• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA

4.2 Analisa Aspek Lingkungan

4.3.3 Utilitas

4.3.3.3 Sistem Sanitasi

1. Sistem Pendestribusian Air Bersih

Direncanakan dari PAM dan sumur / Deepwell Pump, dan untuk kebutuhan cadangan dengan system Down Feed Distribution.

Gambar Sistem Air Bersih Pendistribusian air bersih terbagi 2, yaitu : a. Down Feed Distribusion

Deep

92 Air dari PAM atau sumur dipompa ke atas kemudian di distribusikan turun ke seluruh ruangan. Keuntungannya memanfaatkan gravitasi dan pompa diperlukan jika reservoir atas kosong sehingga hemat energi dan bila listrik padam, Air masih dapat mengalir karena ada persediaan di atas. Kekurangannya membutuhkan ruang khusus untuk tangki di atas dan bila satu kran terbuka, tekanan yang lain berkurang.

Gambar Sistem Down feed b. Up Feed Distribusion

Air dan PAM atau sumur masuk reservoir kemudian di pompa untuk di distribusikan ke seluruh ruangan. Kelebihannya tanpa ruang atas dan tekanannya sama karena dijalankan dengan pompa. Kekurangannya bila listrik padam, air tidak dapat mengalir dan listrik sangat boros karena pompa menggunakan power cukup besar.

Gambar Sistem Up Feed 2. Air Kotor

- Air kotor dari WC disalurkan ke septic Tank

kloset Septiktank Sumur Resapan

Deep Well Jet Pump

Bawah Pompa Distribusi

Riol Kota

93 Gambar Skema Pembuangan kotor

- Air kotor dari kamar mandi dan cucian disalurkan ke kali atau ke Kali atau ke riol kota

Gambar Skema Distribusi Air kotor 4.3.3.4 Sistem Listrik

Diperoleh dari PLN dengan menyediakn gardu dan Genset automatic Stater sebagai cadangan, yang mempunyai kapasitas 25-50 % dari kapasitas keseluruhan pada saat PLN padam, demi kelangsungan kegiatan dan kepanikan pengunjung.

Gambar Skema Distribusi Listrik

4.3.3.5 Sistem Komunikasi

- Untuk hubungan keluar lingkungan telephone dengan sistem PABX.

- Untuk di dalam lingkungan menggunakan Intercom.

4.3.3.6 Sistem bahaya kebakaran

Pencegahan pada kebakaran dibagi menjadi 2 yaitu :

Wastafel, Floor drain Sumur resapan

Tiang

94 1. Pencegahan Aktif

Menggunakan sistem Sprinkler dan sistim hydrant (box dan pillar).

2. Pencegahan Pasif

Menggunakan Sistem Tangga Kebakaran, Telepon Darurat.

4.3.3.7 Sistem Air Hujan

Gambar 4.55 Bak Penampungan Air hujan Sumber : www.Pekerjaan Umum

Terdapat bak penampungan air hujan, yang airnya dapat digunakan untuk air bersih.

4.3.3.8 Sistem Penangkal Petir

Ada 2 macam alternatif sistem penangkal petir yang dapat digunakan, yaitu :

1. Sistem Konvensional :

- Sistem Faraday : dengan pembentuk daerah bujur sangkar terdiri dari tiang-tiang baja penangkal ± 50 cm pada atap bangunan yang saling berhubungan di sekeliling bangunan sehingga aliran listrik dari petir langsung disalurkan ke tanah.

- Sistem Faraday : dengan membentuk 45 ° dari tanah berupa tiang- tiang yang saling berhubungan.

95 2. Sistem Radio Aktif : dengan bahan radio aktif yang ion-ionnya melepas muatan awan disekitarnya dan dipasang ditengah-tengah bangunan dengan radius antara ± 60 cm.

Gambar Penangkal Petir

Sumber : www.Jaringan-komputer.com

Sistem yang dipakai adalah system faraday yang dapat menunjang penampilan bangunan dari segi estetika. Sistem ini yaitu terdapat Batang penangkal petir berupa batang tembaga yang ujungnya runcing. Dibuat runcing karena muatan listrik mempunyai sifat mudah berkumpul dan lepas pada ujung logam yang runcing. Dengan demikian dapat memperlancar proses tarik menarik dengan muatan listrik yang ada di awan. Batang runcing ini dipasang pada bagian puncak suatu bangunan.

