• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA

4.2 Analisa Aspek Lingkungan

4.2.6 Analisis Pengolahan Tapak

4.2.6.5 Sirkulasi Dalam tapak

Jenis sirkulasi penguna bangunan dalam tapak terbagi manjadi : a. Sirkulasi Kendaraan

• Pola sirkulasi menurut kemudahan, kecepatan serta kejelasan.

• Sistim sirkulasi yang direncanakan saling mendukung, antara sirkulasi eksternal dengan internal bangunan, serta antara individu pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sirkulasi yang baik akan mempermudah pencapaian, baik yang bersifat publik maupun pribadi.

Orientasi Tapak Menghadap ke Selatan Yaitu ke jalan Besar.

Terlihat massa bangunan disekitarnya menghadap kea rah jalan besar Banguna

n Utama

70

• Sirkulasi memungkinkan adanya ruang gerak horizontal dan lebar jalan yang sesuai untuk pencapaian darurat oleh Kendaraan pemadam kebakaran dan kendaraan pelayanan lainnya.

b. Sirkulasi Pejalan Kaki

Menurut kenyamanan, keamanan dan pengarahan yang jelas untuk itu dilakukan :

• Pemisahan sirkulasi antara pejalan kaki dengan pengguna kendaraan.

• Dengan dibuatnya pedestrian, yang dapat memudahkan orang menuju ke dalam bangunan.

U

Gambar Sirkulasi Tapak In & Out

Service

IN OUT

Sirkulasi Kendaraan

Parkir

Plaza &

Pedestrian Sirkulasi Pejalan

71 4.2.6.6 Analisa Kebisingan

Tingkat kebisingan terbagi menjadi 3 yaitu : 1. Tingkat Kebisingan Tinggi

2. Tingkat Kebisingan Sedang 3. Tingkat Kebisingan Rendah

Dan untuk mereduksi kebisingan tersebut perlu adanya Buffer sebagai vegetasi atau dapat juga dengan membuat dinding dari tanah.

U

Gambar Analisa Kebisingan Sumber : Analisa Penulis

Ket : 1.

Kebisingan tinggi terjadi pada Jl. Arjuna Utara, Yang merupakan Akses Utama Ke Tapak.

Buffer Plaza

Area Macet Sumber

Kebisingan

72 2.

Kebisingan Sedang terjadi pada Jalan Pilar Mas Utama yang berada pada samping kiri lahan.

3.

Kebisingan Rendah terjadi pada Pemukiman samping kanan lahan dan yang ada di belakang lahan.

4.2.6.7 Analisa View

View paling Baik, mengahadap ke arah Selatan yaitu Jalan Arjuna Utara ( + ) dan ke arah Barat Jalan Pilar Mas Utama (+), Sedangkan View Yang kurang baik kearah Utara, dan Timur ( - ).

Gambar Analisa View Sumber : Analisa Penulis

4.2.6.8 Zoning Tapak

Kriteria :

-Public area pada Tapak adalah pada daerah yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi reduksi kebisingan dapat dilakukan dengan pengolahan ruang luar sebagai buffer.

VIEW ( + )

( - )

( + )

( - )

73 - Semi Public pada tapak adalah pada daerah yang memiliki kebisingan sedang.

-Private area pada Tapak adalah pada daerah dengan tingkat kebisingan kurang.

-Service area pada Tapak adalah pada daerah dengan kebisingan sedang tetapi bisa juga pada daerah kebisingan kurang.

U

Gambar Zoning Tapak Sumber : Analisa Penulis Ket :

- Publik : Parkiran, Plaza, Perpustakaan, Pameran & Teater - Semi Publik : Pengelola, Cafetaria

Retail dan Fasilitas Penunjang

- Privat : Gedung Akademi dan Fasilitas Penunjang - Service : R. Serbaguna, Genset, AHU

Service

Publik Semi Publi k Publik

Priva te

74 4.2.6.9 Analisa Tata Ruang Luar

Pengolahan ruang diusahakan dapat menyatu dengan alam, dibuat harmonis antara unsur buatan manusia dengan potensi alam sekitar, sehingga suasana alami dapat tercipta sesuai dengan keinginan pengguna.

❖ Penataan ruang luar terdiri dari 2 jenis yaitu :

• Ruang Luar Aktif

Merupakan ruang terbuka yang didalamnya terdapat aktifitas manusia, sebagai ruang interaksi.

