BAB IV ANALISA
4.2 Analisa Aspek Lingkungan
4.3.3 Utilitas
4.3.3.11 Pembuangan Sampah
Disediakan bak-bak sampah pada tiap ruangan, dimana sampah-sampah yang terkumpul akan dikumpulkan pada bak penampungan sementara. Untuk memudahkan pemindahan sampah, maka bak penampungan diletakkan pada daerah service. Setelah itu sampah diangkut dengan truk sampah ke penampungan terakhir.
97 BAB V
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
5.1. Dasar Perencanan dan Perancangan 5.1.1. Tujuan Perancangan
1. Titik tolak perencanaan dan perancangan terhadap bangunan Sekolah Perfilman ini adalah terpenuhinya akan kebutuhan ruang yang terencana dengan baik atas.
2. Dengan pengolahan bentuk pola peletakan massa dan bentuk massa bangunan yang simbolik menimbulkan daya tarik tersendiri pada bangunan sehingga dapat menjadi kebanggaan bagi lingkungan sekitar.
3. Pemanfaatan potensi yang ada di sekitar lingkungan untuk menunjang kegiatan di dalam tapak.
4. Memberikan kenyamanan dan ketenangan sepenuhnya bagi pengguna sekolah perfilman, sehingga nantinya para pengguna akan mendapatkan tempat yang layak untuk proses pembelajaran dan pendidikan..
5. Memberikan nuansa-nuansa alami yang berbeda dengan Sekolah Perfilman yang ada dan akan memberi nilai lebih bagi pengunanya.
5.1.2. Pendekatan Terhadap Perilaku
Perancangan Sekolah Perfilman penerapan dalam desain melalui ruang-ruang yang dirancang berdasarkan tema eskpresi bentuk dan karakteristik sebuah bangunan pendidikan dengan latar belakang film serta tidak mengabaikan kaidah-kaidah perencanaan dan perancangan arsitektur agar tercipta suatu hubungan yang
98 seimbang antara pengguna dengan ruang yang mewadahinya sehingga mencapai hasil rancangan yang optimal.
5.1.3. Pendekatan Terhadap Arsitektural
Menghadirkan perancangan bangunan Sekolah Perfilman yang tanggap terhadap fungsi, keterkaitan terhadap tema ekspresi bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar sehingga mendukung bentuk bangunan yang ekspresif dan manusiawi.
5.2 KONSEP DASAR PERANCANGAN
1. Bangunan yang akan direncanakan bertujuan pada pendidikan.
2. Bangunan yang direncanakan menyimbolkan bentuk-bentuk fisik ikonik perfilman seperti kamera atau klip yang akan menjadi dasar dari pengolahan tapak / site dan fasade.
3. Mewujudkan bangunan yang menunjukan ciri dari topik ekspresi bentuk dengan sasaran penerapan terhadap pengolahan site.
5.2.1 Penerapan Tema Terhadap Konsep Dasar Perancangan
Tabel 5.1 Penerapan Simbol Perfilman kedalam Konsep Perancangan
Poin
Pengamatan Konsep Aplikasi kedalam bangunan Penyesuaian terhadap fungsi dan lokasi Bentuk Site Konsep Kamera Adanya pemisahan yang jelas
antara bangunan yang memiliki penzoningan publik, semi publik, dan private
99
Konsep ekspose struktur Bentuk/ pola massa bangunan menyimbolkan satu kesatuan, Tetapi memiliki fungsi dan bentuk yang tidak sama tetapi memiliki pola.
• Fungsi pengelola dan pengajar yang memiliki hubungan yang saling berkaitan
• Fungsi pengajar dan pendidikan yang memiliki hubungan yang saling berkaitan
• Begitu pula antara fungsi pendidikan dan fungsi penunjang yg memiliki keterikatan.
Simbol yang diterapkan
Kamera Penerapannya pada bentuk pola massa dalam site . yang melambangkan tiap bentuk geometri dari kamera memiliki keterkaitan dan hubungan.
• Diterapkan pada pola peletakan massa bangunan dalam pengolahan site
Clapper dan rol film Penerapannya pada Bentuk massa bangunan.
• Pelatakan dan fungsinya bisa dibagi per fungsi dan fasilitas yang ada di sekolah film.