4.3.3.9 Sistem Tata Suara

Sistem tata suara menggunakan sistem sentralisasi yaitu dengan cara pendistribusian suara dari satu pusat ruang-ruang lain melalui pengeras suara.

96 4.3.3.10 Sistem Transportasi

Yang digunakan adalah: Tangga dan ramp. Ramp digunakan untuk lansia yang ada di panti jompo dan juga untuk troley pemasukan barang ke tempat service.

4.3.3.11 Pembuangan Sampah

Disediakan bak-bak sampah pada tiap ruangan, dimana sampah-sampah yang terkumpul akan dikumpulkan pada bak penampungan sementara. Untuk memudahkan pemindahan sampah, maka bak penampungan diletakkan pada daerah service. Setelah itu sampah diangkut dengan truk sampah ke penampungan terakhir.

97 BAB V

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

5.1. Dasar Perencanan dan Perancangan 5.1.1. Tujuan Perancangan

1. Titik tolak perencanaan dan perancangan terhadap bangunan Sekolah Perfilman ini adalah terpenuhinya akan kebutuhan ruang yang terencana dengan baik atas.

2. Dengan pengolahan bentuk pola peletakan massa dan bentuk massa bangunan yang simbolik menimbulkan daya tarik tersendiri pada bangunan sehingga dapat menjadi kebanggaan bagi lingkungan sekitar.

3. Pemanfaatan potensi yang ada di sekitar lingkungan untuk menunjang kegiatan di dalam tapak.

4. Memberikan kenyamanan dan ketenangan sepenuhnya bagi pengguna sekolah perfilman, sehingga nantinya para pengguna akan mendapatkan tempat yang layak untuk proses pembelajaran dan pendidikan..

5. Memberikan nuansa-nuansa alami yang berbeda dengan Sekolah Perfilman yang ada dan akan memberi nilai lebih bagi pengunanya.

5.1.2. Pendekatan Terhadap Perilaku

Perancangan Sekolah Perfilman penerapan dalam desain melalui ruang-ruang yang dirancang berdasarkan tema eskpresi bentuk dan karakteristik sebuah bangunan pendidikan dengan latar belakang film serta tidak mengabaikan kaidah-kaidah perencanaan dan perancangan arsitektur agar tercipta suatu hubungan yang

98 seimbang antara pengguna dengan ruang yang mewadahinya sehingga mencapai hasil rancangan yang optimal.

5.1.3. Pendekatan Terhadap Arsitektural

Menghadirkan perancangan bangunan Sekolah Perfilman yang tanggap terhadap fungsi, keterkaitan terhadap tema ekspresi bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar sehingga mendukung bentuk bangunan yang ekspresif dan manusiawi.

5.2 KONSEP DASAR PERANCANGAN

1. Bangunan yang akan direncanakan bertujuan pada pendidikan.

2. Bangunan yang direncanakan menyimbolkan bentuk-bentuk fisik ikonik perfilman seperti kamera atau klip yang akan menjadi dasar dari pengolahan tapak / site dan fasade.

3. Mewujudkan bangunan yang menunjukan ciri dari topik ekspresi bentuk dengan sasaran penerapan terhadap pengolahan site.

5.2.1 Penerapan Tema Terhadap Konsep Dasar Perancangan

Tabel 5.1 Penerapan Simbol Perfilman kedalam Konsep Perancangan

Poin

Pengamatan Konsep Aplikasi kedalam bangunan Penyesuaian terhadap fungsi dan lokasi Bentuk Site Konsep Kamera Adanya pemisahan yang jelas

antara bangunan yang memiliki penzoningan publik, semi publik, dan private

99

Konsep ekspose struktur Bentuk/ pola massa bangunan menyimbolkan satu kesatuan, Tetapi memiliki fungsi dan bentuk yang tidak sama tetapi memiliki pola.

• Fungsi pengelola dan pengajar yang memiliki hubungan yang saling berkaitan

• Fungsi pengajar dan pendidikan yang memiliki hubungan yang saling berkaitan

• Begitu pula antara fungsi pendidikan dan fungsi penunjang yg memiliki keterikatan.