• Ruang Luar Pasif

Ruang terbuka yang tidak terdapat aktifitas manusia di dalamnya.

Ruang ini biasanya digunakan untuk penghijauan sebagai buffer kebisingan yang ditimbulkan lingkungan sekitar.

❖ Tujuan dari penataan ruang luar bangunan antara lain :

• Solusi dalam mengatasi kebisingan, polusi, dan iklim tapak seperti cahaya matahari, angin dan kelembaban.

• Dapat memberikan suasana yang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi bangunan

• Mendukung daya tarik penampilan bentuk dari bangunan.

❖ Penataan ruang luar antara lain meliputi : a. Parkir

• Kebutuhan parkir pada proyek ini dibedakan untuk :

• Mahasiswa dan Karyawan (Pengajar & Pengelola)

• Jelas, mudah dicapai dan tidak jauh dari main entrance tapak

75

• Service

• Jelas, mudah dicapai dan tidak mengundang Alternatif penataan parkir :

• Penataan Serong, memberikan kemudahan untuk parkir tetapi boros dalam penggunaan lahan.

• Parkir Sejajar, memberikan kemudahan untuk parkir dan hemat lahan.

• Parkir Paralel, lebih sulit untuk parkir dan boros dalam penggunaan lahan.

Kesimpulan :

Penataan parkir di ruang luar adalah menggunakan Parkir sejajar, untuk memudahkan pengguna parkir.

b. Pedestrian

Penggunaan pedestrian ditujukan untuk kenyamanan Mahasiswa, Pengelola, dan Pengunjung Umum yang berjalan kaki untuk mencapai bangunan dan merupakan pemisahan sirkulasi pejalan kaki terhadap sirkulasi kendaraan.

Pedestrian juga memberikan kesan dari karakter ruang luar antara lain :

• Kesan mengarahkan alur sirkulasi terhadap suatu tujuan.

• Kesan memberikan pembatasan

Pedestrian juga merupakan ruang transisi antara ruang luar dengan ruang dalam bangunan

76 c. Taman Reduksi ( Plaza )

Taman reduksi adalah penataan vegetasi yang bertujuan untuk mengendalikan / mereduksi kebisingan yang di timbulkan dari sirkulasi dalam tapak maupun diluar tapak.

Taman reduksi menggunakan pepohonan yang relatif besar dan elemen landscape berupa tanaman yang berdaun lebat. Tanaman reduksi juga mempertimbangkan faktor keindahan.

Untuk mereduksi bising dapat juga menggunakan elemen air mancur sebagai penyelubung bunyi dan pendingin udara secara alami.

Plaza menjadi pusat penataan massa pada tapak. Sebagai elemen yang berfungsi katalis, sehingga penting untuk mengolah plaza ini menjadi daya tarik pada tapak islmic center itu sendiri.

Pengolahan plaza bisa berupa vegetasi atau dengan menambahkan air mancur atau kolam sebagai nilai tambah estetika pada plaza tersebut, tetapi bisa juga dengan menambahkan patung, untuk menjadi daya tarik. Contoh plaza :

Pada Plaza ini terlihat menggunakan material berupa konblok yang dapat ditumbuhi vegetasi pada setiap sela-sela yang ada.

❖ Elemen Ruang Luar

77 Elemen-elemen yang digunakan pada penataan ruang luar dapat mempengaruhi kesan yang diinginkan. Elemen-elemen tersebut adalah :

• Eleman Lunak

Merupakan elemen yang alami seperti rumput, pepohonan, semak-semak.

• Elemen Keras

Adalah elemen yang merupakan perkerasan seperti aspal, conblock pada area parkir, pedestrian, plaza

• Elemen Dekorasi

Merupakan elemen yang digunakan untuk memperindah ruang luar dan juga sebagai elemen pendukung seperti bangku taman, penunjuk arah, lampu jalan, dan tiang spanduk.

Dari keempat kriteria diatas, tata ruang luar dapat direncanakan dalam beberapa bentuk, yaitu:

1. Plaza

Sebagai ruang publik utama yang merupakan ruang interaksi antar beberapa kegiatan yang berbeda dalam tapak, sehingga sebaiknya berada ditengah-tengah antar bangunan dalam tapak.