Warna Penggunaan warna-warna yang
memiliki arti khusus dalam perfilman dan memiliki makna sesua fungsi bangunan.
100
Teori desain Yang diterapkan
Bentuk arsitektur diciptakan melalui simbolik / ikon akademi sebagai
pendekatan terhadap topik dan tema yaitu ekspresi bentuk.
Simbolisme diterapkan melalui bentuk dan pola massa bangunan
• Ruang-ruang
Mozaik Susunan dan pola massa bangunan memberikan kesan tidak beraturan tetapi memiliki hubungan.
-
5.3 ASPEK MANUSIA
5.3.1 Pelaku dan Kelompok Kegiatan
Berdasarkan hasil analisa, fasilitas yang direncanakan untuk mewadahi kegiatan pelaku adalah:
Tabel 5.2 Pelaku dan Kelompok Kegiatan
Fasilitas Pelaku Kegiatan Ruangan yang
direncanakan Pendidikan
Pengajar, Mahasiswa Ruang Kelas Teori,Ruang Kelas Praktek
Pengelola Pengelola, Pengajar
Ruang Pengelola, Ruang Yayasan, R.Arsip,
Ruang serbaguna
Pengajar Pengajar / Dosen
R. Dosen, R. Rapat, R.
Kelas Praktek/Teori
Pameran &
Pertunjukan Dosen, Mahasiswa, Pengelola Teater, R.Pameran
101 Service & Penunjang Pegawai, Pengunjung
R. Service,
Cafeteria,Retail, ATM Center, Masjid
5.3.2 Alur Kegiatan Manusia
5.3.3 Kebutuhan Luasan Ruang
Tabel 5.3 Kebutuhan Luasan Ruang
No Fasilitas Total Luas
1 Fasilitas Pendidikan 2514,00
2 Fasilitas Pengajar 495,00
3 Fasilitas Pengelola 213,12
4 Fasilitas Pameran 1746,48
MAIN ENTRANCE
PENGELOLA
PENDIDIKAN
SERVICE
PAMERAN PARKIR
PARKIR PLAZA
FASILITAS PENUNJANG MUSOLLA
102
5 Fasilitas Perpustakaan 985,86
6 Fasilitas Penunjang 830.40
7 Fasilitas Service 643,20
Luas Total Bangunan 7428,06
5.4 ASPEK LINGKUNGAN 5.4.1 Lokasi dan Tapak
Dari hasil analisa berdasarkan kriteria-kriteria sebelumnya, maka lokasi dan tapak terpilih adalah:
Kawasan : Kecamatan Kebon Jeruk , Jakarta Barat Tapak : Jl. Arjuna Utara
Alasan yang mendukung pemilihan tapak tersebut yaitu:
A. Strategis
Terletak di kawasan dengan fasilitas yang menunjang keberadaan proyek. Seperti Stasiun Televisi RCTI, Metro TV, lebar jalan utama yang memadai, dsb.
B. Faktor Lingkungan
Lingkungan sekitar tapak mendukung keberadaan kegiatan dalam proyek ini. sehingga bangunan ini juga dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Aksesibilitas
• Pencapaian yang mudah karena letaknya di pusat kota.
Area Tapak
103
Gambar 5.1 Letak Tapak terhadap Perkotaan
• Dapat dicapai dari segala arah.
Letaknya pada pinggir tol kebon jeruk, memungkinkan untuk diakses dari jalan panjang kedoya, dari arah tomang melewati tol kebon jeruk, Dari arah grogol melewati kedoya.
• Lokasi tapak dilewati banyak transportasi umum (Bus kota) serta dekat dengan terminal Bus Grogol.
C. Faktor Luas Tapak & Peraturan Pemerintah
Tabel Kesesuaian Perencanaan Terhadap Peraturan Pemerintah
Yang di ijinkan Yang di rencanakan
KDB : 9.869 m2 (Bangunan) 7428,06 m2
KLB : 19.738 m2
Jumlah lantai maksimal : 8 Lantai 3 Lantai
Luasan tapak dianggap cukup, sehingga mampu menampung semua kegiatan baik yang ada dalam maupun diluar bangunan.
