• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyediaan Layanan

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 75-80)

Analisa tingkat integrasi dalam sistem ini terdiri dari ketersediaan layanan, koordinasi, rujukan dan jaminan kualitas pelayanan seperti yang dijelaskan di bawah ini :

1. Ketersediaan layanan

Dimensi ketersediaan layanan antara sistem dan program telah menunjukkan integrasi penuh. Ketersediaan layanan kesehatan telah mencakup promotif, preventif, kuratif

dan rehabilitasi tersedia di seluruh wilayah DKI Jakarta. Ketersediaan layanan kesehatan secara umum di DKI Jakarta sudah baik begitu juga dengan akses terhadap layanan bagi masyarakat umum, miskin dan marjinal, hal ini ditunjukan dengan berubahnya beberapa puskesmas menjadi RS Umum Kecamatan (RSUK) dan dibangunnya puskesmas pengganti serta didirikannya puskesmas di rusun. Menurut peraturan daerah provinsi DKI Jakarta No 5 tahun 2008 tentang penanggulangan HIV dan AIDS diuraikan lingkup penanggulangan HIV dan AIDS adalah untuk promosi, pencegahan, pengobatan, dukungan dan perawatan. Tetapi untuk bentuk layanan faskes lebih dominan kepada pelayanan kuratif. Seluruh penduduk DKI Jakarta dapat dengan mudah untuk mengakses layanan begitupun orang miskin dan kelompok marjinal. Masyarakat marjinal sudah dapat mengakses layanan dilihat dari penggunaan Kartu Jakarta Sehat yang melebur pada BPJS. Sudah ada mekanisme rujukan layanan kesehatan meskipun beberapa masih ada kendala dalam hal administrasi bukan dari sisi penyedia layanan.

Strategic Use of ARV (SUFA) atau penggunaan strategi ART sebagai pencegahan dan

pengobatan sudah dilaksanakan dengan cukup baik dan hambatan yang muncul adalah masalah kepatuhan ODHA yang berobat yang disebabkan oleh banyak hal. Pada beberapa lokasi yang belum ada SUFA bahkan masih ada yang tidak mengetahui tentang apa itu SUFA. Hal ini juga disampaikan informan :

“Sebenarnya SUFA itu kan percepatan kita aja untuk mulai ART..ee perubahannya, flow ART kita yang banyak. Yang tadinya belum kita masukkan, kita masukkan. Klo untuk TB, SUFA kan masuk TB juga kan, punyakit yang udah semakin biasa, Cuma yang layanan itu menjadi lebih agak banyak”. (wawancara mendalam dengan Ka Klinik HIV RSUD Tarakan, Agustus 2015)

LKB sudah berjalan dengan baik tetapi sebagian belum optimal terkendala sumber daya manusia dan kader yang kurang aktif, tetapi di beberapa wilayah terdapat faskes yang belum melaksanakan LKB. LKB sendiri dapat memperkuat dalam strategi untuk meningkatkan cakupan disamping memperluas diagnosis HIV dan memperkuat perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) HIV untuk meningkatkan efektifitas dan retensi pengobatan ART.

2. Koordinasi dan Rujukan

Sistem rujukan berjalan dari mulai puskesmas sampai ke faskes lanjutan, hanya pada pelaksanaannya terdapat kendala bagi masyarakat yaitu sistem administrasi. Masalah tersebut dikarenakan oleh karena tidak semua penduduk DKI memiliki kartu tanda penduduk DKI Jakarta khususnya bagi penduduk pendatang. Dalam dimensi koordinasi dan rujukan ini antara sistem dan program telah terintegrasi penuh. Program HIV telah dilakukan dengan mengintegrasikan dengan program lainnya, misalnya TB-HIV, program skrining ibu hamil dan program lainnya, hal ini juga disampaikan pada informasi :

“Lebih banyak kolaborasi dengan TB karena 2016 arahnya kesana, saat ini TB berkembang pesat dan kita ketahui IO terbanyak ODHA adalah TB sehingga kita mengeluarkan surat edaran populasi kunci harus skrining TB selama ini suda berjalan dari layanan PDP di layanan HIV setiap bulan berkunjung di skrining TB. Kebijakan baru kita perluas ke poli IMS, metadon atau jarum suntik pun harus di skrining apakah sudah HIV atau belum harus di skrining TB. Dengan adanya perluasan pelayanan tersebut kami manfaatkan yaitu bila ditemukan ibu hamil di rumah susun maka langsung kami lakukan tes HIV baik ibu maupun suaminya (sejalan dengan permenkes). Harapannya tahun depan dapat diperluas lagi jangkauannya”. (wawancara mendalam dengan Dinkes DKI Jakarta, September 2015).