2. Jalur Pedestrian

Jalur pejalan kaki yang disediakan mulai dari tempat masuk tapak sampai ke setiap fasilitas yang terdapat didalam tapak untuk memudahkan pencapaian manusia.

3. Taman

Sebuah taman yang dimaksudkan menjadi suatu tempat berkumpul beberapa kelompok siswa, dosen, atau pemusik untuk saling berinteraksi di alam terbuka.

4. Parkir

Pemisahan parkir pengguna tetap bangunan dan pengunjung umum serta pemisahan area service adalah merupakan konsep yang paling penting dalam sirkulasi didalam tapak dikarenakan dalam satu tapak terdapat dua fungsi utama yaitu pendidikan dan pagelaran, sehingga pengaturan ini bertujuan utnuk memperjelas sirkulasi dan pencapaian.

78 4.2.6.10 Spatial Quality

Pada bangunan Akademi Film agar berkesan nyaman bagi orang yang ada ditengah antar bangunan harus melihat beberapa kategori dibawah ini :

1. Keadaan Nyaman ( D > H )

H

D

Gambar Spatial Quality Nyaman

2. Keadaan Normal ( D = H )

H

D

Gambar Spatial Quality Normal

3. Keadaan tertekan ( D < H )

H

D

Gambar Spatial Quality Tertekan

79 Ket :

D = Jarak H = Tinggi

Pada bangunan Sekolah Film ini didesain jarak antar bangunan lebih besar dari pada tinggi bangunan agar si pengguna bangunan merasa nyaman ketika berada pada space yang dibuat untuk memisahkan antar bangunan.

4.3 ANALISA ASPEK BANGUNAN 4.3.1 Segi Bangunan

4.3.1.1 Pola Massa Bangunan

Penentuan pola massa bangunan dilakukan berdasarkan atas pertimbangan : 1. Hubungan antar kegiatan

2. Fungsi bangunan dan tuntutan aktifitas dalam bangunan 3. Sirkulasi dan pencapaian

4. Kesan yang ingin ditampilkan bangunan

Pada dasarnya terdapat 2 pola massa bangunan yaitu : 1. Pola Massa Tunggal

• Menampung kegiatan utama dan kegiatan penunjangnya di dalam suatu bangunan.

• Pencapaian antar kegiatan relative dekat

• Luas lahan yang diperlukan dapat dioptimalkan

• Komposisi bangunan kurang dinamis

80

Gambar Pola Massa Tunggal 2. Pola Massa Majemuk

• Menampung berbagai kegiatan yang memerlukan pemisahan antar masing-masing kegiatannya.

• Pencapaian antar kegiatan relatif lebih jelas

• Memerlukan lahan yang cukup luas.

• Komposisi massa lebih dinamis

Gambar Pola Massa majemuk

81 Kesimpulan :

Berdasarkan 2 alternatif pola massa diatas maka Pola Massa Majemuk merupakan pola yang tepat untuk Akademi FIlm, dengan pertimbangan :

Kegiatan-kegiatan yang berlangsung didalam bangunan memerlukan pemisahan antar masing-masing kegiatan untuk pengelompokan kegiatan pendidikan.

• Pembentukan zoning aktifitas dapat menyebar

• Perletakan fungsi yang berbeda sangat menguntungkan

• Pertimbangan perilaku pengguna bentuk ini sangat menguntungkan

Dengan site yang cukup, bentuk segi empat dapat memaksimalkan untuk penempatan bentuk yang maksimal.

4.3.1.2 Penampilan Bangunan

Penampilan bangunan dengan tema Ekspresi Bentuk yaitu mengkaitkan antara Fasade Bangunan, ciri aktivitas yang akan dilakukan oleh pengguna bangunan, dan pengolahan pada tapak maka kita akan mendapatkan beberapa kemungkinan hasil akhir sebagai berikut :

1. Tempelan elemen / simbol Film dengan fasade

2. Pengolahan tapak sehingga dapat menampilkan tema ekspresi bentuk . 3. Wujud Simbolik film seperti kamera dan klip yang menjadi ikon perfilman

mendominasi fasade bangunan.

