• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIDAK PAKAI KONTRASEPSI DAN KEINGINAN UNTUK

Dalam dokumen Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan (Halaman 118-124)

PAKAI KONTRASEPSI 8

Bab ini khusus membahas mengenai wanita yang sedang tidak menggunakan alat/cara keluarga berencana (KB) dan alasan mengapa berhenti memakai. Lima topik akan dibahas dalam bab ini yaitu tingkat putus pakai kontrasepsi, alasan berhenti memakai kontrasepsi, alasan tidak memakai kontrasepsi, keinginan untuk memakai kontrasepsi di waktu yang akan datang, dan alat /cara KB yang ingin dipakai oleh pemakai yang potensial.

8.1 T

INGKAT

P

UTUS

P

AKAI

Perbaikan kualitas pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu tujuan dari program KB Indonesia. Salah satu ukuran dari kualitas pemakaian adalah angka putus pakai kontrasepsi. Alasan putus pakai bisa mencakup kegagalan kontrasepsi, ketidakpuasan terhadap alat/cara KB, efek samping, dan ke-tidaktersediaannya alat/cara KB. Tingkat putus pakai yang tinggi, kegagalan alat/cara KB, dan pergantian alat/cara bisa mengindikasikan bahwa diperlukan perbaikan dalam pemberian konseling tentang pemi-lihan alat/cara kontrasepsi, pelayanan lanjutan, dan penyediaan pelayanan yang lebih luas.

Tingkat putus pakai dihitung dengan cara tabel kematian berdasarkan data SDKI 2002-2003, yang disajikan pada Tabel 8.1. Angka-angka dalam tabel tersebut adalah tingkat putus pakai selama satu tahun, dan merupakan proporsi pemakai alat KB yang berhenti memakai alat tersebut dalam waktu satu tahun setelah pemakaian. Angka-angka tersebut dihitung dengn cara menghitung jumlah dan lama pemakaian peserta KB yang memakai setiap alat/cara KB dan menurut alasan, dibagi dengan jumlah seluruh bulan pemakaian. Angka putus pakai setiap bulan dihitung secara kumulatif untuk mendapatkan angka satu tahun. Untuk setiap penghentian pemakaian hanya ada satu alasan berhenti memakai yang dapat diperhitungkan. Ada tiga alasan putus pakai kontrasepsi yang dicatat, yaitu kegagalan alat (hamil ketika memakai kontrasepsi), ingin hamil, dan efek samping atau kesehatan.

Tabel 8.1 Tingkat putus pakai kontrasepsi

Tingkat putus pakai kontrasepsi selama 12 bulan setelah mulai memakai menurut alasan berhenti dan alat/cara KB, Indonesia 2002-2003

Alasan berhenti memakai

Alat/cara KB Metode gagal hamil Ingin

Ganti alat/cara KB lain1 Alasan lain Jumlah Pil 4,1 8,3 11,8 7,7 31,9 IUD 0,7 0,7 5,2 2,4 8,9 Suntikan 1,1 3,9 8,9 4,4 18,4 Susuk KB 0,1 0,3 1,6 0,7 2,7 Kondom 4,5 6,4 20,5 7,3 38,8 Pantang berkala 4,0 5,0 6,1 1,4 16,5 Senggama terputus 6,3 7,4 4,4 2,5 20,6 Lain-lain 2,8 8,6 3,4 4,2 19,0 Jumlah 2,1 4,8 9,0 4,8 20,7

Catatan: Tabel ini didasarkan pada episode pemakaian kontrasepsi yang dimulai 3-59 bulan sebelum survei.

1 Menggunakan suatu alat/cara dalam bulan setelah berhenti pakai atau ingin metode lebih efektif dan mulai pakai cara KB lain dalam waktu dua bulan setelah berhenti pakai.

Angka putus pakai dihitung dari informasi yang dicatat pada bagian kalender dalam kuesioner perseorangan wanita kawin SDKI 2002-2003. Semua episode pemakaian kontrasepsi antara bulan Januari 1997 hingga saat wawancara dicatat dalam kalender, bersama dengan alasan berhenti memakai yang terjadi pada periode waktu tersebut. Tingkat putus pakai yang disajikan merujuk pada semua episode pemakaian kontrasepsi yang dimulai selama periode yang dicakup oleh kalender. Tingkat putus pakai kontrasepsi dalam tahun pertama yang disajikan pada Tabel 8.1 merujuk pada periode 3-59 bulan sebelum wawancara. Bulan wawancara dan dua bulan sebelumnya diabaikan untuk mencegah bias yang mungkin disebabkan oleh kehamilan yang tidak diketahui.