Desentraslisasi pelayanan ART di DKI Jakarta didukung oleh jumlah layanan yaitu 28 rumah sakit rujukan, 11 puskesmas satelit yang telah diaktifkan menjadi PKM CST mandiri, 17 puskesmas satelit dan 13 PKM yang kemudian akan dikembangkan sebagai satelit. Pelayanan kesehatan terkait HIV di DKI Jakarta telah dikatakan lengkap dan tersebar disemua wilayah.Bentuk layanan ada yang satu pintu dimana semua layanan bagi ODHA disatu tempat dan ada sistem layanan yang berbaur dengan pasien penyakit lainnya. Gambaran untuk jumlah layanan dapat dilihat pada grafik berikut:

Gambar 9. Perkembangan jumlah klinik HIV DKI Jakarta tahun 2011 - 2015

Unit pelayanan HIV sudah makin bertambah, hal ini ditunjukkan dengan pada akhir 2014 di DKI Jakarta terdapat tiga puskesmas mandiri untuk menangani HIV dan AIDS dan dengan adanya tambahan cakupan pasien lebih banyak serta layanan yang telah terintegrasi. Dinkes DKI Jakarta sedang mengupayakan agar seluruh fasyankes berdaya guna untuk layanan HIV dan AIDS, namun saat ini belum semuanya sehingga masih banyak layanan lintas wilayah. Layanan RS sudah cukup standar, melayani pengobatan ART dan monitoring agar pasien tidak putus pengobatan. Terdapat layanan standar namun tidak ada ruang khusus terpadu yang menangani di satu tempat, karena beberapa RS belum punya klinik khusus. Layanan di RS diupayakan berkesinambungan dan komprehensif, melalui pencegahan pasien, misal pasien narkoba, untuk karyawan diberikan edukasi dan kecelakaan dalam tindakan medis (tertusuk jarum). Ketersediaan layanan RSUD di DKI Jakarta telah mencakup pelayanan pasien, perencanaan dan monev dilakukan oleh RSUD sendiri. Ketersediaan layanan sudah cukup lengkap dari VCT, PITC dan PMTCT, ART dan terus berjalan kemudian perawatan IO dan dalam kepatuhan obat belum mempunyai petugas khusus yang mengingatkan kepatuhan. Monitoring dalam kepatuhan biasanya melalui telepon. Pelayanan HIV saat ini telah menjadi layanan standar di RSUD.

Hal penting yang menjadi fokus pada pemberian pelayanan pada ODHA adalah stigma yang diberikan petugas terhadap kliennya. Dari berbagai faskes tidak ditemukan

adanya sigma petugas tehadap pasien, sehingga hal ini juga dapat menjadi salah satu indikator kenyamanan ODHA untuk kembali ke faskes.

Tidak ada kompensasi petugas yang telah memberikan pelayanan HIV dalam hal ini semua petugas baik yang terlibat maupun tidak terlibat dalam pelayanan HIV akan mendapatkan insentif yang sama dan disesuai dengan variabel komponen yang diperhitungkan sesuai dengan kebijakan unit kerja masing – masing. Pelaporan kegiatan layanan kesehatan dilakukan langsung kepada dinas kesehatan.

3. Jaminan Kualitas Layanan

Secara umum kualitas layanan kesehatan sering kali kurang termonitor disebabkan oleh hambatan di sistem pelaporan. Untuk menjamin kualitas pelayanan maka pemerintah DKI Jakarta melakukan standarisasi mutu untuk faskes dengan cara sebagian besar faskes terstandar ISO, meskipun masih ada yang belum dan sebagian masih dalam proses akreditasi ditahun 2016. Pada pelayanan tingkat rumah sakit selain kualitas mutu yang distandarisasi dengan ISO, tetapi juga dengan adanya akreditasi rumah sakit yang pada saat ini beberapa RSUD di wilayah DKI Jakarta sedang dalam tahap persiapan.

Dimensi jaminan kualitas layanan telah terintegrasi penuh antara sistem dan program, meskipun sistem supervisi dan bimbingan teknis sangat bervariasi untuk pelaksanaannya dan dengan frekuensi pelaksanaan yang berbeda. Ada faskes yang mengatakan jarang, setahun sekali ataupun dilakukan secara sampling sehingga tidak semua faskes mendapatkan supervisi dan bimbingan teknis.

Survey kepuasan pelanggan yang dilakukan oleh dinas kesehatan tidak dilakukan spesifik untuk pelayanan HIV saja tetapi secara keseluruhan, hal ini disampaikan oleh informan sebagai berikut:

“Survey dari pemda hasilnya dinkes 80% tingkat kepuasannya. Survey dilakukan oleh lembaga independen yang dikelola oleh pemda.Dinkes hanya menerima laporan saja”.(wawancara mendalam dengan Dinkes DKI Jakarta, September 2015).

Untuk mengetahui kuallitas pelaanan yang diterima oleh pasien secara langsung maka dilakukan survei kepuasan pelanggan yang biasanya dilakukan dengan memberikan kuesioner maupun perangkat lain untuk menilai tingkat kepuasan yang sering disebut adalah “kepuasan pelanggan”. Tetapi tidak semua faskes melakukan survei kepuasan pelanggan. Survey kepuasan pelanggan digunakan untuk mengetahui tanggapa secara langsung dari pengguna layanan. Untuk di tingkat nasional maupun daerah belum ditemukan adanya survei kepuasan, misalnya faskes terhadap dinas kesehatan.

Dalam menjadi kualitas layanan, dinkes, faskes dan instansi terkait melakukan peningkatan kualitas tenaga yang terkait melalui pelatihan serta kegiatan lainnya yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga kompetensi yang diharapkan dapat ditingkatkan.

H. Penilaian Integrasi Program kedalam Fungsi Sistem Kesehatan

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN STUDI KASUS (Halaman 75-80)

Dokumen terkait