4.3.1.3 Bentuk

Berdasarkan Kriteria diatas maka bentuk-bentuk dasar alternatif yang muncul :

1. Berdasarkan Arah Bangunan a. Arah Horizontal

82 - Penggunaan Ruang Efisien

- Bentuk tegas dan stabil

- Memiliki Kemudahan dalam sirkulasi pada waktu yang bersamaan - Mudah dalam Perawatan

b. Arah Vertikal

- Sulit dalam perawatan

- Penggunaan sirkulasi ruang tidak efisien, karena memerlukan Transportasi Vertikal ( Lift )

2. Berdasarkan Bentuk Bangunan a. Bentuk Segi empat

- Penggunaan Ruang Efisien - Bentuk Tegas dan Stabil

83 - Interior lebih nyaman

b. Bentuk Segitiga

- Penggunaan ruang Tidak efisien

- Penyesuaian terhadap lingkungan cenderung sukar - Sukar dalam penataan Interior / Furniture

c. Bentuk Lingkaran

- Bentuk tidak kaku

- Penggunaan kurang efisien Kesimpulan :

Bentuk Massa bangunan : 1. Gedung Utama :

Bangunan ini terdiri dari 2 lantai dan bertumpuk sehingga menampilkan tema ekspresi bentuk dengan tinggi 6 m.

84

2. Perpustakaan :

Bangunan ini terdiri dari 2 lantai, dengan tinggi 6 m dengan beberapa bagian yang bertemakan outdoor dikarenakan bangunan ini akan dilintasi oleh sungai yang ada didalam tapak.

3. Gedung Pameran dan Teater :

Bangunan ini terdiri dari 2 lantai, dengan konsep teater romawi outdoor untuk area pertunjukan dan lantai satu yaitu indoor untuk area pameran.

4. Gedung Penunjang :

Bangunan ini terdiri dari 1 lantai, dengan tinggi 6 m.

85 Dari Arah dan Bentuk dasar tersebut maka bentuk massa bangunan segi empat yang mengarah ke horizontal yang memiliki keunggulan dibandingkan bentuk yang lain, agar penggunaan ruang-ruang lebih efisien, bentuk terlihat tegas dan stabil.

4.3.1.4 Pola Gubahan Massa

Pada dasarnya Pola Gubahan Massa terdiri dari beberapa Kriteria yaitu :

- Sirkulasi Terpusat

Terdiri dari beberapa arah sirkulasi yang mengelilingi suatu daerah dominan yang berada tepat di pusatnya

- Sirkulasi Linier

Terdiri dari bentuk – bentuk yang di atur berangkaian pada sebuah sirkulasi yang lurus

- Sirkulasi Radial

Merupakan suatu sirkulasi yang berkembang kearah luar dari bentuk terpusat dalam arah radial

- Sirkulasi Cluster

Sekumpulan bentuk-bentuk yang tergabung bersama-sama karena saling berdekatan atau saling memberikan kesamaan sifat visual.

- Sirkulasi Grid

Merupakan bentuk-bentuk modular yang dihubungkan dan diatur oleh grid-grid 3 dimensi.

86 Kesimpulan :

Pada bangunan ini yang akan diterapkan untuk perletakkan gubahan massa yaitu sirkulasi radial dan cluster, dimana dalam penempatan akan disesuaikan dengan tema ekspresi bentuk.

4.3.1.5 Sirkulasi dalam Bangunan

Sirkulasi pada bangunan harus memperhatikan kejelasan dari pemakainya, yaitu pola – pola sirkulasi yang lebih memudahkan pencapaian dari satu fungsi ke fungsi yang lain, karena bila di tinjau kembali bangunan ini mempunyai beberapa masa bangunan yang mempunyai fungsi yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Yaitu pada sirkulasi pada bangunan secara horisontal memiliki alternatif bentuk :

Melalui ruang – ruang

• Kesatuan dari tiap – tiap ruang dipertahankan

• Konfigurasi jalan yang fleksibel

• Ruang – ruang perantara dapat dipergunakan untuk menghubungkan jalan dengan ruang – ruangnya.