Secara umum, 21 persen wanita berhenti memakai alat/cara KB dalam waktu 12 bulan sejak mulai memakai; dua persen berhenti memakai karena hamil ketika masih menggunakan metode kontrasepsi (kegagalan metode), lima persen berhenti karena ingin hamil, sembilan persen beralih ke metode lain, dan lima persen berhenti karena alasan lain (termasuk biaya, alat/cara KB tidak nyaman dipakai, keretakan perkawinan/perceraian, dan puasa kumpul).

Angka putus pakai selama satu tahun yang tertinggi adalah untuk kondom (39 persen), diikuti oleh pil (32 persen), dan suntikan (18 persen). Angka putus pakai untuk alat/cara KB tradisional adalah 21 persen untuk senggama terputus dan 17 persen untuk pantang berkala.

Angka putus pakai kontrasepsi dirinci menurut alasan berhenti bervariasi menurut alat/cara yang KB yang dipakai. Misalnya, proporsi wanita yang berhenti memakai kontrasepsi karena kegagalan kontrasepsi tertinggi terjadi pada pemakai pantang berkala dan kondom (masing-masing 4 dan 5 persen), sedangkan angka terendah terjadi pada susuk KB (kurang dari satu persen). Sebelas persen wanita pemakai pil berhenti karena mereka ganti dengan metode lain, 8 persen karena menjadi hamil, dan 8 persen karena alasan lain.

8.2 A

LASAN

B

ERHENTI

M

EMAKAI

A

LAT

/

CARA

KB

Aspek lain tentang berhentinya pemakaian kontrasepsi disajikan Tabel 8.2. Tabel tersebut menyajikan distribusi persentase tingkat putus pakai dalam periode 5 tahun sebelum survei menurut alasan berhenti dan alat/cara KB yang dipakai. Alasan berhenti pakai yang paling sering dikemukakan relatif sama seperti alasan berhenti pakai pada SDKI 1997, yaitu keinginan untuk hamil (34 persen). Alasan tersebut berlaku untuk semua alat/cara KB, kecuali pada pemakai alat/cara KB kondom dan metode amenore laktasi (MAL). Pada pemakai kondom dan MAL, alasan berhenti pakai yang dominan adalah beralih ke alat/cara KB yang lebih efektif (22 persen pada pemakai kondom dan 44 persen pada pemakai MAL). Alasan berhenti pakai lainnya adalah mengalami efek samping (14 persen), masalah kesehatan (10 persen), dan kegagalan alat/cara KB (10 persen) (lihat Gambar 8.1). Efek samping dan masalah kesehatan sering dilaporkan oleh pemakai suntikan, IUD dan susuk KB (15-19 persen), sedangkan alasan kegagalan metode dan keinginan untuk hamil lebih banyak dikemukakan oleh pemakai cara KB tradisional. Alasan-alasan ketidaklangsungan pemakaian kontrasepsi sedikit berubah dibandingkan dengan hasil SDKI 1997.

Tabel 8.2 Alasan berhenti memakai alat/cara KB

Distribusi persentase wanita yang berhenti memakai alat/cara KB dalam 5 tahun sebelum survei per alasan utama yang diberikan wanita menurut metode tertentu, Indonesia 2002-2003