Berdasarkan tabel perbandingan diatas, lokasi tapak tidak melanggar peraturan tata kota Jakarta, seperti peruntukan, KLB, KDB, GSB, dsb.
D. Kelengkapan Prasarana Kota
Tapak ini ditunjang oleh sarana dan prasarana kota untuk memudahkan perancanaan dan perancangan bangunan, seperti prasarana jalan, sarana air bersih, pembuangan air kotor, listrik, telepon, dll.
5.4.2 Pencapaian Kedalam Tapak
Berdasarkan hasil analisa, pintu masuk utama bagi pejalan kaki dan kendaraan berada disisi Jl. Arjuna Utara. Sedangkan alur keluar masuk kendaraan service berada disisi Jl. Pilar mas utama.
104
• Pencapaian Primer : 1. Lokasi mudah dilihat
2. Lokasi mudah dicapai dengan kendaraan umum 3. Lokasi memberi Kesan mengundang
4. Penggunaan bukaan alur masuk keluar ke lokasi tidak menganggu lalu lintas dan keamanan sekitarnya
• Pencapaian Sekunder :
1. Penggunaan bukaan alur masuk dan keluar untuk area service diambil daerah yang kurang padat lalu lintasnya 2. Tidak memberi kesan mengundang.
U
Gambar 4.18 Pencapaian ke Tapak Sumber : Analisa Penulis
Kriteria :
105 -Public area pada Tapak adalah pada daerah yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi reduksi kebisingan dapat dilakukan dengan pengolahan ruang luar sebagai buffer.
- Semi Public pada tapak adalah pada daerah yang memiliki kebisingan sedang.
-Private area pada Tapak adalah pada daerah dengan tingkat kebisingan kurang.
-Service area pada Tapak adalah pada daerah dengan kebisingan sedang tetapi bisa juga pada daerah kebisingan kurang.
5.4.3 Penzoningan Tapak
U
106 Gambar 4.23 Zoning Tapak
Sumber : Analisa Penulis Ket :
Berdasarkan hasil analisa, zoning pada tapak disesuaikan dengan potensi dan batasan tapak sekitar dan diatur dengan pola penempatan blok bangunan dengan fungsi-fungsi kegiatan yaitu:
Fungsi Ibadah dan Pertemuan. Fungsi Pelayanan Sosial & Fasilitas Pelengkap, Fungsi Komunitas dan Pelatihan, Fungsi Keorganisasian.
5.4.4 Sirkulasi dalam Tapak A. Sirkulasi kendaraan
Menggunakan sistem sirkulasi satu arah, dengan letak pintu masuk dan keluar kendaraan diletakan berdampingan dipisahkan dengan akses bagi pejalan kaki. Sedangkan sirkulasi kendaraan service menggunakan sistem satu arah dengan pintu masuk dan keluar yang berbeda dengan kendaraan pengunjung.
B. Pejalan kaki
Sirkulasi pejalan kaki dua arah, diletakan di tengah tapak yang berhubungan dengan pedestrian disekeliling bangunan, guna memudahkan akses ke bangunan yang dituju.
C. Entrance gedung dan drop off
Pada setiap pintu masuk bangunan memiliki orientasi ke pusat open space yang berada di tengah tapak. Ciri khas khusus pada setiap pintu masuk bangunan memudahkan pengunjung untuk mengenali fungsi bangunan di dalamnya.
Drop off dibedakan berdasarkan masing-masing fungsi bangunan sesuai tujuan pengunjung kemudian sirkulasi kendaraan diarahkan ke area parkir dan pintu keluar.
107 5.5 ASPEK BANGUNAN
5.5.1 Peletakan Massa Bangunan
Tabel 5.5 Proses Pembentukan Pola Massa Bangunan
Massa bangunan diletakan berdasarkan zoning kegiatan yang dilakukan pada tahap analisa, dengan memperhatikan sifat kegiatan dan hubungannya dengan lingkungan sekitar.