87 Menembus ruang – ruang

• Jalan menembus ruang menurut sumbunya, miring atau sepanjang isinya

• Dalam memotong sebuah ruang, suatu jalan menimbulkan pola – pola istirahat dan gerak di dalamnya

Berakhir dalam ruang

• Lokasi ruang menentukan jalan

• Hubungan jalan – ruang ini digunakan untuk pendekatan dan jalan masuk ruang – ruang penting yang fungsional dan simbolis42

Sirkulasi Vertikal

Sirkulasi yang menghubungkan antar ruang dengan lantai yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sirkulasi vertikal antara lain :

a. Tangga

Penempatan tangga di dalam bangunan dengan mempertimbangkan :

42Buku F.D.K.Ching

88 - Jumlah tangga sesuai dengan kebutuhan

- Tingkat kenyamanan dan keamanan

- Posisi yang strategis dan sesuai dengan kebutuhan khususnya untuk tangga darurat

b. Ramp

Digunakan untuk sirkulasi bagi penyandang cacat dan orang tua menggunakan kursi roda, dan juga digunakan untuk sirkulasi barang atau peralatan dengan menggunakan trolley.

Kesimpulan :

Penggunaan sirkulasi vertikal tangga pada bangunan disesuaikan dengan kegiatan dan kebutuhan bangunan,, Sedangkan ramp digunakan pada sirkulasi penyandang cacat dan orang tua dan juga bias digunakan untuk sirkulasi barang atau peralatan dengan menggunakan trolley.

4.3.1.6 Aesthathic Design

Pada bangunan Akademi Film ini setiap massa bangunan harus terlihat estetika pada façade bangunan yang ditonjolkan. Dengan melihat beberapa kriteria yaitu:

1. Rytme : Dilihat dari perletakkan kolom dan jendela terlihat adanya rytme 2. Proporsi : Dilihat dari Proporsi Jarak antar bangunan dan tinggi bangunan 3. Keseimbangan : Dilihat dari seimbangnya penampilan bangunan sesuai

dengan konsep ekspresi bentuk.

4. Klimaks : Dilihat dari adanya bangunan yang menjadi klimaks dibandingkan bangunan yang lainnya

5. Unity : Dilihat dari Lokalitas lingkungan sekitarnya

89 4.3.2 Struktur

4.3.2.1 Sistem Struktur

▪ Bangunan Pendidikan, Pengajar, dan Pengelola menggunakan Rangka Bentang Lebar ( Space Frame) )

Gambar 4.45 Rangka Bentang Lebar

▪ Bangunan Pameran, dan Fasilitas Penunjang ( Menggunakan Rangka melintang 2 arah )

Gambar 4.47 Rangka Melintang 2 Arah

4.3.2.2 Use of Material

Bahan Yang Digunakan Bersifat

Pada Dinding Maintenence dan non maintenence

Pada Lantai Maintenence

90

Pada Plafond Non Maintenence

Pada Penutup atap Maintenence

Pada bangunan Akademi Film ini untuk mengurangi perawatan pada bangunan, untuk penutup atap menggunakan Baja ringan. Selebihnya perawatan setiap 3-6 bulan sekali.

4.3.3 Utilitas

4.3.3.1 Sistem Pencahayaan a. Alami

Merupakan pencahayaan / penerangan terhadap ruangan dengan mengandalkan sinar matahari. Didapat melalui jendela / bukaan atau melalui atap ( Skylight ). Sistem pencahayaan ala tropis ini sangat efisien dalam hal penggunaan energi bangunan dengan implikasi murahnya biaya operasional bangunan, selain dari peningkatan estetika bangunan.

b. Buatan

- Penerangan buatan dipergunakan pada malam hari

- Penerangan buatan digunakan untuk membantu penerangan alami - Penerangan buatan dengan catu daya dari PLN dibantu dengan Genset

4.3.3.2 Sistem Penghawaan

a. Sistem Penghawaan Alami

Memasukkan udara dari luar ke dalam bangunan dengan cara aliran silang ( Cross Ventilation ). Digunakan untuk ruang-ruang utilitas dan service.

Sifatnya :

• Kelembaban angin sukar di kontrol, tergantung pada cuaca, waktu, dan angin.

• Aliran angin membawa debu / kotoran

• Distribusi tidak merata

91

• Murah karena tidak memerlukan peralatan khusus b. Sistem Penghawaan Buatan

Menggunakan kipas angin dan air conditioner ( AC ). Digunakan pada ruang-ruang yang membutuhkan kenyamanan ruang dan kondisi udara yang stabil.

