• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembiayaan

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 59-64)

Analisa tingkat integrasi dalam sistem ini terdiri dari pengelolaan sumber pembiayaan, penganggaran, proporsi, distribusi dan pengeluaran, mekanisme pembayaran layanan seperti yang dijelaskan di bawah ini :

1. Pengelolaan Sumber Pembiayaan

Pengelolaan dana di daerah telah bersinergi dengan kebijakan nasional, hal ini juga bisa dilihat di renstra dimana daerah memiliki prioritas daerah dan juga melaksanakan masalah kesehatan yang menjadi prioritas nasional. Jumlah pendanaan untuk kesehatan, secara umum tidak didapatkan informasi kekurangan atau pengalihan atau pemotongan alokasi kesehatan, dan bila dilihat dari serapan anggaran tahun-tahun sebelumnya tidak ada yang realisasinya melebihiyang dianggarkan, sehingga bisa diasumsikan sejauh ini masih mencukupi. Pengelolaan dana kesehatan secara umum untuk DKI Jakarta dilakukan secara desentralisasi, dimana masing – masing pemegang program dan unit kerja melakukan perencanaan anggaran, penggunaan dan pelaporannya.

Meskipun demikian, informasi yang diperoleh menyatakan bahwa sebagian besar dana yang ada untuk program di dukung GF dan sudah ada koordinasi penggunaan sumber dana, misalnya Bappeda melalui Bidang Kesmas telah berkoordinasi kepada Bidang Perencanaan dan instansi yang terkait misalnya dinas kesehatan dan KPAP agar mengalokasikan anggaran dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Untuk pendistribusian dana itu sendiri diserahkan kepada unit kerjam misalnya puskesmas yang akan melakukan perencanaan untuk pelayanan sedangkan dinkes sendiri akan menganggarkan kegiatan yang harus didanai sesuai dengan komponen kegiatan yang dibebankan berkaitan dengan program HIV, hal ini juga terdapat pada informasi dibawah ini :

Untuk alkes, obat dan reagen langsung ke puskesmas dan rumah sakit masing – masing tidak melalui kami. Kegiatan yang didanai untuk HIV dan AIDS yang sekitar 200 jt untuk kegiatan monev, bimbingan teknis, pelatihan SDM program HIV dan AIDS (wawancara mendalam dengan Dinkes DKI Jakarta, September 2015).

Terkait dengan BPJS masih belum banyak bermanfaat pada program pencegahan dan BPJS juga belum dapat membiayai semua, akan tetapi ada alternatif pembiayaan pemda DKI Jakarta memiliki KJS. Namun untuk ART sendiri sejauh ini untuk penyediaan obat masih sepenuhnya dari pusat seperti yang dijelaskan diatas. Dari penggunaan

dana tersebut, baik program HIV dan AIDS maupun program kesehatan lainnya, ada sistem pelaporan dari unit kerja secara langsung sebagai pertanggung jawaban penggunaan APBD. Di sisi lain, dalam pelaksanaan program ART untuk indikator pengobatan yaitu pemeriksaan CD4 dan viral load sama sekali tidak dibiayai oleh APBN dan APBD sedangkan indikator tersebut dapat dijadikan ukuran keberhasilan ART.

Berdasarkan deskripsi diatas, pengelolaan sumber dana untuk program sudah terintegrasi dengan baik antara daerah dan pusat dan sebagian sudah didukung jaminan kesehatan. Selain itu, pembiayaan program sudah bisa mengkoordinasikan berbagai sumber yaitu untuk pengadaan ART dari pusat, namun untuk pemeriksaan dan obat-obat lainnya sebagian ada yang dari BPJS atau APBD (obat-obat IMS, IO).

2. Penganggaran, Proporsi, Distribusi dan Pengeluaran

Program HIV dan AIDS sudah masuk dalam salah satu prioritas masalah kesehatan dan proporsi anggaran sudah masuk dalam APBD meskipun informasi yang diperoleh masih menunjukkan bahwa bantuan donor masih cukup besar. Komitmen daerah yang ditunjukkan terlihat semakin meningkat dari tahun ke tahun. Proporsi penganggaran APBD untuk permasalahan kesehatan dan secara khusus program tidak didapatkan informasi secara detail. Namun, sudah ada proporsi anggaran APBD untuk penanggulangan HIV dan AIDS dimana di DKI Jakarta dananya sudah cukup besar dan tren nya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Besaran dana untuk program HIV dan AIDS dari APBD selama 3 tahun dapat dilihat dari tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1. Besaran Anggaran Program HIV dan AIDS Tahun 2013 - 2015

Tahun Besaran APBD untuk program HIV dan AIDS

Proporsi dari APBD

2013 Rp. 7,984,117,500 -

2014 Rp.16,567,672,117 -

2015 Rp.17.488.677.000 0,03%

Untuk proporsi dana program ART tidak didapatkan data besarannya, anggaran ini termasuk kegiatan seperti pertemuan, koordinasi, gaji, dan pengembangan kapasitas. Dalam penganggaran dana tidak termasuk pengadaan ART begitu juga untuk pendistribusian meskipun tidak terdapat informasi secara tepat. Informasi tersebut juga didapatkan dari hasil wawancara :

“Saat ini dibantu oleh dana anggaran GF pusat untuk pendistrbusian ke unit layanan dilakukan oleh kimia farma yang penyimpanannya dengan nama gudang DKI sampai distribusi karena mereka ada penyimpanan nasional dan DKI” (wawancara mendalam dengan Dinkes DKI Jakarta, September 2015).