Peletakan massa bangunan menerapkan filosofi ‘Kamera’ yang menggambarkan
ikon perfilman dan bentuk massa bangunan yg terinspirasi dari salah 1 seni
Bangu nan Utama
Parki ng
IN OU
T SIDE
ENTRAN CE SIDE ENTRAN CE
108
pondasi dalam seni perfilman yaitu seni lukis terkhususnya seni lukis kubisme
yang secara bebas mengekspresikan bentuk geometri dasar sehingga ditrapkan
kedalam fasade bangunan.
5.5.2 Gubahan Massa Bangunan
Fungsi dari bangunan ini adalah pelayanan pendidikan perfilman, Bentuk bangunan Sekolah Perfilman harus memenuhi fungsi dari kegiatan di dalam bangunan tersebut dan diharapkan dapat membantu proses mengajar dan pendidikan pembuatan film. Oleh karena itu massa bangunan yang dibentuk merupakan pencerminan dari fungsi bangunan tersebut, dan bentuk massa bangunan tetap mempunyai karakter yang khas sebagai gedung Sekolah Perfilman yang mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat. Adapun bentuk dan pola penataan massa bangunan mencoba menerapkan simbol sebuah film yaitu peralatan kamera sebagai peletakan massa bangunan dan penerapan bentuk geometri dasar yaitu lingkaran , persegi, dan segitiga yang terinspirasi oleh seni lukis kubisme yang melahirkan sebuah tahap dalam pembuatan film yaitu storyboard.
A. Simbol dasar kamera film
Bangu nan Utama
109
Implementasi simbol kedalam zoning dilakukan dengan cara peletakan massa bangunan secara horizontal pada tapak. Peletakan fungsi bangunan disesuaikan dengan ikon perfilman yaitu kamera. Dan juga peletakan massa bangunan ini disesuaikan dengan hasil analisa batasan lingkungan di sekitar tapak.
5.6. Aspek Arsitektural
5.6.1. Penerapan Topik Tema
Strategi yang akan diaplikasikan dalam merancang Sekolah Perfilman ini antara lain :
• Penyediaan ruang Pengajaran teori dan praktek bagi mahasiswa Sekolah Perfilman
• Penyediaan ruangan praktek kriteria khusus bagi mahasiswa sudah dijenjang peminatan yg memiliki sebuah ruang spesial untuk praktek syuting film.
110
• Penggunaan warna-warna yang cerah secara psikologis membantu perkembangan kreativitas mahasiswa dalam proses pembelajaran.
• Penyediaan area terbuka untuk pengguna bangunan (mahasiswa dan dosen pengajar) untuk keperluan praktek syuting diruang terbuka.
Gambar. Fasilitas praktek ruang terbuka 5.6.2 Pengolahan Ruang Luar
Pengolahan ruang luar berdasarkan analisa kebisingan, view dan suasana yang diinginkan untuk menunjang penampilan gedung tanpa mengurangi kesan artistic pada bangunan.
• Eleman Lunak
Merupakan elemen yang alami seperti rumput, pepohonan, semak-semak.
• Elemen Keras
Adalah elemen yang merupakan perkerasan seperti aspal, conblock pada area parkir, pedestrian, plaza.
• Elemen Dekorasi
111 Merupakan elemen yang digunakan untuk memperindah ruang luar dan juga sebagai elemen pendukung seperti bangku taman, penunjuk arah, lampu jalan, tiang spanduk, sculpture.
Gambar. Elemen ruang luar (kursi & taman)
Gambar 5.12. Elemen ruang luar (penggunaan aspal & conblock) 5.6.3 Plaza
Sebagai ruang publik utama yang merupakan tempat bagi mahasisawa maupun pengunjung Gedung auditorium untuk berinteraksi, bersosialisasi
112 dan melakukan berbagai macam aktivitas lainnya. Selain itu fungsi plaza disini adalah untuk memberikan kesan “selamat datang” karena plaza ini merupakan akses utama untuk menuju pedestrian yang berhubungan dengan Gedung utama dan auditorium dan juga sebagai titik tangkap “catchment area” bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah tersebut.
5.6.4 Amphiteater
Amphiteater memiliki fungsi utama sebagai panggung terbuka sebuah pertunjukan/pagelaran seni/budaya dan kreativitas lainnya bagi anggota klub theater maupun mahasiswa secara umum. Selain itu fungsi amphiteater lainnya adalah sebagai tempat sosialisasi dan berkumpulnya mahasiswa, pengajar, pengelola bahkan tamu Gedung auditorium.