Alasan berhenti memakai Pil IUD Suntikan Susuk KB Kondom MAL Pantang berkala Senggama terputus Lainnya metode Semua Hamil ketika memakai 15,6 8,4 5,9 1,1 12,3 5,8 28,7 28,4 16,1 10,0 Ingin hamil 34,7 29,5 35,6 25,1 21,5 4,3 32,8 34,6 45,2 34,0 Suami tidak setuju 0,4 0,3 0,4 0,3 1,1 0,0 0,6 0,6 1,2 0,4 Efek samping 10,5 15,4 18,5 15,2 0,5 11,6 2,5 0,1 1,0 14,4 Masalah kesehatan 7,6 14,4 12,2 11,6 4,2 0,2 0,4 1,2 0,1 10,1 Akses/ketersediaan 0,8 1,5 0,6 3,5 0,7 0,0 0,0 0,0 6,8 0,9 Ingin cara efektif 9,1 4,8 5,5 11,2 28,3 44,9 14,6 18,1 7,7 7,9 Tidak nyaman/repot 2,0 3,3 1,7 2,2 10,0 0,0 1,9 2,9 0,5 2,0 Jarang kumpul/suami pergi 1,7 1,0 1,6 1,1 2,0 0,8 0,7 1,5 1,1 1,6 Ongkos terlalu mahal 1,2 0,3 3,5 7,3 0,9 0,0 0,0 0,0 1,3 2,6 Fatalistik 0,7 0,0 0,2 0,6 0,6 0,5 0,2 1,7 0,3 0,4 Sulit hamil/menopause 1,2 4,4 0,8 0,7 1,5 0,0 1,0 0,9 1,5 1,2 Cerai/berpisah 1,7 1,9 1,9 1,4 2,2 2,5 0,5 0,4 1,8 1,8 IUD terlepas na 3,9 na na na na na na na 3,9 Lain-lain 7,4 5,5 6,8 14,7 10,8 10,7 5,2 2,4 6,6 7,6 Tak tahu 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,4 0,0 0,1 0,0 Tak terjawab 5,5 5,2 4,8 4,0 3,3 18,9 10,5 7,2 8,7 5,3 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita1 4.062 769 5.874 746 145 65 248 217 107 12.255

MAL= Metode amenore laktasi na = Tidak berlaku

1 Jumlah termasuk 13 wanita yang berhenti memakai diafragma

SDKI 2002-2003

Gambar 8.1 Alasan Berhenti Memakai Kontrasepsi

Hamil 10% Efek samping 14% Alasan lainnya 16% Keterbatasan biaya/akses 6% Ingin hamil 34% Jarang kumpul 2% Masalah kesehatan 10%

Ingin cara yang lebih efektif

8.3 K

EINGINAN UNTUK

M

EMAKAI

A

LAT

/

CARA

KB

DI

M

ASA

M

ENDATANG

Keinginan untuk memakai kontrasepsi di waktu yang akan datang memberikan suatu gambaran mengenai kebutuhan yang potensial terhadap pelayanan KB serta merupakan indikator ringkas tentang sikap bukan peserta KB terhadap kontrasepsi pada saat ini. Di Indonesia, dengan tingkat prevalensi kontrasepsi tinggi, wanita yang tidak memakai kontrasepsi merupakan kelompok sasaran bagi program dan pemberi pelayanan KB.

Wanita yang tidak memakai alat/cara kontrasepsi pada waktu wawancara ditanya apakah mereka bermaksud memakai metode pada suatu waktu di masa yang akan datang. Tabel 8.3 menyajikan ditribusi wanita berstatus kawin yang saat ini sedang tidak memakai metode kontrasepsi menurut keinginan untuk memakai suatu alat/cara KB di waktu yang akan datang dan menurut jumlah anak masih hidup. Menurut data SDKI 2002-2003, 43 persen dari bukan peserta KB bermaksud menggunakan keluarga berencana pada waktu yang akan datang dan 42 persen tidak bermaksud menggunakannya. Selebihnya sekitar 14 persen wanita tidak yakin akan keinginannya.

Tabel 8.3 Keinginan memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang

Distribusi persentase wanita bestatus kawin yang tidak memakai alat/cara KB, keinginan untuk memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang dan menurut jumlah anak masih hidup, Indonesia 2002-2003

Jumlah anak masih hidup1

Keinginan memakai di waktu

yang akan datang 0 1 2 3 4+ Jumlah Wanita Kawin

Ingin memakai 44,5 56,7 54,1 37,1 23,6 43,1 Tidak yakin 23,6 13,6 9,1 12,4 13,2 13,7 Tidak bermaksud memakai 31,6 28,7 35,9 49,6 62,6 42,4 Tak terjawab 0,2 0,9 0,9 0,9 0,6 0,7 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita 1.533 2.614 2.465 1.614 2.825 11.051 Pria Kawin Ingin memakai 11,7 8,6 10,2 10,2 4,7 8,8 Tidak yakin 11,6 11,5 8,2 11,9 8,1 10,1 Tidak bermaksud memakai 76,6 79,5 80,0 76,5 85,9 80,2 Tak terjawab 0,0 0,4 1,7 1,4 1,3 0,9

Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah pria 563 588 514 395 697 2.758

1 Termasuk kehamilan saat ini

Keinginan untuk memakai alat/cara kontrasepsi di masa mendatang cenderung berkurang sejalan dengan meningkatnya jumlah anak. Sebagai gambaran, wanita dengan satu anak cenderung paling besar keinginannya untuk memakai alat/cara KB dibandingkan dengan wanita yang memiliki lebih dari satu anak. Empat puluh tiga persen wanita yang tidak mempunyai anak ingin menggunakan alat/cara KB di waktu yang akan datang. Proporsi tersebut lebih tinggi dari pada angka yang tercatat dalam SDKI 1997 (38 persen).