Simbol yang diterapkan

Kamera Penerapannya pada bentuk pola massa dalam site . yang melambangkan tiap bentuk geometri dari kamera memiliki keterkaitan dan hubungan.

• Diterapkan pada pola peletakan massa bangunan dalam pengolahan site

Clapper dan rol film Penerapannya pada Bentuk massa bangunan.

• Pelatakan dan fungsinya bisa dibagi per fungsi dan fasilitas yang ada di sekolah film.

Warna Penggunaan warna-warna yang

memiliki arti khusus dalam perfilman dan memiliki makna sesua fungsi bangunan.

100

Teori desain Yang diterapkan

Bentuk arsitektur diciptakan melalui simbolik / ikon akademi sebagai

pendekatan terhadap topik dan tema yaitu ekspresi bentuk.

Simbolisme diterapkan melalui bentuk dan pola massa bangunan

• Ruang-ruang

Mozaik Susunan dan pola massa bangunan memberikan kesan tidak beraturan tetapi memiliki hubungan.

-

5.3 ASPEK MANUSIA

5.3.1 Pelaku dan Kelompok Kegiatan

Berdasarkan hasil analisa, fasilitas yang direncanakan untuk mewadahi kegiatan pelaku adalah:

Tabel 5.2 Pelaku dan Kelompok Kegiatan

Fasilitas Pelaku Kegiatan Ruangan yang

direncanakan Pendidikan

Pengajar, Mahasiswa Ruang Kelas Teori,Ruang Kelas Praktek

Pengelola Pengelola, Pengajar

Ruang Pengelola, Ruang Yayasan, R.Arsip,

Ruang serbaguna

Pengajar Pengajar / Dosen

R. Dosen, R. Rapat, R.

Kelas Praktek/Teori

Pameran &

Pertunjukan Dosen, Mahasiswa, Pengelola Teater, R.Pameran

101 Service & Penunjang Pegawai, Pengunjung

R. Service,

Cafeteria,Retail, ATM Center, Masjid

5.3.2 Alur Kegiatan Manusia

5.3.3 Kebutuhan Luasan Ruang

Tabel 5.3 Kebutuhan Luasan Ruang

No Fasilitas Total Luas

1 Fasilitas Pendidikan 2514,00

2 Fasilitas Pengajar 495,00

3 Fasilitas Pengelola 213,12

4 Fasilitas Pameran 1746,48

MAIN ENTRANCE

PENGELOLA

PENDIDIKAN

SERVICE

PAMERAN PARKIR

PARKIR PLAZA

FASILITAS PENUNJANG MUSOLLA

102

5 Fasilitas Perpustakaan 985,86

6 Fasilitas Penunjang 830.40

7 Fasilitas Service 643,20

Luas Total Bangunan 7428,06

5.4 ASPEK LINGKUNGAN 5.4.1 Lokasi dan Tapak

Dari hasil analisa berdasarkan kriteria-kriteria sebelumnya, maka lokasi dan tapak terpilih adalah:

Kawasan : Kecamatan Kebon Jeruk , Jakarta Barat Tapak : Jl. Arjuna Utara

Alasan yang mendukung pemilihan tapak tersebut yaitu:

A. Strategis

Terletak di kawasan dengan fasilitas yang menunjang keberadaan proyek. Seperti Stasiun Televisi RCTI, Metro TV, lebar jalan utama yang memadai, dsb.

B. Faktor Lingkungan

Lingkungan sekitar tapak mendukung keberadaan kegiatan dalam proyek ini. sehingga bangunan ini juga dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Aksesibilitas

• Pencapaian yang mudah karena letaknya di pusat kota.

Area Tapak

103

Gambar 5.1 Letak Tapak terhadap Perkotaan

• Dapat dicapai dari segala arah.

Letaknya pada pinggir tol kebon jeruk, memungkinkan untuk diakses dari jalan panjang kedoya, dari arah tomang melewati tol kebon jeruk, Dari arah grogol melewati kedoya.

• Lokasi tapak dilewati banyak transportasi umum (Bus kota) serta dekat dengan terminal Bus Grogol.