Sifatnya :

• Suhu dan kelembaban dapat diatur

• Penghawaan dapat lebih diatur

Ada 2 macam penghawaan buatan, yaitu langsung dan tidak langsung digunakan pada ruang yang tidak dipakai seharian, sehingga dapat dipakai pada saat diperlukan. Sistem tidak langsung / sentral digunakan pada ruang yang digunakan seharian dengan pengendalian dan pengoperasiannya dipusatkan pada suatu sentral AC.

4.3.3.3 Sistem Sanitasi

1. Sistem Pendestribusian Air Bersih

Direncanakan dari PAM dan sumur / Deepwell Pump, dan untuk kebutuhan cadangan dengan system Down Feed Distribution.

Gambar Sistem Air Bersih Pendistribusian air bersih terbagi 2, yaitu : a. Down Feed Distribusion

Deep

92 Air dari PAM atau sumur dipompa ke atas kemudian di distribusikan turun ke seluruh ruangan. Keuntungannya memanfaatkan gravitasi dan pompa diperlukan jika reservoir atas kosong sehingga hemat energi dan bila listrik padam, Air masih dapat mengalir karena ada persediaan di atas. Kekurangannya membutuhkan ruang khusus untuk tangki di atas dan bila satu kran terbuka, tekanan yang lain berkurang.

Gambar Sistem Down feed b. Up Feed Distribusion

Air dan PAM atau sumur masuk reservoir kemudian di pompa untuk di distribusikan ke seluruh ruangan. Kelebihannya tanpa ruang atas dan tekanannya sama karena dijalankan dengan pompa. Kekurangannya bila listrik padam, air tidak dapat mengalir dan listrik sangat boros karena pompa menggunakan power cukup besar.

Gambar Sistem Up Feed 2. Air Kotor

- Air kotor dari WC disalurkan ke septic Tank

kloset Septiktank Sumur Resapan

Deep Well Jet Pump

Bawah Pompa Distribusi

Riol Kota

93 Gambar Skema Pembuangan kotor

- Air kotor dari kamar mandi dan cucian disalurkan ke kali atau ke Kali atau ke riol kota

Gambar Skema Distribusi Air kotor 4.3.3.4 Sistem Listrik

Diperoleh dari PLN dengan menyediakn gardu dan Genset automatic Stater sebagai cadangan, yang mempunyai kapasitas 25-50 % dari kapasitas keseluruhan pada saat PLN padam, demi kelangsungan kegiatan dan kepanikan pengunjung.

Gambar Skema Distribusi Listrik

4.3.3.5 Sistem Komunikasi

- Untuk hubungan keluar lingkungan telephone dengan sistem PABX.

- Untuk di dalam lingkungan menggunakan Intercom.

4.3.3.6 Sistem bahaya kebakaran

Pencegahan pada kebakaran dibagi menjadi 2 yaitu :

Wastafel, Floor drain Sumur resapan

Tiang

94 1. Pencegahan Aktif

Menggunakan sistem Sprinkler dan sistim hydrant (box dan pillar).

2. Pencegahan Pasif

Menggunakan Sistem Tangga Kebakaran, Telepon Darurat.

4.3.3.7 Sistem Air Hujan

Gambar 4.55 Bak Penampungan Air hujan Sumber : www.Pekerjaan Umum

Terdapat bak penampungan air hujan, yang airnya dapat digunakan untuk air bersih.

4.3.3.8 Sistem Penangkal Petir

Ada 2 macam alternatif sistem penangkal petir yang dapat digunakan, yaitu :

1. Sistem Konvensional :

- Sistem Faraday : dengan pembentuk daerah bujur sangkar terdiri dari tiang-tiang baja penangkal ± 50 cm pada atap bangunan yang saling berhubungan di sekeliling bangunan sehingga aliran listrik dari petir langsung disalurkan ke tanah.

- Sistem Faraday : dengan membentuk 45 ° dari tanah berupa tiang- tiang yang saling berhubungan.

95 2. Sistem Radio Aktif : dengan bahan radio aktif yang ion-ionnya melepas muatan awan disekitarnya dan dipasang ditengah-tengah bangunan dengan radius antara ± 60 cm.