Di kalangan pria berstatus kawin yang tidak memakai alat/cara kontrasepsi, hanya 9 persen yang mengatakan bahwa mereka bermaksud memakai satu metode di waktu yang akan datang, 10 persen tidak yakin, dan 80 persen tidak berkeinginan untuk memakai di masa yang akan datang (Tabel 8.3). Berbeda dengan kaum wanita, bagi kaum laki-laki, hampir tidak ada hubungan antara keinginan memakai alat/cara kontrasepsi di waktu yang akan datang dengan jumlah anak masih hidup.

8.4 A

LASAN

T

IDAK

M

EMAKAI

A

LAT

/

CARA

KB

Salah satu cara terbaik untuk mengukur hambatan terhadap program keluarga berencana adalah dengan menanyakan kepada wanita dan pria alasan mengapa mereka tidak memakai alat/cara KB; hal ini dilakukan dalam SDKI 2002-2003. Tabel 8.4 menyajikan informasi tentang distribusi persentase wanita dan pria yang tidak memakai alat/cara KB saat ini yang tidak bermaksud menggunakan alat/cara KB di waktu mendatang, menurut alasan tidak memakai kontrasepsi dan umur.

Wanita yang tidak ingin memakai kontrasepsi di masa mendatang pada umumnya mengemukakan alasan yang berkaitan dengan fertilitas (58 persen), berikutnya adalah alasan yang berkaitan dengan alat/cara KB, seperti masalah kesehatan, sumber pelayanan yang terlalu jauh, dan biaya yang tinggi (26 persen). Sementara itu di kalangan pria kawin yang tidak ingin menggunakan alat/cara kontrasepsi, alasan yang terbanyak dilaporkan adalah karena mereka menghendaki sebanyak mungkin anak (16 persen) dan takut akan efek samping (13 persen).

Tabel 8.4 Alasan tidak ingin memakai kontrasepsi

Distribusi persentase wanita berstatus kawin yang tidak memakai alat/cara KB dan yang tidak berkeinginan untuk memakai alat/cara KB pada waktu yang akan datang menurut alasan utama tidak ingin memakai dan umur, Indonesia 2002-2003

Wanita Pria

ALASAN 15-29 30-49 Total 15-29 30-49 Total

Fertilitas 35,4 60,5 57,6 28,9 24,7 25,3

Abstinensi 3,9 11,6 10,7 0,8 3,3 2,8 Menopause/histerektomi 0,2 23,5 20,9 0,1 5,3 4,4 Tidak subur 9,5 18,0 17,0 0,4 3,0 2,5 Ingin banyak anak 21,8 7,4 9,0 27,6 13,1 15,6

Menentang untuk memakai 11,6 5,1 5,8 5,9 8,3 7,9

Responden menolak 1,7 1,2 1,2 2,7 3,3 3,2 Suami/pasangan menolak 7,1 3,4 3,8 1,7 1,2 1,3 Orang lain menolak 0,1 0,1 0,1 0,0 0,2 0,2 Larangan agama 2,6 0,5 0,7 1,5 3,6 3,2

Kurang pengetahuan 1,8 0,8 0,9 7,7 6,2 6,5

Tidak tahu alat/cara KB 1,3 0,7 0,8 7,7 6,2 6,5 Tidak tahu sumber 0,5 0,1 0,1 0,0 0,0 0,0

Alat/cara KB 36,6 24,5 25,8 25,5 24,0 24,2

Masalah kesehatan 12,8 11,6 11,7 4,5 4,5 4,5 Takut efek samping 16,2 8,9 9,7 15,5 12,9 13,4 Kurang akses/terlalu jauh 0,5 0,2 0,2 0,3 0,0 0,1 Biaya terlalu mahal 2,2 2,7 2,7 2,1 2,4 2,3 Tidak nyaman 4,3 0,9 1,3 3,2 4,0 3,8 Menjadi gemuk/kurus 0,5 0,2 0,2 0,0 0,2 0,1 Lainnya 11,1 6,8 7,3 21,5 22,7 22,5 Tidak tahu 3,3 2,0 2,2 10,3 8,6 8,9 Tak terjawab 0,3 0,4 0,4 0,3 5,4 4,5 Jumlah 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Jumlah wanita/ pria 523 4.167 4.691 383 1.828 2.212