C. Faktor Luas Tapak & Peraturan Pemerintah

Tabel Kesesuaian Perencanaan Terhadap Peraturan Pemerintah

Yang di ijinkan Yang di rencanakan

KDB : 9.869 m2 (Bangunan) 7428,06 m2

KLB : 19.738 m2

Jumlah lantai maksimal : 8 Lantai 3 Lantai

Luasan tapak dianggap cukup, sehingga mampu menampung semua kegiatan baik yang ada dalam maupun diluar bangunan.

Berdasarkan tabel perbandingan diatas, lokasi tapak tidak melanggar peraturan tata kota Jakarta, seperti peruntukan, KLB, KDB, GSB, dsb.

D. Kelengkapan Prasarana Kota

Tapak ini ditunjang oleh sarana dan prasarana kota untuk memudahkan perancanaan dan perancangan bangunan, seperti prasarana jalan, sarana air bersih, pembuangan air kotor, listrik, telepon, dll.

5.4.2 Pencapaian Kedalam Tapak

Berdasarkan hasil analisa, pintu masuk utama bagi pejalan kaki dan kendaraan berada disisi Jl. Arjuna Utara. Sedangkan alur keluar masuk kendaraan service berada disisi Jl. Pilar mas utama.

104

• Pencapaian Primer : 1. Lokasi mudah dilihat

2. Lokasi mudah dicapai dengan kendaraan umum 3. Lokasi memberi Kesan mengundang

4. Penggunaan bukaan alur masuk keluar ke lokasi tidak menganggu lalu lintas dan keamanan sekitarnya

• Pencapaian Sekunder :

1. Penggunaan bukaan alur masuk dan keluar untuk area service diambil daerah yang kurang padat lalu lintasnya 2. Tidak memberi kesan mengundang.

U

Gambar 4.18 Pencapaian ke Tapak Sumber : Analisa Penulis

Kriteria :

105 -Public area pada Tapak adalah pada daerah yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi reduksi kebisingan dapat dilakukan dengan pengolahan ruang luar sebagai buffer.

- Semi Public pada tapak adalah pada daerah yang memiliki kebisingan sedang.

-Private area pada Tapak adalah pada daerah dengan tingkat kebisingan kurang.

-Service area pada Tapak adalah pada daerah dengan kebisingan sedang tetapi bisa juga pada daerah kebisingan kurang.

5.4.3 Penzoningan Tapak

U

106 Gambar 4.23 Zoning Tapak

Sumber : Analisa Penulis Ket :

Berdasarkan hasil analisa, zoning pada tapak disesuaikan dengan potensi dan batasan tapak sekitar dan diatur dengan pola penempatan blok bangunan dengan fungsi-fungsi kegiatan yaitu:

Fungsi Ibadah dan Pertemuan. Fungsi Pelayanan Sosial & Fasilitas Pelengkap, Fungsi Komunitas dan Pelatihan, Fungsi Keorganisasian.

5.4.4 Sirkulasi dalam Tapak A. Sirkulasi kendaraan

Menggunakan sistem sirkulasi satu arah, dengan letak pintu masuk dan keluar kendaraan diletakan berdampingan dipisahkan dengan akses bagi pejalan kaki. Sedangkan sirkulasi kendaraan service menggunakan sistem satu arah dengan pintu masuk dan keluar yang berbeda dengan kendaraan pengunjung.

B. Pejalan kaki

Sirkulasi pejalan kaki dua arah, diletakan di tengah tapak yang berhubungan dengan pedestrian disekeliling bangunan, guna memudahkan akses ke bangunan yang dituju.

C. Entrance gedung dan drop off

Pada setiap pintu masuk bangunan memiliki orientasi ke pusat open space yang berada di tengah tapak. Ciri khas khusus pada setiap pintu masuk bangunan memudahkan pengunjung untuk mengenali fungsi bangunan di dalamnya.

Drop off dibedakan berdasarkan masing-masing fungsi bangunan sesuai tujuan pengunjung kemudian sirkulasi kendaraan diarahkan ke area parkir dan pintu keluar.

107 5.5 ASPEK BANGUNAN

5.5.1 Peletakan Massa Bangunan

Tabel 5.5 Proses Pembentukan Pola Massa Bangunan

Massa bangunan diletakan berdasarkan zoning kegiatan yang dilakukan pada tahap analisa, dengan memperhatikan sifat kegiatan dan hubungannya dengan lingkungan sekitar.