Gambar Penangkal Petir

Sumber : www.Jaringan-komputer.com

Sistem yang dipakai adalah system faraday yang dapat menunjang penampilan bangunan dari segi estetika. Sistem ini yaitu terdapat Batang penangkal petir berupa batang tembaga yang ujungnya runcing. Dibuat runcing karena muatan listrik mempunyai sifat mudah berkumpul dan lepas pada ujung logam yang runcing. Dengan demikian dapat memperlancar proses tarik menarik dengan muatan listrik yang ada di awan. Batang runcing ini dipasang pada bagian puncak suatu bangunan.

4.3.3.9 Sistem Tata Suara

Sistem tata suara menggunakan sistem sentralisasi yaitu dengan cara pendistribusian suara dari satu pusat ruang-ruang lain melalui pengeras suara.

96 4.3.3.10 Sistem Transportasi

Yang digunakan adalah: Tangga dan ramp. Ramp digunakan untuk lansia yang ada di panti jompo dan juga untuk troley pemasukan barang ke tempat service.

4.3.3.11 Pembuangan Sampah

Disediakan bak-bak sampah pada tiap ruangan, dimana sampah-sampah yang terkumpul akan dikumpulkan pada bak penampungan sementara. Untuk memudahkan pemindahan sampah, maka bak penampungan diletakkan pada daerah service. Setelah itu sampah diangkut dengan truk sampah ke penampungan terakhir.

97 BAB V

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

5.1. Dasar Perencanan dan Perancangan 5.1.1. Tujuan Perancangan

1. Titik tolak perencanaan dan perancangan terhadap bangunan Sekolah Perfilman ini adalah terpenuhinya akan kebutuhan ruang yang terencana dengan baik atas.

2. Dengan pengolahan bentuk pola peletakan massa dan bentuk massa bangunan yang simbolik menimbulkan daya tarik tersendiri pada bangunan sehingga dapat menjadi kebanggaan bagi lingkungan sekitar.

3. Pemanfaatan potensi yang ada di sekitar lingkungan untuk menunjang kegiatan di dalam tapak.

4. Memberikan kenyamanan dan ketenangan sepenuhnya bagi pengguna sekolah perfilman, sehingga nantinya para pengguna akan mendapatkan tempat yang layak untuk proses pembelajaran dan pendidikan..

5. Memberikan nuansa-nuansa alami yang berbeda dengan Sekolah Perfilman yang ada dan akan memberi nilai lebih bagi pengunanya.

5.1.2. Pendekatan Terhadap Perilaku

Perancangan Sekolah Perfilman penerapan dalam desain melalui ruang-ruang yang dirancang berdasarkan tema eskpresi bentuk dan karakteristik sebuah bangunan pendidikan dengan latar belakang film serta tidak mengabaikan kaidah-kaidah perencanaan dan perancangan arsitektur agar tercipta suatu hubungan yang

98 seimbang antara pengguna dengan ruang yang mewadahinya sehingga mencapai hasil rancangan yang optimal.

5.1.3. Pendekatan Terhadap Arsitektural

Menghadirkan perancangan bangunan Sekolah Perfilman yang tanggap terhadap fungsi, keterkaitan terhadap tema ekspresi bentuk dan kegiatan belajar dan mengajar sehingga mendukung bentuk bangunan yang ekspresif dan manusiawi.

5.2 KONSEP DASAR PERANCANGAN

1. Bangunan yang akan direncanakan bertujuan pada pendidikan.

2. Bangunan yang direncanakan menyimbolkan bentuk-bentuk fisik ikonik perfilman seperti kamera atau klip yang akan menjadi dasar dari pengolahan tapak / site dan fasade.

3. Mewujudkan bangunan yang menunjukan ciri dari topik ekspresi bentuk dengan sasaran penerapan terhadap pengolahan site.

5.2.1 Penerapan Tema Terhadap Konsep Dasar Perancangan

Tabel 5.1 Penerapan Simbol Perfilman kedalam Konsep Perancangan

Poin

Pengamatan Konsep Aplikasi kedalam bangunan Penyesuaian terhadap fungsi dan lokasi Bentuk Site Konsep Kamera Adanya pemisahan yang jelas

antara bangunan yang memiliki penzoningan publik, semi publik, dan private

99

Konsep ekspose struktur Bentuk/ pola massa bangunan menyimbolkan satu kesatuan, Tetapi memiliki fungsi dan bentuk

Konsep ekspose struktur Bentuk/ pola massa bangunan menyimbolkan satu kesatuan, Tetapi memiliki fungsi dan bentuk