Untuk proporsi pendanaan berdasarkan informasi yang didapat di DKI Jakarta proporsi daerah (APBD) cukup besar selain APBN dan kontribusi mandiri dari populasi kunci melalui sumbangan untuk berbagai keperluan ODHA. Sudah ada dana yang cukup besar dari APBD untuk penanggulangan HIV, namun sepertinya pokja HIV tidak tahu detil bagaimana pendanaan antara APBD dan donor. Selain itu ada kontribusi populasi kunci berupa pendanaan mandiri melalui sumbangan untuk berbagai keperluan ODHA dan ada alokasi APBN.

Terkait serapan dana anggaran, DKI Jakarta data realisasi dana kesehatan untuk dana dekonsentrasi adalah 63,30% dan untuk dana BOK 96,93%.Dana penanggulangan HIV dan AIDS selain dana yang di salurkan melalui SKPD/UPKD tersebut ada dana hibah misalnya yang diberikan pada KPAD maupun Dinkes, namun dana ini bila tidak terserap harus dikembalikan dan mekanismenya cukup kaku berdasarkan regulasi dana hibah dari peraturan Kementerian Dalam Negeri (Permendagri). Sumber dana UPTD dari APBD dan merupakan anggaran mandiri melalui BLUD untuk masing-masing fasyankes.

Berdasarkan deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa antara sistem dan program terkait penganggaran, proporsi, distribusi dan pengeluaran untuk program belum integrasi secara penuh.

3. Mekanisme Pembayaran Layanan

Sistem pembiayaan kesehatan secara nasional adalah melalui BPJS dan juga dilaksanakan sampai tingkat pemerintahan yang terrendah. Pembiayaan dilakukan oleh BPJS sesuai dengan komponen yang telah ditetapkan oleh BPJS. Saat ini ada JKN melalui BPJS yang juga dapat digunakan untuk layanan orang miskin dan termarjinalkan melalui penerima bantuan iuran (PBI). Untuk pemanfaatan JKN, di DKI Jakarta saat ini diperkirakan ada sekitar 8,492,117 jiwa (6%) yang mengakses JKN PBI dan 4,869,009 jiwa (4%) JKN non PBI yang dapat digunakan untuk layanan orang miskin dan termarjinalkan. Selain melalui JKN PBI di DKI Jakarta ada jaminan kesehatan dari daerah melalui KJS dimana ada sekitar hampir 3.5 juta jiwa yang mengakses. Pembiayaan yang diberikan pemerintah daerah untuk pembiayaan diluar tanggungan BPJS.

Dalam pelayanan HIV dan AIDS, komponen pembiayaan untuk perawatan HIV adalah yang berkaitan dengan perawatan IO sedangkan BPJS tidak menjamin untuk obat ARV, begitu juga dengan jaminan yang disediakan oleh DKI Jakarta. Sedangkan pemeriksaan laboratorium penunjang terkait dengan program ART baik JKN maupun jaminan daerah tidak membiayai komponen tersebut. Informasi ini juga didapatkan dari informasi sebagai berikut :

Kalo sekarang kan nggak, saya sudah pakai bpjs. Sebelumnya itu 700.000 nah untuk cek darah lengkapnya bisa sampai 400.000 itu tidak termasuk vl ya kalo untuk vl kan diatas 600.000. (wawancara dengan populasi kunci, September 2015).

Mekanisme pembayaran menggunakan regulasi yang ditetapkan oleh BPJS, tidak dijelaskan apakah ini sudah mampu menjawab hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. ODHA maupun populasi seharusnya bisa mengakses fasyankes namun prosedur berobat dianggap sering bermasalah terutama terkait syarat administratif.Skema pembayaran layanan kesehatan JKN menggunakan regulasi yang ditetapkan oleh BPJS, hal ini cukup membantu akses layanan kesehatan meskipun masih ada hambatan dalam pemanfaatan JKN. Populasi kunci secara umum bisa

mengakses layanan melalui JKN hanya saja prosedur JKN di DKI Jakarta dianggap cukup menghambat terkait dengan masalah administrasinya.

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa untuk layanan program secara umum sudah dibiayai oleh pusat dan sebagian menggunakan mekanisme pembiayaan daerah, maka antara sistem dan program dianggap telah terintegrasi penuh.

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 59-64)

Dokumen terkait