak mempunyai sumur. Pada 9 persen rumah tangga, jarak antara sumur dengan tangki septik tank kurang dari 7 meter, dan pada 38 persen, jarak tersebut adalah 7 meter atau lebih. Di daerah perkotaan jarak antara sumur dengan tangki septik sedikit lebih dekat daripada di perdesaan.

Jenis lantai dapat dipakai sebagai indikator ekonomi dan kesehatan rumah tangga. Beberapa jenis lantai, seperti tanah, dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi rumah tangga, karena menjadi tempat berkembangnya hama dan serangga dan mungkin menjadi sumber debu. Jenis lantai ini juga lebih sulit dijamin kebersihannya. Di Indoneisa, 14 persen dari rumah tangga mempunyai lantai tanah. Lebih dari separo rumah tangga (52 persen) tinggal di rumah dengan lantai dari beton, semen, atau ubin, dan 15 persen mempunyai lantai dari kayu. Ada perbedaan kota-desa yang berarti pada jenis lantai; 58 persen dari rumah tangga perkotaan berlantai beton, semen, atau ubin, sedang proporsi di perdesaan hanya 47 persen. Sebaliknya, 22 persen rumah tangga di perdesaan menggunakan lantai tanah, dibanding hanya 5 persen di daerah perkotaan.

Sebagian besar rumah tangga menggunakan minyak tanah dan kayu bakar untuk memasak (masing-masing 44 persen), sedang 10 persen menggunakan gas. Ada perbedaan yang besar antara perkotaan dan

perdesaan menurut jenis bahan bakar untuk memasak. Di perkotaan, 64 persen dari rumah tangga menggunakan minyak tanah untuk memasak, sedang di daerah perdesaan hanya 28 persen. Selain itu, 19 persen rumah tangga di perkotaan menggunakan gas untuk memasak dibanding dengan 3 persen di daerah perdesaan.

Keberadaan barang tahan lama dalam rumah tangga, seperti radio, televisi, telepon, lemari es, sepeda motor, dan mobil pribadi, adalah indikator lain dari satus sosial-ekonomi rumah tangga. Selain itu, setiap barang mempunyai keuntungan khusus. Kepemilikan radio atau televisi dapat digunakan untuk mengukur akses terhadap media massa dan ide-ide baru. Kepemilikan telepon mengukur akses terhadap komunikasi yang lebih efisien. Kepemilikan lemari es memperpanjang usia makanan sehat; dan kepemilikan alat angkutan pribadi mempermudah akses terhadap pelayanan yang jauh dari tempat tinggal.

Tabel 2.7 menunjukkan bahwa 56 persen rumah tangga mempunyai radio, 62 persen mempunyai televisi, 13 persen mempunyai telepon, 18 persen mempunyai lemari es, 44 persen mempunyai sepeda atau perahu, dan 30 persen mempunyai sepeda motor atau perahu motor tempel. Hanya 6 persen dari rumah tangga mempunyai mobil pribadi atau truk. Satu dari enam rumah tangga tidak mempunyai alat rumah tangga seperti yang tercantum dalam Tabel 2.7. Kepemilikan barang tahan lama, kecuali radio dan sepeda atau perahu, telah meningkat dari yang tercatat di SDKI 1997 (BPS dll., 1998:20). Kepemilikan radio turun sejak 1997 (62 persen menjadi 56 persen), sedang kepemilikan televisi meningkat selama periode yang sama dari 48 persen menjadi 62 persen.

Kepemilikan beberapa alat rumah tangga beragam menurut daerah tempat tinggal. Secara umum, barang-barang ini lebih tersedia di rumah tangga daerah perkotaan dari pada di perdesaan. Sebagai contoh, 4 dari 5 rumah tangga di perkotaan mempunyai televisi, dibandingkan dengan kurang dari separo rumah tangga di perdesaan (48 persen). Telepon tersedia di 25 persen rumah tangga perkotaan tetapi hampir tidak

ada di daerah perdesaan. Rumah tangga di perkotaan mempunyai kesempatan 4 kali lebih besar untuk mempunyai mobil dibanding rumah tangga di perdesaan.