Peletakan massa bangunan menerapkan filosofi ‘Kamera’ yang menggambarkan

ikon perfilman dan bentuk massa bangunan yg terinspirasi dari salah 1 seni

Bangu nan Utama

Parki ng

IN OU

T SIDE

ENTRAN CE SIDE ENTRAN CE

108

pondasi dalam seni perfilman yaitu seni lukis terkhususnya seni lukis kubisme

yang secara bebas mengekspresikan bentuk geometri dasar sehingga ditrapkan

kedalam fasade bangunan.

5.5.2 Gubahan Massa Bangunan

Fungsi dari bangunan ini adalah pelayanan pendidikan perfilman, Bentuk bangunan Sekolah Perfilman harus memenuhi fungsi dari kegiatan di dalam bangunan tersebut dan diharapkan dapat membantu proses mengajar dan pendidikan pembuatan film. Oleh karena itu massa bangunan yang dibentuk merupakan pencerminan dari fungsi bangunan tersebut, dan bentuk massa bangunan tetap mempunyai karakter yang khas sebagai gedung Sekolah Perfilman yang mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat. Adapun bentuk dan pola penataan massa bangunan mencoba menerapkan simbol sebuah film yaitu peralatan kamera sebagai peletakan massa bangunan dan penerapan bentuk geometri dasar yaitu lingkaran , persegi, dan segitiga yang terinspirasi oleh seni lukis kubisme yang melahirkan sebuah tahap dalam pembuatan film yaitu storyboard.

A. Simbol dasar kamera film

Bangu nan Utama

109

Implementasi simbol kedalam zoning dilakukan dengan cara peletakan massa bangunan secara horizontal pada tapak. Peletakan fungsi bangunan disesuaikan dengan ikon perfilman yaitu kamera. Dan juga peletakan massa bangunan ini disesuaikan dengan hasil analisa batasan lingkungan di sekitar tapak.

5.6. Aspek Arsitektural

5.6.1. Penerapan Topik Tema

Strategi yang akan diaplikasikan dalam merancang Sekolah Perfilman ini antara lain :

• Penyediaan ruang Pengajaran teori dan praktek bagi mahasiswa Sekolah Perfilman

• Penyediaan ruangan praktek kriteria khusus bagi mahasiswa sudah dijenjang peminatan yg memiliki sebuah ruang spesial untuk praktek syuting film.

110

• Penggunaan warna-warna yang cerah secara psikologis membantu perkembangan kreativitas mahasiswa dalam proses pembelajaran.

• Penyediaan area terbuka untuk pengguna bangunan (mahasiswa dan dosen pengajar) untuk keperluan praktek syuting diruang terbuka.

Gambar. Fasilitas praktek ruang terbuka 5.6.2 Pengolahan Ruang Luar

Pengolahan ruang luar berdasarkan analisa kebisingan, view dan suasana yang diinginkan untuk menunjang penampilan gedung tanpa mengurangi kesan artistic pada bangunan.

• Eleman Lunak

Merupakan elemen yang alami seperti rumput, pepohonan, semak-semak.

• Elemen Keras

Adalah elemen yang merupakan perkerasan seperti aspal, conblock pada area parkir, pedestrian, plaza.

• Elemen Dekorasi

111 Merupakan elemen yang digunakan untuk memperindah ruang luar dan juga sebagai elemen pendukung seperti bangku taman, penunjuk arah, lampu jalan, tiang spanduk, sculpture.

Gambar. Elemen ruang luar (kursi & taman)

Gambar 5.12. Elemen ruang luar (penggunaan aspal & conblock) 5.6.3 Plaza

Sebagai ruang publik utama yang merupakan tempat bagi mahasisawa maupun pengunjung Gedung auditorium untuk berinteraksi, bersosialisasi

112 dan melakukan berbagai macam aktivitas lainnya. Selain itu fungsi plaza disini adalah untuk memberikan kesan “selamat datang” karena plaza ini merupakan akses utama untuk menuju pedestrian yang berhubungan dengan Gedung utama dan auditorium dan juga sebagai titik tangkap “catchment area” bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah tersebut.

5.6.4 Amphiteater

Amphiteater memiliki fungsi utama sebagai panggung terbuka sebuah pertunjukan/pagelaran seni/budaya dan kreativitas lainnya bagi anggota klub theater maupun mahasiswa secara umum. Selain itu fungsi amphiteater lainnya adalah sebagai tempat sosialisasi dan berkumpulnya mahasiswa, pengajar, pengelola bahkan tamu Gedung auditorium.