5.6.5 Struktur
Berdasarkan peraturan yang berlaku bangunan yang akan dirancang maksimal 10 lantai. Pada bangunan ini, Struktur bagian bawah menggunakan pondasi
113 bor ( bored pile), Sedangkan dinding menggunakan batu bata atau celcon, dan untuk struktur atas menggunakan struktur rangka.
5.6.6 Utilitas
❖ Pengkondisian Udara
Sistim pengudaraan dibagi 2 macam : 1. Pengudaraan Alami
Ventilasi silang merupakan pengudaraan terbaik di daerah beriklim tropis. Namun tuntutan pada fungsi tertentu harus memakai AC.
Arahan : Penggunaan ventilasi silang diterapkan pada ruang tertentu dalam bangunan.
2. Pengudaraan Buatan
Penggunaan komponen – komponen buatan seperti :
- Exhaust fan dipakai menghisap udara, misalnya : menghisap udara toilet.
❖ Pencegahan Kebakaran
Pencegahan pada kebakaran dibagi menjadi dua macam :
1. Pencegahan Aktif : sistim sprinkler, sistim hydrant (box dan pillar), sistim pemadam api portable, tabung gas otomatis (hallon), sistim detector dan alarm.
2. Pencegahan Pasif : Tangga kebakaran, telepon darurat, penerangan darurat.
114
❖ Sistim Pencahayaan.
Sistim pencahayaan yang dipakai : - Sistim pencahayaan alami
Mengoptimalkan penggunaannya berupa bukaan pada fasade bangunan yang diperhitungkan terhadap luasan dinding fasade.
Arahan : Pemakaian overstek dan perletakan ruang kelas sebagai peneduh dari radiasi matahari
- Sistim pencahayaan buatan
Penggunaan cahaya buatan dipertimbangkan terhadap ekonomi penggunaan energi listrik dan penyesuain dengan standar kuat penerangan tiap-tiap ruang.
Arahan : Penggunaan alat penerangan hemat listrik dan perencanaan perletakan yang efisien serta sistim pengoperasian yang terkontrol
❖ Sistim Tata Suara
Sistim tata suara menggunakan sistim sentralisasi yaitu dengan cara pendistribusian suara dari satu pusat ruang-ruang lain melalui pengeras suara.
❖ Sistim Transportasi
yang digunakan adalah: Tangga dan ramp.
Pertimbangan :
- Kemudahan dan kejelasan sirkulasi - Sistim sirkulasi yang berkesinambungan
❖ Sistim Air Bersih
PDAM Meteran Air Tandon sentral
Pompa Tandon penunjang
Kran, katup gelontor
115 Gambar Skema Distribusi Air bersih
❖ Sistim Air Kotor
Gambar Skema Distribusi Air kotor
Gambar Skema Pembuangan kotoran
❖ Sistim Listrik
Gambar. Skema Distribusi Listrik
Wastafel, Floor drain Sumur resapan
kloset Septiktank Sumur Resapan
Tiang Listrik PLN
Ruang PLN
Genset
Ruang Trafo MDP
Panel Bangunan Panel Bangunan Panel Bangunan
…..dst
116 Daftar Pustaka
- Neufert, Ernst. Data arsitek jilid 2 (edisi ketiga puluh tiga). (Sunart Tjahjadi &
Ferryanto Chaidir, Trans.). Jakarta:Erlangga.2002
- Chiara,Joseph De,& John Hancock Callender.”Time Saver Standart for Building Type.United State of America,1985
- Francis D.K. Ching, Arsitektur : bentuk, ruang dan susunannya, Penerbit Erlangga, 1991
- Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 4 Tentang peraturan bangunan perguruan tinggi,Departemen Pendidikan Nasional
- Manajemen Pendidikan Tinggi, Direktorat Jendral Iptek dan Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,”Undang Undang Perguruan Tinggi dan kurikulum pendidikan tinggi.
- Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa,:Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
- Studi Desain Teknis Bangunan Fasilitas Pendidikan (gedung sekolah) di DKI Jakarta,DTPE,PT.Gita Pola dan Universitas Taruma Negara
117