Tabel 2.6 Karakteristik rumah tangga

Distribusi persentase rumah tangga menurut karakteristik rumah tangga dan daerah tempat tinggal, Indonesia 2002-2003

Daerah tempat tinggal

Karakteristik rumah tangga Perkotaan Perdesaan Jumlah

Listrik

Ya 98,1 84,5 90,7

Tidak 1,9 15,4 9,2

Tak terjawab 0,1 0,1 0,1 Jumlah 100,0 100,0 100,0

Sumber Air minum

Leding ke dalam rumah 22,1 4,2 12,4 Leding di halaman 2,9 1,4 2,1

Leding umum 3,9 1,5 2,6

Sumur tak terlindung di dalam

rumah 5,8 3,6 4,6

Sumur tak terlindung di halaman 5,8 12,4 9,4 Sumur tak terlindung umum 1,7 4,9 3,5 Sumur terlindung di dalam rumah 24,9 12,8 18,4 Sumur terlindung di halaman 11,9 18,1 15,3 Sumur terlindung umum 6,0 9,8 8,0

Mata air 3,2 19,1 11,8

Sungai, kali, danau 0,3 6,0 3,4

Air hujan 1,2 3,2 2,3

Truk tangki air/air pikulan 3,2 1,6 2,3

Air kemasan 6,2 0,8 3,3

Lainnya 0,8 0,4 0,6

Jumlah 100,0 100,0 100,0

Waktu ke sumber air

Persentase < 15 menit 96,8 86,3 91,1

Fasilitas sanitasi

Sendiri dengan tangki septik 64,6 26,6 44,0 Sendiri tanpa tangki septik 8,9 10,2 9,6 Bersama/umum 9,3 6,2 7,6 Sungai/kali/anak sungai 11,3 26,6 19,6 Lubang 2,9 16,5 10,3 Semak/hutan/halaman/lapangan/ tanpa fasilitas 0,5 7,1 4,1 Lainnya 2,2 6,7 4,6 Tak terjawab 0,3 0,2 0,2 Jumlah 100,0 100,0 100,0

Jarak dari sumur ke tangki septik terdekat

Tidak ada sumur 43,8 38,3 40,8 Kurang dari 7 meter 11,4 7,6 9,4 7 meter atau lebih 36,5 39,4 38,1 Tidak tahu/ tak terjawab 8,2 14,7 11,7

Jumlah 100,0 100,0 100,0 Jenis lantai Tanah 4,6 21,9 14,0 Bambu 0,5 2,3 1,5 Kayu/papan 9,0 20,0 14,9 Semen/bata merah 35,0 33,1 34,0 Ubin/tegel/teraso 23,1 13,5 17,9 Keramik/marmer/granit 27,4 8,7 17,2 Lainnya 0,1 0,2 0,1 Tak terjawab 0,4 0,3 0,4 Jumlah 100,0 100,0 100,0

Bahan bakar memasak

Listrik 0,7 0,2 0,4 Gas 18,6 2,8 10,0 Minyak tanah 63,8 27,7 44,2 Batu bara 0,1 0,1 0,1 Arang 0,1 0,4 0,3 Kayu bakar 15,9 68,5 44,4 Lainnya 0,8 0,3 0,5 Tak terjawab 0,1 0,1 0,1 Jumlah 100,0 100,0 100,0

Table 2.7 Barang tahan lama rumah tangga

Persentase rumah tangga yang mempunyai alat-alat rumah tangga, menurut daerah tempat tinggal, Indonesia 2002-2003

Tempat tinggal

Alat-alat rumah tangga Perkotaan Perdesaan Total

Radio 64,8 48,4 55,9 Televisi 79,3 47,8 62,2 Telepon 25,1 2,4 12,8 Lemari es 31,9 6,2 17,9 Sepeda/perahu 45,6 42,9 44,2 Sepeda motor/perahu motor 38,7 21,9 29,6 Mobil/truk 9,7 2,3 5,7

Tidak memiliki barang yang

disebutkan di atas 8,4 22,8 16,2

Jumlah rumah tangga 15.126 17.962 33.088

Gambar 2.2 Karakteristik Perumahan menurut Daerah Tempat

Tinggal 98 29 74 58 85 7 37 47 91 17 54 52 0 20 40 60 80 100

Listrik Air Leding Kakus Sendiri Keramik/Marmer/Granit

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

Dalam dokumen Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan (Halaman 41-47)