5.6.5 Struktur

Berdasarkan peraturan yang berlaku bangunan yang akan dirancang maksimal 10 lantai. Pada bangunan ini, Struktur bagian bawah menggunakan pondasi

113 bor ( bored pile), Sedangkan dinding menggunakan batu bata atau celcon, dan untuk struktur atas menggunakan struktur rangka.

5.6.6 Utilitas

❖ Pengkondisian Udara

Sistim pengudaraan dibagi 2 macam : 1. Pengudaraan Alami

Ventilasi silang merupakan pengudaraan terbaik di daerah beriklim tropis. Namun tuntutan pada fungsi tertentu harus memakai AC.

Arahan : Penggunaan ventilasi silang diterapkan pada ruang tertentu dalam bangunan.

2. Pengudaraan Buatan

Penggunaan komponen – komponen buatan seperti :

- Exhaust fan dipakai menghisap udara, misalnya : menghisap udara toilet.

❖ Pencegahan Kebakaran

Pencegahan pada kebakaran dibagi menjadi dua macam :

1. Pencegahan Aktif : sistim sprinkler, sistim hydrant (box dan pillar), sistim pemadam api portable, tabung gas otomatis (hallon), sistim detector dan alarm.

2. Pencegahan Pasif : Tangga kebakaran, telepon darurat, penerangan darurat.

114

❖ Sistim Pencahayaan.

Sistim pencahayaan yang dipakai : - Sistim pencahayaan alami

Mengoptimalkan penggunaannya berupa bukaan pada fasade bangunan yang diperhitungkan terhadap luasan dinding fasade.

Arahan : Pemakaian overstek dan perletakan ruang kelas sebagai peneduh dari radiasi matahari

- Sistim pencahayaan buatan

Penggunaan cahaya buatan dipertimbangkan terhadap ekonomi penggunaan energi listrik dan penyesuain dengan standar kuat penerangan tiap-tiap ruang.

Arahan : Penggunaan alat penerangan hemat listrik dan perencanaan perletakan yang efisien serta sistim pengoperasian yang terkontrol

❖ Sistim Tata Suara

Sistim tata suara menggunakan sistim sentralisasi yaitu dengan cara pendistribusian suara dari satu pusat ruang-ruang lain melalui pengeras suara.

❖ Sistim Transportasi

yang digunakan adalah: Tangga dan ramp.

Pertimbangan :

- Kemudahan dan kejelasan sirkulasi - Sistim sirkulasi yang berkesinambungan

❖ Sistim Air Bersih

PDAM Meteran Air Tandon sentral

Pompa Tandon penunjang

Kran, katup gelontor

115 Gambar Skema Distribusi Air bersih

❖ Sistim Air Kotor

Gambar Skema Distribusi Air kotor

Gambar Skema Pembuangan kotoran

❖ Sistim Listrik

Gambar. Skema Distribusi Listrik

Wastafel, Floor drain Sumur resapan

kloset Septiktank Sumur Resapan

Tiang Listrik PLN

Ruang PLN

Genset

Ruang Trafo MDP

Panel Bangunan Panel Bangunan Panel Bangunan

…..dst

116 Daftar Pustaka

- Neufert, Ernst. Data arsitek jilid 2 (edisi ketiga puluh tiga). (Sunart Tjahjadi &

Ferryanto Chaidir, Trans.). Jakarta:Erlangga.2002

- Chiara,Joseph De,& John Hancock Callender.”Time Saver Standart for Building Type.United State of America,1985

- Francis D.K. Ching, Arsitektur : bentuk, ruang dan susunannya, Penerbit Erlangga, 1991

- Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 4 Tentang peraturan bangunan perguruan tinggi,Departemen Pendidikan Nasional

- Manajemen Pendidikan Tinggi, Direktorat Jendral Iptek dan Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia,”Undang Undang Perguruan Tinggi dan kurikulum pendidikan tinggi.

- Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa,:Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001

- Studi Desain Teknis Bangunan Fasilitas Pendidikan (gedung sekolah) di DKI Jakarta,DTPE,PT.Gita Pola dan Universitas Taruma Negara

117