Di antara wanita yang tidak berkeinginan untuk menggunakan alat/cara KB, alasan utama yang dikemukakan adalah menopause atau sudah mengalami histerektomi (21 persen), tidak bisa hamil (17 persen), atau ingin tambah anak (9 persen). Seperti yang diharapkan, wanita usia lebih tua cenderung mengemukakan alasan menopause atau histerektomi, sementara pada wanita usia muda lebih besar kemungkinannya untuk mengemukakan alasan ingin mempunyai anak lagi.

Takut akan efek samping dan alasan kesehatan adalah alasan lain yang dilaporkan oleh wanita yang tidak ingin menggunakan kontrasepsi (masing-masing 10 dan 12 persen). Berdasarkan temuan ini, konseling KB diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan wanita mengenai alat/cara KB dan efek samping kontrasepsi. Informasi yang lengkap tentang alat/cara KB, termasuk keuntungan dan kerugiannya akan membantu wanita maupun pria yang belum menjadi peserta KB dalam mengambil keputusan untuk memakai alat/cara KB.

Alasan yang dikemukakan pria beragam menurut umur; pria usia lebih muda cenderung menghendaki anak lagi (28 persen), sedang pria usia tua lebih besar kemungkinannya menyebutkan alasan fertilitas lainnya, seperti jarang kumpul, isteri telah “mati haid” atau telah mengalami operasi histerektomi, atau sudah tidak subur (12 persen). Selain itu, satu diantara empat pria mengemukakan alasan yang berkaitan dengan alat/cara KB.

8.5 A

LAT

/

CARA

KB

YANG

D

IINGINKAN

Tabel 8.5 menyajikan data tentang wanita dan pria berstatus kawin yang saat ini tidak menggunakan alat/cara KB, tapi bermaksud menggunakannya di waktu yang akan datang. Temuan menunjukkan bahwa wanita yang ingin memakai suntikan (56 persen) dan 19 persen ingin menggunakan pil. Bila hasil survei ini diban-dingkan dengan dengan hasil SDKI terdahulu, terlihat bahwa proporsi wanita yang ingin memakai suntikan berangsur meningkat dari 34 persen pada SPI 1987 menjadi 56 persen pada SDKI 2002-2003, dan proporsi wanita yang ingin memakai pil turun dari 40 persen pada SPI 1987 menjadi 20 persen pada SDKI 2002-2003.

Tabel 8.5 juga memperlihatkan bahwa pria yang ingin memakai kondom di waktu yang akan datang (52 persen). Menarik untuk dicermati bahwa 14 persen laki-laki mengatakan bahwa mereka ingin memakai sterilisasi pria, sementara itu tidak ada wanita yang menginginkan suaminya untuk memakai cara tersebut. Selain itu, satu di antara delapan laki-laki berstatus kawin (12 persen) berkeinginan memakai alat/cara KB “lainnya” di waktu yang akan datang, antara lain; metode KB wanita.

Tabel 8.5 Alat/cara KB yang diinginkan

Distribusi persentase wanita berstatus kawin dan pria kawin yang saat ini tidak memakai alat/cara KB tetapi berkeinginan untuk memakainya di masa yang akan datang menurut alat/cara KB yang diinginkan, Indonesia 2002-2003

Metode Wanita Pria Sterilisasi wanita 2,3 a Sterilisasi pria 0,1 13,5 Pil 19,1 a IUD 7,5 a Suntikan 55,6 a Susuk KB 7,0 a Kondom 0,4 51,8 Pantang berkala 0,7 9,4 Senggama terputus 0,3 5,2 Lainnya 2,4 11,9 Tidak tahu 4,4 7,0 Tak terjawab 0,1 1,1 Jumlah 100,0 100,0 Jumlah wanita/ pria 4.765 482

a) Metode tidak dipertimbangkan secara ter-pisah dan dicakup dalam metode lainnya,

Dalam dokumen Indonesia Survei Demografi dan Kesehatan (Halaman 118-124)